3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru, Teknologi, dan Resolusi

L Margi by L Margi
January 1, 2025
in Esai
Guru, Teknologi, dan Resolusi

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

“Kalau bisa mudah, kenapa dibuat susah?”

Memang ada ya korelasinya kalimat tersebut dengan judul yang saya tulis? Hmmm, sepertinya saya memikul keresahan sebagian dari para guru yang merasa bahwa profesi guru semakin hari semakin membuat uban pada rambut cepat muncul.

Bagaimana tidak? Coba kita ingat yang tersurat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005, di mana guru  adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Namun realitanya guru haruslah menjadi sosok multitalenta. Ia harus bisa mengerjakan dan menjadi apa saja sesuai kebutuhan di lembaganya (selain tugas utama guru).

Jika tidak mau atau tidak bisa melakukan, maka label tidak loyal dan tidak profesional akan disematkan pada diri guru tersebut.

Sebenarnya guru yang multitalenta itu hebat nggak sih? Hebat dong! Tapi siapa yang tahu di balik guru multitalenta itu ada mental yang lelah. Karena keterpaksaan atau gak pengen label tidak loyal dan tidak profesional menjadikan salah satu alasan dari sebagian guru. Dan pada kondisi demikian, tak jarang seorang guru merasa sendirian karena kurangnya empati orang-orang di sekitarnya. Selain itu, beberapa tahun ini guru sangat merasakan dirinya berkejaran dengan banyak hal, di antaranya kurikulum yang memang selalu dinamis, zaman, dan teknologi.

Nah, mari kita obrolin hal-hal yang mengejarnya itu…

Kurikulum yang Selalu Dinamis

Sebagaimana kita tahu, bukan rahasia lagi bahwa ketika berganti menteri berganti pula kurikulumnya. Hal seperti ini membuat guru seluruh Indonesia merasa pusing tujuh kelililing. Baru saja ikut diklat, berlatih membuat perangkat pembelajaran, mengimplementaikan dan masih menemukan error di lapangan, namun karena menteri pendidikannya ganti, malah sudah ganti pula dan harus ditinggalkan begitu saja apa yang para guru pelajari/latih selama diklat.

Menurutku, yang namanya kurikulum memang harus ada penyempurnaan-penyempurnaan sesuai dengan kodrat zaman. Kita bisa ambil contoh pada zaman saya belajar perkalian. Guru saya menggunakan strategi hafalan. Murid di depan guru satu per-satu belajar berhitung  menggunakan telapak tangannya dengan posisi di atas meja guru. Alhasil, akan melayanglah penggaris kayu di telapak tangan itu jika tidak mampu menjawab. Apakah itu menjadi trauma buat diri saya? Jawabannya tidak. Bahkan saya malah bersyukur karena saat itu saya punya kemauan melawan rasa malas dengan belajar menghapal lebih tekun. Coba saja kita pakai strategi guru saya di zaman sekarang. Yang ada malah bukan kue lapis ucapan terima kasih dari wali murid, melainkan pasal yang berlapis lapis karena dianggap bullying dan kekerasan terhadap peserta didik.  

Hal ini menjadi wajar dan tidak salah ketika  memandang bahwa kurikulum memang harus berubah, mesti dinamis, menyesuaikan dengan kondisi zaman. Yang salah hanyalah pemahaman dengan membuat guru kewalahan untuk melakukan tugas utamanya yang sangat menyita waktu, pikiran, dan tenaga, yaitu merancang perencanaan dan asesmen. Jika harus berkata jujur, saya sangat bernapas lega ketika kurikulum 2013 berganti menjadi Kurikulum Merdeka. Menteri Pendidikan yang mencetuskan kurikulum tersebut membuat keluwesan pada banyak hal, khususnya terkait tugas utama guru dalam membuat perencanaan pembelajaran sampai pada asesmen.

Namun, lagi-lagi realita yang turun dan sampai ke guru tidak seindah drama Korea. Alih-alih guru mendapatkan kebebasan membuat perencanaan pembelajaran dan asesmen sesuai dengan kreativitas guru selama tetap pada rule, malah muncul aturan-aturan yang seolah dipatenkan dalam membuat perangkat mengajar.

Lalu, pergantian menteri kali ini, syukur jika kurikulum merdeka masih tetap akan dipertahankan dan tidak diganti seperti yang sudah-sudah, tentunya dengan penyempurnaan, salah satunya seperti yang kita dengar ada istilah deep learning. Semoga saja Bapak Menteri akan lebih menekankan pemahaman ke bawahannya tentang “kalau bisa mudah, kenapa dibuat sulit” supaya guru tetap bahagia.

Zaman

Guru yang mengajar di masa sekarang berada di zona zaman yang semuanya serba aksi nyata dan didukung dengan sosial media sebagai wadahnya. Nah, ini salah satu yang saya maksud dari guru dituntut multitalenta. Tentang soal pembelajaran yang dilakukan guru tidak berhenti di dalam kelas, melainkan harus mendokumentasikannya, bahkan memublikasikan dengan dalih sebagai bukti aksi nyata dan menjadi perangkat motivasi.

Padahal, mata kuliah di keguruan, para calon guru tidak diajarkan public speaking, editing video, atau lainnya, yang berkaitan dengan publikasi digital. Tapi hal ini bagi saya sangat seru, sih, karena meskipun saya tidak mempunyai kemahiran dalam hal tersebut, paling tidak saya mempunyai minat di sana dan dengan minat itu saya mempunyai kemauan untuk mencari tahu dan belajar. Jadi, ayo deh, belajar hal yang satu ini. Belajarnya pelan-pelan saja supaya guru tetap bahagia.

Teknologi

Siapa yang bisa menahan dan melawan teknologi? Sebuah konsekuensi dari globalisasi dan kita seharusnya tidak perlu mengumpat betapa cepat dan canggihnya teknologi. Banyak yang mengatakan teknologi itu seperti sebuah pisau, di mana semua itu tergantung pada siapa yang memegang dan mengendalikannya.

Beberapa hal yang dapat kita rasakan adalah kita bisa terbantu, teknologi mempermudah dan mempercepat pekerjaan seorang guru terkait administrasi. Sebut saja seperti membuat perangkat ajar, mulai dari modul ajar, bahan ajar, memilih strategi pembelajaran dengan menggunakan AI atau Chat GPT. Menurut saya hal ini bukanlah sebuah kesalahan selama tulisan yang dihasilkan oleh AI atau Chat GPT tidak dituangkan mentah-mentah, melainkan diolah guru tersebut, karena sehebat apapun AI atau Chat GPT memberi solusi, manusialah yang mampu mengolah kalimat dengan menggunakan rasa. Dalam kondisi semacam ini teknologi berperan sebagai dewa.

Disadari atau tidak, canggihnya teknologi yang merambah di dunia kerja, khususnya dunia pendidikan, menjadikan guru mempunyai jam kerja serupa jam dinding—24 jam selama mata tidak terpejam. Banyak sekali yang mengatasnamakan memanfaatkan kecanggihan teknologi dengan mengirim data dan berkas pekerjaan cukup mudah dan cepat. Pada kenyataannya, tak jarang data dan berkas pekerjaan diminta diluar jam kerja. Tidak peduli guru sedang masak untuk suaminya, meneteki bayinya, menjaga kerabat yang sakit, atau sedang takziyah. Bahkan tagihan tagihan pekerjaan pun dijumpai ketika guru baru membuka mata.

Sekali lagi bukan salah bunda mengandung. Hehehe. Dalam kondisi semacam ini teknologi berperan sebagai hantu. Namun, sepertinya ke depan akan ada solusi bagaimana guru tetap bersahabat dengan teknologi tanpa melupakan anak didiknya supaya guru tetap bahagia.

Lalu, apa resolusi kalian dalam menyambut pergantian kalender kali ini? Kalau saya, sih, sederhana saja: menjadi guru yang bahagia. [T]

BACA artikel lain dari penulis L MARGI

Belajar Memaknai Pendidikan Karakter Secara Langsung Lewat Film “Koki-Koki Cilik”
Dilema Seorang Guru Ketika Prosesi Kenaikan Kelas
Membaca Arah  Pendidikan Lima Tahun ke Depan    
Mendayung di antara Dua Karang: Sebuah Refleksi HUT PGRI dan Hari Guru Nasional 2023
Momen-Momen Bahagia Guru di Hari Guru
Peringatan Hari Guru: Nasib Pendidik Bahasa Bali “Gelimbang-Gelimbeng” Tak Menentu
Tags: guruPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Arah  Pendidikan Lima Tahun ke Depan    

Next Post

Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah

L Margi

L Margi

Alumnus Magister Pendidikan UNESA

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah

Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme --- Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co