24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kiri” Ayah

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 6, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

SEWAKTU film GIE (2005) aku ingin putar di rumah, ayah angkatku terlihat tidak suka. Soe Hok-Gie dianggapnya sebagai tokoh penyebab kejatuhan Sukarno, yang kala itu adalah presiden Republik Indonesia. Meski begitu, film itu tetap aku tonton bersama keponakanku; berharap ia melek sejarah, betapa pentingnya buku-buku dan kebiasaan menulis. Dari sana ia terinspirasi untuk kuliah di Yogyakarta. Selanjutnya dia mendapat beasiswa studi ke luar negeri.

Ayah angkat saya pengagum berat Sukarno. Tidak aneh kemudian, ia membenci segala hal yang ‘anti-Sukarno’, termasuk film GIE yang berhasil dan sangat baik menggambarkan tokoh mahasiswa dan aktivis muda Soe-Hok Gie. Ayah tidak mau tahu. Mungkin beliau tahu melalui buku atau bacaan tentang kekecewaan Soe-Hok Gie—meskipun telah turut berhasil menumbangkan Orde Lama, Orde Baru kemudian tidak kalah ‘rusak’, bobrok, dan buruk juga.

Dari ayah, aku mengetahui banyak cerita masa lalu, termasuk soal tragedi 1965/66 yang mana Jembrana, kampung halamanku, korban ‘genosida’ paling banyak di Bali. Aku yang saat itu masih duduk di sekolah dasar bergidik ngeri mendengar cerita pembunuhan orang-orang tidak bersalah yang karena hasutan dituduh anggota maupun simpatisan partai yang berhalauan ‘kiri’.

Keluarga besar kami bukan bagian dari partai tersebut, tidak juga terlibat dalam huru-hara politik masa itu. Salah seorang paman yang menjadi kepala desa waktu itu, bahkan banyak “menyelamatkan” warga yang masuk daftar orang yang “kena garis”—pantas dihabisi, tanpa pengadilan, apalagi kesempatan untuk membela diri di depan hukum.

Dengan setengah berbisik, ayah angkat saya seperti takut untuk berbicara tentang tragedi 1965/66. Itu pula yang saya rasakan saat beliau diwawancarai oleh kakak kelas saya pada jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra Universitas Udayana, yang melakukan penelitian tentang kekerasan di Bali untuk tugas akhirnya. Saya pun waktu itu mengantarnya bertemu beberapa informan yang telah berusia lanjut untuk diwawancarai perihal tragedi yang dalam hitungan ‘kasar’ telah menewaskan sebanyak 80.000 orang di Pulau Bali.

Secara tidak langsung, ayah angkat saya banyak menyematkan pemikiran-pemikiran ‘kiri’. Tentu yang dimaksud tidak selalu berkonotasi misalnya pada komunisme atau sosialisme. Ayah seperti ingin mengajarkan saya sejak dini tentang nilai-nilai keadilan, yang perlu terus untuk diperjuangkan dalam hidup manusia.

Meski tidak menyebut nama penulis atau pemikir seperti Pramoedya Ananta Toer atau Karl Marx, saya tahu kemudian hari apa yang sering ayah ceritakan pada saya agaknya bersumber dari buku-buku yang pernah beliau baca. Seperti pendongeng, beliau mengambil intisari pemikiran untuk kemudian diolah dan diceritakan kembali dengan bahasa yang mudah dipahami. “Kiri” yang tidak terdengar berat, berbahaya, apalagi perlu diwaspadai karena salah dan “jahat”.

Ayah angkat saya pernah menjadi tenaga administrasi di kantor kelurahan. Beliau juga editor bagi tulisan-tulisan kakaknya yang dikenal sebagai penulis sejarah di Jembrana. Sebelum mengirim tulisan ke koran, paman memperlihatkan pada ayah jikalau ada tanda baca, kata atau kalimat yang perlu diperbaiki, tentu dengan tanpa mengubah isi tulisan.

Pengetahuan beliau luas. Kegemaran membaca dan mendengar radio siaran luar negeri punya andil sehingga beliau selalu tahu apa yang terjadi pada banyak belahan dunia. Lalu menyampaikannya dengan gaya bicara yang meyakinkan dan menarik. Sehingga kami, anak dan cucu-cucunya, selalu ingin tahu apa kelanjutan yang beliau sedang bicarakan.

Generasi “lama” dan kini telah hilang yang hidup pada beberapa zaman bisa jadi hanya tinggal cerita; bagaimana sistem pendidikan di masa lalu berhasil membentuk pribadi yang kritis juga cerdas. Pola pendidikan Belanda turut berperan menghasilkan generasi yang berpikiran terbuka, suka akan pengetahuan baru, dan kerelaan serta kesukaan untuk berbagi ilmu.

Hal-hal tersebut yang kini sulit ditemui pada generasi sekarang di Indonesia. Minat baca buku menurun, kecanduan media sosial, kemampuan analisa yang rendah menjadi PR bersama tidak hanya bagi pendidik tapi juga para orang tua di rumah.

Hidup di dunia digital menjadi pilihan anak-anak dan remaja kita. Pengetahuan bahkan “banjir informasi” membuat berbagai penyakit mental menghantui seperti overthinking, stress, gangguan panik/cemas, depresi bahkan gangguan jiwa berat seperti skizofrenia kini kian menjadi biasa.

Meski demikian, terdapat harapan jika kita melihat konten-konten baik itu teks atau video tentang ilmu dan buku-buku filsafat yang disajikan oleh anak-anak muda di media sosial. Itu akan menjadi bekal yang baik sehingga generasi muda kita mampu berpikir dan bersikap kritis tentang hal-hal yang ada di sekitar kehidupan mereka, misalnya saja tentang identitas, krisis jiwa, atau kesadaran akan hidup yang lebih berarti sebagai manusia. Filsafat juga bahkan akan mempertanyakan apa yang kita pikirkan karena ia berangkat dari keraguan. Sehingga, orang tidak mudah melabeli mereka yang membaca buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer sebagai “orang kiri” apalagi “komunis” hanya karena buku-buku tersebut pernah dilarang di Indonesia. Tuduhan dan hasutan yang bercampur sentimen pribadi dan kelompok, hanya akan membawa duka dan air mata; sesama saudara saling tikam dan bunuh, seperti tragedi 1965/66. Semoga kita semua mau belajar dari kejadian masa lalu. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Kita Semua Berdagang
Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera
Pekerja Anak Dalam Kenangan
“Galbay” di Negeri “Wakanda”: Sebuah Renungan
Setelah Suami Berpulang
Enam Bulan Kerinduan
Tags: KiriKomunisPramoedya Ananta ToerPramudya Ananta ToerSoe Hok Gie
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Culture Shock” Mahasiswa Bali di Yogyakarta: Makanan Murah yang Bisa Bikin Boros dan Lain-lain

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co