2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Historical 65 City Tour”: Sisi Kelam Gemerlap Pariwisata Bali

Chusmeru by Chusmeru
December 8, 2024
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

JIKA ada yang beranggapan bahwa Bali memiliki pantai yang indah, sawah yang asri, dan budaya yang lestari; tentu tidak keliru. Namun anggapan itu belum seutuhnya lengkap. Bali juga memiliki sejarah yang tak kalah seru untuk dipahami wisatawan.

Di balik gemerlap pariwisata Bali, ada sisi kelam sejarah masa lalu yang memilukan. Pariwisata Bali terbangun atas sejarah masa lalu di awal tahun 1900 hingga tahun 1965. Banyak kisah heroik masyarakat Bali, namun ada pula tragedi kemanusiaan yang tidak terlupakan hingga kini.

Tahun 1965 – 1966 terjadi pembantaian massal terhadap orang-orang yang dituding sebagai komunis dan Soekarnois. Tanpa proses pengadilan, sekitar 80 ribu orang Bali harus kehilangan nyawa oleh kekejaman rezim Orde Baru. Jumlah tersebut sepadan dengan 5% penduduk Bali saat itu, dan merupakan jumlah terbanyak dibanding daerah lain di Indonesia.

Menyikapi tragedi 1965, dua bersaudara Agung Alit dan Degung Santikrama mendirikan Taman Baca Kesiman (TBK) dan Taman 65 di Jalan WR Supratman, Kesiman, Denpasar Timur, tempat tinggal mereka. Taman yang mereka dirikan sebagai upaya melawan lupa atas peristiwa pembantaian massal di Bali pada tahun 1965.

Bukan tanpa alasan mereka mendirikan TBK dan Taman 65 itu. Ayah mereka, I Gusti Made Raka yang berprofesi sebagai seorang guru, dan lima anggota keluarga lainnya tewas dalam pembantaian tahun 1965 – 1966. Tanpa proses pengadilan dan tanpa tahu apa kesalahan mereka, ayah dan keluarga mereka dibunuh secara sadis.

Tidak hanya TBK dan Taman 65, Agung Alit juga memprakarsai Historical 65 City Tour, sebuah program wisata dalam kota untuk menapaki jejak kelam Bali di masa lalu. Wisatawan yang kebanyakan bule diajak untuk melihat Bali bukan hanya dari sisi gemerlap pariwisatanya saja.

Apa yang digagas Agung Alit sesungguhnya mirip dengan dark tourism atau wisata kegelapan. Banyak negara yang mengembangkan dark tourism ini untuk mengenang suatu tragedi. Kekuatan wisata sejarah dan wisata kegelapan terletak pada narasi yang menjelaskan secara detail sejarah setiap tokoh, tempat, dan peristiwa.

Ide Awal Coba-Coba

Historical 65 City Tour  tidak dirancang secara serius. Komunitas 65 dan Agung Alit awalnya menggagas Alternative City Tour pada tahun 2018.  Agung Alit sekadar mencoba saja ide program tour itu. Ternyata gagasan tersebut direspons secara positif oleh wisatawan asing. Sebagian besar peserta tour ini adalah mahasiswa dan teman-teman bule Agung Alit yang mengetahui tentang peristiwa tahun 1965.

Kepada penulis, Agung Alit menjelaskan Historical 65 City Tour ini mencoba untuk menyajikan info yang balance tentang Bali, tidak hanya romantic side-nya saja, namun juga sadistic side- nya. Menurut Agung Alit, tour ini spiritnya total pembelajaran sejarah untuk tidak dilupakan dan demi keadilan dan kebenaran sejarah, bahwa pariwisata Bali juga dibangun di atas tetesan darah korban genosida.

Perjalanan pariwisata Bali yang gemerlap kini, tidak lahir begitu saja. Perjalanan industri pariwisata Bali berangkat dari massacre-mass grave menuju mass tourism dan akhirnya menciptakan mass problem, begitu Agung Alit menggambarkan.

Rute Tour

Perjalanan Historical 65 City Tour hanya memakan waktu sehari. Berwisata keliling kota diawali dari Taman Baca Kesiman (TBK), memberi penjelasan kepada peserta tentang masa lalu Bali yang ditampar kolonialisme dan imperialisme Belanda yang menyusup lewat pantai Sanur dengan kapal Sri Komala tahun 1904, selajutnya memicu Perang Puputan Badung pada tahun 1906.

Perjalanan dilanjutkan menuju monumen Bajra Sandhi yang terletak di kawasan Renon, Denpasar. Monumen yang dibangun tahun 1987 itu berbentuk seperti Bajra atau Genta, yang digunakan oleh para pendeta Hindu dalam ritual keagamaan. Dibangun untuk mengabadikan perjuangan rakyat Bali melawan penjajahan.

Setelah itu wisatawan diajak menuju bekas penjara Pekambingan yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1916. Lokasi bekas penjara itu kini menjadi pusat perbelanjaan modern di Jalan Diponegoro, Denpasar. Alih fungsi bekas penjara menjadi pusat perbelanjaan itu menurut Agung Alit semacam perilaku pelenyapan memori sejarah oleh ketidakpedulian akan memori masa lalu.

Dari bekas penjara Pekambingan wisatawan diajak menuju kota tua Denpasar untuk merasakan sentuhan Jalan Gadjah Mada, yang pernah dilewati Charlie Chaplin dan Rabindranath Tagore, serta menikmati keriuhan pasar Kumbasari yang dulu dikenal dengan nama Peken Payuk.

 Kemudian wisatawan menuju alun-alun Puputan Badung yang dipercaya sebagai  tempat leluhur orang-orang di Denpasar, laki-laki dan perempuan yang marah mengusung keris, dan melempari wajah kolonialis Belanda dengan uang logam pada 1906. Setelah itu singgah sejenak melihat keunikan pasar burung, menyaksikan burung dan aneka unggas dikerangkeng seperti layaknya tahanan politik 65 yang dikerangkeng tanpa proses pengadilan.

Perjalanan menelusuri sejarah kelam Bali belum berakhir. Wisatawan diajak melacak perjalanan sejarah bengis Orde Baru (Orba) melakukan pembantaian orang-orang yang dituding komunis dan Soekarnois. Mereka diparadekan dari alun-alun menuju Jalan Patimura-Kesiman dan menuju ladang pembantaian massal di kuburan desa adat Tembau, Denpasar.

Historical 65 City Tour  berakhir di Taman 65. Acara diisi dengan minum kopi sore dan nonton film pendek karya anak-anak komunitas Taman 65, dan diisi dengan sedikit questions and answer atau tanya jawab untuk pembelajaran sejarah yang adil dan benar kepada peserta tour, sembari melawan lupa.

Donasi

Agung Alit dan komunitas 65 tentu tidak hendak larut dalam hingar-bingar gemerlap pariwisata Bali. Historical 65 City Tour tidak bermaksud hanyut dalam turisfikasi sejarah. Apalagi sisi kelam tragedi 65 tidak dapat ditakar dengan besaran materi apa pun. Maka, wisata sejarah ini tidak dipromosikan secara masif seperti layaknya objek dan daya tarik wisata lain di Bali yang kapitalistik.

Wisata sejarah 65 dalam kota Denpasar itu semata bertujuan untuk menyajikan informasi yang berimbang tentang Bali yang sudah mendunia. Bali tidak cukup hanya dilihat dari sisi romantisnya saja, namun juga sisi sadisnya. Keindahan pariwisata Bali juga diwarnai oleh kelamnya tragedi 1965.

Untuk itulah, Historical 65 City Tour tidak menetapkan tarif bagi wisatawan. Apalagi mereka yang tertarik dalam program wisata ini adalah wisatawan yang memang sudah memiliki preferensi tentang sejarah.

Wisatawan yang mengikuti tour selama ini berasal dari berbagai negara. Mereka hanya memberikan donasi secara sukarela. Besarnya donasi berkisar 30 dollar AS per orang, dengan peserta sekitar 5-8 orang. Hampir semua wisatawan yang menikmati tour ini merasa terkesan, karena Bali yang selama ini menjadi destinasi wisata populer di dunia juga menyimpan sejarah menyedihkan.

Historical 65 City Tour hendak mengabarkan kepada dunia, bahwa di balik gemerlap pariwisata Bali ada kisah kelam yang mungkin dimaafkan, tetapi tidak pernah dilupakan. Sebagaimana semboyan Taman 65: Forgive But Never Forget. [T]

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Meraba Kecenderungan Pilihan Destinasi Wisata
Wisata Ziarah Berharap Berkah
Manajemen Penanganan Bencana dalam Pariwisata
Badan Intelijen Keuangan: Urgensi dan Tantangan Komunikasi
Menguak Janji Prabowo jadikan Bali sebagai “The New Hong Kong”
Wisata Halal, untuk Siapa?
Harapan Pariwisata Indonesia di Tangan Prabowo-Gibran
Tags: city tourdenpasarHistorical 65 City TourPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Giri Prasta, Kambing, dan PR Bupati Badung Selanjutnya

Next Post

Ini tentang Bandara Bali Utara: Bukan Debat Politisi atau Akademisi, Jangan Baper!

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Ini tentang Bandara Bali Utara: Bukan Debat Politisi atau Akademisi, Jangan Baper!

Ini tentang Bandara Bali Utara: Bukan Debat Politisi atau Akademisi, Jangan Baper!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co