29 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sura Belawa” dan Upaya Merawat Ekosistem Baleganjur | Catatan Lomba Baleganjur Taksu Agung

I Kadek Janurangga by I Kadek Janurangga
January 17, 2025
in Ulas Pentas
“Sura Belawa” dan Upaya Merawat Ekosistem Baleganjur | Catatan Lomba Baleganjur  Taksu Agung

Penabuh dan Penari Baleganjur “Sura Belawa” | Foto : Panitia Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

SAAT itu, Sabtu, 11 Januari 2025, hujan terus menerus singgah hampir di seluruh wilayah Bali. Sedari pagi hingga petang hujan masih enggan untuk berhenti membasahi bumi. Kendati demikian, hiruk pikuk aktifitas masyarakat masih tetap terkendali bahkan tergolong ramai.

Kebetulan juga hari itu adalah hari ang bertepatan dengan hari baik atau duasa dalam melakukan upacara ngaben (upacara kematian). Sehingga di sepanjang perjalanan, selain jalanan yang dipadati kendaraan, juga terlihat aktivitas adat yang ikut merayakan hujan.

Telinga yang sebelumnya hanya mendengar riuh hujan dan gemuruh suara kendaraan sesekali teralihkan dengan adanya iringan gamelan baleganjur pada prosesi upacara ngaben.

Baleganjur memang menjadi salah satu alat musik prosesi dalam beberapa upacara di Bali salah satunya prosesi ngaben. Ngaben di Bali melibatkan gamelan baleganjur sebagai objek musikal yang difungsikan agar bisa membangun semangat masyarakart dalam menggotong sarana-sarana pengabenan.

Melihat iringan baleganjur seketika saya teringat bahwa hari itu juga diselenggarakan perhelatan Lomba Baleganjur oleh Komunitas Seni Taksu Agung yang bermarkas di Kapal, Badung.

Merawat Ekosistem Baleganjur

Taksu Agung merupakan salah satu komunitas yang saampai saat ini masih sangat aktif dalam membangun kesenian. Pada kususnya Taksu Agung sangat dikenal di lingkup masyarakat penggemar baleganjur. Banyak karya-karya inspiratif yang terpatri di komunitas ini.

Tentu saja bukan hanya Baleganjur, banyak karya-karya gamelan lainnya  tercipta di komunitas Taksu Agung. Tidak bisa terelakkan dari hal tersebut Taksu Agung menjadi salah satu barometer perkembangan kesenian baleganjur di Bali.

Dengan berbagai karya yang telah dinikmati publik, tidak heran jika komunitas ini menyelenggarakan perhelatan yang sejalan dengan apa yang telah mereka tekuni, mereka lalui dan mereka cita-citakan.

Penabuh dan Penari Baleganjur “Sura Belawa” | Foto : Panitia Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

Lomba baleganjur ini bukanlah yang pertama kali diselenggarakan oleh Komunitas Seni Taksu Agung. Sebelumnya komunitas yang berdomisili di lingkungan Banjar Tambak Sari, Kapal, Badung, ini telah menyelenggarakan lomba baleganjur di tahun 2020 namun dengan  format pertunjukan virtual. Mengingat virus corona atau Covid-19 saat itu masih membayangi pikiran masyarakat. Dan terbukti juga virus tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk tetap membangun dan menjaga keberlangsungan ekosistem kesenian.

Yang saya ingat pada waktu itu, Taksu Agung memberi tema Tawur Kesanga sebagai framing ruang kreativitas pada lomba baleganjur yang diselenggarakan.

Sebelum bicara tentang tema, acara-acara yang diselenggarakan merupakan serangkaian acara perayaan HUT Komunitas Seni Taksu Agung yang jatuh pada tanggal hari ke-7 bulan Februari. Dari hal tersebut saya berpandangan bahwa Tawur Kesanga dijadikan sebagai tema pada event tersebut mengingat HUT Komunitas Seni Taksu Agung dilaksanakan berdekatan dengan perayaan Tawur Kesanga.

Selain itu juga dilaksanakannya acara tersebut menurut saya pribadi Komunitas Seni Taksu Agung memikirkan dampak dari pelaksanaan acara tersebut sehingga ada upaya untuk memberi ruang semacam ini.

Melihat perayaan Tawur Kesanga yang akan datang, setelah perhelatan tersebut, mungkin saja dugaan saya Taksu Agung ingin memberi ruang segar bagi masyarakat penggiat dan penggemar seni baleganjur. Dengan terselanggaranya acara ini juga menjadi ruang tumbuh dan hadirnya ide-ide baru dalam khasanah seni per-baleganjuran.

Sama seperti halnya keberadaan Tawur Kesangan sebagai bentuk pertemuan pusat-pusat energi. Keadaan tersebut juga saling menguntungkan secara material maupun non material bagi penyelenggara, penampil, masyarakat pemerhati, bahkan pedagang yang ikut meramaikan acara lomba baleganjur yang diselenggarakan oleh Komunitas Seni Taksu Agung.

Di tahun 2025 ini Komunitas Seni Taksu Agung kembali membuka lembaran baru dengan mengadakan Lomba Baleganjur dan memilih Panggung Terbuka Balai Budaya Giri Nata Mandala Pupem Badung sebagai arena perhelatan tahunan dari komunitas ini.

Terselenggaranya acara ini merupakan bentuk konsistensi dari Komunitas Seni Taksu Agung untuk tetap menjaga citra serta eksistensi kesenian Baleganjur. Sama seperti lomba yang diselenggarakan sebelumnya, Taksu Agung tetap menawarkan Tawur Kesanga sebagai tema perlombaan tahun ini. Hanya saja perlombaan yang diselenggarakan kali ini dilaksanakan dalam format baleganjur bergerak (dengan koreografi).

Sangat menarik jika melihat proses perjalanan komunitas satu ini. Dari maya menuju nyata, dari sebelumnya hanya terbayang perspektif auditif sekarang diformat lengkap dengan melibatkan pengalaman audio visual sebagaimana mestinya pertunjukan baleganjur dipentaskan.

Bertemu Sesama Pecinta Baleganjur

Hingga pada akhirnya di sore hari hujan perlahan menepi. Saya pun segera mempersiapkan diri untuk menyaksikan karya-karya baru dari Lomba Baleganjur Komunitas Seni Taksu Agung tahun 2025. Selain juga menghindari hujan yang tidak menentu hadir dan hilangnya.

Penabuh dan Penari Baleganjur “Sura Belawa” | Foto : Panitia Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

Kurang lebih 30 menit perjalanan, setiba di gerbang Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung kerumunan kendaraan yang sejalur menghantar saya ke lokasi pementasan. Sore itu tepat pukul 18.12 penonton mulai berdatangan disambut peserta yang melakukan persiapan di tepian gedung.

Terlihat juga raut serius para panitia yang bertugas mengawal jalannya acara hari itu. Sembari menunggu acara dimulai saya memesan segelas ice americano ditemani cengkrama pelepas rindu bersama teman seperjuangan semasa kuliah yang saya temui di lokasi.

Kira-kira 40 menit lamanya terdengan sambutan manis dari MC menyapa seluruh undangan dan hadirin yang menyaksikan acara tersebut. Seperti biasa acara diawali dengan sambutan dan pelaporan proses kegiatan oleh ketua panitia dan diakhiri dengan prosesi pembukaan Lomba Baleganjur oleh Komunitas Seni Taksu Agung.

Sura Belawa yang Monumental

Gelora suara gamelan baleganjur menghantar dan menandai prosesi membukaan sore hari itu. Di tengah menikmati matahari terbenam dengan segelas kopi pahit, terbitlah penampilan pembuka oleh Komunitas Seni Taksu Agung dengan membawakan karya monumentalnya. Terlihat dari kejauhan para penabuh yang sudah tidak terlihat muda lagi memasuki panggung.

Terdengar juga teriakan penonton yang kesal dengan penonton lain karena pandangannya dihalangi. Saya hanya tertawa mendengar banyak celotehan penonton yang kesal. Saya yang juga penonton lebih memilih mencari angel terbaik saya tanpa menggerutu. Anggaplah angin lalu. Kembali ke penampilan pembuka oleh para sepuh Komunitas Seni Taksu Agung, malam itu mereka membawakan kembali karya di tahun 2012 dengan judul “Sura Belawa”.

Terulang kembali memori di tahun 2012 silam dengan selogan baru mereka TENANG “tercipta untuk dikenang, kembali pulang tuk bersenang-senang”.

Kata-kata itu cukup jelas menggambarkan betapa merindunya mereka untuk berada dalam satu panggung lagi. Sura Belawa telah mencapai gelarnya pada awal kemunculan mereka dan kembali menjelaskan di tahun 2013 sebagai karya baleganjur terbaik se-Bali pada ajang Pesta Kesenian Bali. Pada moment Taksu Agung Baleganjur Festival mereka kembali berkumpul bukan sekedar untuk bersenan-senang tetapi dalam benak saya mereka memang hadir karena ini adalah moment yang mereka cita-citakan.

Setelah melalui begitu panjang perjalanan dan pencapaian, sangat layak bagi komuitas ini untuk berdiri menjadi salah satu pilar tumbuh dan berkembangnya kesenian baleganjur.

Penabuh dan Penari Baleganjur “Sura Belawa” | Foto : Panitia Dokumentasi & Publikasi Komunitas Seni Taksu Agung

Mengenai kompositoris yang dibawakan, saya degan teman-teman yang menyaksikan malam itu menebak bahwa komposisi yang dimainkan adalah komposisi original di tahun 2012. Terdengar dari beberapa pola yang masih identik dan teringat oleh memori otak ini. Mengingat karya ini juga sangat inspirasional, jadi pada masanya tidak mungkin hanya menontonnya sekali saja.

Dan ya, di atas panggung itu mereka benar-benar bersenang-senang dan menikmati setiap detik kenangan melodi, serunya ornamentasi, dan hagianya bernyanyi.  Di tengah usia mereka yang tonden tua-tua sajan, komposisi Sura Belawa masih bisa mereka bawakan dengan apik. Tidak heran lagi statusnya yang sepuh sudah tentu pengalaman mereka berbicara, sayangnya tenaga mereka tidak seperti dulu lagi.

Bisa saya gambarkan penapilan mereka kala itu tidak hanya membawa kenangan bagi mereka si pelaku, tetapi juga menjadi moment nostalgia bagi penonton bahkan menjadi moment penemuan fakta bagi mereka yang baru tahu pemain asli dari karya Sura Belawa (menjelaskan saya sebagai subjek tersebut). Penampilan mereka pun di akhirnya dengan foto bersama di atas panggung. [T]

Sublim Spirit I Maria dalam Karya Kreasi Baleganjur Komunitas Seni Taksu Agung
Dari Virtual Menuju Nyata | Kreativitas Baleganjur Komunitas Taksu Agung
Tags: baleganjurgamelan baliKomunitas Taksu Agunglomba baleganjurmusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tato Petir dan Perempuan di Sela Konser Lyla Band  |  Cerita Malam Dies Natalis Undiksha

Next Post

Bayu Apriana dan “Askara Urip”: Jati Diri Gong Suling dan Pola Musikal Gambuh Khas Padang Aji

I Kadek Janurangga

I Kadek Janurangga

Komposer. Tinggal di Lingkungan Padangtegal Kaja, Ubud, Gianyar, Bali.

Related Posts

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails
Next Post
Bayu Apriana dan “Askara Urip”: Jati Diri Gong Suling dan Pola Musikal Gambuh Khas Padang Aji

Bayu Apriana dan “Askara Urip”: Jati Diri Gong Suling dan Pola Musikal Gambuh Khas Padang Aji

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan...

by Sugi Lanus
June 28, 2026
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky
Cerpen

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda
Puisi

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan
Liputan Khusus

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar....

by Jaswanto
June 28, 2026
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
Bulan Juni Milik Empat Presiden
Esai

Bulan Juni Milik Empat Presiden

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak...

by I Nyoman Tingkat
June 28, 2026
Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi
Esai

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa...

by Agung Sudarsa
June 28, 2026
Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan
Esai

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin...

by T.H. Hari Sucahyo
June 28, 2026
Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi
Esai

Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua...

by Doni Sugiarto Wijaya
June 28, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NGANDANG NGANJUH: ‘Unconscious Incompetence’ dalam Masyarakat Bali —Renungan Malam Kuningan

Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong...

by Sugi Lanus
June 27, 2026
Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan
Esai

Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten,...

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
Takut Galungan
Dongeng

Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co