13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Agus Nantika, Mural, dan Canvas Beton: Tidak Asal Coret, Tapi Kalau Ada Panggilan, Ia Siap Mencoret

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 11, 2025
in Persona
Agus Nantika, Mural, dan Canvas Beton: Tidak Asal Coret, Tapi Kalau Ada Panggilan, Ia Siap Mencoret

Agus Nantika, Founder Canvas Beton | Foto: tatkala.co/Dede

PELARIAN yang paling tepat saat menghadapi kekalutan ketika menyusun skripsi adalah kongko. Begitupula yang kami lakukan saat itu, di sela-sela kesibukan, kami maseliahan (refreshing) sejenak ke sebuah kedai kopi sekaligus tempat biliar di Kesiman, Denpasar.

Kala itu, Saya dan kawan saya Agus Nantika mencuri waktu senggang tatkala bimbingan dengan dosen telah usai. Kendati memperjuangkan gelar yang sama di kampus UPMI Bali, tetapi kami berbeda jurusan. Ia jurusan Pendidikan Seni Rupa, sementara saya jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia.

Agus Nantika, begitulah orang-orang kerap menyapanya. Nama lengkapnya I Wayan Agus Nantika Darma Putra. Pria kelahiran 13 Mei 1998 yang berasal dari Pedungan, Denpasar ini merupakan salah satu seniman muda yang berbakat. Ia beberapa kali terlibat dalam berbagai pameran seni lukis dan menginisiasi event seni berskala kecil. Selain itu, ia juga aktif melukis mural yang kini dijadikan usaha jasa olehnya–bernama Canvas Beton.

Hot Americano dan Ice Kopi Susu Gula Bali menemani perbincangan kami di kedai itu, obrolan tanpa sekat mulai mengalir setelah ia menyulut sebatang rokok, lalu dihisap perlahan sembari mengobrol. Kami berbincang-bincang tentang berbagai hal. Mulai dari kiat-kiat menyusun tugas akhir, lalu ngelantur ke krisis sampah, karya-karya seni lukis, hingga usaha yang diasuhnya kini–yaitu Canvas Beton.  

Lukisan mural yang ada di kedai itu juga dilukis olehnya bersama Canvas Beton. Dinding kedai itu terlihat begitu estetis karena berisi lukisan Wayang Kamasan yang dikemas dengan style modern, atau bisa disebut pula post-tradisi. Lukisan itu mampu merepresentasikan suasana dan karakter kedai itu, yaitu tempat biliar dan kedai kopi.

Mural karya Canvas Beton | Foto: dok. Agus Nantika

Canvas Beton merupakan jasa mural yang dibentuk dan dibangun oleh Agus Nantika. Ia tidak ingat pasti tanggal berapa usaha ini berdiri secara resmi, yang jelas Canvas Beton sudah ada sejak Juli 2023. Kini hampir 15 orang membersamai usahanya tersebut. Uniknya, tidak semua orang yang direkrut adalah pelukis. Baginya tidak harus andal ataupun pandai melukis, yang terpenting mau berkerja sama dan sudi belajar bersama.

“Di Canvas Beton tidak semuanya pelukis, tapi semuanya suka lukisan,” ujar Agus Nantika.

Agus Nantika menceritakan, tujuan dibentuknya Canvas Beton adalah untuk mewadahi anak-anak muda yang gemar melukis. Ia menggaet kawan-kawan, adik, dan kerabatnya yang memiliki talenta melukis. Meskipun tidak jago, baginya yang penting adalah mau belajar.

Semuanya berawal ketika Agus Nantika mendapatkan tawaran untuk melukis mural di sebuah tempat. Ia pun kemudian mengajak beberapa kawan dan kerabatnya untuk menyelesaikan mural tersebut. Akhirnya, tercetuslah ide untuk mendirikan Canvas Beton sebagai wadah berkesenian sekaligus membuka lapangan pekerjaan.

“Canvas Beton sebetulnya hanyalah wadah bagi mereka untuk mencurahkan ekpresi dalam berkesenian. Kemudian, kalau pun menjadi komersil, hasilnya juga akan dibagi secara adil untuk mereka. Jadi, mereka dibayar untuk menjalankan hobinya,” ungkapnya sembari menyeruput kopi yang masih panas itu.

Mural karya Canvas Beton | Foto: tatkala.co/Dede

Agus Nantika merupakan seniman muda yang berambisi besar, bisa dikatakan ia adalah salah satu mahasiswa yang kerap mencetuskan gebrakan-gebrakan di program studi Pendidikan Seni Rupa, UPMI Bali. Ia kerap terlibat menginiasi pameran-pameran seni bagi mahasiswa dan sempat melukis beberapa spot photogenic di kampus yang beralamat di Jalan Seroja itu.

Founder Canvas Beton itu merupakan lulusan SMK Negeri 1 Sukawati atau lebih dikenal dengan SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia). SMK Negeri 1 Sukawati alias SSRI sudah terkenal banyak mencetak seniman hebat. Barangkali Agus Nantika akan menjadi yang selanjutnya.

Agus Nantika mengaku gemar melukis sejak kecil, orang tuanya sangat mendukung ketika ia melukis. “Mereka sangat bangga kalau anaknya pandai melukis. Mungkin itu juga yang menjadi penopang saya untuk konsisten di seni lukis. Karena di keluarga memang tidak ada yang menjadi pelukis, baru berawal dari saya. Mungkin juga orang tua paham mana kekuatan terbesar yang dimiliki anaknya,” ujarnya.

Tatkala tidak ada project di Canvas Beton, sehari-harinya ia tetap melukis dan sesekali berpameran. Tetapi belakangan ini, ia memang sedang sibuk-sibuknya melukis mural bersama Canvas Beton. “Jadi ya tetep ngelukis, karena tidak bisa selain itu, hahaha,” sahutnya dengan nada bercanda.

Agus Nantika juga berencana ingin membuka les melukis. Jadi semangat berkeseniannya bisa tersebar dan berkelanjutan, sekaligus menjadi cara untuknya agar bisa bertahan hidup di seni lukis.

Mural yang Dibuat oleh Canvas Beton | Foto: dok. Agus Nantika

Mural yang dibuat oleh Canvas Beton pun tidak asal coret, “biasanya kita akan komunikasikan dulu dengan klien, apa yang kira-kira ingin dilukis, kemudian kami sesuaikan kembali dengan suasana dan karakter tempatnya. Kemudian akan kami buatkan desain, setelah disetujui baru akan kami garap. Jadi ya ga asal coret,” ungkap Agus Nantika.

Semua terorganisir dan diatur sedemikian rupa olehnya. Bujetnya ditentukan oleh luas media, jumlah pelukis, kerumitan, dan dana yang dimiliki oleh klien. Jadi fleksibel, tidak mematok harga terlalu kaku. Kalau medianya tidak terlalu luas, pelukisnya juga akan lebih sedikit. Atau ketika bujet klien itu minim, diakali dengan menyederhanakan desain.

“Yang paling utama sebenarnya adalah bujet. Kalau bujetnya aman, serumit apapun bisa dibuat. Klien hanya cukup terima beres. Semua equipment disiapkan oleh Canvas Beton, termasuk konsumsi,” jelasnya.

Agus Nantika juga menjelaskan tentang lukisan mural yang ada di kedai ini. ia mengerjakannya hampir empat hari bersama Canvas Beton.

“Ini adalah Wayang Kamasan dengan tema peradaban modern. Dari penggunaan warna tetap dari pakem tradisi, tetapi pose wayang dibuat layaknya manusia modern atau peradaban kini. Ada yang bermain biliar, membawa handphone, bermain DJ, dan lain sebagainya. Jadi ini lukisan tradisi, tapi temanya peradaban baru,” paparnya.

Mural yang Dibuat oleh Canvas Beton | Foto: dok. Agus Nantika

Ia juga mengatakan, awalnya ada keraguan dari sang owner kedai, apakah boleh melukis Wayang Kamasan di tempat hiburan seperti ini?

Agus Nantika pun berpendapat, “kalau saya berpikir, tergantung tempatnya di mana. Karena kalau berbicara soal seni, ada seni sakral dan profan. Sakralitas jika sudah kehilangan satu persen kesakralannya, maka sudah tidak bisa disebut sakral lagi. Jadi ini menurut saya termasuk pengembangan seni, serta difungsikan sebagai hiburan semata, bukan bermaksud merendahkan tradisi.”

“Sama saja seperti orang membeli barong di pasar seni, meskipun menyerupai barong sakral, tetapi itu bukanlah barong sakral. Kalau mau yang sakral, harusnya langsung ke undagi, karena perlu melewati banyak rangkaian upacara dan penyucian. Jadi masalah boleh atau tidak, itu balik lagi selera dan cara memandang seni itu sendiri,” ungkapnya.

Canvas Beton adalah usaha jasa yang bersifat kekeluargaan, penghasilan dari satu project akan dibagi adil sesuai dengan porsi kerja dan kinerja masing-masing pelukis. Canvas Beton juga tidak pandang bulu dengan klien, apapun konsepnya, berapapun bujetnya pasti akan bisa dikomunikasikan sampai menemukan hasil yang terbaik. Selama setahun berjalan, mereka sudah melukis banyak tembok, mulai dari tembok sekolah, tembok kedai makan, tempat hiburan, dan lain sebagainya.

Jika Anda tertarik mempercantik tembok rumah, kantor, ataupun tempat usaha, segera hubungi Canvas Beton, akun Instagram mereka @canvasbeton. Mereka akan selalu siap mencorat-coret tembok Anda. Pastinya, dengan harga yang menyame. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Garas Prahmantara dan Kawan-kawan Melukis Tempat Sampah di Denpasar Festival 2024, Jadi Live Mural yang Mengesankan
Khoirurisma Agustin: Ia Atlet Wushu, Sekolah Tata Busana, Ia Muslim, Kuliah Bahasa Bali
Putu Agus Gotawa: Seniman Muda yang Memiliki Mimpi Besar

Tags: MuralSeni RupaUniversitas PGRI Mahadewa IndonesiaUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital

Next Post

Pasar Tradisional dengan Segala Kebaikannya

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Pasar Tradisional dengan Segala Kebaikannya

Pasar Tradisional dengan Segala Kebaikannya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co