3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Google Launching Veo: Antropologi Trust Issue Manusia dalam Postmodernitas dan Sunyi dalam Jaringan

Dr. Geofakta Razali by Dr. Geofakta Razali
June 1, 2025
in Esai
Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia

Dr. Geofakta Razali

“Mungkin, yang paling menyakitkan dari kemajuan bukanlah kecepatan dunia yang berubah—tapi kesadaran bahwa kita mulai kehilangan kemampuan untuk saling percaya di dalamnya.”

Apakah mungkin manusia merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia miliki secara utuh?

Di era ketika algoritma mengenali wajah kita lebih baik daripada pasangan sendiri, rasa percaya bukan lagi pondasi relasi, tapi komoditas yang terus diuji. Google baru saja meluncurkan Veo, sistem AI generatif yang mampu menciptakan video utuh hanya dari teks dan imajinasi buatan. Ini bukan sekadar inovasi, ini adalah pergeseran ontologis dalam relasi manusia dengan representasi. Dalam kerangka simulacrum ala Baudrillard, Veo bukan lagi meniru realitas, melainkan menciptakan realitas tandingan yang seringkali lebih meyakinkan dari yang nyata. Analoginya seperti cermin bengkok yang perlahan membuat kita meragukan bentuk asli wajah kita. Dan jika kepercayaan lahir dari perjumpaan yang jujur, maka apa yang tersisa saat perjumpaan itu digantikan oleh sintesis yang terlalu sempurna?

Trust issue adalah terminologi psikologis yang awalnya merujuk pada trauma relasional. Namun dalam masyarakat postmodern, ia menjelma menjadi struktur budaya—sebuah affective atmosphere (Anderson, 2009) yang mengendap dalam interaksi daring kita. Ketika representasi menjadi lebih penting daripada pengalaman, kepercayaan pun menjadi rapuh karena fondasinya bergeser dari tubuh ke layar. Silogismenya begini: jika rasa percaya dibentuk oleh kehadiran , dan kehadiran kini dimediasi oleh teknologi, maka kepercayaan pun menjadi tawanan dari infrastruktur digital. Ini adalah ketegangan antara keintiman dan performativitas, antara being dan appearing. Dan dalam logika ini, keintiman yang terlalu sering direkam bisa kehilangan makna; bukan karena tidak tulus, tapi karena terlalu disiapkan untuk disaksikan. Kita tidak lagi berbagi rahasia—kita menayangkannya.

Veo adalah manifestasi dari technological sublime, pesona atas kecanggihan yang membuat kita merasa kecil sekaligus tergantikan. Ia membawa kita pada dunia di mana narasi dapat dibentuk tanpa luka, wajah dapat diciptakan tanpa tubuh, dan cerita dapat mengalir tanpa pengalaman emosional. Jika dulu kisah-kisah dibangun dari keterbatasan dan kerentanan, kini ia diproduksi dari kalkulasi dan keindahan yang steril. Ini seperti taman yang indah tapi tak pernah ditumbuhi lumut: sempurna, tapi tidak hidup. Dalam teori psikologi eksistensial, pengalaman otentik mengharuskan kehadiran emosi mentah dan ambiguitas. Maka, ketika semua bisa dibuat instan dan presisi, manusia justru kehilangan satu hal yang paling primitif dan esensial—kesadaran akan dirinya sebagai makhluk yang terbatas.

Postmodernisme, seperti diungkap Lyotard, adalah kondisi di mana narasi besar kehilangan kekuatan untuk mengatur makna. Dan dalam konteks ini, Veo bisa dilihat sebagai produk dari dunia yang sudah tidak lagi percaya pada otoritas tunggal—bahkan terhadap kenyataan itu sendiri. Analogi yang paling tepat mungkin seperti ini: jika dahulu kita berjalan dengan kompas, kini kita melaju dengan GPS yang bisa mengubah tujuan tergantung siapa yang membayarnya. Kebenaran menjadi fluktuatif, tergantung narasi mana yang mendapat jangkauan lebih luas. Ini menimbulkan semacam kelelahan interpretatif (interpretive fatigue), di mana manusia tidak tahu lagi harus mempercayai apa, dan kepada siapa ia seharusnya menambatkan makna. Maka, trust issue bukan bentuk kelemahan psikologis, tetapi bentuk perlawanan bawah sadar terhadap dunia yang terlalu cepat berubah arah.

Dari sudut pandang antropologi digital, manusia postmodern tak lagi hidup di desa, tapi di jaringan. Kita tidak duduk di api unggun, tapi di ruang obrolan; tidak menatap mata, tapi menatap notifikasi. Dan dalam ruang itu, kepercayaan bukan dibangun oleh tatapan, tapi oleh ritme balasan pesan. Veo hadir sebagai juru cerita tanpa tubuh, menciptakan narasi tanpa beban sejarah atau trauma. Tapi bukankah narasi yang paling kuat adalah yang lahir dari luka? Bukankah kita mempercayai seseorang bukan karena ia sempurna, tapi karena kita melihat bagaimana ia merawat kekurangannya? Maka ketika cerita-cerita mulai dibuat tanpa derita, kita justru kehilangan resonansi yang membuat manusia bisa memahami manusia.

Silogisme baru terbentuk di benak generasi ini: jika teknologi mampu menyajikan semua, dan manusia menyukai yang mudah,  maka kerentanan tidak lagi dianggap berharga. Namun justru dalam kerentanan, manusia belajar membangun kepercayaan. Teori attachment dari Bowlby menyebutkan bahwa rasa aman tumbuh dari kehadiran konsisten, bukan dari performa impresif. Tapi bagaimana membangun kehadiran jika semua komunikasi sekarang bersifat sinkron, tapi tidak betul-betul menyentuh? Dalam komunikasi polivagal (Porges, 2011), tubuh membaca keselamatan dari ekspresi wajah, nada suara, dan ritme pernapasan. Semua itu tak bisa direkayasa oleh Veo, karena kepercayaan bukanlah produk desain, melainkan hasil dari keberanian untuk tampil apa adanya. Dan dalam dunia yang terus mengkurasi diri, tampil “apa adanya” bisa jadi adalah bentuk paling radikal dari kepercayaan.

Veo adalah cermin: ia memantulkan kemegahan masa depan sekaligus menyimpan retakan identitas di dalamnya. Seperti Narcissus yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri, kita mungkin tengah terpukau oleh kemampuan kita menciptakan versi digital dari dunia. Tapi pada akhirnya, refleksi tidak akan pernah menggantikan relasi. Teori komunikasi interpersonal menekankan pentingnya mutual recognition, pengakuan timbal balik yang tidak bisa dilakukan oleh sistem otomatis. Dan ketika semua hal bisa dihasilkan oleh sistem tanpa emosi, kita kehilangan rasa takjub terhadap ketidaksempurnaan. Karena justru dalam kesalahan, dalam jeda, dalam kegugupan yang manusiawi—di sanalah lahir keterhubungan. Bukan dari hasil edit sempurna, tapi dari keberanian untuk tidak menyunting luka.

Trust issue adalah logika emosional yang muncul dari struktur sosial yang terus bergeser. Ia bukan bentuk kegagalan, melainkan bentuk adaptasi terhadap dunia yang memaksa kita terus berjaga-jaga. Di sinilah kita berada: manusia yang ingin disayangi tapi takut dikhianati, ingin dimengerti tapi takut dibedah, ingin terkoneksi tapi takut kehilangan kontrol. Teknologi seperti Veo menjanjikan cerita tanpa luka, tapi juga memisahkan kita dari alasan mengapa cerita itu harus diceritakan. Kita butuh dunia yang lambat, yang memberi ruang bagi rasa percaya untuk tumbuh, bukan sekadar respons instan. Karena dalam dunia yang terus menuntut efisiensi, mungkin satu-satunya hal yang benar-benar revolusioner adalah bersedia hadir dengan hati yang tidak siap. Dan dalam kehadiran itu, kepercayaan—meski rapuh—bisa mulai berakar kembali.

Maka mari kita bertanya ulang: apakah kepercayaan masih punya tempat di dunia yang bisa menciptakan segalanya tanpa menyentuh apa pun? Kita tidak sedang kehilangan teknologi. Kita kehilangan titik temu antara representasi dan kejujuran. Google launching Veo adalah penanda zaman, tapi juga penanda jeda—saat manusia harus menengok ke dalam dirinya sebelum terseret lebih jauh ke dalam jaringan. Karena jika manusia tak lagi percaya pada manusia, maka narasi apa pun—seindah apa pun tampilannya, hanya akan menjadi gema kosong dalam ruang tak bergaung. Jika kepercayaan membutuhkan waktu, dan dunia menolak waktu,  maka mungkin yang kita butuhkan bukan upgrade… tapi pulang. Pulang, sebelum sunyi menjadi satu-satunya bahasa yang kita pahami. [T]

Penulis: Dr. Geofakta Razali
Editor: Adnyana Ole

Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia
Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah
Tags: Google
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik

Next Post

Pramana Experience Luncurkan Rasayatra Edisi Kedua: Manjakan Indera, Sentuh Kesadaran Historis — Koneksi Tamu, Tradisi, Waktu

Dr. Geofakta Razali

Dr. Geofakta Razali

adalah pakar komunikasi di bidang psikologi komunikasi London School of Public Relation yang punya pandangan tajam soal perilaku masyarakat urban, media, dan pemasaran. Dengan latar belakang double degree di komunikasi dan psikologi, ia memulai karier sebagai praktisi Public Relations hingga menjadi Direktur Marketing, sebelum akhirnya melangkah sebagai Associate Professor di bidang komunikasi. Berbekal sertifikasi di bidang produser TV, digital marketing, dan hipnoterapi, ia juga aktif sebagai pembicara dan terapis well-being, mengemas ilmu komunikasi dan psikologi dengan cara yang mudah dipahami dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Pramana Experience Luncurkan Rasayatra Edisi Kedua: Manjakan Indera, Sentuh Kesadaran Historis — Koneksi Tamu, Tradisi, Waktu

Pramana Experience Luncurkan Rasayatra Edisi Kedua: Manjakan Indera, Sentuh Kesadaran Historis -- Koneksi Tamu, Tradisi, Waktu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co