12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Croptop, Yamaha Filano, Filter Selfie: Upaya-upaya Mengatasi Keterasingan

J. Savitri by J. Savitri
March 7, 2025
in Esai
Croptop, Yamaha Filano, Filter Selfie: Upaya-upaya Mengatasi Keterasingan

Diskusi tentang perempuan Bali bersama Irina Savu Cristea (paling kiri, berkacama) di Komunitas Mahima Singaraja | Foto: tatkala.co

SUDAH genap empat bulan saya tinggal di Pulau Bali. Selama empat bulan juga saya membuktikan kekuatan magis yang membuat begitu banyak orang ingin datang, kembali lagi, bahkan menetap disini. Pengalaman ini cukup otentik, berhubung saya tinggal di Bali Utara, tepatnya di Kabupaten Buleleng, tempat yang jauh dari ekspektasi umum tentang Pulau Dewata. Banyak saya mendengar bahwa di tempat inilah kita bisa menemekan Bali yang sebenarnya, yang belum banyak dipengaruhi industri pariwisata.

Selama empat bulan pula saya mengamati dan mempelajari apa pun yang ada di sekitar, hal yang lumrah dilakukan oleh pendatang sebagai upaya beradaptasi dengan lingkungan baru. Saya juga belajar dari pengamatan, analisa, dan penelitian tentang Bali yang telah dilakukan oleh begitu banyak dari mereka yang mencintai pulau ini. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah penelitian tentang perempuan Bali dalam konteks global oleh Irina Savu Cristea, kandidat Doktor dari Freie Universität Berlin, Jerman.

Data penelitian selama enam tahun yang mencapai 2000 halaman ia rangkum dan paparkan dalam ruang diskusi yang disediakan oleh Komunitas Mahima di Singaraja, Senin malam, 3 Maret 2025.

Irina Savu Cristea saat menyampaikan hasil penelitiannya dalam diskusi di Komunitas Mahima, Singaraja | Foto: tatkala.co/Rusdy

Saya adalah satu dari sejumlah orang yang begitu serius bergabung dalam diskusi itu. Sejak awal diskusi, saya merasa bahwa saya dan Irina punya kesamaan latar belakang pemikiran, meskipun hanya disimpulkan dari sticker semangka yang menempel pada gawainya. Sticker yang sama menempel juga pada botol minumsaya.

Irina menggunakan pendekatan feminisme dalam penelitian dan analisanya. Pendekatan ini melelahkan karena harus dilakukan dengan penuh kesadaran diri akan emosi yang terlibat dalam penelitian.

 Selain itu, dalam penelitian-penelitian antropologi, peneliti tidak bisa memilih untuk tidak ikut emosional terhadap apa yang dialami para kolaborator penelitian (sebutan baru untuk informan atau narasumber penelitian). Apalagi dengan pilihan metode sampai topik penelitian yang seringkali melawan status quo, pendekatan feminisme semakin banyak menguras energi peneliti.

Seperti itulah yang terjadi pada Irina. Penelitiannya mengungkapkan kenyataan yang tidak disadari, atau mungkin dihindari karena bisa mengganggu kenyamanan di dalam sistem yang sedang berlangsung.

Gabungan antara pengamatan terbatas dan data penelitian Irina mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa di balik eksotisme Pulau Bali, ada perempuan-perempuan yang bekerja keras menopang adat, tradisi, serta budaya. Tapi Irina juga dengan cermat mengingatkan bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi pada perempuan Bali saja. Pemerintahan Orde Baru menormalisasi hal serupa melalui ideologi pembangunan yang meletakkan tanggung jawab pembentukan bangsa pada pundak perempuan Indonesia.

Perempuan ideal adalah perempuan yang menjaga keharmonisan keluarga, menjadi pendamping yang baik untuk suaminya, mendidik anak-anaknya—bertanggung jawab terhadap masyarakat dan negara. Khususnya di Bali, perempuan juga bertanggung jawab atas keberlangsungan adat, tradisi, juga budaya.

Dari penelitiannya, Irina menemukan bahwa perempuan memiliki pekerjaan emosional yang tinggi, tanpa jaminan libur atau cuti. Ketika perempuan Bali menjadi seorang istri, komitmen sepenuhnya adalah pada hal-hal lain di luar diri.

Saya (penulis) saat bertanya kepada Irina dalam diskusi di Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Rusdy

Sebagai perempuan—sejak kecil, kemudian remaja, lalu dewasa—seseorang harus melatih diri untuk mengemban tugas yang telah ditentukan berdasarkan jenis kelaminnya bahkan sejak saat sebelum ia lahir. Tugas utama sekaligus penyempurna bagi perempuan adalah menjadi seorang istri dan ibu. Kemudian, sebagai seorang istri (dan ibu), perempuan harus peka terhadap kebutuhan dan perasaan semua orang.

Lalu bagaimana dengan perasaan mereka sendiri? Apa yang terjadi ketika perempuan tidak punya cukup waktu dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan batinnya karena terlalu sibuk menjaga keharmonisan keluarga?

Ketika kebutuhan batin tidak terpenuhi, seseorang akan menderita karena kesepian. Padahal, menurut Erich Fromm dalam buku fenomenalnya The Art of Loving (re: Seni Mencintai), manusia paling takut dengan keterasingan yang menyebabkan kesepian. Oleh karena itu, sejak dulu manusia selalu berusaha mengatasinya. Salah satu cara untuk melampaui kehidupan individual adalah dengan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Namun, Fromm juga mengingatkan bahwa manusia tetap butuh menjaga keutuhan diri. Menjadi satu bukan berarti harus sama dalam segala aspek. Ada motivasi, aspirasi, dan emosi yang unik di dalam diri setiap individu.

Tidak adanya sarana mengekspresikan diri membuat seseorang tetap terasing dan merasa kesepian. Di sisi lain, tidak ada mata pelajaran, apalagi mata kuliah, untuk mengatasi keterasingan. Akhirnya, banyak yang terjebak pada keyakinan bahwa solusinya adalah menjadi sama dengan yang lain.

Dalam konteks masyarakat modern, mengikuti tren dan berperilaku konsumptif adalah jalan tol menjadi bagian dari sesuatu yang lebih dari diri sendiri. Mengikuti tren menjadi solusi cepat mengisi kekosongan hati, serta memenuhi kebutuhan untuk menyalurkan motivasi, aspirasi, dan emosi yang tidak diberikan ruang dalam konstruksi sosial yang ada. Apapun yang terjadi, perempuan harus selalu kuat dan tersenyum, harus menaruh prioritas pada kebaikan bersama—kebaikan keluarga, masyarakat, dan bahkan negara.

Saya kemudian teringat pada fenomena unik yang saya saksikan di Bali: dimana tren begitu lekat pada keseharian perempuan. Saya melihat ini, pertama, dari keseragaman gaya berbusana perempuan muda di Singaraja. Saking seragamnya, saya menduga hampir semua (kalau bukan semua) perempuan muda di Bali punya paling tidak satu atasan croptop warna abu atau coklat mudadi dalam lemarinya. Selain warnanya, padu padan celana, tas, dan alas kaki yang juga seragam.

Fenomena ini bisa juga kita saksikan di jalanan yang telah ramai dilalui motor keluaran terbaru Yamaha tipe Filano. Hanya dalam waktu 4 bulan, jumlah motor Yamaha Filano dengan warna-warna pastel lembut meningkat drastis—pengendaranya mayoritas perempuan. Selain itu, pada tubuhnya pun perempuan mengamalkan tren; yaitu dengan penggunaan filter kamera. Filter-filter ini biasanya memberikan efek lebih cerah, halus, dan glowing, dengan warna nuansa warna pastel atau soft tone. Mengikuti tren menjadi jalan pintas mengaktualisasikan diri dan merasa percaya diri.

Diskusi yang hangat di Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Rusdy

Sebenarnya, keterasingan akibat tuntutan peran berbasis gender bukan pengalaman eksklusif perempuan Bali saja. Hal yang sama dialami oleh hampir semua perempuan di dunia—tanpa batasan ras, etnis, apalagi agama. Hidup perempuan dipenuhi dengan perjuangan melawan penekanan terhadap eksistensinya sebagai seorang manusia yang unik, yang punya jati diri. Perempuan harus kuat apapun yang terjadi. Sehingga dalam rangka menjaga kewarasan, perempuan mengisi kekosongan hati dengan mengikuti tren.

Di era over production dan over consumption ini, tren berganti secara cepat. Mengikutinya hanya akan menjebak kita dalam lingkaran keterasingan tanpa henti. Sebab, tren adalah sesuatu yang berada di luar diri. Mencapai tujuan yang berasal dari luar membuat seseorang lupa akan motivasi yang ada dalam dirinya, sehingga sulit untuk merasa cukup.

Oleh karena itu, mengikuti tren hanya akan menjadi solusi yang semu. Perempuan akan terus merasa terasing, mengingat sumber dari rasa keterasingan itu tetap ada, dan berdiri kokoh. Pertama, perempuan diberikan tugas yang jauh lebih berat dari laki-laki. Kedua, perempuan tidak punya kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri. Ketiga, perempuan tidak mendapatkan hak dan akses ekspresi di ruang publik. Ini merupakan permasalahan sistemik dan tidak ada solusi instan dalam penyelesaiannya.

Bagi golongan tertindas di mana pun, pendidikan adalah jalan pembebasan. Pendidikan mampu membuka imajinasi perempuan tentang kemungkinan-kemungkinan lain dalam hidup, ketika nasib telah lebih dulu ditentukan oleh semua yang berada di luar dirinya.

Pendidikan memberikan jalan bagi perempuan untuk meraih kuasa penuh terhadap tubuhnya. Pendidikan juga yang mampu menstimulus kreatifitas dalam menemukan cara-cara berekspresi; sehingga percaya diri dan aktualisasi diri tidak perlu diraih dengan cara ikut-ikutan. [T]

Penulis: J. Savitri
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
The Strength of Women – Inspiring Encounters in Indonesia
Merayakan Gagasan Perempuan di Panggung Teater | Catatan Pentas ”Karena Aku Perempuan” di Galeri Indonesia Kaya
Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak
Tags: Komunitas MahimaPerempuanPerempuan Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membawa Sinema Indonesia ke Dunia: Pertukaran Program Film Pendek dan Filmmaker Menuju Glasgow 2025

Next Post

Ironi Efisiensi dan Bangga Berwisata di Indonesia

J. Savitri

J. Savitri

Penyuka martabak dan senang belajar, sesekali menyanyi. Saat ini sedang menimba ilmu di Bali Utara

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Ironi Efisiensi dan Bangga Berwisata di Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co