14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Busana dan Sasana: Catatan Tentang Pakaian Pemimpin dalam Kakawin Rāmāyaņa

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
November 26, 2023
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

BUSANA bukan sekadar kain pembungkus badan yang digunakan untuk menutupi kekurangan penggunanya. Melampaui fungsinya sebagai kebutuhan fisik, busana sesungguhnya menjadi komunikasi sosial yang simbolis dan sarat makna. Busana dalam konteks Bali terikat erat dengan sasana yang dipegang pemakainya.

Seorang pendeta yang memegang bajra ketika menjalankan fungsinya sebagai pengantar bakti umat menggunakan pakaian serba putih karena sedang membadankan Hyang Iswara dalam relung kesadarannya. Sementara itu, seorang raja diidentikkan berbusana hitam karena sedang membadankan Hyang Wisnu atau Harimurti dalam laku dan berbagai kebijakannya.

Penggunaan busana baik putih maupun hitam memungkinkan setiap noda menjadi kentara dengan sejelas-jelasnya. Noda setitik dalam busana itu akan memalingkan secara penuh pandangan orang kepada nodanya, meski bidang warna putih dan hitam jauh lebih lebar. Menjaga warna pakaian ini tidak berbeda dengan menjaga sasana dari penggunanya. Satu titik noktah wacana-laksana seorang pendeta dan pemimpin yang dipandang keluar dari lajurnya akan lebih dipandang tinimbang seribu pengabdian sebelumnya.

Busana dalam Kakawin Rāmāyana

Penggunaan busana bagi seorang pemimpin memang telah lama diwacanakan dalam sumber-sumber literasi masyarakat Nusantara, khususnya sastra Jawa Kuno melalui Kakawin Rāmāyaņa. Diskursus tentang busana raja muncul dalam dialog antara Rāma dengan Wibhīṣana pasca kekalahan Rawana, Raja Alengka. Wibhīṣana merasakan kesedihan yang sangat mendalam atas kematian Rawana, meskipun di sisi lain dengan kemenangan Rāma kebenaran dapat ditegakkan.

Sambil menaburkan bunga di ujung kaki kakaknya yang terkulai lemas tanpa kepala, Wibhīṣana tak henti-hentinya menyesali kematian Rawana. Hatinya hancur. Ia merasa tidak berhasil sebagai adik untuk menghalangi perang yang sudah nyata akan menyebabkan kakaknya gugur di medan laga.

Menyadari dukacita Wibhīṣana serta kehancuran sosio-ekologis yang terjadi pasca perang di Negeri Alengka, Rāma lalu melakukan rekonsiliasi politik. Wibhīṣanalah yang diangkatnya menjadi raja. Dengan mengangkat Wibhīṣana menjadi raja baru di Negeri Alengka, Rāma berharap perbaikan infrastruktur (puliḥ pahayu taṅ salĕŋka pura) dapat segera dilakukan dalam berbagai ranah kehidupan. Dengan menobatkan Wibhīṣana  sebagai Raja Alengka, Rāma juga berharap agar para raksasa yang sebelumnya berhati durhaka karena tertutup kegelapan, bisa dinasihati dengan berbagai ajaran kebenaran.

Asta Brata

Sebelum memutar roda pemerintahan di Negeri Alengka, Rāma memberikan berbagai ajaran kepemimpinan kepada Wibhīṣana. Nasihat Rāma kepada Wibhīṣana  ini salah satunya yang paling terkenal adalah Asta Brata, yaitu usaha untuk membadankan (menginstall) delapan sifat dan laku unggul dari para dewa dalam tubuh sang pemimpin. Tujuannya jelas, agar seorang pemimpin bisa menjadi Dewa Paraga, Dewa Manresti, dan Dewa Nyakala.

Kemurahatian Indra dalam berderma dikenal dengan sebutan Indrabrata. Keadilan dari Yama dalam menetapkan hukuman disebut dengan Yamabrata. Kesabaran Surya dalam memindahkan air laut menjadi hujan di darat disebut dengan Suryabrata. Keteduhan Candra dalam memberikan ketenangan dan kesenangan kepada seisi semesta disebut dengan Candrabrata.

Kerahasiaan angin disebut dengan Bayubrata. Kekuatan Baruna dewa penguasa laut untuk mengikat musuh disebut Barunabrata. Kekuatan api dalam melenyepkan musuh disebut dengan Agnibrata. Kesederhanaan dalam menikmati makanan, minuman, dan busana disebut dengan Kuwerabrata.

Kuwerabrata yang menyebutkan kesederhanaan dari seorang raja dalam menikmati makanan, minuman, dan busana ini menarik. Sebab menikmati makanan dan minuman yang serba enak serta berbusana mewah lekat dengan citra raja. Apa maksud meneladani brata Hyang Kuwera itu?

Hyang Kuwera kita ketahui merupakan Danapati atau Dewa Kekayaan. Secara material, kekayaan seseorang biasanya termanifestasi dalam wujud makanan, minuman, busana, dan perhiasan. Oleh karena itu, kita dapat tafsirkan bahwa menikmati kebahagiaan material dengan cara berlebihan bagi seorang pemimpin berpotensi membuatnya menjadi lengah terhadap berbagai ancaman. Apalagi dalam hal makanan dan minuman.

Makanan merupakan pembentuk badan fisik seseorang yang disebut dengan ana maya kosa. Dengan demikian, badan sesungguhnya adalah kumpulan sari-sari makanan. Agar badan fisik seorang pemimpin berkualitas, beberapa makanan yang dilarang sesuai arahan pustaka Nitiśāstra penting dipertimbangkan.

Karena karya sastra tersebut mengandung berbagai ajaran kepemimpinan maka makanan yang tidak direkomendasikan seperti tikus, anjing, katak, ular, ulat, dan cacing juga tidak baik dimakan oleh pemimpin. Menurut karya sastra tersebut, makanan yang baik adalah makanan yang membuat tubuh sehat (riṅ wara bhoga puṣṭiniṅ awaknya juga panĕṅĕran).

Lebih lanjut, karya sastra itu menyatakan bahwa makanan yang terbaik adalah daging (tĕkapiṅ maṅśottama ṅ uttama). Pustaka Wratiśāsana juga menguraikan sejumlah daging yang bisa dimakan oleh seorang brati yaitu babi hutan, ayam hutan, kerbau, kambing, itik, burung, badak, landak, semua jenis penyu, dan yang lainnya.

Dalam hal minuman, Kakawin Rāmayana sangat menekankan agar seorang pemimpin tidak meminum-minuman yang memabukkan secara berlebihan. Jika pemimpin sampai mabuk maka pikirannya kacau, kasar kepada teman, pamer diri, dan yang paling fatal seluruh rahasia kerajaan bisa disebarluaskan.

Interioritas Busana Raja

Terkait dengan busana, secara filosofis karya sastra yang diduga digubah oleh Mpu Yogiswara tersebut menyatakan bahwa pakaian seorang raja sejatinya adalah hal-hal berikut ini. Senantiasa mematuhi hasil musyawarah merupakan kalung permata, selalu memperhatikan keadaan masyarakat adalah cincin utama, perilaku utama dan penuh susila sebagai anting-anting, ketulusan mengabdi kepada guru merupakan kaitnya, mahkotanya adalah hilangnya pikiran yang cemar, dan seterusnya.

Itulah kemasyuran busana seorang raja (nahan subhaga bhūṣaṇānta prabhu) yang tidak memberati, tidak bisa dicuri oleh penjahat, dan apabila dijaga dengan baik maka ‘busana’ itu juga menjaga yang mengenakannya. Seorang pemimpin yang sudah berbusanakan hal-hal tersebut, dengan nada yang satir pengarang Kakawin Rāmayana menyebutkan bahwa perhiasan berupa emas hanya digunakan di domain balai sidang saja.

Lebih lanjut, Kakawin Rāmayana menegaskan bahwa istana seorang raja itu sejatinya adalah laku yang tiada henti menguasahakan kesejahteraan rakyat di seluruh negeri (umahta ng ulah amahaywang jagat), pikiran yang teguh adalah balai-balainya yang kuat (si tancala lana palangkapagĕh), sikap yang cekatan adalah tiangnya yang kukuh (syūpekṣaka sakanya yakas dahat), dan kasih sayang adalah sendinya (si karūņika na ta watwan nika).

Sopan santun dan rasa iba adalah menyelamatkan jiwa rakyat adalah ruangannya (Salӧnya sumatā si maître waneh). Sementara itu, keikhlasan mengayomi negara adalah permadani atau tikarnya (parārtha paramārtha pattharaņa). Melangkapi itu, budi luhur adalah bida yang berbentuk naga, tempat bagi sang raja menjadi peneduh yang mengayomi masyarakatnya (subuddhi ya ta biddha nāge ruhur, pangӧban nira sang umĕbing jagat).

Itulah eksterioritas dan interioritas istana seorang pemimpin sejati. Sejauh mana busana dan istana raja itu kita bisa lihat dalam figur-figur pemimpin kita saat ini? Jangan-jangan sebagian di antara mereka sibuk pencitraan dan menghegemoni berbagai kegiatan dengan warna dan lambang partai. Kita catat saja dulu, pada bilik suara nanti kita tentukan sikap kita.[T]

  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Tags: balikakawinlontarRamayana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nasib Guru di Persimpangan Jalan

Next Post

Meresapi Kedamaian dari Pura Bukit Mentik di Punggung Gunung Batur

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Meresapi Kedamaian dari Pura Bukit Mentik di Punggung Gunung Batur

Meresapi Kedamaian dari Pura Bukit Mentik di Punggung Gunung Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co