15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta

Krisna Wiryasuta by Krisna Wiryasuta
June 24, 2023
in Cerpen
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta

Ilustrasi Krisna Wiryasuta

ANGIN PESISIR mengantar debu, menerbangkan rambut Ketut Sujana. Rambut yang selalu disisir rapi itu pun kini tak rapi lagi. Ketut Sujana harus merapikan lagi, berkali-kali.

Belakangan ini Ketut Sujana memang harus menjaga pemapilannya. Dalam tiga bulan mendatang ia akan melangsungkan pernikahan, tentu penampilan akan menjadi penting baginya demi menjaga keyakinan keluarga mempelai perempuan.

Sujana akan meminang Nengah Surni,  seorang gadis asal Desa Sebuli, sebuah desa dingin  yang terletak di kaki Gunung Merbuk di Jembrana. Sementara Sujana sendiri lahir di daerah pesisir, Desa Ambuhan. Masyarakat Jembrana memiliki sebutan unik untuk pasangan semacam ini: pasangan “nyegara gunung”. Artinya, pasangan yang berasal dari daerah pesisir dan juga pegunungan.

Ketut Sujana baru saja menyelesaikan pendidikannya di sebuah kampus di Bali Utara. Empat tahun merantau membuat Ketut Sujana meninggalkan sebagian kewajibanya sebagai pemuda hindu di Desa Ambuhan. Sebagai desa kecil, Ambuhan memberikan kewajiban tidak tertulis kepada setiap penduduknya, semacam budaya yang diwariskan oleh leluhurnya, kemudian disempurnakan menjadi sebuah aturan tertulis, yang kemudian disebut sebagai awig-awig oleh masyarakat Ambuhan

Persiapan pernikahan Sujana dan Nengah Surni tinggal sebulan lagi. Sujana telah memesan lima ekor babi dari tetangganya sebagai bahan olahan untuk menu utama resepsi mereka. Keluarga Sujana terlihat sangat bersemangat dengan perayaan yang mereka bayangkan akan berlangsung meriah.

Surat undangan akan segera disebar oleh Sujana. Melalui panggilan telepon, ayah Ketut Sujana menanyakan persiapan mereka. Ayah Sujana adalah seorang anggota dewan yang bertugas di ibu kota, sehingga jarang pulang ke rumah. Dia hanya pulang saat Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Masyarakat Ambuhan merasa kesal dan dendam terhadap keluarga Sujana. Tidak tanpa alasan, keluarga Sujana jarang berbaur dan membantu masyarakat dalam berbagai kegiatan.  Warga Ambuhan menilai awig-awig (aturan desa) sudah menjadi buku sejarah bagi keluarga Sujana. Ayah Sujana yang jarang pulang dan Sujana yang lama merantau merupakan senjata bagi warga Desa Ambuhan untuk membenci keluarga Sujana.

Resepsi pernikahan tinggal dua minggu lagi, dan keluarga besar Ketut Sujana mulai menetap di rumahnya untuk membantu persiapan acara itu.

Lalu tibalah hari di mana Ketut Sujana harus ngidih busung. Ngidih busung adalah hak setiap warga Desa Ambuhan untuk meminta janur kepada seluruh kepala keluarga yang tinggal di sana. Ini adalah salah satu rangkaian acara pernikahan yang tertulis dalam awig-awig atau aturan desa Ambuhan.

Seperti aturan-aturan lainnya, ngidih busung bersifat mengikat bagi semua warga. Namun, keanehan mulai muncul ketika waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, dan belum ada satupun warga yang datang membawa busung untuk Ketut Sujana.

Sujana mulai merasa cemas.

“Bagaimana jika tidak ada yang membawa busung? Upacara ini membutuhkan banyak busung. Berapa banyak uang yang harus saya keluarkan untuk membeli busung jika tidak ada yang membawanya?” ucap Sujana kepada ayahnya yang sudah tiba di rumah sejak pagi.

Ketakutan itupun menjadi kenyataan. Sampai pukul sembilan malam, hanya ada empat orang yang membawa busung. Mereka adalah tetangga yang tinggal paling dekat dengan rumah Ketut Sujana. Sujana yakin bahwa mereka mematuhi awig-awig karena merasa tidak enak kepada Ketut Sujana, mengingat rumah mereka sangat dekat.

Malam semakin larut, rumah Ketut Sujana dikunjungi oleh Komang Sulir yang menjadi kelian banjar. Komang Sulir menyampaikan rasa prihatinnya kepada Ketut Sujana.

“Tut, saya turut prihatin. Sebagai ketua, saya merasa bertanggung jawab dalam situasi ini,” ucapnya setelah meneguk kopi yang disajikan oleh Sujana.

“Tidak apa-apa, Pak. Kami mungkin akan membeli busung di pasar untuk upacara nanti,” jawab Sujana dengan sedikit senyuman yang menandakan kekecewaannya terhadap warga desa.

Setelah beberapa tegukan kopi dan dua potong pisang goreng, Komang Sulir pamit pulang. Raut kekhawatiran dan ketakutan juga terlihat di wajah Komang Sulir, tidak ada yang tahu apa yang ada di pikirannya.

Setelah itu, Ketut Sujana meneteskan air mata. “Apa salahku kepada warga desa? Mengapa mereka seolah-olah membenciku?” ucapnya dengan lirih.

Malam itu, beralaskan selembar tikar daun pandan disusul dengan wajah cemas, keluarga Sujana berkumpul dan mencari solusi. Diskusi ditutup dengan kesepakatan keluarga mereka akan membeli busung dan perlengkapan lainnya sendiri tanpa bantuan warga desa.

Sejak saat itu, keluarga Sujana mulai sibuk berbelanja, membuat banten dalam jumlah yang sangat banyak, dan menyiapkan dekorasi yang sudah dipesan beberapa hari sebelumnya dari sebuah perusahaan dekorasi. Sujana  takut bahwa tidak akan ada warga yang membantunya jika ia membuat dekorasi sendiri.

Langit mulai memerah, embun-embun di ujung dedaunan mulai terlihat. Keluarga Ketut Sujana sibuk mempersiapkan berbagai kebutuhan resepsi sejak pagi. Pagi ini, mereka akan melaksanakan ngayah sesuai dengan awig-awig yang ada, setiap warga wajib datang pagi-pagi sekali ke rumah warga yang memiliki upacara.

Mereka bertugas memotong babi, membuat lawar, dan melakukan persiapan lainnya yang diperlukan. Namun, ketika matahari sudah berada di atas kepala, belum ada warga yang datang membantu. Padahal, esok hari adalah kedatangan mempelai wanita dan malamnya akan diadakan resepsi.

Hari sudah sore, namun persiapan belum selesai. Dari kejauhan, terlihat rombongan bus datang dan berhenti tepat di depan rumah Sujana. Ternyata, keluarga mempelai wanita sudah datang bersama keluarga besar mereka. Keluarga Nengah Surni kaget melihat suasana yang sangat sepi.

Mereka menyimpulkan bahwa Sujana adalah pemuda yang tidak dihargai oleh warga desa karena jarang berada di rumah dan tidak pernah membantu upacara warga lain.

Tanpa pikir panjang, keluarga Nengah Surni tiba-tiba membatalkan acara pernikahan anak mereka. Mereka tidak ingin menikahkan anak mereka dengan keluarga yang tidak disukai oleh warga desa. Mereka takut anak mereka akan menjadi korban kebengisan warga desa.

Suasana yang seharusnya bahagia berubah menjadi tegang ketika keluarga Nengah Surni bergegas meninggalkan rumah Ketut Sujana. Sujana hanya bisa menangis melihat keadaan ini. Keluarga Nyoman Sujana satu persatu meneteskan air mata.

“Mengapa warga desa begitu kejam?” teriak Nyoman Sujana.

Teriakan ini didengar oleh tetangganya yang kemudian mendekat.

“Sujana, ini semua karena dirimu sendiri dan ayahmu,” ucap tetangganya.

“Apa yang salah, Bli?” Tanya Sujana.

“Kalian adalah warga desa yang tidak peduli dengan aturan dan kondisi desa ini. Kalian tidak pernah melakukan ngayah dan memberikan busung, padahal itu tercantum dalam awig-awig desa,”  sahut tetangga Ketut Sujana.

“Tapi kami selalu membayar jika ada kegiatan ngayah dan ngidih busung. Uangnya selalu saya titipkan kepada Pak Kelian Banjar, Pak Komang Sulir,” ucap Sujana dengan jelas.

“Tapi uangnya tidak pernah sampai ke sana,” sahut tetangga lainnya.

Semua orang di sana saling bertatap-tatapan bingung. Sujana merasa bahwa dia telah menjalankan kewajibannya sebagai warga desa dan mengikuti peraturan desa. Dia merasa kesal dan bertanya-tanya.

Terungkap bahwa Nyoman Sulir-lah yang menjadi dalang di balik semua ini. Uang yang selama ini dititipkan oleh Nyoman Sujana tidak pernah sampai ke warga, melainkan digunakan untuk kepentingan pribadi Nyoman Sulir. Warga yang ada di sana merasa bersalah kepada Ketut Sujana yang sekarang harus menerima keadaan ini.

Jadilah, Ketut Sujana menjatuhkan pilihanya untuk menjadi bujang seumur hidup, dan Komang Sulir terkurung di jeruji besi lapas Jembrana. [T]

  • BACA cerpen-cerpen lain
Undangan Pernikahan | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Senja di Akhir Luka | Cerpen Ni Wayan Sumiasih
Komang | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Taufikur Rahman Al Habsyi | Membicarakan Jarak; Mengundang Rindu, Membenci Waktu

Next Post

Sugesti dan Pengaruhnya untuk Kesehatan

Krisna Wiryasuta

Krisna Wiryasuta

Penulis, tinggal di Jembrana, Bali

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Sugesti dan Pengaruhnya untuk Kesehatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co