23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Semua Berdagang

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 7, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

GURU pelajaran ekonomi pada sekolah menengah pertama, pernah sakit hati pada saya, dulu sekali.  

Pasalnya, dalam sebuah obrolan dengan teman-teman sekelas; saya berujar tentang  korelasi ilmu ekonomi yang dipelajari di sekolah, dengan kehidupan sehari-hari yang manusia jalani.

“Saat berbelanja ke pasar, apakah rumus-rumus ekonomi akan kita gunakan? Tidak, bukan?” kata saya waktu itu.

Bisa jadi, ada siswa yang menyampaikan soal perkataan saya itu kepada guru perempuan tersebut yang di sekolah dikenal dekat dengan murid-murid.

Sejak itu, guru ekonomi tersebut selalu menyuruh saya untuk menjawab pertanyaan seusai ia menjelaskan pelajaran. Ada yang bisa saya jawab, ada pula yang tidak. Hanya saja, saya tahu ia ‘sakit hati’ pada saya. Mungkin ia merasa tidak dihargai, merasa disepelekan, mungkin juga merasa diremehkan.

Padahal, sebenarnya saya hanya mengkritisi pelajaran ekonomi pada kurikulum saat itu yang saya lihat amat berjarak dengan kehidupan nyata. Jika belajar tentang para pemikir ekonomi di dunia berserta teori dan pemikirannya tentunya masih relevan. Tapi kalau belajar yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari, tentu hanya membuang-buang waktu dan energi saja.

Sekarang, ilmu kewirausahaan juga diajarkan di sekolah. Ini tentu sebuah kemajuan. Apalagi, jika sekolah mengadakan kegiatan expo, dimana para siswa terjun langsung untuk berjualan, merasakan bagaimana menjadi pedagang kuliner, misalnya; mulai dari memasak makanan yang hendak dijual, menata barang dagangan, hingga kemampuan komunikasi agar pengunjung mau mampir, mencicipi dan membeli makanan yang ditawarkan.

Dengan praktik langsung, keilmuan tidak lagi menjadi ‘kaku’, hanya teori yang terpampang pada buku-buku. Pengalaman di lapangan juga memberi kesan penting bagi para siswa; bagaimana sebuah ilmu diterapkan dalam kehidupan nyata.  

Pengalaman pribadi saya di masa lalu, ketika mempertanyakan relevansi ilmu ekonomi di sekolah, ternyata membawa saya pada sebuah pemahaman yang lebih mendalam tentang interaksi manusia. Awalnya, saya hanya melihat ekonomi sebagai sekumpulan angka dan rumus yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa ekonomi sejatinya adalah tentang bagaimana kita berinteraksi, bernegosiasi, dan membuat pilihan dalam hidup.

Setiap hari, kita terlibat dalam berbagai bentuk pertukaran. Ketika kita membeli makanan di warung, kita sedang bertukar uang dengan barang. Saat kita membantu teman mengerjakan tugas, kita sedang bertukar bantuan dengan persahabatan.

Bahkan ketika kita tersenyum kepada orang asing, kita sedang “menawarkan” keramahan dengan harapan mendapatkan respons yang positif. Semua interaksi ini, sekecil apapun, mengandung unsur pertukaran atau perdagangan.

Konsep “kita semua berdagang” ini tidak hanya berlaku dalam konteks ekonomi yang sempit, tetapi juga dalam hubungan sosial, politik, dan bahkan dalam kehidupan pribadi kita.

Dalam hubungan persahabatan, misalnya, kita seringkali “berinvestasi” waktu, energi, dan emosi dengan harapan mendapatkan dukungan, pengertian, dan kebahagiaan. Dalam dunia politik, para politisi “menawarkan” janji-janji kampanye dengan harapan mendapatkan suara pemilih.

Namun, perdagangan tidak selalu berjalan mulus dan adil. Seringkali, kita menghadapi situasi di mana kekuatan tawar menawar tidak seimbang. Misalnya, dalam hubungan antara pekerja dan pengusaha, pekerja mungkin merasa dipaksa untuk menerima gaji yang rendah karena takut kehilangan pekerjaan.

Dalam perdagangan internasional, negara-negara berkembang seringkali menghadapi tekanan dari negara maju dalam negosiasi perdagangan.

Selain itu, konsep “kita semua berdagang” juga memunculkan pertanyaan etis. Apakah semua bentuk perdagangan dapat dibenarkan? Bagaimana kita bisa memastikan bahwa perdagangan dilakukan secara adil dan tidak merugikan pihak lain? Dalam era globalisasi, di mana perdagangan lintas batas semakin marak, isu-isu seperti eksploitasi tenaga kerja, kerusakan lingkungan, dan ketidaksetaraan semakin menjadi sorotan.

Pemahaman tentang konsep “kita semua berdagang” dapat membantu kita menjadi konsumen yang lebih cerdas, pekerja yang lebih baik, dan warga negara yang lebih bertanggung jawab.

Dengan menyadari bahwa setiap tindakan kita memiliki konsekuensi, kita dapat membuat pilihan yang lebih bijaksana dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan sesama.

Konsep “kita semua berdagang” juga memiliki implikasi yang luas bagi cara kita memahami diri kita sendiri dan masyarakat. Jika kita melihat semua interaksi sebagai bentuk pertukaran, maka kita mungkin cenderung lebih fokus pada keuntungan pribadi daripada pada kepentingan bersama. Hal ini dapat mengarah pada individualisme yang berlebihan dan mengikis nilai-nilai sosial seperti solidaritas dan empati.

Di sisi lain, pemahaman yang mendalam tentang dinamika perdagangan dapat membantu kita membangun hubungan yang lebih sehat dan produktif. Dengan menyadari bahwa setiap interaksi melibatkan pertukaran, kita dapat lebih menghargai kontribusi orang lain dan berusaha untuk mencapai keseimbangan yang adil dalam semua hubungan kita.

Pada masa sekarang, kemampuan “menjual diri”, dalam artian mempromosikan tentang apa yang seseorang punya dan mampu lakukan—terutama dalam dunia kerja, menjadi sangat penting.

Tanpa disadari, mulai dari menjual kemampuan berbicara, menulis, mengajar, tenaga untuk pekerjaan fisik; misalnya pekerja proyek atau bangunan, hingga yang dianggap ‘salah’ di masyarakat sekalipun, yakni seks atau pelacuran—kita semua kalau mau jujur, ‘berdagang’, berjualan.

Bahkan, apa apa yang disebut menjilat sekalipun, itu butuh kemampuan tertentu. Jangan munafik. Jangan pula menghakimi. Apa yang menjadi contoh di atas adalah strategi untuk bertahan hidup yang makin keras, penuh persaingan, dan tidak jarang berlangsung secara tidak adil.

Menjadi catatan, jika kita membaca novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh karya Dewi Lestari (Dee), dimana Diva, salah satu tokoh dalam novel tersebut berujar: Ternyata, pelacuran terjadi dimana-mana. Hampir semua orang melacurkan waktu, jati diri, pikiran bahkan jiwanya. Dan, bagaimana kalau ternyata itulah pelacuran yang paling hina? (Hal 69)

Kalimat Diva dalam novel Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh menyajikan sebuah pandangan yang provokatif dan kompleks tentang makna pelacuran. Melampaui definisi tradisional, Diva mengajak kita untuk merenungkan bahwa pelacuran tidak hanya terbatas pada pertukaran seks demi imbalan materi, tetapi juga mencakup berbagai bentuk eksploitasi diri.

Diva mendefinisikan pelacuran sebagai sebuah tindakan menjual sesuatu yang berharga, baik itu waktu, jati diri, pikiran, maupun jiwa. Dalam konteks modern, kita seringkali tanpa sadar terlibat dalam bentuk-bentuk pelacuran ini.

Misalnya, seorang pekerja kantoran yang menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor demi mengejar karir, pada dasarnya telah “melacurkan” waktunya demi mencapai tujuan materi. Seorang influencer yang menjual citra dirinya demi mendapatkan pengikut dan endorsement, juga bisa dianggap sebagai bentuk pelacuran. Diva menyiratkan bahwa ada hierarki dalam bentuk-bentuk pelacuran. Pelacuran fisik mungkin dianggap lebih kasat mata dan seringkali distigma, namun pelacuran yang melibatkan waktu, jati diri, atau jiwa dianggapnya lebih hina. [T]


BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera
Pekerja Anak Dalam Kenangan
“Galbay” di Negeri “Wakanda”: Sebuah Renungan
Setelah Suami Berpulang
Enam Bulan Kerinduan
Perlukah Mal di Bali: Sebuah Kajian Antropologis
Tags: ekonomiPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fajar Harapan Menuju Indonesia Emas     

Next Post

Susah Senang Mahasiswa NTT Kuliah Sambil Kerja di Denpasar

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Susah Senang Mahasiswa NTT Kuliah Sambil Kerja di Denpasar

Susah Senang Mahasiswa NTT Kuliah Sambil Kerja di Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co