3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Buku Ala Kadar – Catatan Kecil untuk Denpasar Festival 2016

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 2, 2018
in Opini

Sumber ilustrasi: facebook

MOBIL Pusling (perpustakaan keliling) Perpustakaan Kota Denpasar tampak parkir di bawah tenda putih. Sejumlah buku tampak bersusun kurang rapi di dalam mobil tersebut. Dari buku anak-anak hingga filsafat ada di sana, tapi tempatnya acakadul, jadi cukup sulit untuk mencari buku yang diinginkan.

Tenda sebelahnya sejumlah meja panjang berbungkus kain putih, satu di antaranya berbaris buku fotokopian, bersampul plastik, koleksi Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Denpasar.  Buku yang dipamerkan seluruhnya berbahasa Belanda dan Inggris (merupakan hasil riset orang Belanda saat tiba di Bali).

Di pojok meja  satu spanduk berukuran kecil berisi keterangan tentang perpustakaan terpasang sekenanya. Juga tampak sejumlah origami burung warna-warni tergantung di atas atap tenda.

“Kok buku yang dipajang tidak ada terjemahannya, Pak?” tanya saya kepada petugas stan yang saat itu mengenakan jas endek berwarna merah marun.

“Iya, terjemahannya ada di Perpustakaan Nasional, Jakarta. Kalau mau ke sana saja lihatnya,” jawabnya sambil tertawa.

“Lalu buat apa buku ini dipamerkan, kan pengunjung tidak mengerti bahasanya, Bapak memang bisa bahasa Belanda, bisa terjemahin ini?” tanya saya sambil menyodorkan satu halaman buku yang menampilkan gambar acara ngaben di Denpasar.

“Susah bahasa Belanda, kayak guten tag, guten morgen, susah, Dik,” jawab petugas sejurus tertawa lebar (maksudnya agar lucu)

“Itu bahasa Jerman, Pak, saya belajar sedikit dulu saat kuliah,” sambar saya dengan ketus.

Heniiiiing……

Sederhana dan kurang persiapan begitulah kesan  saat saya berkunjung ke stand yang berada di depan Pura Jagatnatha tersebut. Sepertinya stand  (sekali lagi)  Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Denpasar memilih  menyunyi sendiri dari kemeriahan Denpasar Festival (Denfest) ke-9, pada 28-31 Desember 2016 itu.

***

Sementara di pameran kuliner, beberapa stan benar-benar mempersiapkan segalanya dengan matang,  Kuliner nasi tekor contohnya  begitu memukau dengan  pernak-pernik kelampauannya. Saat memesan makanan di sana, saya jamin pengunjung langsung merasakan atmosfer masa lalu yang pekat. Dindingnya bedeg bambu warna coklat, tempat duduknya kayu berumur, gelas bercorak hijau putih, ceret air tanah liat,  dan sejumlah tumpukan kayu ditata sedemikan rupa menguatkan kesan dapur tempo dulu. Ciamik.

Ada pula stan fashion yang berlomba menyusun produknya sedemikian cermat, tidak tanggung-tanggung lemari display berlampu LED digotong pemiliknya, agar terlihat menarik di mata calon pembeli. Warna-warni produk endek, baju, kamen, keben, kerajinan perak, serta sejumlah produk lainnya menambah suasana festival menjadi kian semarak.

Belum lagi segala hiburan yang disajikan panitia, mulai dari pementasan musik, operet, hingga tarian tradisional pun turut andil dalam rangka meriuhkan suasana beberapa hari sebelum pergantian tahun.

Tanda tanya besar nyangket di kepala saya, kok stan Perputakaan Kota Denpasar terkesan ala kadarnya? Kok tidak ditempatkan di area utama? Kok begitu saja? Kok tidak megah? Kok tidak aeng? Dan pertanyaan kok lainnya.

Padahal keberadaan perpustakaan yang menghadirkan koleksi buku terlebih lagi buku yang berkaitan langsung dengan sejarah kota Denpasar sangat penting. Agar masyarakat tahu hakikat, asal-muasal, seluk-beluk kotanya sendiri. Apalagi jika penyajiannya keratif, menarik dan inovatif tentu pengunjung jadi senang,  Pulangnya tak hanya bawa oleh-oleh manusiawi tapi juga asupan gizi untuk ilmu pengetahuan otaknya.

Saya sudah bertanya kepada petugas yang menjaga stand saat itu, kenapa display-nya tidak ditata meriah dan wah. Tapi petugas hanya menjawab sekedarnya bahwa jika ingin melihat koleksi yang lebih lengkap, langsung saja datang ke kantor arsip.

Kenapa ya sang penjabat tidak melihat kesempatan ini sebagai ajang promosi untuk meningkatkan minat baca  dan mencerdaskan. Juga  bentuk penyeimbang dari kegiatan hura-hura tahun baru yang menyeret manusia ke budaya hedonisme. Ingat sekali lagi..! Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang di-survey terkait budaya membaca dan menulis lho. Miris nok. Nyakit keneh ..!

Saya berandai beberapa hal menjadi pejabat di institusi tersebut, tentu stan yang saya tampilkan tidak sembarangan, berkonsep, matang, dengan konten yang sesuai.

  1. Sejumlah buku koleksi terkait sejarah kota Denpasar akan hadir di rak-rak etalase pameran
  2. Buku berbahasa Belanda berikut terjemahannya akan saya usahakan, bagaimana pun caranya, kendati harus ke Perpustakaan Nasional, sebab ini untuk kepentingan bersama.
  3. Film-film dokumenter Bali Tempo Dulu akan diputar secara beruntun dengan menggunakan TV atau LCD proyektor.
  4. Foto Denpasar/Bali Tempo Dulu tentu juga ambil andil, lumayan untuk mempercantik dinding ruang pameran.
  5. Salah satu peninggalan Kota Denpasar yang dianggap paling mewakili kota ini, semisal keris saat perang puputan, akan saya hidupkan lewat teknologi video mapping.
  6. Akan saya display pula buku/lontar tua yang asli, tentu display ini menggunakan kotak khusus, agar tak mudah dijangkau pengunjung.
  7. Akun Sejarah Bali yang terkenal di dunia Instagram itu, saya  ikut sertakan dalam pameran ini, untuk membuat konten sejarah Denpasar dengan konsep kekinian.
  8. Seluruh ruang pameran disulap menjadi rumah orang Denpasar zaman dahulu, beralas tanah, berdinding bedeg, beratap jerami atau duk, serta kelengkapan lainnya.
  9. Terakhir ada photobooth untuk berswafoto yang kemudian di-uploud dengan hastag #denfest #sejarahdenpasar #perpusdenpasar (ini dilombakan, yang paling menarik dan kreatif dapat bingkisan)
  10. Saya buat desain pamflet yang jenaka, kreatif serta menarik, misalnya pamflet bentuk bunga Jempiring, agar pengunjung tak bosan membaca pamflet yang biasanya berisi tulisan dan warna-warna paduan yang tak karuan.
  11. Pameran stan ini saya usulkan untuk berada di pusat keramaian, di Jalan Gajah Mada atau di area Patung Catur Muka. Ini penting lho, tempat menentukan keberhasilan promosi.

Saya tidak muluk-muluk, konsep pameran yang matang, kreatif dan menarik  akan mendatangkan pengunjung yang banyak serta mencerdaskan. Usulan-usulan di atas bisa diwujudkan dengan mudah, apabila orang yang menjabat di instansi terkait memiliki cara pandang yang luas dan fleksibel.

Saya berani berkata seperti ini sebab sebelum pindah ke Bali saya sempat menjadi tim Museum Etnografi, Departemen Antropologi, FISIP, Unair. Setiap pameran kami akan selalu mendebat konsep dan konten hingga matang, sebab itu adalah harga mati untuk diperdebatkan.

Kendati ada acara lain yang menonjolkan pameran buku dalam pelaksanaannya, tapi apa salahnya menggunakan kesempatan yang ada sebagai ajang mencerdaskan warga Denpasar.

Nah, anggoang monto gen neh, yen be jadi walikota mare cang ngidang ngae kene asane!? Hahahaha. Minta dukungannya, nggih… (T)

Tags: Bukudenpasardenpasar festivalPameran
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

Cara Sejumlah Orang Bali Menyingkir dari Keriuhan Tahun Baru

Next Post

Bakar-Bakar Uang: Perspektif Klise Pesta Kembang Api

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Bakar-Bakar Uang: Perspektif Klise Pesta Kembang Api

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co