2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lengkingan Gagak Hitam | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
May 31, 2025
in Cerpen
Lengkingan Gagak Hitam | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

AKU mengenal burung gagak sebagai burung pengabar kematian. Mungkin suara burung gagak yang terdengar di atas rumah seperti memanggil arwah seseorang untuk segera pulang. Saudara-saudara dan teman-temanku biasanya akan bergegas masuk kamar saat mendengar suara burung gagak, katanya mereka takut. Aku tak tahu apa yang ditakutkan. Tapi aku berusaha mengikuti arah suara burung itu. Aku ingin sekali melihat burung gagak hitam, tapi sampai dewasa aku tak pernah melihatnya secara langsung.

Di Pura Pangrebongan, Kesiman, saat ada upacara, palawatan (yang dipakai untuk membayangkan) Dewa berupa barong (berbentuk singa) dan rangda dihadirkan untuk berupacara. Sebelum prosesi acara dimulai, barong akan ditempatkan di sebuah balai di sebelah utara. Di bale itulah aku bisa dengan puas memandang barong dari Banjar Singgi Sanur yang bulu-bulunya terbuat dari bulu burung gagak hitam.

“Kalau barong dari Singgi sudah datang, barulah acara pengrebongan bisa dimulai, ” jelas seorang lelaki kepada perempuan disampingnya yang mengangguk pelan.

“Singgi itu kan tempat orang sakti-sakti kan?” bisik si perempuan.

Si lelaki mengganguk dan tersenyum. Aku tak mengerti apa yang di percakapan kedua orang itu. Yang aku kenal hanya satu barong di pengrebongan yang berwarna hitam yaitu barong dari Banjar Singgi, Sanur, yang katanya tempat orang-orang sakti.

Aku tak pernah tahu apa hubungan barong hitam, Singgi Sanur dan bulu gagak hitam, dan orang sakti.

Yang kutahu sampai saat ini aku suka warna hitam yang membuatku nyaman dan damai. Warna hitam yang sama dengan bulu bulu gagak hitam itu.

Saat mengantar Buda, seorang wartawan, aku berkesempatan mendengar cerita tentang asal muasal bulu barong hitam itu.

“Bulu-bulu burung gagak hitam untuk barong itu, didapat dengan memohon di sebuah pura dari sekitar  Mengwi, Badung. Kami memohon bulu gagak hitam kepada Bhatara di sana. Entah dari mana datangnya gagak-gagak hitam itu, tiba-tiba bulu-bulu gagak hitam telah memenuhi halaman pura,” cerita seorang lelaki yang dipanggil Jro Klian itu.

“Wah, merinding bulu tenggkuk tiang, Jro, “kata Buda sambil sambil meraba-raba tenggkuknya dan menunjukkan bulu-bulu tangannya yang berdiri.

Wawancara terhenti, Jro Klian diam, kemudian mengambil dupa dan menyalakannya. Buda melirik ke arahku, “Apakah kau tak merasakan energi dingin yang halus menyusup,” bisiknya.

Aku menggeleng, karena memang tak merasakan apa-apa.

“Beliau hadir dan menyapa kalian,” kata Jro Kelian serius. Buda langsung mencakupkan tangan,  menoleh padaku, memberi isyarat agar aku ikut mencakupkan tangan.

Buda melanjutkan wawancara, tetapi aku lebih tertarik melihat dari dekat Barong berbulu hitam yang tampak sangat dalam dan gagah itu.

Dalam perjalanan pulang Buda kembali memastikan kenapa aku tidak merasakan kehadiran “beliau” yang membuat bulu kuduk dan bulu tangannya berdiri.

“Mungkin karena tubuhku dominan air, sehingga kurang peka dengan energi dingin lainnya,” jawabku sekenanya.

Buda manggut-manggut, tapi tampaknya ia masih penasaran.

Di lain waktu, Buda kembali menggugatku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa kujawab sekenanya, yang akhirnya juga membuatku bertanya-tanya, dan terus bertanya.

Saat itu Buda mengajakku meliput acara upacara di sebuah pura dan mewancarai seorang pimpinan pemangku. Aku tak terlalu perhatian dengan pertanyaan Buda, mataku lebih tertuju pada adegan penari-penari tua yang menari gemulai, seperti daun dihembus angin.

Entah apa yang ditanya oleh Buda pada pimpinan pemangku, sehingga membuat Buda tegang seperti berusaha mengunci tubuhnya agar tidak kerasukan. Aku mendekatinya memeluk pinggangnya, berusaha menyentuh dan mengelus tulang belakang dan tengkuknya. Sentuhan dan belaianku, rupanya membuat Buda menjadi lebih tenang. Sementara para pemangku dan orang-orang mulai kerasukan, aku berhasil mengajak Buda keluar dari keriuhan orang-orang yang kerasukan.

Di luar pura, kami menenangkan diri, sebotol air dingin menyegarkan kembali ingatan Buda, sebelum aku mengantarnya pulang.

Keesokannya Buda ke rumahku  kembali dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa kujawab.

“Waktu itu aku rasakan ada hawa panas yang berusaha masuk ke tulang belakang dan tengkuk, aku berusaha menahannya, saat kau memegangku, hawa panas itu mendingin. Kenapa kau tidak kena hawa panas itu, Bagaimana kau melakukannya, dan kenapa aku bisa hampir kerasukan?” tanya Buda panjang lebar.

“Mungkin karena aku sakti, ” jawabku sombong sambil tertawa terbahak.

Mendengar jawabanku Buda hanya nyengir kuda. Kemudian bertanya serius dan bagiku sangat serius.

“Katamu, mungkin tubuhmu dominan air, kenapa tubuhmu tidak peka pada api, lalu kenapa hanya aku yang bisa merasakan, dan bisa melihat hal-hal yang tak bisa kau lihat,” tanya Buda lebih pada dirinya sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab itu juga kutanyakan pada diriku sendiri.

Walaupun kami sama-sama belum mendapat jawabannya. Buda masih sering bercerita padaku tentang pengalaman-pengalaman serunya sebagai wartawan. Juga tentang penglihatan-penglihatannya. Aku percaya padanya, karena apa yang dia lihat kadang bisa juga kurasakan, dan bisa kutemukan  logika-logikanya.

Sudah lama aku melihat bayangan-bayangan burung gagak hitam yang melintas-lintas di atas atap rumahku. Tak seperti pengalaman masa kecilku, aku tak mendengar suara gagak yang menjadi pengabar kematian.

Belakangan aku juga mendengar cicit anak burung-burung di atap rumahku. Bisa kurasakan suara dua cicit anak burung yang bersahutan.

Saat Buda ke rumahku, dia kaget dan ketakutan.

“Ada burung gagak hitam jahat bersarang di atap rumahmu, dengan dua anaknya,” kata Buda sambil cepat-cepat pergi dari rumahku. Anehnya walapun Buda mengatakan burung gagak dan dua anaknya adalah burung yang jahat, aku tak merasa takut. Mungkin karena kesukaanku pada warna hitam yang merupakan ciri khas bulu burung gagak.

Sejak itu Buda tak pernah mau lagi berkunjung ke rumahku. Buda memilih ketemu dan ngobrol bersamaku di warung atau di tempat-tempat umum, katanya biar obrolan kami tidak disadap.

Banyak hal yang terjadi sejak kehadiran dua anak burung itu, tapi kupahami semua itu adalah bagian dari pembelajaranku.

Kini tak kudengar lagi suara cicit dua anak burung.

Mungkin dia telah besar dan bisa terbang bebas.

Belakangan kudengar lagi suara burung gagak yang melintas-lintas di atas atap rumahku. Kali ini lengkingannya begitu keras, dan sangat keras, ia berputar- putar, seperti ada yang dicarinya. Aku penasaran, merusaha melihatnya dari sela rimbunan daun-daun kamboja.

Astaga, tubuh burung gagak hitam itu tinggi dan besar, menyerupai manusia hitam bersayap.

” Gaaak Gaaak Gaaak…..Di mana dia, di mana dia, ” suara paraunya melengking-lengking. Tumben aku merasa sedikit takut, sebelum hujan turun dengan deras dan suara petir menyambar-nyambar.

“Duaar!”

Terdengar ledakan, dan lengkingan parau suara gagak itu menghilang dan makin menghilang. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Leaaaaakkk | Cerpen Mas Ruscitadewi
Toh Langkir dan Perang Itu | Cerpen Mas Ruscitadewi
Rudra Tiga | Cerpen Mas Ruscitadewi
Mimpi-mimpi Dewi Sri | Cerpen Mas Ruscitadewi
Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Stasiun, Lorong, Diam

Next Post

“Noctourism”: Berwisata Sambil Begadang

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

“Noctourism”: Berwisata Sambil Begadang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co