3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Historical 65 City Tour”: Sisi Kelam Gemerlap Pariwisata Bali

Chusmeru by Chusmeru
December 8, 2024
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

JIKA ada yang beranggapan bahwa Bali memiliki pantai yang indah, sawah yang asri, dan budaya yang lestari; tentu tidak keliru. Namun anggapan itu belum seutuhnya lengkap. Bali juga memiliki sejarah yang tak kalah seru untuk dipahami wisatawan.

Di balik gemerlap pariwisata Bali, ada sisi kelam sejarah masa lalu yang memilukan. Pariwisata Bali terbangun atas sejarah masa lalu di awal tahun 1900 hingga tahun 1965. Banyak kisah heroik masyarakat Bali, namun ada pula tragedi kemanusiaan yang tidak terlupakan hingga kini.

Tahun 1965 – 1966 terjadi pembantaian massal terhadap orang-orang yang dituding sebagai komunis dan Soekarnois. Tanpa proses pengadilan, sekitar 80 ribu orang Bali harus kehilangan nyawa oleh kekejaman rezim Orde Baru. Jumlah tersebut sepadan dengan 5% penduduk Bali saat itu, dan merupakan jumlah terbanyak dibanding daerah lain di Indonesia.

Menyikapi tragedi 1965, dua bersaudara Agung Alit dan Degung Santikrama mendirikan Taman Baca Kesiman (TBK) dan Taman 65 di Jalan WR Supratman, Kesiman, Denpasar Timur, tempat tinggal mereka. Taman yang mereka dirikan sebagai upaya melawan lupa atas peristiwa pembantaian massal di Bali pada tahun 1965.

Bukan tanpa alasan mereka mendirikan TBK dan Taman 65 itu. Ayah mereka, I Gusti Made Raka yang berprofesi sebagai seorang guru, dan lima anggota keluarga lainnya tewas dalam pembantaian tahun 1965 – 1966. Tanpa proses pengadilan dan tanpa tahu apa kesalahan mereka, ayah dan keluarga mereka dibunuh secara sadis.

Tidak hanya TBK dan Taman 65, Agung Alit juga memprakarsai Historical 65 City Tour, sebuah program wisata dalam kota untuk menapaki jejak kelam Bali di masa lalu. Wisatawan yang kebanyakan bule diajak untuk melihat Bali bukan hanya dari sisi gemerlap pariwisatanya saja.

Apa yang digagas Agung Alit sesungguhnya mirip dengan dark tourism atau wisata kegelapan. Banyak negara yang mengembangkan dark tourism ini untuk mengenang suatu tragedi. Kekuatan wisata sejarah dan wisata kegelapan terletak pada narasi yang menjelaskan secara detail sejarah setiap tokoh, tempat, dan peristiwa.

Ide Awal Coba-Coba

Historical 65 City Tour  tidak dirancang secara serius. Komunitas 65 dan Agung Alit awalnya menggagas Alternative City Tour pada tahun 2018.  Agung Alit sekadar mencoba saja ide program tour itu. Ternyata gagasan tersebut direspons secara positif oleh wisatawan asing. Sebagian besar peserta tour ini adalah mahasiswa dan teman-teman bule Agung Alit yang mengetahui tentang peristiwa tahun 1965.

Kepada penulis, Agung Alit menjelaskan Historical 65 City Tour ini mencoba untuk menyajikan info yang balance tentang Bali, tidak hanya romantic side-nya saja, namun juga sadistic side- nya. Menurut Agung Alit, tour ini spiritnya total pembelajaran sejarah untuk tidak dilupakan dan demi keadilan dan kebenaran sejarah, bahwa pariwisata Bali juga dibangun di atas tetesan darah korban genosida.

Perjalanan pariwisata Bali yang gemerlap kini, tidak lahir begitu saja. Perjalanan industri pariwisata Bali berangkat dari massacre-mass grave menuju mass tourism dan akhirnya menciptakan mass problem, begitu Agung Alit menggambarkan.

Rute Tour

Perjalanan Historical 65 City Tour hanya memakan waktu sehari. Berwisata keliling kota diawali dari Taman Baca Kesiman (TBK), memberi penjelasan kepada peserta tentang masa lalu Bali yang ditampar kolonialisme dan imperialisme Belanda yang menyusup lewat pantai Sanur dengan kapal Sri Komala tahun 1904, selajutnya memicu Perang Puputan Badung pada tahun 1906.

Perjalanan dilanjutkan menuju monumen Bajra Sandhi yang terletak di kawasan Renon, Denpasar. Monumen yang dibangun tahun 1987 itu berbentuk seperti Bajra atau Genta, yang digunakan oleh para pendeta Hindu dalam ritual keagamaan. Dibangun untuk mengabadikan perjuangan rakyat Bali melawan penjajahan.

Setelah itu wisatawan diajak menuju bekas penjara Pekambingan yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1916. Lokasi bekas penjara itu kini menjadi pusat perbelanjaan modern di Jalan Diponegoro, Denpasar. Alih fungsi bekas penjara menjadi pusat perbelanjaan itu menurut Agung Alit semacam perilaku pelenyapan memori sejarah oleh ketidakpedulian akan memori masa lalu.

Dari bekas penjara Pekambingan wisatawan diajak menuju kota tua Denpasar untuk merasakan sentuhan Jalan Gadjah Mada, yang pernah dilewati Charlie Chaplin dan Rabindranath Tagore, serta menikmati keriuhan pasar Kumbasari yang dulu dikenal dengan nama Peken Payuk.

 Kemudian wisatawan menuju alun-alun Puputan Badung yang dipercaya sebagai  tempat leluhur orang-orang di Denpasar, laki-laki dan perempuan yang marah mengusung keris, dan melempari wajah kolonialis Belanda dengan uang logam pada 1906. Setelah itu singgah sejenak melihat keunikan pasar burung, menyaksikan burung dan aneka unggas dikerangkeng seperti layaknya tahanan politik 65 yang dikerangkeng tanpa proses pengadilan.

Perjalanan menelusuri sejarah kelam Bali belum berakhir. Wisatawan diajak melacak perjalanan sejarah bengis Orde Baru (Orba) melakukan pembantaian orang-orang yang dituding komunis dan Soekarnois. Mereka diparadekan dari alun-alun menuju Jalan Patimura-Kesiman dan menuju ladang pembantaian massal di kuburan desa adat Tembau, Denpasar.

Historical 65 City Tour  berakhir di Taman 65. Acara diisi dengan minum kopi sore dan nonton film pendek karya anak-anak komunitas Taman 65, dan diisi dengan sedikit questions and answer atau tanya jawab untuk pembelajaran sejarah yang adil dan benar kepada peserta tour, sembari melawan lupa.

Donasi

Agung Alit dan komunitas 65 tentu tidak hendak larut dalam hingar-bingar gemerlap pariwisata Bali. Historical 65 City Tour tidak bermaksud hanyut dalam turisfikasi sejarah. Apalagi sisi kelam tragedi 65 tidak dapat ditakar dengan besaran materi apa pun. Maka, wisata sejarah ini tidak dipromosikan secara masif seperti layaknya objek dan daya tarik wisata lain di Bali yang kapitalistik.

Wisata sejarah 65 dalam kota Denpasar itu semata bertujuan untuk menyajikan informasi yang berimbang tentang Bali yang sudah mendunia. Bali tidak cukup hanya dilihat dari sisi romantisnya saja, namun juga sisi sadisnya. Keindahan pariwisata Bali juga diwarnai oleh kelamnya tragedi 1965.

Untuk itulah, Historical 65 City Tour tidak menetapkan tarif bagi wisatawan. Apalagi mereka yang tertarik dalam program wisata ini adalah wisatawan yang memang sudah memiliki preferensi tentang sejarah.

Wisatawan yang mengikuti tour selama ini berasal dari berbagai negara. Mereka hanya memberikan donasi secara sukarela. Besarnya donasi berkisar 30 dollar AS per orang, dengan peserta sekitar 5-8 orang. Hampir semua wisatawan yang menikmati tour ini merasa terkesan, karena Bali yang selama ini menjadi destinasi wisata populer di dunia juga menyimpan sejarah menyedihkan.

Historical 65 City Tour hendak mengabarkan kepada dunia, bahwa di balik gemerlap pariwisata Bali ada kisah kelam yang mungkin dimaafkan, tetapi tidak pernah dilupakan. Sebagaimana semboyan Taman 65: Forgive But Never Forget. [T]

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Meraba Kecenderungan Pilihan Destinasi Wisata
Wisata Ziarah Berharap Berkah
Manajemen Penanganan Bencana dalam Pariwisata
Badan Intelijen Keuangan: Urgensi dan Tantangan Komunikasi
Menguak Janji Prabowo jadikan Bali sebagai “The New Hong Kong”
Wisata Halal, untuk Siapa?
Harapan Pariwisata Indonesia di Tangan Prabowo-Gibran
Tags: city tourdenpasarHistorical 65 City TourPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Giri Prasta, Kambing, dan PR Bupati Badung Selanjutnya

Next Post

Ini tentang Bandara Bali Utara: Bukan Debat Politisi atau Akademisi, Jangan Baper!

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Ini tentang Bandara Bali Utara: Bukan Debat Politisi atau Akademisi, Jangan Baper!

Ini tentang Bandara Bali Utara: Bukan Debat Politisi atau Akademisi, Jangan Baper!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co