22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Pseudotourism”: Pepesan Kosong dalam Pariwisata

Chusmeru by Chusmeru
May 10, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

KEBIJAKAN libur panjang (long weekend) yang diterapkan pemerintah selalu diprediksi dapat menggairahkan industri pariwisata Tanah Air. Hari-hari besar keagamaan dan hari besar nasional selalu dibarengi dengan kebijakan cuti bersama yang diharapkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berwisata.

Asumsi banyak orang terhadap kebijakan libur panjang adalah peningkatan kunjungan wisatawan, terjadinya mobilitas dan pergerakan manusia ke berbagai daerah. Maka, kalangan pelaku pariwisata pun sangat antusias menyambut cuti bersama dan libur panjang itu.

Namun apa yang terjadi? Pergerakan masyarakat Indonesia terganjal oleh efisiensi anggaran dari pemerintah. Pengusaha hotel menjerit. Target mereka untuk mendulang uang dari bisnis konvensi gagal total. Instansi pemerintah membatasi anggaran untuk melakukan kegiatan pertemuan di hotel.

Angka kunjungan wisatawan di beberapa destinasi terkenal mungkin saja meningkat. Akan tetapi peningkatan angka kunjungan tidak dibarengi dengan peningkatan hunian kamar hotel. Semua bertanya-tanya, apa yang terjadi dalam industri pariwisata Tanah Air?.

Pergerakan wisatawan antarpulau dan antardaerah bisa jadi rendah, karena kecenderungan untuk mengunjungi objek dan daya tarik wisata yang lebih dekat dengan tempat tinggal (closer destination). Lantaran hanya berkunjung ke destinasi wisata yang dekat, maka wisatawan tidak memerlukan akomodasi untuk menginap.

Bisa terjadi pula, angka kunjungan wisatawan tinggi di satu destinasi, tetapi wisatawan tidak menginap di hotel. Wisatawan lebih memilih menginap di rumah kost maupun homestay ilegal yang tidak terdaftar dan terdata. Diduga hal ini terjadi di Bali, dan tidak tertutup kemungkinan terjadi juga di destinasi wisata favorit lainnya.

Kenyataan tersebut memunculkan apa yang disebut pseudotourism. Kondisi kepariwisataan yang semu, tidak autentik, dan seolah baik-baik saja. Pseudotourism bukan hanya melanda Indonesia, namun juga beberapa negara yang selama ini mengandalkan pariwisata sebagai sumber pendapatan. Kegiatan pariwisata tetap berlangsung, namun sangat rendah kontribusinya bagi perekonomian negara dan masyarakat.

Seperti dikatakan Marselinus Nirwan Luru (dalam detikNews, 26/05/2025), geliat pariwisata tampak semarak di permukaan, angka kunjungan tinggi dan destinasi ramai, namun tidak sejalan dengan peningkatan pendapatan lokal. Dalam banyak kasus, kehadiran wisatawan dalam jumlah besar tidak diiringi dengan durasi tinggal yang memadai, tingkat okupansi akomodasi yang stabil, maupun pertumbuhan pendapatan pelaku usaha setempat. Kontribusi ekonomi yang semestinya mengalir ke pemerintah atau komunitas lokal justru menyisakan angka statistik tanpa jejak nyata.

Pepesan Kosong

Pseudotourism bukan semata soal tingkat kunjungan wisatawan yang semu. Banyak kegiatan pariwisata yang seolah-olah baik, namun nyatanya semu. Perkembangan pariwisata yang diklaim mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, ternyata hanya pepesan kosong. Banyak destinasi wisata yang mengklaim indah, namun hanya pepesan kosong; tak bermakna dan tak bernilai karena melanggar aturan dalam proses pengembangannya.

Banyak daerah yang menyatakan pengembangan pariwisatanya berorientasi pada ekowisata dan pariwisata berkualitas. Akan tetapi, praktiknya jauh dari prinsip itu. Pengembangan pariwisata tidak berwawasan lingkungan, namun justru merusak lingkungan. Ingin mengembangkan pariwisata berkualitas, tetapi mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya. Itu semua pseudotourism dan pepesan kosong belaka.

Banyak contoh kasus pariwisata semu dalam pengembangannya. Konsep pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) acapkali juga hanya pepesan kosong. Pengembangan pariwisata tidak mampu berkelanjutan secara ekologis, karena sawah dan hutan tergusur oleh beton-beton hotel berbintang.

Budaya, seni, dan tradisi yang dianggap menjadi daya tarik wisata tak luput memberi andil dalam pariwisata semu. Autentisitas budaya harus tuduk pada komodifikasi untuk kepentingan tontonan bagi wisatawan. Dan pseudotourism memang tidak menghargai sisi autentik dari nilai-nilai budaya.

Kedok-kedok dalam pengembangan pariwisata membuatnya sekadar pepesan kosong. Keberlanjutan yang semestinya bersifat ekonomis menjadi semu, tak lagi bernilai dan bermakna. Pariwisata sering diklaim dapat menyejahterakan ekonomi masyarakat, tetapi nyatanya lebih menyuburkan investor.

Belum lagi keberlanjutan secara sosial. Pariwisata kadang berkedok dapat memberdayakan masyarakat di sekitar destinasi wisata. Itu pun tak luput dari pepesan kosong. Masyarakat tetap menjadi penonton dari gemerlap pariwisata di daerahnya; bahkan bisa jadi terusir dari rumahnya untuk kepentingan pariwisata.

Desa wisata yang digadang-gadang menjadi ujung tombak pariwisata Tanah Air ikut terjebak dalam pseudoturism. Pengembangan desa wisata yang semestinya bertujuan menjaga dan melestarikan alam, justru dipenuhi wahana wisata. Desa wisata tak lagi alami.

Penguatan

Mencegah pseudotourism tidaklah mudah. Apalagi pariwisata sudah dianggap sebagai rezim yang mampu mengobati kemiskinan serta sumber pendapatan bagi daerah dan negara. Mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya dan menguras kantong wisatawan adalah doktrin rezim pariwisata. Semua bakal tunduk pada pariwisata.

Maka, cara terbaik untuk melindungi masyarakat, lingkungan, alam, dan budaya dari ganasnya rezim pariwisata adalah dengan melakukan penguatan. Komunitas masyarakat lokal menjadi pihak yang paling penting untuk diberikan penguatan; bukan sekadar jargon pemberdayaan yang seringkali menjadi pepesan kosong.

Penguatan komunitas masyarakat lokal adalah memberikan otonomi tanpa syarat kepada masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata di daerahnya. Konsep Community Base Tourism (CBT) harus dimaknai sebagai kekuatan komunitas lokal untuk menentukan arah pariwisata di daerahnya. Apa pun bentuk pariwisata yang akan dikembangkan di daerah, masyarakatlah yang menentukan, bukan investor yang ujug-ujug datang membawa segepok uang.

Diperlukan penguatan komunitas lokal yang didukung oleh akademisi, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan kelompok kristis agar terjaga kelestarian dan keberlanjutan dalam pengembangan pariwisata di daerah. Keterlibatan mereka akan membuat komunitas lokal tidak sendirian dalam memperjuangkan hak untuk ikut menikmati kue pariwisata.

Tak kalah penting adalah penguatan di tubuh pemerintah. Mentalitas dan integritas perlu dibangun dengan kokoh agar kebijakan di bidang pariwisata benar-benar berpihak kepada masyarakat. Penguatan birokrasi pemerintahan akan membuat aparatur negara tidak mudah tergiur suap maupun gratifikasi untuk memuluskan proyek-proyek pariwisata yang bermasalah. Persoalan perizinan menjadi titik rawan bagi aparatur pemerintah untuk bersekongkol dengan investor.

Pseudotourism semogalah bukan lahir dari pemerintahan yang semu juga. Pemerintahan yang tidak autentik dalam membuat kebijakan. Pemerintah yang seolah-olah ingin memajukan dan menyejahterakan rakyat, namun nyatanya justru membebani dan membuat rakyat semakin sengsara. Jika itu terjadi, apa pun upaya untuk memajukan sektor pariwisata hanya pepesan kosong belaka. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Desa Wisata, Ujung Tombak yang Tumpul?
Waspada “Cancel Culture” di Sektor Pariwisata
Apa Kabar 5 Destinasi Wisata Super Prioritas?
“Influencer” dan Promosi Pariwisata
Ironi Efisiensi dan Bangga Berwisata di Indonesia
Berwisata ke Rumah Jokowi: Ada Apa?
Tags: Pariwisatawisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fenomena Alam dari 34 Karya Perupa Jago Tarung Yogyakarta di Santrian Art Gallery

Next Post

Diskusi dan Pameran Seni dalam Peluncuran Fasilitas Black Soldier Fly di Kulidan Kitchen and Space

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Diskusi dan Pameran Seni dalam Peluncuran Fasilitas Black Soldier Fly di Kulidan Kitchen and Space

Diskusi dan Pameran Seni dalam Peluncuran Fasilitas Black Soldier Fly di Kulidan Kitchen and Space

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co