4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 11, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

DI tengah suka cita kita memanfaatkan dunia digital, ada suatu ancaman yang tak kasat mata, semacam virus, tengah mengintai generasi muda kita. Adalah brain rot, yang meskipun terdengar tidak resmi, namun menggambarkan kondisi yang sangat serius, yaitu penurunan fungsi kognitif dan mental akibat konsumsi konten digital yang dangkal dan berlebihan.

 Ironisnya, di saat bangsa ini bersiap memanen bonus demografi, dan digadang-gadang menuju generasi emas, kita justru menghadapi risiko besar melemahnya aset terpenting kita yaitu sumber daya manusia muda. Yang ingin saya sampaikan brain rot bukan hanya musuh negara, tetapi juga ancaman nyata bagi kita semua sebagai anggota inti terkecil masyarakat yaitu keluarga.

Brain rot, dalam pengertian yang sederhana, adalah kerusakan kognitif akibat asupan informasi yang berlebihan, dangkal, dan tidak bermanfaat. Maka disebut juga suatu pembusukan otak. Sebenarnya awalnya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan efek negatif dari menonton televisi yang terlalu banyak. Namun, seiring dengan kemajuan teknologi, kemudian diluaskan mencakup media digital, terutama media sosial.

Kita semua tahu bahwa media sosial, kontennya memang dirancang untuk memanjakan perhatian sesaat seperti:  video pendek, meme, dan drama viral yang kemudian menguasai pikiran anak-anak kita. Pada anak dengan usia lebih muda akan terjadi juga gangguan sosial dan emosional, di mana anak menjadi lebih mudah tantrum, menangis, dan rewel. Pasti banyak dari para pembaca yang budiman melihat fenomena ini di tengah masyarakat.

Secara kimia biologis, ketika scrolling di media sosial kegiatan ini memicu pelepasan dopamin, yang dikenal sebagai hormon bahagia, di mana otak anak akan merasa senang dan terhibur. Namun, ini adalah kebahagiaan semu. Bahayanya, dalam jangka panjang, si anak lebih memilih perangkat digital dibandingkan interaksi nyata dengan keluarga. Pasti banyak yang merasa bahwa kini interaksi sosial yang sehat sudah mulai tergantikan oleh interaksi digital yang sebenarnya dangkal.

Musuh Negara: Melemahkan SDM Muda

Brain rot bukan hanya soal kecerdasan yang melemah. Dampaknya lebih luas dan mendalam. Anak-anak dengan paparan konten dangkal yang berlebihan sering kali kesulitan untuk fokus. Informasi yang kompleks sulit mereka proses karena otaknya terbiasa dengan hal-hal instan. Dengan demikian mereka jelas akan mengalami penurunan kemampuan belajar. Efeknya jelas, otak anak-anak kita menjadi tumpul dalam berpikir kritis, kreativitasnya juga menurun, dan kemampuan belajar merosot drastis, prestasi gak ada juga.

Negara kita termasuk kaya sumber daya manusia, alias penduduknya banyak.  Sebenarnya bonus demografi semacam ini adalah peluang emas bagi bangsa kita. Namun, tanpa SDM berkualitas, peluang ini bisa menjadi bencana. Brain rot melemahkan daya saing generasi muda, membuat mereka lebih rentan terhadap manipulasi informasi, dan kurang inovatif.

 Bayangkan saja, Indonesia melimpah dengan suatu generasi yang lemah, yang tidak mampu menganalisis masalah kompleks, mustahil mengharapkan mereka mampu menciptakan solusi inovatif. Sebaliknya, mereka perlu dipenuhi segala macam kebutuhan dan konsumsinya namun tidak mampu untuk menjadi produktif, jadi mereka hanya akan menjadi beban bagi perekonomian dan sosial masyarakat.

Generasi muda yang kecanduan konten dangkal mana mungkin mampu membawa Indonesia menjadi negara maju. Padahal sudah menjadi keprihatinan umum bahwa negara kita sedang tidak baik-baik saj. Jadi dengan generasi macam ini ke depan negara kita bisa terancam ambyar.

Pemerintah dan masyarakat, yaitu kita sendiri, perlu sadar bahwa brain rot adalah musuh yang harus dilawan secara kolektif dan serempak. Ini bukan hanya persoalan individu, tetapi telah menjadi masalah struktural yang berdampak langsung pada masa depan bangsa.

Merusak Ikatan Emosional Keluarga

Di depan sudah disampaikan bahwa brain rot juga merupakan musuh utama keluarga. Ketika anak-anak lebih sibuk dengan perangkat digital mereka, hubungan dengan orang tua menjadi renggang. Interaksi yang seharusnya menjadi momen penting dalam pembentukan karakter anak, kini tergantikan oleh video TikTok atau gim daring.

Orang tua sering kali tidak menyadari bahwa mereka sedang “kalah bersaing” dengan media digital. Bisa jadi menyadari namun membiarkan masalah ini hari demi hari, tanpa terasa menjadi bulan demi bulan, dan tahun.

 Anak yang terlalu sering terpapar media digital cenderung kehilangan kemampuan untuk membangun hubungan emosional yang sehat. Akibatnya ada yang putus dalam hubungan orang tua dan anak. Usaha pendidikan dalam keluarga menjadi gagal dan tentu ini adalah ancaman serius bagi stabilitas keluarga, dan ujungnya ke negara juga.

Melawan Brain Rot Tugas Kita Bersama

Mengatasi brain rot bukan perkara mudah. Dibutuhkan pendekatan holistik yang melibatkan keluarga, sekolah, dan pemerintah. Dari banyak saran ahli, beberapa langkah konkret harus diambil. Misalnya orang tua harus mengawasi waktu layar anak-anak mereka. Batasi aktivitas pasif seperti scrolling media sosial dan ganti dengan kegiatan yang lebih bermakna.

Anak-anak harus diterapkan adanya rutinitas sehat. Dengan pola tidur, makan, dan olahraga yang teratur, akan membantu otak anak pulih dari paparan digital yang berlebihan. Rutinitas ini juga bisa meningkatkan kemampuan kognitif dan emosional anak. Kita juga harus mendorong aktivitas kreatif seperti kembali membaca buku, menulis cerita, atau mempelajari alat musik; di mana hal ini merupakan kegiatan yang dikenal mampu merangsang otak dan meningkatkan kreativitas.

Tak kalah penting adalah detoks digital. Mau tak mau, orang tua harus menjadwalkan waktu bagi anak-anak untuk bebas perangkat digital secara berkala. Ini memberikan kesempatan bagi otak anak-anak untuk beristirahat sehingga bisa memproses informasi secara lebih baik. Di sini pentingnya edukasi orang tua dan guru, di mana keluarga dan sekolah harus menjadi garda terdepan dalam melindungi anak-anak dari bahaya brain rot.

 Para guru juga perlu memahami bagaimana mengarahkan anak menggunakan teknologi secara bijak. Jadi sebaiknya guru jangan dibebani dengan tugas administratif yang banyak sehingga bisa fokus dalam pengajaran dan pendidikan. Faktanya beban itu membuat sering jamkos dan malahan menyuruh anak mengerjakan tugas mandiri dengan macam-macam fitur digital.

Investasi untuk Masa Depan

Brain rot adalah ancaman nyata yang harus segera kita tangani. Jika dibiarkan, generasi muda kita tidak akan mampu menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Di sisi lain, keluarga sebagai unit terkecil masyarakat akan kehilangan fungsinya sebagai tempat pembentukan karakter dan nilai-nilai moral.

 Mengatasi brain rot bukan hanya sok-sokan tentang membatasi waktu layar. No debat, ini adalah perjuangan nyata untuk melindungi masa depan bangsa dan memperkuat ikatan keluarga sebgai pondasi negara. Orang tua, guru, pemerintah, dan masyarakat harus bersatu padu dalam melawan fenomena ini.

Sebagai penutup, sekali lagi mari kita renungkan. Teknologi adalah buatan manusia yang seharusnya menjadi alat yang mendukung kehidupan kita lebih baik, bukan sebagai penghancur generasi muda. Brain rot adalah musuh bersama yang harus kita lawan dengan kesadaran, tindakan, dan cinta kepada anak-anak kita.

Masa depan mereka adalah masa depan bangsa ini, masa depan kita juga di masa tua. Jangan biarkan mereka tumbang oleh virus digital yang kita ciptakan sendiri. Kita terlanjur membuat virus, mari segera buat vaksinnya. Tabik.  [T]

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025
Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma
Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda
TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi
Memaknai Foto sebagai Narasi Identitas, Sosial, dan Budaya
ASMR: Hiburan, Manipulasi, dan Refleksi atas Kehidupan Modern
Merandai Cakrawala Sinema: Membangun Karakter Generasi Milenial hingga Alpha

                                                                    

Tags: brain rotmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

Next Post

Agus Nantika, Mural, dan Canvas Beton: Tidak Asal Coret, Tapi Kalau Ada Panggilan, Ia Siap Mencoret

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Agus Nantika, Mural, dan Canvas Beton: Tidak Asal Coret, Tapi Kalau Ada Panggilan, Ia Siap Mencoret

Agus Nantika, Mural, dan Canvas Beton: Tidak Asal Coret, Tapi Kalau Ada Panggilan, Ia Siap Mencoret

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co