23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pementasan Musik “Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis

Muhamad Irfan by Muhamad Irfan
January 18, 2025
in Ulas Musik
Pementasan Musik “Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis

“Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis

SENI memiliki kekuatan transformatif yang tak terbatas, bergerak dalam lingkaran waktu yang tak pernah berhenti. Salah satu aspek penting dari seni adalah kemampuannya untuk berakar pada tradisi, namun juga terus berkembang, menemukan jalannya dalam dunia yang semakin kompleks dan dinamis. Proses pengawinsilangan antara tradisi dan modernitas menghasilkan karya yang tak hanya menghubungkan dua warna, tetapi juga menciptakan warna baru yang penuh dengan potensi dan makna yang tak terduga.

Salah satu karya yang memanfaatkan proses ini secara efektif adalah Gala Resonant, sebuah karya yang diciptakan oleh Muhammad Giffary dan dibantu oleh Rama Anggara dalam merancang instalasi elektronik. Karya ini ditampilkan pada Kamis (9/1/2025) di Studio Kayu Seni Kriya Institut Seni Indonesia Padang Panjang. Tidak hanya memadukan musik tradisional Minangkabau dengan teknologi elektroakustik modern, tetapi juga menciptakan narasi sosial dan filosofis yang kaya akan interpretasi.


Pertunjukan Gala Resonant sedang berlangsung/Call Me Odonk

Gala Resonant: Perpaduan Seni Tradisional dengan Teknologi Modern

Karya Gala Resonant adalah sebuah refleksi dari bagaimana seni dapat mengawinsilangkan akar tradisi dengan teknik modern. Giffary memulai karya ini dengan menggali bunyi-bunyi yang berasal dari alat musik tradisional Minangkabau, pupuik gadang, yang terbuat dari batang padi dan lilitan daun kelapa. pupuik gadang bukan hanya sekedar alat musik tiup, tetapi juga sarana untuk membangun komunikasi dan harmoni sosial dalam komunitasnya. Namun, Giffary tidak sekadar memperkenalkan kembali bunyi ini dalam bentuknya yang murni. Sebaliknya, ia mengolahnya melalui pendekatan elektroakustik eksperimental, sebuah teknik yang memungkinkan bunyi tersebut mengalami transformasi yang dramatis.

Menggunakan teknik spektral, Giffary dan Rama menggali potensi bunyi pupuik gadang dalam spektrum frekuensi yang lebih luas, menciptakan pengalaman suara yang penuh dengan lapisan makna. Suara tradisional tersebut tidak lagi hanya berfungsi sebagai pengingat akan masa lalu, tetapi juga sebagai dasar untuk menciptakan bunyi-bunyi yang menghubungkan alam, kehidupan sosial, dan pergerakan zaman. Di sini, Giffary dan Rama menunjukkan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang kaku, melainkan sebuah elemen yang hidup dan dapat berkembang, asalkan diberi ruang untuk beradaptasi dan berinovasi.

Transformasi bunyi pupuik gadang ke elektroakustik eksperimental/Call Me Odonk

Hal menarik dari Gala Resonant adalah kemampuannya untuk membangun narasi yang tidak hanya menghubungkan masa lalu dan masa kini, tetapi juga menggambarkan perjalanan waktu yang penuh dengan perubahan dan transformasi sosial. Dari awal pertunjukan, penonton dibawa ke dalam suasana masa lalu melalui bunyi pupuik gadang, dipadukan dengan gumaman laki-laki dan perempuan yang menciptakan kesan keakraban dan kedamaian kehidupan tradisional. Namun, seiring berjalannya waktu, bunyi-bunyi tersebut mulai tergantikan oleh suara-suara modern, seperti klakson kereta dan kendaraan, yang menandakan perubahan sosial dan industrialisasi.

Pada akhir pertunjukan, penonton dibawa ke dalam sebuah kesimpulan yang lebih reflektif, yaitu bunyi yang tidak menentu, menggambarkan perasaan kebingungan dan kehilangan arah di tengah pergolakan zaman. Di sini, Giffary dan Rama dengan cermat menghubungkan fenomena sosial dengan perjalanan bunyi, menjadikan karya ini lebih dari sekadar pertunjukan musik, tetapi juga sebuah komentar sosial tentang bagaimana zaman modern terkadang membuat kita kehilangan jati diri dan keterhubungan dengan akar tradisi.

Penyematan Simbol pada Instalasi Visual

Selain dari bunyi, Gala Resonant juga memperkenalkan instalasi visual yang menjadi komplementer bagi pertunjukan musik tersebut. Instalasi ini, yang diberi nama “Kulilik”, menyimbolkan payuang panji, yaitu simbol kepemimpinan dalam budaya Minangkabau. Berbentuk seperti susunan sapu lidi yang saling terhubung, dililitkan dengan selang dan kabel yang dihubungkan dengan lampu warna-warni, menciptakan sebuah struktur yang tidak hanya estetis, tetapi juga penuh dengan makna filosofis.


Instalasi Kulilik/Call Me Odonk

Dalam tradisi Minangkabau, payuang panji menggambarkan peran pemimpin yang melindungi dan mengayomi masyarakat. Begitu juga dengan instalasi Kulilik, yang berfungsi sebagai simbol dari kekuatan kepemimpinan yang menghubungkan berbagai elemen dalam masyarakat. Kabel-kabel yang melilit di instalasi tersebut menyimbolkan lilitan daun kelapa yang berfungsi sebagai corong atau resonator pada alat musik pupuik gadang. Melalui komposisi bentuk ini, Giffary dan Rama menciptakan hubungan yang erat antara bunyi dan visual, sehingga menciptakan sebuah pengalaman yang menyeluruh bagi penonton.

Estetika dalam karya ini tidak hanya terbatas pada bentuk dan suara, tetapi juga pada komposisi warna yang digunakan dalam instalasi. Warna-warna seperti oren, biru, hijau, putih, dan hitam tidak hanya memiliki fungsi dekoratif, tetapi juga simbolis. Oren mewakili pengayoman, biru dan hijau menggambarkan ketenangan, putih sebagai simbol keuletan, dan hitam sebagai lambang ketangguhan dan kegagahan, sehingga menciptakan harmoni dalam keberagaman. Melalui penggunaan warna yang penuh makna ini, sehingga tidak hanya memperindah karya, tetapi juga memberikan dimensi tambahan yang memperkaya pemahaman penonton terhadap karya tersebut.


Muhammad Giffary dan sebagian penonton sebelum pertunjukan Gala Resonant/Call Me Odonk

Keterbatasan pada Penonton

Namun, seperti halnya karya seni eksperimental lainnya, Gala Resonant tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh semua kalangan. Teknik elektroakustik yang digunakan, serta kompleksitas simbolisme dalam instalasi, dapat menjadi hambatan bagi penonton yang kurang terbiasa dengan bentuk seni semacam ini. Karya ini membutuhkan audiens yang terbuka untuk mengeksplorasi dan mendalami berbagai lapisan makna yang ada, baik dalam aspek bunyi, visual, maupun filosofis.

Sementara itu, inilah salah satu kekuatan dari karya ini. Giffary dan Rama menantang audiens untuk melihat melampaui permukaan, untuk menggali dan memahami makna yang lebih dalam. Dalam hal ini, Gala Resonant menjadi lebih dari sekadar karya seni; ia menjadi sebuah pembelajaran tentang bagaimana seni dapat membuka ruang bagi refleksi sosial dan filosofis, serta mengajarkan kita untuk lebih menghargai tradisi, sambil tetap terbuka terhadap inovasi.

Karya Gala Resonant adalah contoh yang jelas bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai medium ekspresi, tetapi juga sebagai ruang untuk pemikiran kritis dan refleksi sosial. Dengan mengawinsilangkan tradisi Minangkabau dengan teknologi modern, Giffary dan Rama menunjukkan bagaimana seni dapat berkembang tanpa melupakan akar budayanya. Karya ini, meskipun eksperimental dan kompleks, menemukan warna baru dalam penggarapan seni, memperkaya diskursus seni kontemporer dan memberikan ruang bagi interpretasi yang lebih dalam.


Tim “Gala Resonant “mengucapkan terima kasih kepada penonton/Call Me Odonk

Gala Resonant bukan hanya sekadar pertunjukan musik atau instalasi seni visual, tetapi juga sebuah perjalanan intelektual dan emosional yang membawa penonton pada pemaknaan baru tentang tradisi, modernitas, dan identitas. Seni terus berkembang, dan karya ini menjadi bukti bahwa seni adalah ruang yang tak terbatas, yang terus menemukan jalan bebasnya, memadukan yang lama dengan yang baru, serta mengundang penonton untuk berpartisipasi dalam penciptaan makna bersama.

Karya ini merupakan Tugas Akhir untuk meraih gelar sarjana, namun karya ini hadir dengan kekayaan makna yang melampaui ruang akademik. Ia bukan sekadar tugas formalitas, melainkan sebuah ekspresi artistik yang pantas menemukan tempatnya di panggung-panggung seni, berbicara kepada publik yang lebih luas dan menghidupkan dialog eksperimental yang mendalam. [T]

Jakarta, 2025

Passompe’ dari Kala Teater: Sebuah Jejak Perjuangan Tanpa Akhir – Tanpa Kalah
Madura dan Koreografi Pinggirannya yang Menggugat
Tembang Puitik Ananda Sukarlan: Penerjemahan Intersemiotik
Tags: ISI Padang PanjangmusikSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mencari Idealitas Baleganjur | Ulasan Lomba Baleganjur Taksu Agung Festival 2025

Next Post

Bali Perlu Desain dan Terapi Kejut Pariwisata

Muhamad Irfan

Muhamad Irfan

Lahir di Pariaman, 26 September 1995. Alumnus Sastra Indonesia Unand. Tulisan pernah dimuat di Majalah Mata Puisi, Suara Merdeka, Tanjungpinang Pos, Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, marewai.com, dll. Saat ini mencari kehidupan di Jakarta.

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Bali Perlu Desain dan Terapi Kejut Pariwisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co