2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Taufikur Rahman Al Habsyi | Membicarakan Jarak; Mengundang Rindu, Membenci Waktu

Taufikur Rahman Al Habsyi by Taufikur Rahman Al Habsyi
June 24, 2023
in Puisi
Puisi-puisi Taufikur Rahman Al Habsyi | Membicarakan Jarak; Mengundang Rindu, Membenci Waktu

AKU BERLINDUNG KEPADA RINDU

selalu ada jarak yang melahirkan rindu
menahan sesak dalam putaran waktu
menjauhkan hitungan jari dengan denyut nadi
sebelum malam benar-benar pergi

kota ku lenyap oleh gelap
bagaimana dengan kotamu?
aku sendiri tak pernah tahu
rindu di tumpuk menjadi debu

sedang aku takut tak bisa memandangmu
kita tak pernah bertemu
kecuali bunga tidur mengantarkan ke kasur
dan itu satu-satunya cara menemukanmu

semula semua biasa saja
aku tak pernah menaruh rasa curiga
kecuali waktu yang merahasiakan
jumpa sepasang kekasih diakhir pekan

rindu itu penyakit yang selalu ku inginkan
tempat mencari perlindungan
setelah gagal ku peluk sebelum pulang
aku menghampirimu diteras depan
masih sama dalam mimpi pukul delapan
sampai kau lenyap secepat kilatan

Singaraja, 2018

RINDU DAN PUISI

rindu dan puisi
yang semakin perih jika kutulis
engkau memberiku sepi
tak terucapkan tanpa tangis

rindu dan puisi
ruang itu kosong tak berisi
segala yang sunyi terlukai
sebab segalanya tak mau mengerti

pilihlah kata-kata terbaik
sebelum aku ambil satu bait
menjadi sebuah larik
tertulis dan tercabik-cabik

rinduku adalah tunggu api
puisiku ialah bara sekam
keduanya sama-sama saling membakar

Singaraja,2018

AIR TERJUN TEMBOK BARAK

gemiricik air sebagai musik alam
pada lembah beku yang menurun terjal
cahaya mengirim terang pada pohon sekitar
sedang rumput cemas pada kau
yang sedang asyik mengambil gambar

cuaca tak pernah bisa ku pinta
sore itu kau sebagai perupa
aku tumbang dan karam dalam riak air
melepas gulungan-gulungan keinginan

menjelma langit makin buram
kau meminta untuk segera pulang
menyebrang kau di atas bebatuan
aku berjalan kecil menjagamu dari belakang

kepada pertemuan ini
kupu-kupu berterbangan liar
kabut turun dari air yang jatuh ke dasar
pada kusut wajah yang merebah ke permukaan

kau melukis sekitar
dan biar aku menulis sekeliling
ada ribuan kerak pada hari yang kekal
termasuk aku yang jatuh dalam beku bibir kau

kau melahirkan garis-garis
dan aku mengelurkan larik-larik
keduanya menjadi bingkai sajak dalam lukis

Sambangan, 2018

BUKIT KURSI

ketinggian dilahap mentah-mentah
awan berarak membentuk apa saja yang ia sukai;
bayi mungil menangis, anak kecil berlarian, remaja telanjang dada, laki-laki setengah baya, tuan dan renta
poa-pola itu ditumbuk oleh angin
dihamburkan tebing, luruh di kaki rumput-rumput kering.

kau pintal tangga saban waktu
orang-orang datang tanpa diundang
ia meminta Tuhan yang duduk di kursi
pulang membawa segala isi do`a yang di panjat mangku

disebrang pantai warna biru dihampar
diterbangkan bau asin yang luruh sebelum sampai puncak
entah kursi yang diisi binatang berbadan manusia
katanya; Kutukan Tuhan

ku baca dan ku ulangi
kejadian yang kau anggap bencana
di awal bulan, di akhir tahun.
duduk!

Pemuteran, 2018

TAMAN DAN KESEPIAN

kau tahu; Kesepian paling mencekam ialah sepi dalam keramian
kau ada ditengah-tengah obrolan orang
dan tak paham sedikit pun

di dalam tempurung pikiran
selalu ku ciptakan hadir kau
sebab orang lain telah menjadi asing

dalam minuman dingin yang ku pesan
ku tenggak perlahan, lega sekaligus khawatir
persis ke—kata yang tak bisa kau ucapkan

memilih atau tidak; Sampai dingin lenyap
sedang harap bakal retak
pergi akan menjadi jalan terakhir

aku sering dikewakan, ku rasa kau pun demikian
di ruang sebelah ada yang memintamu pulang
duduk di taman bersebelahan
dan rumah yang telah disediakan

laki-laki sama saja seperti perempuan
menunggu itu membosankan
sedang keputusan ialah sebuah kemenangan

tak ada paksa untuk kau
berbalik badan membuang muka
seperti dalam cermin yang tak menampakkan kita

aku telah menjadi pengembara
sejak pertama mengenal kau
ku harap kau tak membuatku tersesat ditengah jalan
menuju tempat yang kita sebut pelaminan

aku lebih suka dibilang pikun
sebab menjadi pikun
ialah caraku mencintaimu tanpa rasa sakit sedikit pun

Singaraja, 2018

BANGKOK DAN JARAK

kau telah berada di sana
meninggalkan rindu yang tak sempat kau tuntaskan
di kota yang tak pernah ku singgahi
dan kau bukan lagi orang asing
cinta tak ingin berpaling
menuju kepergian untuk kepulangan

di Bangkok jarak itu membentang
dengan waktu yang berbeda
ku peluk tubuhku sendiri
dan masa lampau membuatmu bingung
antara dia atau yang baru datang

ada hal yang tak pernah terucap
oleh perih yang tertahankan

aku seperti tenggelam dalam bola matamu
yang dalam dan diam di kelopak matamu
tenggelam dan tak ingin menutupnya

kau tak ingin sia-sia
dan aku ingin terbiasa
mencintaimu tanpa resah
sehingga kau tenang dan pasrah
membuka hati untukku
yang tetiba memintamu
utnuk mencintaiku tanpa membuat orang lain sakit

jarak bekerja dengan mengancam luka
rindu bekerja dengan menabur kekhwatiran
sedang cinta bekerja penuh rasa keyakinan
untuk sama-sama mengusakan kita tak ada yang kecewa

Singaraja, 2018

SILAHKAN KAU MENJAUH

silahkan kau menjauh
sampai kau tak bisa lagi ku sentuh
lupakan kita pernah
saling tatap, dekat, lekat
bahkan tinggal satu atap

kau perempuan yang lahir dari ketiadaan
maka aku ditakdirkan untuk melupakan

jika kau pergi jauh sejauh-jauhnya
aku bahagia telah menemui penyesalan
dan menertawakan kesia-siaan
menjadi bayang-bayang kenangan yang menyakitkan

lalu kenapa tangis harus jatuh dari mata yang terpejam
dan hujan selalu datang membawa sekarung kenangan
sebab rupanya Tuhan tahu
kau jatuh ke jurang ketiadaan

selamat tinggal untuk kau yang mencoba pergi
aku telah menjadi lelaki yang sulit bangun pagi
sebab ketika ku buka mata untuk pertama kali
aku telah bersumpah tidak berdiri
sebelum aku menjadi pintu
yang selalu membuka lembaran baru
dan menutup hati untuk yang mencoba kembali

maka, silahkan kau menjauh
biar air mata jatuh
sampai kesedihan tak lagi luruh

Singaraja, 2018

JARAK ADALAH JURANG PERTEMUAN

jarak adalah jurang pertemuan
yang membuatku jatuh setelah kau lepaskan
menuju kerinduan yang kita ciptakan

aku memeluk gunung
sekedar untuk bangkit
untuk naik kelangit
sampai puncak paling sakit

aku membayangkan untuk menjadi rumput
sebagai mahluk yang selalu tumbuh
ketika musim semi dan kering memasuki kemarau
sebab begitulah kerja jarak dan waktu
menghadirkan sekaligus menghilangkan

sebab itu aku membenci jarak
yang dilahirkan waktu
dan kita tak kunjung bertemu

Singaraja, 2018

  • BACA puisi-puisi lain dari penyair Indonesia
Puisi-puisi Kardanis Mudawi Jaya | Belajar Mengaji Pada Ibu
Puisi-puisi Azman H. Bahbereh | Cinta
Puisi-puisi Rai Sri Artini | Gerimis Belum Usai
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bukan Liyan, Lebur Tiada Jarak:  Faisal Baraas dalam Leak

Next Post

Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta

Taufikur Rahman Al Habsyi

Taufikur Rahman Al Habsyi

Biasa dipanggil Koko Opik. Lahir di Bondowoso, 05-06-1998. Anak kedua dari pasangan Arjas dan Irliya, orang tua yang selalu berjuang membahagiakan anak-anaknya.

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta

Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co