3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bayu Apriana dan “Askara Urip”: Jati Diri Gong Suling dan Pola Musikal Gambuh Khas Padang Aji

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 17, 2025
in Persona
Bayu Apriana dan “Askara Urip”: Jati Diri Gong Suling dan Pola Musikal Gambuh Khas Padang Aji

I Komang Bayu Apriana (depan tengah) menyajikan “Askara Urip” | Foto: dok. Risky Darma Putra

LANTUNAN gamelan gong suling yang ngulangunin (menyejukkan hati) itu berkumandang di Gedung Natya Mandala, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Kala itu tengah berlangsung Ujian Tugas Akhir ISI Denpasar. Salah satu mahasiswa yang tampil pada malam itu adalah I Komang Bayu Apriana.

Pemuda yang akrab disapa Komang Bayu itu memainkan suling gede dan suling petit (suling Bali berukuran kecil), ia juga sekaligus ngugalin–menjadi pemimpin yang memandu alur garapan itu. Karyanya itu berjudul “Askara Urip”, yang berasal dari kata ‘askara’ berarti ‘sinar’ dan ‘kahuripan’ berarti ‘kehidupan’. Jadi, “Askara Urip” adalah cahaya kehidupan yang merujuk kepada matahari sebagai sumber energi bagi setiap kehidupan di bumi, serta pesona keindahan yang terpancar dari cahaya tersebut.

Dalam proses penciptaan karya dan penyajian garapan “Askara Urip” ini, Komang Bayu menggandeng Poleng Art Community sebagai mitra kolaboratif dalam pelaksanaan tugas akhirnya. Hal ini sejalan dengan program Proyek Independen dalam Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dijalankan oleh mahasiswa ISI Denpasar. Karya yang telah digarapnya sedari Oktober 2024 ini, sukses dipentaskan perdana tepat pukul 19.00 Wita, pada tanggal 10 Januari 2025 di Gedung Natya Mandala, ISI Denpasar.

 

I Komang Bayu Apriana (kiri baju hitam) || Foto: dok. Risky Darma Putra

Pementasan Garapan Karawitan Inovatif “Askara Urip” oleh I Komang Bayu Apriana | Foto: dok. Risky Darma Putra

Pemuda yang lahir pada 23 April 2003 itu mengaku terilhami dengan ide atau konsep tersebut ketika ia melihat keindahan cahaya matahari. “Saya melihat fungsi serta peranan dari matahari sebagai sumber cahaya kehidupan. Jadi saya memandang matahari itu sangat menarik, ia terbit dari timur ke barat. Kebetulan saya sebagai orang Karangasem–berada di ujung timur pulau Bali. Jadi, menyaksikan matahari terbit adalah keseharian saya.”

Alih-alih menggunakan barungan gong kebyar, semar pegulingan, ataupun barungan gamelan yang lainnya. Komang Bayu justru memilih menyajikan garapannya menggunakan barungan gong suling. Dan ia adalah satu-satunya mahasiswa yang menampilkan garapan gong suling pada malam itu.

“Menurut saya gong suling itu sangat menarik, dan setahu saya belum digunakan oleh rekan-rekan penampil yang lain. Kebetulan skill atau keahlian saya adalah bermain suling. Jadi, selain membawakan sesuatu yang berbeda, saya juga ingin menunjukkan kepiawaian saya dalam bermain suling,” jelas calon sarjana seni itu.

Dalam garapan yang manis nan apik tersebut, instrumen yang digunakan terdiri dari, suling gede, suling petit, kendang krumpung, ceng-ceng ricik, kajar trenteng, kajar kelentit, gong pulu, gentorag, klenang, dan tawa-tawa. Selain itu, terdapat pula penambahan instrumen tradisional Selepita–yang ada di dalam barungan gamelan pegambuhan khas Padang Aji, serta olah vokal gerong sebagai pelengkap.

Beberapa penabuh dari Poleng Art Community saat memainkan kendang krumpung dan instrumen Selepita (khas Padang Aji, Karangasem) | Foto: dok. Risky Darma Putra

Komang Bayu menuturkan, dalam garapan “Askara Urip” ini, ia mengaitkan kearifan lokal yang ada di daerah asalnya, yaitu kesenian Gambuh khas Padang Aji, Karangasem. Pola-pola musikal dari barungan gong suling yang ditampilkannya juga beberapa mengadopsi pola-pola dari gamelan pegambuhan khas Padang Aji.

“Dari karya “Askara Urip” ini, saya berkeinginan untuk menggali, mengembangkan, serta melestarikan kearifan lokal yang ada di Padang Aji, dengan membuat karya komposisi karawitan inovatif yang berpijak dari kesenian tradisi gambuh dengan harapan kesenian ini tetap ajeg dan lestari sepanjang waktu. Serta memberikan tawaran baru pada komposisi seni karawitan inovatif di Bali,” ungkap Komang Bayu.

Pementasan Garapan Karawitan Inovatif “Askara Urip” oleh I Komang Bayu Apriana | Foto: dok. Risky Darma Putra

Setiap proses kreatif tentu akan selalu menghadapi berbagai tantangan. Begitu pula dengan yang dialami oleh Komang Bayu. Ia menjelaskan, tantangan yang pasti selalu ditemui adalah kesulitan mengatur waktu. Terlebih lagi para penabuh pendukungnya memiliki kesibukan masing-masing, ada yang sekolah dan ada pula yang bekerja di kota. Jadi, perihal waktu senantiasa menjadi masalah utama dalam perjalanannya.

Selain itu, ketika proses penggarapan, tantangan yang dihadapi olehnya adalah kebingungan merealisasikan atau menuangkan ide ke dalam sajian gending karawitan inovatif, khususnya dalam hal ini gong suling.

“Awalnya agak bingung menuangkan ide. Terutama ketika menentukan struktur, cerita atau pesan dari setiap bagian, serta pola-pola yang akan digunakan menjadi tantangan yang berat dalam menggarap karya ini,” jelasnya.

Ekspresi lega, senang, dan bangga tak bisa dibendung dari wajahnya. Ia amat merasa senang dan bangga bisa menampilkan karyanya dalam Ujian Tugas Akhir malam itu, “tentunya ini akan menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya, karena bisa mengangkat kearifan lokal dari desa saya dalam karya seni “Askara Urip” ini. Intinya, bangga bisa menampilkan garapan di ISI Denpasar.”

“Karena saya mendalami seni, terutama karawitan. Saya berharap ilmu saya bisa berguna untuk pribadi dan di masyarakat nantinya. Kalaupun saya tidak menjadi seorang seniman total, saya tidak masalah. Yang jelas, setidaknya saya harus tetap berproses kreatif dan menjalankan passion sebagai pelaku seni seumur hidup saya,” pungkasnya.

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Agus Nantika, Mural, dan Canvas Beton: Tidak Asal Coret, Tapi Kalau Ada Panggilan, Ia Siap Mencoret
Garas Prahmantara dan Kawan-kawan Melukis Tempat Sampah di Denpasar Festival 2024, Jadi Live Mural yang Mengesankan
Khoirurisma Agustin: Ia Atlet Wushu, Sekolah Tata Busana, Ia Muslim, Kuliah Bahasa Bali
Putu Agus Gotawa: Seniman Muda yang Memiliki Mimpi Besar
Tags: gamelan baligong sulingISI Denpasarkarawitan baliKesenian Gambuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Sura Belawa” dan Upaya Merawat Ekosistem Baleganjur | Catatan Lomba Baleganjur Taksu Agung

Next Post

Tumpek Wayang, Puncak Yoga Penuh Anugerah

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Dodol Satuh : Memaknai Lebih Dalam Hari Suci Galungan

Tumpek Wayang, Puncak Yoga Penuh Anugerah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co