27 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sura Belawa” dan Upaya Merawat Ekosistem Baleganjur | Catatan Lomba Baleganjur Taksu Agung

I Kadek Janurangga by I Kadek Janurangga
January 17, 2025
in Ulas Pentas
“Sura Belawa” dan Upaya Merawat Ekosistem Baleganjur | Catatan Lomba Baleganjur  Taksu Agung

Penabuh dan Penari Baleganjur “Sura Belawa” | Foto : Panitia Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

SAAT itu, Sabtu, 11 Januari 2025, hujan terus menerus singgah hampir di seluruh wilayah Bali. Sedari pagi hingga petang hujan masih enggan untuk berhenti membasahi bumi. Kendati demikian, hiruk pikuk aktifitas masyarakat masih tetap terkendali bahkan tergolong ramai.

Kebetulan juga hari itu adalah hari ang bertepatan dengan hari baik atau duasa dalam melakukan upacara ngaben (upacara kematian). Sehingga di sepanjang perjalanan, selain jalanan yang dipadati kendaraan, juga terlihat aktivitas adat yang ikut merayakan hujan.

Telinga yang sebelumnya hanya mendengar riuh hujan dan gemuruh suara kendaraan sesekali teralihkan dengan adanya iringan gamelan baleganjur pada prosesi upacara ngaben.

Baleganjur memang menjadi salah satu alat musik prosesi dalam beberapa upacara di Bali salah satunya prosesi ngaben. Ngaben di Bali melibatkan gamelan baleganjur sebagai objek musikal yang difungsikan agar bisa membangun semangat masyarakart dalam menggotong sarana-sarana pengabenan.

Melihat iringan baleganjur seketika saya teringat bahwa hari itu juga diselenggarakan perhelatan Lomba Baleganjur oleh Komunitas Seni Taksu Agung yang bermarkas di Kapal, Badung.

Merawat Ekosistem Baleganjur

Taksu Agung merupakan salah satu komunitas yang saampai saat ini masih sangat aktif dalam membangun kesenian. Pada kususnya Taksu Agung sangat dikenal di lingkup masyarakat penggemar baleganjur. Banyak karya-karya inspiratif yang terpatri di komunitas ini.

Tentu saja bukan hanya Baleganjur, banyak karya-karya gamelan lainnya  tercipta di komunitas Taksu Agung. Tidak bisa terelakkan dari hal tersebut Taksu Agung menjadi salah satu barometer perkembangan kesenian baleganjur di Bali.

Dengan berbagai karya yang telah dinikmati publik, tidak heran jika komunitas ini menyelenggarakan perhelatan yang sejalan dengan apa yang telah mereka tekuni, mereka lalui dan mereka cita-citakan.

Penabuh dan Penari Baleganjur “Sura Belawa” | Foto : Panitia Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

Lomba baleganjur ini bukanlah yang pertama kali diselenggarakan oleh Komunitas Seni Taksu Agung. Sebelumnya komunitas yang berdomisili di lingkungan Banjar Tambak Sari, Kapal, Badung, ini telah menyelenggarakan lomba baleganjur di tahun 2020 namun dengan  format pertunjukan virtual. Mengingat virus corona atau Covid-19 saat itu masih membayangi pikiran masyarakat. Dan terbukti juga virus tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk tetap membangun dan menjaga keberlangsungan ekosistem kesenian.

Yang saya ingat pada waktu itu, Taksu Agung memberi tema Tawur Kesanga sebagai framing ruang kreativitas pada lomba baleganjur yang diselenggarakan.

Sebelum bicara tentang tema, acara-acara yang diselenggarakan merupakan serangkaian acara perayaan HUT Komunitas Seni Taksu Agung yang jatuh pada tanggal hari ke-7 bulan Februari. Dari hal tersebut saya berpandangan bahwa Tawur Kesanga dijadikan sebagai tema pada event tersebut mengingat HUT Komunitas Seni Taksu Agung dilaksanakan berdekatan dengan perayaan Tawur Kesanga.

Selain itu juga dilaksanakannya acara tersebut menurut saya pribadi Komunitas Seni Taksu Agung memikirkan dampak dari pelaksanaan acara tersebut sehingga ada upaya untuk memberi ruang semacam ini.

Melihat perayaan Tawur Kesanga yang akan datang, setelah perhelatan tersebut, mungkin saja dugaan saya Taksu Agung ingin memberi ruang segar bagi masyarakat penggiat dan penggemar seni baleganjur. Dengan terselanggaranya acara ini juga menjadi ruang tumbuh dan hadirnya ide-ide baru dalam khasanah seni per-baleganjuran.

Sama seperti halnya keberadaan Tawur Kesangan sebagai bentuk pertemuan pusat-pusat energi. Keadaan tersebut juga saling menguntungkan secara material maupun non material bagi penyelenggara, penampil, masyarakat pemerhati, bahkan pedagang yang ikut meramaikan acara lomba baleganjur yang diselenggarakan oleh Komunitas Seni Taksu Agung.

Di tahun 2025 ini Komunitas Seni Taksu Agung kembali membuka lembaran baru dengan mengadakan Lomba Baleganjur dan memilih Panggung Terbuka Balai Budaya Giri Nata Mandala Pupem Badung sebagai arena perhelatan tahunan dari komunitas ini.

Terselenggaranya acara ini merupakan bentuk konsistensi dari Komunitas Seni Taksu Agung untuk tetap menjaga citra serta eksistensi kesenian Baleganjur. Sama seperti lomba yang diselenggarakan sebelumnya, Taksu Agung tetap menawarkan Tawur Kesanga sebagai tema perlombaan tahun ini. Hanya saja perlombaan yang diselenggarakan kali ini dilaksanakan dalam format baleganjur bergerak (dengan koreografi).

Sangat menarik jika melihat proses perjalanan komunitas satu ini. Dari maya menuju nyata, dari sebelumnya hanya terbayang perspektif auditif sekarang diformat lengkap dengan melibatkan pengalaman audio visual sebagaimana mestinya pertunjukan baleganjur dipentaskan.

Bertemu Sesama Pecinta Baleganjur

Hingga pada akhirnya di sore hari hujan perlahan menepi. Saya pun segera mempersiapkan diri untuk menyaksikan karya-karya baru dari Lomba Baleganjur Komunitas Seni Taksu Agung tahun 2025. Selain juga menghindari hujan yang tidak menentu hadir dan hilangnya.

Penabuh dan Penari Baleganjur “Sura Belawa” | Foto : Panitia Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

Kurang lebih 30 menit perjalanan, setiba di gerbang Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung kerumunan kendaraan yang sejalur menghantar saya ke lokasi pementasan. Sore itu tepat pukul 18.12 penonton mulai berdatangan disambut peserta yang melakukan persiapan di tepian gedung.

Terlihat juga raut serius para panitia yang bertugas mengawal jalannya acara hari itu. Sembari menunggu acara dimulai saya memesan segelas ice americano ditemani cengkrama pelepas rindu bersama teman seperjuangan semasa kuliah yang saya temui di lokasi.

Kira-kira 40 menit lamanya terdengan sambutan manis dari MC menyapa seluruh undangan dan hadirin yang menyaksikan acara tersebut. Seperti biasa acara diawali dengan sambutan dan pelaporan proses kegiatan oleh ketua panitia dan diakhiri dengan prosesi pembukaan Lomba Baleganjur oleh Komunitas Seni Taksu Agung.

Sura Belawa yang Monumental

Gelora suara gamelan baleganjur menghantar dan menandai prosesi membukaan sore hari itu. Di tengah menikmati matahari terbenam dengan segelas kopi pahit, terbitlah penampilan pembuka oleh Komunitas Seni Taksu Agung dengan membawakan karya monumentalnya. Terlihat dari kejauhan para penabuh yang sudah tidak terlihat muda lagi memasuki panggung.

Terdengar juga teriakan penonton yang kesal dengan penonton lain karena pandangannya dihalangi. Saya hanya tertawa mendengar banyak celotehan penonton yang kesal. Saya yang juga penonton lebih memilih mencari angel terbaik saya tanpa menggerutu. Anggaplah angin lalu. Kembali ke penampilan pembuka oleh para sepuh Komunitas Seni Taksu Agung, malam itu mereka membawakan kembali karya di tahun 2012 dengan judul “Sura Belawa”.

Terulang kembali memori di tahun 2012 silam dengan selogan baru mereka TENANG “tercipta untuk dikenang, kembali pulang tuk bersenang-senang”.

Kata-kata itu cukup jelas menggambarkan betapa merindunya mereka untuk berada dalam satu panggung lagi. Sura Belawa telah mencapai gelarnya pada awal kemunculan mereka dan kembali menjelaskan di tahun 2013 sebagai karya baleganjur terbaik se-Bali pada ajang Pesta Kesenian Bali. Pada moment Taksu Agung Baleganjur Festival mereka kembali berkumpul bukan sekedar untuk bersenan-senang tetapi dalam benak saya mereka memang hadir karena ini adalah moment yang mereka cita-citakan.

Setelah melalui begitu panjang perjalanan dan pencapaian, sangat layak bagi komuitas ini untuk berdiri menjadi salah satu pilar tumbuh dan berkembangnya kesenian baleganjur.

Penabuh dan Penari Baleganjur “Sura Belawa” | Foto : Panitia Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

Mengenai kompositoris yang dibawakan, saya degan teman-teman yang menyaksikan malam itu menebak bahwa komposisi yang dimainkan adalah komposisi original di tahun 2012. Terdengar dari beberapa pola yang masih identik dan teringat oleh memori otak ini. Mengingat karya ini juga sangat inspirasional, jadi pada masanya tidak mungkin hanya menontonnya sekali saja.

Dan ya, di atas panggung itu mereka benar-benar bersenang-senang dan menikmati setiap detik kenangan melodi, serunya ornamentasi, dan hagianya bernyanyi.  Di tengah usia mereka yang tonden tua-tua sajan, komposisi Sura Belawa masih bisa mereka bawakan dengan apik. Tidak heran lagi statusnya yang sepuh sudah tentu pengalaman mereka berbicara, sayangnya tenaga mereka tidak seperti dulu lagi.

Bisa saya gambarkan penapilan mereka kala itu tidak hanya membawa kenangan bagi mereka si pelaku, tetapi juga menjadi moment nostalgia bagi penonton bahkan menjadi moment penemuan fakta bagi mereka yang baru tahu pemain asli dari karya Sura Belawa (menjelaskan saya sebagai subjek tersebut). Penampilan mereka pun di akhirnya dengan foto bersama di atas panggung. [T]

Sublim Spirit I Maria dalam Karya Kreasi Baleganjur Komunitas Seni Taksu Agung
Dari Virtual Menuju Nyata | Kreativitas Baleganjur Komunitas Taksu Agung
Tags: baleganjurgamelan baliKomunitas Taksu Agunglomba baleganjurmusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tato Petir dan Perempuan di Sela Konser Lyla Band  |  Cerita Malam Dies Natalis Undiksha

Next Post

Bayu Apriana dan “Askara Urip”: Jati Diri Gong Suling dan Pola Musikal Gambuh Khas Padang Aji

I Kadek Janurangga

I Kadek Janurangga

Komposer. Tinggal di Lingkungan Padangtegal Kaja, Ubud, Gianyar, Bali.

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
Bayu Apriana dan “Askara Urip”: Jati Diri Gong Suling dan Pola Musikal Gambuh Khas Padang Aji

Bayu Apriana dan “Askara Urip”: Jati Diri Gong Suling dan Pola Musikal Gambuh Khas Padang Aji

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali
Esai

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?
Esai

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co