23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
July 29, 2023
in Cerpen
Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

DI AKHIR jaman banyak sekali dewa-dewi yang turun menitis ke bumi mayapada. Selain Mahadewa yang menitis menjadi gajah yang simbolik, yang tak pernah sepenuh seluruh bisa digambarkan oleh orang-orang yang buta, dewa-dewi itu menitis tidak saja menjadi orang hebat, dan terpandang, juga menjadi bintang, tumbuh-tumbuhan atau gunung, hutan bahkan batu dan debu. 

Mahadewa menitis menjadi gajah? Dewa-dewi di sorga itu masih tak paham kenapa Mahadewa, junjungan para Dewa itu memilih menjadi gajah. Kenapa juga putra Mahadewa disimbolkan berkepala gajah? Sosok bertubuh manusia dan berkepala gajah bernama Ganesha itu bahkan dianggap sebagai manisfestasi Tuhan atau Mahadewa itu sendiri. 

Berbagai pertanyaan menjadi teka-teki tak terjawab bagi penghuni sorga, Para apsara dan apsari hanya bisa bergosip dengan berbisik- bisik, sambil membidik-bidik jawaban yang mungkin tersimpan dalam lirik lagu yang dinyanyikan Naradha. 

“Gajah adalah binatang besar, dengan kekuatan besar, yang memiliki  ketenangan juga kebijaksanaan.”

Dewa Indra mencoba memberi gambaran untuk memancing logika berpikir para Apsara-Apsari itu. Tapi tampaknya tak berhasil.

Apsara-Apsari itu, laki maupun perempuan tetap dengan kebiasaannya, ribet dengan penampilan, dari jenis warna kain, bentuk dan gaya busana, perhiasan, rias wajah, memutihkan kulit yang hitam dan menghitamkan kulit yang terlalu putihlah, memancungkan hidung menyulam alis, memakai rambut palsu, bulu mata palsu, kuku palsu, bahkan sampai payudara dan pantat palsu. 

“Bagaimana mereka bisa membantuku berperang di mayapada duhhh,”  keluh Dewa Indra sambil membuang nafas panjang. Senjata petir di tangannya berkilat-kilat, memberi warna dan cahaya indah di sorgaloka. 

Bukannya takut, Apsara-Apsari itu malah sibuk berswafoto dengan gaya dan foto menantang. 

Seorang Apsari malah mendekat dan berusaha menyentuh kilatan petir yang berpendar dari tangan kiri Dewa Indra. Apsara-Apasari yang lain bersorak riuh, seolah menyambut seorang pahlawan hebat dan mereka baru tersentak kaget saat tubuh temannya terbakar hangus. Yang tersisa akhirnya hanya tangis, dan kata-kata penyesalan yang mubazir, karena esoknya dan esoknya lagi mereka akan tetap mengulangi lagi kesalahan yang sama,, walau dalam bentuk dan jenis yang berbeda. 

“Gajah tetaplah seekor bintang yang seberapapun besar dan tingginya tetaplah mahluk yang terbatas, ada ujung dan pangkalnya, prilaku, energi dan kekuatannya bisa, dipelajari, dianalisa untuk kemudian dapat diperkirakan kesimpulannya,” nyanyian riang Naradha seperti memberi kisi-kisi kepada pendengarnya.

Para Apsara-Apsari, Bidadari dan Bidadara, terpaku, memandang Rsi Naradha dengan lugu. Ingat kembali pada yang ingin mereka tahu. 

Mereka kembali mencari-cari,  kesana-sini untuk dapatkan refrensi. Mengumpulkan tulisan dan data tentang gajah, mengklipingnya, membingkainya, membagikannya di media sosial, dan setiap saat mengecek komentar dan menghitung tanda like untuk unggahannya sambil senyum-senyum sendiri.

“Mahadewa memang aneh. Coba kalau di alam manusia ada yang lahir dengan kepala gajah, bertelinga lebar dan berbelalai, pasti dianggap cacat, dan mencemari lingkungan sehingga para suci yang merasa punya hubungan pribadi dengan  para dewa akan meminta dibuatkan upacara besar, sebesar-besarnya karena dinilai mencemari bumi,, semesta, tidak hanya memberi vibrasi buruk pada manusia, tapi juga mencemari tanah yang menyangga tubuhnya, air, api, udara dan ruang kosong yang menjadi satu kesatuan dengan jagat besar, makrokosmos, jasmani dan rohani. Anehnya Mahadewa tidak menegur para suci yang telah mencatut namanya untuk memperdaya orang-orang polos dan tak berdaya, ” kata seorang Apsara berapi-api.

“Sstt… Mahadewa menyukai gajah mungkin karena bertelinga besar dan lebar, sehingga daya dan jangkauan pendengarannya juga kuat dan peka, jangan-jangan…. “

Apsara itu tak melanjutkan  kata-katanya, wajahnya terlihat khawatir. Apsara-Apsari lain penasaran. Salah satu Apsari tersenyum manja sambil menggoda Dewa-Dewa. 

“Jangan-jangan apa?  Jangan-jangan Gajah Mahadewa yang sudah turun ke bumi mendengar gosip kita yang makin digosok makin sip  hihihi. Jangan khawatir, yang bisa dan bertahan menjadi Dewa karena telah teruji kesucian dan kebijaksanaannya. Kalau cepat tersinggung  yahhh namanya tinggal disisipi na aja, jadi denawa deh,”  kata Apsari yang paling cantik itu sambil melirik ke sana-sini seperti penari joged yang hendak mencari pengibing. 

Naradha tersenyum, Apsari  cantik tinggi semampai berkulit putih bersih bak susu itu memang paling cerdik  diantara yang lain. 

Dewa Indra semakin tak tahan melihat prilaku Apsara-Apsari pembantunya. Naradha mengerling jenaka, pancaran sinar matanya mengurai petir yang muncul dari tangan kiri Dewa Indra yang kesal. Petir itu pecah menjadi material padat kecil yang jatuh menyatu ke tansh, menjadi air jernih yang turun dan mengalir mengisi kerendahan, menjadi api yang membumbung ke atas, dan menjadi angin yang meruang. 

Para Dewa terkesima, menyadari daya penetralisir Dewa Rsi sepuh itu. 

“Kuncinya adalah ganesha,  gana isa, kekuatan esha kekuatan yang satukan.” Naradha bernyanyi riang dan jenaka, irama lagunya lucu ditimpa gelincing gelang kaki dan tangannya. Ia berjoged dengan Apsari cantik sembari  masuk di sela-sela kerumunan Apsara-Apsari dan Dewa-Dewi. 

Dewa-Dewi jadi ikut berdiskusi semangat, merasa  ingat. Dewa Brahma mengumpulkan pembantu-pembantunya, membisikan sesuatu. Merasa menemukan  cara yang jitu. 

“Ayo kita ciptakan sesuatu, kuncinya satu, keyakinan itu,” perintah Dewa Brahma pelan,  matanya awas, seperti takut pengetahuannya dicuri Dewa yang lain. Apsara-Apsari pembantunya mamggut-manggut.

Terdengar gumam, makin lama makin besar gaungnya. Dewa Brahma mengajak para  pembantunya membuat mantra-mantra pemujaan untuk Ganesha. Dewa Agni tak mau kalah, dengan pande-pande sorgaloka ia ciptakan berbagai senjata. 

Dewa Wisnu tersenyum manis, dengan kehalusan perasaannya ia membuat patung dan lukisan Ganesha yang indah, berjiwa. Dewa-dewa yang lain tak mau kalah,, mereka membuat berbagai bentuk persembahan untuk memuja Ganesha, para apsara-apsari juga ikut sibuk, menari, membuat kalungan bunga, menyiapkan susu dan berbagai hidangan. 

Sorgloka jadi meriah, seperti sedang ada festival besar. Dewa-dewi, Apsara-Apsari tampak sibuk, dan bersemangat. 

Apsari cantik tersenyum, mengerling genit pada Rsi Naradha, matanya yang bulat berputar-putar, merasa ada yang aneh dan lucu. Rsi Naradha tersenyum puas. 

Tiba-tiba terdengar bunyi Sangkakala, huu huuu….. 

“Ada kekuatan jahat yang maha besar sedang menyerang sorgaloka., ” lapor para penjaga.

Sorga tiba-tiba gelap. Dewa-Dewi, Apsara-Apsari diam, suasana hening, sepi  Semuanya kusyuk, perlahan tubuh Dewa Dewi Apsara-Apsari memendar cahaya terang, makin lama makin terang, memenuhi sorga juga teepancar ke mayapada. 

“Dengan menyatukan kekuatan kita bisa lakukan apa saja, dengan kekuatan Tuhan kita bisa hadapi segalanya,” suara hati Dewa Dewi menyebar ke hati Apsara-Apsari, meresap dan memenuhi relung-relung jiwa yang murni. [T]

  • BACA cerpen lainnya
Titisan | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji
Mahkota Cinta | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Muhammad Farhan Azizi | Di Katup Senapan

Next Post

“Digital Nomad”, Saat Ruang dan Waktu Jauh Berubah

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

“Digital Nomad”, Saat Ruang dan Waktu Jauh Berubah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co