21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sura Belawa” dan Upaya Merawat Ekosistem Baleganjur | Catatan Lomba Baleganjur Taksu Agung

I Kadek Janurangga by I Kadek Janurangga
January 17, 2025
in Ulas Pentas
“Sura Belawa” dan Upaya Merawat Ekosistem Baleganjur | Catatan Lomba Baleganjur  Taksu Agung

Penabuh dan Penari Baleganjur “Sura Belawa” | Foto : Panitia Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

SAAT itu, Sabtu, 11 Januari 2025, hujan terus menerus singgah hampir di seluruh wilayah Bali. Sedari pagi hingga petang hujan masih enggan untuk berhenti membasahi bumi. Kendati demikian, hiruk pikuk aktifitas masyarakat masih tetap terkendali bahkan tergolong ramai.

Kebetulan juga hari itu adalah hari ang bertepatan dengan hari baik atau duasa dalam melakukan upacara ngaben (upacara kematian). Sehingga di sepanjang perjalanan, selain jalanan yang dipadati kendaraan, juga terlihat aktivitas adat yang ikut merayakan hujan.

Telinga yang sebelumnya hanya mendengar riuh hujan dan gemuruh suara kendaraan sesekali teralihkan dengan adanya iringan gamelan baleganjur pada prosesi upacara ngaben.

Baleganjur memang menjadi salah satu alat musik prosesi dalam beberapa upacara di Bali salah satunya prosesi ngaben. Ngaben di Bali melibatkan gamelan baleganjur sebagai objek musikal yang difungsikan agar bisa membangun semangat masyarakart dalam menggotong sarana-sarana pengabenan.

Melihat iringan baleganjur seketika saya teringat bahwa hari itu juga diselenggarakan perhelatan Lomba Baleganjur oleh Komunitas Seni Taksu Agung yang bermarkas di Kapal, Badung.

Merawat Ekosistem Baleganjur

Taksu Agung merupakan salah satu komunitas yang saampai saat ini masih sangat aktif dalam membangun kesenian. Pada kususnya Taksu Agung sangat dikenal di lingkup masyarakat penggemar baleganjur. Banyak karya-karya inspiratif yang terpatri di komunitas ini.

Tentu saja bukan hanya Baleganjur, banyak karya-karya gamelan lainnya  tercipta di komunitas Taksu Agung. Tidak bisa terelakkan dari hal tersebut Taksu Agung menjadi salah satu barometer perkembangan kesenian baleganjur di Bali.

Dengan berbagai karya yang telah dinikmati publik, tidak heran jika komunitas ini menyelenggarakan perhelatan yang sejalan dengan apa yang telah mereka tekuni, mereka lalui dan mereka cita-citakan.

Penabuh dan Penari Baleganjur “Sura Belawa” | Foto : Panitia Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

Lomba baleganjur ini bukanlah yang pertama kali diselenggarakan oleh Komunitas Seni Taksu Agung. Sebelumnya komunitas yang berdomisili di lingkungan Banjar Tambak Sari, Kapal, Badung, ini telah menyelenggarakan lomba baleganjur di tahun 2020 namun dengan  format pertunjukan virtual. Mengingat virus corona atau Covid-19 saat itu masih membayangi pikiran masyarakat. Dan terbukti juga virus tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk tetap membangun dan menjaga keberlangsungan ekosistem kesenian.

Yang saya ingat pada waktu itu, Taksu Agung memberi tema Tawur Kesanga sebagai framing ruang kreativitas pada lomba baleganjur yang diselenggarakan.

Sebelum bicara tentang tema, acara-acara yang diselenggarakan merupakan serangkaian acara perayaan HUT Komunitas Seni Taksu Agung yang jatuh pada tanggal hari ke-7 bulan Februari. Dari hal tersebut saya berpandangan bahwa Tawur Kesanga dijadikan sebagai tema pada event tersebut mengingat HUT Komunitas Seni Taksu Agung dilaksanakan berdekatan dengan perayaan Tawur Kesanga.

Selain itu juga dilaksanakannya acara tersebut menurut saya pribadi Komunitas Seni Taksu Agung memikirkan dampak dari pelaksanaan acara tersebut sehingga ada upaya untuk memberi ruang semacam ini.

Melihat perayaan Tawur Kesanga yang akan datang, setelah perhelatan tersebut, mungkin saja dugaan saya Taksu Agung ingin memberi ruang segar bagi masyarakat penggiat dan penggemar seni baleganjur. Dengan terselanggaranya acara ini juga menjadi ruang tumbuh dan hadirnya ide-ide baru dalam khasanah seni per-baleganjuran.

Sama seperti halnya keberadaan Tawur Kesangan sebagai bentuk pertemuan pusat-pusat energi. Keadaan tersebut juga saling menguntungkan secara material maupun non material bagi penyelenggara, penampil, masyarakat pemerhati, bahkan pedagang yang ikut meramaikan acara lomba baleganjur yang diselenggarakan oleh Komunitas Seni Taksu Agung.

Di tahun 2025 ini Komunitas Seni Taksu Agung kembali membuka lembaran baru dengan mengadakan Lomba Baleganjur dan memilih Panggung Terbuka Balai Budaya Giri Nata Mandala Pupem Badung sebagai arena perhelatan tahunan dari komunitas ini.

Terselenggaranya acara ini merupakan bentuk konsistensi dari Komunitas Seni Taksu Agung untuk tetap menjaga citra serta eksistensi kesenian Baleganjur. Sama seperti lomba yang diselenggarakan sebelumnya, Taksu Agung tetap menawarkan Tawur Kesanga sebagai tema perlombaan tahun ini. Hanya saja perlombaan yang diselenggarakan kali ini dilaksanakan dalam format baleganjur bergerak (dengan koreografi).

Sangat menarik jika melihat proses perjalanan komunitas satu ini. Dari maya menuju nyata, dari sebelumnya hanya terbayang perspektif auditif sekarang diformat lengkap dengan melibatkan pengalaman audio visual sebagaimana mestinya pertunjukan baleganjur dipentaskan.

Bertemu Sesama Pecinta Baleganjur

Hingga pada akhirnya di sore hari hujan perlahan menepi. Saya pun segera mempersiapkan diri untuk menyaksikan karya-karya baru dari Lomba Baleganjur Komunitas Seni Taksu Agung tahun 2025. Selain juga menghindari hujan yang tidak menentu hadir dan hilangnya.

Penabuh dan Penari Baleganjur “Sura Belawa” | Foto : Panitia Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

Kurang lebih 30 menit perjalanan, setiba di gerbang Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung kerumunan kendaraan yang sejalur menghantar saya ke lokasi pementasan. Sore itu tepat pukul 18.12 penonton mulai berdatangan disambut peserta yang melakukan persiapan di tepian gedung.

Terlihat juga raut serius para panitia yang bertugas mengawal jalannya acara hari itu. Sembari menunggu acara dimulai saya memesan segelas ice americano ditemani cengkrama pelepas rindu bersama teman seperjuangan semasa kuliah yang saya temui di lokasi.

Kira-kira 40 menit lamanya terdengan sambutan manis dari MC menyapa seluruh undangan dan hadirin yang menyaksikan acara tersebut. Seperti biasa acara diawali dengan sambutan dan pelaporan proses kegiatan oleh ketua panitia dan diakhiri dengan prosesi pembukaan Lomba Baleganjur oleh Komunitas Seni Taksu Agung.

Sura Belawa yang Monumental

Gelora suara gamelan baleganjur menghantar dan menandai prosesi membukaan sore hari itu. Di tengah menikmati matahari terbenam dengan segelas kopi pahit, terbitlah penampilan pembuka oleh Komunitas Seni Taksu Agung dengan membawakan karya monumentalnya. Terlihat dari kejauhan para penabuh yang sudah tidak terlihat muda lagi memasuki panggung.

Terdengar juga teriakan penonton yang kesal dengan penonton lain karena pandangannya dihalangi. Saya hanya tertawa mendengar banyak celotehan penonton yang kesal. Saya yang juga penonton lebih memilih mencari angel terbaik saya tanpa menggerutu. Anggaplah angin lalu. Kembali ke penampilan pembuka oleh para sepuh Komunitas Seni Taksu Agung, malam itu mereka membawakan kembali karya di tahun 2012 dengan judul “Sura Belawa”.

Terulang kembali memori di tahun 2012 silam dengan selogan baru mereka TENANG “tercipta untuk dikenang, kembali pulang tuk bersenang-senang”.

Kata-kata itu cukup jelas menggambarkan betapa merindunya mereka untuk berada dalam satu panggung lagi. Sura Belawa telah mencapai gelarnya pada awal kemunculan mereka dan kembali menjelaskan di tahun 2013 sebagai karya baleganjur terbaik se-Bali pada ajang Pesta Kesenian Bali. Pada moment Taksu Agung Baleganjur Festival mereka kembali berkumpul bukan sekedar untuk bersenan-senang tetapi dalam benak saya mereka memang hadir karena ini adalah moment yang mereka cita-citakan.

Setelah melalui begitu panjang perjalanan dan pencapaian, sangat layak bagi komuitas ini untuk berdiri menjadi salah satu pilar tumbuh dan berkembangnya kesenian baleganjur.

Penabuh dan Penari Baleganjur “Sura Belawa” | Foto : Panitia Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

Mengenai kompositoris yang dibawakan, saya degan teman-teman yang menyaksikan malam itu menebak bahwa komposisi yang dimainkan adalah komposisi original di tahun 2012. Terdengar dari beberapa pola yang masih identik dan teringat oleh memori otak ini. Mengingat karya ini juga sangat inspirasional, jadi pada masanya tidak mungkin hanya menontonnya sekali saja.

Dan ya, di atas panggung itu mereka benar-benar bersenang-senang dan menikmati setiap detik kenangan melodi, serunya ornamentasi, dan hagianya bernyanyi.  Di tengah usia mereka yang tonden tua-tua sajan, komposisi Sura Belawa masih bisa mereka bawakan dengan apik. Tidak heran lagi statusnya yang sepuh sudah tentu pengalaman mereka berbicara, sayangnya tenaga mereka tidak seperti dulu lagi.

Bisa saya gambarkan penapilan mereka kala itu tidak hanya membawa kenangan bagi mereka si pelaku, tetapi juga menjadi moment nostalgia bagi penonton bahkan menjadi moment penemuan fakta bagi mereka yang baru tahu pemain asli dari karya Sura Belawa (menjelaskan saya sebagai subjek tersebut). Penampilan mereka pun di akhirnya dengan foto bersama di atas panggung. [T]

Sublim Spirit I Maria dalam Karya Kreasi Baleganjur Komunitas Seni Taksu Agung
Dari Virtual Menuju Nyata | Kreativitas Baleganjur Komunitas Taksu Agung
Tags: baleganjurgamelan baliKomunitas Taksu Agunglomba baleganjurmusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tato Petir dan Perempuan di Sela Konser Lyla Band  |  Cerita Malam Dies Natalis Undiksha

Next Post

Bayu Apriana dan “Askara Urip”: Jati Diri Gong Suling dan Pola Musikal Gambuh Khas Padang Aji

I Kadek Janurangga

I Kadek Janurangga

Komposer. Tinggal di Lingkungan Padangtegal Kaja, Ubud, Gianyar, Bali.

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Bayu Apriana dan “Askara Urip”: Jati Diri Gong Suling dan Pola Musikal Gambuh Khas Padang Aji

Bayu Apriana dan “Askara Urip”: Jati Diri Gong Suling dan Pola Musikal Gambuh Khas Padang Aji

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co