12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titisan | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
July 16, 2023
in Cerpen
Titisan | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

DEWA RSI berpostur dan berwajah tua itu selalu memancarkan kebahagiaan bahkan dalam situasi paling genting sekalipun. Saat Mahadewa memimpin sidang para dewa karena menganggap bumi mayapada sedang menuju kehancuran.

“Harus ada yang turun ke dunia menjadi manusia!” Suara Mahadewa bergetar halus nenyusup ke telinga-telinga peserta sidang.

Para Dewa memejamkan matanya, memusatkan konsentrasinya masuk ke hulu hati, semuanya berusaha masuk dan masuk lebih ke dalam lagi sehingga masuk dalam alam meditasi. Dengan berada di alam meditasi para Dewa itu merasa terbebas dari lirikan mata Mahadewa yang tajam tak bisa ditolak.

Seperti yang berlaku di alam manusia, di alam para dewa pun Mahadewa sebagai dewa tertinggi pantang mengganggu para dewa yang sedang bermeditasi, walaupun dewa tertinggi itu tahu bermeditasi seringkali menjadi cara yang jitu bagi para dewa untuk menghindari tugas,

Bukankah khusyuk bermeditasi juga sebuah tugas, jadi boleh abai terhadap masalah yang terjadi karena ujung-ujungnya pasti akan mengarah pada pertanyaan. Siapa yang ditugaskan untuk menitis ke dunia?

Sebagian besar dewa tak ingin mendengar pertanyaan lagi, yang mereka mau dengar hanya jawaban.

Dewa A, B,  C atau siapalah  yang ditugaskan. Para dewa itu tahu kalau Mahadewa sudah menunjuk yang akan menitis, mereka akan terima, walau sebagian besar sebenarnya merasa lebih nyaman tinggal di sorgaloka ketimbang harus menjadi manusia di Mayapada, seberapapun kaya, hebat, kuat dan cerdasnya.

Sebelum rapatpun Mahadewa sudah tahu gosip di kalangan para dewa yang tak akan mau turun ke dunia karena sifat manusia jaman ini yang mendewakan uang.

“Kalaupun  Dewa Keberlimpahan, Sri Sedana yang turun, orang-orang itu tak akan puas hanya meminta rejeki dari hasil kerjanya. Mereka akan meminta uang dan uang lagi, berseri-seri tak puas-puasnya. Tidak saja untuk makan hari ini, tapi untuk bisa makan bertahun-tahin ke depan, untuk anak cucu dan keturunannya, di tempat yang mewah dan mahal, tempat yang membuat mereka bisa merasa seperti dewa” kata seorang dewa sinis.

“Ya benar, manusia saat ini tidak menghormati  dewa sebagai manisfestasi Tuhan. Manusia memuja dewa bukan untuk meminta bantuan, anugrah atau berkah, mereka memaksa para dewa untuk memenuhi keinginan-keinginan mereka dengan berbagai cara. Manusia memanfaatkan kebaikan hati para dewa,” kata dewa yang lain serius.

“Kalau menunjukkan keajaiban-keajabian, manusia akan meminta dengan gratis rumus-runus membuat keajaiban, ada yang akan mengakui rumus itu sebagai miliknya, ada yang menjualnya, yang lain akan mempromosikan secara besar-besaran agar mendapat keuntungan uang berlipat ganda.” Kata dewa yang lain lagi.

“Bahkan kini banyak yang mengaku kerasukan dewa ini dewa itu, dan tanpa sungkan dan malu-malu meminta upacara begini dan begitu atas nama dewa-dewa, bahkan menjanjikan kesembuhan, kesejahteraan, kesaktian dan sorga,” tambah yang lain.

Dari desas-desus isi hati para dewa, Mahadewa telah mendapat kesimpulan bahwa tak ada dewa yang bersedia menitis ke dunia yang gawat bergawat ini, walau dijanjikan karma baik yang berlipat ganda. Bagi para dewa, alih-alih bisa memperbaiki karma, bisa-bisa dewa yang turun akan terpelosok ke jurang kenikmatan duniawi yang tak berbatas. Mereka bisa saja masuk dan terjebak ke dalam dunia maya yang memberi banyak kemudahan, keindahan, kenyamanan, keterkenalan, kekuasaan yang memabukkan.

Mahadewa belum menunjuk, beliau mencoba bersikap demokratis dengan meminta kerelaan para peserta rapat. Tapi dewa-dewa itu tak bergeming, menjadikan meditasi sebagai kedok untuk menghindar. Mahadewa berusaha menahan kenarahannya. Dewa Rsi Naradha tahu itu, dengan sigap bersikap.

Dewa Rsi periang itu tak kehabisan ide untuk menyebar kelucuan-kelucuan dalam meditasi para Dewa. Diputarnya film-film perkembangan otak manusia tubuh dan sikapnya, usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya.

Dari berjalan merangkak, memakai kaki dan tangan sebagai tumpuan, manusia berusaha berdiri tegak dan memusatkan tuampuan pada kedua kaki, bergiliran kiri dan kanan saat berjalan atau berlari.

Tiba-tiba semua dewa tertawa terpingkal-pingkal, Naradha Dewa Rsi itu menunjukkan evolusi prilaku manusia yang dipercepat.

“Wah setelah mampu berdiri tegak dan berlari, manusia berusaha menjadi burung, agar bisa terbang, tapi lihatlah wajah mereka jadi aneh, dengan otak yang diperbesar kepalanya juga jadi besar, mata besar, telinga, hidung, mulut yang besar panjang dan lebar, sungguh aneh dan lucu sekali hahahaha.” Tawa para dewa menjadi riuh, sangat riuh.

“Tapi lihatlah dengan tangan dan kaki manusia mengecil, hanya perut yang membuncit, bagaimana bisa berjalan dan berlari, berdiripun sulit, akhirnya hanya meringkuk seperti ular berpindah tempat dengan merayap.”

“Wah sama sekali berbeda dengan rancangan manusia karya Dewa Wisma Karma yang memenangkan lomba desain manusia di sorga, ” celetuk seorang dewa. Dewa lain tertawa.

Mahadewa ikut memejamkan matanya. Dengan mata ketiganya beliau menembus ketulusan hati para dewa dan dewi yang di sorga. Ada seorang dewa yang dipandang cocok menjalankan tugas ini, tapi yang bersangkutan tak ikut rapat karena sedang ijin menjalani tapa penebusan dosa bagi orang-orang menjahatinya saat kehidupannya di dunia. Ya, Mahadewa yakin  keponakannya tersayang putra  adikkanya Dewa Iswara dengan Dewi Uma bisa menjalankan tugas maha berat ini.

“Tapi bagaimana cara menugaskannya aku tak mau melanggar etika karena mengganggu tapanya.” Hanya selintas tanya berkelebat, dengan cepat Mahadewa menemukan cara, Naradha tersenyum penuh arti sambil mendendangkan lagu-lagunya yang jenaka.

“Kalau seorang dewa atau dewi harus menitis, apakah akan seperti bintang film dan ratu kecantikan itu, bagaimanakah titisan itu dibedakan dengan gadis-gadis cantik dan pemuda-pemuda tampan itu, kira-kira wajahnya seperti apa ya, apakah akan berpakaian keemasan seperti di sorga, pasti akan jadi sasaran para penjahat hihihi.” Seorang dewa berbisik sambil tertawa geli mulai membuka matanya. Dewa-dewa yang lain mulai berani membuka matanya merasa sudah aman, karena pasti Mahadewa sudah mempunyai pilihan.

Sebelum rapat menjadi ramai dengan suara-suara usulan para dewa terkait wajah dan penampilan sang titisan, Naradha sudah menyampaikannya lewat lagu.

Yang akan turun adalah Dewi Uma menjadi perempuan biasa yang buta. Para dewa tercengang. Mereka sama sekali tak bisa membayangkan bagaimana jadinya seorang dewi yang berhati lembut, keibuan dan penuh cinta kasih itu hidup di dunia penuh tipu daya.

Para dewa benar-benar berasa tak tega. Tapi sebagian besar dewa .menarik nafas lega, merasa terhindar dari tugas berat. Saat yang ditunjuk menyatakan kesediaannya, sidang berubah menjadi isak tangis,, suasana menjadi sangat melankolis. Banyakndewa dan dewi yang merasa tak tega.

“Karena istri hamba menitis menjadi perempuan biasa yang buta, hamba juga ikut menitis menjadi lelaki biasa yang bisu tuli, ” kata Dewa Iswara. Kata-katanya memancarkan cahaya putih, cahaya cinta kasih yang suci, dan tulus, menyebar memenuhi  ruangan mengisi bilik-bilik hati menjadi nafas, nembasuh kekotoran pikiran, jiwa dan raga.

Dewa-dewa yang lain terkesima, Mahadewa tersenyum sangat paham kebijaksanaan adiknya itu  Karena adik dan adik iparnya turun, sudah pasti anaknya akan terseret turun juga.

Mahadewa tersenyum puas, apa yang drencankannya berjalan mulus, keponakan tersayangnya yang diandalkannya pasti akan menitis juga dengan suka hati dan rasa patriotik yang tinggi sebagai rasa baktinya pada ayah ibunya.

Tapi di hati kecilnya Mahadewa sedikit merasa  tak enak hati, merasa bersalah telah memperdaya adik dan iparnya. Mahadewa juga merasa sedih kalau terlalu lama berpisah dengan keponakanan yang sudah seperti anaknya sendiri itu.

“Baiklah aku akan menitis juga. Aku akan menitis sebagai gajah,” kata Mahadewa.

Dewa-dewa riuh. Dewa Rsi Naradha tercekat, tapi bisa memotong sabda yang telah diucapkan oleh Mahadewa.

“Bagaimana perempuan yang buta bisa mengenali gajah itu sebagai Mahadewa, bagaimana suami yang bisu tuli akan memberirahu istrinya bahwa gajah itu adalah Mahadewa.

Dewa-dewa saling pandang, tanpa dikomando, mereka membuat kesepakatan, bahwa para dewa-dewa yang lain pun akan turun menitis ke marcapada. Para Dewa dan dewi itu secara bergiliran akan membantu Dewi Uma yang buta agar benar-benar mengenal gajah Mahadewa itu lewat suara, bau, sentuhan dan kilatan cahaya.

Para Dewa bersama suaminya  akan menjaga Sang Dewi yang buta agar terindar dari injakan gajah. Para dewa dengan penuh sukacita dan bersemangat melatihnya untuk menaiki dan mengendalikan gajah itu agar bisa pergi kemana saja Dengan menaiki gajah dewi yang buta akan aman dari serangan penjahat.

Mahadewa tersenyum bahagia. Pilihan untuk meminta adik iparnya menjadi perempuan buta, membuat  adiknya memilih menjadi lelaki bisu tuli, dan dirinya yang menitis menjadi gajah menjadikan dewa-dewi di sorga dengan rela dan suka cita beramai-ramai-ramai menitis ke mayapada. [T]

[][][]

  • BACA cerpen lainnya
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji
Mahkota Cinta | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Putra Pradnyana | Merangkai Latri

Next Post

Desa Ban Penghasil Kelapa, Tapi Harga Kelapa Murah

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Desa Ban Penghasil Kelapa, Tapi Harga Kelapa Murah

Desa Ban Penghasil Kelapa, Tapi Harga Kelapa Murah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co