14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Croptop, Yamaha Filano, Filter Selfie: Upaya-upaya Mengatasi Keterasingan

J. Savitri by J. Savitri
March 7, 2025
in Esai
Croptop, Yamaha Filano, Filter Selfie: Upaya-upaya Mengatasi Keterasingan

Diskusi tentang perempuan Bali bersama Irina Savu Cristea (paling kiri, berkacama) di Komunitas Mahima Singaraja | Foto: tatkala.co

SUDAH genap empat bulan saya tinggal di Pulau Bali. Selama empat bulan juga saya membuktikan kekuatan magis yang membuat begitu banyak orang ingin datang, kembali lagi, bahkan menetap disini. Pengalaman ini cukup otentik, berhubung saya tinggal di Bali Utara, tepatnya di Kabupaten Buleleng, tempat yang jauh dari ekspektasi umum tentang Pulau Dewata. Banyak saya mendengar bahwa di tempat inilah kita bisa menemekan Bali yang sebenarnya, yang belum banyak dipengaruhi industri pariwisata.

Selama empat bulan pula saya mengamati dan mempelajari apa pun yang ada di sekitar, hal yang lumrah dilakukan oleh pendatang sebagai upaya beradaptasi dengan lingkungan baru. Saya juga belajar dari pengamatan, analisa, dan penelitian tentang Bali yang telah dilakukan oleh begitu banyak dari mereka yang mencintai pulau ini. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah penelitian tentang perempuan Bali dalam konteks global oleh Irina Savu Cristea, kandidat Doktor dari Freie Universität Berlin, Jerman.

Data penelitian selama enam tahun yang mencapai 2000 halaman ia rangkum dan paparkan dalam ruang diskusi yang disediakan oleh Komunitas Mahima di Singaraja, Senin malam, 3 Maret 2025.

Irina Savu Cristea saat menyampaikan hasil penelitiannya dalam diskusi di Komunitas Mahima, Singaraja | Foto: tatkala.co/Rusdy

Saya adalah satu dari sejumlah orang yang begitu serius bergabung dalam diskusi itu. Sejak awal diskusi, saya merasa bahwa saya dan Irina punya kesamaan latar belakang pemikiran, meskipun hanya disimpulkan dari sticker semangka yang menempel pada gawainya. Sticker yang sama menempel juga pada botol minumsaya.

Irina menggunakan pendekatan feminisme dalam penelitian dan analisanya. Pendekatan ini melelahkan karena harus dilakukan dengan penuh kesadaran diri akan emosi yang terlibat dalam penelitian.

 Selain itu, dalam penelitian-penelitian antropologi, peneliti tidak bisa memilih untuk tidak ikut emosional terhadap apa yang dialami para kolaborator penelitian (sebutan baru untuk informan atau narasumber penelitian). Apalagi dengan pilihan metode sampai topik penelitian yang seringkali melawan status quo, pendekatan feminisme semakin banyak menguras energi peneliti.

Seperti itulah yang terjadi pada Irina. Penelitiannya mengungkapkan kenyataan yang tidak disadari, atau mungkin dihindari karena bisa mengganggu kenyamanan di dalam sistem yang sedang berlangsung.

Gabungan antara pengamatan terbatas dan data penelitian Irina mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa di balik eksotisme Pulau Bali, ada perempuan-perempuan yang bekerja keras menopang adat, tradisi, serta budaya. Tapi Irina juga dengan cermat mengingatkan bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi pada perempuan Bali saja. Pemerintahan Orde Baru menormalisasi hal serupa melalui ideologi pembangunan yang meletakkan tanggung jawab pembentukan bangsa pada pundak perempuan Indonesia.

Perempuan ideal adalah perempuan yang menjaga keharmonisan keluarga, menjadi pendamping yang baik untuk suaminya, mendidik anak-anaknya—bertanggung jawab terhadap masyarakat dan negara. Khususnya di Bali, perempuan juga bertanggung jawab atas keberlangsungan adat, tradisi, juga budaya.

Dari penelitiannya, Irina menemukan bahwa perempuan memiliki pekerjaan emosional yang tinggi, tanpa jaminan libur atau cuti. Ketika perempuan Bali menjadi seorang istri, komitmen sepenuhnya adalah pada hal-hal lain di luar diri.

Saya (penulis) saat bertanya kepada Irina dalam diskusi di Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Rusdy

Sebagai perempuan—sejak kecil, kemudian remaja, lalu dewasa—seseorang harus melatih diri untuk mengemban tugas yang telah ditentukan berdasarkan jenis kelaminnya bahkan sejak saat sebelum ia lahir. Tugas utama sekaligus penyempurna bagi perempuan adalah menjadi seorang istri dan ibu. Kemudian, sebagai seorang istri (dan ibu), perempuan harus peka terhadap kebutuhan dan perasaan semua orang.

Lalu bagaimana dengan perasaan mereka sendiri? Apa yang terjadi ketika perempuan tidak punya cukup waktu dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan batinnya karena terlalu sibuk menjaga keharmonisan keluarga?

Ketika kebutuhan batin tidak terpenuhi, seseorang akan menderita karena kesepian. Padahal, menurut Erich Fromm dalam buku fenomenalnya The Art of Loving (re: Seni Mencintai), manusia paling takut dengan keterasingan yang menyebabkan kesepian. Oleh karena itu, sejak dulu manusia selalu berusaha mengatasinya. Salah satu cara untuk melampaui kehidupan individual adalah dengan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Namun, Fromm juga mengingatkan bahwa manusia tetap butuh menjaga keutuhan diri. Menjadi satu bukan berarti harus sama dalam segala aspek. Ada motivasi, aspirasi, dan emosi yang unik di dalam diri setiap individu.

Tidak adanya sarana mengekspresikan diri membuat seseorang tetap terasing dan merasa kesepian. Di sisi lain, tidak ada mata pelajaran, apalagi mata kuliah, untuk mengatasi keterasingan. Akhirnya, banyak yang terjebak pada keyakinan bahwa solusinya adalah menjadi sama dengan yang lain.

Dalam konteks masyarakat modern, mengikuti tren dan berperilaku konsumptif adalah jalan tol menjadi bagian dari sesuatu yang lebih dari diri sendiri. Mengikuti tren menjadi solusi cepat mengisi kekosongan hati, serta memenuhi kebutuhan untuk menyalurkan motivasi, aspirasi, dan emosi yang tidak diberikan ruang dalam konstruksi sosial yang ada. Apapun yang terjadi, perempuan harus selalu kuat dan tersenyum, harus menaruh prioritas pada kebaikan bersama—kebaikan keluarga, masyarakat, dan bahkan negara.

Saya kemudian teringat pada fenomena unik yang saya saksikan di Bali: dimana tren begitu lekat pada keseharian perempuan. Saya melihat ini, pertama, dari keseragaman gaya berbusana perempuan muda di Singaraja. Saking seragamnya, saya menduga hampir semua (kalau bukan semua) perempuan muda di Bali punya paling tidak satu atasan croptop warna abu atau coklat mudadi dalam lemarinya. Selain warnanya, padu padan celana, tas, dan alas kaki yang juga seragam.

Fenomena ini bisa juga kita saksikan di jalanan yang telah ramai dilalui motor keluaran terbaru Yamaha tipe Filano. Hanya dalam waktu 4 bulan, jumlah motor Yamaha Filano dengan warna-warna pastel lembut meningkat drastis—pengendaranya mayoritas perempuan. Selain itu, pada tubuhnya pun perempuan mengamalkan tren; yaitu dengan penggunaan filter kamera. Filter-filter ini biasanya memberikan efek lebih cerah, halus, dan glowing, dengan warna nuansa warna pastel atau soft tone. Mengikuti tren menjadi jalan pintas mengaktualisasikan diri dan merasa percaya diri.

Diskusi yang hangat di Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Rusdy

Sebenarnya, keterasingan akibat tuntutan peran berbasis gender bukan pengalaman eksklusif perempuan Bali saja. Hal yang sama dialami oleh hampir semua perempuan di dunia—tanpa batasan ras, etnis, apalagi agama. Hidup perempuan dipenuhi dengan perjuangan melawan penekanan terhadap eksistensinya sebagai seorang manusia yang unik, yang punya jati diri. Perempuan harus kuat apapun yang terjadi. Sehingga dalam rangka menjaga kewarasan, perempuan mengisi kekosongan hati dengan mengikuti tren.

Di era over production dan over consumption ini, tren berganti secara cepat. Mengikutinya hanya akan menjebak kita dalam lingkaran keterasingan tanpa henti. Sebab, tren adalah sesuatu yang berada di luar diri. Mencapai tujuan yang berasal dari luar membuat seseorang lupa akan motivasi yang ada dalam dirinya, sehingga sulit untuk merasa cukup.

Oleh karena itu, mengikuti tren hanya akan menjadi solusi yang semu. Perempuan akan terus merasa terasing, mengingat sumber dari rasa keterasingan itu tetap ada, dan berdiri kokoh. Pertama, perempuan diberikan tugas yang jauh lebih berat dari laki-laki. Kedua, perempuan tidak punya kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri. Ketiga, perempuan tidak mendapatkan hak dan akses ekspresi di ruang publik. Ini merupakan permasalahan sistemik dan tidak ada solusi instan dalam penyelesaiannya.

Bagi golongan tertindas di mana pun, pendidikan adalah jalan pembebasan. Pendidikan mampu membuka imajinasi perempuan tentang kemungkinan-kemungkinan lain dalam hidup, ketika nasib telah lebih dulu ditentukan oleh semua yang berada di luar dirinya.

Pendidikan memberikan jalan bagi perempuan untuk meraih kuasa penuh terhadap tubuhnya. Pendidikan juga yang mampu menstimulus kreatifitas dalam menemukan cara-cara berekspresi; sehingga percaya diri dan aktualisasi diri tidak perlu diraih dengan cara ikut-ikutan. [T]

Penulis: J. Savitri
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
The Strength of Women – Inspiring Encounters in Indonesia
Merayakan Gagasan Perempuan di Panggung Teater | Catatan Pentas ”Karena Aku Perempuan” di Galeri Indonesia Kaya
Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak
Tags: Komunitas MahimaPerempuanPerempuan Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membawa Sinema Indonesia ke Dunia: Pertukaran Program Film Pendek dan Filmmaker Menuju Glasgow 2025

Next Post

Ironi Efisiensi dan Bangga Berwisata di Indonesia

J. Savitri

J. Savitri

Penyuka martabak dan senang belajar, sesekali menyanyi. Saat ini sedang menimba ilmu di Bali Utara

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Ironi Efisiensi dan Bangga Berwisata di Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co