2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mimpi-mimpi Dewi Sri | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
June 16, 2024
in Cerpen
Mimpi-mimpi Dewi Sri | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

DEWI Sri atau sering juga disebut Bhatari Sri, Sanghyang Sri adalah sakti dari Dewa Wisnu atau Bhatara Wisnu, Sanghyang Wisnu.

Umat Hindu percaya Dewa Wisnu dan dan saktinya merupakan salah satu manifestasi Tuhan dalam fungsinya sebagai pelihara, penjaga, dan pelindungi dunia.

Sebutan Dewa/Dewi bermakna sinar atau cahaya  sedangkan sebutan Bhatara/Bhatari bermakna perbuatan sedangkan Sanghyang bermakna esensi/suksma. Kalau disamakan dengan seorang manusia, maka Dewi  Sri adalah cahaya antah karana sarira, tubuh penyebab, Bhatari Sri adalah Stula Sarira, tubuh fisik, dan Sanghyang Sri adalah Suksma Sarira, tubuh nafas.

Pada saat Dewi Uma ditugaskan turun ke dunia, sebagai orang bhuta dan suaminya Dewa Iswara ditugaskan turun sebagai gajah, maka konon kahyangan menjadi gempar. Para Dewa banyak yang tak setuju untuk turun ke bumi menitis menjadi manusia biasa.

Diantara para Dewa dan Dewi disertai para Apsara-Apsari yang ikut turun ke bumi adalah Dewa Wisnu, tapi sayangnya selama berada di bumi Dewa Wisnu tak bisa melaksanakan tugasnya sebagai penjaga, pelindung dan pemelihara bumi, karena saktinya Dewi Sri diturunkan ke bumi dalam kondisi tidur. Ya Dewi Sri, yang bermakna cemerlang, bersih itu telah lama tertidur, jiwa raga dan pikirannya dipenuhi oleh mimpi-mimpi.

“Mahadewa memang aneh, selalu tak terduga dan penuh kejutan, ” desir lembut Dewa Wisnu dari bibirnya yang selalu mengungging senyum itu.

Walaupun nyaris merasa dirinya sebagai pengangguran Dewa Wisnu tak kehabisan akal. Agar bisa menjalankan peran sebagai penjaga, pemelihara  pelindung bumi, Dewa Wisnu bekerja sebagai petani. Berbagai macam tananam ditanamnya.

Saat menanam Padi dan melihat bulir-bulir pada yang berma, Dewa Wisnu ingat jadi ingat pada saktinya Dewi Sri, yang juga disebut sebagai Dewi Padi. Bulir-bulir padi itu terlihat seperti kelopak bola mata Dewi Sri yang terpejam. Pada saat-saat seperti itu Dewa Wisnu hadir dalam mimpi Dewi Sri sebagai anak petani yang memandikan kerbau, duduk di atas punggungnya sambil meniup seruling yang mengungkap kerinduan hatinya.

Suara seruling yang mendayu-dayu justru membuat Dewi Sri semakin masuk ke dalam mimpi-mimpinya.

“Batang-batang padi itu terkecap manis. Padi-padi yang menguning seperti emas, dan teriakan para pengusir burung, seperti panggilan sorga yang sangat jauh, ” Dewi Sri terharu, dua titik air bening menetes dari kedua sudut matanya.

“Sttt junjungan kita akan segera terbangun,  jangan berisik, ” bisik-bisik Apsara-Apsari penjaga.

“Tanah tanpa air, tak bisa menumbuhkan pohon-pohon. Air tak dialirkan tergenang, tempat bersarang bakteri penyakit. Air tanpa dijaga, dikelola, akan diperebutkan, mendatangkan perselisihan, keributan, ” Dewa Wisnu  petani tercenung. Mengajak para petani berkumpul, berdiskusi, mencari solusi.

“Biasanya saya menanam padi perlu waktu tiga hari. Sekarang dibantu dua orang, menanam padi bisa sehari,” ucap seorang petani.

“Kalau dibantu 5 orang, setengah bisa selesai, ” tambah yang lain.

“Membangun rumah juga jadi cepat karena dibantu banyak orang. Pasti seru jika kita bisa selalu bersama, ‘”  yang lain menyimpulkan.

Para petani membuat perkumpulan, membagi air dengan adil, mengatur jenis tananam sesuai musim.

Bekerja bersama, dengan gembira, sambil menyanyi, menari atau membuat cerita lucu. Para istri petani tak mau kalah, berlomba membuat makanan enak, aneka kue, berbagai jenis anyaman juga tenunan. Dewa Wisnu, petani bersemangat memberi insprirasi, Apsara-Apsari membantu mengajarkan  seni, teknologi, dan strategi.

Dewi Sri masih bermimpi, dua sejoli, suami istri, dipuja-puji, dibuatkan cili.

Di Bali, sorga diturunkan ke bumi. Dewi Sri dibuatkan candi, diperbesar karena sumbangan politisi, dengan upacara berbiaya tinggi, seolah anugrah bisa dibeli, lupa karma menanti, tanpa terkecuali.

Dewi Sri gelisah, mimpi sorga dalam kobaran api. Musuh pikiran yang tak bertepi, semakin menjadi-jadi. Beritual untuk agar dianggap paling berpunya, paling benar, paling suci, paling mulia, paling baik, paling berjasa, dan paling alami. Menipu diri,  membohongi nurani demi gengsi.

Tubuh Dewi Sri makin beku  serupa Gunung Emas tinggi berkilau hanya membuat silau.

Apsara-Apsari panik manggil-manggil Dewa Wisnu, memujanya.

Tapi Dewi Sri tertidur lagi

tanpa mimpi. Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, hampir seribu tahun.

Hampir seribu tahun di bumi, Dewa Wisnu juga hampir melupakan tujuannya ke Bumi. Sebagai manusia bumi biasa, Dewa Wisnu hampir melupakan hakekatnya yang sejati, sebagai Dewa, Bhatara dan Sanghyang, Dewa Wisnu juga lupa bahwa tanpa Dewi Sri sebagai tubuh fisik, Kedewaan dan Kebhataraan Wisnu tidak akan terlihat.

Mahadewa tersenyum di angkasa, Dewa Wisnu tersadar akan kemahadewaan yang ada pada dirinya. Saatnya dia meniupkan nafas pada Dewi Sri, tubuh emas berkilau yang lama tertidur.

Sangkakala bergema, Dewi Sri terbangun dari tidur panjangnya. Saatnya Dewa Sri Sedana, kembali memutar kala cakra. [T]

[][][]

BACA cerpen-cerpen lain

Keris | Cerpen Mas Ruscitadewi
Luh Jalir | Cerpen Mas Ruscitadewi
Bom dan Bapak | Cerpen Surya Gemilang
Lelaki Tua Bersama Bunga-Bunga | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Transisi PAUD ke SD Apakah Sudah Menyenangkan?

Next Post

Pelembagaan dan Pembudayaan Bahasa Bali

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Pelembagaan dan Pembudayaan Bahasa Bali

Pelembagaan dan Pembudayaan Bahasa Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co