2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
July 29, 2023
in Cerpen
Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

DI AKHIR jaman banyak sekali dewa-dewi yang turun menitis ke bumi mayapada. Selain Mahadewa yang menitis menjadi gajah yang simbolik, yang tak pernah sepenuh seluruh bisa digambarkan oleh orang-orang yang buta, dewa-dewi itu menitis tidak saja menjadi orang hebat, dan terpandang, juga menjadi bintang, tumbuh-tumbuhan atau gunung, hutan bahkan batu dan debu. 

Mahadewa menitis menjadi gajah? Dewa-dewi di sorga itu masih tak paham kenapa Mahadewa, junjungan para Dewa itu memilih menjadi gajah. Kenapa juga putra Mahadewa disimbolkan berkepala gajah? Sosok bertubuh manusia dan berkepala gajah bernama Ganesha itu bahkan dianggap sebagai manisfestasi Tuhan atau Mahadewa itu sendiri. 

Berbagai pertanyaan menjadi teka-teki tak terjawab bagi penghuni sorga, Para apsara dan apsari hanya bisa bergosip dengan berbisik- bisik, sambil membidik-bidik jawaban yang mungkin tersimpan dalam lirik lagu yang dinyanyikan Naradha. 

“Gajah adalah binatang besar, dengan kekuatan besar, yang memiliki  ketenangan juga kebijaksanaan.”

Dewa Indra mencoba memberi gambaran untuk memancing logika berpikir para Apsara-Apsari itu. Tapi tampaknya tak berhasil.

Apsara-Apsari itu, laki maupun perempuan tetap dengan kebiasaannya, ribet dengan penampilan, dari jenis warna kain, bentuk dan gaya busana, perhiasan, rias wajah, memutihkan kulit yang hitam dan menghitamkan kulit yang terlalu putihlah, memancungkan hidung menyulam alis, memakai rambut palsu, bulu mata palsu, kuku palsu, bahkan sampai payudara dan pantat palsu. 

“Bagaimana mereka bisa membantuku berperang di mayapada duhhh,”  keluh Dewa Indra sambil membuang nafas panjang. Senjata petir di tangannya berkilat-kilat, memberi warna dan cahaya indah di sorgaloka. 

Bukannya takut, Apsara-Apsari itu malah sibuk berswafoto dengan gaya dan foto menantang. 

Seorang Apsari malah mendekat dan berusaha menyentuh kilatan petir yang berpendar dari tangan kiri Dewa Indra. Apsara-Apasari yang lain bersorak riuh, seolah menyambut seorang pahlawan hebat dan mereka baru tersentak kaget saat tubuh temannya terbakar hangus. Yang tersisa akhirnya hanya tangis, dan kata-kata penyesalan yang mubazir, karena esoknya dan esoknya lagi mereka akan tetap mengulangi lagi kesalahan yang sama,, walau dalam bentuk dan jenis yang berbeda. 

“Gajah tetaplah seekor bintang yang seberapapun besar dan tingginya tetaplah mahluk yang terbatas, ada ujung dan pangkalnya, prilaku, energi dan kekuatannya bisa, dipelajari, dianalisa untuk kemudian dapat diperkirakan kesimpulannya,” nyanyian riang Naradha seperti memberi kisi-kisi kepada pendengarnya.

Para Apsara-Apsari, Bidadari dan Bidadara, terpaku, memandang Rsi Naradha dengan lugu. Ingat kembali pada yang ingin mereka tahu. 

Mereka kembali mencari-cari,  kesana-sini untuk dapatkan refrensi. Mengumpulkan tulisan dan data tentang gajah, mengklipingnya, membingkainya, membagikannya di media sosial, dan setiap saat mengecek komentar dan menghitung tanda like untuk unggahannya sambil senyum-senyum sendiri.

“Mahadewa memang aneh. Coba kalau di alam manusia ada yang lahir dengan kepala gajah, bertelinga lebar dan berbelalai, pasti dianggap cacat, dan mencemari lingkungan sehingga para suci yang merasa punya hubungan pribadi dengan  para dewa akan meminta dibuatkan upacara besar, sebesar-besarnya karena dinilai mencemari bumi,, semesta, tidak hanya memberi vibrasi buruk pada manusia, tapi juga mencemari tanah yang menyangga tubuhnya, air, api, udara dan ruang kosong yang menjadi satu kesatuan dengan jagat besar, makrokosmos, jasmani dan rohani. Anehnya Mahadewa tidak menegur para suci yang telah mencatut namanya untuk memperdaya orang-orang polos dan tak berdaya, ” kata seorang Apsara berapi-api.

“Sstt… Mahadewa menyukai gajah mungkin karena bertelinga besar dan lebar, sehingga daya dan jangkauan pendengarannya juga kuat dan peka, jangan-jangan…. “

Apsara itu tak melanjutkan  kata-katanya, wajahnya terlihat khawatir. Apsara-Apsari lain penasaran. Salah satu Apsari tersenyum manja sambil menggoda Dewa-Dewa. 

“Jangan-jangan apa?  Jangan-jangan Gajah Mahadewa yang sudah turun ke bumi mendengar gosip kita yang makin digosok makin sip  hihihi. Jangan khawatir, yang bisa dan bertahan menjadi Dewa karena telah teruji kesucian dan kebijaksanaannya. Kalau cepat tersinggung  yahhh namanya tinggal disisipi na aja, jadi denawa deh,”  kata Apsari yang paling cantik itu sambil melirik ke sana-sini seperti penari joged yang hendak mencari pengibing. 

Naradha tersenyum, Apsari  cantik tinggi semampai berkulit putih bersih bak susu itu memang paling cerdik  diantara yang lain. 

Dewa Indra semakin tak tahan melihat prilaku Apsara-Apsari pembantunya. Naradha mengerling jenaka, pancaran sinar matanya mengurai petir yang muncul dari tangan kiri Dewa Indra yang kesal. Petir itu pecah menjadi material padat kecil yang jatuh menyatu ke tansh, menjadi air jernih yang turun dan mengalir mengisi kerendahan, menjadi api yang membumbung ke atas, dan menjadi angin yang meruang. 

Para Dewa terkesima, menyadari daya penetralisir Dewa Rsi sepuh itu. 

“Kuncinya adalah ganesha,  gana isa, kekuatan esha kekuatan yang satukan.” Naradha bernyanyi riang dan jenaka, irama lagunya lucu ditimpa gelincing gelang kaki dan tangannya. Ia berjoged dengan Apsari cantik sembari  masuk di sela-sela kerumunan Apsara-Apsari dan Dewa-Dewi. 

Dewa-Dewi jadi ikut berdiskusi semangat, merasa  ingat. Dewa Brahma mengumpulkan pembantu-pembantunya, membisikan sesuatu. Merasa menemukan  cara yang jitu. 

“Ayo kita ciptakan sesuatu, kuncinya satu, keyakinan itu,” perintah Dewa Brahma pelan,  matanya awas, seperti takut pengetahuannya dicuri Dewa yang lain. Apsara-Apsari pembantunya mamggut-manggut.

Terdengar gumam, makin lama makin besar gaungnya. Dewa Brahma mengajak para  pembantunya membuat mantra-mantra pemujaan untuk Ganesha. Dewa Agni tak mau kalah, dengan pande-pande sorgaloka ia ciptakan berbagai senjata. 

Dewa Wisnu tersenyum manis, dengan kehalusan perasaannya ia membuat patung dan lukisan Ganesha yang indah, berjiwa. Dewa-dewa yang lain tak mau kalah,, mereka membuat berbagai bentuk persembahan untuk memuja Ganesha, para apsara-apsari juga ikut sibuk, menari, membuat kalungan bunga, menyiapkan susu dan berbagai hidangan. 

Sorgloka jadi meriah, seperti sedang ada festival besar. Dewa-dewi, Apsara-Apsari tampak sibuk, dan bersemangat. 

Apsari cantik tersenyum, mengerling genit pada Rsi Naradha, matanya yang bulat berputar-putar, merasa ada yang aneh dan lucu. Rsi Naradha tersenyum puas. 

Tiba-tiba terdengar bunyi Sangkakala, huu huuu….. 

“Ada kekuatan jahat yang maha besar sedang menyerang sorgaloka., ” lapor para penjaga.

Sorga tiba-tiba gelap. Dewa-Dewi, Apsara-Apsari diam, suasana hening, sepi  Semuanya kusyuk, perlahan tubuh Dewa Dewi Apsara-Apsari memendar cahaya terang, makin lama makin terang, memenuhi sorga juga teepancar ke mayapada. 

“Dengan menyatukan kekuatan kita bisa lakukan apa saja, dengan kekuatan Tuhan kita bisa hadapi segalanya,” suara hati Dewa Dewi menyebar ke hati Apsara-Apsari, meresap dan memenuhi relung-relung jiwa yang murni. [T]

  • BACA cerpen lainnya
Titisan | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji
Mahkota Cinta | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Muhammad Farhan Azizi | Di Katup Senapan

Next Post

“Digital Nomad”, Saat Ruang dan Waktu Jauh Berubah

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

“Digital Nomad”, Saat Ruang dan Waktu Jauh Berubah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co