14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 11, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

DI tengah suka cita kita memanfaatkan dunia digital, ada suatu ancaman yang tak kasat mata, semacam virus, tengah mengintai generasi muda kita. Adalah brain rot, yang meskipun terdengar tidak resmi, namun menggambarkan kondisi yang sangat serius, yaitu penurunan fungsi kognitif dan mental akibat konsumsi konten digital yang dangkal dan berlebihan.

 Ironisnya, di saat bangsa ini bersiap memanen bonus demografi, dan digadang-gadang menuju generasi emas, kita justru menghadapi risiko besar melemahnya aset terpenting kita yaitu sumber daya manusia muda. Yang ingin saya sampaikan brain rot bukan hanya musuh negara, tetapi juga ancaman nyata bagi kita semua sebagai anggota inti terkecil masyarakat yaitu keluarga.

Brain rot, dalam pengertian yang sederhana, adalah kerusakan kognitif akibat asupan informasi yang berlebihan, dangkal, dan tidak bermanfaat. Maka disebut juga suatu pembusukan otak. Sebenarnya awalnya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan efek negatif dari menonton televisi yang terlalu banyak. Namun, seiring dengan kemajuan teknologi, kemudian diluaskan mencakup media digital, terutama media sosial.

Kita semua tahu bahwa media sosial, kontennya memang dirancang untuk memanjakan perhatian sesaat seperti:  video pendek, meme, dan drama viral yang kemudian menguasai pikiran anak-anak kita. Pada anak dengan usia lebih muda akan terjadi juga gangguan sosial dan emosional, di mana anak menjadi lebih mudah tantrum, menangis, dan rewel. Pasti banyak dari para pembaca yang budiman melihat fenomena ini di tengah masyarakat.

Secara kimia biologis, ketika scrolling di media sosial kegiatan ini memicu pelepasan dopamin, yang dikenal sebagai hormon bahagia, di mana otak anak akan merasa senang dan terhibur. Namun, ini adalah kebahagiaan semu. Bahayanya, dalam jangka panjang, si anak lebih memilih perangkat digital dibandingkan interaksi nyata dengan keluarga. Pasti banyak yang merasa bahwa kini interaksi sosial yang sehat sudah mulai tergantikan oleh interaksi digital yang sebenarnya dangkal.

Musuh Negara: Melemahkan SDM Muda

Brain rot bukan hanya soal kecerdasan yang melemah. Dampaknya lebih luas dan mendalam. Anak-anak dengan paparan konten dangkal yang berlebihan sering kali kesulitan untuk fokus. Informasi yang kompleks sulit mereka proses karena otaknya terbiasa dengan hal-hal instan. Dengan demikian mereka jelas akan mengalami penurunan kemampuan belajar. Efeknya jelas, otak anak-anak kita menjadi tumpul dalam berpikir kritis, kreativitasnya juga menurun, dan kemampuan belajar merosot drastis, prestasi gak ada juga.

Negara kita termasuk kaya sumber daya manusia, alias penduduknya banyak.  Sebenarnya bonus demografi semacam ini adalah peluang emas bagi bangsa kita. Namun, tanpa SDM berkualitas, peluang ini bisa menjadi bencana. Brain rot melemahkan daya saing generasi muda, membuat mereka lebih rentan terhadap manipulasi informasi, dan kurang inovatif.

 Bayangkan saja, Indonesia melimpah dengan suatu generasi yang lemah, yang tidak mampu menganalisis masalah kompleks, mustahil mengharapkan mereka mampu menciptakan solusi inovatif. Sebaliknya, mereka perlu dipenuhi segala macam kebutuhan dan konsumsinya namun tidak mampu untuk menjadi produktif, jadi mereka hanya akan menjadi beban bagi perekonomian dan sosial masyarakat.

Generasi muda yang kecanduan konten dangkal mana mungkin mampu membawa Indonesia menjadi negara maju. Padahal sudah menjadi keprihatinan umum bahwa negara kita sedang tidak baik-baik saj. Jadi dengan generasi macam ini ke depan negara kita bisa terancam ambyar.

Pemerintah dan masyarakat, yaitu kita sendiri, perlu sadar bahwa brain rot adalah musuh yang harus dilawan secara kolektif dan serempak. Ini bukan hanya persoalan individu, tetapi telah menjadi masalah struktural yang berdampak langsung pada masa depan bangsa.

Merusak Ikatan Emosional Keluarga

Di depan sudah disampaikan bahwa brain rot juga merupakan musuh utama keluarga. Ketika anak-anak lebih sibuk dengan perangkat digital mereka, hubungan dengan orang tua menjadi renggang. Interaksi yang seharusnya menjadi momen penting dalam pembentukan karakter anak, kini tergantikan oleh video TikTok atau gim daring.

Orang tua sering kali tidak menyadari bahwa mereka sedang “kalah bersaing” dengan media digital. Bisa jadi menyadari namun membiarkan masalah ini hari demi hari, tanpa terasa menjadi bulan demi bulan, dan tahun.

 Anak yang terlalu sering terpapar media digital cenderung kehilangan kemampuan untuk membangun hubungan emosional yang sehat. Akibatnya ada yang putus dalam hubungan orang tua dan anak. Usaha pendidikan dalam keluarga menjadi gagal dan tentu ini adalah ancaman serius bagi stabilitas keluarga, dan ujungnya ke negara juga.

Melawan Brain Rot Tugas Kita Bersama

Mengatasi brain rot bukan perkara mudah. Dibutuhkan pendekatan holistik yang melibatkan keluarga, sekolah, dan pemerintah. Dari banyak saran ahli, beberapa langkah konkret harus diambil. Misalnya orang tua harus mengawasi waktu layar anak-anak mereka. Batasi aktivitas pasif seperti scrolling media sosial dan ganti dengan kegiatan yang lebih bermakna.

Anak-anak harus diterapkan adanya rutinitas sehat. Dengan pola tidur, makan, dan olahraga yang teratur, akan membantu otak anak pulih dari paparan digital yang berlebihan. Rutinitas ini juga bisa meningkatkan kemampuan kognitif dan emosional anak. Kita juga harus mendorong aktivitas kreatif seperti kembali membaca buku, menulis cerita, atau mempelajari alat musik; di mana hal ini merupakan kegiatan yang dikenal mampu merangsang otak dan meningkatkan kreativitas.

Tak kalah penting adalah detoks digital. Mau tak mau, orang tua harus menjadwalkan waktu bagi anak-anak untuk bebas perangkat digital secara berkala. Ini memberikan kesempatan bagi otak anak-anak untuk beristirahat sehingga bisa memproses informasi secara lebih baik. Di sini pentingnya edukasi orang tua dan guru, di mana keluarga dan sekolah harus menjadi garda terdepan dalam melindungi anak-anak dari bahaya brain rot.

 Para guru juga perlu memahami bagaimana mengarahkan anak menggunakan teknologi secara bijak. Jadi sebaiknya guru jangan dibebani dengan tugas administratif yang banyak sehingga bisa fokus dalam pengajaran dan pendidikan. Faktanya beban itu membuat sering jamkos dan malahan menyuruh anak mengerjakan tugas mandiri dengan macam-macam fitur digital.

Investasi untuk Masa Depan

Brain rot adalah ancaman nyata yang harus segera kita tangani. Jika dibiarkan, generasi muda kita tidak akan mampu menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Di sisi lain, keluarga sebagai unit terkecil masyarakat akan kehilangan fungsinya sebagai tempat pembentukan karakter dan nilai-nilai moral.

 Mengatasi brain rot bukan hanya sok-sokan tentang membatasi waktu layar. No debat, ini adalah perjuangan nyata untuk melindungi masa depan bangsa dan memperkuat ikatan keluarga sebgai pondasi negara. Orang tua, guru, pemerintah, dan masyarakat harus bersatu padu dalam melawan fenomena ini.

Sebagai penutup, sekali lagi mari kita renungkan. Teknologi adalah buatan manusia yang seharusnya menjadi alat yang mendukung kehidupan kita lebih baik, bukan sebagai penghancur generasi muda. Brain rot adalah musuh bersama yang harus kita lawan dengan kesadaran, tindakan, dan cinta kepada anak-anak kita.

Masa depan mereka adalah masa depan bangsa ini, masa depan kita juga di masa tua. Jangan biarkan mereka tumbang oleh virus digital yang kita ciptakan sendiri. Kita terlanjur membuat virus, mari segera buat vaksinnya. Tabik.  [T]

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025
Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma
Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda
TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi
Memaknai Foto sebagai Narasi Identitas, Sosial, dan Budaya
ASMR: Hiburan, Manipulasi, dan Refleksi atas Kehidupan Modern
Merandai Cakrawala Sinema: Membangun Karakter Generasi Milenial hingga Alpha

                                                                    

Tags: brain rotmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

Next Post

Agus Nantika, Mural, dan Canvas Beton: Tidak Asal Coret, Tapi Kalau Ada Panggilan, Ia Siap Mencoret

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Agus Nantika, Mural, dan Canvas Beton: Tidak Asal Coret, Tapi Kalau Ada Panggilan, Ia Siap Mencoret

Agus Nantika, Mural, dan Canvas Beton: Tidak Asal Coret, Tapi Kalau Ada Panggilan, Ia Siap Mencoret

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co