23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nasib Guru di Persimpangan Jalan

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
November 26, 2023
in Esai
Nasib Guru di Persimpangan Jalan

Ilustrasi diolah dari Canva

SABTU KLIWON Wuku Wayang bersamaan dengan Hari Guru Nasional, 25 November 2023, pagi-pagi saya mendapat kiriman cerita dari Gde Aryantha Soethama, berjudul “Menjadi Guru di Hari Guru’’ melalui FB. Isinya tentang keterpaksaan tokoh Trepti menjadi guru karena desakan ayahnya.

Bila mengikuti nuraninya, Trepti lebih suka berwirausaha tanpa terikat aturan birokrasi. Ingin merdeka dalam kerja. Mengatur dan menata sendiri hidupnya, dengan segala risiko.  Walaupun demikian, pada Hari Guru Nasional, Trepti berbunga-bunga hatinya mendapatkan buket bunga aneka warna, coklat aneka rasa, dan jepit rambut aneka rupa dari siswa-siswanya. Ayahnya memuji selangit, Trepti merasa salah di tempat yang benar.

 Tidak sekali ini Gde Aryantha Soethama menulis tentang guru. Beberapa cerpen, novel, dan esainya tentang guru meluber. Aryantha dominan menempatkan tokoh guru dalam posisi dilematis, seperti cerpen berjudul ”SPP” (1972), ”Ibu Guru Anakku” (2006), dan novel   “Senja di Candi Dasa”(novel terbaik Bali Post,1992).

Dalam novel tersebut,Aryantha menempatkan tokoh Nengah Diarsa berada di persimpangan jalan pariwisata, antara menjaga dan merawat idealisme keguruan yang memanggungkan  kesederhanaan penuh perhatian atau  larut dalam hingar-bingar pariwisata yang menjanjikan kesenangan serta kemewahan.

Kisahnya  diawali dengan perburuan hilangnya lukisan Bisma Gugur di rumah Bu Rangun. Bu Rangun sesungguhnya ikhlas lukisan itu hilang, tanpa pemberitaan pers yang menimbulkan  keresahan bagi Desa Kamasan yang terkenal damai tetapi guru Nengah Diarsa tidak rela lukisan maestro itu hilang tanpa bekas. Bersamaan dengan hilangnya lukisan Bisma Gugur, I Wayan Rereh anak Bu Rangun menghilang dari rumah dan dicurigai sebagai otak di balik hilangnya Bisma Gugur.

Berhadapan dengan kondisi itu, guru Nengah Diarsa membuktikan diri sebagai agen perubahan di samping agen transformasi budaya. Sebagai agen perubahan, ia berada di garda depan meluruskan kompleksitas persoalan akibat pikiran bengkok masyarakat di lingkungannya sekalipun harus berhadapan dengan keluarga sendiri.

Sebagai agen transformasi budaya, ia menjaga dan mewariskan budaya adiluhur kepada generasi berikutnya, yang dibuktikan dengan pengejaran terhadap lukisan Bisma Gugur sampai tuntas.

Walaupun Nengah Diarsa guru yang bekerja keras, ikhlas, dan tuntas, ia sempat berpaling ke dunia pariwisata karena rayuan mantan pacarnya, Putu Suwitri yang menjadi manager di Candi Dasa. Godaan uang dan wanita meluluhkan hatinya.

Dengan berat hati, Nengah Diarsa mengajukan permohonan berhenti jadi guru SMA, lalu menuruti tawaran Suwitri untuk menjadi manager Klumpu Cottage. Bekerja sebagai manager tidak membuatnya nyaman, senyaman ketika menjadi guru (Senja di Candi Dasa, 2009 : 124).

Kutipan di atas menyiratkan dilema Nengah Diarsa sebagai guru. Pertama, ia sangat mencintai profesinya sebagai guru lalu berhenti, bukan atas kehendak hatinya, melainkan karena tergoda jabatan (uang) dan wanita. Lebih-lebih gajinya sebagai guru tidak seberapa. Kata  Sularto, ”hidup sebulan… dengan gaji sehari”.

Kedua, perjalanan karier guru  Nengah Diarsa yang  ambivalen, di satu sisi mencitrakan kematangan sosial, di sisi lain menunjukkan kerapuhan emosi dan labil. Labilitas Nengah Diarsa sebagai guru akibat godaan kaum kapitalis merupakan ancaman krisis identitas dan krisis integritas, antara mengejar uang demi kebutuhan hidup dan memperjuangkan idealisme. Para ahli kebudayaan Bali menyebut sosok demikian  sosok manusia Bali di persimpangan jalan (Sujana, 1994; Coteau,Wiryatnaya, Darma Putra, 1998).

Kompleksitas persoalan guru dalam novel ini menarik diajarkan di sekolah, karena  menyajikan  interaksi dengan aneka kultur global berbasis pariwisata sebagai katalis. Sangat kontekstual dengan isu kekinian di tengah pemberlakuan Kurikulum Merdeka dalam Penguatan Profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi kebhinekaan global.

Interaksi  itu berpeluang menjadikan  guru  sebagai jembatan komunikasi untuk memuliakan perbedaan budaya sebagai aset kemajuan untuk mengantisipasi benturan peradaban pariwisata yang penuh dengan ketergesa-gesaan bersanding dengan  profesi guru yang penuh dengan kehati-hatian. Dalil “waktu adalah uang”  dalam kebudayaan Barat  berhadapan dengan “waktu adalah perhatian” dalam kebudayaan Timur.

Rumitnya persoalan yang dihadapi guru merupakan  beban berat yang harus dipikul, di satu sisi menyelamatkan kebudayaan Bali dari gerusan pariwisata yang kian masip, dan  mengantisipasi dampak ikutan negatif pariwisata di tengah arus perubahan sosial budaya, di sisi lain. Bali yang sering dilukiskan bagai gadis cantik  mulai tercabik-cabik bahkan diperas susunya lalu “diperkosa”.

“Kecantikan lukisan wayang itu adalah kecantikan Bali, yang membuat dia diuber-uber, digerogoti, disadap, dan diperas. Orang-orang dari negeri jauh datang kemari tidak hanya untuk menikmati tanah ini, tapi berniat mengurasnya habis-habisan. Kalau bisa, mereka ingin memindahkan Bali dan isinya ke mana mereka suka, agar lebih leluasa lagi mengeruk keuntungan.

Begitulah nasib keindahan yang menjadi rebutan banyak orang.”  (Senja di Candi Dasa, 2009:238).

Nasib guru mirip dengan hilangnya lukisan Gugurnya Bisma yang diandaikan sebagai gadis cantik. Ia selalu  diperlukan dipuja dan dipuji dengan Hymne Guru, lebih-lebih pada Hari Guru. Begitu halnya Bali, selalu juga dipuja dan dipuji sebagai etalase Indonesia.

Aneka pertemuan berskala dunia dihelat di sini, dengan gala dinner : eat, art, and peace.   “Seharusnya tidak ada lagi perang di zaman ini” kata Joe Biden, Presiden Amerika Serikat saat menghadiri gala dinner G-20 tahun 2022 di GWK Bali,  karena pada hakikatnya semua makhluk bersaudara. Vasudewa khutum bhakam. Damai seharusnya milik bersama  di dunia.

Begitulah selayaknya novel Senja di Candi Dasa dibaca dengan tokoh sentral guru yang tergoda gula-gula pariwisata akibat gajinya yang tidak seberapa. Apalagi dengan status guru honorer, hidup segan mati tak mau. Berharap diangkat jadi guru berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) atau PNS.

Semoga harapan itu tidak hanya menjadi slogan menjelang Pemilu, tetapi segera menjadi kenyataan sehingga guru  tidak makin stress akibat ulah siswa, Kurikulum yang berubah, dan Teknologi Informasi yang kian canggih sebagaimana disampaikan Presiden Jokowi saat Puncak Hari Guru Nasional 25 November 2023 di Jakarta.[T] 

Refleksi Hari Guru Nasional 2023: Karmayoga Seorang Guru
Mendayung di antara Dua Karang: Sebuah Refleksi HUT PGRI dan Hari Guru Nasional 2023
Tags: guruHari Guru NasionalPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menuliskan /E/ Pepet dan /E/Taleng — Tinjauan Kecil Terhadap Sejumlah Cerpen Bali Modern

Next Post

Busana dan Sasana: Catatan Tentang Pakaian Pemimpin dalam Kakawin Rāmāyaņa

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Busana dan Sasana: Catatan Tentang Pakaian Pemimpin dalam Kakawin Rāmāyaņa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co