1 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen

Chusmeru by Chusmeru
February 6, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

MENJADI dosen yang ramah dan periang menjadikan Himawan banyak disukai mahasiswa. Bahkan rekan dosen dan pegawai juga banyak yang menyukainya. Apalagi Himawan dikenal sebagai dosen yang humoris dan senang bercanda dengan siapa pun.

Meski sudah termasuk dosen senior, masih terpancar aura kegantengannya di masa lalu. Wajahnya perpaduan antara aktor film Cok Simbara dan Roy Marten. Kumisnya melintang tebal. Wajar jika selain disukai, Himawan juga disegani karena sikapnya yang tegas untuk urusan pekerjaan.

Mengajar mata kuliah Kebijakan Publik, Himawan sangat disiplin. Selalu tepat waktu masuk ruang kelas. Setiap tugas kuliah harus dikumpulkan tepat waktu. Meski demikian, ketika berada di dalam kelas Himawan membuat suasana kuliah sangat cair dan santai. Sesekali ia bercanda, membuat cerita-cerita lucu yang membuat mahasiswa tertawa terbahak-bahak.

Selain suka bercanda, Himawan juga perokok berat. Jika sedang santai, Himawan akan mengajak ngobrol dosen lain atau pegawai sambil merokok di lobi kampus. Sambil merokok pun Himawan masih selalu bercanda dan mengundang tawa orang. Sebetulnya kebiasaan merokok Himawan untuk mengurangi ketegangan akibat pekerjaannya yang menumpuk setiap hari. Ia juga memelihara dan beternak burung perkutut serta ikan hias. Hewan peliharaannya selain untuk hobi juga dijual untuk menambah koceknya sebagai dosen.

Himawan bukan sekadar dosen biasa yang rutin mengajar di kampus. Banyak jabatan di tingkat fakultas, universitas, maupun di pusat yang membuat Himawan sering mondar-mandir ke Jakarta. Kadang ia juga mendapat tugas ke berbagai daerah di luar Jawa. Karenanya, Himawan memiliki banyak relasi mulai dari dosen, menteri, hingga pejabat tinggi di berbagai lembaga.

Setiap melakukan perjalanan ke berbagai daerah, ada saja cerita lucu yang dibagikan kepada dosen lain. Bahkan kadang Himawan juga membagikan cerita yang misterius dan menyeramkan. Hal itu biasanya ia alami ketika melakukan tugas penelitian ke daerah pedalaman.

Sebagai dosen Himawan bukan hanya mengoleksi buku di perpustakaan pribadinya di rumah. Ia juga mempunyai beberapa batu akik yang dikoleksi. Batu akik itu ia peroleh dari berbagai daerah seperti Sumatra, Kalimantan, Papua, dan Sulawesi. Tentu saja koleksi batu akiknya diwarnai dengan latar belakang misteri untuk mendapatkannya.

Batu akik kecubung ungu misalnya, ia dapatkan di pedalaman Kalimantan. Menurut Himawan akik tersebut termasuk keramat. Untuk mendapatkan akik itu ia harus berjalan kaki puluhan kilometer di bebukitan pedalaman Kalimantan. Disebut keramat karena akik itu ada pantangan jika dipakai dan memiliki aura yang menyebabkan banyak orang simpati kepada pemakainya. Salah satu pantangan akik itu adalah tidak boleh dipakai saat berkencan dengan wanita.

Ada juga batu akik onyx hitam yang ia peroleh dari pedalaman Sumatra. Akik ini memiliki aura kewibawaan. Jika orang memakai akik ini maka akan tampak berwibawa di hadapan orang lain. Pantangannya, akik ini tidak boleh dibawa buang air ke toilet. Apa alasannya, Himawan tak tahu. Hanya itu pesan yang peroleh dari orang yang memberi akik tersebut.

Kedua akik Himawan pernah akan dibeli oleh seorang pengusaha. Tidak main-main, orang itu menawar akik itu hingga puluhan juta. Himawan menolaknya. Bukan ia tak tergiur oleh uang puluhan juta, namun ia lebih sayang pada akiknya yang keramat itu. Apalagi akik itu ia peroleh jauh di pedalaman luar Jawa, dan diberikan oleh tokoh masyarakat di sana.

                 ***

Himawan berada di depan kelas. Kuliah Kebijakan Publik akan dimulai. Di jari tangan kanan akik onyx hitam dipakainya. Mahasiswa duduk tertib. Materi demi materi diberikan. Dibumbui cerita lucu, kuliah menjadi segar. Tidak ada mahasiswa yang mengantuk atau mengobrol sendiri dengan teman.

Di tengah perkuliahan, mahasiswa dikejutkan oleh munculnya sosok laki-laki tinggi besar secara misterius dan tiba-tiba yang berdiri di samping Himawan. Rambutnya gondrong sedikit gimbal. Bola matanya besar dan menonjol ke luar. Tubuhnya kekar, telanjang dada hanya menenakan celana kolor hitam. Siapa pun yang melihatnya pasti ketakutan. Sebagian besar mahasiswi menutup matanya.

Sosok laki-laki menyeramkan itu bukan hanya berdiri di samping Himawan. Ia juga bertolak pinggang sambil matanya melotot memandangi mahasiswa. Beberapa mahasiswi yang duduk di kursi depan nyaris berteriak histeris sambil menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Suasana perkuliahan pun menjadi gaduh. Mahasiswa yang duduk di depan bergegas pindah tempat duduk ke belakang.

“Ada apa dengan kalian, kok seperti ketakutan?” tanya Himawan kepada mahasiswa.

Tak seorang pun mahasiswa yang menjawab. Ferdinan, sebagai koordinator kelas dengan terpaksa dan takut menjelaskan.

“Ada laki-laki menyeramkan di sebelah bapak,” kata Ferdinan.

Himawan terkesiap. Ia tak menyadari makhluk gaib yang katanya menghuni batu akiknya menampakkan diri di kelas.

“Maaf…,” kata Himawan sambil melepas dan memasukkan batu akik keramat itu ke dalam saku bajunya. Seketika sosok laki-laki menyeramkan di sebelah Himawan pun hilang.

Menurut orang yang dulu memberikan batu onyx hitam itu, akiknya memang keramat. Dihuni oleh makhluk gaib seperti raksasa yang menakutkan. Akik itu memiliki wibawa yang membuat orang yang memakainya akan disegani oleh orang lain.

Akik hitam milik Himawan memiliki aura keperkasaan dan kekuasaan. Beberapa orang pernah meminjam akik itu untuk mendapatkan jabatan. Kenalan Himawan yang pernah meminjam adalah mereka yang akan mencalonkan diri sebagai kepala desa, bupati, dan calon pejabat di beberapa kampus. Entah karena akik keramat itu atau memang usaha keras dan nasib baik, mereka yang meminjam akik Himawan sukses dalam persaingan jabatan itu.

Tidak sedikit orang yang percaya pada kekuatan magis akik keramat Himawan. Memang agak aneh. Di era teknologi digital, masih banyak orang yang percaya pada kekuatan batu akik. Barangkali rasionalitas menimbulkan kejenuhan, sehingga orang kembali pada mitos dan irasionalitas. Bukan untuk mengabaikan garis illahi atau takdir Tuhan, tetapi manusia mencoba melawan rasionalitas teknologi yang membelenggunya.

                     ***

Kuliah Kebijakan Publik berikutnya Himawan tidak memakai akik onyx hitam. Ia khawatir makhluk seperti raksasa itu akan hadir kembali di kelas. Apalagi perkuliahan hari ini bertepatan dengan malam Jumat Kliwon. Kali ini Himawan memakai akik kecubung ungu di tangan kirinya. Bentuk akiknya cukup besar, sehingga sangat mencolok ketika dipakai. Akik itu diperoleh Himawan saat penelitian di pedalaman Kalimantan, bertemu dengan tokoh masyarakat di sana yang memberinya batu akik itu.

Konon batu akik kecubung ungu itu juga disebut keramat oleh pemberinya. Himawan mengiyakan saja, karena ia tak mau menanyakan lebih lanjut kepada tokoh masyarakat yang memberinya. Akik itu dikatakan memiliki aura keberuntungan dan daya pikat.

Himawan sedang menjelaskan arti penting kebijakan publik dalam proses pembangunan di daerah. Tanpa ia duga, suasana kelas kembali gaduh. Mahasiswa dikejutkan dengan munculnya sosok perempuan cantik di samping kiri Himawan secara tiba-tiba. Parasnya menawan. Menggunakan gaun cerah berwarna ungu, mirip seperti warna akik yang dipakai Himawan.

Mahasiswa tetap saja takut, meski yang muncul sosok perempuan cantik. Masalahnya ia hadir secara misterius dan bukan manusia biasa. Berulang kali perempuan itu tersenyum kepada mahasiswa. Senyum yang disertai dengan tatapan mata yang menyeramkan bagi mahasiswa. Sesekali perempuan itu  memegangi rambutnya yang terurai panjang. Tentu saja menambah suasana menyeramkan di ruang kuliah.

Apalagi Thomas, mahasiswa yang duduk di depan berkali-kali menjadi sasaran tatapan mata perempuan itu. Bulu kuduk Thomas berdiri. Ia seperti diteror hantu perempuan. Ia mencoba menundukkan kepala, tetapi perempuan itu tetap memandanginya. Bergegas ia berdiri dan pindah tempat duduk di kursi belakang. Himawan pun menegur Thomas yang tiba-tiba hengkang dari tempat duduknya.

“Kenapa Thomas?” tanya Himawan ketika melihat Thomas seperti ketakutan.

“Maaf, Pak… ada perempuan di samping bapak…,” jawab Thomas dengan mulut gemetaran.

Tentu saja Himawan kaget. Mengapa mahasiswa selalu melihat makhluk gaib yang menghuni cincinnya. Padahal Himawan sendiri belum pernah melihat sosok penghuni akiknya. Segera ia melepas cincin itu dari jari tangan kirinya, dan memasukannya ke dalam sakunya.

“Waduuuhh… maaf… maaf…,” kata Himawan kepada Thomas dan mahasiswa lainnya.

Begitu akik itu berada di dalam saku baju Himawan, perempuan gaib itu pun lenyap. Namun suasana perkuliahan sudah tidak kondusif lagi. Semua mahasiswa berada dalam suasana yang mencekam.

Batu akik kecubung ungu milik Himawan dipercaya sangat keramat. Pancaran sinar yang keluar dari batu akik itu mampu menimbulkan daya pikat kepada lawan jenis. Tak heran jika banyak rekan Himawan yang masih jomblo meminjam akik itu untuk mendapatkan jodoh atau pasangan.

Himawan dengan senang hati akan meminjamkan akik itu. Baginya, jika memang orang lain percaya pada aura akik itu dan berhasil mendapatkan jodoh, Himawan juga ikut merasa senang. Dan sebagian besar rekan kerja Himawan yang muda dan belum memiliki pasangan, tak lama kemudian mendapatkan pasangan setelah memakai akik keramat itu.

Bukan hanya itu, akik kecubung ungu itu juga dipercaya membawa keberuntungan. Akik itu pernah dipinjam kawan Himawan yang menjadi pelatih klub bola voli  di Jakarta. Anehnya, saat akik Himawan yang dipinjam temannya itu terjatuh, klub volinya sempat tertinggal jauh skornya ketika bertanding. Namun ketika akik itu dipakai kembali, klubnya kembali unggul hingga memenangi pertandingan itu.

***

Bulan berikutnya Himawan masuk ruang kuliah seperti biasa. Kuliah terakhir dari Kebijakan Publik yang diampunya. Namun ada yang tak biasa kali ini. Himawan tidak memakai cincin di tangannya. Ia tak memakai akik onyx hitam maupun kecubung ungu. Wajahnya seperti memendam rasa kecewa.

“Kok nggak pakai akik, Pak Himawan?” tanya Ferdinan memberanikan diri.

Himawan tidak segera menjawab. Matanya seperti memancarkan kesedihan.

“Hilang…,” kata Himawan lirih.

Himawan lantas menceritakan apa yang terjadi. Akik onyx hitam miliknya dipinjam seorang teman yang akan mencalonkan diri sebagai bupati. Awalnya Himawan ragu untuk memimanjamkannya. Apalagi setelah ia tahu akik itu keramat. Sosok raksasa yang menghuni akik itu seolah menambah kewibawaan Himawan ketika berada di hadapan orang lain.

Namun karena temannya memohon dengan sedikit memaksa, akhirnya Himawan meminjamkannya. Celakanya, teman yang meminjam akiknya berbuat teledor. Ketika buang air kecil di toilet akik itu tidak dilepasnya. Padahal Himawan sudah mengingatkan tentang pantangan memakai akik itu di toilet. Benar saja, akik keramat itu hilang begitu saja dari jemari tangan temannya. Lebih sial lagi, teman Himawan kalah dalam pertarungan pemilihan bupati.

Sedangkan akik kecubung ungu dipinjam laki-laki tetangganya. Alasannya, tetangga itu sudah cukup lama menyendiri, belum punya kekasih. Ia berharap dengan memakai akik Himawan akan segera mendapatkan pasangan hidup.

Nyaris sama dengan akik onyx hitamnya, tetangga yang meminjam akik kecubung ungu pun berbuat kesalahan. Ketika ia berhasil mendapatkan kekasih, ia lupa pada pantangan yang disampaikan Himawan. Saat sedang berkencan dengan kekasihnya, akik itu tetap dipakainya. Seketika akik keramat yang mengandung aura pengasihan itu pun lenyap.

Himawan jelas terpukul, mengingat kedua akik itu diperoleh dengan perjuangan yang berat. Ia kini tak lagi punya akik keramat. Tak ada lagi lelaki tinggi besar telanjang dada di sampingnya. Tak ada lagi perempuan cantik yang mendampinginya. Tetapi Himawan tetap berwibawa dan disegani. Ia tetap kocak dengan kumis lebatnya.

  •  Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata.

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita bersambungcerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Kiri” Ayah

Next Post

Book Café Halaman Belakang di Singaraja — Cocok untuk Baca Buku, juga Main Game di Toilet

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Ajian Jaran Goyang

by Chusmeru
August 20, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails
Next Post
Book Café Halaman Belakang di Singaraja — Cocok untuk Baca Buku, juga Main Game di Toilet

Book Café Halaman Belakang di Singaraja -- Cocok untuk Baca Buku, juga Main Game di Toilet

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co