2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Busana dan Sasana: Catatan Tentang Pakaian Pemimpin dalam Kakawin Rāmāyaņa

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
November 26, 2023
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

BUSANA bukan sekadar kain pembungkus badan yang digunakan untuk menutupi kekurangan penggunanya. Melampaui fungsinya sebagai kebutuhan fisik, busana sesungguhnya menjadi komunikasi sosial yang simbolis dan sarat makna. Busana dalam konteks Bali terikat erat dengan sasana yang dipegang pemakainya.

Seorang pendeta yang memegang bajra ketika menjalankan fungsinya sebagai pengantar bakti umat menggunakan pakaian serba putih karena sedang membadankan Hyang Iswara dalam relung kesadarannya. Sementara itu, seorang raja diidentikkan berbusana hitam karena sedang membadankan Hyang Wisnu atau Harimurti dalam laku dan berbagai kebijakannya.

Penggunaan busana baik putih maupun hitam memungkinkan setiap noda menjadi kentara dengan sejelas-jelasnya. Noda setitik dalam busana itu akan memalingkan secara penuh pandangan orang kepada nodanya, meski bidang warna putih dan hitam jauh lebih lebar. Menjaga warna pakaian ini tidak berbeda dengan menjaga sasana dari penggunanya. Satu titik noktah wacana-laksana seorang pendeta dan pemimpin yang dipandang keluar dari lajurnya akan lebih dipandang tinimbang seribu pengabdian sebelumnya.

Busana dalam Kakawin Rāmāyana

Penggunaan busana bagi seorang pemimpin memang telah lama diwacanakan dalam sumber-sumber literasi masyarakat Nusantara, khususnya sastra Jawa Kuno melalui Kakawin Rāmāyaņa. Diskursus tentang busana raja muncul dalam dialog antara Rāma dengan Wibhīṣana pasca kekalahan Rawana, Raja Alengka. Wibhīṣana merasakan kesedihan yang sangat mendalam atas kematian Rawana, meskipun di sisi lain dengan kemenangan Rāma kebenaran dapat ditegakkan.

Sambil menaburkan bunga di ujung kaki kakaknya yang terkulai lemas tanpa kepala, Wibhīṣana tak henti-hentinya menyesali kematian Rawana. Hatinya hancur. Ia merasa tidak berhasil sebagai adik untuk menghalangi perang yang sudah nyata akan menyebabkan kakaknya gugur di medan laga.

Menyadari dukacita Wibhīṣana serta kehancuran sosio-ekologis yang terjadi pasca perang di Negeri Alengka, Rāma lalu melakukan rekonsiliasi politik. Wibhīṣanalah yang diangkatnya menjadi raja. Dengan mengangkat Wibhīṣana menjadi raja baru di Negeri Alengka, Rāma berharap perbaikan infrastruktur (puliḥ pahayu taṅ salĕŋka pura) dapat segera dilakukan dalam berbagai ranah kehidupan. Dengan menobatkan Wibhīṣana  sebagai Raja Alengka, Rāma juga berharap agar para raksasa yang sebelumnya berhati durhaka karena tertutup kegelapan, bisa dinasihati dengan berbagai ajaran kebenaran.

Asta Brata

Sebelum memutar roda pemerintahan di Negeri Alengka, Rāma memberikan berbagai ajaran kepemimpinan kepada Wibhīṣana. Nasihat Rāma kepada Wibhīṣana  ini salah satunya yang paling terkenal adalah Asta Brata, yaitu usaha untuk membadankan (menginstall) delapan sifat dan laku unggul dari para dewa dalam tubuh sang pemimpin. Tujuannya jelas, agar seorang pemimpin bisa menjadi Dewa Paraga, Dewa Manresti, dan Dewa Nyakala.

Kemurahatian Indra dalam berderma dikenal dengan sebutan Indrabrata. Keadilan dari Yama dalam menetapkan hukuman disebut dengan Yamabrata. Kesabaran Surya dalam memindahkan air laut menjadi hujan di darat disebut dengan Suryabrata. Keteduhan Candra dalam memberikan ketenangan dan kesenangan kepada seisi semesta disebut dengan Candrabrata.

Kerahasiaan angin disebut dengan Bayubrata. Kekuatan Baruna dewa penguasa laut untuk mengikat musuh disebut Barunabrata. Kekuatan api dalam melenyepkan musuh disebut dengan Agnibrata. Kesederhanaan dalam menikmati makanan, minuman, dan busana disebut dengan Kuwerabrata.

Kuwerabrata yang menyebutkan kesederhanaan dari seorang raja dalam menikmati makanan, minuman, dan busana ini menarik. Sebab menikmati makanan dan minuman yang serba enak serta berbusana mewah lekat dengan citra raja. Apa maksud meneladani brata Hyang Kuwera itu?

Hyang Kuwera kita ketahui merupakan Danapati atau Dewa Kekayaan. Secara material, kekayaan seseorang biasanya termanifestasi dalam wujud makanan, minuman, busana, dan perhiasan. Oleh karena itu, kita dapat tafsirkan bahwa menikmati kebahagiaan material dengan cara berlebihan bagi seorang pemimpin berpotensi membuatnya menjadi lengah terhadap berbagai ancaman. Apalagi dalam hal makanan dan minuman.

Makanan merupakan pembentuk badan fisik seseorang yang disebut dengan ana maya kosa. Dengan demikian, badan sesungguhnya adalah kumpulan sari-sari makanan. Agar badan fisik seorang pemimpin berkualitas, beberapa makanan yang dilarang sesuai arahan pustaka Nitiśāstra penting dipertimbangkan.

Karena karya sastra tersebut mengandung berbagai ajaran kepemimpinan maka makanan yang tidak direkomendasikan seperti tikus, anjing, katak, ular, ulat, dan cacing juga tidak baik dimakan oleh pemimpin. Menurut karya sastra tersebut, makanan yang baik adalah makanan yang membuat tubuh sehat (riṅ wara bhoga puṣṭiniṅ awaknya juga panĕṅĕran).

Lebih lanjut, karya sastra itu menyatakan bahwa makanan yang terbaik adalah daging (tĕkapiṅ maṅśottama ṅ uttama). Pustaka Wratiśāsana juga menguraikan sejumlah daging yang bisa dimakan oleh seorang brati yaitu babi hutan, ayam hutan, kerbau, kambing, itik, burung, badak, landak, semua jenis penyu, dan yang lainnya.

Dalam hal minuman, Kakawin Rāmayana sangat menekankan agar seorang pemimpin tidak meminum-minuman yang memabukkan secara berlebihan. Jika pemimpin sampai mabuk maka pikirannya kacau, kasar kepada teman, pamer diri, dan yang paling fatal seluruh rahasia kerajaan bisa disebarluaskan.

Interioritas Busana Raja

Terkait dengan busana, secara filosofis karya sastra yang diduga digubah oleh Mpu Yogiswara tersebut menyatakan bahwa pakaian seorang raja sejatinya adalah hal-hal berikut ini. Senantiasa mematuhi hasil musyawarah merupakan kalung permata, selalu memperhatikan keadaan masyarakat adalah cincin utama, perilaku utama dan penuh susila sebagai anting-anting, ketulusan mengabdi kepada guru merupakan kaitnya, mahkotanya adalah hilangnya pikiran yang cemar, dan seterusnya.

Itulah kemasyuran busana seorang raja (nahan subhaga bhūṣaṇānta prabhu) yang tidak memberati, tidak bisa dicuri oleh penjahat, dan apabila dijaga dengan baik maka ‘busana’ itu juga menjaga yang mengenakannya. Seorang pemimpin yang sudah berbusanakan hal-hal tersebut, dengan nada yang satir pengarang Kakawin Rāmayana menyebutkan bahwa perhiasan berupa emas hanya digunakan di domain balai sidang saja.

Lebih lanjut, Kakawin Rāmayana menegaskan bahwa istana seorang raja itu sejatinya adalah laku yang tiada henti menguasahakan kesejahteraan rakyat di seluruh negeri (umahta ng ulah amahaywang jagat), pikiran yang teguh adalah balai-balainya yang kuat (si tancala lana palangkapagĕh), sikap yang cekatan adalah tiangnya yang kukuh (syūpekṣaka sakanya yakas dahat), dan kasih sayang adalah sendinya (si karūņika na ta watwan nika).

Sopan santun dan rasa iba adalah menyelamatkan jiwa rakyat adalah ruangannya (Salӧnya sumatā si maître waneh). Sementara itu, keikhlasan mengayomi negara adalah permadani atau tikarnya (parārtha paramārtha pattharaņa). Melangkapi itu, budi luhur adalah bida yang berbentuk naga, tempat bagi sang raja menjadi peneduh yang mengayomi masyarakatnya (subuddhi ya ta biddha nāge ruhur, pangӧban nira sang umĕbing jagat).

Itulah eksterioritas dan interioritas istana seorang pemimpin sejati. Sejauh mana busana dan istana raja itu kita bisa lihat dalam figur-figur pemimpin kita saat ini? Jangan-jangan sebagian di antara mereka sibuk pencitraan dan menghegemoni berbagai kegiatan dengan warna dan lambang partai. Kita catat saja dulu, pada bilik suara nanti kita tentukan sikap kita.[T]

  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Tags: balikakawinlontarRamayana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nasib Guru di Persimpangan Jalan

Next Post

Meresapi Kedamaian dari Pura Bukit Mentik di Punggung Gunung Batur

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Meresapi Kedamaian dari Pura Bukit Mentik di Punggung Gunung Batur

Meresapi Kedamaian dari Pura Bukit Mentik di Punggung Gunung Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co