14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Garas Prahmantara dan Kawan-kawan Melukis Tempat Sampah di Denpasar Festival 2024, Jadi Live Mural yang Mengesankan

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 24, 2024
in Khas
Garas Prahmantara dan Kawan-kawan Melukis Tempat Sampah di Denpasar Festival 2024, Jadi Live Mural yang Mengesankan

Garas dan kawan-kawannya saat melukis mural di Denpasar Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

BERKALENG-kaleng cat, bertangkai-tangkai kuas, serta beberapa gelas-gelas plastik setia menemani empat pemuda itu. Mereka sudah berjam-jam berada di tengah lapangan Puputan Badung untuk menggoreskan kreativitasnya. Mereka adalah Garas Prahmantara dan kawan-kawannya.

Jika Anda sempat berkunjung ke Denpasar Festival 2024, khususnya di areal Panggung Musik dan Panggung Budaya di Lapangan Puputan Badung, Denpasar. Anda akan menemukan tempat sampah berupa box besar bergambar mural di tiga titik. Mural tersebut dikerjakan oleh Garas dan kawan-kawannya, tepat saat hari pembukaan Denpasar Festival 2024.

Hari itu, Minggu, 22 Desember 2024, Garas dan kawan-kawannya tampak sibuk melukis mural, dari satu kotak ke kotak yang lain. Kala itu, saya tengah berkunjung ke Denpasar Festival 2024, saat festival tahunan kota Denpasar itu dibuka. Ketika berjalan-jalan di seputar areal Lapangan Puputan Badung, saya melihat empat orang pemuda tengah sibuk melukis sebuah kotak besar. Awalnya, saya mengira itu adalah sebuah photobox, kemudian terlintas dalam pikiran saya kalau mereka sedang melakukan live mural, namun kegiatannya tidak tercantum di agenda resmi Denpasar Festival 2024.

Ternyata, itu bukanlah sebuah photobox ataupun live mural, melainkan lukisan yang sedang dikejar waktu. Sang konseptor mural, Garas Prahmantara mengatakan, “Awalnya ini mau jadi surprise gitu. Kalau dari kemarin bisa dikerjakan, pagi hari pasti sudah selesai, agar saat hari pembukaan bisa dilihat oleh para pengunjung. Tapi karena situasi hujan yang gak karuan, mau gak mau malah jadi live mural. Jadinya bonus buat para pengunjung, bisa menyaksikan live mural gratis, hahaha!” Ia mengucapkan itu dengan sedikit tertawa.

Tempat sampah bergambar mural di Denpasar Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

Kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan masih sukar untuk dibendung, apalagi saat ada perhelatan festival, pasti sampah-sampah akan berceceran di mana-mana. Salah satu faktornya adalah karena tidak ada tempat sampah yang memadai, atau bahkan terlampau jauh jaraknya dari lokasi acara.

Problematika tersebut tentu menjadi perhatian khusus bagi panitia penyelenggara Denpasar Festival 2024. Menyikapi krisis sampah yang tengah masif menjadi perbincangan belakangan ini, perhelatan Denpasar Festival yang ke-17 kali ini punya cara unik untuk mengelola sampah, yaitu dengan menyediakan tempat sampah besar di tiga titik seputar areal festival, yang tentunya amat mudah dijangkau oleh para pengunjung.

Kotak-kotak besar itu tidak hanya sekadar tempat sampah biasa, tetapi juga menjadi salah satu spot yang menarik untuk dilirik, karena berisi mural yang mencuri perhatian. Tak sedikit pula para pengunjung yang mengabadikan diri dengan berswafoto di depan tempat sampah itu.

Keberadaan tempat sampah itu menjadi menarik karena terdapat mural berupa kartun bertemakan sampah dan peduli lingkungan. Selain menjadi suatu karya seni yang bagus, petugas kebersihan juga tidak terlalu penat berkeliling membersihkan sampah, karena sudah terkumpul dalam satu titik. Para pengunjung juga tak perlu khawatir jika tempat sampahnya penuh, karena ada tiga box besar yang siap menampung segala sampah mereka.

Tentu ini menjadi salah satu solusi agar para pengunjung lebih tertib membuang sampah pada tempatnya. Mengingat tempat sampah yang disediakan amat begitu besar, tidak mungkin jika tidak bisa dilihat oleh pandangan mata.

Garas Prahmantara saat melukis mural di Denpasar Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

Garas Prahmantara menceritakan, “Proses pengerjaan mural ini termasuk mendadak, H-1 saya baru diinfo untuk mural di sini. Jadi saya langsung cari beberapa teman untuk membantu, kemudian kita langsung pikirkan konsepnya di lokasi setelah melihat medianya. Ternyata medianya begitu unik, tempat sampah. Bagi saya ini sangat menarik, dan ini pertama kalinya saya melukis tempat sampah!”

Pria lulusan Arsitektur di Universitas Warmadewa ini juga menjelaskan kendala utama dalam pengerjaan mural ini adalah hujan yang tidak menentu. Menurutnya, jika dikerjakan dari H-1 seharusnya mural ini bisa jadi lebih cepat, tetapi karena cuaca yang tidak bersahabat, jadi terpaksa terselesaikan lebih lama, bahkan sampai acara telah berlangsung.

“Ini juga hitam putih karena waktunya terbatas, kalau dapat waktu lebih, ini bisa dibuat berwarna,” ujar Garas sembari menggores kuasnya di tempat sampah itu.

“Satu box ini menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam, jadi hari ini harus segera kami selesaikan semuanya. Sayangnya karena kemarin terkendala hujan, jadinya agak lebih lambat pengerjaannya. Mau gak mau harus ditunda dulu karena hujan, untungnya hari ini hujan hanya sebentar di pagi hari, jadi semoga bisa selesai lebih cepat,” ucapnya dengan penuh harap.

Dalam satu hari, Garas dan kawan-kawannya berhasil menyelesaikan tiga box dengan total melukis 12 sisi. Mereka mengerjakannya sampai larut malam, bahkan sampai hari berganti. Mereka juga mengalami insiden yang tidak terduga, yaitu ketumpahan cat saat melukis. Tetapi, Mereka tak kehabisan akal begitu saja, dengan daya kreativitasnya, mereka mampu mengatasi semua itu dengan sigap. Tumpahan cat itu bisa menjadi seni yang indah di tangan mereka.

Garas menjelaskan, inti dari konsep mural yang dibuatnya adalah bagaimana menarik orang agar mau membuang sampah dengan tertib. Selain itu, ia juga merasa bangga bisa terlibat dalam Denpasar Festival tahun ini. “Walaupun banyak hambatan yang dilalui, jujur saya merasa senang dan bangga bisa terlibat di festival sebesar ini, sekaligus menjadi ajang untuk memperkenalkan karya ke masyarakat,” ujar Garas.

 

Tempat sampah bergambar mural di Denpasar Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

Denpasar Festival memang selalu menjadi pesta rakyat yang ramah keluarga. Terutama di hari libur, banyak para pengunjung yang datang untuk menikmati akhir pekan bersama teman, pacar, maupun keluarga. Mereka memanfaatkan waktu untuk bersenang-senang di perhelatan tahunan kebanggaan Denpasar itu. Apalagi di penghujung bulan Desember dipenuhi dengan banyak liburan. Mulai dari libur pasca rapotan, libur natal, hingga libur tahun baru.

Oleh karena itu, tentu saja volume pengunjung ke Denpasar Festival 2024 bisa dipastikan akan padat setiap harinya. Meskipun curah hujan terkadang tidak bersahabat, tak lantas menyurutkan semangat mereka untuk menikmati festival di akhir tahun. Selain itu, akibat dari ramainya pengunjung yang datang, tentu volume sampah yang dihasilkan perhari dari festival tersebut juga akan melonjak.

Pastinya hal tersebut telah diprediksi oleh panitia penyelenggara. Salah satu upaya pengelolaannya adalah dengan menyiapkan tiga box sampah besar di areal Lapangan Puputan Badung. Selain itu, tempat sampah normal yang lainnya juga disiapkan di berbagai sudut festival, mulai dari Kawasan Catur Muka, seputar Jalan Veteran, hingga seputar kawasan Gajah Mada Heritage.

Bagi Anda yang ingin berkunjung, Anda masih bisa menyambangi Denpasar Festival 2024 sampai tanggal 25 Desember nanti. Akan ada berbagai pertunjukkan budaya, pertunjukan musik, UMKM lokal, kuliner, fesyen, dan masih banyak lagi. Tetapi yang paling penting dari kunjungan Anda adalah, ingat jangan nyampah ya! [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Denpasar Festival: Semangat Warga di Antara Hujan dan Fenomena Solstis
Rentet, Rejang Amustikarana dan Damar Kurung | Sajian Ebano Bali di Denpasar Festival 2021
Gegulakan Gusta Dalam Membaca Layangan Ciptaannya | Diskusi Layang-layang Denpasar Festival 2021
Pameran Buku Ala Kadar – Catatan Kecil untuk Denpasar Festival 2016

Tags: denpasar festivalMuralSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kantin Sela Pohon di Kampus Unnes Semarang, Sebuah Space untuk Bernapas dan Berpikir

Next Post

Karya Ngenteg Linggih Pura Geger Dalem Pemutih     

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails
Next Post
Karya Ngenteg Linggih Pura Geger Dalem Pemutih     

Karya Ngenteg Linggih Pura Geger Dalem Pemutih     

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co