5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kami Hidup di Sepanjang Sungai Kalimalang | Cerpen Pry S.

Pry S. by Pry S.
January 18, 2025
in Cerpen
Kami Hidup di Sepanjang Sungai Kalimalang  |  Cerpen Pry S.

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

KAMI HIDUP DI SEPANJANG SUNGAI KALIMALANG. Sebuah tempat di mana setiap hati saling bertaut dan rekaan surga telah berhenti sampai di sini. Kami hidup di sepanjang sungai Kalimalang karena kaki menuntun langkah ini untuk tak usah kemana-mana lagi.

Saat itu, hari masih sore saat seorang nenek tua sedang menyapu halaman rumahnya yang masih tanah. Gugur dedaunan dari pohon yang meranggas di depan rumahnya mulai terkumpul di satu titik untuk kemudian segera dibakar. Angin sore membawa bau lembut daun yang mulai mengering, bercampur dengan aroma tanah basah yang masih tertinggal dari hujan pagi tadi.

Nenek itu tinggal sendiri di sebuah rumah besar yang sudah dibangun sejak ia masih kecil. Almarhum ayahnya sendirilah yang mewariskan rumah itu dalam surat wasiat yang sampai sekarang masih tersimpan rapi bersama dokumen penting lainnya. Dahulu, rumah ini sering dipenuhi suara riuh anak-anaknya yang berlari di halaman, atau suaminya yang bersiul sambil menyiapkan perangkap ikan di sungai Kalimalang. Kini, semua itu hanya tinggal kenangan.

Tapi rumah di pinggiran Sungai Kalimalang itu tak seramai dulu lagi. Anaknya satu-persatu meninggalkan rumah, berkeluarga entah di mana dan mempunyai beberapa orang anak yang bahkan ia sendiri belum pernah melihatnya.

Tak tahukah mereka bahwa seorang cucu adalah salah satu syarat yang dapat menyempurnakan wujud setiap manusia berusia lanjut —seperti halnya ia sekarang? Mungkin suatu hari nanti ia akan pindah dari situ, dari rumah di pinggir sungai itu. Percakapan indah itu pun terjadi perlahan-lahan.

“Nenek sedang apa?” Suara seorang anak kecil tetangganya membuyarkan lamunan.

“Eh, Andin. Ini nenek lagi nyapu,” jawabnya singkat sambil tersenyum kecil.

“Nyapu apa, Nek?”

“Nyapuin daun-daun tua.”

“Kenapa daun-daun tua disapu, Nek?” Si kecil lalu jongkok tak jauh dari tumpukan daun yang disapu Nenek.

“Karena daun-daun tua ini jatuh dari pohonnya, dan hanya akan mengotori halaman kalau tidak dibersihkan.”

“Oo.. Jadi disapu biar bersih ya, Nek?!”

“Iya. Daun yang sudah tua akan rontok dari pohon, jatuh ke tanah, dan tidak berguna lagi. Nanti akan dibakar saja.”

“Nek, Ndin mau bantuin Nenek, nyapuin daun-daun tua. Boleh?”

“Boleh saja. Tapi nggak usah. Ini khan udah kerjaan nenek saban sore. Ndin main aja lagi sama Tiwul, sama Malik, dan sama temen-temen Ndin lainnya.”

“Enggak ah. Ndin mau di sini aja dulu. Ndin mau temenin nenek.”

Tanpa disuruh, anak kecil itu langsung saja duduk di beranda depan rumah itu. Api pelan-pelan mulai membakar tumpukan daun, melahirkan asap putih yang sesak–membumbung naik kemudian hilang dimakan langit sore. Sambil berdiri, nenek cuma bisa diam menyaksikan peristiwa yang ia ciptakan sendiri barusan. Apakah daun-daun tua itu pernah mengira sebelumnya bahwa suatu hari wujudnya akan musnah.

“Dan asap itu pun akan segera terlupakan,” bisik nenek pelan. Si kecil tak mendengar karena bola mata bulatnya memperhatikan pemandangan sederhana ini dengan takjub. Andin lalu berkata, “Nek, kalo Ndin udah gede nanti, Ndin mau nyapu halaman ini juga. Tapi Ndin nggak mau berhenti di situ. Ndin mau nyapu sungai juga, biar sungainya bersih lagi.”

Nenek tertawa kecil, matanya berkaca-kaca. Ia tidak tahu bagaimana menyapu sungai, tapi ia memahami keinginan anak itu. Dipeluknya erat Andin, dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa tidak lagi sendirian. “Terima kasih, Ndin. Semoga mimpi kamu terwujud,” bisik nenek di telinga kecil itu.

Bertahun-tahun kemudian, Andin–yang beranjak dewasa, menikah, dan punya dua anak–tinggal di rumah besar milik nenek di samping sungai Kalimalang. Setelah menyapu pekarangan rumah, ia selalu menebar kembang melati di atas nisan nenek di dekat pohon besar depan rumah. Nisan itu menghadap ke sungai, seakan menjadi penjaga abadi tempat ini.

***

KAMI HIDUP DI SEPANJANG SUNGAI KALIMALANG. Sebuah tempat di mana setiap hati saling bertaut dan rekaan surga telah berhenti sampai di sini. Kami hidup di sepanjang sungai Kalimalang karena kaki menuntun langkah ini untuk tak usah kemana-mana lagi.

Sampai suatu hari ada dua orang pemuda yang sedang duduk-duduk di taman samping sungai Kalimalang sehabis hujan gerimis. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa sederhana. Dan segalanya seperti terasa menakjubkan. Seorang pemuda tampan berambut tebal hingga jatuh menutupi mata memulai percakapan.

PEMUDA 1:

“Adakah kau percaya padaku sekarang? Saat-saat ini adalah saat yang terbaik sejak 10 tahun persahabatan kita berjalan.”

PEMUDA 2:

“Ternyata kau betul. Untung kau mengajakku ke sini sekarang. Padahal tadinya kupikir akan lebih baik jika di rumah saja. Tidak kusangka sungai Kalimalang bisa sebagus ini sehabis hujan. Dan coba kau lihat di sana, aspal jalan raya seakan memantulkan cahaya keindahan sesungguhnya dari nyala lampu setiap kendaraan yang lewat. Begitu dekat dan nyata. Padahal baru malam ini aku tidak mabuk apa-apa.”

PEMUDA 1:

“Ha.. ha.. ha.. ha! Tidak hanya aku, tapi kau juga betul kawan. Aku bahkan pernah berpikir bahwa Tuhan sepertinya selalu tinggal tak jauh dari sini. Dan lalu.. bagaimana kabar orang tuamu di kampung? Apa-apa saja yang sudah kau bangun selama di sana?”

Untuk selanjutnya kedua pemuda ini bakal terus saling berbicara. Mereka memang teman lama, dan baru malam ini takdir kembali mempertemukan keduanya. Keindahan sungai Kalimalang memaksa kedua pasang mata itu terus menatap setiap sudut yang tersedia. Kelak di masa mendatang, kedua sahabat ini akan terus hidup bertetangga, beristri-anak-dan cucu di sebuah pemukiman sepanjang Sungai Kalimalang.

***

KAMI HIDUP DI SEPANJANG SUNGAI KALIMALANG. Sebuah tempat di mana setiap hati saling bertaut dan rekaan surga telah berhenti sampai di sini. Kami hidup di sepanjang sungai Kalimalang karena kaki menuntun langkah ini untuk tak usah kemana-mana lagi.

Tenangnya alam, segar bau tetumbuhan, udara yang memabukkan, kicau rindu nyanyian burung, lukisan awan di percikan langit; semuanya seperti melebur–berjalan tenang dan membaur seiring arus sungai imaji tanpa polusi yang diairi indahnya kecoklatan.

Jika anda memasuki daerah kami lewat jalan utama, anda dapat melihat barisan panjang dan teduhnya hijau pepohonan tua; bukti bahwa para leluhur kami sangat menghargai keserasian hidup antara manusia dengan alam.

Kenikmatan perjalanan anda menyimak pemandangan sekitar tentunya tak akan mengalami gangguan, sebab aspal yang melapisi jalan raya di bawahnya terbuat dari pasir alam dan kerikil-kerikil keselamatan dalam cairan sutera hitam yang telah mengeras dengan cara lembut.

Dan dapat dipastikan bahwa kami termasuk orang-orang yang berbahagia. Maka silahkan anda lihat sendiri bahwa anak-anak kami tumbuh riang dan subur dengan gizi sempurna yang mengalir di setiap jengkal darahnya.

Beranjak dewasa, generasi muda kami akan bekerja keras untuk menjadikan hidup ini lebih dari sekedar menggapai keinginan; karena bagi kami, hidup adalah sebuah rute berjalan yang tujuannya sudah hadir sejak saat sekarang.

Kami juga akan berbicara kepada siapa saja dengan sopan santun yang menyenangkan, layaknya setiap senyuman adalah lambang kebiasaan yang terlestarikan.

Lalu bagaimana dengan para orangtua? Para orangtua atau yang telah hidup di masa sebelumnya selalu meninggalkan tradisi, budaya, dan petuah bijak hasil pemikiran atas pengalaman selama ini–falsafah sederhana–yang kelak dijadikan bahan pertimbangan serta pembelajaran kami di kemudian hari.

Kami juga memperlakukan daerah pemukiman ini sebagai tempat tinggal yang nyaman untuk menghabiskan usia lanjut, demi menghadapi saat-saat perpindahan jiwa ke dunia selanjutnya dengan cara indah, halus, dan tenang.

Di sini, kematian merupakan pengalaman baru sebagai ritual suci yang mampu dimiliki setiap insan. Sebuah kematian yang menggairahkan, layaknya gairah akan kehidupan mereka itu sendiri.

Kami semua memang hidup di sepanjang sungai Kalimalang. Sebuah tempat di mana setiap hati saling bertaut dan rekaan surga telah berhenti sampai di sini. Kami hidup di sepanjang sungai Kalimalang karena kaki menuntun langkah ini untuk tak usah kemana-mana lagi. [T]

KLIK untuk BACA cerpen lain

Mors Vincit Omnia | Cerpen Kiki Sulistyo
Bercakap-Cakap dengan Pencuri
Tukang Sulap dan Bocah Pemain Biola | Cerpen Hasan Aspahani
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Komang Berata  |  Cara Menghukum Pengkhianat

Next Post

Mencari Idealitas Baleganjur | Ulasan Lomba Baleganjur Taksu Agung Festival 2025

Pry S.

Pry S.

Mantan jurnalis, aktif menulis esai dan resensi musik di Jakartabeat, Pop Hari Ini dan Serunai. Menggeluti dunia programming dan Agile Framework. Kini tinggal dan bekerja di Denpasar.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Mencari Idealitas Baleganjur  |  Ulasan Lomba Baleganjur Taksu Agung Festival 2025

Mencari Idealitas Baleganjur | Ulasan Lomba Baleganjur Taksu Agung Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co