27 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bermain dengan Jin Tengah Malam

Chusmeru by Chusmeru
May 7, 2026
in Fiksi
Meninggal Seperti Pepes Ikan

Chusmeru

MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda Rayana berusia lima tahun. Masih duduk di taman kanak-kanak. Anak lelaki kesayangan yang mereka panggil Kanda itu mempunyai cerita panjang saat hadir di bumi.

Kehadiran Kanda penuh dengan penantian panjang. Tiga tahun setelah menikah, Krisna Malika dan Riana Dewanti belum juga punya momongan. Riana Dewanti sempat periksa dan konsultasi ke dokter kandungan. Hasilnya, dokter mengatakan tidak ada masalah dengan rahim Riana. Krisna Malika pun periksa ke dokter. Kesimpulannya, Krisna tidak bermasalah secara medis.

Dokter hanya menyarankan Krisna dan Riana untuk bersabar, sambil mengurangi aktivitas yang menyita banyak waktu dan tenaga. Itu yang sulit mereka lakukan. Krisna bekerja di sebuah perusahaan desain interior yang kadang bekerja hingga larut malam. Riana pun bekerja di perusahaan farmasi yang mengharuskannya melakukan kerja ke luar kota berhari-hari.

Tiga tahun mereka bersabar. Menunggu kehamilan Riana. Berbagai upaya pun dilakukan Riana dan Krisna. Setiap hari mereka mengkonsumsi makanan yang meningkatkan kesuburan. Hampir tiap hari mereka menyantap makanan yang kaya antioksidan. Sayur, ikan laut, dan buah-buahan yang mengandung lemak baik mereka makan setiap hari.

Hingga tiba saat yang menggembirakan bagi Krisna dan Riana. Dokter kandungan menyatakan Riana positif mengandung. Tentu saja mereka bersuka cita. Kesabaran mereka membuahkan hasil. Mereka akan menjadi seorang ayah dan ibu. Hari-hari mereka akan diwarnai canda bersama buah hati kesayangan.

Selama mengandung Riana menjaga betul kesehatan dirinya dan bayi yang dikandungnya. Riana selalu mengkonsumsi makanan yang kaya nutrisi, sayuran, dan buah-buahan. Tak lupa ia juga makan kecambah atau tauge yang sudah dimasak. Ia percaya tauge sangat baik untuk kesehatannya dan bayinya.

Hampir setiap hari Krisna menegelus perut Riana. Sesekali Krisna juga berbicara kepada bayi yang dikandung lewat perut Riana. Mereka berharap bayi itu akan lahir menjadi anak yang sehat dan cerdas.

Harapan Krisna dan Riana terkabul. Setelah lebih dari sembilan bulan berada di dalam kandungan, bayi itu lahir. Laki-laki. Ganteng dan sehat. Rasa gembira tak terbendung di hati Krisna dan Riana. Mereka kini menjadi seorang ayah dan ibu bagi anak laki-laki.

***

Arkanda Rayana, begitu Krisna dan Riana memberi nama pada anak mereka. Kini Kanda, nama panggilan anak mereka, telah menginjak usia lima tahun. Kanda tengah ceria bermain di taman kanak-kanak. Kanda tumbuh dan berkembang sebagai anak yang lincah. Meski kadang Krisna dan Riana menjumpai Kanda sedang duduk diam sendirian di kamar. Pernah pula Riana mendapati Kanda sedang bercakap sendirian di sudut kamar.

“Sedang bicara dengan siapa, Kanda?” tanya Riana suatu saat.

“Ini, Ma. Kanda lagi main sama teman Kanda,” jawab Kanda sambil menunjuk ke tembok.

Riana hanya tersenyum. Ia pikir anak-anak seusia Kanda memang kadang berhalusinasi dan berimajinasi berbicara kepada orang lain. Karenanya Riana tak menganggap serius jawaban Kanda. Anak itu terus memainkan barang-barang permainannya sambil berbicara ke tembok.

Bukan hanya Riana, suaminya pun pernah menjumpai Kanda sedang tertawa sendiri sambil memegang mainan mobil-mobilan. Krisna mengamati sekeliling ruangan. Ia tidak melihat orang lain atau sesuatu yang lucu.

“Kanda tertawa kenapa?” tanya Krisna kepada anaknya.

“Itu lho, Pa… teman Kanda lucu, ngajak balapan mobil-mobilan,” jawab Kanda sambil menunjuk ke arah depan.

Krisna melihat ke arah yang ditunjuk anaknya. Tidak terlihat siapa pun atau apa pun. Seperti halnya istrinya, Krisna pun hanya tersenyum. Ia menduga anaknya sedang berfantasi bermain mobil-mobilan dengan orang lain. Krisna membiarkan Kanda terus bermain sambil tertawa.

Malam hari di rumah, Krisna dan Riana masih mengerjakan tugas-tugas kantor yang belum sempat mereka selesaikan. Keduanya fokus pada laptop masing-masing. Menjelang pukul sepuluh malam, mereka mendengar suara Kanda sedang bernyanyi di luar, di halaman rumah. Krisna dan Riana terkejut. Bukankah seharusnya Kanda sudah tidur di kamarnya?

Perlahan Krisna dan Riana menuju pintu rumah. Ada perasaan tidak enak pada diri mereka. Sedikit merinding, agak takut juga. Mengapa anak mereka masih bermain di halaman rumah malam hari? Dengan siapa Kanda bermain dan bernyanyi?

Pintu dibuka Krisna dengan pelan. Riana mengamati dari belakang. Mereka terkejut. Tampak Kanda sedang bernyanyi dan menari di halaman rumah. Tangan Kanda bergerak-gerak seolah sedang menggenggam seseorang. Krisna dan Riana saling pandang, takut dan merinding melihat anak mereka berulah seperti itu di malam hari. Bergegas mereka menghampiri Kanda.

“Kanda sedang apa malam-malam di luar rumah?” tanya Krisna sambil memeluk Kanda.

“Ini, Pa.. Kanda sedang bermain bersama teman-teman,” jawab Kanda seraya menunjuk ke sekeliling.

Seketika berhembus angin sepoi di halaman rumah. Pepohonan bergerak perlahan. Krisna dan Riana merasakan hawa dingin yang tidak biasa di pekarangan rumah mereka. Sekujur tubuh mereka mendadak merinding saat tercium bau wangi bedak bayi di sekitar tempat Kanda bermain.

“Ayo masuk ke rumah, Kanda. Sudah larut malam,” kata Krisna sambil membopong Kanda masuk ke dalam rumah.

Kanda sempat hendak berontak. Ketika diajak duduk di ruang tamu, Kanda masih menunjukkan wajah ngambeknya.

“Kenapa Papa menyuruh Kanda masuk? Kanda kan sedang bermain bersama teman-teman” tanya Kanda protes.

“Mereka bukan teman Kanda. Mereka itu jin,” jawab Krisna dengan nada cemas.

“Jin itu apa, Pa?” tanya Kanda tak mengerti maksud ayahya.

Krisna tak segera menjawab. Ia memandang istrinya. Riana pun terdiam. Mereka hanya saling memberi isyarat agar tak lagi membahas soal jin itu. Mereka menyadari Kanda belum paham tentang makhluk jin. Waktu dan kegiatannya hanyalah bermain. Walau ia tidak memahami bahwa teman bermainnya adalah jin, bukan manusia biasa.

***

Tanah di luar masih tampak basah. Hujan seharian membuat malam terasa cukup dingin. Krisna dan Riana bersiap untuk berangkat tidur. Krisna memastikan semua pintu rumahnya telah terkunci. Riana menengok ke kamar Kanda. Anak laki-laki yang tampan dan lucu itu telah tidur lelap. Krisna dan Riana pun masuk kamar.

Saat Krisna dan Riana tertidur pulas, mereka dikejutkan dengan suara keras Kanda yang berada di halaman rumah. Mereka terbangun sambil melihat jam dinding yang menunjukkan angka sebelas. Krisna terkejut. Riana ketakutan, merinding sambil mengatupkan kedua tangannya di lengan. Krisna merasa yakin telah mengunci semua pintu. Riana juga sudah memastikan Kanda tidur di kamarnya. Lantas mengapa Kanda berada di halaman rumah tengah malam?

Dengan berjingkat-jingkat Krisna dan Riana berjalan menuju pintu depan. Masih terkunci dari dalam. Semua jendela juga tertutup rapat. Bagaimana mungkin Kanda dapat keluar rumah? Bulu kuduk Krisna mulai berdiri. Sementara di luar rumah terdengar suara tawa Kanda. Dibukanya gorden penutup jendela depan rumah. Mereka terkejut. Kanda berlarian kian-kemari sambil tertawa.

“Kanda…!!!” teriak Riana sambil berlari menjemput anaknya di halaman rumah.

Kanda tampak seperti kebingungan. Krisna menuntun Kanda untuk menuju kembali ke dalam rumah. Tercium bau wangi daun pandan saat Kanda meninggalkan halaman rumah. Setelah itu terdengar suara riuh anak-anak, tapi tak tampak dalam pandangan Krisna dan Riana. Malam yang dingin menambah suasana semakin menyeramkan. Riana pucat ketakutan. Krisna merinding, namun juga kesal dan marah pada makhluk gaib yang selalu mengajak anaknya bermain di malam hari.

Beberapa kejadian yang dialami Kanda membuat Krisna berinisiatif mengundang guru mengaji buat Kanda. Selain untuk mengajarkan membaca kitab suci bagi Kanda sejak dini, juga untuk kegiatan Kanda di malam hari. Krisna dan Riana juga berharap, dengan kegiatan mengaji di rumah, Kanda akan terhindar dari gangguan jin yang selalu mengajak bermain di tengah malam.

Tidak sulit bagi Kanda untuk belajar mengaji. Dengan cepat ia memahami apa yang diajarkan oleh guru mengajinya. Krisna dan Riana sedikit lega. Anak kesayangan mereka punya kesibukan di malam hari.

“Kenapa anak saya sering diajak bermain oleh jin di tengah malam ya, Pak. Apa anak saya indigo?” tanya Krisna kepada guru mengaji Kanda.

“Kanda anak yang baik, Pak Krisna. Sebenarnya Kanda bukan indigo, tapi dia memiliki kemampuan melihat dan berkomunikasi dengan makhluk gaib,” kata guru mengaji.

“Sampai kapan Kanda akan menjadi seperti itu, Pak?” tanya Krisna.

“Bisa diikhtiarkan untuk melemahkan kemampuannya, dan menjauhkan Kanda dari gangguan jin,” jawab guru mengaji Kanda.

“Bagaimana caranya, Pak?” tanya Krisna sedikit bersemangat mendengar jawaban guru mengaji anaknya.

“Saran saya, Bapak Krisna dan Ibu Riana berpuasa sunah Senin-Kamis selama tujuh bulan, serta puasa pada hari lahir dan pasaran Kanda. Dengan niat semoga Kanda dijauhkan dari gangguan jin,” jelas guru mengaji.

Krisna dan Riana memahami dan mennyetujui saran guru mengaji anak mereka. Kanda masih kanak-kanak. Fisik dan psikisnya masih sangat rentan terhadap godaan makhluk halus. Melakukan puasa sunah seperti saran guru mengaji Kanda adalah saran yang bersifat spiritual dan transendental.

Tujuh bulan mereka menjalankan puasa sunah itu. Kanda tak lagi diganggu jin. Ia tak lagi keluar rumah di malam hari. Kanda kini menjadi anak yang kalem. Bahkan ia kini memiliki kegemaran baru, menggambar apa saja yang ia sukai di buku gambar. Hingga, suatu ketika Krisna dan Riana menghampiri Kanda yang sedang asyik menggambar.

“Sedang menggambar apa, Kanda?” tanya Krisna.

“Ini, Pa. Kanda menggambar teman-teman Kanda yang dulu sering mengajak bermain,” jawab Kanda sambil menunjukkan hasil gambarnya.

Krisna Malika dan Riana Dewanti terkejut sekaligus merinding. Kanda menggambar sosok misterius yang wajahnya sangat mengerikan. Ada gambar anak kecil yang bertaring. Ada pula gambar sosok tinggi besar dengan sorot mata tajam.

Kanda memang sudah tidak lagi bermain dengan mereka tengah malam. Namun rupanya ia menyimpan kenangan bersama jin yang pernah berteman dengannya. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

Next Post

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

by Salman Alade
May 24, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

by Chusmeru
May 22, 2026
0
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  'Piercing the Corporate Veil' dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 
Tualang

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng
Khas

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

by I Wayan Artika
May 27, 2026
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja
Khas

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
Orang Bali Tetaplah Orang Bali
Esai

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar...

by Angga Wijaya
May 26, 2026
Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur
Bahasa

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

DI warung kopi, seminar budaya, sampai brosur perumahan mewah, istilah adiluhung makin sering berseliweran. Istilah ini mirip stempel sakti. Apa...

by I Made Sudiana
May 26, 2026
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
Buzzer Rakyat
Esai

Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

by Hartanto
May 25, 2026
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah
Tualang

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

by Chusmeru
May 25, 2026
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh
Panggung

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

by Made Chandra
May 25, 2026
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co