3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dilema Guru Kini: Antara Mengaplikasikan Pengetahuan atau Mentuhankan Aplikasi

IG Arta by IG Arta
February 23, 2024
in Opini
Dilema Guru Kini: Antara Mengaplikasikan Pengetahuan atau Mentuhankan Aplikasi

Ilustrasi tatkala.co

MENJADI guru, bagi sebagian orang mungkin sebuah keterpaksaan pilihan. Apalagi bagi mereka yang dengan terpaksa ikhlas menjadi guru honor. Dengan status tersebut, penghasilan mereka masih sangat  jauh dari kata mencukupi dan memenuhi standar UMK.

Namun,  profesi guru tetap menjadi primadona saat ini. Terlepas dari alasan begitu sulit menemukan pekerjaan yang layak di Indonesia, bisa jadi alasan lain karena demi sebuah status “berprofesi” di mata citizen dan netizen, dimana dengan profesi ini, pelakunya terlihat selalu mandi pagi dan berseragam rapi.

Atau, dalih untuk mencari kesibukan dengan penyesuaian background knowledge yang terlanjur dimiliki. Juga, bisa jadi karena wujud bakti ke orang tua. Bahkan, banyak pula guru yang sudah berstatus ASN atau Aparatur Sipil Negara, sejatinya memilih profesi ini sebagai pelarian saja. Ini terlihat dari passion–nya yang jauh dari standar pendidik sejati.

Terlepas dari segala alasan  tersebut diatas, menjadi guru saat ini sungguh penuh dengan tantangan dan dilema, bahkan terkadang di luar nalar sehat. Bagaimana tidak, profesi guru saat ini lebih dituntut untuk tampil maksimal di dunia maya dibandingkan di kehidupan kelas yang sesungguhya, yang merupakan habitat asli mereka seharusnya.

Guru kini lebih fokus pada pencitraan diri di aplikasi, atau media sosial, dibanding di depan anak didiknya. Guru lebih intens berkomunikasi dengan perangkat teknologi, seperti  computer, laptop, handphone, atau tablet, dibanding dengan siswa. Sungguh, definisi Guru kini telah mengalami perubahan makna. Guru, yang menurut Undang-Undang,  adalah pendidik profesional dengan  tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik, sebelumnya lebih banyak menghabiskan waktu berinteraksi dengan siswa dengan balutan proses belajar mengajar yang bertatap muka, kini dipaksa regulasi untuk lebih memuaskan nafsu aplikasi dan kroninya.

Guru dituntut untuk sempurna secara laporan dan tunduk pada aplikasi, dibanding menuntun siswa memahami sebuah konsep maupun norma.

Telah terjadi perubahan point of view terhadap indikator keberhasilan proses pembelajaran saat ini. Stakeholders di dunia pendidikan, dari level pusat sampai sekolah, memandang bahwa tingkat keberhasilan pendidikan tercermin pada prosentase upload dan download pada aplikasi sakti yang dikeluarkan oleh kementrian terkait. Bahkan, mutu pendidikan kini lebih dilihat dari data jumlah pengguna dan transaksi-interaksi di aplikasi itu, dibandingkan dengan melihat fakta di lapangan, seperti  pengetahuan siswa, ketrampilan, serta adab  mereka.

Bahkan, guru kini tidak lagi mempunyai hak prerogative dan nilai tawar untuk memberi nilai siswa sesuai fakta yang di dapat dari alat ukur yang digunakan. Banyak tekanan dan intervensi eksternal yang memaksa guru mengingkari nuraninya. Data-data yang terunggah di dunia maya,  sejatinya hanyalah adopsi dan adaptasi data untuk pemenuhan kepuasan aplikasi semata, dengan mengabaikam indikator kejujuran.

Juga, guru kini   tidak memiliki hak untuk  memberi sanksi siswa terhadap segala pelanggaran tata tertib dan etika yang terjadi di sekolah. Guru hanya diberi hak untuk memberi reward terhadap segala hal yang dilakukan siswa, baik terhadap prilaku positif maupun negatif. Padahal, konsep  pemberian reward dan punishment dalam dunia pendidikan adalah hal yang tak terpisahkan dan sebuah keniscayaan. Menurut teori behavioristik, reward diberikan oleh guru kepada siswa dengan memberikan hadiah atas hal positif yang dilakukan oleh siswa. Pemberian reward dimaksudkan untuk membentuk anak lebih giat lagi usahanya untuk bekerja dan berbuat lebih baik lagi.

Sementara, punishment  diberikan oleh guru kepada siswa karena siswa melakukan pelanggaran atau kesalahan. Punishment   sering diterapkan untuk  memberikan motivasi kepada siswa agar lebih disiplin terhadap segala peraturan yang diterapkan di sekolah.

Di samping itu, guru kini telah kehilangan kekuasaan dan wibawanya akibat intervensi kekuataan politik. Tak jarang, masyarakat biasa yang awam dunia pendidikan, memiliki akses ke penguasa atau orang berpengaruh di dunia politik,  juga ikut tampil terdepan mengatur sekolah dan guru  dengan berbagai  arogansi kepentingannya, bahkan mampu memutasi guru.

Dunia pendidikan tidak lagi murni menjadi ranah guru mendidik siswa, tetapi telah disusupi kepentingan profesi lain di luar pendidikan. Bahkan warga sekolah  telah menjadi followers yang patuh pada penguasa daerah dan kekuatan politiknya.

Tugas pokok dan fungsi guru kini tidak melulu berkutat mengurus siswa. Guru sekarang lebih sibuk beradaptasi dan memenuhi target aplikasi dan pencitraan di sosial media. Lebih banyak menghabiskan waktu untuk meng-upgrade kompetensi diri, walaupun secara semu, dibanding meningkatkan kompetensi siswanya. Guru sering menjadi abai dengan tanggungjawabnya terhadap siswa, karena tuntutan aplikasi yang tidak bisa ditunda dan diabaikan.

Guru kini lebih banyak menjalankan tugas sebagai pembelajar, dibanding sebagai pengajar. Ilmu yang telah didapat di kampus selama menjadi mahasiswa keguruan serasa tak cukup, sekalipun kini  sudah menyandang gelar Sarjana Pendidikan bahkan Master.

Guru dituntut mengikuti berbagai bentuk kegiatan peningkatan kompetensi diri atau pembelajaran, baik secara daring atau luring, seperti  workshop, seminar, pelatihan, atau coaching, dimana  kegiatan tersebut berimplikasi besar pada berkurangnya waktu, perhatian, energi, konsentrasi,  dan interaksi dengan siswa.

Sementara, organisasi guru yang menaungi guru, lebih fokus pada klaim diri atas keberhasilan organisasi memperjuangkan kesejahteraan guru melalui sertifikasi, dan lebih menyibukan diri pada iuran bulanan, daripada memperjuangkan dan berpihak pada guru menuntaskan masalah-masalah serta dilema yang terjadi di dunia pendidikan saat ini. Bahkan, sangat jarang terdengar kalau organisasi guru telah berbuat maksimal membela guru saat tersandung masalah hukum yang dialami ketika menjalankan tugasnya. Organisasi ini justru sering cuci tangan dan tak mau tahu akan situasi mengapa guru sampai pada persoalan itu. Yang lebih parah, justru ikut menyalahkan daripada melindungi dan membela anggotanya.  Sangat miris memang.

Berkaca pada latar belakang seseorang memilih profesi guru, dan problematika tuntutan aplikasi pada sistem pendidikan saat ini, serta intervensi kekuatan politik dan penguasa, berimbas pada terlantarnya hak siswa untuk mendapatkan perlakuan yang semestinya.

Guru tersudut di posisi dilematis, tanpa mampu berontak dan menampilkan jati diri seperti apa yang digariskan Undang-Undang: Fungsi guru, yaitu untuk mendidik, mengajar, membimbing, melatih, dan mengevaluasi, serta peran guru,  yaitu sebagai pendidik, guru sebagai manajer dan leader, guru sebagai fasilitator, guru sebagai administrator, guru sebagai inovator, guru sebagai motivator, guru sebagai dinamisator, guru sebagai evaluator, dan guru sebagai supervisor, kini telah tergerus dan diambilalih oleh aplikasi.

Guru benar-benar telah menjadi budak dan pemuas nafsu aplikasi. Harapan yang tersisa kini hanyalah pada hasil pemilu tahun 2024 yang baru saja selesai digelar. Semoga pemimpin Indonesia terpilih lebih memperhatikan  dan mampu menyelesaikan segala persoalan dunia pendidikan yang ada, lebih punya waktu untuk turun ke sekolah melihat dan mendengarkan langsung dari warga sekolah, daripada mendengarkan laporan bawahan yang cenderung ABS atau Asal Bapak Senang. Dan yang terpenting, dengan sungguh-sungguh mewujudnyatakan  semua janji politik yang luar biasa saat kampanye, khususnya di bidang pendidikan. [T]

Ambivalen, Surat Edaran Dirjen GTK 0559/B.B1/GT.02.00/2024  tentang Pengelolaan Kinerja Guru dan Kepala Sekolah
Nasib Guru di Persimpangan Jalan
Mendayung di antara Dua Karang: Sebuah Refleksi HUT PGRI dan Hari Guru Nasional 2023
Tags: guruPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa

Next Post

Puisi-puisi Damay Ar-Rahman | Bukan untuk Rasa Sakit

IG Arta

IG Arta

Guru. Tinggal di Kelurahan Lelateng, Negara, Jembrana

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Damay Ar-Rahman | Bukan untuk Rasa Sakit

Puisi-puisi Damay Ar-Rahman | Bukan untuk Rasa Sakit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co