2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Croptop, Yamaha Filano, Filter Selfie: Upaya-upaya Mengatasi Keterasingan

J. Savitri by J. Savitri
March 7, 2025
in Esai
Croptop, Yamaha Filano, Filter Selfie: Upaya-upaya Mengatasi Keterasingan

Diskusi tentang perempuan Bali bersama Irina Savu Cristea (paling kiri, berkacama) di Komunitas Mahima Singaraja | Foto: tatkala.co

SUDAH genap empat bulan saya tinggal di Pulau Bali. Selama empat bulan juga saya membuktikan kekuatan magis yang membuat begitu banyak orang ingin datang, kembali lagi, bahkan menetap disini. Pengalaman ini cukup otentik, berhubung saya tinggal di Bali Utara, tepatnya di Kabupaten Buleleng, tempat yang jauh dari ekspektasi umum tentang Pulau Dewata. Banyak saya mendengar bahwa di tempat inilah kita bisa menemekan Bali yang sebenarnya, yang belum banyak dipengaruhi industri pariwisata.

Selama empat bulan pula saya mengamati dan mempelajari apa pun yang ada di sekitar, hal yang lumrah dilakukan oleh pendatang sebagai upaya beradaptasi dengan lingkungan baru. Saya juga belajar dari pengamatan, analisa, dan penelitian tentang Bali yang telah dilakukan oleh begitu banyak dari mereka yang mencintai pulau ini. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah penelitian tentang perempuan Bali dalam konteks global oleh Irina Savu Cristea, kandidat Doktor dari Freie Universität Berlin, Jerman.

Data penelitian selama enam tahun yang mencapai 2000 halaman ia rangkum dan paparkan dalam ruang diskusi yang disediakan oleh Komunitas Mahima di Singaraja, Senin malam, 3 Maret 2025.

Irina Savu Cristea saat menyampaikan hasil penelitiannya dalam diskusi di Komunitas Mahima, Singaraja | Foto: tatkala.co/Rusdy

Saya adalah satu dari sejumlah orang yang begitu serius bergabung dalam diskusi itu. Sejak awal diskusi, saya merasa bahwa saya dan Irina punya kesamaan latar belakang pemikiran, meskipun hanya disimpulkan dari sticker semangka yang menempel pada gawainya. Sticker yang sama menempel juga pada botol minumsaya.

Irina menggunakan pendekatan feminisme dalam penelitian dan analisanya. Pendekatan ini melelahkan karena harus dilakukan dengan penuh kesadaran diri akan emosi yang terlibat dalam penelitian.

 Selain itu, dalam penelitian-penelitian antropologi, peneliti tidak bisa memilih untuk tidak ikut emosional terhadap apa yang dialami para kolaborator penelitian (sebutan baru untuk informan atau narasumber penelitian). Apalagi dengan pilihan metode sampai topik penelitian yang seringkali melawan status quo, pendekatan feminisme semakin banyak menguras energi peneliti.

Seperti itulah yang terjadi pada Irina. Penelitiannya mengungkapkan kenyataan yang tidak disadari, atau mungkin dihindari karena bisa mengganggu kenyamanan di dalam sistem yang sedang berlangsung.

Gabungan antara pengamatan terbatas dan data penelitian Irina mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa di balik eksotisme Pulau Bali, ada perempuan-perempuan yang bekerja keras menopang adat, tradisi, serta budaya. Tapi Irina juga dengan cermat mengingatkan bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi pada perempuan Bali saja. Pemerintahan Orde Baru menormalisasi hal serupa melalui ideologi pembangunan yang meletakkan tanggung jawab pembentukan bangsa pada pundak perempuan Indonesia.

Perempuan ideal adalah perempuan yang menjaga keharmonisan keluarga, menjadi pendamping yang baik untuk suaminya, mendidik anak-anaknya—bertanggung jawab terhadap masyarakat dan negara. Khususnya di Bali, perempuan juga bertanggung jawab atas keberlangsungan adat, tradisi, juga budaya.

Dari penelitiannya, Irina menemukan bahwa perempuan memiliki pekerjaan emosional yang tinggi, tanpa jaminan libur atau cuti. Ketika perempuan Bali menjadi seorang istri, komitmen sepenuhnya adalah pada hal-hal lain di luar diri.

Saya (penulis) saat bertanya kepada Irina dalam diskusi di Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Rusdy

Sebagai perempuan—sejak kecil, kemudian remaja, lalu dewasa—seseorang harus melatih diri untuk mengemban tugas yang telah ditentukan berdasarkan jenis kelaminnya bahkan sejak saat sebelum ia lahir. Tugas utama sekaligus penyempurna bagi perempuan adalah menjadi seorang istri dan ibu. Kemudian, sebagai seorang istri (dan ibu), perempuan harus peka terhadap kebutuhan dan perasaan semua orang.

Lalu bagaimana dengan perasaan mereka sendiri? Apa yang terjadi ketika perempuan tidak punya cukup waktu dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan batinnya karena terlalu sibuk menjaga keharmonisan keluarga?

Ketika kebutuhan batin tidak terpenuhi, seseorang akan menderita karena kesepian. Padahal, menurut Erich Fromm dalam buku fenomenalnya The Art of Loving (re: Seni Mencintai), manusia paling takut dengan keterasingan yang menyebabkan kesepian. Oleh karena itu, sejak dulu manusia selalu berusaha mengatasinya. Salah satu cara untuk melampaui kehidupan individual adalah dengan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Namun, Fromm juga mengingatkan bahwa manusia tetap butuh menjaga keutuhan diri. Menjadi satu bukan berarti harus sama dalam segala aspek. Ada motivasi, aspirasi, dan emosi yang unik di dalam diri setiap individu.

Tidak adanya sarana mengekspresikan diri membuat seseorang tetap terasing dan merasa kesepian. Di sisi lain, tidak ada mata pelajaran, apalagi mata kuliah, untuk mengatasi keterasingan. Akhirnya, banyak yang terjebak pada keyakinan bahwa solusinya adalah menjadi sama dengan yang lain.

Dalam konteks masyarakat modern, mengikuti tren dan berperilaku konsumptif adalah jalan tol menjadi bagian dari sesuatu yang lebih dari diri sendiri. Mengikuti tren menjadi solusi cepat mengisi kekosongan hati, serta memenuhi kebutuhan untuk menyalurkan motivasi, aspirasi, dan emosi yang tidak diberikan ruang dalam konstruksi sosial yang ada. Apapun yang terjadi, perempuan harus selalu kuat dan tersenyum, harus menaruh prioritas pada kebaikan bersama—kebaikan keluarga, masyarakat, dan bahkan negara.

Saya kemudian teringat pada fenomena unik yang saya saksikan di Bali: dimana tren begitu lekat pada keseharian perempuan. Saya melihat ini, pertama, dari keseragaman gaya berbusana perempuan muda di Singaraja. Saking seragamnya, saya menduga hampir semua (kalau bukan semua) perempuan muda di Bali punya paling tidak satu atasan croptop warna abu atau coklat mudadi dalam lemarinya. Selain warnanya, padu padan celana, tas, dan alas kaki yang juga seragam.

Fenomena ini bisa juga kita saksikan di jalanan yang telah ramai dilalui motor keluaran terbaru Yamaha tipe Filano. Hanya dalam waktu 4 bulan, jumlah motor Yamaha Filano dengan warna-warna pastel lembut meningkat drastis—pengendaranya mayoritas perempuan. Selain itu, pada tubuhnya pun perempuan mengamalkan tren; yaitu dengan penggunaan filter kamera. Filter-filter ini biasanya memberikan efek lebih cerah, halus, dan glowing, dengan warna nuansa warna pastel atau soft tone. Mengikuti tren menjadi jalan pintas mengaktualisasikan diri dan merasa percaya diri.

Diskusi yang hangat di Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Rusdy

Sebenarnya, keterasingan akibat tuntutan peran berbasis gender bukan pengalaman eksklusif perempuan Bali saja. Hal yang sama dialami oleh hampir semua perempuan di dunia—tanpa batasan ras, etnis, apalagi agama. Hidup perempuan dipenuhi dengan perjuangan melawan penekanan terhadap eksistensinya sebagai seorang manusia yang unik, yang punya jati diri. Perempuan harus kuat apapun yang terjadi. Sehingga dalam rangka menjaga kewarasan, perempuan mengisi kekosongan hati dengan mengikuti tren.

Di era over production dan over consumption ini, tren berganti secara cepat. Mengikutinya hanya akan menjebak kita dalam lingkaran keterasingan tanpa henti. Sebab, tren adalah sesuatu yang berada di luar diri. Mencapai tujuan yang berasal dari luar membuat seseorang lupa akan motivasi yang ada dalam dirinya, sehingga sulit untuk merasa cukup.

Oleh karena itu, mengikuti tren hanya akan menjadi solusi yang semu. Perempuan akan terus merasa terasing, mengingat sumber dari rasa keterasingan itu tetap ada, dan berdiri kokoh. Pertama, perempuan diberikan tugas yang jauh lebih berat dari laki-laki. Kedua, perempuan tidak punya kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri. Ketiga, perempuan tidak mendapatkan hak dan akses ekspresi di ruang publik. Ini merupakan permasalahan sistemik dan tidak ada solusi instan dalam penyelesaiannya.

Bagi golongan tertindas di mana pun, pendidikan adalah jalan pembebasan. Pendidikan mampu membuka imajinasi perempuan tentang kemungkinan-kemungkinan lain dalam hidup, ketika nasib telah lebih dulu ditentukan oleh semua yang berada di luar dirinya.

Pendidikan memberikan jalan bagi perempuan untuk meraih kuasa penuh terhadap tubuhnya. Pendidikan juga yang mampu menstimulus kreatifitas dalam menemukan cara-cara berekspresi; sehingga percaya diri dan aktualisasi diri tidak perlu diraih dengan cara ikut-ikutan. [T]

Penulis: J. Savitri
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
The Strength of Women – Inspiring Encounters in Indonesia
Merayakan Gagasan Perempuan di Panggung Teater | Catatan Pentas ”Karena Aku Perempuan” di Galeri Indonesia Kaya
Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak
Tags: Komunitas MahimaPerempuanPerempuan Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membawa Sinema Indonesia ke Dunia: Pertukaran Program Film Pendek dan Filmmaker Menuju Glasgow 2025

Next Post

Ironi Efisiensi dan Bangga Berwisata di Indonesia

J. Savitri

J. Savitri

Penyuka martabak dan senang belajar, sesekali menyanyi. Saat ini sedang menimba ilmu di Bali Utara

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Ironi Efisiensi dan Bangga Berwisata di Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co