14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik

Made Chandra by Made Chandra
June 1, 2025
in Ulas Rupa
Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik

Solo Presentation “ Study of Mechanical Reproduction” di Rumah mentari, Penatih, Denpasar

PERNAHKAH kita berpikir apa yang membuat sebuah foto begitu bermakna, jika hari ini kita bisa mereproduksi sebuah foto berulang kali dengan mudah? Di saat kini mulai bersusulan teknologi handphone dengan ukuran pixel kamera yang kian tak terbendung.

Mungkin kita bisa menghela nafas sebentar untuk kemudian menoleh balik bagaimana fotografi muncul sebagai sebuah pembaharu dalam metode perekaman gambar pada masa lampau.

Pada awalnya kamera  justru diciptakan untuk membantu seorang pelukis dalam membantu meningkatkan presisi dalam melukiskan sebuah pemandangan ataupun berbagai objek dunia nyata lainnya, hal itu bermula pada awal abad ke-16 saat camera obscura pertama kaliditemukan sebagai alat bantu, yang lalu pada perkembangannya ia berdiri sendiri sebagai alat penangkap gambar yang dicetak kedalam sebuah media kertas melalui eksperimentasi di bidang optik dan kimia, menghasilkan sebuah foto dari hasil mekanik yang kompleks pada masanya.

Perkembangan fotografi seolah melaju dengan cepat—melintas waktu dan zaman, kemunculannya dinilai sebagai sebuah pembaharu namun di sisi yang lain ia juga dipandang sebagai sebuah ketakutan akan tergesernya peran para pelukis dalam membekukan satu momen tertentu. Walaupun pada akhirnya ketakutan tersebut tak terbukti, jika dilihat keberperanan antara fotografi dan lukisan yang kini sungguh jauh berbeda.

Fotografi pun tak luput dari perubahan era digitalisasi, ia yang awalnya selalu berkutat dengan hal-hal teknis, kini perlahan mulai meninggalkan unsur-unsur “mekanis” nya, kemudian tergantikan dengan tangkapan kamera dengan lensa yang bahkan tak menghasilkan bunyi sedikit pun.

Hal itu berlanjut ketika bagaimana fotografi juga akhirnya lepas dalam peran praktisnya lalu masuk, dan diakui sebagai sebuah karya seni yang mencoba lepas dari konvensi klasik tentang bagaimana sebuah karya seni diciptakan.  

Ade dan Mechanical Reproduction

Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang secara sadar dan tidak sadar, terpantik melalui diskusi dari sebuah Solo Presentation “ Study of Mechanical Reproduction”  oleh Ade Ahimsa, Rumah Mentari, Penatih, Bali, pada Sabtu lalu. Sebuah perayaan atas perjalanan melintas ruang waktu dan pertanyaan menubuhnya tentang iklim fotografi yang selama ini ia geluti, terutama dalam konteks Bali dan fotografi itu sendiri,

Diskusi ini menyoroti berbagai topik yang berelasi dengan pertanyaan-pertanyaan di awal, tentang bagaimana fotografi mengalami polemik dalam kemunculannya, namun kini ia seolah terjebak pula dalam polemik dengan pola yang hampir sama, ketika muncul berbagai teknologi Artificial Intellgence yang dengan gampangnya menghasilkan sebuah proyeksi gambar hanya melalui prompt dan Kumpulan data.

Ade membuka diskusi ini dengan dirinya yang tergugah untuk melakukan presentasi atas buah pikir yang sempat tertunda sebelumnnya, sesaat setelah ia menyelesaikan studi akhir di kampusnya dan sebuah kolektif yang membantunya bertumbuh bernama Gurat Institute. Melalui Kumpulan berbagai fragmen gambar yang tersusun secara dinamis, ia mengumpulkan kembali serpihan memori serta ingatan tentang berbagai hal atau benda yang pernah menjadi bagian yang sangat personal dari dirinya, namun disaat yang sama hal itu memaksanya untuk menyadari berbagai perubahan yang hadir pada hal yang sebelumnya sangat personal—bahwa pada akhirnya benda dan suasana itu dengan sendirinya berubah seiring konteks sosial dan lingkungan yang terus bergerak mengiringinya.

Tentang mechanical production; hal itu mengacu pada landasan awal yang digunakan oleh ade dalam melihat balik pratik fotografi itu sendiri, ia meminjam pemikiran yang termuat dalam sebuah sebuah esai oleh Walter Benjamin berjudul “The work of art in the age of mechanical reproduction” dalam esainya ia mengomentari bagaimana nilai eksistensial dalam sebuah karya seni akan hilang di era dimana ia dapat direproduksi secara massal, dalam ranah ini ia merujuk pada fotografi, dimana sebuah gambar dapat secara instan direproduksi melalui mekanisme mesin kamera.

Ade dalam solo presentationnya kali ini justru hadir untuk mempertanyakan ulang konsep mechanical reproduction dalam konteks hari ini. Jepretan fotonya justru menantang persepsi tersebut. Dengan teknologi yang kian melaju pesat, kini kamera digital dengan otomatis dapat menyesuaikan kondisi over atau under berbagai aspek fotografis, meliputi exposure, contrast, saturation, blur, sharpness dan lain sebagainya. Jadi apaarti sebuah foto hari ini, jika itu semua sudah terpenuhi.

Karya-karya Ade justru hadir untuk merayakan ketidaksempurnaan dalam aspek fotografis itu sendiri, dalam upayanya untuk mempertebal dan mengekstrak berbagai gagasan dan memori yang tercermin dalam struktur visual sebuah gambar. Foto-foto Ade menjadi sangat personal, ia secara tidak sadar mengaburkan dan mencoba bermain-main dalam caranya mempertanyakan ulang sebuah studinya tentang mechanical reproduction.

Perihal fotografi dan iklim diskusi

Ade sebagai seorang fotografer, telah tumbuh dalam lingkungan fotografis yang sangat multi kultural. Ayahnya yang seorang jurnalis senior memberikan sedikit tidaknya pengaruh dalam jalannya hingga hari ini, ia tak membatasi dirinya, ia tumbuh dan larut secara organik dalam berbagai ekosistem dengan genre yang saling memiliki kecenderungan masing-masing, dari Jurnalistik, street fotografi, fashion, FNB hingga fotografi eksperimental.

Namun ia menyadari satu hal yang kini ia rasa sangat tak sehat dalam iklim fotografi terutama dalam lingkaran eksosistemnya. Ada semacam kejanggalan, dan rasa pasrah, di saat kini obrolan mengenai fotografi hanya diisi oleh perbincangan seputar kebutuhan praktisnya sebagai sebuah pekerjaan, tak lebih dari masalah UUD ( ujung-ujungnya duit) ataupun sebuah ajang untuk memamerkan kecangggihan kamera yang dipunya.

Ada yang hilang dalam perbincangan-perbincangan tersebut, yaitu bagaimana fotografi juga dapat hadir sebagai sebuah karya seni pula, terlepas genre dan berbagai konvensi fotografis yang meliputinya. Bagaimana eksistensi foto hari ini di era “too many images”, bagaimana iklim fotografi Bali, Yogya, Bandung ataupun Prancis sekalipun. Kalaupun ada, obrolan tersebut hanya menjadi perbincangan tengah malam dalam diskusi personal yang tak menjadi ruang dialektik kolektif.

Kegelisahan tersebut membawanya untuk membuat forum diskusi ini, upaya untuk dirinya dan berbagai lapisan apresiator, baik yang masih dalam lingkaran fotografi ataupun lintasan disiplin khususnya seni rupa untuk ikut dan larut dalam diskusi dialektik yang hangat. Terlihat dalam perbincangan ini, hadir beberapa kurator seni rupa yang turut memberikan pandangan, baik itu Savitri Sastrawan, ataupun Susanta Dwitanaya yang hadir sebagai penulis yang telah membaca praktik berkarya Ade selama studinya di Gurat Institute, hadir pula praktisi fotografi dan seorang dosen Dudyk Arya Putra, dan berbagai teman serta rekan apresiator yang juga ikut hadir.

Peristiwa ini bak oase di tengah gurun pasir yang luas, saya sendiri sebagai penulis benar-benar jarang dalam melihat diskusi yang membahas fotografi dalam ranahnya sebagai bagian dari karya seni kontemporer yang merangkul berbagai kalangan, terutama di Bali itu sendiri.

Forum ini menjadi ruang refleksi bersama bagaimana, sebuah iklim yang sehat harus dibentuk dan diupayakan untuk terus diwacanakan, tentu banyak obrolan belakang layar yang telah membahas hal ini lebih jauh, namun keberanian macam apa yang memantik seorang Ade untuk membawa percakapan belakang layar tersebut ke sebuah forum diskusi yang demokratis dan menjadi ruang untuk ingatan kolektif.

Pada akhirnya penulis akan menarik kembali kepertanyaan awal, menyoal sebuah pertanyaan mendasar tentang makna sebuah foto dalam konteksnya hari ini, Bagaimana ia eksis diantara jutaan informasi dan gambar yang tiap hari terus diperbarui. Adaptasi macam apa yang membuat akan bertahannya sebuah makna foto di era dimana ia bisa diciptakan tanpa perlu melibatkan kehadiran, hanya perlu teks dan kumpulan data saja.

Saya akan mengutip ungkapan Ade Ahimsa dalam konklusinya akan forum ini,

“Manusia akan terus berusaha mengekstrak diri dan pikirannya untuk terus melakukan proses adaptatifnya, bahkan jika dengan Artificial Intelligence sekalipun” [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA

  • BACA JUGA:
Aktualisasi Seni Tradisi dalam Pusaran Era Kontemporer
Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi
I ❤ Bali : Masyarakat Bali yang Merasa Asing di Tanahnya Sendiri
Tags: fotografiGurat InstituteSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Noctourism”: Berwisata Sambil Begadang

Next Post

Google Launching Veo: Antropologi Trust Issue Manusia dalam Postmodernitas dan Sunyi dalam Jaringan

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails
Next Post
Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia

Google Launching Veo: Antropologi Trust Issue Manusia dalam Postmodernitas dan Sunyi dalam Jaringan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co