2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru, Teknologi, dan Resolusi

L Margi by L Margi
January 1, 2025
in Esai
Guru, Teknologi, dan Resolusi

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

“Kalau bisa mudah, kenapa dibuat susah?”

Memang ada ya korelasinya kalimat tersebut dengan judul yang saya tulis? Hmmm, sepertinya saya memikul keresahan sebagian dari para guru yang merasa bahwa profesi guru semakin hari semakin membuat uban pada rambut cepat muncul.

Bagaimana tidak? Coba kita ingat yang tersurat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005, di mana guru  adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Namun realitanya guru haruslah menjadi sosok multitalenta. Ia harus bisa mengerjakan dan menjadi apa saja sesuai kebutuhan di lembaganya (selain tugas utama guru).

Jika tidak mau atau tidak bisa melakukan, maka label tidak loyal dan tidak profesional akan disematkan pada diri guru tersebut.

Sebenarnya guru yang multitalenta itu hebat nggak sih? Hebat dong! Tapi siapa yang tahu di balik guru multitalenta itu ada mental yang lelah. Karena keterpaksaan atau gak pengen label tidak loyal dan tidak profesional menjadikan salah satu alasan dari sebagian guru. Dan pada kondisi demikian, tak jarang seorang guru merasa sendirian karena kurangnya empati orang-orang di sekitarnya. Selain itu, beberapa tahun ini guru sangat merasakan dirinya berkejaran dengan banyak hal, di antaranya kurikulum yang memang selalu dinamis, zaman, dan teknologi.

Nah, mari kita obrolin hal-hal yang mengejarnya itu…

Kurikulum yang Selalu Dinamis

Sebagaimana kita tahu, bukan rahasia lagi bahwa ketika berganti menteri berganti pula kurikulumnya. Hal seperti ini membuat guru seluruh Indonesia merasa pusing tujuh kelililing. Baru saja ikut diklat, berlatih membuat perangkat pembelajaran, mengimplementaikan dan masih menemukan error di lapangan, namun karena menteri pendidikannya ganti, malah sudah ganti pula dan harus ditinggalkan begitu saja apa yang para guru pelajari/latih selama diklat.

Menurutku, yang namanya kurikulum memang harus ada penyempurnaan-penyempurnaan sesuai dengan kodrat zaman. Kita bisa ambil contoh pada zaman saya belajar perkalian. Guru saya menggunakan strategi hafalan. Murid di depan guru satu per-satu belajar berhitung  menggunakan telapak tangannya dengan posisi di atas meja guru. Alhasil, akan melayanglah penggaris kayu di telapak tangan itu jika tidak mampu menjawab. Apakah itu menjadi trauma buat diri saya? Jawabannya tidak. Bahkan saya malah bersyukur karena saat itu saya punya kemauan melawan rasa malas dengan belajar menghapal lebih tekun. Coba saja kita pakai strategi guru saya di zaman sekarang. Yang ada malah bukan kue lapis ucapan terima kasih dari wali murid, melainkan pasal yang berlapis lapis karena dianggap bullying dan kekerasan terhadap peserta didik.  

Hal ini menjadi wajar dan tidak salah ketika  memandang bahwa kurikulum memang harus berubah, mesti dinamis, menyesuaikan dengan kondisi zaman. Yang salah hanyalah pemahaman dengan membuat guru kewalahan untuk melakukan tugas utamanya yang sangat menyita waktu, pikiran, dan tenaga, yaitu merancang perencanaan dan asesmen. Jika harus berkata jujur, saya sangat bernapas lega ketika kurikulum 2013 berganti menjadi Kurikulum Merdeka. Menteri Pendidikan yang mencetuskan kurikulum tersebut membuat keluwesan pada banyak hal, khususnya terkait tugas utama guru dalam membuat perencanaan pembelajaran sampai pada asesmen.

Namun, lagi-lagi realita yang turun dan sampai ke guru tidak seindah drama Korea. Alih-alih guru mendapatkan kebebasan membuat perencanaan pembelajaran dan asesmen sesuai dengan kreativitas guru selama tetap pada rule, malah muncul aturan-aturan yang seolah dipatenkan dalam membuat perangkat mengajar.

Lalu, pergantian menteri kali ini, syukur jika kurikulum merdeka masih tetap akan dipertahankan dan tidak diganti seperti yang sudah-sudah, tentunya dengan penyempurnaan, salah satunya seperti yang kita dengar ada istilah deep learning. Semoga saja Bapak Menteri akan lebih menekankan pemahaman ke bawahannya tentang “kalau bisa mudah, kenapa dibuat sulit” supaya guru tetap bahagia.

Zaman

Guru yang mengajar di masa sekarang berada di zona zaman yang semuanya serba aksi nyata dan didukung dengan sosial media sebagai wadahnya. Nah, ini salah satu yang saya maksud dari guru dituntut multitalenta. Tentang soal pembelajaran yang dilakukan guru tidak berhenti di dalam kelas, melainkan harus mendokumentasikannya, bahkan memublikasikan dengan dalih sebagai bukti aksi nyata dan menjadi perangkat motivasi.

Padahal, mata kuliah di keguruan, para calon guru tidak diajarkan public speaking, editing video, atau lainnya, yang berkaitan dengan publikasi digital. Tapi hal ini bagi saya sangat seru, sih, karena meskipun saya tidak mempunyai kemahiran dalam hal tersebut, paling tidak saya mempunyai minat di sana dan dengan minat itu saya mempunyai kemauan untuk mencari tahu dan belajar. Jadi, ayo deh, belajar hal yang satu ini. Belajarnya pelan-pelan saja supaya guru tetap bahagia.

Teknologi

Siapa yang bisa menahan dan melawan teknologi? Sebuah konsekuensi dari globalisasi dan kita seharusnya tidak perlu mengumpat betapa cepat dan canggihnya teknologi. Banyak yang mengatakan teknologi itu seperti sebuah pisau, di mana semua itu tergantung pada siapa yang memegang dan mengendalikannya.

Beberapa hal yang dapat kita rasakan adalah kita bisa terbantu, teknologi mempermudah dan mempercepat pekerjaan seorang guru terkait administrasi. Sebut saja seperti membuat perangkat ajar, mulai dari modul ajar, bahan ajar, memilih strategi pembelajaran dengan menggunakan AI atau Chat GPT. Menurut saya hal ini bukanlah sebuah kesalahan selama tulisan yang dihasilkan oleh AI atau Chat GPT tidak dituangkan mentah-mentah, melainkan diolah guru tersebut, karena sehebat apapun AI atau Chat GPT memberi solusi, manusialah yang mampu mengolah kalimat dengan menggunakan rasa. Dalam kondisi semacam ini teknologi berperan sebagai dewa.

Disadari atau tidak, canggihnya teknologi yang merambah di dunia kerja, khususnya dunia pendidikan, menjadikan guru mempunyai jam kerja serupa jam dinding—24 jam selama mata tidak terpejam. Banyak sekali yang mengatasnamakan memanfaatkan kecanggihan teknologi dengan mengirim data dan berkas pekerjaan cukup mudah dan cepat. Pada kenyataannya, tak jarang data dan berkas pekerjaan diminta diluar jam kerja. Tidak peduli guru sedang masak untuk suaminya, meneteki bayinya, menjaga kerabat yang sakit, atau sedang takziyah. Bahkan tagihan tagihan pekerjaan pun dijumpai ketika guru baru membuka mata.

Sekali lagi bukan salah bunda mengandung. Hehehe. Dalam kondisi semacam ini teknologi berperan sebagai hantu. Namun, sepertinya ke depan akan ada solusi bagaimana guru tetap bersahabat dengan teknologi tanpa melupakan anak didiknya supaya guru tetap bahagia.

Lalu, apa resolusi kalian dalam menyambut pergantian kalender kali ini? Kalau saya, sih, sederhana saja: menjadi guru yang bahagia. [T]

BACA artikel lain dari penulis L MARGI

Belajar Memaknai Pendidikan Karakter Secara Langsung Lewat Film “Koki-Koki Cilik”
Dilema Seorang Guru Ketika Prosesi Kenaikan Kelas
Membaca Arah  Pendidikan Lima Tahun ke Depan    
Mendayung di antara Dua Karang: Sebuah Refleksi HUT PGRI dan Hari Guru Nasional 2023
Momen-Momen Bahagia Guru di Hari Guru
Peringatan Hari Guru: Nasib Pendidik Bahasa Bali “Gelimbang-Gelimbeng” Tak Menentu
Tags: guruPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Arah  Pendidikan Lima Tahun ke Depan    

Next Post

Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah

L Margi

L Margi

Alumnus Magister Pendidikan UNESA

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah

Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme --- Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co