24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta

Krisna Wiryasuta by Krisna Wiryasuta
June 24, 2023
in Cerpen
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta

Ilustrasi Krisna Wiryasuta

ANGIN PESISIR mengantar debu, menerbangkan rambut Ketut Sujana. Rambut yang selalu disisir rapi itu pun kini tak rapi lagi. Ketut Sujana harus merapikan lagi, berkali-kali.

Belakangan ini Ketut Sujana memang harus menjaga pemapilannya. Dalam tiga bulan mendatang ia akan melangsungkan pernikahan, tentu penampilan akan menjadi penting baginya demi menjaga keyakinan keluarga mempelai perempuan.

Sujana akan meminang Nengah Surni,  seorang gadis asal Desa Sebuli, sebuah desa dingin  yang terletak di kaki Gunung Merbuk di Jembrana. Sementara Sujana sendiri lahir di daerah pesisir, Desa Ambuhan. Masyarakat Jembrana memiliki sebutan unik untuk pasangan semacam ini: pasangan “nyegara gunung”. Artinya, pasangan yang berasal dari daerah pesisir dan juga pegunungan.

Ketut Sujana baru saja menyelesaikan pendidikannya di sebuah kampus di Bali Utara. Empat tahun merantau membuat Ketut Sujana meninggalkan sebagian kewajibanya sebagai pemuda hindu di Desa Ambuhan. Sebagai desa kecil, Ambuhan memberikan kewajiban tidak tertulis kepada setiap penduduknya, semacam budaya yang diwariskan oleh leluhurnya, kemudian disempurnakan menjadi sebuah aturan tertulis, yang kemudian disebut sebagai awig-awig oleh masyarakat Ambuhan

Persiapan pernikahan Sujana dan Nengah Surni tinggal sebulan lagi. Sujana telah memesan lima ekor babi dari tetangganya sebagai bahan olahan untuk menu utama resepsi mereka. Keluarga Sujana terlihat sangat bersemangat dengan perayaan yang mereka bayangkan akan berlangsung meriah.

Surat undangan akan segera disebar oleh Sujana. Melalui panggilan telepon, ayah Ketut Sujana menanyakan persiapan mereka. Ayah Sujana adalah seorang anggota dewan yang bertugas di ibu kota, sehingga jarang pulang ke rumah. Dia hanya pulang saat Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Masyarakat Ambuhan merasa kesal dan dendam terhadap keluarga Sujana. Tidak tanpa alasan, keluarga Sujana jarang berbaur dan membantu masyarakat dalam berbagai kegiatan.  Warga Ambuhan menilai awig-awig (aturan desa) sudah menjadi buku sejarah bagi keluarga Sujana. Ayah Sujana yang jarang pulang dan Sujana yang lama merantau merupakan senjata bagi warga Desa Ambuhan untuk membenci keluarga Sujana.

Resepsi pernikahan tinggal dua minggu lagi, dan keluarga besar Ketut Sujana mulai menetap di rumahnya untuk membantu persiapan acara itu.

Lalu tibalah hari di mana Ketut Sujana harus ngidih busung. Ngidih busung adalah hak setiap warga Desa Ambuhan untuk meminta janur kepada seluruh kepala keluarga yang tinggal di sana. Ini adalah salah satu rangkaian acara pernikahan yang tertulis dalam awig-awig atau aturan desa Ambuhan.

Seperti aturan-aturan lainnya, ngidih busung bersifat mengikat bagi semua warga. Namun, keanehan mulai muncul ketika waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, dan belum ada satupun warga yang datang membawa busung untuk Ketut Sujana.

Sujana mulai merasa cemas.

“Bagaimana jika tidak ada yang membawa busung? Upacara ini membutuhkan banyak busung. Berapa banyak uang yang harus saya keluarkan untuk membeli busung jika tidak ada yang membawanya?” ucap Sujana kepada ayahnya yang sudah tiba di rumah sejak pagi.

Ketakutan itupun menjadi kenyataan. Sampai pukul sembilan malam, hanya ada empat orang yang membawa busung. Mereka adalah tetangga yang tinggal paling dekat dengan rumah Ketut Sujana. Sujana yakin bahwa mereka mematuhi awig-awig karena merasa tidak enak kepada Ketut Sujana, mengingat rumah mereka sangat dekat.

Malam semakin larut, rumah Ketut Sujana dikunjungi oleh Komang Sulir yang menjadi kelian banjar. Komang Sulir menyampaikan rasa prihatinnya kepada Ketut Sujana.

“Tut, saya turut prihatin. Sebagai ketua, saya merasa bertanggung jawab dalam situasi ini,” ucapnya setelah meneguk kopi yang disajikan oleh Sujana.

“Tidak apa-apa, Pak. Kami mungkin akan membeli busung di pasar untuk upacara nanti,” jawab Sujana dengan sedikit senyuman yang menandakan kekecewaannya terhadap warga desa.

Setelah beberapa tegukan kopi dan dua potong pisang goreng, Komang Sulir pamit pulang. Raut kekhawatiran dan ketakutan juga terlihat di wajah Komang Sulir, tidak ada yang tahu apa yang ada di pikirannya.

Setelah itu, Ketut Sujana meneteskan air mata. “Apa salahku kepada warga desa? Mengapa mereka seolah-olah membenciku?” ucapnya dengan lirih.

Malam itu, beralaskan selembar tikar daun pandan disusul dengan wajah cemas, keluarga Sujana berkumpul dan mencari solusi. Diskusi ditutup dengan kesepakatan keluarga mereka akan membeli busung dan perlengkapan lainnya sendiri tanpa bantuan warga desa.

Sejak saat itu, keluarga Sujana mulai sibuk berbelanja, membuat banten dalam jumlah yang sangat banyak, dan menyiapkan dekorasi yang sudah dipesan beberapa hari sebelumnya dari sebuah perusahaan dekorasi. Sujana  takut bahwa tidak akan ada warga yang membantunya jika ia membuat dekorasi sendiri.

Langit mulai memerah, embun-embun di ujung dedaunan mulai terlihat. Keluarga Ketut Sujana sibuk mempersiapkan berbagai kebutuhan resepsi sejak pagi. Pagi ini, mereka akan melaksanakan ngayah sesuai dengan awig-awig yang ada, setiap warga wajib datang pagi-pagi sekali ke rumah warga yang memiliki upacara.

Mereka bertugas memotong babi, membuat lawar, dan melakukan persiapan lainnya yang diperlukan. Namun, ketika matahari sudah berada di atas kepala, belum ada warga yang datang membantu. Padahal, esok hari adalah kedatangan mempelai wanita dan malamnya akan diadakan resepsi.

Hari sudah sore, namun persiapan belum selesai. Dari kejauhan, terlihat rombongan bus datang dan berhenti tepat di depan rumah Sujana. Ternyata, keluarga mempelai wanita sudah datang bersama keluarga besar mereka. Keluarga Nengah Surni kaget melihat suasana yang sangat sepi.

Mereka menyimpulkan bahwa Sujana adalah pemuda yang tidak dihargai oleh warga desa karena jarang berada di rumah dan tidak pernah membantu upacara warga lain.

Tanpa pikir panjang, keluarga Nengah Surni tiba-tiba membatalkan acara pernikahan anak mereka. Mereka tidak ingin menikahkan anak mereka dengan keluarga yang tidak disukai oleh warga desa. Mereka takut anak mereka akan menjadi korban kebengisan warga desa.

Suasana yang seharusnya bahagia berubah menjadi tegang ketika keluarga Nengah Surni bergegas meninggalkan rumah Ketut Sujana. Sujana hanya bisa menangis melihat keadaan ini. Keluarga Nyoman Sujana satu persatu meneteskan air mata.

“Mengapa warga desa begitu kejam?” teriak Nyoman Sujana.

Teriakan ini didengar oleh tetangganya yang kemudian mendekat.

“Sujana, ini semua karena dirimu sendiri dan ayahmu,” ucap tetangganya.

“Apa yang salah, Bli?” Tanya Sujana.

“Kalian adalah warga desa yang tidak peduli dengan aturan dan kondisi desa ini. Kalian tidak pernah melakukan ngayah dan memberikan busung, padahal itu tercantum dalam awig-awig desa,”  sahut tetangga Ketut Sujana.

“Tapi kami selalu membayar jika ada kegiatan ngayah dan ngidih busung. Uangnya selalu saya titipkan kepada Pak Kelian Banjar, Pak Komang Sulir,” ucap Sujana dengan jelas.

“Tapi uangnya tidak pernah sampai ke sana,” sahut tetangga lainnya.

Semua orang di sana saling bertatap-tatapan bingung. Sujana merasa bahwa dia telah menjalankan kewajibannya sebagai warga desa dan mengikuti peraturan desa. Dia merasa kesal dan bertanya-tanya.

Terungkap bahwa Nyoman Sulir-lah yang menjadi dalang di balik semua ini. Uang yang selama ini dititipkan oleh Nyoman Sujana tidak pernah sampai ke warga, melainkan digunakan untuk kepentingan pribadi Nyoman Sulir. Warga yang ada di sana merasa bersalah kepada Ketut Sujana yang sekarang harus menerima keadaan ini.

Jadilah, Ketut Sujana menjatuhkan pilihanya untuk menjadi bujang seumur hidup, dan Komang Sulir terkurung di jeruji besi lapas Jembrana. [T]

  • BACA cerpen-cerpen lain
Undangan Pernikahan | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Senja di Akhir Luka | Cerpen Ni Wayan Sumiasih
Komang | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Taufikur Rahman Al Habsyi | Membicarakan Jarak; Mengundang Rindu, Membenci Waktu

Next Post

Sugesti dan Pengaruhnya untuk Kesehatan

Krisna Wiryasuta

Krisna Wiryasuta

Penulis, tinggal di Jembrana, Bali

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Sugesti dan Pengaruhnya untuk Kesehatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co