24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Psikoterapi dengan Kecerdasan Buatan: Sejauh Apa Kecerdasan Buatan akan Menggantikan Manusia?

Krisna Aji by Krisna Aji
December 11, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

DISKURSUS mengenai kecerdasan buatan yang akan menggantikan peran manusia sudah ada sejak lama. Seperti pada tahun 1950 dengan munculnya novel imajinasi sains berjudul “I, Robot” karya Isaac Asimov, atau pada konferensi Dartmouht di tahun 1956 yang menandai mulai maraknya penelitian di bidang kecerdasan buatan di mana potensi dan risiko dari kecerdasan buatan sudah mulai hangat diperbincangkan.

Kecerdasan buatan memperlihatkan hasil yang relatif nyata di periode 1990 hingga saat ini. Di saat tulisan ini dibuat, kecerdasan buatan sudah dapat dipakai oleh masyarakat umum untuk mengolah dan menyimpulkan informasi yang diperlukan. Contohnya, untuk membantu seseorang dalam belajar. Hal tersebut sempat saya alami dan membuat saya kaget: sudah sejauh ini perkembangannya!

Pada waktu itu–belum ada seminggu dari tulisan ini dibuat–saya mengajari salah satu residen psikiatri (dokter yang sedang menjalani pendidikan spesialis psikiatri) di Rumah Sakit Universitas Udayana mengenai salah satu jenis psikoterapi yang bernama Cognitive Behavioral Therapy (CBT).

Psikoterapi ini spesifik menyasar kesalahan logika yang terjadi pada seseorang yang mengalami masalah mental. Tidak hanya menjelaskan tentang dasar filosofi dari psikoterapi ini, saat itu saya juga mengajarkan berbagai teknik untuk mematahkan logika pasien yang salah dengan berdasar pada tipe kesalahan logika tersebut.

Teknik itu saya ajarkan dengan menggunakan salah satu kasus nyata yang ditemui oleh residen tersebut. Saya menjabarkan simulasi dialog antara psikiater dan pasien dengan menggunakan contoh kalimat dari kedua belah pihak. Makna dan tujuan dari kalimat yang dilontarkan kedua belah pihak juga saya jelaskan dengan detail.

Sehari setelahnya, residen itu bertemu dengan saya lagi dan mengatakan bahwa semalam ia menanyakan hal yang sama kepada kecerdasan buatan bernama Chat GPT. Ia menggunakan prompts (petunjuk sebagai garis besar) kepada kecerdasan buatan dengan simulasi kasus dan pertanyaan yang sama persis seperti yang diajukan pada saya.

Hasilnya? Kecerdasan buatan dapat menjawab dengan paparan yang sangat mirip dengan yang saya jelaskan, lengkap dengan simulasi dialog dan makna dari kalimat yang dilontarkan oleh psikiater dan pasien!

Lalu, di mana ngerinya?

Psikoterapi CBT adalah teknik yang sukar untuk dipelajari, bahkan oleh residen di tahap madya. Jika sudah memahami teknik, seseorang perlu jam terbang tinggi untuk mengasah keahlian dalam memberi umpan balik terhadap semua pernyataan pasien yang sangat tak tertebak. Jam terbang tersebut bisa digantikan oleh kecerdasan buatan dalam waktu singkat.

Saat perkembangannya sudah jauh lebih maju, kecerdasan buatan sangat mungkin untuk menghadirkan visual manusia buatan di layar gawai yang dapat menggantikan peran psikiater. Visual manusia buatan tentu akan mengubah kalimat berbentuk tulisan menjadi lisan saat berdialog dengan manusia yang membutuhkan psikoterapi ini. Mesin itu akan menggantikan profesional seperti mesin pintal yang mendisrupsi pekerjaan manusia di era revolusi industri.

Kecerdasan buatan sudah berkembang sejauh itu. Perkembangannya pun berpola eksponensial dan akan semakin menyerupai kognitif manusia. Karena, kecerdasan buatan selalu belajar dari penggunanya dan manusia adalah satu – satunya pengguna mesin ini.

Cara pandang pesimistis terhadap perkembangan teknologi ini memiliki dampak yang luas. Seperti ketakutan akan banyaknya pengangguran akibat otomatisasi dan efisiensi produksi. Psikoterapi CBT yang memiliki kerumitan yang tinggi saja bisa digantikan oleh kecerdasan buatan, apa lagi hal lain yang lebih remeh?

Dampak lain yang mungkin akan terjadi adalah kecerdasan buatan dapat melampaui kontrol manusia dan menjadi ancaman eksistensial bagi manusia yang menciptakannya.

Walaupun demikian, kecerdasan buatan masih memiliki kelemahan yang membedakannya dengan manusia. Kelemahan itu adalah ketiadaan kecerdasan emosional. Contoh ketiadaan kecerdasan emosional dari kecerdasan buatan juga sempat saya rasakan saat diskusi psikoterapi dengan residen itu berlanjut.

Setelah terpukau dengan kemampuan kecerdasan buatan dalam melakukan Psikoterapi CBT, saya mengajak residen tersebut untuk menantang kecerdasan buatan untuk melakukan Psikoterapi Psikodinamik.

Psikoterapi Psikodinamik adalah psikoterapi yang fokus menyasar alam bawah sadar seseorang yang bermasalah. Psikoterapi ini adalah pengembangan dari Psikoterapi Psikoanalisa yang dipaparkan oleh Freud dan post–Freud.

Secara garis besar, tesis awal dari psikoterapi ini adalah adanya trauma masa lalu yang tertekan dari alam sadar ke alam bawah sadar. Trauma yang tertanam di alam bawah sadar tersebut memunculkan pikiran, perasaan, dan tindakan maladaptif yang tidak bisa dijelaskan secara logika.

Contoh dari hal ini adalah kalimat “Saya sudah tahu bahwa hal itu tidak logis untuk membuat cemas tetapi saya tetap cemas” yang disampaikan pasien saat logika pasien yang salah sudah berhasil dipatahkan dengan Psikoterapi CBT.

Sebelum berdiskusi lebih jauh mengenai Psikoterapi Psikodinamik, saya terlebih dahulu meminta residen tersebut untuk duduk di kursi pasien dan bermain psikoterapi dengan saya sebagai psikiaternya. Tentu saja konsep dan teknis dasar dari psikoterapi ini sudah dikuasai oleh residen. Tetapi, ia tidak pernah melihat proses psikoterapi ini berlangsung, apa lagi duduk di kursi pasien.

Tujuan dari menempatkan residen di kursi pasien adalah agar ia dapat merasakan dan mengalami sendiri berbagai teknik Psikoterapi Psikodinamik yang mengguyurnya. Dengan cara mengalami sendiri, maka pemahaman saat melakukan teknik ini sebagai psikiater pun akan lebih baik. Seperti seorang koki yang perlu bisa merasakan rasa masakan terlebih dahulu sebelum menghidangkannya ke orang lain.

Tidak seperti CBT yang fokus pada kognitif sehingga pertukaran informasi dapat diwakilkan oleh kalimat tertulis, Psikodinamik sangatlah berbeda. Psikoterapi ini sangat bergantung pada gestur, ekspresi, kesalahan bicara yang tidak disengaja—biasa disebut dengan Freudian Slip, posisi tubuh yang tidak disadari, nada, volume suara, dan banyak hal yang tidak dapat diwakilkan oleh kalimat eksplisif. Psikoterapi ini benar-benar memerlukan kehadiran komponen manusia sebagai psikoterapis yang menilai pasien sebagai manusia seutuhnya.

Setelah sepakat mengenai apa dan bagaimana Psikoterapi Psikodinamik, kami melakukan tes yang sama kepada kecerdasan buatan: memberikan prompts (petunjuk sebagai garis besar) kepada kecerdasan buatan dengan kasus yang serupa dengan kasus Psikoterapi CBT sebelumnya.

Bagaimana hasilnya? Jawaban dari kecerdasan buatan tidak secemerlang sebelumnya. Kecerdasan buatan hanya menjawab teori-teori secara garis besar seperti yang sering dijelaskan di buku manual.

Saat diminta untuk lebih detail dalam menjabarkan contoh dialog antara psikiater-pasien, mesin itu hanya menjawab dengan berputar-putar dan tidak sampai ke inti pertanyaan. Sama seperti mahasiswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan dosen, atau bahkan dosen yang menjawab berputar-putar saat tidak bisa menjawab pertanyaan mahasiswanya. Tindakan yang secara mental dilakukan untuk menyelamatkan rasa malu. Tapi, yang sedang kita bicarakan saat ini adalah mesin yang katanya tidak punya malu. Ya, kan?

Baik. Kembali ke topik. Kita sedang membicarakan mesin bernama kecerdasan buatan. Bukan manusia yang menyelamatkan malu.

Kecerdasan buatan ternyata belum bisa menjamah Psikoterapi Psikodinamik yang kaya materi-materi alam bawah sadar yang benar-benar abstrak. Algoritmanya benar-benar berbeda dengan simulasi kognitif yang kuantitatif. Psikoterapi Psikodinamik memerlukan pendekatan hermeneutika, yaitu bagaimana manusia memahami manusia lainnya yang mengalami fenomena yang terjadi.

Contohnya begini. Saya mencoba memahami anda yang sedang jatuh cinta atau benci kepada seseorang. Dalam konteks ini, perasaan yang muncul pada anda adalah pengalaman subjektif yang benar-benar milik anda dan tidak bisa diwakilkan oleh siapa pun.

Dalam era awal pengembangan teori hermenuetika, memang pernah ditawarkan konsep hermeneutika romantis oleh Schleiermaher di mana ia mengatakan bahwa seseorang bisa merasakan pengalaman orang lain sepenuhnya; saya bisa sepenuhnya merasakan cinta atau  benci yang Anda alami.

Tetapi, hal itu tidaklah mungkin karena semakin saya mencoba untuk merasakan pengalaman Anda, sebenarnya saya hanya berkubang pada pengalaman pribadi saya dan memaksakan delusi pemahaman ini kepada Anda.

Kekurangan teori tersebut selanjutnya dibenahi oleh Dilthey melalui hemerneutik metodologis. Hermeneutik metodologis adalah cara yang dilakukan dengan melihat tanda dan gejala dari orang lain yang sedang mengalami fenomenanya, lalu melemparkan argumentasi mengenai apa yang dirasakan orang lain tersebut.

Orang yang melihat tanda dan gejala dari orang lain tersebut tentu memerlukan kemampuan manusia seutuhnya dalam mengalami sesuatu pula. Orang tersebut perlu berkesadaran. Orang yang mengalami fenomena yang pada akhirnya menjadi hakim, apakah argumentasi terhadap pengalaman subjektif tersebut benar atau salah.

Contoh lebih mudah: saya melihat tanda dan gejala dari Anda yang sepertinya sedang jatuh cinta atau benci kepada seseorang lalu membuat argumentasi mengenai apa yang terjadi pada Anda. Tentu saja dengan menggunakan perabaan awal di mana seandainya saya adalah anda—dan tindakan ini memerlukan kesadaran.

Pada akhirnya, kebenaran dari argumentasi saya mengenai pengalaman yang terjadi pada Anda tergantung pada Anda. Apakah Anda setuju dengan argumentasi saya atau tidak. Cara ini lebih objektif dan cukup terhindar dari penghakiman yang semena-mena kepada orang lain. Dan ini adalah cara yang dipakai psikiater saat berkomunikasi dalam Psikoterapi Psikodinamik.

Dengan segala keunggulannya, kecerdasan buatan tampaknya belum bisa menjamah area hermeneutika tersebut. Alasan dari hal ini adalah karena diperlukannya kesadaran untuk memunculkan konsep hermeneutika. Kecerdasan buatan sebagai mesin sepertinya belum memiliki komponen itu.

Tapi, apakah mungkin suatu saat kecerdasan buatan akan memiliki kesadaran? Saya pun belum bisa memperkirakan. Yang bisa saya perkirakan, jika pada akhirnya kecerdasan buatan memiliki kesadaran, saat itulah manusia benar-benar tergantikan oleh mesin buatannya.

NB: Jangan-jangan, tulisan ini juga dibuat oleh kecerdasan buatan?[T]

Desember, 2024

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Pikiran Salah terhadap Depresi
Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Masa Depan Perasaan Manusia
Tags: AIChat GPTCognitive Behavioral Therapykecerdasan buatanPsikologiPsikoterapi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendengar Lantunan Gending-Gending Sanghyang Dedari Desa Rejasa, Tabanan, yang Sakral dan Magis

Next Post

GenRe Badung Awards Vol II 2024: Ajang Apresiasi yang Bermakna bagi Remaja Badung

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
GenRe Badung Awards Vol II 2024: Ajang Apresiasi yang Bermakna bagi Remaja Badung

GenRe Badung Awards Vol II 2024: Ajang Apresiasi yang Bermakna bagi Remaja Badung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co