24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Garas Prahmantara dan Kawan-kawan Melukis Tempat Sampah di Denpasar Festival 2024, Jadi Live Mural yang Mengesankan

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 24, 2024
in Khas
Garas Prahmantara dan Kawan-kawan Melukis Tempat Sampah di Denpasar Festival 2024, Jadi Live Mural yang Mengesankan

Garas dan kawan-kawannya saat melukis mural di Denpasar Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

BERKALENG-kaleng cat, bertangkai-tangkai kuas, serta beberapa gelas-gelas plastik setia menemani empat pemuda itu. Mereka sudah berjam-jam berada di tengah lapangan Puputan Badung untuk menggoreskan kreativitasnya. Mereka adalah Garas Prahmantara dan kawan-kawannya.

Jika Anda sempat berkunjung ke Denpasar Festival 2024, khususnya di areal Panggung Musik dan Panggung Budaya di Lapangan Puputan Badung, Denpasar. Anda akan menemukan tempat sampah berupa box besar bergambar mural di tiga titik. Mural tersebut dikerjakan oleh Garas dan kawan-kawannya, tepat saat hari pembukaan Denpasar Festival 2024.

Hari itu, Minggu, 22 Desember 2024, Garas dan kawan-kawannya tampak sibuk melukis mural, dari satu kotak ke kotak yang lain. Kala itu, saya tengah berkunjung ke Denpasar Festival 2024, saat festival tahunan kota Denpasar itu dibuka. Ketika berjalan-jalan di seputar areal Lapangan Puputan Badung, saya melihat empat orang pemuda tengah sibuk melukis sebuah kotak besar. Awalnya, saya mengira itu adalah sebuah photobox, kemudian terlintas dalam pikiran saya kalau mereka sedang melakukan live mural, namun kegiatannya tidak tercantum di agenda resmi Denpasar Festival 2024.

Ternyata, itu bukanlah sebuah photobox ataupun live mural, melainkan lukisan yang sedang dikejar waktu. Sang konseptor mural, Garas Prahmantara mengatakan, “Awalnya ini mau jadi surprise gitu. Kalau dari kemarin bisa dikerjakan, pagi hari pasti sudah selesai, agar saat hari pembukaan bisa dilihat oleh para pengunjung. Tapi karena situasi hujan yang gak karuan, mau gak mau malah jadi live mural. Jadinya bonus buat para pengunjung, bisa menyaksikan live mural gratis, hahaha!” Ia mengucapkan itu dengan sedikit tertawa.

Tempat sampah bergambar mural di Denpasar Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

Kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan masih sukar untuk dibendung, apalagi saat ada perhelatan festival, pasti sampah-sampah akan berceceran di mana-mana. Salah satu faktornya adalah karena tidak ada tempat sampah yang memadai, atau bahkan terlampau jauh jaraknya dari lokasi acara.

Problematika tersebut tentu menjadi perhatian khusus bagi panitia penyelenggara Denpasar Festival 2024. Menyikapi krisis sampah yang tengah masif menjadi perbincangan belakangan ini, perhelatan Denpasar Festival yang ke-17 kali ini punya cara unik untuk mengelola sampah, yaitu dengan menyediakan tempat sampah besar di tiga titik seputar areal festival, yang tentunya amat mudah dijangkau oleh para pengunjung.

Kotak-kotak besar itu tidak hanya sekadar tempat sampah biasa, tetapi juga menjadi salah satu spot yang menarik untuk dilirik, karena berisi mural yang mencuri perhatian. Tak sedikit pula para pengunjung yang mengabadikan diri dengan berswafoto di depan tempat sampah itu.

Keberadaan tempat sampah itu menjadi menarik karena terdapat mural berupa kartun bertemakan sampah dan peduli lingkungan. Selain menjadi suatu karya seni yang bagus, petugas kebersihan juga tidak terlalu penat berkeliling membersihkan sampah, karena sudah terkumpul dalam satu titik. Para pengunjung juga tak perlu khawatir jika tempat sampahnya penuh, karena ada tiga box besar yang siap menampung segala sampah mereka.

Tentu ini menjadi salah satu solusi agar para pengunjung lebih tertib membuang sampah pada tempatnya. Mengingat tempat sampah yang disediakan amat begitu besar, tidak mungkin jika tidak bisa dilihat oleh pandangan mata.

Garas Prahmantara saat melukis mural di Denpasar Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

Garas Prahmantara menceritakan, “Proses pengerjaan mural ini termasuk mendadak, H-1 saya baru diinfo untuk mural di sini. Jadi saya langsung cari beberapa teman untuk membantu, kemudian kita langsung pikirkan konsepnya di lokasi setelah melihat medianya. Ternyata medianya begitu unik, tempat sampah. Bagi saya ini sangat menarik, dan ini pertama kalinya saya melukis tempat sampah!”

Pria lulusan Arsitektur di Universitas Warmadewa ini juga menjelaskan kendala utama dalam pengerjaan mural ini adalah hujan yang tidak menentu. Menurutnya, jika dikerjakan dari H-1 seharusnya mural ini bisa jadi lebih cepat, tetapi karena cuaca yang tidak bersahabat, jadi terpaksa terselesaikan lebih lama, bahkan sampai acara telah berlangsung.

“Ini juga hitam putih karena waktunya terbatas, kalau dapat waktu lebih, ini bisa dibuat berwarna,” ujar Garas sembari menggores kuasnya di tempat sampah itu.

“Satu box ini menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam, jadi hari ini harus segera kami selesaikan semuanya. Sayangnya karena kemarin terkendala hujan, jadinya agak lebih lambat pengerjaannya. Mau gak mau harus ditunda dulu karena hujan, untungnya hari ini hujan hanya sebentar di pagi hari, jadi semoga bisa selesai lebih cepat,” ucapnya dengan penuh harap.

Dalam satu hari, Garas dan kawan-kawannya berhasil menyelesaikan tiga box dengan total melukis 12 sisi. Mereka mengerjakannya sampai larut malam, bahkan sampai hari berganti. Mereka juga mengalami insiden yang tidak terduga, yaitu ketumpahan cat saat melukis. Tetapi, Mereka tak kehabisan akal begitu saja, dengan daya kreativitasnya, mereka mampu mengatasi semua itu dengan sigap. Tumpahan cat itu bisa menjadi seni yang indah di tangan mereka.

Garas menjelaskan, inti dari konsep mural yang dibuatnya adalah bagaimana menarik orang agar mau membuang sampah dengan tertib. Selain itu, ia juga merasa bangga bisa terlibat dalam Denpasar Festival tahun ini. “Walaupun banyak hambatan yang dilalui, jujur saya merasa senang dan bangga bisa terlibat di festival sebesar ini, sekaligus menjadi ajang untuk memperkenalkan karya ke masyarakat,” ujar Garas.

 

Tempat sampah bergambar mural di Denpasar Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

Denpasar Festival memang selalu menjadi pesta rakyat yang ramah keluarga. Terutama di hari libur, banyak para pengunjung yang datang untuk menikmati akhir pekan bersama teman, pacar, maupun keluarga. Mereka memanfaatkan waktu untuk bersenang-senang di perhelatan tahunan kebanggaan Denpasar itu. Apalagi di penghujung bulan Desember dipenuhi dengan banyak liburan. Mulai dari libur pasca rapotan, libur natal, hingga libur tahun baru.

Oleh karena itu, tentu saja volume pengunjung ke Denpasar Festival 2024 bisa dipastikan akan padat setiap harinya. Meskipun curah hujan terkadang tidak bersahabat, tak lantas menyurutkan semangat mereka untuk menikmati festival di akhir tahun. Selain itu, akibat dari ramainya pengunjung yang datang, tentu volume sampah yang dihasilkan perhari dari festival tersebut juga akan melonjak.

Pastinya hal tersebut telah diprediksi oleh panitia penyelenggara. Salah satu upaya pengelolaannya adalah dengan menyiapkan tiga box sampah besar di areal Lapangan Puputan Badung. Selain itu, tempat sampah normal yang lainnya juga disiapkan di berbagai sudut festival, mulai dari Kawasan Catur Muka, seputar Jalan Veteran, hingga seputar kawasan Gajah Mada Heritage.

Bagi Anda yang ingin berkunjung, Anda masih bisa menyambangi Denpasar Festival 2024 sampai tanggal 25 Desember nanti. Akan ada berbagai pertunjukkan budaya, pertunjukan musik, UMKM lokal, kuliner, fesyen, dan masih banyak lagi. Tetapi yang paling penting dari kunjungan Anda adalah, ingat jangan nyampah ya! [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Denpasar Festival: Semangat Warga di Antara Hujan dan Fenomena Solstis
Rentet, Rejang Amustikarana dan Damar Kurung | Sajian Ebano Bali di Denpasar Festival 2021
Gegulakan Gusta Dalam Membaca Layangan Ciptaannya | Diskusi Layang-layang Denpasar Festival 2021
Pameran Buku Ala Kadar – Catatan Kecil untuk Denpasar Festival 2016

Tags: denpasar festivalMuralSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kantin Sela Pohon di Kampus Unnes Semarang, Sebuah Space untuk Bernapas dan Berpikir

Next Post

Karya Ngenteg Linggih Pura Geger Dalem Pemutih     

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Karya Ngenteg Linggih Pura Geger Dalem Pemutih     

Karya Ngenteg Linggih Pura Geger Dalem Pemutih     

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co