2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nasib Guru di Persimpangan Jalan

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
November 26, 2023
in Esai
Nasib Guru di Persimpangan Jalan

Ilustrasi diolah dari Canva

SABTU KLIWON Wuku Wayang bersamaan dengan Hari Guru Nasional, 25 November 2023, pagi-pagi saya mendapat kiriman cerita dari Gde Aryantha Soethama, berjudul “Menjadi Guru di Hari Guru’’ melalui FB. Isinya tentang keterpaksaan tokoh Trepti menjadi guru karena desakan ayahnya.

Bila mengikuti nuraninya, Trepti lebih suka berwirausaha tanpa terikat aturan birokrasi. Ingin merdeka dalam kerja. Mengatur dan menata sendiri hidupnya, dengan segala risiko.  Walaupun demikian, pada Hari Guru Nasional, Trepti berbunga-bunga hatinya mendapatkan buket bunga aneka warna, coklat aneka rasa, dan jepit rambut aneka rupa dari siswa-siswanya. Ayahnya memuji selangit, Trepti merasa salah di tempat yang benar.

 Tidak sekali ini Gde Aryantha Soethama menulis tentang guru. Beberapa cerpen, novel, dan esainya tentang guru meluber. Aryantha dominan menempatkan tokoh guru dalam posisi dilematis, seperti cerpen berjudul ”SPP” (1972), ”Ibu Guru Anakku” (2006), dan novel   “Senja di Candi Dasa”(novel terbaik Bali Post,1992).

Dalam novel tersebut,Aryantha menempatkan tokoh Nengah Diarsa berada di persimpangan jalan pariwisata, antara menjaga dan merawat idealisme keguruan yang memanggungkan  kesederhanaan penuh perhatian atau  larut dalam hingar-bingar pariwisata yang menjanjikan kesenangan serta kemewahan.

Kisahnya  diawali dengan perburuan hilangnya lukisan Bisma Gugur di rumah Bu Rangun. Bu Rangun sesungguhnya ikhlas lukisan itu hilang, tanpa pemberitaan pers yang menimbulkan  keresahan bagi Desa Kamasan yang terkenal damai tetapi guru Nengah Diarsa tidak rela lukisan maestro itu hilang tanpa bekas. Bersamaan dengan hilangnya lukisan Bisma Gugur, I Wayan Rereh anak Bu Rangun menghilang dari rumah dan dicurigai sebagai otak di balik hilangnya Bisma Gugur.

Berhadapan dengan kondisi itu, guru Nengah Diarsa membuktikan diri sebagai agen perubahan di samping agen transformasi budaya. Sebagai agen perubahan, ia berada di garda depan meluruskan kompleksitas persoalan akibat pikiran bengkok masyarakat di lingkungannya sekalipun harus berhadapan dengan keluarga sendiri.

Sebagai agen transformasi budaya, ia menjaga dan mewariskan budaya adiluhur kepada generasi berikutnya, yang dibuktikan dengan pengejaran terhadap lukisan Bisma Gugur sampai tuntas.

Walaupun Nengah Diarsa guru yang bekerja keras, ikhlas, dan tuntas, ia sempat berpaling ke dunia pariwisata karena rayuan mantan pacarnya, Putu Suwitri yang menjadi manager di Candi Dasa. Godaan uang dan wanita meluluhkan hatinya.

Dengan berat hati, Nengah Diarsa mengajukan permohonan berhenti jadi guru SMA, lalu menuruti tawaran Suwitri untuk menjadi manager Klumpu Cottage. Bekerja sebagai manager tidak membuatnya nyaman, senyaman ketika menjadi guru (Senja di Candi Dasa, 2009 : 124).

Kutipan di atas menyiratkan dilema Nengah Diarsa sebagai guru. Pertama, ia sangat mencintai profesinya sebagai guru lalu berhenti, bukan atas kehendak hatinya, melainkan karena tergoda jabatan (uang) dan wanita. Lebih-lebih gajinya sebagai guru tidak seberapa. Kata  Sularto, ”hidup sebulan… dengan gaji sehari”.

Kedua, perjalanan karier guru  Nengah Diarsa yang  ambivalen, di satu sisi mencitrakan kematangan sosial, di sisi lain menunjukkan kerapuhan emosi dan labil. Labilitas Nengah Diarsa sebagai guru akibat godaan kaum kapitalis merupakan ancaman krisis identitas dan krisis integritas, antara mengejar uang demi kebutuhan hidup dan memperjuangkan idealisme. Para ahli kebudayaan Bali menyebut sosok demikian  sosok manusia Bali di persimpangan jalan (Sujana, 1994; Coteau,Wiryatnaya, Darma Putra, 1998).

Kompleksitas persoalan guru dalam novel ini menarik diajarkan di sekolah, karena  menyajikan  interaksi dengan aneka kultur global berbasis pariwisata sebagai katalis. Sangat kontekstual dengan isu kekinian di tengah pemberlakuan Kurikulum Merdeka dalam Penguatan Profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi kebhinekaan global.

Interaksi  itu berpeluang menjadikan  guru  sebagai jembatan komunikasi untuk memuliakan perbedaan budaya sebagai aset kemajuan untuk mengantisipasi benturan peradaban pariwisata yang penuh dengan ketergesa-gesaan bersanding dengan  profesi guru yang penuh dengan kehati-hatian. Dalil “waktu adalah uang”  dalam kebudayaan Barat  berhadapan dengan “waktu adalah perhatian” dalam kebudayaan Timur.

Rumitnya persoalan yang dihadapi guru merupakan  beban berat yang harus dipikul, di satu sisi menyelamatkan kebudayaan Bali dari gerusan pariwisata yang kian masip, dan  mengantisipasi dampak ikutan negatif pariwisata di tengah arus perubahan sosial budaya, di sisi lain. Bali yang sering dilukiskan bagai gadis cantik  mulai tercabik-cabik bahkan diperas susunya lalu “diperkosa”.

“Kecantikan lukisan wayang itu adalah kecantikan Bali, yang membuat dia diuber-uber, digerogoti, disadap, dan diperas. Orang-orang dari negeri jauh datang kemari tidak hanya untuk menikmati tanah ini, tapi berniat mengurasnya habis-habisan. Kalau bisa, mereka ingin memindahkan Bali dan isinya ke mana mereka suka, agar lebih leluasa lagi mengeruk keuntungan.

Begitulah nasib keindahan yang menjadi rebutan banyak orang.”  (Senja di Candi Dasa, 2009:238).

Nasib guru mirip dengan hilangnya lukisan Gugurnya Bisma yang diandaikan sebagai gadis cantik. Ia selalu  diperlukan dipuja dan dipuji dengan Hymne Guru, lebih-lebih pada Hari Guru. Begitu halnya Bali, selalu juga dipuja dan dipuji sebagai etalase Indonesia.

Aneka pertemuan berskala dunia dihelat di sini, dengan gala dinner : eat, art, and peace.   “Seharusnya tidak ada lagi perang di zaman ini” kata Joe Biden, Presiden Amerika Serikat saat menghadiri gala dinner G-20 tahun 2022 di GWK Bali,  karena pada hakikatnya semua makhluk bersaudara. Vasudewa khutum bhakam. Damai seharusnya milik bersama  di dunia.

Begitulah selayaknya novel Senja di Candi Dasa dibaca dengan tokoh sentral guru yang tergoda gula-gula pariwisata akibat gajinya yang tidak seberapa. Apalagi dengan status guru honorer, hidup segan mati tak mau. Berharap diangkat jadi guru berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) atau PNS.

Semoga harapan itu tidak hanya menjadi slogan menjelang Pemilu, tetapi segera menjadi kenyataan sehingga guru  tidak makin stress akibat ulah siswa, Kurikulum yang berubah, dan Teknologi Informasi yang kian canggih sebagaimana disampaikan Presiden Jokowi saat Puncak Hari Guru Nasional 25 November 2023 di Jakarta.[T] 

Refleksi Hari Guru Nasional 2023: Karmayoga Seorang Guru
Mendayung di antara Dua Karang: Sebuah Refleksi HUT PGRI dan Hari Guru Nasional 2023
Tags: guruHari Guru NasionalPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menuliskan /E/ Pepet dan /E/Taleng — Tinjauan Kecil Terhadap Sejumlah Cerpen Bali Modern

Next Post

Busana dan Sasana: Catatan Tentang Pakaian Pemimpin dalam Kakawin Rāmāyaņa

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Busana dan Sasana: Catatan Tentang Pakaian Pemimpin dalam Kakawin Rāmāyaņa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co