23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mahkota Cinta | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
July 1, 2023
in Cerpen
Mahkota Cinta | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

AKU TAHU mahkota itu, aku melihatnya. Sebuah mahkota Wijaya Kusuma, putih terang dibingkai kuning emas berkilauan, mahkota kemenangan cinta kasih. Sebagai ibu aku ingin segera menyematkannya di atas kepalamu 

Tapi kau berkelit, selalu punya alasan untuk berkelit. 

“Hidup ini maya, aku tak ingin menjadi raja, Ibu.”

Kata-kata lirihmu memantul pada daun-daun pinus yang berwarna ungu diterpa matahari sore di  puncak gunung tertinggi itu. Tapi aku nendengarnya seperi lagu rock and roll yang menyentak berontak. 

Ahhh aku lupa, tentu yang kau impikan bukan tangan ibumu yang tua, letih  gemetar ini yang menyematkannya. Aku benar-benar lupa yang saat ini menyeruak keluar tak terbendung dari tubuhnya adalah sosok Karna, tokoh dalam Mahabartha yang merindukan Drupadi, perempuan suci yang terlahir dari api persembahan. Yang karena takdir tak kuasa kau miliki. 

“Takdir,  takdir… .. “

Suara itu bertalu-talu dalam telinganya dari jaman ke jaman, dari yuga ke yuga, dari kelahiran demi kelahiran. Kini ia telah terima takdirnya untuk terlahir kembali demi berbakti pada Ibu Kunti  yang bahkan telah membuangnya, untuk menutupi aib.

Saat hawa panas itu menaruh kakinya, menyedotnya dan menghempaskan ke dunia fana ini, ia bahkan tak sempat membuka mata dalam kekusyukan tapanya. 

“Ibu masih saja lugu, bodoh dan keras kepala sehingga mudah ditipu para Dewa dengan dalih menyelamatkan dunia. Seperti ayahku dulu menitipiku padamu, hanya untuk menambah peran antagonis yang mengundang rasa iba dalam kisah besar keluarga bharata,” gumamnya dalam diam.

Karena takdir bermasa-masa ia telah belajar dan berhasil melewati kata-kata kutukan yang kasar, juga sesalnya pada ibu bapanya. Ketulusan cintanya yang besar pada penerimaan takdir juga cintanya pada Drupadi telah membebaskannya. Menghadiahkannya mahkota WIjaya Kusuma bunga kemenangan cinta 

Dalam diri lelaki gagah itu ada Karna, putra tertua Pandawa, sakti mandraguna terdepan dalam memanah, tak ada satupun sasaran yang meleset dari bidikannya. Hanya Drupadi, hati wanita itu luput, selalu luput dari sasaran panahnya. Tidak saat raja Pancala mencarikan suami bagi putrinya Drupadi. Saat itu Karna yakin menang, sorot mata Drupadi juga menggungkapkan  cinta yang dalam dan tulus.

“Bukankah mata wanita sulit menipu?”

Drupadi wanita suci itu telah jatuh cinta, Karna yakin itu. Tapi Karna kecewa, sangat kecewa, nyaris dendam karena mata Drupadi tunduk pada status Karna yang dianggap bukan ksatria, dan tak berhak mengikuti sayembara. Harga diri Karna terhempas, ia merasa dipermalukan. Itu pertama kalinya putra Dewa Surya ini menelan kecewa. Sebagai ksatria tanpa tanding Karna berjanji pada dirinya untuk mendapatkan Drupadi, melalui kelahiran demi kelahiran, yuga demi yuga, dalam tapa brata dan pengekangan diri yang keras dan berat.

Kini Drupadi adalah takdirnya. Setelah kelahiran terakhir sebagai Bung Karno, Putra Fajar yang diberikan hak memimpin kerajaan Astina yang baru, nusantara, semesta telah mempermainkannya, menyembunyikan Drupadi dalam lipatan waktu. 

Karna nyaris tak percaya pada karma dan kebenaran dharma, karena perjuangan cintanya yang tulus di abad 8 tak mempertemukannya dengan Drupadi yang ada dalam diri Loro Longgrang.

Karma benar-benar marah, karena ayahnya Dewa Surya justru bersekutu dengan wanita yang dicintainya, untuk menggagalkannya mendapatkan Drupadi. Kemarahan yang besar telah membakar kecintaannya itu menjadi batu. Saat itu Karna yang ada dalam raga Bandung Bondowoso, benar-benar dalam puncak kemarahannya. Sehingga Dewa Surya menghiburnya memberikannya kerajaan demi kerajaan yang tak ia minati. 

Kini sungguh Karna juga sudah tak peduli,, dengan kerajaan maupun Drupadi. 

Saat bayangan perempuan cantik itu muncul dengan  mahkota wijaya kusuma di tangan, Karna tak juga membuka matanya  ia masih sibuk dengan lontar-lontarnya dan merakit kisahnya dalam arca -arca peninggalan arkeologi. 

Di pura itu, Karna terpana, nyaris tak percaya, mahkota itu disematkan oleh ibunya, bukan Drupadi seperti yang dijanjikan.

“Ibuku adalah Kunti bukan Drupadi, kecintaanku adalah Drupadi bukan Kunti.” Kecerdasan Karna tak mampu menembus teka-teki itu. Karna sedikit merasa lucu, saat ibunya nengerling genit. 

“Ingat ibu sudah tua, ingat umur,” ejek Karna yang membuat ibunya keki. 

“Ibu masih saja bodoh, lugu dan kepala batu, tugas anak hanya mengungatkan, diterima tidaknya terserah yang diingatkan, ” tandas Karna 

“Bukannya kamu yang mengutukku jadi batu dan  kepala batu?” Ibunya terkekeh. 

Mata Karna mengerjap ngerjap. Mahkota wijaya kusuma itu berpendar-pendar.

Sungguh ia ingin Drupadi, wanita muda dan cantik itu, yang menyematkannya dengan penuh rasa cinta. 

Sialan. [T]

  • BACA cerpen-cerpen lain
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta
Undangan Pernikahan | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Senja di Akhir Luka | Cerpen Ni Wayan Sumiasih
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi GM Sukawidana | Rumah Warna Snerayuza

Next Post

Percumbuan Estetik Nawa-Sena

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Percumbuan Estetik Nawa-Sena

Percumbuan Estetik Nawa-Sena

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co