14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lengkingan Gagak Hitam | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
May 31, 2025
in Cerpen
Lengkingan Gagak Hitam | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

AKU mengenal burung gagak sebagai burung pengabar kematian. Mungkin suara burung gagak yang terdengar di atas rumah seperti memanggil arwah seseorang untuk segera pulang. Saudara-saudara dan teman-temanku biasanya akan bergegas masuk kamar saat mendengar suara burung gagak, katanya mereka takut. Aku tak tahu apa yang ditakutkan. Tapi aku berusaha mengikuti arah suara burung itu. Aku ingin sekali melihat burung gagak hitam, tapi sampai dewasa aku tak pernah melihatnya secara langsung.

Di Pura Pangrebongan, Kesiman, saat ada upacara, palawatan (yang dipakai untuk membayangkan) Dewa berupa barong (berbentuk singa) dan rangda dihadirkan untuk berupacara. Sebelum prosesi acara dimulai, barong akan ditempatkan di sebuah balai di sebelah utara. Di bale itulah aku bisa dengan puas memandang barong dari Banjar Singgi Sanur yang bulu-bulunya terbuat dari bulu burung gagak hitam.

“Kalau barong dari Singgi sudah datang, barulah acara pengrebongan bisa dimulai, ” jelas seorang lelaki kepada perempuan disampingnya yang mengangguk pelan.

“Singgi itu kan tempat orang sakti-sakti kan?” bisik si perempuan.

Si lelaki mengganguk dan tersenyum. Aku tak mengerti apa yang di percakapan kedua orang itu. Yang aku kenal hanya satu barong di pengrebongan yang berwarna hitam yaitu barong dari Banjar Singgi, Sanur, yang katanya tempat orang-orang sakti.

Aku tak pernah tahu apa hubungan barong hitam, Singgi Sanur dan bulu gagak hitam, dan orang sakti.

Yang kutahu sampai saat ini aku suka warna hitam yang membuatku nyaman dan damai. Warna hitam yang sama dengan bulu bulu gagak hitam itu.

Saat mengantar Buda, seorang wartawan, aku berkesempatan mendengar cerita tentang asal muasal bulu barong hitam itu.

“Bulu-bulu burung gagak hitam untuk barong itu, didapat dengan memohon di sebuah pura dari sekitar  Mengwi, Badung. Kami memohon bulu gagak hitam kepada Bhatara di sana. Entah dari mana datangnya gagak-gagak hitam itu, tiba-tiba bulu-bulu gagak hitam telah memenuhi halaman pura,” cerita seorang lelaki yang dipanggil Jro Klian itu.

“Wah, merinding bulu tenggkuk tiang, Jro, “kata Buda sambil sambil meraba-raba tenggkuknya dan menunjukkan bulu-bulu tangannya yang berdiri.

Wawancara terhenti, Jro Klian diam, kemudian mengambil dupa dan menyalakannya. Buda melirik ke arahku, “Apakah kau tak merasakan energi dingin yang halus menyusup,” bisiknya.

Aku menggeleng, karena memang tak merasakan apa-apa.

“Beliau hadir dan menyapa kalian,” kata Jro Kelian serius. Buda langsung mencakupkan tangan,  menoleh padaku, memberi isyarat agar aku ikut mencakupkan tangan.

Buda melanjutkan wawancara, tetapi aku lebih tertarik melihat dari dekat Barong berbulu hitam yang tampak sangat dalam dan gagah itu.

Dalam perjalanan pulang Buda kembali memastikan kenapa aku tidak merasakan kehadiran “beliau” yang membuat bulu kuduk dan bulu tangannya berdiri.

“Mungkin karena tubuhku dominan air, sehingga kurang peka dengan energi dingin lainnya,” jawabku sekenanya.

Buda manggut-manggut, tapi tampaknya ia masih penasaran.

Di lain waktu, Buda kembali menggugatku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa kujawab sekenanya, yang akhirnya juga membuatku bertanya-tanya, dan terus bertanya.

Saat itu Buda mengajakku meliput acara upacara di sebuah pura dan mewancarai seorang pimpinan pemangku. Aku tak terlalu perhatian dengan pertanyaan Buda, mataku lebih tertuju pada adegan penari-penari tua yang menari gemulai, seperti daun dihembus angin.

Entah apa yang ditanya oleh Buda pada pimpinan pemangku, sehingga membuat Buda tegang seperti berusaha mengunci tubuhnya agar tidak kerasukan. Aku mendekatinya memeluk pinggangnya, berusaha menyentuh dan mengelus tulang belakang dan tengkuknya. Sentuhan dan belaianku, rupanya membuat Buda menjadi lebih tenang. Sementara para pemangku dan orang-orang mulai kerasukan, aku berhasil mengajak Buda keluar dari keriuhan orang-orang yang kerasukan.

Di luar pura, kami menenangkan diri, sebotol air dingin menyegarkan kembali ingatan Buda, sebelum aku mengantarnya pulang.

Keesokannya Buda ke rumahku  kembali dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa kujawab.

“Waktu itu aku rasakan ada hawa panas yang berusaha masuk ke tulang belakang dan tengkuk, aku berusaha menahannya, saat kau memegangku, hawa panas itu mendingin. Kenapa kau tidak kena hawa panas itu, Bagaimana kau melakukannya, dan kenapa aku bisa hampir kerasukan?” tanya Buda panjang lebar.

“Mungkin karena aku sakti, ” jawabku sombong sambil tertawa terbahak.

Mendengar jawabanku Buda hanya nyengir kuda. Kemudian bertanya serius dan bagiku sangat serius.

“Katamu, mungkin tubuhmu dominan air, kenapa tubuhmu tidak peka pada api, lalu kenapa hanya aku yang bisa merasakan, dan bisa melihat hal-hal yang tak bisa kau lihat,” tanya Buda lebih pada dirinya sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab itu juga kutanyakan pada diriku sendiri.

Walaupun kami sama-sama belum mendapat jawabannya. Buda masih sering bercerita padaku tentang pengalaman-pengalaman serunya sebagai wartawan. Juga tentang penglihatan-penglihatannya. Aku percaya padanya, karena apa yang dia lihat kadang bisa juga kurasakan, dan bisa kutemukan  logika-logikanya.

Sudah lama aku melihat bayangan-bayangan burung gagak hitam yang melintas-lintas di atas atap rumahku. Tak seperti pengalaman masa kecilku, aku tak mendengar suara gagak yang menjadi pengabar kematian.

Belakangan aku juga mendengar cicit anak burung-burung di atap rumahku. Bisa kurasakan suara dua cicit anak burung yang bersahutan.

Saat Buda ke rumahku, dia kaget dan ketakutan.

“Ada burung gagak hitam jahat bersarang di atap rumahmu, dengan dua anaknya,” kata Buda sambil cepat-cepat pergi dari rumahku. Anehnya walapun Buda mengatakan burung gagak dan dua anaknya adalah burung yang jahat, aku tak merasa takut. Mungkin karena kesukaanku pada warna hitam yang merupakan ciri khas bulu burung gagak.

Sejak itu Buda tak pernah mau lagi berkunjung ke rumahku. Buda memilih ketemu dan ngobrol bersamaku di warung atau di tempat-tempat umum, katanya biar obrolan kami tidak disadap.

Banyak hal yang terjadi sejak kehadiran dua anak burung itu, tapi kupahami semua itu adalah bagian dari pembelajaranku.

Kini tak kudengar lagi suara cicit dua anak burung.

Mungkin dia telah besar dan bisa terbang bebas.

Belakangan kudengar lagi suara burung gagak yang melintas-lintas di atas atap rumahku. Kali ini lengkingannya begitu keras, dan sangat keras, ia berputar- putar, seperti ada yang dicarinya. Aku penasaran, merusaha melihatnya dari sela rimbunan daun-daun kamboja.

Astaga, tubuh burung gagak hitam itu tinggi dan besar, menyerupai manusia hitam bersayap.

” Gaaak Gaaak Gaaak…..Di mana dia, di mana dia, ” suara paraunya melengking-lengking. Tumben aku merasa sedikit takut, sebelum hujan turun dengan deras dan suara petir menyambar-nyambar.

“Duaar!”

Terdengar ledakan, dan lengkingan parau suara gagak itu menghilang dan makin menghilang. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Leaaaaakkk | Cerpen Mas Ruscitadewi
Toh Langkir dan Perang Itu | Cerpen Mas Ruscitadewi
Rudra Tiga | Cerpen Mas Ruscitadewi
Mimpi-mimpi Dewi Sri | Cerpen Mas Ruscitadewi
Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Stasiun, Lorong, Diam

Next Post

“Noctourism”: Berwisata Sambil Begadang

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

“Noctourism”: Berwisata Sambil Begadang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co