23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dilema Guru Kini: Antara Mengaplikasikan Pengetahuan atau Mentuhankan Aplikasi

IG Arta by IG Arta
February 23, 2024
in Opini
Dilema Guru Kini: Antara Mengaplikasikan Pengetahuan atau Mentuhankan Aplikasi

Ilustrasi tatkala.co

MENJADI guru, bagi sebagian orang mungkin sebuah keterpaksaan pilihan. Apalagi bagi mereka yang dengan terpaksa ikhlas menjadi guru honor. Dengan status tersebut, penghasilan mereka masih sangat  jauh dari kata mencukupi dan memenuhi standar UMK.

Namun,  profesi guru tetap menjadi primadona saat ini. Terlepas dari alasan begitu sulit menemukan pekerjaan yang layak di Indonesia, bisa jadi alasan lain karena demi sebuah status “berprofesi” di mata citizen dan netizen, dimana dengan profesi ini, pelakunya terlihat selalu mandi pagi dan berseragam rapi.

Atau, dalih untuk mencari kesibukan dengan penyesuaian background knowledge yang terlanjur dimiliki. Juga, bisa jadi karena wujud bakti ke orang tua. Bahkan, banyak pula guru yang sudah berstatus ASN atau Aparatur Sipil Negara, sejatinya memilih profesi ini sebagai pelarian saja. Ini terlihat dari passion–nya yang jauh dari standar pendidik sejati.

Terlepas dari segala alasan  tersebut diatas, menjadi guru saat ini sungguh penuh dengan tantangan dan dilema, bahkan terkadang di luar nalar sehat. Bagaimana tidak, profesi guru saat ini lebih dituntut untuk tampil maksimal di dunia maya dibandingkan di kehidupan kelas yang sesungguhya, yang merupakan habitat asli mereka seharusnya.

Guru kini lebih fokus pada pencitraan diri di aplikasi, atau media sosial, dibanding di depan anak didiknya. Guru lebih intens berkomunikasi dengan perangkat teknologi, seperti  computer, laptop, handphone, atau tablet, dibanding dengan siswa. Sungguh, definisi Guru kini telah mengalami perubahan makna. Guru, yang menurut Undang-Undang,  adalah pendidik profesional dengan  tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik, sebelumnya lebih banyak menghabiskan waktu berinteraksi dengan siswa dengan balutan proses belajar mengajar yang bertatap muka, kini dipaksa regulasi untuk lebih memuaskan nafsu aplikasi dan kroninya.

Guru dituntut untuk sempurna secara laporan dan tunduk pada aplikasi, dibanding menuntun siswa memahami sebuah konsep maupun norma.

Telah terjadi perubahan point of view terhadap indikator keberhasilan proses pembelajaran saat ini. Stakeholders di dunia pendidikan, dari level pusat sampai sekolah, memandang bahwa tingkat keberhasilan pendidikan tercermin pada prosentase upload dan download pada aplikasi sakti yang dikeluarkan oleh kementrian terkait. Bahkan, mutu pendidikan kini lebih dilihat dari data jumlah pengguna dan transaksi-interaksi di aplikasi itu, dibandingkan dengan melihat fakta di lapangan, seperti  pengetahuan siswa, ketrampilan, serta adab  mereka.

Bahkan, guru kini tidak lagi mempunyai hak prerogative dan nilai tawar untuk memberi nilai siswa sesuai fakta yang di dapat dari alat ukur yang digunakan. Banyak tekanan dan intervensi eksternal yang memaksa guru mengingkari nuraninya. Data-data yang terunggah di dunia maya,  sejatinya hanyalah adopsi dan adaptasi data untuk pemenuhan kepuasan aplikasi semata, dengan mengabaikam indikator kejujuran.

Juga, guru kini   tidak memiliki hak untuk  memberi sanksi siswa terhadap segala pelanggaran tata tertib dan etika yang terjadi di sekolah. Guru hanya diberi hak untuk memberi reward terhadap segala hal yang dilakukan siswa, baik terhadap prilaku positif maupun negatif. Padahal, konsep  pemberian reward dan punishment dalam dunia pendidikan adalah hal yang tak terpisahkan dan sebuah keniscayaan. Menurut teori behavioristik, reward diberikan oleh guru kepada siswa dengan memberikan hadiah atas hal positif yang dilakukan oleh siswa. Pemberian reward dimaksudkan untuk membentuk anak lebih giat lagi usahanya untuk bekerja dan berbuat lebih baik lagi.

Sementara, punishment  diberikan oleh guru kepada siswa karena siswa melakukan pelanggaran atau kesalahan. Punishment   sering diterapkan untuk  memberikan motivasi kepada siswa agar lebih disiplin terhadap segala peraturan yang diterapkan di sekolah.

Di samping itu, guru kini telah kehilangan kekuasaan dan wibawanya akibat intervensi kekuataan politik. Tak jarang, masyarakat biasa yang awam dunia pendidikan, memiliki akses ke penguasa atau orang berpengaruh di dunia politik,  juga ikut tampil terdepan mengatur sekolah dan guru  dengan berbagai  arogansi kepentingannya, bahkan mampu memutasi guru.

Dunia pendidikan tidak lagi murni menjadi ranah guru mendidik siswa, tetapi telah disusupi kepentingan profesi lain di luar pendidikan. Bahkan warga sekolah  telah menjadi followers yang patuh pada penguasa daerah dan kekuatan politiknya.

Tugas pokok dan fungsi guru kini tidak melulu berkutat mengurus siswa. Guru sekarang lebih sibuk beradaptasi dan memenuhi target aplikasi dan pencitraan di sosial media. Lebih banyak menghabiskan waktu untuk meng-upgrade kompetensi diri, walaupun secara semu, dibanding meningkatkan kompetensi siswanya. Guru sering menjadi abai dengan tanggungjawabnya terhadap siswa, karena tuntutan aplikasi yang tidak bisa ditunda dan diabaikan.

Guru kini lebih banyak menjalankan tugas sebagai pembelajar, dibanding sebagai pengajar. Ilmu yang telah didapat di kampus selama menjadi mahasiswa keguruan serasa tak cukup, sekalipun kini  sudah menyandang gelar Sarjana Pendidikan bahkan Master.

Guru dituntut mengikuti berbagai bentuk kegiatan peningkatan kompetensi diri atau pembelajaran, baik secara daring atau luring, seperti  workshop, seminar, pelatihan, atau coaching, dimana  kegiatan tersebut berimplikasi besar pada berkurangnya waktu, perhatian, energi, konsentrasi,  dan interaksi dengan siswa.

Sementara, organisasi guru yang menaungi guru, lebih fokus pada klaim diri atas keberhasilan organisasi memperjuangkan kesejahteraan guru melalui sertifikasi, dan lebih menyibukan diri pada iuran bulanan, daripada memperjuangkan dan berpihak pada guru menuntaskan masalah-masalah serta dilema yang terjadi di dunia pendidikan saat ini. Bahkan, sangat jarang terdengar kalau organisasi guru telah berbuat maksimal membela guru saat tersandung masalah hukum yang dialami ketika menjalankan tugasnya. Organisasi ini justru sering cuci tangan dan tak mau tahu akan situasi mengapa guru sampai pada persoalan itu. Yang lebih parah, justru ikut menyalahkan daripada melindungi dan membela anggotanya.  Sangat miris memang.

Berkaca pada latar belakang seseorang memilih profesi guru, dan problematika tuntutan aplikasi pada sistem pendidikan saat ini, serta intervensi kekuatan politik dan penguasa, berimbas pada terlantarnya hak siswa untuk mendapatkan perlakuan yang semestinya.

Guru tersudut di posisi dilematis, tanpa mampu berontak dan menampilkan jati diri seperti apa yang digariskan Undang-Undang: Fungsi guru, yaitu untuk mendidik, mengajar, membimbing, melatih, dan mengevaluasi, serta peran guru,  yaitu sebagai pendidik, guru sebagai manajer dan leader, guru sebagai fasilitator, guru sebagai administrator, guru sebagai inovator, guru sebagai motivator, guru sebagai dinamisator, guru sebagai evaluator, dan guru sebagai supervisor, kini telah tergerus dan diambilalih oleh aplikasi.

Guru benar-benar telah menjadi budak dan pemuas nafsu aplikasi. Harapan yang tersisa kini hanyalah pada hasil pemilu tahun 2024 yang baru saja selesai digelar. Semoga pemimpin Indonesia terpilih lebih memperhatikan  dan mampu menyelesaikan segala persoalan dunia pendidikan yang ada, lebih punya waktu untuk turun ke sekolah melihat dan mendengarkan langsung dari warga sekolah, daripada mendengarkan laporan bawahan yang cenderung ABS atau Asal Bapak Senang. Dan yang terpenting, dengan sungguh-sungguh mewujudnyatakan  semua janji politik yang luar biasa saat kampanye, khususnya di bidang pendidikan. [T]

Ambivalen, Surat Edaran Dirjen GTK 0559/B.B1/GT.02.00/2024  tentang Pengelolaan Kinerja Guru dan Kepala Sekolah
Nasib Guru di Persimpangan Jalan
Mendayung di antara Dua Karang: Sebuah Refleksi HUT PGRI dan Hari Guru Nasional 2023
Tags: guruPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa

Next Post

Puisi-puisi Damay Ar-Rahman | Bukan untuk Rasa Sakit

IG Arta

IG Arta

Guru. Tinggal di Kelurahan Lelateng, Negara, Jembrana

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Damay Ar-Rahman | Bukan untuk Rasa Sakit

Puisi-puisi Damay Ar-Rahman | Bukan untuk Rasa Sakit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co