4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik

Made Chandra by Made Chandra
June 1, 2025
in Ulas Rupa
Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik

Solo Presentation “ Study of Mechanical Reproduction” di Rumah mentari, Penatih, Denpasar

PERNAHKAH kita berpikir apa yang membuat sebuah foto begitu bermakna, jika hari ini kita bisa mereproduksi sebuah foto berulang kali dengan mudah? Di saat kini mulai bersusulan teknologi handphone dengan ukuran pixel kamera yang kian tak terbendung.

Mungkin kita bisa menghela nafas sebentar untuk kemudian menoleh balik bagaimana fotografi muncul sebagai sebuah pembaharu dalam metode perekaman gambar pada masa lampau.

Pada awalnya kamera  justru diciptakan untuk membantu seorang pelukis dalam membantu meningkatkan presisi dalam melukiskan sebuah pemandangan ataupun berbagai objek dunia nyata lainnya, hal itu bermula pada awal abad ke-16 saat camera obscura pertama kaliditemukan sebagai alat bantu, yang lalu pada perkembangannya ia berdiri sendiri sebagai alat penangkap gambar yang dicetak kedalam sebuah media kertas melalui eksperimentasi di bidang optik dan kimia, menghasilkan sebuah foto dari hasil mekanik yang kompleks pada masanya.

Perkembangan fotografi seolah melaju dengan cepat—melintas waktu dan zaman, kemunculannya dinilai sebagai sebuah pembaharu namun di sisi yang lain ia juga dipandang sebagai sebuah ketakutan akan tergesernya peran para pelukis dalam membekukan satu momen tertentu. Walaupun pada akhirnya ketakutan tersebut tak terbukti, jika dilihat keberperanan antara fotografi dan lukisan yang kini sungguh jauh berbeda.

Fotografi pun tak luput dari perubahan era digitalisasi, ia yang awalnya selalu berkutat dengan hal-hal teknis, kini perlahan mulai meninggalkan unsur-unsur “mekanis” nya, kemudian tergantikan dengan tangkapan kamera dengan lensa yang bahkan tak menghasilkan bunyi sedikit pun.

Hal itu berlanjut ketika bagaimana fotografi juga akhirnya lepas dalam peran praktisnya lalu masuk, dan diakui sebagai sebuah karya seni yang mencoba lepas dari konvensi klasik tentang bagaimana sebuah karya seni diciptakan.  

Ade dan Mechanical Reproduction

Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang secara sadar dan tidak sadar, terpantik melalui diskusi dari sebuah Solo Presentation “ Study of Mechanical Reproduction”  oleh Ade Ahimsa, Rumah Mentari, Penatih, Bali, pada Sabtu lalu. Sebuah perayaan atas perjalanan melintas ruang waktu dan pertanyaan menubuhnya tentang iklim fotografi yang selama ini ia geluti, terutama dalam konteks Bali dan fotografi itu sendiri,

Diskusi ini menyoroti berbagai topik yang berelasi dengan pertanyaan-pertanyaan di awal, tentang bagaimana fotografi mengalami polemik dalam kemunculannya, namun kini ia seolah terjebak pula dalam polemik dengan pola yang hampir sama, ketika muncul berbagai teknologi Artificial Intellgence yang dengan gampangnya menghasilkan sebuah proyeksi gambar hanya melalui prompt dan Kumpulan data.

Ade membuka diskusi ini dengan dirinya yang tergugah untuk melakukan presentasi atas buah pikir yang sempat tertunda sebelumnnya, sesaat setelah ia menyelesaikan studi akhir di kampusnya dan sebuah kolektif yang membantunya bertumbuh bernama Gurat Institute. Melalui Kumpulan berbagai fragmen gambar yang tersusun secara dinamis, ia mengumpulkan kembali serpihan memori serta ingatan tentang berbagai hal atau benda yang pernah menjadi bagian yang sangat personal dari dirinya, namun disaat yang sama hal itu memaksanya untuk menyadari berbagai perubahan yang hadir pada hal yang sebelumnya sangat personal—bahwa pada akhirnya benda dan suasana itu dengan sendirinya berubah seiring konteks sosial dan lingkungan yang terus bergerak mengiringinya.

Tentang mechanical production; hal itu mengacu pada landasan awal yang digunakan oleh ade dalam melihat balik pratik fotografi itu sendiri, ia meminjam pemikiran yang termuat dalam sebuah sebuah esai oleh Walter Benjamin berjudul “The work of art in the age of mechanical reproduction” dalam esainya ia mengomentari bagaimana nilai eksistensial dalam sebuah karya seni akan hilang di era dimana ia dapat direproduksi secara massal, dalam ranah ini ia merujuk pada fotografi, dimana sebuah gambar dapat secara instan direproduksi melalui mekanisme mesin kamera.

Ade dalam solo presentationnya kali ini justru hadir untuk mempertanyakan ulang konsep mechanical reproduction dalam konteks hari ini. Jepretan fotonya justru menantang persepsi tersebut. Dengan teknologi yang kian melaju pesat, kini kamera digital dengan otomatis dapat menyesuaikan kondisi over atau under berbagai aspek fotografis, meliputi exposure, contrast, saturation, blur, sharpness dan lain sebagainya. Jadi apaarti sebuah foto hari ini, jika itu semua sudah terpenuhi.

Karya-karya Ade justru hadir untuk merayakan ketidaksempurnaan dalam aspek fotografis itu sendiri, dalam upayanya untuk mempertebal dan mengekstrak berbagai gagasan dan memori yang tercermin dalam struktur visual sebuah gambar. Foto-foto Ade menjadi sangat personal, ia secara tidak sadar mengaburkan dan mencoba bermain-main dalam caranya mempertanyakan ulang sebuah studinya tentang mechanical reproduction.

Perihal fotografi dan iklim diskusi

Ade sebagai seorang fotografer, telah tumbuh dalam lingkungan fotografis yang sangat multi kultural. Ayahnya yang seorang jurnalis senior memberikan sedikit tidaknya pengaruh dalam jalannya hingga hari ini, ia tak membatasi dirinya, ia tumbuh dan larut secara organik dalam berbagai ekosistem dengan genre yang saling memiliki kecenderungan masing-masing, dari Jurnalistik, street fotografi, fashion, FNB hingga fotografi eksperimental.

Namun ia menyadari satu hal yang kini ia rasa sangat tak sehat dalam iklim fotografi terutama dalam lingkaran eksosistemnya. Ada semacam kejanggalan, dan rasa pasrah, di saat kini obrolan mengenai fotografi hanya diisi oleh perbincangan seputar kebutuhan praktisnya sebagai sebuah pekerjaan, tak lebih dari masalah UUD ( ujung-ujungnya duit) ataupun sebuah ajang untuk memamerkan kecangggihan kamera yang dipunya.

Ada yang hilang dalam perbincangan-perbincangan tersebut, yaitu bagaimana fotografi juga dapat hadir sebagai sebuah karya seni pula, terlepas genre dan berbagai konvensi fotografis yang meliputinya. Bagaimana eksistensi foto hari ini di era “too many images”, bagaimana iklim fotografi Bali, Yogya, Bandung ataupun Prancis sekalipun. Kalaupun ada, obrolan tersebut hanya menjadi perbincangan tengah malam dalam diskusi personal yang tak menjadi ruang dialektik kolektif.

Kegelisahan tersebut membawanya untuk membuat forum diskusi ini, upaya untuk dirinya dan berbagai lapisan apresiator, baik yang masih dalam lingkaran fotografi ataupun lintasan disiplin khususnya seni rupa untuk ikut dan larut dalam diskusi dialektik yang hangat. Terlihat dalam perbincangan ini, hadir beberapa kurator seni rupa yang turut memberikan pandangan, baik itu Savitri Sastrawan, ataupun Susanta Dwitanaya yang hadir sebagai penulis yang telah membaca praktik berkarya Ade selama studinya di Gurat Institute, hadir pula praktisi fotografi dan seorang dosen Dudyk Arya Putra, dan berbagai teman serta rekan apresiator yang juga ikut hadir.

Peristiwa ini bak oase di tengah gurun pasir yang luas, saya sendiri sebagai penulis benar-benar jarang dalam melihat diskusi yang membahas fotografi dalam ranahnya sebagai bagian dari karya seni kontemporer yang merangkul berbagai kalangan, terutama di Bali itu sendiri.

Forum ini menjadi ruang refleksi bersama bagaimana, sebuah iklim yang sehat harus dibentuk dan diupayakan untuk terus diwacanakan, tentu banyak obrolan belakang layar yang telah membahas hal ini lebih jauh, namun keberanian macam apa yang memantik seorang Ade untuk membawa percakapan belakang layar tersebut ke sebuah forum diskusi yang demokratis dan menjadi ruang untuk ingatan kolektif.

Pada akhirnya penulis akan menarik kembali kepertanyaan awal, menyoal sebuah pertanyaan mendasar tentang makna sebuah foto dalam konteksnya hari ini, Bagaimana ia eksis diantara jutaan informasi dan gambar yang tiap hari terus diperbarui. Adaptasi macam apa yang membuat akan bertahannya sebuah makna foto di era dimana ia bisa diciptakan tanpa perlu melibatkan kehadiran, hanya perlu teks dan kumpulan data saja.

Saya akan mengutip ungkapan Ade Ahimsa dalam konklusinya akan forum ini,

“Manusia akan terus berusaha mengekstrak diri dan pikirannya untuk terus melakukan proses adaptatifnya, bahkan jika dengan Artificial Intelligence sekalipun” [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA

  • BACA JUGA:
Aktualisasi Seni Tradisi dalam Pusaran Era Kontemporer
Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi
I ❤ Bali : Masyarakat Bali yang Merasa Asing di Tanahnya Sendiri
Tags: fotografiGurat InstituteSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Noctourism”: Berwisata Sambil Begadang

Next Post

Google Launching Veo: Antropologi Trust Issue Manusia dalam Postmodernitas dan Sunyi dalam Jaringan

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia

Google Launching Veo: Antropologi Trust Issue Manusia dalam Postmodernitas dan Sunyi dalam Jaringan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co