MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda Rayana berusia lima tahun. Masih duduk di taman kanak-kanak. Anak lelaki kesayangan yang mereka panggil Kanda itu mempunyai cerita panjang saat hadir di bumi.
Kehadiran Kanda penuh dengan penantian panjang. Tiga tahun setelah menikah, Krisna Malika dan Riana Dewanti belum juga punya momongan. Riana Dewanti sempat periksa dan konsultasi ke dokter kandungan. Hasilnya, dokter mengatakan tidak ada masalah dengan rahim Riana. Krisna Malika pun periksa ke dokter. Kesimpulannya, Krisna tidak bermasalah secara medis.
Dokter hanya menyarankan Krisna dan Riana untuk bersabar, sambil mengurangi aktivitas yang menyita banyak waktu dan tenaga. Itu yang sulit mereka lakukan. Krisna bekerja di sebuah perusahaan desain interior yang kadang bekerja hingga larut malam. Riana pun bekerja di perusahaan farmasi yang mengharuskannya melakukan kerja ke luar kota berhari-hari.
Tiga tahun mereka bersabar. Menunggu kehamilan Riana. Berbagai upaya pun dilakukan Riana dan Krisna. Setiap hari mereka mengkonsumsi makanan yang meningkatkan kesuburan. Hampir tiap hari mereka menyantap makanan yang kaya antioksidan. Sayur, ikan laut, dan buah-buahan yang mengandung lemak baik mereka makan setiap hari.
Hingga tiba saat yang menggembirakan bagi Krisna dan Riana. Dokter kandungan menyatakan Riana positif mengandung. Tentu saja mereka bersuka cita. Kesabaran mereka membuahkan hasil. Mereka akan menjadi seorang ayah dan ibu. Hari-hari mereka akan diwarnai canda bersama buah hati kesayangan.
Selama mengandung Riana menjaga betul kesehatan dirinya dan bayi yang dikandungnya. Riana selalu mengkonsumsi makanan yang kaya nutrisi, sayuran, dan buah-buahan. Tak lupa ia juga makan kecambah atau tauge yang sudah dimasak. Ia percaya tauge sangat baik untuk kesehatannya dan bayinya.
Hampir setiap hari Krisna menegelus perut Riana. Sesekali Krisna juga berbicara kepada bayi yang dikandung lewat perut Riana. Mereka berharap bayi itu akan lahir menjadi anak yang sehat dan cerdas.
Harapan Krisna dan Riana terkabul. Setelah lebih dari sembilan bulan berada di dalam kandungan, bayi itu lahir. Laki-laki. Ganteng dan sehat. Rasa gembira tak terbendung di hati Krisna dan Riana. Mereka kini menjadi seorang ayah dan ibu bagi anak laki-laki.
***
Arkanda Rayana, begitu Krisna dan Riana memberi nama pada anak mereka. Kini Kanda, nama panggilan anak mereka, telah menginjak usia lima tahun. Kanda tengah ceria bermain di taman kanak-kanak. Kanda tumbuh dan berkembang sebagai anak yang lincah. Meski kadang Krisna dan Riana menjumpai Kanda sedang duduk diam sendirian di kamar. Pernah pula Riana mendapati Kanda sedang bercakap sendirian di sudut kamar.
“Sedang bicara dengan siapa, Kanda?” tanya Riana suatu saat.
“Ini, Ma. Kanda lagi main sama teman Kanda,” jawab Kanda sambil menunjuk ke tembok.
Riana hanya tersenyum. Ia pikir anak-anak seusia Kanda memang kadang berhalusinasi dan berimajinasi berbicara kepada orang lain. Karenanya Riana tak menganggap serius jawaban Kanda. Anak itu terus memainkan barang-barang permainannya sambil berbicara ke tembok.
Bukan hanya Riana, suaminya pun pernah menjumpai Kanda sedang tertawa sendiri sambil memegang mainan mobil-mobilan. Krisna mengamati sekeliling ruangan. Ia tidak melihat orang lain atau sesuatu yang lucu.
“Kanda tertawa kenapa?” tanya Krisna kepada anaknya.
“Itu lho, Pa… teman Kanda lucu, ngajak balapan mobil-mobilan,” jawab Kanda sambil menunjuk ke arah depan.
Krisna melihat ke arah yang ditunjuk anaknya. Tidak terlihat siapa pun atau apa pun. Seperti halnya istrinya, Krisna pun hanya tersenyum. Ia menduga anaknya sedang berfantasi bermain mobil-mobilan dengan orang lain. Krisna membiarkan Kanda terus bermain sambil tertawa.
Malam hari di rumah, Krisna dan Riana masih mengerjakan tugas-tugas kantor yang belum sempat mereka selesaikan. Keduanya fokus pada laptop masing-masing. Menjelang pukul sepuluh malam, mereka mendengar suara Kanda sedang bernyanyi di luar, di halaman rumah. Krisna dan Riana terkejut. Bukankah seharusnya Kanda sudah tidur di kamarnya?
Perlahan Krisna dan Riana menuju pintu rumah. Ada perasaan tidak enak pada diri mereka. Sedikit merinding, agak takut juga. Mengapa anak mereka masih bermain di halaman rumah malam hari? Dengan siapa Kanda bermain dan bernyanyi?
Pintu dibuka Krisna dengan pelan. Riana mengamati dari belakang. Mereka terkejut. Tampak Kanda sedang bernyanyi dan menari di halaman rumah. Tangan Kanda bergerak-gerak seolah sedang menggenggam seseorang. Krisna dan Riana saling pandang, takut dan merinding melihat anak mereka berulah seperti itu di malam hari. Bergegas mereka menghampiri Kanda.
“Kanda sedang apa malam-malam di luar rumah?” tanya Krisna sambil memeluk Kanda.
“Ini, Pa.. Kanda sedang bermain bersama teman-teman,” jawab Kanda seraya menunjuk ke sekeliling.
Seketika berhembus angin sepoi di halaman rumah. Pepohonan bergerak perlahan. Krisna dan Riana merasakan hawa dingin yang tidak biasa di pekarangan rumah mereka. Sekujur tubuh mereka mendadak merinding saat tercium bau wangi bedak bayi di sekitar tempat Kanda bermain.
“Ayo masuk ke rumah, Kanda. Sudah larut malam,” kata Krisna sambil membopong Kanda masuk ke dalam rumah.
Kanda sempat hendak berontak. Ketika diajak duduk di ruang tamu, Kanda masih menunjukkan wajah ngambeknya.
“Kenapa Papa menyuruh Kanda masuk? Kanda kan sedang bermain bersama teman-teman” tanya Kanda protes.
“Mereka bukan teman Kanda. Mereka itu jin,” jawab Krisna dengan nada cemas.
“Jin itu apa, Pa?” tanya Kanda tak mengerti maksud ayahya.
Krisna tak segera menjawab. Ia memandang istrinya. Riana pun terdiam. Mereka hanya saling memberi isyarat agar tak lagi membahas soal jin itu. Mereka menyadari Kanda belum paham tentang makhluk jin. Waktu dan kegiatannya hanyalah bermain. Walau ia tidak memahami bahwa teman bermainnya adalah jin, bukan manusia biasa.
***
Tanah di luar masih tampak basah. Hujan seharian membuat malam terasa cukup dingin. Krisna dan Riana bersiap untuk berangkat tidur. Krisna memastikan semua pintu rumahnya telah terkunci. Riana menengok ke kamar Kanda. Anak laki-laki yang tampan dan lucu itu telah tidur lelap. Krisna dan Riana pun masuk kamar.
Saat Krisna dan Riana tertidur pulas, mereka dikejutkan dengan suara keras Kanda yang berada di halaman rumah. Mereka terbangun sambil melihat jam dinding yang menunjukkan angka sebelas. Krisna terkejut. Riana ketakutan, merinding sambil mengatupkan kedua tangannya di lengan. Krisna merasa yakin telah mengunci semua pintu. Riana juga sudah memastikan Kanda tidur di kamarnya. Lantas mengapa Kanda berada di halaman rumah tengah malam?
Dengan berjingkat-jingkat Krisna dan Riana berjalan menuju pintu depan. Masih terkunci dari dalam. Semua jendela juga tertutup rapat. Bagaimana mungkin Kanda dapat keluar rumah? Bulu kuduk Krisna mulai berdiri. Sementara di luar rumah terdengar suara tawa Kanda. Dibukanya gorden penutup jendela depan rumah. Mereka terkejut. Kanda berlarian kian-kemari sambil tertawa.
“Kanda…!!!” teriak Riana sambil berlari menjemput anaknya di halaman rumah.
Kanda tampak seperti kebingungan. Krisna menuntun Kanda untuk menuju kembali ke dalam rumah. Tercium bau wangi daun pandan saat Kanda meninggalkan halaman rumah. Setelah itu terdengar suara riuh anak-anak, tapi tak tampak dalam pandangan Krisna dan Riana. Malam yang dingin menambah suasana semakin menyeramkan. Riana pucat ketakutan. Krisna merinding, namun juga kesal dan marah pada makhluk gaib yang selalu mengajak anaknya bermain di malam hari.
Beberapa kejadian yang dialami Kanda membuat Krisna berinisiatif mengundang guru mengaji buat Kanda. Selain untuk mengajarkan membaca kitab suci bagi Kanda sejak dini, juga untuk kegiatan Kanda di malam hari. Krisna dan Riana juga berharap, dengan kegiatan mengaji di rumah, Kanda akan terhindar dari gangguan jin yang selalu mengajak bermain di tengah malam.
Tidak sulit bagi Kanda untuk belajar mengaji. Dengan cepat ia memahami apa yang diajarkan oleh guru mengajinya. Krisna dan Riana sedikit lega. Anak kesayangan mereka punya kesibukan di malam hari.
“Kenapa anak saya sering diajak bermain oleh jin di tengah malam ya, Pak. Apa anak saya indigo?” tanya Krisna kepada guru mengaji Kanda.
“Kanda anak yang baik, Pak Krisna. Sebenarnya Kanda bukan indigo, tapi dia memiliki kemampuan melihat dan berkomunikasi dengan makhluk gaib,” kata guru mengaji.
“Sampai kapan Kanda akan menjadi seperti itu, Pak?” tanya Krisna.
“Bisa diikhtiarkan untuk melemahkan kemampuannya, dan menjauhkan Kanda dari gangguan jin,” jawab guru mengaji Kanda.
“Bagaimana caranya, Pak?” tanya Krisna sedikit bersemangat mendengar jawaban guru mengaji anaknya.
“Saran saya, Bapak Krisna dan Ibu Riana berpuasa sunah Senin-Kamis selama tujuh bulan, serta puasa pada hari lahir dan pasaran Kanda. Dengan niat semoga Kanda dijauhkan dari gangguan jin,” jelas guru mengaji.
Krisna dan Riana memahami dan mennyetujui saran guru mengaji anak mereka. Kanda masih kanak-kanak. Fisik dan psikisnya masih sangat rentan terhadap godaan makhluk halus. Melakukan puasa sunah seperti saran guru mengaji Kanda adalah saran yang bersifat spiritual dan transendental.
Tujuh bulan mereka menjalankan puasa sunah itu. Kanda tak lagi diganggu jin. Ia tak lagi keluar rumah di malam hari. Kanda kini menjadi anak yang kalem. Bahkan ia kini memiliki kegemaran baru, menggambar apa saja yang ia sukai di buku gambar. Hingga, suatu ketika Krisna dan Riana menghampiri Kanda yang sedang asyik menggambar.
“Sedang menggambar apa, Kanda?” tanya Krisna.
“Ini, Pa. Kanda menggambar teman-teman Kanda yang dulu sering mengajak bermain,” jawab Kanda sambil menunjukkan hasil gambarnya.
Krisna Malika dan Riana Dewanti terkejut sekaligus merinding. Kanda menggambar sosok misterius yang wajahnya sangat mengerikan. Ada gambar anak kecil yang bertaring. Ada pula gambar sosok tinggi besar dengan sorot mata tajam.
Kanda memang sudah tidak lagi bermain dengan mereka tengah malam. Namun rupanya ia menyimpan kenangan bersama jin yang pernah berteman dengannya. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole





























