14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencari Idealitas Baleganjur | Ulasan Lomba Baleganjur Taksu Agung Festival 2025

I Kadek Janurangga by I Kadek Janurangga
January 18, 2025
in Ulas Musik
Mencari Idealitas Baleganjur  |  Ulasan Lomba Baleganjur Taksu Agung Festival 2025

Komunitas Super Saiyan, Judul karya “SUPAT WALI”, dalam Lomba Baleganjur Taksu Agung festival

BANYAKNYA event-event baleganjur yang diselenggarakan akhir-akhir ini membuktikan baleganjur di masa kini sudah menjadi identitas kesenian Bali yang patut diperhitungkan.

Selain itu geliat baleganjur yang terjadi sekarang mampu membangkitkan gairah-gairah baru dalam kreatitas berkesenian. Dalam ruang kreatifitas, baleganjur sangat lentur untuk dimanfaatkan sebagai material musikal. Banyak kemungkinan-kemungkinan dan bahkan cara kerja musikal di luar baleganjur juga dapat diadopsi dan dikembangkan.

Dengan begitu juga, baleganjur kini telah bergerak sebagai kesenian populer. Ia banyak diminati khususnya oleh generasi muda di Bali. Namun di balik semua itu, baleganjur, bagi saya, masih perlu dipertanyakan sebagai produk kesenian.

Baleganjur juga menjadi identitas bagi salah satu komunitas yang bermarkas di lingkungan Banjar Tambak Sari, Desa Kapal, Mengwi, Badung. Komunitas Seni Taksu Agung adalah salah satu pionir munculnya perkembangan-perkebangan dan gaya-gaya kreativitas baleganjur yang terjadi saat ini.

Memulainya di tahun 2012, dan sampai saat ini Komunitas Seni Taksu Agung selalu hadir dalam kesegaran. Kesegaran dalam pemikiran dan tentu dalam kekaryaannya. Tidak hanya itu, Taksu Agung juga kerap membangun ruang-ruang kesenian baik dalam format festival, perlombaan, dan gelar karya.

Di tahun 2025 ini Taksu Agung kembali menyelenggarakan ruang kreatif dalam format perlombaan. Pada gelaran Lomba kali ini terdapat sepuluh peserta yang terbagi kedalam dua hari perlombaan. Lomba Baleganjur Taksu Agung dilaksanakan pada tanggal 11 hingga 12 Januari 2025 bertempat di Panggung Terbuka Balai Budaya Giri Nata Mandala, Pusat Pemerintahan (Pupem) Badung. Perlu saya garis bawahi, tulisan ini hanya memuat catatan saya dalam menyaksinya perlombaan di hari pertama.

Sanggar Seni Panji Kinara Loka

Hari pertama Lomba Baleganjur Komunitas Seni Taksu Agung dimulai dengan penampilan peserta nomor undi satu dari Sanggar Seni Panji Kinara Loka, Desa Mengwitani dengan karyanya berjudul “Dala Dalu”. Sanggar Seni Panji Kinara Loka sebagai penampil pertama membawa karya yang berjudul Dala Dalu, menggambarkan peroses meniti sang kala dari nyurya sewana hingga dala dalu.

Penampialn Sanggar Seni Panji Kinara Loka, Desa Mengwitani dengan judul karya “DALA DALU” | Foto : Panita Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

Samar-samar melintasi telinga, saya hanya mendengar beberapa untaian sinopsis yang dibacakan MC. Pada intinya karya ini saya tangkap sebagai bentuk tafsir pertemuan waktu. Dala memiliki makna manifestasi Tuhan yang agung, dan Dalu adalah keterangan waktu saat malam Tilem Kesanga.

Sebagai penampil pertama karya yang dikomposeri oleh Komang Winantara (Mang Win) dengan mitra koreografinya I Kadek Sugi Sidiarta (Dek Ugi) ini mencoba untuk menyelami dan menghadirkan esensi-esensi dari pengejawantahan Dala Dalu kedalam olah musikal dan gerak. Sebagai komposer, Mang Win harus diakui kehebatannya, yang sudah malang melintang di dunia baleganjur dalam mengolah vokal dan saih sebagai salah satu elemen musikal.

Dengan beberapa manipulasi arah nada dan penerapan patet, Mang Winsebut saya sangat konsisten dalam mencari dan mengembangkan jati dirinya sebagai komposer baleganjur. Sehingga terbentuk identitas, dimana karya yang diciptakan sangat melekat dengan dirinya. Begitu juga Dek Ugi, anak muda multi talenta yang kini juga mencoba berproses sebagai seorang koreografer baleganjur,  mampu menyeimbangkan dan menebalkan arti dan maksud yang ingin disampaikan ke dalam bentuk gerakan.

Saya sangat mengenal karakter karya mereka berdua dan mengikuti proses mereka dalam berkarya. Cukup menarik bagi saya untuk karya Dala Dalu sebagai penampil pertama.

Sanggar Suara Mustika

Pada penampil kedua malam itu hadir peserta dari sisi utara pulai Bali. Sanggar Suara Mustika namanya dan saya kurang tau domisilinya dimana.

Sanggar Suara Mustika adalah salah satu sekaa yang totalitasnya tinggi sampai-sampai mereka harus berdiam di lokasi lomba selama dua hari. Ya, tentu itu bukan lain, karena rumah mereka yang sangat jauh dari venue perlombaan. Dengan jarak tempuh kurang lebih dua setengah jam, dari Singaraja ke Badung, tidak memungkinkan bagi mereka untuk sekadar melakukan bloking atau gladi lalu pulang, dan kembali lagi di ke-esokan harinya. Itu sangat membuang waktu, energi dan beban biaya.

Penampilan Sanggar Suara Mustika, Buleleng dengan judul karya “CATUS PATA” | Foto : Panita Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

Keadaan jarak dan waktu itu mengharuskan mereka untuk menginap di areal wantilan Puspem Badung pada H-1 sebelum hari perlombaan bersamaan dengan mereka melakukan bloking dan gladi resik.

Pada perlombaan itu, Sanggar Suara Mustika membawakan karya baru mereka dengan judul “Catus Pata”.

“Secara terminologis Catus Pata terdiri dari dua kata, Catus secara semantik berasal dari kata catur yang secara numerik menunjukkan dimensi empat, sementara pata berarti jalan atau arah, titik pertemuan, persimpangan yang mempertemukan dua atau lebih dimensi tertentu.

Secara filosofis Catus Pata tidak hanya mereintepretasi serta merujuk pada substansi ruang dan wilayah, lebih dari itu Catus Pata adalah cerminan kualitas kelintasan ruang imajiner, dengan menempatkan waktu (kala) sebagai penanda progresi (perubahan). Catus Pata adalah pusat dari berbagai macam bentuk energi. Di tempat ini, dalam ruang imajiner ini, semua hal dinetralisir guna mencapai keharmonisan.

Tersirat jelas pada sinopsis, penggarap mencoba untuk mengadirkan ruang imajiner dalam penafsirannya terhadap Catus Pata itu sendiri. Seperti yang mereka jelaskan, Catus Pata merupakan pusat pertemuan bagi bermacam-macam bentuk energi baik positif maupun negatif. Pertemuan elemen-elemen energi tersebut mereka garap ke dalam sebuah format pertunjukan baleganjur seperti yang mereka pahami.

Yang saya senang dengan realisasinya adalah penggunaan identitas musikal yang mereka miliki di Bali Utara, salah satunya ialah permainan kolotomik gong, kempur, kempli. Kebanggan mereka terhadap identitas musikal yang mereka miliki menjadi daya tarik tersendiri dalam melihat perspektif rancangan garap gending baleganjur gaya Buleleng.

Walaupun di berapa materi masih terdapat adopsi beberapa gaya-gaya komposisi baleganjur yang sedang menggeliat saat ini (pandangan saya) dan itu sah-sah saja. Selain permainan kolotomik, gaya-gaya kilitan bebonangan yang sangat dekat dengan mereka dirangkai menarik sejalan dengan perkembangan musik masa kini. Menghadirkan jalinan-jalinan sederhana namun memiliki tujuan jelas membuat karya ini menurut saya pribadi sangat diperhatikan penggarapnya.

Secara teknik juga rekan-rekan di Bali Utara ini memiliki kehebatan, baik dari segi ketahanan dan kualitas pukulan. Walaupun dalam realitas mereka sangat minim kesempatan dalam menunjukan kemampuan mereka di bidang baleganjur. Selain itu, hal yang menjadi kebiasaan mereka dalam bermain gamelan gong kebyar yang cenderung cepat dan berenergi membantu proses adaptasi mereka dalam menyelami komposisi baleganjur.

Penampilan Sanggar Suara Mustika, Buleleng dengan judul karya “CATUS PATA” | Foto : Panita Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

Di sela persiapan penampil selanjutnya, saya dan teman-teman yang duduk di pojokan bereaksi terhadap beberapa hal yang hadir di karya Baleganjur Sanggar Suara Mustika. Reaksi tersebut timbul dari suara kempur yang digunakan.

Mendengar cerita Ponari, sapaan akrab salah satu komposer, juga sahabat baik saya, ia mengaku ada ketidakpuasan terhadap instrument kempur yang mereka gunakan. “Mungkin karena satu dan lain hal suara yang dikeluarkan sedikit mengganggu,” ujar Ponari.

Saya sangat setuju dengan sikap seorang komposer yang ingin memaksimalkan setiap elemen pendukung karya, sesuai dengan ide, konsep, dan tujuan karya yang telah dirancang maupun terbayangkan. Sebaliknya dengan itu, saya pribadi justru melihat itu sebagai identitas.

Dengan adanya masalah pada suara yang dihasilkan justru mampu membuat instrument tersebut menjadi salah satu perhatian. Apalagi, teknik garap teman-teman Buleleng dengan permainan kolotomiknya menjadikan kemunculan suara aneh tersebut semakin berharga. Memandang baik sebuah kelemahan, memungkinkan menjadikannya seagai pemikiran baru.

Komunitas Super Saiyan

Tiba pada penampil ketiga, di sela persiapan, saya juga melanjutkan obrolan serius bersama rekan-rekan. Dalam obrolan saya mendapat sedikit bocoran dari rekan saya yang kebetulan dekat dan mengetahui tentang peserta penampil ketiga.

Dia menyebutkan, penampilan karya ini akan melibatkan properti ogoh-ogoh. Seketika otak saya tertuju pada karya Komunitas Seni Taksu Agung di tahun 2018 dalam ajang Parade Musik Daerah VII di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Tentunya properti tersebut akan dimanfaatkan dalam pertunjukan. Saya masih menunggu, akankah ada tawaran baru, atau tidak, dari penampil ketiga dalam penerapannya.

Penampilan Komunitas Super Saiyan dengan judul karya “SUPAT WALI” | Foto : Panita Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

Penampil ketiga ini adalah Komunitas Super Saiyan yang merupakan perkumpulan seniman-seniman muda khususnya di daerah Kota Denpasar. Komunitas ini juga sering malang melintang dalam event-event baleganjur lain di Bali. Dari beberapa pengalaman yang telah mereka lalui, karya yang ditampilkan malam itu digarap rapi dan tersinergi.

Kekompakan para penabuh khususnya pada gegebug dalam memainkan komposisi nyaris membuat saya tidak menemukan celah kelemahan. Jelas hal itu bisa mereka capai karena ketekunan dan totalitas mereka untuk selalu bertemu dalam proses latihan.  Hanya saja secara pola garap dan pencarian saya belum banyak menemukan hal yang spesial pada karya yang berjudul Supat Wali tersebut. Setelah menunggu hampir sampai di bagian akhir karya, seperti dugaan saya di awal ogoh-ogoh yang digunakan, disikapi persis seperti karya Taksu Agung di tahun 2018. Tentu hal itu tidak menjadi salah di mata siapapun.

Penampilan Komunitas Super Saiyan dengan judul karya “SUPAT WALI” | Foto : Panita Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

Adopsi bentuk-bentuk atau motif-motif sangat sah dalam berkesenian. Pada konteks malam itu, saya sebagai pemerhati yang haus akan ide dan rangsangan baru tentu berpikir lebih terhadap objek yang dilibatkan dalam pertunjukan. Tetapi secara keutuhan garap Komunitas Super Saiyan sangat rapi dan penuh pendalaman dalam penyajian musikal, koreografi dan juga penataan artistiknya.

Komunitas Biying Baha

Tiba ke penampilan nomor empat dari Komunitas Biying Baha dengan karyanya berjudul “Tohang Manah”. Tohang berarti bertaruh, Manah berarti pikiran, sebagai jembatan menyikapi suatu prosesi suci Tawur Agung Kesanga yang memiliki tujuan untuk menyeimbangkan unsur negatif.

Bertaruh pemikiran juga merupakan upaya dalam pencarian, pengujian, pendewasaan diri, dengan dasar pemikiran: “Siapa dan apakah unsur negatif tersebut?”

Dalam kasus ini kiranya nyomyang pemikiran yang tak kenal waktu juga merupakan upaya untuk pencarian dan pengujian perbedaan pemikiran berdasarkan zamannya. Karya ini dinahkodai oleh Yoga Ida alias Ida Bagus Herry Yoga Permadi. Yoga adalah komposer kawakan asli putra daerah Desa Baha, Mengwi, Badung. Saya sangat mengenali Yoga sebagai seniman yang memang selalu bercanda dan terkesan tidak serius. Karena mengetahui dan mengikuti beberapa kali karya dan perjalanan dia dalam berkesenian, secara pandangan dan pemikiran saya mencoba untuk menyelami ruang pemikiran Yoga Ida dalam karya Tohang Manah.

Penampilan Komunitas Biying Baha dengan judul karya “TOHANG MANAH” | Foto : Panita Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

Saya sangat sepakat dengan teks yang hadir pada karya ini yang bertuliskan bahwa, “Keberanian dalam perbedaan pemikiran terhadap baleganjur akan menjadi dasar untuk pertumbuhan bahkan kebaharuannya”.

Pada teks juga ditambahkan bahwa karya ini tidak serta merta mendeskripsikan tentang tahapan-tahapan prosesi Tawur Kesanga. Dalam prosesi, hal yang lazim dilakukan seperti pola jagul tidak lagi muncul sebagai ideologi pemikiran sebelumnya.

Dan menariknya pada karya ini, komposer mencoba menafsirkan kembali teknik-teknik vokal yang terdapat pada pupuh jerum. Hanya saja secara durasi bagi saya kurang diberi poprsi untuk dapat lebih lama dalam pengolahannya. Pada ramuan musikalnya ditemukan beberapa patron-patron tradisi yang diolah dan dimanipulasi. Pembentukan pada beberapa bagian dengan merangkai repetisi atau pengulangan, tekanan, variasi ukuran dan motif yang disusun mampu memanipulasi kesederhanaan.

Penampilan Komunitas Biying Baha dengan judul karya “TOHANG MANAH” | Foto : Panita Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

Kata Ida Bagus Herry usai perlombaan, “Ini merupakan penampilan perdana Komunitas Biying Baha dalam ajang perlombaan baleganjur.”

Ia juga mengatakan bahwa pemanfaatan sumber daya manusia, dalam hal ini musisi, yang dimiliki Yowana Desa Baha adalah musisi setempat, bisa dikatakan adalah sekaa sebunan (seluruh personil berasal dari satu wilayah yang sama), dan ini menjadikan proses yang lebih ekstra dalam memaksimalkannya. Belum lagi ini adalah kali pertama mereka mengikuti perlombaan yang tentu ada tantanga tersendiri dalam proses kreatifnya.

Sekaa Semara Mradangga

Beranjak ke penampil terakhir di hari pertama itu, yakni Sekaa Semara Mradangga, dari Desa Perean, Tabanan. Semara Mradangga membawakan karya dengan judul Mejelih Lambih yang diambil dari sebuah tradisi yang ada di Desa Perean.

Dalam teksnya, Majelih Lambih menjelaskan tentang sebuah paceklik yang di alami ketika Sasih Kesanga di Desa Perean sehingga masyarakat harus melakukan sebuah ritual untuk menetralkan segala bentuk energi. 

Saya tidak mengetahui pasti kapan fenomena itu terjadi dan juga tidak tertera pada sinopsis yang dibacakan. Majelih Lambih juga coba ditransformasikan ke dalam bentuk musikal oleh sang komposer Dita Nava atau akrabnya Dek Dita.

Ide musikal yang salah satunya berangkat dari gending kekriningan yang sering digunakan masyarakat Desa Perean dalam mengiringi tapakan Sesuhunan Barong juga dijadikan dasar pembentukan komposisi karya ini. Terlihat pada salah satu bagian komposisi dimana pemain kendang menggunakan teknik jeditan dan kendang tunggal menggunakan panggul.  

Penampilan Semara Mredangga, Desa Perean dengan judul Karya “Majelih Lambih” | Foto: Dokumentasi Semara Mredangga

Sayangnya saya tidak bisa menikmati secara menyeluruh penampilan dari Sekaa Semara Mradana. Ketika hampir menuju akhir komposisi, hujan juga ikut merayakan akhir dari pertunjukan di hari pertama. Tanpa aba-aba sebagian penonton langsung bergegas untuk berteduh. Di tengah hujan yang perlahan semakin semangat untuk membasahi juga tergerak bagi penampil untuk menuntaskan hasil dari proses kreatif mereka yang kurang lebih dilalui selama dua bulan.

Semangat juga tergambar dari sudut timur panggung. Supporter yang datang langsung dari Perean masih antusias menemani dan berdiri bangga di tengah deraian hujan yang kembali bergabung hari itu.

Perlombaan hari pertama pun ditutup dengan rasa syukur para panitia dan seluruh peserta lomba yang sudah menuntaskan tugas-tugas mereka. Sayangnya di hari kedua perlombaan saya tidak hadir menonton lima karya baleganjur lainnya.

Namun melalui potongan video yang tersebar di media sosial tentang lomba tersebut cukup memberi saya informasi dan gambaran berlangsung dan berakhirnya laga di hari kedua. Saya hanya bisa menuliskan apa yang saya dapat dan cermati dari seluruh penampilan di hari pertama dan menanggapi sedikit atmosfer di hari kedua.

Tantangan ke Depan

Pencarian menjadi kata kunci pandangan saya terhadap suguhan atraktif karya-karya baleganjur di hari pertama. Pencarian tersebut bisa mengarah ke pencarian bentuk-bentuk baru dalam konteks kreatifitas baleganjur, perspektif pemahaman apa itu baleganjur, pencarian ide-ide musikal baleganjur, dan yang menjadi menarik adalah hadirnya peranan konseptor yang mulai dimunculkan pada setiap teks baleganjur.

Nampaknya ke depan hal ini akan menjadi sebuah trend baru dalam dunia per-baleganjuran. Dan menjadi konseptor bukanlah pekerjaan yang mudah. Seluruh elemen dalam menunjang terbentuknya karya Baleganjur sangat berperan penting. Tidak kalah pentingnya juga unsur-unsur musikal yang menjadi elemen utama pada komposisi Baleganjur. Setiap elemen yang tertuang dalam karya Baleganjur malam itu belum cukup menjawab apa tantangan yang dihadapi saat ini. Walaupun dalam beberapa karya sudah mulai menghadapi tantangan tersebut.

Tantangan yang saya maksud adalah tanda-tanda dan kewajiban yang mungkin dipusatkan untuk dipatuhi dalam penggarapan gending Baleganjur. Kenapa hal itu menjadi tantangan?. Menurut pandangan saya tantangan adalah sebuah masalah yang harusnya mampu membuat kita tergugah untuk mengasah dan menggali kemampuan dalam menjawab masalah-masalah yang dihadapi.

Salah satunya belenggu mendiskreditkan pengalaman dan perbedaan pandangan. Dalam konteks berkarya komposisi Baleganjur apakah aturan-aturan itu menjadi sebuah keharusan? Atau ada cara lain dalam menyikapi sebuah keharusan tersebut? Jika membahas tentang aturan tentu ada sikap transparansi pendapat dan perspektif di dalamnya.

Kejujuran dalam sebuah penilaian karya apalagi dalam konteks perlombaan sudah seharusnya menjadi hal yang dibicarakan dan dibagi ke ruang publik. Bukannya menjadi rahasia, justru argumentasi bisa menjadi bahan evaluasi, saran serta tantangan mungkin juga ide baru untuk sebuah karya menuju tingkat kematangannya. Kerahasiaan dalam penilain juga dapat menimbulkan dua persepsi yang berbeda.

Jika mereka diuntungkan, kerahasiaan itu bisa membuat mereka ada dalam posisi cukup dan mengapresiasi. Sebaliknya jika itu tidak menguntungkan apakah ada argumentasi jelas yang bisa membuat mereka untuk tidak bertanya dibalik kerahasiaan itu? Mari kita berpikir bersama-sama, [T]

Penulis: I Kadek Janurangga
Editor: Adnyana Ole

“Sura Belawa” dan Upaya Merawat Ekosistem Baleganjur | Catatan Lomba Baleganjur Taksu Agung
Sublim Spirit I Maria dalam Karya Kreasi Baleganjur Komunitas Seni Taksu Agung
Dari Virtual Menuju Nyata | Kreativitas Baleganjur Komunitas Taksu Agung
Tags: baleganjurgamelan balikarawitan balikesenian baliKomunitas Taksu Agunglomba baleganjur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kami Hidup di Sepanjang Sungai Kalimalang | Cerpen Pry S.

Next Post

Pementasan Musik “Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis

I Kadek Janurangga

I Kadek Janurangga

Komposer. Tinggal di Lingkungan Padangtegal Kaja, Ubud, Gianyar, Bali.

Related Posts

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

by Ahmad Sihabudin
March 24, 2026
0
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana,...

Read moreDetails

‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 21, 2026
0
‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

Ada lagu-lagu yang sekadar lewat di telinga, lalu hilang bersama waktu. Tetapi ada juga lagu yang menetap diam-diam di dalam...

Read moreDetails

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
0
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral...

Read moreDetails

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
0
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

Read moreDetails

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
0
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

Read moreDetails
Next Post
Pementasan Musik “Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis

Pementasan Musik “Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co