23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru, Teknologi, dan Resolusi

L Margi by L Margi
January 1, 2025
in Esai
Guru, Teknologi, dan Resolusi

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

“Kalau bisa mudah, kenapa dibuat susah?”

Memang ada ya korelasinya kalimat tersebut dengan judul yang saya tulis? Hmmm, sepertinya saya memikul keresahan sebagian dari para guru yang merasa bahwa profesi guru semakin hari semakin membuat uban pada rambut cepat muncul.

Bagaimana tidak? Coba kita ingat yang tersurat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005, di mana guru  adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Namun realitanya guru haruslah menjadi sosok multitalenta. Ia harus bisa mengerjakan dan menjadi apa saja sesuai kebutuhan di lembaganya (selain tugas utama guru).

Jika tidak mau atau tidak bisa melakukan, maka label tidak loyal dan tidak profesional akan disematkan pada diri guru tersebut.

Sebenarnya guru yang multitalenta itu hebat nggak sih? Hebat dong! Tapi siapa yang tahu di balik guru multitalenta itu ada mental yang lelah. Karena keterpaksaan atau gak pengen label tidak loyal dan tidak profesional menjadikan salah satu alasan dari sebagian guru. Dan pada kondisi demikian, tak jarang seorang guru merasa sendirian karena kurangnya empati orang-orang di sekitarnya. Selain itu, beberapa tahun ini guru sangat merasakan dirinya berkejaran dengan banyak hal, di antaranya kurikulum yang memang selalu dinamis, zaman, dan teknologi.

Nah, mari kita obrolin hal-hal yang mengejarnya itu…

Kurikulum yang Selalu Dinamis

Sebagaimana kita tahu, bukan rahasia lagi bahwa ketika berganti menteri berganti pula kurikulumnya. Hal seperti ini membuat guru seluruh Indonesia merasa pusing tujuh kelililing. Baru saja ikut diklat, berlatih membuat perangkat pembelajaran, mengimplementaikan dan masih menemukan error di lapangan, namun karena menteri pendidikannya ganti, malah sudah ganti pula dan harus ditinggalkan begitu saja apa yang para guru pelajari/latih selama diklat.

Menurutku, yang namanya kurikulum memang harus ada penyempurnaan-penyempurnaan sesuai dengan kodrat zaman. Kita bisa ambil contoh pada zaman saya belajar perkalian. Guru saya menggunakan strategi hafalan. Murid di depan guru satu per-satu belajar berhitung  menggunakan telapak tangannya dengan posisi di atas meja guru. Alhasil, akan melayanglah penggaris kayu di telapak tangan itu jika tidak mampu menjawab. Apakah itu menjadi trauma buat diri saya? Jawabannya tidak. Bahkan saya malah bersyukur karena saat itu saya punya kemauan melawan rasa malas dengan belajar menghapal lebih tekun. Coba saja kita pakai strategi guru saya di zaman sekarang. Yang ada malah bukan kue lapis ucapan terima kasih dari wali murid, melainkan pasal yang berlapis lapis karena dianggap bullying dan kekerasan terhadap peserta didik.  

Hal ini menjadi wajar dan tidak salah ketika  memandang bahwa kurikulum memang harus berubah, mesti dinamis, menyesuaikan dengan kondisi zaman. Yang salah hanyalah pemahaman dengan membuat guru kewalahan untuk melakukan tugas utamanya yang sangat menyita waktu, pikiran, dan tenaga, yaitu merancang perencanaan dan asesmen. Jika harus berkata jujur, saya sangat bernapas lega ketika kurikulum 2013 berganti menjadi Kurikulum Merdeka. Menteri Pendidikan yang mencetuskan kurikulum tersebut membuat keluwesan pada banyak hal, khususnya terkait tugas utama guru dalam membuat perencanaan pembelajaran sampai pada asesmen.

Namun, lagi-lagi realita yang turun dan sampai ke guru tidak seindah drama Korea. Alih-alih guru mendapatkan kebebasan membuat perencanaan pembelajaran dan asesmen sesuai dengan kreativitas guru selama tetap pada rule, malah muncul aturan-aturan yang seolah dipatenkan dalam membuat perangkat mengajar.

Lalu, pergantian menteri kali ini, syukur jika kurikulum merdeka masih tetap akan dipertahankan dan tidak diganti seperti yang sudah-sudah, tentunya dengan penyempurnaan, salah satunya seperti yang kita dengar ada istilah deep learning. Semoga saja Bapak Menteri akan lebih menekankan pemahaman ke bawahannya tentang “kalau bisa mudah, kenapa dibuat sulit” supaya guru tetap bahagia.

Zaman

Guru yang mengajar di masa sekarang berada di zona zaman yang semuanya serba aksi nyata dan didukung dengan sosial media sebagai wadahnya. Nah, ini salah satu yang saya maksud dari guru dituntut multitalenta. Tentang soal pembelajaran yang dilakukan guru tidak berhenti di dalam kelas, melainkan harus mendokumentasikannya, bahkan memublikasikan dengan dalih sebagai bukti aksi nyata dan menjadi perangkat motivasi.

Padahal, mata kuliah di keguruan, para calon guru tidak diajarkan public speaking, editing video, atau lainnya, yang berkaitan dengan publikasi digital. Tapi hal ini bagi saya sangat seru, sih, karena meskipun saya tidak mempunyai kemahiran dalam hal tersebut, paling tidak saya mempunyai minat di sana dan dengan minat itu saya mempunyai kemauan untuk mencari tahu dan belajar. Jadi, ayo deh, belajar hal yang satu ini. Belajarnya pelan-pelan saja supaya guru tetap bahagia.

Teknologi

Siapa yang bisa menahan dan melawan teknologi? Sebuah konsekuensi dari globalisasi dan kita seharusnya tidak perlu mengumpat betapa cepat dan canggihnya teknologi. Banyak yang mengatakan teknologi itu seperti sebuah pisau, di mana semua itu tergantung pada siapa yang memegang dan mengendalikannya.

Beberapa hal yang dapat kita rasakan adalah kita bisa terbantu, teknologi mempermudah dan mempercepat pekerjaan seorang guru terkait administrasi. Sebut saja seperti membuat perangkat ajar, mulai dari modul ajar, bahan ajar, memilih strategi pembelajaran dengan menggunakan AI atau Chat GPT. Menurut saya hal ini bukanlah sebuah kesalahan selama tulisan yang dihasilkan oleh AI atau Chat GPT tidak dituangkan mentah-mentah, melainkan diolah guru tersebut, karena sehebat apapun AI atau Chat GPT memberi solusi, manusialah yang mampu mengolah kalimat dengan menggunakan rasa. Dalam kondisi semacam ini teknologi berperan sebagai dewa.

Disadari atau tidak, canggihnya teknologi yang merambah di dunia kerja, khususnya dunia pendidikan, menjadikan guru mempunyai jam kerja serupa jam dinding—24 jam selama mata tidak terpejam. Banyak sekali yang mengatasnamakan memanfaatkan kecanggihan teknologi dengan mengirim data dan berkas pekerjaan cukup mudah dan cepat. Pada kenyataannya, tak jarang data dan berkas pekerjaan diminta diluar jam kerja. Tidak peduli guru sedang masak untuk suaminya, meneteki bayinya, menjaga kerabat yang sakit, atau sedang takziyah. Bahkan tagihan tagihan pekerjaan pun dijumpai ketika guru baru membuka mata.

Sekali lagi bukan salah bunda mengandung. Hehehe. Dalam kondisi semacam ini teknologi berperan sebagai hantu. Namun, sepertinya ke depan akan ada solusi bagaimana guru tetap bersahabat dengan teknologi tanpa melupakan anak didiknya supaya guru tetap bahagia.

Lalu, apa resolusi kalian dalam menyambut pergantian kalender kali ini? Kalau saya, sih, sederhana saja: menjadi guru yang bahagia. [T]

BACA artikel lain dari penulis L MARGI

Belajar Memaknai Pendidikan Karakter Secara Langsung Lewat Film “Koki-Koki Cilik”
Dilema Seorang Guru Ketika Prosesi Kenaikan Kelas
Membaca Arah  Pendidikan Lima Tahun ke Depan    
Mendayung di antara Dua Karang: Sebuah Refleksi HUT PGRI dan Hari Guru Nasional 2023
Momen-Momen Bahagia Guru di Hari Guru
Peringatan Hari Guru: Nasib Pendidik Bahasa Bali “Gelimbang-Gelimbeng” Tak Menentu
Tags: guruPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Arah  Pendidikan Lima Tahun ke Depan    

Next Post

Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah

L Margi

L Margi

Alumnus Magister Pendidikan UNESA

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah

Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme --- Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co