14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
July 29, 2023
in Cerpen
Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

DI AKHIR jaman banyak sekali dewa-dewi yang turun menitis ke bumi mayapada. Selain Mahadewa yang menitis menjadi gajah yang simbolik, yang tak pernah sepenuh seluruh bisa digambarkan oleh orang-orang yang buta, dewa-dewi itu menitis tidak saja menjadi orang hebat, dan terpandang, juga menjadi bintang, tumbuh-tumbuhan atau gunung, hutan bahkan batu dan debu. 

Mahadewa menitis menjadi gajah? Dewa-dewi di sorga itu masih tak paham kenapa Mahadewa, junjungan para Dewa itu memilih menjadi gajah. Kenapa juga putra Mahadewa disimbolkan berkepala gajah? Sosok bertubuh manusia dan berkepala gajah bernama Ganesha itu bahkan dianggap sebagai manisfestasi Tuhan atau Mahadewa itu sendiri. 

Berbagai pertanyaan menjadi teka-teki tak terjawab bagi penghuni sorga, Para apsara dan apsari hanya bisa bergosip dengan berbisik- bisik, sambil membidik-bidik jawaban yang mungkin tersimpan dalam lirik lagu yang dinyanyikan Naradha. 

“Gajah adalah binatang besar, dengan kekuatan besar, yang memiliki  ketenangan juga kebijaksanaan.”

Dewa Indra mencoba memberi gambaran untuk memancing logika berpikir para Apsara-Apsari itu. Tapi tampaknya tak berhasil.

Apsara-Apsari itu, laki maupun perempuan tetap dengan kebiasaannya, ribet dengan penampilan, dari jenis warna kain, bentuk dan gaya busana, perhiasan, rias wajah, memutihkan kulit yang hitam dan menghitamkan kulit yang terlalu putihlah, memancungkan hidung menyulam alis, memakai rambut palsu, bulu mata palsu, kuku palsu, bahkan sampai payudara dan pantat palsu. 

“Bagaimana mereka bisa membantuku berperang di mayapada duhhh,”  keluh Dewa Indra sambil membuang nafas panjang. Senjata petir di tangannya berkilat-kilat, memberi warna dan cahaya indah di sorgaloka. 

Bukannya takut, Apsara-Apsari itu malah sibuk berswafoto dengan gaya dan foto menantang. 

Seorang Apsari malah mendekat dan berusaha menyentuh kilatan petir yang berpendar dari tangan kiri Dewa Indra. Apsara-Apasari yang lain bersorak riuh, seolah menyambut seorang pahlawan hebat dan mereka baru tersentak kaget saat tubuh temannya terbakar hangus. Yang tersisa akhirnya hanya tangis, dan kata-kata penyesalan yang mubazir, karena esoknya dan esoknya lagi mereka akan tetap mengulangi lagi kesalahan yang sama,, walau dalam bentuk dan jenis yang berbeda. 

“Gajah tetaplah seekor bintang yang seberapapun besar dan tingginya tetaplah mahluk yang terbatas, ada ujung dan pangkalnya, prilaku, energi dan kekuatannya bisa, dipelajari, dianalisa untuk kemudian dapat diperkirakan kesimpulannya,” nyanyian riang Naradha seperti memberi kisi-kisi kepada pendengarnya.

Para Apsara-Apsari, Bidadari dan Bidadara, terpaku, memandang Rsi Naradha dengan lugu. Ingat kembali pada yang ingin mereka tahu. 

Mereka kembali mencari-cari,  kesana-sini untuk dapatkan refrensi. Mengumpulkan tulisan dan data tentang gajah, mengklipingnya, membingkainya, membagikannya di media sosial, dan setiap saat mengecek komentar dan menghitung tanda like untuk unggahannya sambil senyum-senyum sendiri.

“Mahadewa memang aneh. Coba kalau di alam manusia ada yang lahir dengan kepala gajah, bertelinga lebar dan berbelalai, pasti dianggap cacat, dan mencemari lingkungan sehingga para suci yang merasa punya hubungan pribadi dengan  para dewa akan meminta dibuatkan upacara besar, sebesar-besarnya karena dinilai mencemari bumi,, semesta, tidak hanya memberi vibrasi buruk pada manusia, tapi juga mencemari tanah yang menyangga tubuhnya, air, api, udara dan ruang kosong yang menjadi satu kesatuan dengan jagat besar, makrokosmos, jasmani dan rohani. Anehnya Mahadewa tidak menegur para suci yang telah mencatut namanya untuk memperdaya orang-orang polos dan tak berdaya, ” kata seorang Apsara berapi-api.

“Sstt… Mahadewa menyukai gajah mungkin karena bertelinga besar dan lebar, sehingga daya dan jangkauan pendengarannya juga kuat dan peka, jangan-jangan…. “

Apsara itu tak melanjutkan  kata-katanya, wajahnya terlihat khawatir. Apsara-Apsari lain penasaran. Salah satu Apsari tersenyum manja sambil menggoda Dewa-Dewa. 

“Jangan-jangan apa?  Jangan-jangan Gajah Mahadewa yang sudah turun ke bumi mendengar gosip kita yang makin digosok makin sip  hihihi. Jangan khawatir, yang bisa dan bertahan menjadi Dewa karena telah teruji kesucian dan kebijaksanaannya. Kalau cepat tersinggung  yahhh namanya tinggal disisipi na aja, jadi denawa deh,”  kata Apsari yang paling cantik itu sambil melirik ke sana-sini seperti penari joged yang hendak mencari pengibing. 

Naradha tersenyum, Apsari  cantik tinggi semampai berkulit putih bersih bak susu itu memang paling cerdik  diantara yang lain. 

Dewa Indra semakin tak tahan melihat prilaku Apsara-Apsari pembantunya. Naradha mengerling jenaka, pancaran sinar matanya mengurai petir yang muncul dari tangan kiri Dewa Indra yang kesal. Petir itu pecah menjadi material padat kecil yang jatuh menyatu ke tansh, menjadi air jernih yang turun dan mengalir mengisi kerendahan, menjadi api yang membumbung ke atas, dan menjadi angin yang meruang. 

Para Dewa terkesima, menyadari daya penetralisir Dewa Rsi sepuh itu. 

“Kuncinya adalah ganesha,  gana isa, kekuatan esha kekuatan yang satukan.” Naradha bernyanyi riang dan jenaka, irama lagunya lucu ditimpa gelincing gelang kaki dan tangannya. Ia berjoged dengan Apsari cantik sembari  masuk di sela-sela kerumunan Apsara-Apsari dan Dewa-Dewi. 

Dewa-Dewi jadi ikut berdiskusi semangat, merasa  ingat. Dewa Brahma mengumpulkan pembantu-pembantunya, membisikan sesuatu. Merasa menemukan  cara yang jitu. 

“Ayo kita ciptakan sesuatu, kuncinya satu, keyakinan itu,” perintah Dewa Brahma pelan,  matanya awas, seperti takut pengetahuannya dicuri Dewa yang lain. Apsara-Apsari pembantunya mamggut-manggut.

Terdengar gumam, makin lama makin besar gaungnya. Dewa Brahma mengajak para  pembantunya membuat mantra-mantra pemujaan untuk Ganesha. Dewa Agni tak mau kalah, dengan pande-pande sorgaloka ia ciptakan berbagai senjata. 

Dewa Wisnu tersenyum manis, dengan kehalusan perasaannya ia membuat patung dan lukisan Ganesha yang indah, berjiwa. Dewa-dewa yang lain tak mau kalah,, mereka membuat berbagai bentuk persembahan untuk memuja Ganesha, para apsara-apsari juga ikut sibuk, menari, membuat kalungan bunga, menyiapkan susu dan berbagai hidangan. 

Sorgloka jadi meriah, seperti sedang ada festival besar. Dewa-dewi, Apsara-Apsari tampak sibuk, dan bersemangat. 

Apsari cantik tersenyum, mengerling genit pada Rsi Naradha, matanya yang bulat berputar-putar, merasa ada yang aneh dan lucu. Rsi Naradha tersenyum puas. 

Tiba-tiba terdengar bunyi Sangkakala, huu huuu….. 

“Ada kekuatan jahat yang maha besar sedang menyerang sorgaloka., ” lapor para penjaga.

Sorga tiba-tiba gelap. Dewa-Dewi, Apsara-Apsari diam, suasana hening, sepi  Semuanya kusyuk, perlahan tubuh Dewa Dewi Apsara-Apsari memendar cahaya terang, makin lama makin terang, memenuhi sorga juga teepancar ke mayapada. 

“Dengan menyatukan kekuatan kita bisa lakukan apa saja, dengan kekuatan Tuhan kita bisa hadapi segalanya,” suara hati Dewa Dewi menyebar ke hati Apsara-Apsari, meresap dan memenuhi relung-relung jiwa yang murni. [T]

  • BACA cerpen lainnya
Titisan | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji
Mahkota Cinta | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Muhammad Farhan Azizi | Di Katup Senapan

Next Post

“Digital Nomad”, Saat Ruang dan Waktu Jauh Berubah

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

“Digital Nomad”, Saat Ruang dan Waktu Jauh Berubah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co