12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Psikoterapi dengan Kecerdasan Buatan: Sejauh Apa Kecerdasan Buatan akan Menggantikan Manusia?

Krisna Aji by Krisna Aji
December 11, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

DISKURSUS mengenai kecerdasan buatan yang akan menggantikan peran manusia sudah ada sejak lama. Seperti pada tahun 1950 dengan munculnya novel imajinasi sains berjudul “I, Robot” karya Isaac Asimov, atau pada konferensi Dartmouht di tahun 1956 yang menandai mulai maraknya penelitian di bidang kecerdasan buatan di mana potensi dan risiko dari kecerdasan buatan sudah mulai hangat diperbincangkan.

Kecerdasan buatan memperlihatkan hasil yang relatif nyata di periode 1990 hingga saat ini. Di saat tulisan ini dibuat, kecerdasan buatan sudah dapat dipakai oleh masyarakat umum untuk mengolah dan menyimpulkan informasi yang diperlukan. Contohnya, untuk membantu seseorang dalam belajar. Hal tersebut sempat saya alami dan membuat saya kaget: sudah sejauh ini perkembangannya!

Pada waktu itu–belum ada seminggu dari tulisan ini dibuat–saya mengajari salah satu residen psikiatri (dokter yang sedang menjalani pendidikan spesialis psikiatri) di Rumah Sakit Universitas Udayana mengenai salah satu jenis psikoterapi yang bernama Cognitive Behavioral Therapy (CBT).

Psikoterapi ini spesifik menyasar kesalahan logika yang terjadi pada seseorang yang mengalami masalah mental. Tidak hanya menjelaskan tentang dasar filosofi dari psikoterapi ini, saat itu saya juga mengajarkan berbagai teknik untuk mematahkan logika pasien yang salah dengan berdasar pada tipe kesalahan logika tersebut.

Teknik itu saya ajarkan dengan menggunakan salah satu kasus nyata yang ditemui oleh residen tersebut. Saya menjabarkan simulasi dialog antara psikiater dan pasien dengan menggunakan contoh kalimat dari kedua belah pihak. Makna dan tujuan dari kalimat yang dilontarkan kedua belah pihak juga saya jelaskan dengan detail.

Sehari setelahnya, residen itu bertemu dengan saya lagi dan mengatakan bahwa semalam ia menanyakan hal yang sama kepada kecerdasan buatan bernama Chat GPT. Ia menggunakan prompts (petunjuk sebagai garis besar) kepada kecerdasan buatan dengan simulasi kasus dan pertanyaan yang sama persis seperti yang diajukan pada saya.

Hasilnya? Kecerdasan buatan dapat menjawab dengan paparan yang sangat mirip dengan yang saya jelaskan, lengkap dengan simulasi dialog dan makna dari kalimat yang dilontarkan oleh psikiater dan pasien!

Lalu, di mana ngerinya?

Psikoterapi CBT adalah teknik yang sukar untuk dipelajari, bahkan oleh residen di tahap madya. Jika sudah memahami teknik, seseorang perlu jam terbang tinggi untuk mengasah keahlian dalam memberi umpan balik terhadap semua pernyataan pasien yang sangat tak tertebak. Jam terbang tersebut bisa digantikan oleh kecerdasan buatan dalam waktu singkat.

Saat perkembangannya sudah jauh lebih maju, kecerdasan buatan sangat mungkin untuk menghadirkan visual manusia buatan di layar gawai yang dapat menggantikan peran psikiater. Visual manusia buatan tentu akan mengubah kalimat berbentuk tulisan menjadi lisan saat berdialog dengan manusia yang membutuhkan psikoterapi ini. Mesin itu akan menggantikan profesional seperti mesin pintal yang mendisrupsi pekerjaan manusia di era revolusi industri.

Kecerdasan buatan sudah berkembang sejauh itu. Perkembangannya pun berpola eksponensial dan akan semakin menyerupai kognitif manusia. Karena, kecerdasan buatan selalu belajar dari penggunanya dan manusia adalah satu – satunya pengguna mesin ini.

Cara pandang pesimistis terhadap perkembangan teknologi ini memiliki dampak yang luas. Seperti ketakutan akan banyaknya pengangguran akibat otomatisasi dan efisiensi produksi. Psikoterapi CBT yang memiliki kerumitan yang tinggi saja bisa digantikan oleh kecerdasan buatan, apa lagi hal lain yang lebih remeh?

Dampak lain yang mungkin akan terjadi adalah kecerdasan buatan dapat melampaui kontrol manusia dan menjadi ancaman eksistensial bagi manusia yang menciptakannya.

Walaupun demikian, kecerdasan buatan masih memiliki kelemahan yang membedakannya dengan manusia. Kelemahan itu adalah ketiadaan kecerdasan emosional. Contoh ketiadaan kecerdasan emosional dari kecerdasan buatan juga sempat saya rasakan saat diskusi psikoterapi dengan residen itu berlanjut.

Setelah terpukau dengan kemampuan kecerdasan buatan dalam melakukan Psikoterapi CBT, saya mengajak residen tersebut untuk menantang kecerdasan buatan untuk melakukan Psikoterapi Psikodinamik.

Psikoterapi Psikodinamik adalah psikoterapi yang fokus menyasar alam bawah sadar seseorang yang bermasalah. Psikoterapi ini adalah pengembangan dari Psikoterapi Psikoanalisa yang dipaparkan oleh Freud dan post–Freud.

Secara garis besar, tesis awal dari psikoterapi ini adalah adanya trauma masa lalu yang tertekan dari alam sadar ke alam bawah sadar. Trauma yang tertanam di alam bawah sadar tersebut memunculkan pikiran, perasaan, dan tindakan maladaptif yang tidak bisa dijelaskan secara logika.

Contoh dari hal ini adalah kalimat “Saya sudah tahu bahwa hal itu tidak logis untuk membuat cemas tetapi saya tetap cemas” yang disampaikan pasien saat logika pasien yang salah sudah berhasil dipatahkan dengan Psikoterapi CBT.

Sebelum berdiskusi lebih jauh mengenai Psikoterapi Psikodinamik, saya terlebih dahulu meminta residen tersebut untuk duduk di kursi pasien dan bermain psikoterapi dengan saya sebagai psikiaternya. Tentu saja konsep dan teknis dasar dari psikoterapi ini sudah dikuasai oleh residen. Tetapi, ia tidak pernah melihat proses psikoterapi ini berlangsung, apa lagi duduk di kursi pasien.

Tujuan dari menempatkan residen di kursi pasien adalah agar ia dapat merasakan dan mengalami sendiri berbagai teknik Psikoterapi Psikodinamik yang mengguyurnya. Dengan cara mengalami sendiri, maka pemahaman saat melakukan teknik ini sebagai psikiater pun akan lebih baik. Seperti seorang koki yang perlu bisa merasakan rasa masakan terlebih dahulu sebelum menghidangkannya ke orang lain.

Tidak seperti CBT yang fokus pada kognitif sehingga pertukaran informasi dapat diwakilkan oleh kalimat tertulis, Psikodinamik sangatlah berbeda. Psikoterapi ini sangat bergantung pada gestur, ekspresi, kesalahan bicara yang tidak disengaja—biasa disebut dengan Freudian Slip, posisi tubuh yang tidak disadari, nada, volume suara, dan banyak hal yang tidak dapat diwakilkan oleh kalimat eksplisif. Psikoterapi ini benar-benar memerlukan kehadiran komponen manusia sebagai psikoterapis yang menilai pasien sebagai manusia seutuhnya.

Setelah sepakat mengenai apa dan bagaimana Psikoterapi Psikodinamik, kami melakukan tes yang sama kepada kecerdasan buatan: memberikan prompts (petunjuk sebagai garis besar) kepada kecerdasan buatan dengan kasus yang serupa dengan kasus Psikoterapi CBT sebelumnya.

Bagaimana hasilnya? Jawaban dari kecerdasan buatan tidak secemerlang sebelumnya. Kecerdasan buatan hanya menjawab teori-teori secara garis besar seperti yang sering dijelaskan di buku manual.

Saat diminta untuk lebih detail dalam menjabarkan contoh dialog antara psikiater-pasien, mesin itu hanya menjawab dengan berputar-putar dan tidak sampai ke inti pertanyaan. Sama seperti mahasiswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan dosen, atau bahkan dosen yang menjawab berputar-putar saat tidak bisa menjawab pertanyaan mahasiswanya. Tindakan yang secara mental dilakukan untuk menyelamatkan rasa malu. Tapi, yang sedang kita bicarakan saat ini adalah mesin yang katanya tidak punya malu. Ya, kan?

Baik. Kembali ke topik. Kita sedang membicarakan mesin bernama kecerdasan buatan. Bukan manusia yang menyelamatkan malu.

Kecerdasan buatan ternyata belum bisa menjamah Psikoterapi Psikodinamik yang kaya materi-materi alam bawah sadar yang benar-benar abstrak. Algoritmanya benar-benar berbeda dengan simulasi kognitif yang kuantitatif. Psikoterapi Psikodinamik memerlukan pendekatan hermeneutika, yaitu bagaimana manusia memahami manusia lainnya yang mengalami fenomena yang terjadi.

Contohnya begini. Saya mencoba memahami anda yang sedang jatuh cinta atau benci kepada seseorang. Dalam konteks ini, perasaan yang muncul pada anda adalah pengalaman subjektif yang benar-benar milik anda dan tidak bisa diwakilkan oleh siapa pun.

Dalam era awal pengembangan teori hermenuetika, memang pernah ditawarkan konsep hermeneutika romantis oleh Schleiermaher di mana ia mengatakan bahwa seseorang bisa merasakan pengalaman orang lain sepenuhnya; saya bisa sepenuhnya merasakan cinta atau  benci yang Anda alami.

Tetapi, hal itu tidaklah mungkin karena semakin saya mencoba untuk merasakan pengalaman Anda, sebenarnya saya hanya berkubang pada pengalaman pribadi saya dan memaksakan delusi pemahaman ini kepada Anda.

Kekurangan teori tersebut selanjutnya dibenahi oleh Dilthey melalui hemerneutik metodologis. Hermeneutik metodologis adalah cara yang dilakukan dengan melihat tanda dan gejala dari orang lain yang sedang mengalami fenomenanya, lalu melemparkan argumentasi mengenai apa yang dirasakan orang lain tersebut.

Orang yang melihat tanda dan gejala dari orang lain tersebut tentu memerlukan kemampuan manusia seutuhnya dalam mengalami sesuatu pula. Orang tersebut perlu berkesadaran. Orang yang mengalami fenomena yang pada akhirnya menjadi hakim, apakah argumentasi terhadap pengalaman subjektif tersebut benar atau salah.

Contoh lebih mudah: saya melihat tanda dan gejala dari Anda yang sepertinya sedang jatuh cinta atau benci kepada seseorang lalu membuat argumentasi mengenai apa yang terjadi pada Anda. Tentu saja dengan menggunakan perabaan awal di mana seandainya saya adalah anda—dan tindakan ini memerlukan kesadaran.

Pada akhirnya, kebenaran dari argumentasi saya mengenai pengalaman yang terjadi pada Anda tergantung pada Anda. Apakah Anda setuju dengan argumentasi saya atau tidak. Cara ini lebih objektif dan cukup terhindar dari penghakiman yang semena-mena kepada orang lain. Dan ini adalah cara yang dipakai psikiater saat berkomunikasi dalam Psikoterapi Psikodinamik.

Dengan segala keunggulannya, kecerdasan buatan tampaknya belum bisa menjamah area hermeneutika tersebut. Alasan dari hal ini adalah karena diperlukannya kesadaran untuk memunculkan konsep hermeneutika. Kecerdasan buatan sebagai mesin sepertinya belum memiliki komponen itu.

Tapi, apakah mungkin suatu saat kecerdasan buatan akan memiliki kesadaran? Saya pun belum bisa memperkirakan. Yang bisa saya perkirakan, jika pada akhirnya kecerdasan buatan memiliki kesadaran, saat itulah manusia benar-benar tergantikan oleh mesin buatannya.

NB: Jangan-jangan, tulisan ini juga dibuat oleh kecerdasan buatan?[T]

Desember, 2024

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Pikiran Salah terhadap Depresi
Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Masa Depan Perasaan Manusia
Tags: AIChat GPTCognitive Behavioral Therapykecerdasan buatanPsikologiPsikoterapi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendengar Lantunan Gending-Gending Sanghyang Dedari Desa Rejasa, Tabanan, yang Sakral dan Magis

Next Post

GenRe Badung Awards Vol II 2024: Ajang Apresiasi yang Bermakna bagi Remaja Badung

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
GenRe Badung Awards Vol II 2024: Ajang Apresiasi yang Bermakna bagi Remaja Badung

GenRe Badung Awards Vol II 2024: Ajang Apresiasi yang Bermakna bagi Remaja Badung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co