2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titisan | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
July 16, 2023
in Cerpen
Titisan | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

DEWA RSI berpostur dan berwajah tua itu selalu memancarkan kebahagiaan bahkan dalam situasi paling genting sekalipun. Saat Mahadewa memimpin sidang para dewa karena menganggap bumi mayapada sedang menuju kehancuran.

“Harus ada yang turun ke dunia menjadi manusia!” Suara Mahadewa bergetar halus nenyusup ke telinga-telinga peserta sidang.

Para Dewa memejamkan matanya, memusatkan konsentrasinya masuk ke hulu hati, semuanya berusaha masuk dan masuk lebih ke dalam lagi sehingga masuk dalam alam meditasi. Dengan berada di alam meditasi para Dewa itu merasa terbebas dari lirikan mata Mahadewa yang tajam tak bisa ditolak.

Seperti yang berlaku di alam manusia, di alam para dewa pun Mahadewa sebagai dewa tertinggi pantang mengganggu para dewa yang sedang bermeditasi, walaupun dewa tertinggi itu tahu bermeditasi seringkali menjadi cara yang jitu bagi para dewa untuk menghindari tugas,

Bukankah khusyuk bermeditasi juga sebuah tugas, jadi boleh abai terhadap masalah yang terjadi karena ujung-ujungnya pasti akan mengarah pada pertanyaan. Siapa yang ditugaskan untuk menitis ke dunia?

Sebagian besar dewa tak ingin mendengar pertanyaan lagi, yang mereka mau dengar hanya jawaban.

Dewa A, B,  C atau siapalah  yang ditugaskan. Para dewa itu tahu kalau Mahadewa sudah menunjuk yang akan menitis, mereka akan terima, walau sebagian besar sebenarnya merasa lebih nyaman tinggal di sorgaloka ketimbang harus menjadi manusia di Mayapada, seberapapun kaya, hebat, kuat dan cerdasnya.

Sebelum rapatpun Mahadewa sudah tahu gosip di kalangan para dewa yang tak akan mau turun ke dunia karena sifat manusia jaman ini yang mendewakan uang.

“Kalaupun  Dewa Keberlimpahan, Sri Sedana yang turun, orang-orang itu tak akan puas hanya meminta rejeki dari hasil kerjanya. Mereka akan meminta uang dan uang lagi, berseri-seri tak puas-puasnya. Tidak saja untuk makan hari ini, tapi untuk bisa makan bertahun-tahin ke depan, untuk anak cucu dan keturunannya, di tempat yang mewah dan mahal, tempat yang membuat mereka bisa merasa seperti dewa” kata seorang dewa sinis.

“Ya benar, manusia saat ini tidak menghormati  dewa sebagai manisfestasi Tuhan. Manusia memuja dewa bukan untuk meminta bantuan, anugrah atau berkah, mereka memaksa para dewa untuk memenuhi keinginan-keinginan mereka dengan berbagai cara. Manusia memanfaatkan kebaikan hati para dewa,” kata dewa yang lain serius.

“Kalau menunjukkan keajaiban-keajabian, manusia akan meminta dengan gratis rumus-runus membuat keajaiban, ada yang akan mengakui rumus itu sebagai miliknya, ada yang menjualnya, yang lain akan mempromosikan secara besar-besaran agar mendapat keuntungan uang berlipat ganda.” Kata dewa yang lain lagi.

“Bahkan kini banyak yang mengaku kerasukan dewa ini dewa itu, dan tanpa sungkan dan malu-malu meminta upacara begini dan begitu atas nama dewa-dewa, bahkan menjanjikan kesembuhan, kesejahteraan, kesaktian dan sorga,” tambah yang lain.

Dari desas-desus isi hati para dewa, Mahadewa telah mendapat kesimpulan bahwa tak ada dewa yang bersedia menitis ke dunia yang gawat bergawat ini, walau dijanjikan karma baik yang berlipat ganda. Bagi para dewa, alih-alih bisa memperbaiki karma, bisa-bisa dewa yang turun akan terpelosok ke jurang kenikmatan duniawi yang tak berbatas. Mereka bisa saja masuk dan terjebak ke dalam dunia maya yang memberi banyak kemudahan, keindahan, kenyamanan, keterkenalan, kekuasaan yang memabukkan.

Mahadewa belum menunjuk, beliau mencoba bersikap demokratis dengan meminta kerelaan para peserta rapat. Tapi dewa-dewa itu tak bergeming, menjadikan meditasi sebagai kedok untuk menghindar. Mahadewa berusaha menahan kenarahannya. Dewa Rsi Naradha tahu itu, dengan sigap bersikap.

Dewa Rsi periang itu tak kehabisan ide untuk menyebar kelucuan-kelucuan dalam meditasi para Dewa. Diputarnya film-film perkembangan otak manusia tubuh dan sikapnya, usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya.

Dari berjalan merangkak, memakai kaki dan tangan sebagai tumpuan, manusia berusaha berdiri tegak dan memusatkan tuampuan pada kedua kaki, bergiliran kiri dan kanan saat berjalan atau berlari.

Tiba-tiba semua dewa tertawa terpingkal-pingkal, Naradha Dewa Rsi itu menunjukkan evolusi prilaku manusia yang dipercepat.

“Wah setelah mampu berdiri tegak dan berlari, manusia berusaha menjadi burung, agar bisa terbang, tapi lihatlah wajah mereka jadi aneh, dengan otak yang diperbesar kepalanya juga jadi besar, mata besar, telinga, hidung, mulut yang besar panjang dan lebar, sungguh aneh dan lucu sekali hahahaha.” Tawa para dewa menjadi riuh, sangat riuh.

“Tapi lihatlah dengan tangan dan kaki manusia mengecil, hanya perut yang membuncit, bagaimana bisa berjalan dan berlari, berdiripun sulit, akhirnya hanya meringkuk seperti ular berpindah tempat dengan merayap.”

“Wah sama sekali berbeda dengan rancangan manusia karya Dewa Wisma Karma yang memenangkan lomba desain manusia di sorga, ” celetuk seorang dewa. Dewa lain tertawa.

Mahadewa ikut memejamkan matanya. Dengan mata ketiganya beliau menembus ketulusan hati para dewa dan dewi yang di sorga. Ada seorang dewa yang dipandang cocok menjalankan tugas ini, tapi yang bersangkutan tak ikut rapat karena sedang ijin menjalani tapa penebusan dosa bagi orang-orang menjahatinya saat kehidupannya di dunia. Ya, Mahadewa yakin  keponakannya tersayang putra  adikkanya Dewa Iswara dengan Dewi Uma bisa menjalankan tugas maha berat ini.

“Tapi bagaimana cara menugaskannya aku tak mau melanggar etika karena mengganggu tapanya.” Hanya selintas tanya berkelebat, dengan cepat Mahadewa menemukan cara, Naradha tersenyum penuh arti sambil mendendangkan lagu-lagunya yang jenaka.

“Kalau seorang dewa atau dewi harus menitis, apakah akan seperti bintang film dan ratu kecantikan itu, bagaimanakah titisan itu dibedakan dengan gadis-gadis cantik dan pemuda-pemuda tampan itu, kira-kira wajahnya seperti apa ya, apakah akan berpakaian keemasan seperti di sorga, pasti akan jadi sasaran para penjahat hihihi.” Seorang dewa berbisik sambil tertawa geli mulai membuka matanya. Dewa-dewa yang lain mulai berani membuka matanya merasa sudah aman, karena pasti Mahadewa sudah mempunyai pilihan.

Sebelum rapat menjadi ramai dengan suara-suara usulan para dewa terkait wajah dan penampilan sang titisan, Naradha sudah menyampaikannya lewat lagu.

Yang akan turun adalah Dewi Uma menjadi perempuan biasa yang buta. Para dewa tercengang. Mereka sama sekali tak bisa membayangkan bagaimana jadinya seorang dewi yang berhati lembut, keibuan dan penuh cinta kasih itu hidup di dunia penuh tipu daya.

Para dewa benar-benar berasa tak tega. Tapi sebagian besar dewa .menarik nafas lega, merasa terhindar dari tugas berat. Saat yang ditunjuk menyatakan kesediaannya, sidang berubah menjadi isak tangis,, suasana menjadi sangat melankolis. Banyakndewa dan dewi yang merasa tak tega.

“Karena istri hamba menitis menjadi perempuan biasa yang buta, hamba juga ikut menitis menjadi lelaki biasa yang bisu tuli, ” kata Dewa Iswara. Kata-katanya memancarkan cahaya putih, cahaya cinta kasih yang suci, dan tulus, menyebar memenuhi  ruangan mengisi bilik-bilik hati menjadi nafas, nembasuh kekotoran pikiran, jiwa dan raga.

Dewa-dewa yang lain terkesima, Mahadewa tersenyum sangat paham kebijaksanaan adiknya itu  Karena adik dan adik iparnya turun, sudah pasti anaknya akan terseret turun juga.

Mahadewa tersenyum puas, apa yang drencankannya berjalan mulus, keponakan tersayangnya yang diandalkannya pasti akan menitis juga dengan suka hati dan rasa patriotik yang tinggi sebagai rasa baktinya pada ayah ibunya.

Tapi di hati kecilnya Mahadewa sedikit merasa  tak enak hati, merasa bersalah telah memperdaya adik dan iparnya. Mahadewa juga merasa sedih kalau terlalu lama berpisah dengan keponakanan yang sudah seperti anaknya sendiri itu.

“Baiklah aku akan menitis juga. Aku akan menitis sebagai gajah,” kata Mahadewa.

Dewa-dewa riuh. Dewa Rsi Naradha tercekat, tapi bisa memotong sabda yang telah diucapkan oleh Mahadewa.

“Bagaimana perempuan yang buta bisa mengenali gajah itu sebagai Mahadewa, bagaimana suami yang bisu tuli akan memberirahu istrinya bahwa gajah itu adalah Mahadewa.

Dewa-dewa saling pandang, tanpa dikomando, mereka membuat kesepakatan, bahwa para dewa-dewa yang lain pun akan turun menitis ke marcapada. Para Dewa dan dewi itu secara bergiliran akan membantu Dewi Uma yang buta agar benar-benar mengenal gajah Mahadewa itu lewat suara, bau, sentuhan dan kilatan cahaya.

Para Dewa bersama suaminya  akan menjaga Sang Dewi yang buta agar terindar dari injakan gajah. Para dewa dengan penuh sukacita dan bersemangat melatihnya untuk menaiki dan mengendalikan gajah itu agar bisa pergi kemana saja Dengan menaiki gajah dewi yang buta akan aman dari serangan penjahat.

Mahadewa tersenyum bahagia. Pilihan untuk meminta adik iparnya menjadi perempuan buta, membuat  adiknya memilih menjadi lelaki bisu tuli, dan dirinya yang menitis menjadi gajah menjadikan dewa-dewi di sorga dengan rela dan suka cita beramai-ramai-ramai menitis ke mayapada. [T]

[][][]

  • BACA cerpen lainnya
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji
Mahkota Cinta | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Putra Pradnyana | Merangkai Latri

Next Post

Desa Ban Penghasil Kelapa, Tapi Harga Kelapa Murah

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Desa Ban Penghasil Kelapa, Tapi Harga Kelapa Murah

Desa Ban Penghasil Kelapa, Tapi Harga Kelapa Murah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co