3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bulan “Akting”

Jaswanto by Jaswanto
March 29, 2023
in Esai
Libur Hari Jumat

tatkala.co

DI BERANDA KONTRAKAN di Perumahan Griya Sambangan (atau yang sering saya singkat: GS45), saya duduk memandangi empat ekor kucing (2 jantan-2 betina) yang sudah saya rawat sejak kecil sambil memeganggi tempat makanannya—kucing-kucing itu makan dengan lahap. (Ini sudah menjadi kebiasaan saya sepulang bekerja.) Dan sesaat setelah saya menutup tempat makanan kucing itu, sebelum saya beranjak dari tempat duduk, azan Magrib berkumandang. “Cepat sekali,” gumam saya dalam hati.

Hari kedua puasa Ramadan (24/3), tak ada yang lebih istimewa kecuali saya yang tiba-tiba lebih rajin beribadah—tentu saja dengan susah payah—daripada hari-hari biasa. (Ini “akting” klasik yang selalu saya lakukan saat bulan puasa.)

Seorang awam seperti saya, rajin ibadah saat puasa Ramadan, sekali lagi dengan susah payah, adalah sebuah prestasi yang sangat menggembirakan. Ya, di balik semangat rohani saya, ada fisik yang menderita sebenarnya—tentu saja, orang seperti saya kelaparan bukan hal yang mudah. Mungkin itu karena fisik saya begitu lemah, atau jangan-jangan karena cetek ilmu dan iman saya, tapi bisa jadi juga karena kemanjaan saya.

Namun, bisa jadi karena seluruh rasa berat itulah, mendengar suara azan Magrib dari musala kecil Perumahan Griya Sambangan itu, hidup saya terasa ringan. (Suara azan di bulan puasa adalah hadiah yang menarik hati.)

Saya masuk kontrakan, menuju kamar, minum tiga teguk air untuk membatalkan puasa, dan segera mengganti baju. Teman-teman kontrakan sudah menyiapkan hidangan buka puasa. Sederhana saja: hanya ada nasi, telur dadar, sayur sop, dan es teh, tanpa kurma atau takjil yang macam-macam. (Puasa kali ini rasanya memang tak ingin makan macam-macam. Saya tak mau menjadi diri yang kemarin (yang dulu), yang cerewet, yang ingin membeli dan memakan apa saja saat menjelang buka puasa. Kenapa saya—dan mungkin juga kebanyakan orang—tiba-tiba bisa serakus itu?)

Seorang teman mengirimi saya sebuah pesan WhatsApp: “Sepertinya bulan Puasa kali ini banyak yang berubah”. Saya agak kaget membacanya. Lama saya termenung. Benarkah bulan Puasa telah berubah?

***

Ibadah puasa memang tentang “menahan”. Menahan segala sesuatu yang berkaitan dengan nafsu/ego. Leluhur kuno menyebut laku menahan ini sebagai laku Mesu Budhi Babahan Hawa Sanga. Dan puasa adalah laku paling rahasia. Laku untuk menemukan diri—yang oleh Sunan Kalijaga diibaratkan dengan “penekno blimbing kuwi”. Puasa adalah jalan pribadi untuk menuju Tuhan, bukan jalan umum. Puasa adalah ibadah rahasia dan paling mesra dari seorang hanya kepada Gustinya.

Lantas, kenapa kita malah menjalankan ibadah puasa dengan ingar bingar? Ugal-ugalan? Foya-foya? Kedamaian yang telah berganti dengan keberisikan, keramaian yang tak bisa terbendung—dan kita larut, hanyut, menyerah pada keadaan?

Benar apa yang dikatakan Mahfud Ikhwan, pada kenyataannya, puasa adalah saat pasar sedang ramai-ramainya, jalan raya macet total, dan mal menambah jam bukanya; para buruh bekerja lebih keras dari biasanya (bukan karena mereka menelan nasihat para dai bahwa puasa tak boleh menghalangi semangat kerja, melainkan karena mereka mesti memastikan baju Lebaran untuk anak-anaknya tidak lebih buruk dari anak tetangga, atau tiket mudik dan oleh-oleh untuk keluarga di kampung sudah tersedia bujetnya); ibu-ibu jauh lebih sibuk di dapur dari hari-hari biasa, karena mereka bukan hanya memasak lebih banyak dan lebih istimewa dibanding hari-hari biasa, tapi juga mesti memutar uang belanja lebih lihai karena semua harga bahan pokok naik.

Di bulan-bulan selain bulan Puasa, biasanya satu jenis makanan atau minuman saja sudah cukup. Akan tetapi, pada saat bulan Puasa, tampaknya saya, misalnya, telah menjadi orang yang paling kapitalistik—dan juga rakus. Akibatnya, rasa malas untuk salat Tarawih menyerang. Dengan sangat terpaksa berangkat salat Tarawih, sebab merasa tidak enak dengan yang lain. Setelah selesai Tarawih, sedikit baca Alquran (kadang malah tidak sama sekali), tentu banyak ngemilnya. Kemudian, sahur banyak-banyak biar siang kuat berpuasa. Menjelang imsak, masih sempat minum obat lambung supaya tidak terserang maag dan minum vitamin agar tidak lelah seharian.

Dan itu, jangan lupa, bukankah kita juga butuh hiburan saat puasa? Puasa  yang  identik dengan kata sabar, soleh, rajin ibadah, atau introspeksi, tampaknya juga bergandengan dengan kata berat, susah, bosan, sepi, atau hal-hal semacam itu. Itu membuat (mungkin) ada pihak yang berpikir bahwa orang berpuasa butuh ditemani, dihibur, diberi imbalan, disenangkan, dst. Dari situlah kiranya, ketika tiba puasa, penyanyi-penyanyi, atau grup band, punya tawaran lagu atau album religi baru untuk menemani dan menghibur kita.

Dan produsen sirup, kata Mahfud Ikhwan, menawarkan rasa dan kemasan botol baru; penyedia jasa internet menawarkan paket layanan baru; mal-mal menjanjikan harga diskon besar-besaran; pasta gigi halal dengan cita rasa buah entah apa dari Korea diperkenalkan; sebuah produk kopi sasetan menawarkan umrah gratis bersama seorang dai kondang yang pandai berpantun; kontes dai cilik dengan juri terdiri atas ustad-ustadah kesayangan Anda dimulai lagi; Raffi Ahmad dan Soimah punya acara komedi jelang sahur baru yang dijamin lebih lucu dan lebih seru; dan Deddy Mizwar terus memperpanjang Para Pencari Tuhan hingga season ke-16. Dan seterusnya…

Barangkali teman saya benar (jika yang dimaksud soal esensi puasa), bahwa bulan Puasa memang berubah. Dan hal di atas sebagai gambaran situasi puasa yang tampaknya sudah bergeser dari kewajiban ibadah menjadi bagian dari ritual (mungkin sudah menjadi kebiasaan) konsumsi budaya massa yang tampak kapitalistik—walaupun pada akhirnya, kita kembali pada klise tentang hidup, bahwa ini adalah tentang pilihan masing-masing. Kita bisa memilih menjalani puasa sesuai dengan apa yang kita inginkan.

***

Saya memandang sajadah yang terlipat di atas tempat tidur, menimbang, mau salat dulu apa makan dulu. Ah, hamba amatiran seperti saya kadang lebih banyak alasan daripada langsung bergegas mengerjakannya. Benar memang, selama bulan Puasa saya lebih rajin beribadah, tampak lebih sabar, kalem, setengah mati menahan hawa nafsu, belajar menjadi manusia spiritual, belajar untuk lebih dekat dengan Tuhan. Tapi, itu semua, sesungguhnya, setelah Idulfitri-lah, yang akan menjadi bukti, apakah saya hanya berpura-pura ibadah, atau memang sungguh-sungguh menjalaninya.

Oh, sial. Saya terlanjur memikirkannya. Ya, setelah sebulan penuh berpuasa, memangnya apa yang berubah dari saya? Apakah saya akan kembali rajin beribadah, masih sabaran, kalem, bisa menahan hawa nafsu, dan dekat dengan Tuhan?

Kita lihat saja. Dan itu, apakah musala atau masjid juga akan tetap ramai, tidak kembali sepi? Apakah tayangan TV dan YouTube—yang siap menghibur kita—tetap menampilkan yang islami-islami? Apakah artis-artis kita tetap akan reliji-reliji? Apakah di status Facebook atau grup-grup WhatsApp akan tetap bertebaran kata-kata mutiara, doa-doa, permohonan maaf, dan bukan kata-kata makian, ujaran kebencian, hoaks, dll?

“Celaka. Atau jangan-jangan, bulan Puasa hanya bulan penuh “akting”? Bulan Puasa bukan bulan untuk belajar “menahan”, belajar untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, tapi bulan untuk belajar melatih kepura-puraan kita?” tanya seseorang di kepala saya, bertubi-tubi.

Seorang teman mengajak saya untuk segera berbuka puasa. Dan saya kembali memandangi sajadah itu—saya pesimis. Dengan amal yang tidak sebanding dengan dosa ini, untuk mengharapkan surga tentu saya sangat tahu diri.

Saya keluar kamar, memakai sarung dan baju takwa putih, bergabung dengan teman-teman yang lebih dulu berbuka. Segera saya mengambil tiga centong nasi, menaruhnya di tengah piring, lalu setengah potong telur dadar, beberapa sendok sop, menghiasi di atasnya. Saya makan dengan lahap.

Dan setelahnya, pertanyaan-pertanyaan, renungan-renungan, kesadaran-kesadaran di atas segera lenyap dari kepala saya, seperti yang sudah-sudah—saya menguap kekenyangan, berkali-kali.[T]

Menyepi Bersama Kata-kata
Wayang, Dunia Kakek, Dunia Saya
Libur Hari Jumat
Tags: bulan puasaPuasa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kuliah Literasi SMPN 2 Sukasada: Literasi Sekolah Tak Sebatas Pojok Baca dan Membaca 15 Menit

Next Post

Peran Strategis Asuransi Kesehatan Cegah Lingkaran Kemiskinan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Peran Strategis Asuransi Kesehatan Cegah Lingkaran Kemiskinan

Peran Strategis Asuransi Kesehatan Cegah Lingkaran Kemiskinan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co