2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Google Launching Veo: Antropologi Trust Issue Manusia dalam Postmodernitas dan Sunyi dalam Jaringan

Dr. Geofakta Razali by Dr. Geofakta Razali
June 1, 2025
in Esai
Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia

Dr. Geofakta Razali

“Mungkin, yang paling menyakitkan dari kemajuan bukanlah kecepatan dunia yang berubah—tapi kesadaran bahwa kita mulai kehilangan kemampuan untuk saling percaya di dalamnya.”

Apakah mungkin manusia merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia miliki secara utuh?

Di era ketika algoritma mengenali wajah kita lebih baik daripada pasangan sendiri, rasa percaya bukan lagi pondasi relasi, tapi komoditas yang terus diuji. Google baru saja meluncurkan Veo, sistem AI generatif yang mampu menciptakan video utuh hanya dari teks dan imajinasi buatan. Ini bukan sekadar inovasi, ini adalah pergeseran ontologis dalam relasi manusia dengan representasi. Dalam kerangka simulacrum ala Baudrillard, Veo bukan lagi meniru realitas, melainkan menciptakan realitas tandingan yang seringkali lebih meyakinkan dari yang nyata. Analoginya seperti cermin bengkok yang perlahan membuat kita meragukan bentuk asli wajah kita. Dan jika kepercayaan lahir dari perjumpaan yang jujur, maka apa yang tersisa saat perjumpaan itu digantikan oleh sintesis yang terlalu sempurna?

Trust issue adalah terminologi psikologis yang awalnya merujuk pada trauma relasional. Namun dalam masyarakat postmodern, ia menjelma menjadi struktur budaya—sebuah affective atmosphere (Anderson, 2009) yang mengendap dalam interaksi daring kita. Ketika representasi menjadi lebih penting daripada pengalaman, kepercayaan pun menjadi rapuh karena fondasinya bergeser dari tubuh ke layar. Silogismenya begini: jika rasa percaya dibentuk oleh kehadiran , dan kehadiran kini dimediasi oleh teknologi, maka kepercayaan pun menjadi tawanan dari infrastruktur digital. Ini adalah ketegangan antara keintiman dan performativitas, antara being dan appearing. Dan dalam logika ini, keintiman yang terlalu sering direkam bisa kehilangan makna; bukan karena tidak tulus, tapi karena terlalu disiapkan untuk disaksikan. Kita tidak lagi berbagi rahasia—kita menayangkannya.

Veo adalah manifestasi dari technological sublime, pesona atas kecanggihan yang membuat kita merasa kecil sekaligus tergantikan. Ia membawa kita pada dunia di mana narasi dapat dibentuk tanpa luka, wajah dapat diciptakan tanpa tubuh, dan cerita dapat mengalir tanpa pengalaman emosional. Jika dulu kisah-kisah dibangun dari keterbatasan dan kerentanan, kini ia diproduksi dari kalkulasi dan keindahan yang steril. Ini seperti taman yang indah tapi tak pernah ditumbuhi lumut: sempurna, tapi tidak hidup. Dalam teori psikologi eksistensial, pengalaman otentik mengharuskan kehadiran emosi mentah dan ambiguitas. Maka, ketika semua bisa dibuat instan dan presisi, manusia justru kehilangan satu hal yang paling primitif dan esensial—kesadaran akan dirinya sebagai makhluk yang terbatas.

Postmodernisme, seperti diungkap Lyotard, adalah kondisi di mana narasi besar kehilangan kekuatan untuk mengatur makna. Dan dalam konteks ini, Veo bisa dilihat sebagai produk dari dunia yang sudah tidak lagi percaya pada otoritas tunggal—bahkan terhadap kenyataan itu sendiri. Analogi yang paling tepat mungkin seperti ini: jika dahulu kita berjalan dengan kompas, kini kita melaju dengan GPS yang bisa mengubah tujuan tergantung siapa yang membayarnya. Kebenaran menjadi fluktuatif, tergantung narasi mana yang mendapat jangkauan lebih luas. Ini menimbulkan semacam kelelahan interpretatif (interpretive fatigue), di mana manusia tidak tahu lagi harus mempercayai apa, dan kepada siapa ia seharusnya menambatkan makna. Maka, trust issue bukan bentuk kelemahan psikologis, tetapi bentuk perlawanan bawah sadar terhadap dunia yang terlalu cepat berubah arah.

Dari sudut pandang antropologi digital, manusia postmodern tak lagi hidup di desa, tapi di jaringan. Kita tidak duduk di api unggun, tapi di ruang obrolan; tidak menatap mata, tapi menatap notifikasi. Dan dalam ruang itu, kepercayaan bukan dibangun oleh tatapan, tapi oleh ritme balasan pesan. Veo hadir sebagai juru cerita tanpa tubuh, menciptakan narasi tanpa beban sejarah atau trauma. Tapi bukankah narasi yang paling kuat adalah yang lahir dari luka? Bukankah kita mempercayai seseorang bukan karena ia sempurna, tapi karena kita melihat bagaimana ia merawat kekurangannya? Maka ketika cerita-cerita mulai dibuat tanpa derita, kita justru kehilangan resonansi yang membuat manusia bisa memahami manusia.

Silogisme baru terbentuk di benak generasi ini: jika teknologi mampu menyajikan semua, dan manusia menyukai yang mudah,  maka kerentanan tidak lagi dianggap berharga. Namun justru dalam kerentanan, manusia belajar membangun kepercayaan. Teori attachment dari Bowlby menyebutkan bahwa rasa aman tumbuh dari kehadiran konsisten, bukan dari performa impresif. Tapi bagaimana membangun kehadiran jika semua komunikasi sekarang bersifat sinkron, tapi tidak betul-betul menyentuh? Dalam komunikasi polivagal (Porges, 2011), tubuh membaca keselamatan dari ekspresi wajah, nada suara, dan ritme pernapasan. Semua itu tak bisa direkayasa oleh Veo, karena kepercayaan bukanlah produk desain, melainkan hasil dari keberanian untuk tampil apa adanya. Dan dalam dunia yang terus mengkurasi diri, tampil “apa adanya” bisa jadi adalah bentuk paling radikal dari kepercayaan.

Veo adalah cermin: ia memantulkan kemegahan masa depan sekaligus menyimpan retakan identitas di dalamnya. Seperti Narcissus yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri, kita mungkin tengah terpukau oleh kemampuan kita menciptakan versi digital dari dunia. Tapi pada akhirnya, refleksi tidak akan pernah menggantikan relasi. Teori komunikasi interpersonal menekankan pentingnya mutual recognition, pengakuan timbal balik yang tidak bisa dilakukan oleh sistem otomatis. Dan ketika semua hal bisa dihasilkan oleh sistem tanpa emosi, kita kehilangan rasa takjub terhadap ketidaksempurnaan. Karena justru dalam kesalahan, dalam jeda, dalam kegugupan yang manusiawi—di sanalah lahir keterhubungan. Bukan dari hasil edit sempurna, tapi dari keberanian untuk tidak menyunting luka.

Trust issue adalah logika emosional yang muncul dari struktur sosial yang terus bergeser. Ia bukan bentuk kegagalan, melainkan bentuk adaptasi terhadap dunia yang memaksa kita terus berjaga-jaga. Di sinilah kita berada: manusia yang ingin disayangi tapi takut dikhianati, ingin dimengerti tapi takut dibedah, ingin terkoneksi tapi takut kehilangan kontrol. Teknologi seperti Veo menjanjikan cerita tanpa luka, tapi juga memisahkan kita dari alasan mengapa cerita itu harus diceritakan. Kita butuh dunia yang lambat, yang memberi ruang bagi rasa percaya untuk tumbuh, bukan sekadar respons instan. Karena dalam dunia yang terus menuntut efisiensi, mungkin satu-satunya hal yang benar-benar revolusioner adalah bersedia hadir dengan hati yang tidak siap. Dan dalam kehadiran itu, kepercayaan—meski rapuh—bisa mulai berakar kembali.

Maka mari kita bertanya ulang: apakah kepercayaan masih punya tempat di dunia yang bisa menciptakan segalanya tanpa menyentuh apa pun? Kita tidak sedang kehilangan teknologi. Kita kehilangan titik temu antara representasi dan kejujuran. Google launching Veo adalah penanda zaman, tapi juga penanda jeda—saat manusia harus menengok ke dalam dirinya sebelum terseret lebih jauh ke dalam jaringan. Karena jika manusia tak lagi percaya pada manusia, maka narasi apa pun—seindah apa pun tampilannya, hanya akan menjadi gema kosong dalam ruang tak bergaung. Jika kepercayaan membutuhkan waktu, dan dunia menolak waktu,  maka mungkin yang kita butuhkan bukan upgrade… tapi pulang. Pulang, sebelum sunyi menjadi satu-satunya bahasa yang kita pahami. [T]

Penulis: Dr. Geofakta Razali
Editor: Adnyana Ole

Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia
Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah
Tags: Google
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik

Next Post

Pramana Experience Luncurkan Rasayatra Edisi Kedua: Manjakan Indera, Sentuh Kesadaran Historis — Koneksi Tamu, Tradisi, Waktu

Dr. Geofakta Razali

Dr. Geofakta Razali

adalah pakar komunikasi di bidang psikologi komunikasi London School of Public Relation yang punya pandangan tajam soal perilaku masyarakat urban, media, dan pemasaran. Dengan latar belakang double degree di komunikasi dan psikologi, ia memulai karier sebagai praktisi Public Relations hingga menjadi Direktur Marketing, sebelum akhirnya melangkah sebagai Associate Professor di bidang komunikasi. Berbekal sertifikasi di bidang produser TV, digital marketing, dan hipnoterapi, ia juga aktif sebagai pembicara dan terapis well-being, mengemas ilmu komunikasi dan psikologi dengan cara yang mudah dipahami dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pramana Experience Luncurkan Rasayatra Edisi Kedua: Manjakan Indera, Sentuh Kesadaran Historis — Koneksi Tamu, Tradisi, Waktu

Pramana Experience Luncurkan Rasayatra Edisi Kedua: Manjakan Indera, Sentuh Kesadaran Historis -- Koneksi Tamu, Tradisi, Waktu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co