23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Google Launching Veo: Antropologi Trust Issue Manusia dalam Postmodernitas dan Sunyi dalam Jaringan

Dr. Geofakta Razali by Dr. Geofakta Razali
June 1, 2025
in Esai
Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia

Dr. Geofakta Razali

“Mungkin, yang paling menyakitkan dari kemajuan bukanlah kecepatan dunia yang berubah—tapi kesadaran bahwa kita mulai kehilangan kemampuan untuk saling percaya di dalamnya.”

Apakah mungkin manusia merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia miliki secara utuh?

Di era ketika algoritma mengenali wajah kita lebih baik daripada pasangan sendiri, rasa percaya bukan lagi pondasi relasi, tapi komoditas yang terus diuji. Google baru saja meluncurkan Veo, sistem AI generatif yang mampu menciptakan video utuh hanya dari teks dan imajinasi buatan. Ini bukan sekadar inovasi, ini adalah pergeseran ontologis dalam relasi manusia dengan representasi. Dalam kerangka simulacrum ala Baudrillard, Veo bukan lagi meniru realitas, melainkan menciptakan realitas tandingan yang seringkali lebih meyakinkan dari yang nyata. Analoginya seperti cermin bengkok yang perlahan membuat kita meragukan bentuk asli wajah kita. Dan jika kepercayaan lahir dari perjumpaan yang jujur, maka apa yang tersisa saat perjumpaan itu digantikan oleh sintesis yang terlalu sempurna?

Trust issue adalah terminologi psikologis yang awalnya merujuk pada trauma relasional. Namun dalam masyarakat postmodern, ia menjelma menjadi struktur budaya—sebuah affective atmosphere (Anderson, 2009) yang mengendap dalam interaksi daring kita. Ketika representasi menjadi lebih penting daripada pengalaman, kepercayaan pun menjadi rapuh karena fondasinya bergeser dari tubuh ke layar. Silogismenya begini: jika rasa percaya dibentuk oleh kehadiran , dan kehadiran kini dimediasi oleh teknologi, maka kepercayaan pun menjadi tawanan dari infrastruktur digital. Ini adalah ketegangan antara keintiman dan performativitas, antara being dan appearing. Dan dalam logika ini, keintiman yang terlalu sering direkam bisa kehilangan makna; bukan karena tidak tulus, tapi karena terlalu disiapkan untuk disaksikan. Kita tidak lagi berbagi rahasia—kita menayangkannya.

Veo adalah manifestasi dari technological sublime, pesona atas kecanggihan yang membuat kita merasa kecil sekaligus tergantikan. Ia membawa kita pada dunia di mana narasi dapat dibentuk tanpa luka, wajah dapat diciptakan tanpa tubuh, dan cerita dapat mengalir tanpa pengalaman emosional. Jika dulu kisah-kisah dibangun dari keterbatasan dan kerentanan, kini ia diproduksi dari kalkulasi dan keindahan yang steril. Ini seperti taman yang indah tapi tak pernah ditumbuhi lumut: sempurna, tapi tidak hidup. Dalam teori psikologi eksistensial, pengalaman otentik mengharuskan kehadiran emosi mentah dan ambiguitas. Maka, ketika semua bisa dibuat instan dan presisi, manusia justru kehilangan satu hal yang paling primitif dan esensial—kesadaran akan dirinya sebagai makhluk yang terbatas.

Postmodernisme, seperti diungkap Lyotard, adalah kondisi di mana narasi besar kehilangan kekuatan untuk mengatur makna. Dan dalam konteks ini, Veo bisa dilihat sebagai produk dari dunia yang sudah tidak lagi percaya pada otoritas tunggal—bahkan terhadap kenyataan itu sendiri. Analogi yang paling tepat mungkin seperti ini: jika dahulu kita berjalan dengan kompas, kini kita melaju dengan GPS yang bisa mengubah tujuan tergantung siapa yang membayarnya. Kebenaran menjadi fluktuatif, tergantung narasi mana yang mendapat jangkauan lebih luas. Ini menimbulkan semacam kelelahan interpretatif (interpretive fatigue), di mana manusia tidak tahu lagi harus mempercayai apa, dan kepada siapa ia seharusnya menambatkan makna. Maka, trust issue bukan bentuk kelemahan psikologis, tetapi bentuk perlawanan bawah sadar terhadap dunia yang terlalu cepat berubah arah.

Dari sudut pandang antropologi digital, manusia postmodern tak lagi hidup di desa, tapi di jaringan. Kita tidak duduk di api unggun, tapi di ruang obrolan; tidak menatap mata, tapi menatap notifikasi. Dan dalam ruang itu, kepercayaan bukan dibangun oleh tatapan, tapi oleh ritme balasan pesan. Veo hadir sebagai juru cerita tanpa tubuh, menciptakan narasi tanpa beban sejarah atau trauma. Tapi bukankah narasi yang paling kuat adalah yang lahir dari luka? Bukankah kita mempercayai seseorang bukan karena ia sempurna, tapi karena kita melihat bagaimana ia merawat kekurangannya? Maka ketika cerita-cerita mulai dibuat tanpa derita, kita justru kehilangan resonansi yang membuat manusia bisa memahami manusia.

Silogisme baru terbentuk di benak generasi ini: jika teknologi mampu menyajikan semua, dan manusia menyukai yang mudah,  maka kerentanan tidak lagi dianggap berharga. Namun justru dalam kerentanan, manusia belajar membangun kepercayaan. Teori attachment dari Bowlby menyebutkan bahwa rasa aman tumbuh dari kehadiran konsisten, bukan dari performa impresif. Tapi bagaimana membangun kehadiran jika semua komunikasi sekarang bersifat sinkron, tapi tidak betul-betul menyentuh? Dalam komunikasi polivagal (Porges, 2011), tubuh membaca keselamatan dari ekspresi wajah, nada suara, dan ritme pernapasan. Semua itu tak bisa direkayasa oleh Veo, karena kepercayaan bukanlah produk desain, melainkan hasil dari keberanian untuk tampil apa adanya. Dan dalam dunia yang terus mengkurasi diri, tampil “apa adanya” bisa jadi adalah bentuk paling radikal dari kepercayaan.

Veo adalah cermin: ia memantulkan kemegahan masa depan sekaligus menyimpan retakan identitas di dalamnya. Seperti Narcissus yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri, kita mungkin tengah terpukau oleh kemampuan kita menciptakan versi digital dari dunia. Tapi pada akhirnya, refleksi tidak akan pernah menggantikan relasi. Teori komunikasi interpersonal menekankan pentingnya mutual recognition, pengakuan timbal balik yang tidak bisa dilakukan oleh sistem otomatis. Dan ketika semua hal bisa dihasilkan oleh sistem tanpa emosi, kita kehilangan rasa takjub terhadap ketidaksempurnaan. Karena justru dalam kesalahan, dalam jeda, dalam kegugupan yang manusiawi—di sanalah lahir keterhubungan. Bukan dari hasil edit sempurna, tapi dari keberanian untuk tidak menyunting luka.

Trust issue adalah logika emosional yang muncul dari struktur sosial yang terus bergeser. Ia bukan bentuk kegagalan, melainkan bentuk adaptasi terhadap dunia yang memaksa kita terus berjaga-jaga. Di sinilah kita berada: manusia yang ingin disayangi tapi takut dikhianati, ingin dimengerti tapi takut dibedah, ingin terkoneksi tapi takut kehilangan kontrol. Teknologi seperti Veo menjanjikan cerita tanpa luka, tapi juga memisahkan kita dari alasan mengapa cerita itu harus diceritakan. Kita butuh dunia yang lambat, yang memberi ruang bagi rasa percaya untuk tumbuh, bukan sekadar respons instan. Karena dalam dunia yang terus menuntut efisiensi, mungkin satu-satunya hal yang benar-benar revolusioner adalah bersedia hadir dengan hati yang tidak siap. Dan dalam kehadiran itu, kepercayaan—meski rapuh—bisa mulai berakar kembali.

Maka mari kita bertanya ulang: apakah kepercayaan masih punya tempat di dunia yang bisa menciptakan segalanya tanpa menyentuh apa pun? Kita tidak sedang kehilangan teknologi. Kita kehilangan titik temu antara representasi dan kejujuran. Google launching Veo adalah penanda zaman, tapi juga penanda jeda—saat manusia harus menengok ke dalam dirinya sebelum terseret lebih jauh ke dalam jaringan. Karena jika manusia tak lagi percaya pada manusia, maka narasi apa pun—seindah apa pun tampilannya, hanya akan menjadi gema kosong dalam ruang tak bergaung. Jika kepercayaan membutuhkan waktu, dan dunia menolak waktu,  maka mungkin yang kita butuhkan bukan upgrade… tapi pulang. Pulang, sebelum sunyi menjadi satu-satunya bahasa yang kita pahami. [T]

Penulis: Dr. Geofakta Razali
Editor: Adnyana Ole

Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia
Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah
Tags: Google
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik

Next Post

Pramana Experience Luncurkan Rasayatra Edisi Kedua: Manjakan Indera, Sentuh Kesadaran Historis — Koneksi Tamu, Tradisi, Waktu

Dr. Geofakta Razali

Dr. Geofakta Razali

adalah pakar komunikasi di bidang psikologi komunikasi London School of Public Relation yang punya pandangan tajam soal perilaku masyarakat urban, media, dan pemasaran. Dengan latar belakang double degree di komunikasi dan psikologi, ia memulai karier sebagai praktisi Public Relations hingga menjadi Direktur Marketing, sebelum akhirnya melangkah sebagai Associate Professor di bidang komunikasi. Berbekal sertifikasi di bidang produser TV, digital marketing, dan hipnoterapi, ia juga aktif sebagai pembicara dan terapis well-being, mengemas ilmu komunikasi dan psikologi dengan cara yang mudah dipahami dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Pramana Experience Luncurkan Rasayatra Edisi Kedua: Manjakan Indera, Sentuh Kesadaran Historis — Koneksi Tamu, Tradisi, Waktu

Pramana Experience Luncurkan Rasayatra Edisi Kedua: Manjakan Indera, Sentuh Kesadaran Historis -- Koneksi Tamu, Tradisi, Waktu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co