13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Giri Prasta, Kambing, dan PR Bupati Badung Selanjutnya

Yoyo Raharyo by Yoyo Raharyo
December 8, 2024
in Opini
Giri Prasta, Kambing, dan PR Bupati Badung Selanjutnya

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy | Diolah dari Canva

SEMBILAN tahun jadi bupati Badung, Nyoman Giri Prasta sepertinya nyaris tidak ada gebrakan di bidang pertanian. Terutama di bidang peternakan. Lebih khusus lagi soal peternakan kambing.

Tidak ada gembar-gembor menyeimbangkan Badung selatan dengan Badung utara, sebagaimana yang disampaikan bupati terdahulu: AA Gde Agung. Badung selatan sudah identik dengan gebyar pariwisata, dan Badung utara sebagai kawasan pertanian. 

Padahal, ternak kambing cukup menggiurkan. Andai dia mau menggelontorkan uang miliaran rupiah untuk modal budi daya ternak kambing, mungkin Badung bisa jadi sentra ternak kambing di Bali di satu sisi, dan bisa mengangkat derajat ekonomi petani/peternak di wilayahnya.

***

Soal kambing, saya teringat Bli Putu M. Peternak kambing di Mengwi, Badung. Warganya Giri Prasta.

Saya bertemu dengan Putu M sekitar dua bulan lalu. Saya tak menyebut nama lengkapnya karena belum meminta izin untuk menuliskan ceritanya. Waktu itu saya hanya ingin berkunjung ke peternakan kambingnya berkat rekomendasi seorang kawan. Tidak ada niat menjadikan kisahnya sebagai tulisan.

Bli Putu menyambut saya dengan ramah. Saya dibawa mendekat ke kandang kambingnya yang bersebelahan dengan kuburan.

Kini, kandangnya ada empat. Masing-masing sekitar ukuran 5×2 meter2. Semuanya berisi kambing dewasa dan anakan.

Kandanganya cukup bersih. Tentu saja, bersih untuk ukuran kandang kambing tidak sama dengan rumah atau kantor bupati. Setidaknya, saya bisa betah di dekat kandang kambingnya. Sebab aroma kotoran kambing tidak menyengat.

Putu mengenakan sepatu bot dan kaus lengan panjang, Kambing-kambingnya mengembik ketika mengetahui tuannya datang. Dia begitu cekatan memasukkan hijauan ke tempat makan kambing.

***

Putu sudah beternak kambing sejak sekitar tahun 2020. Saat pandemi Covid-19 melanda.  Dia tak sendiri dalam beternak kambing. Putu mengajak seorang kawannya untuk berkongsi.

Sejatinya, Putu punya usaha warung kecil. Kawannya yang diajak berkongsi bekerja di kantor notaris.

Mereka berdua memulai ternak kambing dari lima ekor. Empat ekor kambing betina jenis jawa randu dan satu ekor jenis peranakan boer.

Empat ekor kambing jawa randau dibeli seharga Rp2,5 juta per ekor. Seekor lagi pejantan jenis boer dibeli seharga Rp7 juta. Dari harganya, saya dapat menduga bahwa boer miliknya bukan full blood. Kemungkinan peranakan. Mungkin boer F3. Karena boer full blood sekitar Rp35 juta, F4 sekitar Rp15 juta. Artinya, kedua peternak pemula ini merogoh kocek Rp17 juta untuk lima ekor kambing tersebut.

Mereka membuat kandang di lahan yang cukup luas. Katanya 80 are. Lahan itu milik teman kongsinya tersebut. Mengingat jumlah kambingnya masih sedikit, tidak seluruh lahan tersebut digunakan. Mungkin hanya sekitar 10 are yang digarap untuk kandang dan kebun pakan untuk menanam rumput dan hijauan.

Untuk membuat kandang, dia mengaku tidak banyak membeli bahan baru. Sebagian besar barang bekas yang dipasarkan di Facebook. Di antaranya atap kandang menggunakan bekas kanopi. Kayu pagar kandang kambing juga menggunakan palet atau kayu bekas packing.

“Kalau beli bahan baru untuk kandang, biayanya besar sekali. Jadinya saya pakai yang bekas,” katanya.

Empat indukan jawa randu itu dibelinya saat masih berusia 6 bulan. Dia menunggu enam bulan untuk dikawinkan dengan si boer. Kelima indukan itu bunting dan beberapa bulan kemudian melahirkan cempe-cempe yang sehat.

Beberapa tahun kemudian, ketika saya berkunjung, ada 41 kambing indukan di kandang. Dia mengaku baru saja menjual 9 ekor pejantan saat Idul Adha.

Pejantan boerja, perkawinan boer dengan jawa randu itu dihargai sekitar Rp3,5 juta per ekor. Artinya, Putu dan kawannya meraup Rp31,5 juta. Angka yang tidak banyak memang, untuk hasil kerja keras selama empat tahun terakhir. Tapi, mengingat dia start dari jumlah 5 ekor, itu sudah lumayan. Bahkan bisa menutup modal awal.

Menurut kakakku yang biasa pelihara kambing, untuk satu orang (karyawan) bisa menghandle 50 kambing. Artinya, di tahun-tahun awal memelihara kambing, Putu dan kawannya hanya menjadikan beternak kambing sebagai sambilan belaka. Apalagi, dia baru memulai jadi peternak kambing, dia harus banyak belajar suka duka memelihara kambing, dimulai dari jumlah yang sedikit dan berusia amat belia.

“Nanti kalau sudah punya 100 indukan, mungkin saya baru bisa fokus beternak kambing. Kalau sekarang masih jadi sambilan,” katanya penuh optimisme.

Secara hitungan, mungkin hanya butuh setahun lagi Putu memiliki 100 ekor indukan. Dan tahun 2025 nanti, dengan bupati Badung yang baru, semoga Putu bisa fokus sebagai peternak kambing.

Bayangkan, jika Putu dan kawannya punya 100 ekor induk kambing,  melahirkan 200 ekor anak kambing, dia meraup Rp500 juta dua tahun kemudian atau Rp20 juta per bulan, dengan asumsi harga kambing Rp2,5 juta per ekor ketika usia dewasa. Bahkan bisa meraup untung lebih banyak jika itu pejantan.

Yang menarik, kambing, kandang, dan semua modal awal hingga kini memiliki 41 indukan, Putu dan kawannya merogoh kantong sendiri. Tidak ada bantuan dari negara atau Bupati Badung Nyoman Giri Prasta yang gemar melontarkan slogan “ikan lele ikan mujair, tak bertele-tele langsung cair” sejak 2015.

Padahal, Badung cukup kaya. Dari 2020 sampai 2024, APBD Badung sekitar Rp30 triliun. Pada Tahun 2024 ini saja mencanangkan APBD (perubahan) sebesar Rp12 triliun.

Mungkin dari APBD yang begitu besar, sekitar Rp3 triliun 5 triliun dibagikan ke kabupaten/ kota lainnya sebagai hibah atau BKK. Tapi, sekali lagi, tak cair ke kandang kambing milik Bli Putu dan kawannya, serupiah pun.

***

Dilihat dari data BPS berjudul “Provinsi Bali dalam Angka 2024”, Badung bukan sentra ternak kambing. Dari 43,2 ribu ekor populasi kambing di Bali pada 2022, di Badung hanya ada 831 ekor. 

Sentra ternak kambing di Bali terdapat di Kabupaten Buleleng, Karangasem, Jembrana, dan Tabanan. Pada tahun 2022, secara berturut-turut sebanyak 23 ribu, 5,8 ribu, 5 ribu, dan 4,2 ribu ekor.

Paling sedikit di Kota Denpasar dengan populasi kambing hanya  191 ekor. Maklum, Denpasar adalah kota padat penduduk dan beton. Hanya sedikit tanah pertanian tersisa di sekitar Denpasar Timur dan Utara.

Menurut berita Balipost.com, 12 Maret 2019, setiap bulan Bali “mengimpor” 9.000 ekor kambing dari Jawa. Itu setara 108 ribu ekor per tahun. Lebih dari dua kali lipat populasi ternak kambing di Bali. Bahkan, tidak hanya kekurangan untuk kebutuhan konsumsi, Bali juga kekurangan kambing untuk pengembangbiakan.

Populasi kambing di Badung hanya 1,9 persen dari populasi se-Bali. Padahal, jumlah penduduk Badung 12 persen dari total penduduk Bali. Bahkan, Badung banyak terdapat warung, restoran, hotel yang menyediakan olahan daging kambing.

Kabupaten Badung memiliki potensi untuk pengembangan sentra ternak kambing. Sebab masih banyak lahan pertanian. Peta wilayah Badung seperti keris. Makanya dijuluki kabupaten keris. Dari tengah keris sampai ke utara, yakni sebagian Kuta Utara dan Mengwi sampai Petang, masih banyak lahan pertanian dan perkebunan. 

Andai ada modal, pelatihan, dan segala kebutuhan untuk budi daya ternak kambing, mungkin para anak muda Badung tak harus berbondong-bondong berharap semuanya jadi pekerja hotel atau PNS. Juga, anak muda Badung tak harus larut berharap bisa sejahtera dari metajen.

Andai Giri Prasta yang berkuasa 9 tahun ini menggelontorkan bantuan modal untuk warganya membentuk kelompok-kelompok usaha ternak kambing, seperti Simantri di era Mangku Pastika jadi gubernur Bali, mungkin, sebagian warga Badung akan jadi peternak kambing, penjual satai, atau kambing guling, dan beragam olahan lain dari daging kambing.

Soal kambing tidak sepele. Itu bisa mengubah statistik: populasi kambing, swasembada daging, lapangan kerja, pengangguran, kemiskinan, nilai tukar petani, dan seterusnya.

***

Peternakan kambing milik Bli Putu adalah contoh kecil bahwa Badung bisa menjadi sentra kambing. Tanpa campur tangan “negara” dalam hal ini  bupati Giri Prasta, ternak kambing Bli Putu dan kawannya bisa berkembang karena kesabaran dan keuletan. Bagaimana jadinya kalau Pemkab Badung turun tangan?

Saya ingin menununjukkan bahwa pemerintahan Badung di bawah Giri Prasta tidak hadir dalam mengangkat perekonomian rakyat di bidang pertanian-peternakan. Kalau pun hadir, itu tidak signifikan terhadap perbaikan ekonomi rakyat Badung (utara).

Mungkin, masalahnya Bupati Giri Prasta kurang turba (turun ke bawah), untuk melihat kondisi rakyatnya. Mungkin saja dia terlalu asyik menunggu proposal dari kaki tangannya yang mengemis “ikan lele ikan mujair”, maksudnya hibah dan BKK yang jumlahnya triliunan rupiah.

Giri Prasta yang menang sebagai calon wakil gubernur Bali dalam Pilkada Bali 2024 lalu, bisa jadi role model bupati yang tidak celang menangkap potensi peternakan, terutama kambing di wilayahnya.

Warisan tentang abainya Giri Prasta dalam mengembangkan peternakan (kambing) ini dapat menjadi pekerjaan rumah bupati Badung selanjutnya.

Wayan Adi Arnawa yang menang di Pilbup Badung 2024 lalu, harus selalu turba. Jangan duduk manis di dalam ruangan ber-AC. Sebab, dia sudah bukan sekda lagi.

Apakah sentra peternakan kambing ini hal yang sulit diwujudkan? Apa sih yang susah bagi Badung, kabupaten terkaya di Bali: CGT. Cenik gae to. Itu masalah kecil! [T]

Ari Suandiyasa, Bermula Bankir Kini Peternak Sukses
I Nyoman Mara, Petani Paprika dari Pancasari, Maju dan Sukses dengan Sistem Pertanian Digital
Dari Palugada Hingga Dokter Spesialis | Kisah Dokter Hewan yang Jarang Diketahui
Tags: kabupaten badungKecamatan MengwiKecamatan PetangNyoman Giri Prastapeternakanpeternakan kambing
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan, Kebebasan dan Pariwisata | Dari Talkshow “Hari Ibu” KCKB Buleleng yang Dihadiri Ni Luh Puspa

Next Post

“Historical 65 City Tour”: Sisi Kelam Gemerlap Pariwisata Bali

Yoyo Raharyo

Yoyo Raharyo

Wartawan dan penulis esai yang belakangan berminat nulis fiksi yang diolah dari kisah-kisah nyata. Tinggal di Bali

Related Posts

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

“Historical 65 City Tour”: Sisi Kelam Gemerlap Pariwisata Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co