3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titisan | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
July 16, 2023
in Cerpen
Titisan | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

DEWA RSI berpostur dan berwajah tua itu selalu memancarkan kebahagiaan bahkan dalam situasi paling genting sekalipun. Saat Mahadewa memimpin sidang para dewa karena menganggap bumi mayapada sedang menuju kehancuran.

“Harus ada yang turun ke dunia menjadi manusia!” Suara Mahadewa bergetar halus nenyusup ke telinga-telinga peserta sidang.

Para Dewa memejamkan matanya, memusatkan konsentrasinya masuk ke hulu hati, semuanya berusaha masuk dan masuk lebih ke dalam lagi sehingga masuk dalam alam meditasi. Dengan berada di alam meditasi para Dewa itu merasa terbebas dari lirikan mata Mahadewa yang tajam tak bisa ditolak.

Seperti yang berlaku di alam manusia, di alam para dewa pun Mahadewa sebagai dewa tertinggi pantang mengganggu para dewa yang sedang bermeditasi, walaupun dewa tertinggi itu tahu bermeditasi seringkali menjadi cara yang jitu bagi para dewa untuk menghindari tugas,

Bukankah khusyuk bermeditasi juga sebuah tugas, jadi boleh abai terhadap masalah yang terjadi karena ujung-ujungnya pasti akan mengarah pada pertanyaan. Siapa yang ditugaskan untuk menitis ke dunia?

Sebagian besar dewa tak ingin mendengar pertanyaan lagi, yang mereka mau dengar hanya jawaban.

Dewa A, B,  C atau siapalah  yang ditugaskan. Para dewa itu tahu kalau Mahadewa sudah menunjuk yang akan menitis, mereka akan terima, walau sebagian besar sebenarnya merasa lebih nyaman tinggal di sorgaloka ketimbang harus menjadi manusia di Mayapada, seberapapun kaya, hebat, kuat dan cerdasnya.

Sebelum rapatpun Mahadewa sudah tahu gosip di kalangan para dewa yang tak akan mau turun ke dunia karena sifat manusia jaman ini yang mendewakan uang.

“Kalaupun  Dewa Keberlimpahan, Sri Sedana yang turun, orang-orang itu tak akan puas hanya meminta rejeki dari hasil kerjanya. Mereka akan meminta uang dan uang lagi, berseri-seri tak puas-puasnya. Tidak saja untuk makan hari ini, tapi untuk bisa makan bertahun-tahin ke depan, untuk anak cucu dan keturunannya, di tempat yang mewah dan mahal, tempat yang membuat mereka bisa merasa seperti dewa” kata seorang dewa sinis.

“Ya benar, manusia saat ini tidak menghormati  dewa sebagai manisfestasi Tuhan. Manusia memuja dewa bukan untuk meminta bantuan, anugrah atau berkah, mereka memaksa para dewa untuk memenuhi keinginan-keinginan mereka dengan berbagai cara. Manusia memanfaatkan kebaikan hati para dewa,” kata dewa yang lain serius.

“Kalau menunjukkan keajaiban-keajabian, manusia akan meminta dengan gratis rumus-runus membuat keajaiban, ada yang akan mengakui rumus itu sebagai miliknya, ada yang menjualnya, yang lain akan mempromosikan secara besar-besaran agar mendapat keuntungan uang berlipat ganda.” Kata dewa yang lain lagi.

“Bahkan kini banyak yang mengaku kerasukan dewa ini dewa itu, dan tanpa sungkan dan malu-malu meminta upacara begini dan begitu atas nama dewa-dewa, bahkan menjanjikan kesembuhan, kesejahteraan, kesaktian dan sorga,” tambah yang lain.

Dari desas-desus isi hati para dewa, Mahadewa telah mendapat kesimpulan bahwa tak ada dewa yang bersedia menitis ke dunia yang gawat bergawat ini, walau dijanjikan karma baik yang berlipat ganda. Bagi para dewa, alih-alih bisa memperbaiki karma, bisa-bisa dewa yang turun akan terpelosok ke jurang kenikmatan duniawi yang tak berbatas. Mereka bisa saja masuk dan terjebak ke dalam dunia maya yang memberi banyak kemudahan, keindahan, kenyamanan, keterkenalan, kekuasaan yang memabukkan.

Mahadewa belum menunjuk, beliau mencoba bersikap demokratis dengan meminta kerelaan para peserta rapat. Tapi dewa-dewa itu tak bergeming, menjadikan meditasi sebagai kedok untuk menghindar. Mahadewa berusaha menahan kenarahannya. Dewa Rsi Naradha tahu itu, dengan sigap bersikap.

Dewa Rsi periang itu tak kehabisan ide untuk menyebar kelucuan-kelucuan dalam meditasi para Dewa. Diputarnya film-film perkembangan otak manusia tubuh dan sikapnya, usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya.

Dari berjalan merangkak, memakai kaki dan tangan sebagai tumpuan, manusia berusaha berdiri tegak dan memusatkan tuampuan pada kedua kaki, bergiliran kiri dan kanan saat berjalan atau berlari.

Tiba-tiba semua dewa tertawa terpingkal-pingkal, Naradha Dewa Rsi itu menunjukkan evolusi prilaku manusia yang dipercepat.

“Wah setelah mampu berdiri tegak dan berlari, manusia berusaha menjadi burung, agar bisa terbang, tapi lihatlah wajah mereka jadi aneh, dengan otak yang diperbesar kepalanya juga jadi besar, mata besar, telinga, hidung, mulut yang besar panjang dan lebar, sungguh aneh dan lucu sekali hahahaha.” Tawa para dewa menjadi riuh, sangat riuh.

“Tapi lihatlah dengan tangan dan kaki manusia mengecil, hanya perut yang membuncit, bagaimana bisa berjalan dan berlari, berdiripun sulit, akhirnya hanya meringkuk seperti ular berpindah tempat dengan merayap.”

“Wah sama sekali berbeda dengan rancangan manusia karya Dewa Wisma Karma yang memenangkan lomba desain manusia di sorga, ” celetuk seorang dewa. Dewa lain tertawa.

Mahadewa ikut memejamkan matanya. Dengan mata ketiganya beliau menembus ketulusan hati para dewa dan dewi yang di sorga. Ada seorang dewa yang dipandang cocok menjalankan tugas ini, tapi yang bersangkutan tak ikut rapat karena sedang ijin menjalani tapa penebusan dosa bagi orang-orang menjahatinya saat kehidupannya di dunia. Ya, Mahadewa yakin  keponakannya tersayang putra  adikkanya Dewa Iswara dengan Dewi Uma bisa menjalankan tugas maha berat ini.

“Tapi bagaimana cara menugaskannya aku tak mau melanggar etika karena mengganggu tapanya.” Hanya selintas tanya berkelebat, dengan cepat Mahadewa menemukan cara, Naradha tersenyum penuh arti sambil mendendangkan lagu-lagunya yang jenaka.

“Kalau seorang dewa atau dewi harus menitis, apakah akan seperti bintang film dan ratu kecantikan itu, bagaimanakah titisan itu dibedakan dengan gadis-gadis cantik dan pemuda-pemuda tampan itu, kira-kira wajahnya seperti apa ya, apakah akan berpakaian keemasan seperti di sorga, pasti akan jadi sasaran para penjahat hihihi.” Seorang dewa berbisik sambil tertawa geli mulai membuka matanya. Dewa-dewa yang lain mulai berani membuka matanya merasa sudah aman, karena pasti Mahadewa sudah mempunyai pilihan.

Sebelum rapat menjadi ramai dengan suara-suara usulan para dewa terkait wajah dan penampilan sang titisan, Naradha sudah menyampaikannya lewat lagu.

Yang akan turun adalah Dewi Uma menjadi perempuan biasa yang buta. Para dewa tercengang. Mereka sama sekali tak bisa membayangkan bagaimana jadinya seorang dewi yang berhati lembut, keibuan dan penuh cinta kasih itu hidup di dunia penuh tipu daya.

Para dewa benar-benar berasa tak tega. Tapi sebagian besar dewa .menarik nafas lega, merasa terhindar dari tugas berat. Saat yang ditunjuk menyatakan kesediaannya, sidang berubah menjadi isak tangis,, suasana menjadi sangat melankolis. Banyakndewa dan dewi yang merasa tak tega.

“Karena istri hamba menitis menjadi perempuan biasa yang buta, hamba juga ikut menitis menjadi lelaki biasa yang bisu tuli, ” kata Dewa Iswara. Kata-katanya memancarkan cahaya putih, cahaya cinta kasih yang suci, dan tulus, menyebar memenuhi  ruangan mengisi bilik-bilik hati menjadi nafas, nembasuh kekotoran pikiran, jiwa dan raga.

Dewa-dewa yang lain terkesima, Mahadewa tersenyum sangat paham kebijaksanaan adiknya itu  Karena adik dan adik iparnya turun, sudah pasti anaknya akan terseret turun juga.

Mahadewa tersenyum puas, apa yang drencankannya berjalan mulus, keponakan tersayangnya yang diandalkannya pasti akan menitis juga dengan suka hati dan rasa patriotik yang tinggi sebagai rasa baktinya pada ayah ibunya.

Tapi di hati kecilnya Mahadewa sedikit merasa  tak enak hati, merasa bersalah telah memperdaya adik dan iparnya. Mahadewa juga merasa sedih kalau terlalu lama berpisah dengan keponakanan yang sudah seperti anaknya sendiri itu.

“Baiklah aku akan menitis juga. Aku akan menitis sebagai gajah,” kata Mahadewa.

Dewa-dewa riuh. Dewa Rsi Naradha tercekat, tapi bisa memotong sabda yang telah diucapkan oleh Mahadewa.

“Bagaimana perempuan yang buta bisa mengenali gajah itu sebagai Mahadewa, bagaimana suami yang bisu tuli akan memberirahu istrinya bahwa gajah itu adalah Mahadewa.

Dewa-dewa saling pandang, tanpa dikomando, mereka membuat kesepakatan, bahwa para dewa-dewa yang lain pun akan turun menitis ke marcapada. Para Dewa dan dewi itu secara bergiliran akan membantu Dewi Uma yang buta agar benar-benar mengenal gajah Mahadewa itu lewat suara, bau, sentuhan dan kilatan cahaya.

Para Dewa bersama suaminya  akan menjaga Sang Dewi yang buta agar terindar dari injakan gajah. Para dewa dengan penuh sukacita dan bersemangat melatihnya untuk menaiki dan mengendalikan gajah itu agar bisa pergi kemana saja Dengan menaiki gajah dewi yang buta akan aman dari serangan penjahat.

Mahadewa tersenyum bahagia. Pilihan untuk meminta adik iparnya menjadi perempuan buta, membuat  adiknya memilih menjadi lelaki bisu tuli, dan dirinya yang menitis menjadi gajah menjadikan dewa-dewi di sorga dengan rela dan suka cita beramai-ramai-ramai menitis ke mayapada. [T]

[][][]

  • BACA cerpen lainnya
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji
Mahkota Cinta | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Putra Pradnyana | Merangkai Latri

Next Post

Desa Ban Penghasil Kelapa, Tapi Harga Kelapa Murah

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Desa Ban Penghasil Kelapa, Tapi Harga Kelapa Murah

Desa Ban Penghasil Kelapa, Tapi Harga Kelapa Murah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co