22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Historical 65 City Tour”: Sisi Kelam Gemerlap Pariwisata Bali

Chusmeru by Chusmeru
December 8, 2024
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

JIKA ada yang beranggapan bahwa Bali memiliki pantai yang indah, sawah yang asri, dan budaya yang lestari; tentu tidak keliru. Namun anggapan itu belum seutuhnya lengkap. Bali juga memiliki sejarah yang tak kalah seru untuk dipahami wisatawan.

Di balik gemerlap pariwisata Bali, ada sisi kelam sejarah masa lalu yang memilukan. Pariwisata Bali terbangun atas sejarah masa lalu di awal tahun 1900 hingga tahun 1965. Banyak kisah heroik masyarakat Bali, namun ada pula tragedi kemanusiaan yang tidak terlupakan hingga kini.

Tahun 1965 – 1966 terjadi pembantaian massal terhadap orang-orang yang dituding sebagai komunis dan Soekarnois. Tanpa proses pengadilan, sekitar 80 ribu orang Bali harus kehilangan nyawa oleh kekejaman rezim Orde Baru. Jumlah tersebut sepadan dengan 5% penduduk Bali saat itu, dan merupakan jumlah terbanyak dibanding daerah lain di Indonesia.

Menyikapi tragedi 1965, dua bersaudara Agung Alit dan Degung Santikrama mendirikan Taman Baca Kesiman (TBK) dan Taman 65 di Jalan WR Supratman, Kesiman, Denpasar Timur, tempat tinggal mereka. Taman yang mereka dirikan sebagai upaya melawan lupa atas peristiwa pembantaian massal di Bali pada tahun 1965.

Bukan tanpa alasan mereka mendirikan TBK dan Taman 65 itu. Ayah mereka, I Gusti Made Raka yang berprofesi sebagai seorang guru, dan lima anggota keluarga lainnya tewas dalam pembantaian tahun 1965 – 1966. Tanpa proses pengadilan dan tanpa tahu apa kesalahan mereka, ayah dan keluarga mereka dibunuh secara sadis.

Tidak hanya TBK dan Taman 65, Agung Alit juga memprakarsai Historical 65 City Tour, sebuah program wisata dalam kota untuk menapaki jejak kelam Bali di masa lalu. Wisatawan yang kebanyakan bule diajak untuk melihat Bali bukan hanya dari sisi gemerlap pariwisatanya saja.

Apa yang digagas Agung Alit sesungguhnya mirip dengan dark tourism atau wisata kegelapan. Banyak negara yang mengembangkan dark tourism ini untuk mengenang suatu tragedi. Kekuatan wisata sejarah dan wisata kegelapan terletak pada narasi yang menjelaskan secara detail sejarah setiap tokoh, tempat, dan peristiwa.

Ide Awal Coba-Coba

Historical 65 City Tour  tidak dirancang secara serius. Komunitas 65 dan Agung Alit awalnya menggagas Alternative City Tour pada tahun 2018.  Agung Alit sekadar mencoba saja ide program tour itu. Ternyata gagasan tersebut direspons secara positif oleh wisatawan asing. Sebagian besar peserta tour ini adalah mahasiswa dan teman-teman bule Agung Alit yang mengetahui tentang peristiwa tahun 1965.

Kepada penulis, Agung Alit menjelaskan Historical 65 City Tour ini mencoba untuk menyajikan info yang balance tentang Bali, tidak hanya romantic side-nya saja, namun juga sadistic side- nya. Menurut Agung Alit, tour ini spiritnya total pembelajaran sejarah untuk tidak dilupakan dan demi keadilan dan kebenaran sejarah, bahwa pariwisata Bali juga dibangun di atas tetesan darah korban genosida.

Perjalanan pariwisata Bali yang gemerlap kini, tidak lahir begitu saja. Perjalanan industri pariwisata Bali berangkat dari massacre-mass grave menuju mass tourism dan akhirnya menciptakan mass problem, begitu Agung Alit menggambarkan.

Rute Tour

Perjalanan Historical 65 City Tour hanya memakan waktu sehari. Berwisata keliling kota diawali dari Taman Baca Kesiman (TBK), memberi penjelasan kepada peserta tentang masa lalu Bali yang ditampar kolonialisme dan imperialisme Belanda yang menyusup lewat pantai Sanur dengan kapal Sri Komala tahun 1904, selajutnya memicu Perang Puputan Badung pada tahun 1906.

Perjalanan dilanjutkan menuju monumen Bajra Sandhi yang terletak di kawasan Renon, Denpasar. Monumen yang dibangun tahun 1987 itu berbentuk seperti Bajra atau Genta, yang digunakan oleh para pendeta Hindu dalam ritual keagamaan. Dibangun untuk mengabadikan perjuangan rakyat Bali melawan penjajahan.

Setelah itu wisatawan diajak menuju bekas penjara Pekambingan yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1916. Lokasi bekas penjara itu kini menjadi pusat perbelanjaan modern di Jalan Diponegoro, Denpasar. Alih fungsi bekas penjara menjadi pusat perbelanjaan itu menurut Agung Alit semacam perilaku pelenyapan memori sejarah oleh ketidakpedulian akan memori masa lalu.

Dari bekas penjara Pekambingan wisatawan diajak menuju kota tua Denpasar untuk merasakan sentuhan Jalan Gadjah Mada, yang pernah dilewati Charlie Chaplin dan Rabindranath Tagore, serta menikmati keriuhan pasar Kumbasari yang dulu dikenal dengan nama Peken Payuk.

 Kemudian wisatawan menuju alun-alun Puputan Badung yang dipercaya sebagai  tempat leluhur orang-orang di Denpasar, laki-laki dan perempuan yang marah mengusung keris, dan melempari wajah kolonialis Belanda dengan uang logam pada 1906. Setelah itu singgah sejenak melihat keunikan pasar burung, menyaksikan burung dan aneka unggas dikerangkeng seperti layaknya tahanan politik 65 yang dikerangkeng tanpa proses pengadilan.

Perjalanan menelusuri sejarah kelam Bali belum berakhir. Wisatawan diajak melacak perjalanan sejarah bengis Orde Baru (Orba) melakukan pembantaian orang-orang yang dituding komunis dan Soekarnois. Mereka diparadekan dari alun-alun menuju Jalan Patimura-Kesiman dan menuju ladang pembantaian massal di kuburan desa adat Tembau, Denpasar.

Historical 65 City Tour  berakhir di Taman 65. Acara diisi dengan minum kopi sore dan nonton film pendek karya anak-anak komunitas Taman 65, dan diisi dengan sedikit questions and answer atau tanya jawab untuk pembelajaran sejarah yang adil dan benar kepada peserta tour, sembari melawan lupa.

Donasi

Agung Alit dan komunitas 65 tentu tidak hendak larut dalam hingar-bingar gemerlap pariwisata Bali. Historical 65 City Tour tidak bermaksud hanyut dalam turisfikasi sejarah. Apalagi sisi kelam tragedi 65 tidak dapat ditakar dengan besaran materi apa pun. Maka, wisata sejarah ini tidak dipromosikan secara masif seperti layaknya objek dan daya tarik wisata lain di Bali yang kapitalistik.

Wisata sejarah 65 dalam kota Denpasar itu semata bertujuan untuk menyajikan informasi yang berimbang tentang Bali yang sudah mendunia. Bali tidak cukup hanya dilihat dari sisi romantisnya saja, namun juga sisi sadisnya. Keindahan pariwisata Bali juga diwarnai oleh kelamnya tragedi 1965.

Untuk itulah, Historical 65 City Tour tidak menetapkan tarif bagi wisatawan. Apalagi mereka yang tertarik dalam program wisata ini adalah wisatawan yang memang sudah memiliki preferensi tentang sejarah.

Wisatawan yang mengikuti tour selama ini berasal dari berbagai negara. Mereka hanya memberikan donasi secara sukarela. Besarnya donasi berkisar 30 dollar AS per orang, dengan peserta sekitar 5-8 orang. Hampir semua wisatawan yang menikmati tour ini merasa terkesan, karena Bali yang selama ini menjadi destinasi wisata populer di dunia juga menyimpan sejarah menyedihkan.

Historical 65 City Tour hendak mengabarkan kepada dunia, bahwa di balik gemerlap pariwisata Bali ada kisah kelam yang mungkin dimaafkan, tetapi tidak pernah dilupakan. Sebagaimana semboyan Taman 65: Forgive But Never Forget. [T]

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Meraba Kecenderungan Pilihan Destinasi Wisata
Wisata Ziarah Berharap Berkah
Manajemen Penanganan Bencana dalam Pariwisata
Badan Intelijen Keuangan: Urgensi dan Tantangan Komunikasi
Menguak Janji Prabowo jadikan Bali sebagai “The New Hong Kong”
Wisata Halal, untuk Siapa?
Harapan Pariwisata Indonesia di Tangan Prabowo-Gibran
Tags: city tourdenpasarHistorical 65 City TourPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Giri Prasta, Kambing, dan PR Bupati Badung Selanjutnya

Next Post

Ini tentang Bandara Bali Utara: Bukan Debat Politisi atau Akademisi, Jangan Baper!

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Ini tentang Bandara Bali Utara: Bukan Debat Politisi atau Akademisi, Jangan Baper!

Ini tentang Bandara Bali Utara: Bukan Debat Politisi atau Akademisi, Jangan Baper!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co