2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Psikoterapi dengan Kecerdasan Buatan: Sejauh Apa Kecerdasan Buatan akan Menggantikan Manusia?

Krisna Aji by Krisna Aji
December 11, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

DISKURSUS mengenai kecerdasan buatan yang akan menggantikan peran manusia sudah ada sejak lama. Seperti pada tahun 1950 dengan munculnya novel imajinasi sains berjudul “I, Robot” karya Isaac Asimov, atau pada konferensi Dartmouht di tahun 1956 yang menandai mulai maraknya penelitian di bidang kecerdasan buatan di mana potensi dan risiko dari kecerdasan buatan sudah mulai hangat diperbincangkan.

Kecerdasan buatan memperlihatkan hasil yang relatif nyata di periode 1990 hingga saat ini. Di saat tulisan ini dibuat, kecerdasan buatan sudah dapat dipakai oleh masyarakat umum untuk mengolah dan menyimpulkan informasi yang diperlukan. Contohnya, untuk membantu seseorang dalam belajar. Hal tersebut sempat saya alami dan membuat saya kaget: sudah sejauh ini perkembangannya!

Pada waktu itu–belum ada seminggu dari tulisan ini dibuat–saya mengajari salah satu residen psikiatri (dokter yang sedang menjalani pendidikan spesialis psikiatri) di Rumah Sakit Universitas Udayana mengenai salah satu jenis psikoterapi yang bernama Cognitive Behavioral Therapy (CBT).

Psikoterapi ini spesifik menyasar kesalahan logika yang terjadi pada seseorang yang mengalami masalah mental. Tidak hanya menjelaskan tentang dasar filosofi dari psikoterapi ini, saat itu saya juga mengajarkan berbagai teknik untuk mematahkan logika pasien yang salah dengan berdasar pada tipe kesalahan logika tersebut.

Teknik itu saya ajarkan dengan menggunakan salah satu kasus nyata yang ditemui oleh residen tersebut. Saya menjabarkan simulasi dialog antara psikiater dan pasien dengan menggunakan contoh kalimat dari kedua belah pihak. Makna dan tujuan dari kalimat yang dilontarkan kedua belah pihak juga saya jelaskan dengan detail.

Sehari setelahnya, residen itu bertemu dengan saya lagi dan mengatakan bahwa semalam ia menanyakan hal yang sama kepada kecerdasan buatan bernama Chat GPT. Ia menggunakan prompts (petunjuk sebagai garis besar) kepada kecerdasan buatan dengan simulasi kasus dan pertanyaan yang sama persis seperti yang diajukan pada saya.

Hasilnya? Kecerdasan buatan dapat menjawab dengan paparan yang sangat mirip dengan yang saya jelaskan, lengkap dengan simulasi dialog dan makna dari kalimat yang dilontarkan oleh psikiater dan pasien!

Lalu, di mana ngerinya?

Psikoterapi CBT adalah teknik yang sukar untuk dipelajari, bahkan oleh residen di tahap madya. Jika sudah memahami teknik, seseorang perlu jam terbang tinggi untuk mengasah keahlian dalam memberi umpan balik terhadap semua pernyataan pasien yang sangat tak tertebak. Jam terbang tersebut bisa digantikan oleh kecerdasan buatan dalam waktu singkat.

Saat perkembangannya sudah jauh lebih maju, kecerdasan buatan sangat mungkin untuk menghadirkan visual manusia buatan di layar gawai yang dapat menggantikan peran psikiater. Visual manusia buatan tentu akan mengubah kalimat berbentuk tulisan menjadi lisan saat berdialog dengan manusia yang membutuhkan psikoterapi ini. Mesin itu akan menggantikan profesional seperti mesin pintal yang mendisrupsi pekerjaan manusia di era revolusi industri.

Kecerdasan buatan sudah berkembang sejauh itu. Perkembangannya pun berpola eksponensial dan akan semakin menyerupai kognitif manusia. Karena, kecerdasan buatan selalu belajar dari penggunanya dan manusia adalah satu – satunya pengguna mesin ini.

Cara pandang pesimistis terhadap perkembangan teknologi ini memiliki dampak yang luas. Seperti ketakutan akan banyaknya pengangguran akibat otomatisasi dan efisiensi produksi. Psikoterapi CBT yang memiliki kerumitan yang tinggi saja bisa digantikan oleh kecerdasan buatan, apa lagi hal lain yang lebih remeh?

Dampak lain yang mungkin akan terjadi adalah kecerdasan buatan dapat melampaui kontrol manusia dan menjadi ancaman eksistensial bagi manusia yang menciptakannya.

Walaupun demikian, kecerdasan buatan masih memiliki kelemahan yang membedakannya dengan manusia. Kelemahan itu adalah ketiadaan kecerdasan emosional. Contoh ketiadaan kecerdasan emosional dari kecerdasan buatan juga sempat saya rasakan saat diskusi psikoterapi dengan residen itu berlanjut.

Setelah terpukau dengan kemampuan kecerdasan buatan dalam melakukan Psikoterapi CBT, saya mengajak residen tersebut untuk menantang kecerdasan buatan untuk melakukan Psikoterapi Psikodinamik.

Psikoterapi Psikodinamik adalah psikoterapi yang fokus menyasar alam bawah sadar seseorang yang bermasalah. Psikoterapi ini adalah pengembangan dari Psikoterapi Psikoanalisa yang dipaparkan oleh Freud dan post–Freud.

Secara garis besar, tesis awal dari psikoterapi ini adalah adanya trauma masa lalu yang tertekan dari alam sadar ke alam bawah sadar. Trauma yang tertanam di alam bawah sadar tersebut memunculkan pikiran, perasaan, dan tindakan maladaptif yang tidak bisa dijelaskan secara logika.

Contoh dari hal ini adalah kalimat “Saya sudah tahu bahwa hal itu tidak logis untuk membuat cemas tetapi saya tetap cemas” yang disampaikan pasien saat logika pasien yang salah sudah berhasil dipatahkan dengan Psikoterapi CBT.

Sebelum berdiskusi lebih jauh mengenai Psikoterapi Psikodinamik, saya terlebih dahulu meminta residen tersebut untuk duduk di kursi pasien dan bermain psikoterapi dengan saya sebagai psikiaternya. Tentu saja konsep dan teknis dasar dari psikoterapi ini sudah dikuasai oleh residen. Tetapi, ia tidak pernah melihat proses psikoterapi ini berlangsung, apa lagi duduk di kursi pasien.

Tujuan dari menempatkan residen di kursi pasien adalah agar ia dapat merasakan dan mengalami sendiri berbagai teknik Psikoterapi Psikodinamik yang mengguyurnya. Dengan cara mengalami sendiri, maka pemahaman saat melakukan teknik ini sebagai psikiater pun akan lebih baik. Seperti seorang koki yang perlu bisa merasakan rasa masakan terlebih dahulu sebelum menghidangkannya ke orang lain.

Tidak seperti CBT yang fokus pada kognitif sehingga pertukaran informasi dapat diwakilkan oleh kalimat tertulis, Psikodinamik sangatlah berbeda. Psikoterapi ini sangat bergantung pada gestur, ekspresi, kesalahan bicara yang tidak disengaja—biasa disebut dengan Freudian Slip, posisi tubuh yang tidak disadari, nada, volume suara, dan banyak hal yang tidak dapat diwakilkan oleh kalimat eksplisif. Psikoterapi ini benar-benar memerlukan kehadiran komponen manusia sebagai psikoterapis yang menilai pasien sebagai manusia seutuhnya.

Setelah sepakat mengenai apa dan bagaimana Psikoterapi Psikodinamik, kami melakukan tes yang sama kepada kecerdasan buatan: memberikan prompts (petunjuk sebagai garis besar) kepada kecerdasan buatan dengan kasus yang serupa dengan kasus Psikoterapi CBT sebelumnya.

Bagaimana hasilnya? Jawaban dari kecerdasan buatan tidak secemerlang sebelumnya. Kecerdasan buatan hanya menjawab teori-teori secara garis besar seperti yang sering dijelaskan di buku manual.

Saat diminta untuk lebih detail dalam menjabarkan contoh dialog antara psikiater-pasien, mesin itu hanya menjawab dengan berputar-putar dan tidak sampai ke inti pertanyaan. Sama seperti mahasiswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan dosen, atau bahkan dosen yang menjawab berputar-putar saat tidak bisa menjawab pertanyaan mahasiswanya. Tindakan yang secara mental dilakukan untuk menyelamatkan rasa malu. Tapi, yang sedang kita bicarakan saat ini adalah mesin yang katanya tidak punya malu. Ya, kan?

Baik. Kembali ke topik. Kita sedang membicarakan mesin bernama kecerdasan buatan. Bukan manusia yang menyelamatkan malu.

Kecerdasan buatan ternyata belum bisa menjamah Psikoterapi Psikodinamik yang kaya materi-materi alam bawah sadar yang benar-benar abstrak. Algoritmanya benar-benar berbeda dengan simulasi kognitif yang kuantitatif. Psikoterapi Psikodinamik memerlukan pendekatan hermeneutika, yaitu bagaimana manusia memahami manusia lainnya yang mengalami fenomena yang terjadi.

Contohnya begini. Saya mencoba memahami anda yang sedang jatuh cinta atau benci kepada seseorang. Dalam konteks ini, perasaan yang muncul pada anda adalah pengalaman subjektif yang benar-benar milik anda dan tidak bisa diwakilkan oleh siapa pun.

Dalam era awal pengembangan teori hermenuetika, memang pernah ditawarkan konsep hermeneutika romantis oleh Schleiermaher di mana ia mengatakan bahwa seseorang bisa merasakan pengalaman orang lain sepenuhnya; saya bisa sepenuhnya merasakan cinta atau  benci yang Anda alami.

Tetapi, hal itu tidaklah mungkin karena semakin saya mencoba untuk merasakan pengalaman Anda, sebenarnya saya hanya berkubang pada pengalaman pribadi saya dan memaksakan delusi pemahaman ini kepada Anda.

Kekurangan teori tersebut selanjutnya dibenahi oleh Dilthey melalui hemerneutik metodologis. Hermeneutik metodologis adalah cara yang dilakukan dengan melihat tanda dan gejala dari orang lain yang sedang mengalami fenomenanya, lalu melemparkan argumentasi mengenai apa yang dirasakan orang lain tersebut.

Orang yang melihat tanda dan gejala dari orang lain tersebut tentu memerlukan kemampuan manusia seutuhnya dalam mengalami sesuatu pula. Orang tersebut perlu berkesadaran. Orang yang mengalami fenomena yang pada akhirnya menjadi hakim, apakah argumentasi terhadap pengalaman subjektif tersebut benar atau salah.

Contoh lebih mudah: saya melihat tanda dan gejala dari Anda yang sepertinya sedang jatuh cinta atau benci kepada seseorang lalu membuat argumentasi mengenai apa yang terjadi pada Anda. Tentu saja dengan menggunakan perabaan awal di mana seandainya saya adalah anda—dan tindakan ini memerlukan kesadaran.

Pada akhirnya, kebenaran dari argumentasi saya mengenai pengalaman yang terjadi pada Anda tergantung pada Anda. Apakah Anda setuju dengan argumentasi saya atau tidak. Cara ini lebih objektif dan cukup terhindar dari penghakiman yang semena-mena kepada orang lain. Dan ini adalah cara yang dipakai psikiater saat berkomunikasi dalam Psikoterapi Psikodinamik.

Dengan segala keunggulannya, kecerdasan buatan tampaknya belum bisa menjamah area hermeneutika tersebut. Alasan dari hal ini adalah karena diperlukannya kesadaran untuk memunculkan konsep hermeneutika. Kecerdasan buatan sebagai mesin sepertinya belum memiliki komponen itu.

Tapi, apakah mungkin suatu saat kecerdasan buatan akan memiliki kesadaran? Saya pun belum bisa memperkirakan. Yang bisa saya perkirakan, jika pada akhirnya kecerdasan buatan memiliki kesadaran, saat itulah manusia benar-benar tergantikan oleh mesin buatannya.

NB: Jangan-jangan, tulisan ini juga dibuat oleh kecerdasan buatan?[T]

Desember, 2024

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Pikiran Salah terhadap Depresi
Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Masa Depan Perasaan Manusia
Tags: AIChat GPTCognitive Behavioral Therapykecerdasan buatanPsikologiPsikoterapi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendengar Lantunan Gending-Gending Sanghyang Dedari Desa Rejasa, Tabanan, yang Sakral dan Magis

Next Post

GenRe Badung Awards Vol II 2024: Ajang Apresiasi yang Bermakna bagi Remaja Badung

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
GenRe Badung Awards Vol II 2024: Ajang Apresiasi yang Bermakna bagi Remaja Badung

GenRe Badung Awards Vol II 2024: Ajang Apresiasi yang Bermakna bagi Remaja Badung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co