2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru, Teknologi, dan Resolusi

L Margi by L Margi
January 1, 2025
in Esai
Guru, Teknologi, dan Resolusi

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

“Kalau bisa mudah, kenapa dibuat susah?”

Memang ada ya korelasinya kalimat tersebut dengan judul yang saya tulis? Hmmm, sepertinya saya memikul keresahan sebagian dari para guru yang merasa bahwa profesi guru semakin hari semakin membuat uban pada rambut cepat muncul.

Bagaimana tidak? Coba kita ingat yang tersurat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005, di mana guru  adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Namun realitanya guru haruslah menjadi sosok multitalenta. Ia harus bisa mengerjakan dan menjadi apa saja sesuai kebutuhan di lembaganya (selain tugas utama guru).

Jika tidak mau atau tidak bisa melakukan, maka label tidak loyal dan tidak profesional akan disematkan pada diri guru tersebut.

Sebenarnya guru yang multitalenta itu hebat nggak sih? Hebat dong! Tapi siapa yang tahu di balik guru multitalenta itu ada mental yang lelah. Karena keterpaksaan atau gak pengen label tidak loyal dan tidak profesional menjadikan salah satu alasan dari sebagian guru. Dan pada kondisi demikian, tak jarang seorang guru merasa sendirian karena kurangnya empati orang-orang di sekitarnya. Selain itu, beberapa tahun ini guru sangat merasakan dirinya berkejaran dengan banyak hal, di antaranya kurikulum yang memang selalu dinamis, zaman, dan teknologi.

Nah, mari kita obrolin hal-hal yang mengejarnya itu…

Kurikulum yang Selalu Dinamis

Sebagaimana kita tahu, bukan rahasia lagi bahwa ketika berganti menteri berganti pula kurikulumnya. Hal seperti ini membuat guru seluruh Indonesia merasa pusing tujuh kelililing. Baru saja ikut diklat, berlatih membuat perangkat pembelajaran, mengimplementaikan dan masih menemukan error di lapangan, namun karena menteri pendidikannya ganti, malah sudah ganti pula dan harus ditinggalkan begitu saja apa yang para guru pelajari/latih selama diklat.

Menurutku, yang namanya kurikulum memang harus ada penyempurnaan-penyempurnaan sesuai dengan kodrat zaman. Kita bisa ambil contoh pada zaman saya belajar perkalian. Guru saya menggunakan strategi hafalan. Murid di depan guru satu per-satu belajar berhitung  menggunakan telapak tangannya dengan posisi di atas meja guru. Alhasil, akan melayanglah penggaris kayu di telapak tangan itu jika tidak mampu menjawab. Apakah itu menjadi trauma buat diri saya? Jawabannya tidak. Bahkan saya malah bersyukur karena saat itu saya punya kemauan melawan rasa malas dengan belajar menghapal lebih tekun. Coba saja kita pakai strategi guru saya di zaman sekarang. Yang ada malah bukan kue lapis ucapan terima kasih dari wali murid, melainkan pasal yang berlapis lapis karena dianggap bullying dan kekerasan terhadap peserta didik.  

Hal ini menjadi wajar dan tidak salah ketika  memandang bahwa kurikulum memang harus berubah, mesti dinamis, menyesuaikan dengan kondisi zaman. Yang salah hanyalah pemahaman dengan membuat guru kewalahan untuk melakukan tugas utamanya yang sangat menyita waktu, pikiran, dan tenaga, yaitu merancang perencanaan dan asesmen. Jika harus berkata jujur, saya sangat bernapas lega ketika kurikulum 2013 berganti menjadi Kurikulum Merdeka. Menteri Pendidikan yang mencetuskan kurikulum tersebut membuat keluwesan pada banyak hal, khususnya terkait tugas utama guru dalam membuat perencanaan pembelajaran sampai pada asesmen.

Namun, lagi-lagi realita yang turun dan sampai ke guru tidak seindah drama Korea. Alih-alih guru mendapatkan kebebasan membuat perencanaan pembelajaran dan asesmen sesuai dengan kreativitas guru selama tetap pada rule, malah muncul aturan-aturan yang seolah dipatenkan dalam membuat perangkat mengajar.

Lalu, pergantian menteri kali ini, syukur jika kurikulum merdeka masih tetap akan dipertahankan dan tidak diganti seperti yang sudah-sudah, tentunya dengan penyempurnaan, salah satunya seperti yang kita dengar ada istilah deep learning. Semoga saja Bapak Menteri akan lebih menekankan pemahaman ke bawahannya tentang “kalau bisa mudah, kenapa dibuat sulit” supaya guru tetap bahagia.

Zaman

Guru yang mengajar di masa sekarang berada di zona zaman yang semuanya serba aksi nyata dan didukung dengan sosial media sebagai wadahnya. Nah, ini salah satu yang saya maksud dari guru dituntut multitalenta. Tentang soal pembelajaran yang dilakukan guru tidak berhenti di dalam kelas, melainkan harus mendokumentasikannya, bahkan memublikasikan dengan dalih sebagai bukti aksi nyata dan menjadi perangkat motivasi.

Padahal, mata kuliah di keguruan, para calon guru tidak diajarkan public speaking, editing video, atau lainnya, yang berkaitan dengan publikasi digital. Tapi hal ini bagi saya sangat seru, sih, karena meskipun saya tidak mempunyai kemahiran dalam hal tersebut, paling tidak saya mempunyai minat di sana dan dengan minat itu saya mempunyai kemauan untuk mencari tahu dan belajar. Jadi, ayo deh, belajar hal yang satu ini. Belajarnya pelan-pelan saja supaya guru tetap bahagia.

Teknologi

Siapa yang bisa menahan dan melawan teknologi? Sebuah konsekuensi dari globalisasi dan kita seharusnya tidak perlu mengumpat betapa cepat dan canggihnya teknologi. Banyak yang mengatakan teknologi itu seperti sebuah pisau, di mana semua itu tergantung pada siapa yang memegang dan mengendalikannya.

Beberapa hal yang dapat kita rasakan adalah kita bisa terbantu, teknologi mempermudah dan mempercepat pekerjaan seorang guru terkait administrasi. Sebut saja seperti membuat perangkat ajar, mulai dari modul ajar, bahan ajar, memilih strategi pembelajaran dengan menggunakan AI atau Chat GPT. Menurut saya hal ini bukanlah sebuah kesalahan selama tulisan yang dihasilkan oleh AI atau Chat GPT tidak dituangkan mentah-mentah, melainkan diolah guru tersebut, karena sehebat apapun AI atau Chat GPT memberi solusi, manusialah yang mampu mengolah kalimat dengan menggunakan rasa. Dalam kondisi semacam ini teknologi berperan sebagai dewa.

Disadari atau tidak, canggihnya teknologi yang merambah di dunia kerja, khususnya dunia pendidikan, menjadikan guru mempunyai jam kerja serupa jam dinding—24 jam selama mata tidak terpejam. Banyak sekali yang mengatasnamakan memanfaatkan kecanggihan teknologi dengan mengirim data dan berkas pekerjaan cukup mudah dan cepat. Pada kenyataannya, tak jarang data dan berkas pekerjaan diminta diluar jam kerja. Tidak peduli guru sedang masak untuk suaminya, meneteki bayinya, menjaga kerabat yang sakit, atau sedang takziyah. Bahkan tagihan tagihan pekerjaan pun dijumpai ketika guru baru membuka mata.

Sekali lagi bukan salah bunda mengandung. Hehehe. Dalam kondisi semacam ini teknologi berperan sebagai hantu. Namun, sepertinya ke depan akan ada solusi bagaimana guru tetap bersahabat dengan teknologi tanpa melupakan anak didiknya supaya guru tetap bahagia.

Lalu, apa resolusi kalian dalam menyambut pergantian kalender kali ini? Kalau saya, sih, sederhana saja: menjadi guru yang bahagia. [T]

BACA artikel lain dari penulis L MARGI

Belajar Memaknai Pendidikan Karakter Secara Langsung Lewat Film “Koki-Koki Cilik”
Dilema Seorang Guru Ketika Prosesi Kenaikan Kelas
Membaca Arah  Pendidikan Lima Tahun ke Depan    
Mendayung di antara Dua Karang: Sebuah Refleksi HUT PGRI dan Hari Guru Nasional 2023
Momen-Momen Bahagia Guru di Hari Guru
Peringatan Hari Guru: Nasib Pendidik Bahasa Bali “Gelimbang-Gelimbeng” Tak Menentu
Tags: guruPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Arah  Pendidikan Lima Tahun ke Depan    

Next Post

Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah

L Margi

L Margi

Alumnus Magister Pendidikan UNESA

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah

Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme --- Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co