22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Noctourism”: Berwisata Sambil Begadang

Chusmeru by Chusmeru
June 1, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

“Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya, begadang boleh saja, kalau ada perlunya”. Itulah sebait lagu dangdut yang dibawakan Rhoma Irama pada tahun 1970-an. Pada masanya, lagu itu begitu terkenal di kalangan anak muda. Hal itu tak terlepas dari aktivitas anak muda kala itu yang suka tidur larut malam, atau biasa disebut begadang.

 Lagu yang berisi nasihat kepada kawula muda untuk tidak begadang jika tak ada perlunya itu didasari pada fenomena saat itu. Anak-anak muda berkumpul malam hari dan melakukan hal-hal yang kadang kurang berguna.

Kekinian, begadang menjadi aktivitas berwisata yang banyak dilakukan orang. Berwisata di malam hari disebut dengan noctourism. Konsep ini telah berkembang di beberapa negara, terutama di kota-kota besar yang memiliki atraksi wisata yang menarik dan kegiatan malam yang beragam.

Berbagai kegiatan dapat dilakukan dalam noctourism. Mengunjungi tempat-tempat hiburan malam seperti klub malam, bar, dan restoran yang buka hingga larut malam merupakan kenikmatan tersendiri bagi wisatawan.

Banyak pula atraksi seni budaya yang dipertunjukkan pada malam hari. Taman bermain dan atraksi cahaya malam hari merupakan keindahan yang biasanya diburu wisatawan. Sekadar jalan-jalan menikmati pemandangan kota di malam hari atau mengunjungi landmark terkenal di malam hari, selain murah juga menyenangkan.

Tidak sedikit pula biro perjalanan wisata yang menawarkan paket wisata malam hari. Aktivitasnya bisa berupa eksplorasi kota malam hari hingga berburu kuliner khas suatu kota di malam hari. Sangat sederhana, namun memiliki nilai hiburan yang tinggi bagi wisatawan.

Noctourism tentu saja mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Peredaran uang bukan hanya terjadi pada siang hari, tetapi juga pada larut malam. Wisatawan sendiri memetik manfaat pengalaman unik berwisata pada malam hari yang sensasinya berbeda dengan siang hari.

Berbagai Kota Wisata Malam

Banyak kota di seluruh dunia yang cocok untuk kegiatan noctourism. Masing-masing menawarkan pengalaman unik pada malam hari. Kota Tokyo di Jepang dikenal dengan kehidupan malamnya yang beragam, dari bar unik di Shinjuku hingga klub malam yang mewah di Roppongi. Untuk mendapatkan pengalaman yang autentik, wisatawan dapat menikmati kuliner malam, tur ke kuil-kuil yang buka malam, dan menikmati suasana lampu neon yang ikonik.

New York City, Amerika Serikat merupakan kota yang benar-benar tak pernah tidur. Wisatawan bisa mengunjungi Times Square yang terang benderang sepanjang malam, atau menikmati berbagai pilihan restoran dan bar yang buka 24 jam. Wisatawan juga akan mendapat pengalaman menyaksikan Broadway Show pada malam hari, atau tur malam ke Central Park yang memberi suasana berbeda.

Kota Paris di Prancis dikenal sebagai kota yang romantis. Paris menawarkan pengalaman noctourism yang penuh pesona, dengan berbagai kafe dan restoran yang buka hingga larut malam. Mengunjungi Menara Eiffel yang diterangi lampu di malam hari, atau tur malam ke Montmartre yang penuh seni dan budaya merupakan sesuatu yang memanjakan mata.

Di kawasan Asia Tenggara, Kuala Lumpur memiliki berbagai pusat perbelanjaan dan restoran yang buka hingga malam, serta atraksi-atraksi ikonik yang dapat dinikmati pada malam hari, seperti Petronas Twin Towers yang menyala indah. Wisatawan dapat melakukan tur malam ke Batu Caves atau menikmati kuliner jalanan di pasar malam.

Indonesia memiliki beberapa kota yang sangat cocok untuk kegiatan noctourism, menawarkan berbagai aktivitas menarik yang bisa dinikmati pada malam hari. Jakarta adalah salah satu pilihan destinasi wisata malam. Selain bar, kafe, dan restoran, wisatawan bisa menjelajahi berbagai kawasan seperti Kemang, SCBD, atau Kota Tua yang menawarkan suasana berbeda di malam hari.

Bali, utamanya Denpasar, Badung, dan Gianyar merupakan destinasi noctourism yang layak dinikmati wisatawan. Teramat banyak bar dan klub malam yang buka hingga dini hari. Menikmati makan malam di bibir pantai Jimbaran akan mendatangkan sensasi tersendiri.

Yogyakarta menawarkan pengalaman noctourism yang kaya akan budaya, terutama di sekitar kawasan Malioboro yang sangat hidup di malam hari. Selain itu, banyak kafe, restoran, dan tempat hiburan yang buka sampai larut malam. Menikmati makan malam dengan kuliner khas Yogya sering menjadi tujuan wisatawan.

Bandung memiliki suasana yang lebih santai namun tetap menyenangkan untuk noctourism. Banyak kafe dan restoran dengan pemandangan indah, dan kawasan Dago serta Lembang sering menjadi pusat kegiatan malam. Menikmati kuliner malam di Jalan Riau atau Dago, atau mengunjungi Bukit Moko yang memberikan pemandangan kota Bandung yang indah di malam hari tentu mengasyikkan.

Selain kota-kota tersebut, Indonesia masih banyak memiliki destinasi wisata malam yang cocok untuk begadang. Solo, Surabaya, Medan, Batam, dan Lombok adalah kota-kota yang siap menerima wisatawan di malam hari. Semua memiliki keunikan dan pengalaman berwisata yang berbeda.

Kewaspadaan

Noctourism memang menawarkan pengalaman menarik, namun seperti halnya kegiatan wisata lainnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diwaspadai agar pengalaman tersebut tetap aman dan menyenangkan. Keamanan pribadi wisatawan merupakan hal penting. Di kota-kota besar risiko terjadinya tindak kriminalitas sangat besar, seperti penipuan, pencurian, dan pelecehan seksual.

Kewaspadaan di jalanan sangat perlu diperhatikan, terutama bagi yang menikmati wisata malam sendirian. Tempat yang sepi atau tidak familiar perlu dihindari. Jika tidak berkendara sendiri, pastikan menggunakan layanan taksi atau transportasi yang aman dan dapat dipercaya.

Faktor kesehatan layak menjadi pertimbangan. Aktivitas noctourism seringkali berlangsung hingga larut malam atau bahkan dini hari. Jika wisatawan tidak cukup tidur, ini dapat mengganggu kesehatan  atau membuat  kelelahan pada keesokan harinya.

Kehidupan malam seringkali identik dengan konsumsi alkohol atau makanan yang tidak sehat, yang bisa berdampak buruk pada tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan. Bagi yang mengkonsumsi alkohol, pastikan menjaga batasan agar aman, dan mengatur pola makan agar tetap sehat.

Terpenting, untuk memastikan pengalaman noctourism yang aman, wisatawan dapat mencari informasi dan ulasan dari wisatawan lain. Gunakan situs atau aplikasi yang terpercaya untuk mendapatkan rekomendasi tempat-tempat yang aman dan berkualitas.

Wisata malam memang menjanjikan sensasi tersendiri dibanding siang hari. Meski demikian, seperti lagu Rhoma Irama di atas, berwisata di malam hari tidak disarankan terlalu sering dilakukan. Sebab, begadang yang berlebihan tentu akan berdampak buruk bagi kesehatan. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

“Storynomics Tourism”: Tutur Cerita dalam Wisata
“Study Tour”, Bukan Remah-Remah dalam Pariwisata
“Pseudotourism”: Pepesan Kosong dalam Pariwisata
Desa Wisata, Ujung Tombak yang Tumpul?
Waspada “Cancel Culture” di Sektor Pariwisata
Apa Kabar 5 Destinasi Wisata Super Prioritas?
Tags: Pariwisatawisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lengkingan Gagak Hitam | Cerpen Mas Ruscitadewi

Next Post

Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik

Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co