14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah

Dr. Geofakta Razali by Dr. Geofakta Razali
January 2, 2025
in Esai
Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah

Kumaila Hakimah | Foto: Google

“Agama bukan hanya tentang teks yang terucap, tetapi juga tentang dialog yang kita ciptakan dengan diri sendiri, lingkungan, dan zaman. Dalam ruang dialog itu, kesadaran memainkan peran psikologis: memahami bukan sekadar mempercayai, dan mendengar bukan sekadar menerima.” –  Geofakta Razali

Malam itu, saya duduk di depan layar laptop dengan secangkir kopi hangat di tangan. Hujan rintik di luar menambah kesan melankolis saat saya menekan tombol play di video Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah di kanal Cokro TV. Awalnya, saya mengira ini hanya akan menjadi diskusi biasa tentang agama. Namun, seiring video berjalan, saya merasa seperti tengah menyaksikan percikan api yang membakar kebekuan dogma dan membuka ruang baru untuk dialog yang lebih dalam.

Sudahkah Anda menonton salah satu episode Forbidden Questions yang menampilkan Kumaila Hakimah di Cokro TV? Dialog eksploratif ini menghadirkan wawasan yang memantik diskusi tentang agama, budaya, dan identitas dalam konteks postmodernisme. Anda dapat menyaksikan percakapannya melalui tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=hC-xcPnqVrk

Kumaila Hakimah, sosok perempuan muda yang pernah menjadi penghafal Al-Quran, berbicara dengan tenang tetapi penuh keyakinan. Ia menelusuri pertanyaan-pertanyaan yang banyak orang takut untuk tanyakan, tentang jilbab, usia pernikahan Aisyah, hingga relevansi kitab suci di era modern. Sebagai seorang akademisi dan lulusan studi tafsir, ia menyampaikan gagasannya dengan keilmuan yang kokoh tetapi tidak kehilangan sentuhan personal.

Kumaila tumbuh besar di lingkungan pesantren. Pada usia 10 tahun, ia sudah menghafal seluruh isi Al-Quran, sebuah pencapaian luar biasa yang membuatnya sering diundang ke berbagai forum untuk membacakan ayat-ayat suci. Namun, justru dari pengalaman itu, pertanyaan-pertanyaan besar mulai muncul. “Mengapa ini dianggap sebagai prestasi besar?” pikirnya. “Apa yang sebenarnya saya pelajari dari setiap ayat ini?” Pertanyaan-pertanyaan ini terus ia bawa hingga masa kuliah, di mana ia mendalami tafsir Al-Quran dan hadis. Dalam video tersebut, ia menceritakan bagaimana pendidikan formalnya sering kali tidak menjawab kegelisahannya. Sebaliknya, ia harus menggali sendiri konteks sejarah dan sosial di balik teks-teks suci yang selama ini ia hafal.

“Agama,” kata Kumaila, “Tidak seharusnya menjadi alat untuk menghentikan pertanyaan. Justru sebaliknya, agama ada untuk memicu dialog, memahami kehidupan, dan menjembatani realitas yang kompleks.”

Kumaila Hakimah adalah seorang perempuan muda progresif, seorang Quran nerd (sebagaimana ia menyebut dirinya) yang mendalami tafsir Quran dan hadis secara akademis. Perjalanannya dimulai dari pesantren tradisional hingga pendidikan tinggi dalam studi tafsir. Namun, alih-alih menerima teks agama secara dogmatis, ia memilih untuk menjadikannya objek dialog dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan konteks sosial.

Melalui kanal YouTube-nya, Forbidden Questions, Kumaila mengangkat isu-isu kontroversial seperti jilbab, pengharaman babi, hingga pertanyaan filosofis seperti “Apakah agama sumber konflik atau kedamaian?” Ia mengajak audiens untuk mempertanyakan, berdialog, dan mengkaji ulang pemahaman mereka, sering kali di luar koridor tradisional. Dalam episode ini, Kumaila mengusulkan re-interpretasi agama melalui lensa postmodernisme, yang menolak narasi tunggal dan mengakui keberagaman perspektif. Misalnya, ia menyoroti konteks pengharaman babi dalam tradisi Islam, mengaitkannya dengan kebutuhan ekologis masyarakat padang pasir. Bukan untuk mendiskreditkan ajaran, tetapi untuk menunjukkan bahwa setiap teks agama memiliki konteks historis dan geografis yang perlu dipahami.

Dari perspektif psikologi, ini mencerminkan prinsip cognitive flexibility, dimana kemampuan untuk menerima sudut pandang baru tanpa kehilangan nilai inti dari keyakinan seseorang. Generasi muda seperti Kumaila menunjukkan bahwa memahami agama bukan berarti meninggalkan spiritualitas, tetapi memperdalamnya melalui dialog yang kritis. Psikologi manusia, terutama dalam konteks postmodernisme, menekankan pentingnya dialog intrapersonal dan interpersonal dalam membangun identitas. Kumaila adalah contoh nyata bagaimana manusia bisa menggunakan pertanyaan eksistensial untuk membentuk pemahaman yang lebih autentik. Ia menceritakan pengalaman masa kecilnya ketika ia mempertanyakan konsep surga dan neraka, sifat Tuhan, hingga relevansi teks agama. Ini adalah proses yang menurut teori self-actualization Abraham Maslow, menjadi jalan menuju pemenuhan potensi manusia.

Kritik terhadap narasi tunggal agama juga menunjukkan pentingnya cognitive dissonance dalam proses pembelajaran. Ketika seseorang dihadapkan pada dua keyakinan yang bertentangan, mereka terpaksa merenungkan kembali nilai-nilai mereka, yang sering kali menghasilkan wawasan baru.

Re-interpretasi Agama dalam Dunia Postmodern

Episode ini adalah panggilan untuk merefleksikan kembali peran agama dalam kehidupan modern. Postmodernisme mengajarkan kita bahwa teks agama tidak dapat dipisahkan dari konteksnya. Sebagai generasi muda yang hidup di era pluralisme budaya dan kemajuan teknologi, Kumaila mengusulkan agar agama dilihat sebagai dialog yang terus berkembang.

Dalam psikologi modern, agama bukan hanya alat moralitas, tetapi juga sarana untuk memahami diri sendiri dan dunia. Kumaila menggambarkan agama sebagai sesuatu yang cair, yang dapat berubah bentuk sesuai dengan konteks zaman tanpa kehilangan esensinya. Melalui Forbidden Questions, Kumaila mengingatkan kita bahwa agama bukan tentang menemukan jawaban yang pasti, tetapi tentang mempertanyakan, mendengarkan, dan berdialog. Dalam dialog ini, manusia tidak hanya belajar tentang agama, tetapi juga tentang diri mereka sendiri.

Menonton Kumaila membuat saya berpikir, seandainya lebih banyak generasi muda yang memiliki keberanian seperti ini, mungkin dunia akan menjadi tempat yang lebih penuh pengertian. Seandainya mereka berani mempertanyakan tanpa rasa takut, melihat agama sebagai dialog yang terus berkembang, dan merangkul keragaman perspektif tanpa kehilangan esensi spiritual mereka, kita mungkin akan melihat agama benar-benar menjadi apa yang ia sebutkan sarana untuk memahami diri, orang lain, dan dunia yang terus berubah.

Hujan di luar telah reda, tetapi pikiran saya terus bergemuruh. Kumaila Hakimah bukan hanya berbicara tentang agama; ia mengingatkan kita bahwa perjalanan mencari makna adalah hak setiap manusia. Mungkin, inilah yang dibutuhkan di masa depan: generasi yang tidak hanya menerima, tetapi juga mencari. Sebagaimana Anda menyaksikan episode ini, mungkin pertanyaan berikut muncul: Apakah Anda siap untuk menjadikan agama sebagai ruang dialog yang hidup? Atau apakah Anda akan tetap pada teks tanpa melihat konteks? [T]

Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Menyingkap Kekuatan Debus: Ritual Ketangguhan yang Mengungkap Keberanian, Pengakuan Sosial, dan Spiritualitas
Tags: agamaIslamyoutube
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru, Teknologi, dan Resolusi

Next Post

Obyek Wisata Alas Pala di Desa Sangeh: Menonton Kera, Menikmati Taman-Hutan dan Sejuk Pepohonan

Dr. Geofakta Razali

Dr. Geofakta Razali

adalah pakar komunikasi di bidang psikologi komunikasi London School of Public Relation yang punya pandangan tajam soal perilaku masyarakat urban, media, dan pemasaran. Dengan latar belakang double degree di komunikasi dan psikologi, ia memulai karier sebagai praktisi Public Relations hingga menjadi Direktur Marketing, sebelum akhirnya melangkah sebagai Associate Professor di bidang komunikasi. Berbekal sertifikasi di bidang produser TV, digital marketing, dan hipnoterapi, ia juga aktif sebagai pembicara dan terapis well-being, mengemas ilmu komunikasi dan psikologi dengan cara yang mudah dipahami dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Obyek Wisata Alas Pala di Desa Sangeh: Menonton Kera, Menikmati Taman-Hutan dan Sejuk Pepohonan

Obyek Wisata Alas Pala di Desa Sangeh: Menonton Kera, Menikmati Taman-Hutan dan Sejuk Pepohonan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co