22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cara Sejumlah Orang Bali Menyingkir dari Keriuhan Tahun Baru

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Feature

Foto: koleksi penulis

BAGI orang Bali (Hindu) tentu saja tak ada masalah dengan perayaan Tahun Baru, meski sesungguhnya Hindu memiliki Tahun Baru sendiri yang dirayakan dengan Nyepi. Tak masalah juga Bali dikerubuti turis asing dan kebanyakan lokal, hingga sampai jalan-jalan macet, parkir objek wisata penuh sesak, dan hotel kehabisan kamar meski tarifnya sudah dinaikkan 100 persen.

“Pada setiap perayaan Tahun Baru, Pulau Bali ini kita kontrakkan saja,” kata seorang teman, sebut saja namanya Made Ada, beberapa hari menjelang Tahun Baru.

“Dikontrakkan? Maksudnya?” tanya saya.

“Iya, selama perayaan Tahun Baru biarkan orang-orang di luar Bali datang ke Bali, merubung di objek wisata, menyesaki hotel dan merayap di jalan-jalan besar. Kita yang orang Bali menyingkir saja!” ujarnya.

“Menyingkir?”

“Ya, kita jangan ikut-ikutan ke objek wisata, jangan ikut-ikutan memenuhi jalanan, dan jangan ikut-ikutan memenuhi kamar-kamar hotel!”

“Artinya, kita tak ikut merayakan Tahun Baru, seperti orang-orang yang melarang terompet, melarang pesta, melarang bakar ikan, melarang bakar jagung?”

“Bukan! Beh, kau tak paham maksudku!”

“Aku paham sedikit, tapi belum ngerti, he he he!”

“Justru kita, sebagai orang Bali, membiarkan orang-orang merayakan Tahun Baru di pulau kita, biarkan mereka bebas, kita sendiri tak usah mengganggu mereka. Sebagaimana orang yang mengontrak rumah kita, biarkan mereka nyaman tinggal di rumah kita, toh hanya sementara, jangan ikut menumpang tidur di dalam rumah yang sudah dikontrakkan!”

“Ide aneh.”

“Ya, aneh!”

“Jika kita menyingkir, siapa yang melayani para turis itu?”

“Semua sudah punya tugas. Semua punya pekerjaan. Yang bekerja di hotel ya tetap bekerja, yang jualan di objek wisata ya tetap jualan. Yang jadi sopir bus, ya, antarkan tamu dengan baik. Maksudnya, kita-kita ini, orang-orang yang dapat cipratan libur, ya, jangan ikut seperti turis di pulau sendiri. Biarkan turis tetap nyaman, karena objek-objek wisata dan jalanan sudah kita kontrakkan. Kita menyingkir!”

“Menyingkir ke mana?”

“Terserah, asalkan jangan menganggu turis dengan ikut-ikutan menjadi turis!”

Lama saya mencoba untuk memahami jalan pikiran Made Ada, teman saya itu. Sampai akhirnya saya benar-benar bertemu dengan sejumlah orang Bali yang sungguh-sungguh menyingkir dari keriuhan perayaan Tahun Baru.

Sabtu, 31 Desember 2016, sehari menjelang Tahun Baru 2017, saya bersama keluarga sembahyang ke Pura Segara Rupek, di ujung barat Buleleng, Pulau Bali. Pura itu terletak di tepi laut, di tengah hutan cukup lebat yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bali Barat.

Dari jalan raya Gilimanuk-Singaraja, dibutuhkan waktu sekitar 2-3 jam untuk mencapai lokasi pura, dengan melewati jalan gladag batu yang bergelombang. Belum lagi di tengah jalan dihadang kawanan kera yang mengiba minta makanan hingga membuat kita terhenti untuk melempar sekadar bekal buah-buahan.

Di Pura itu saya bertemu sejumlah orang. Mereka bukan sekadar bersembahyang, tapi mekemit (menginap) di Pura terpencil itu. Beberapa di antaranya bahkan sudah berada di Pura sejak Jumat 30 Desember, dan berencana untuk mepamit (pulang) setelah Tahun Baru 1 Januari 2017.

Saya dan keluarga tidak menginap di Pura itu. Petang dalam perjalanan pulang, saya berpapasan dengan banyak mobil menuju Pura. Di dalamnya terdapat sekeluarga atau mungkin kelompok sekawan. Mereka berpakaian adat putih poleng, putih-putih atau putih kuning.

Saya berani pastikan, mereka akan berada di Pura itu ketika malam saat orang lain merayakan penyambutan Tahun Baru dengan gegap-gempita. Beberapa mungkin mekemit dan pulang setelah tanggal 1 Januari, atau melanjutkan perjalanan ke sejumlah pura lain yang lebih terpencil.

Mungkin, sebagaimana dimaksud teman saya Made Ada, laku orang-orang itulah yang disebut menyingkir dari keriuhan Tahun Baru. Mereka “mencuri” momentum perayaan (yang bukan tradisi agama mereka) lalu digunakan untuk “merayakan” kedekatan mereka dengan Tuhan sesuai agama mereka.

Saya jamin, tempat “penyingkiran” bukan hanya Pura Segara Rupek. Banyak Pura lain di lokasi ekstrem juga digunakan sebagai tempat mekemit sekaligus berdoa demi keselamatan diri dan dunia. Semisal sejumlah Pura di puncak Lempuyang, atau Pura di lereng-lereng gurung kawasan Batukaru, atau Pura di tengah hutan di sekitar Tamblingan dan Buyan.

Laku menyingkir itu tampaknya bukan hanya terjadi saat perayaan Tahun Baru. Sejumlah pemangku yang sempat saya ajak ngobrol mengatakan, Pura-Pura yang jauh dari keramaian biasanya banyak didatangi umat Hindu saat hari-hari raya agama lain semisal Hari Natal, Idul Fitri dan Waisak. Mereka biasanya datang bersama keluarga, rombongan teman, atau rombongan sesama rekan kerja.

Laku ini bisa disebut sebagai toleransi bentuk lain. Saat Idul Fitri mereka tak ingin mengganggu umat Muslim sholat Id di lapangan terbuka. Saat Natal, mereka memberi ruang bagi umat Kristiani merayakannya dengan khusuk di gedung publik maupun di ruang terbuka. Mereka menyingkir, melakukan perjalanan suci atau tirtayatra ke Pura yang jauh dari pusat-pusat perayaan.

Itu mungkin salah satu tujuan kenapa saat hari raya agama tertentu, umat dari agama lain juga ikut diliburkan. Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap umat dari agama lain, libur juga memberi kesempatan umat yang tak merayakannya untuk ikut mendekatkan diri dengan Tuhan sesuai agama masing-masing.

Ngomong-ngomong, usai perayaan Tahun Baru 2017, saya telepon Made Ada, teman saya itu. Saya tanya ke mana ia menyingkir saat Tahun Baru. Jawabannya sungguh tak enak.

“Kau nyindir ya. Kau tahu, aku tak perlu menyingkir. Rumahku sudah sangat terpencil, jauh dari peradaban kembang api, jalan ke desaku rusak berat, tak ada turis yang mau ke sini. Aku di rumah saja, sembahyang di Pura tepi sungai dekat rumahku. Bagaimana? Kau puas?”

Saya tutup telepon sambil tersenyum… (T)

Tags: orang balitahun barutoleransi
Share619TweetSendShareSend
Previous Post

Bicara “Topi Saya Bundar”, Bicara Definisi Kehormatan

Next Post

Pameran Buku Ala Kadar – Catatan Kecil untuk Denpasar Festival 2016

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails
Next Post

Pameran Buku Ala Kadar - Catatan Kecil untuk Denpasar Festival 2016

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co