22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Culture Shock” Mahasiswa Bali di Yogyakarta: Makanan Murah yang Bisa Bikin Boros dan Lain-lain

Kadek Prayuda Sathyananta by Kadek Prayuda Sathyananta
February 5, 2025
in Tualang
“Culture Shock” Mahasiswa Bali di Yogyakarta: Makanan Murah yang Bisa Bikin Boros dan Lain-lain

Salah satu sudut Kota Yogyakarta | Foto: Prayuda

YOGYAKARTA bisa disebut sebagai kota terkenal, sama terkenalnya dengan Jakarta sebagai ibukota negara. Hal yang pertama kali terlintas di pikiran kita jika menyebut Yogyakarta adalah suatu kota yang sarat dengan budaya dan tradisi serta tentu saja menjadi destinasi wisata yang sulit untuk dilupakan.

Namun, bagi para pendatang, tinggal di Yogyakarta akan memberikan sedikit kejutan budaya yang tidak terduga atau yang kita kenal dengan istilah “culture shock”.

Beberapa hal yang sudah dianggap biasa oleh warga lokal justru akan menjadi pengalaman baru yang membingungkan atau bahkan membuat mereka yang baru menetap di kota ini tersenyum tipis. Mulai dari biaya hidup yang lebih murah hingga kentalnya suasana akademik akan kita bahas satu persatu. Let’s see!

Biaya hidup lebih murah

Salah satu hal yang paling mengagetkan bagi pendatang adalah murahnya biaya hidup di Yogya. Makanan enak bisa didapat dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan di kota besar lainnya.

Saya pun merasakan kenikmatan ini, salah satunya adalah nasi Padang yang di beberapa tempat cuma dibanderol dengan harga 10 ribu dengan lauk yang sudah cukup lengkap. Makanan ini jika dibeli di kampung halaman saya di Bali, belum tentu akan mendapatkan menu yang lengkap dengan harga tersebut.

Namun, justru karena hal itulah, banyak pendatang yang tanpa sadar menghabiskan uang lebih banyak, karena merasa harga-harga begitu terjangkau. Bagi para mahasiswa dan pekerja rantauan harus hati-hati nih karena kita pasti berpikir bisa hidup hemat, tetapi akhirnya malah sering makan di luar dan menikmati berbagai hiburan karena harga yang murah.

Tidak ada suara bising klakson saat lampu merah

Di Yogya, salah satu hal yang cukup mencolok bagi saya adalah jarangnya suara klakson saat berada di lampu merah. Berbeda dengan kota-kota lainnya seperti Jakarta atau Denpasar tepat tinggal saya, di mana suara klakson menjadi bagian dari ritme lalu lintas sehari-hari, namun di Yogya pengendara cenderung lebih sabar dan jarang terburu-buru.

Foto bersama saat orientasi mahasiswa baru program Pasca Sarjana UGM | Foto: Dokumentasi Pribadi.

Sepertinya orang Yogya sudah sadar sepenuhnya jika berada di jalan harus selalu siap dengan resikonya, seperti macet. Hal ini sejalan dengan budaya setempat yang menjunjung tinggi kesopanan dan ketenangan.

Mengklakson secara berlebihan bisa dianggap kurang sopan atau bahkan mengganggu ketertiban. Kalau kata orang lokal, di Yogya punya prinsip “Nek kowe ra sabaran, mabur o wae” yang kurang lebih artinya “kalau kamu gak sabaran, mending terbang saja”.

Alih-alih membunyikan klakson, banyak pengendara di Yogya lebih memilih untuk menunggu dengan tenang hingga lampu hijau menyala, meskipun ada kendaraan yang lambat merespons. Sepertinya orang Yogya sudah sadar sepenuhnya jika berada di jalan harus selalu siap dengan resikonya, seperti macet.

Apakah kalian juga merasa heran dengan kebiasaan ini saat pertama kali datang ke Yogya?

Norma sosial dan adat istiadat

Orang Yogya sangat menjunjung tinggi etika dan kesopanan. Nada bicara yang terlalu keras, sikap yang terlalu blak-blakan, atau terbiasa menyela pembicaraan bisa dianggap kurang sopan. Selain itu, budaya sungkan juga sangat kuat.

Jalan-jalan keliling Kota Yogya sambil swafoto di kaca spion | Foto: Dokumentasi Pribadi

Banyak orang yang enggan menolak permintaan atau memberi jawaban langsung demi menjaga perasaan orang lain. Contohnya saat saya berada di bus dalam perjalanan dari Denpasar menuju Yogya misalnya, kebetulan seseorang di sebelah saya adalah orang Yogya asli yang di mana saat saya menawarkan kudapan, mereka cenderung menolak terlebih dahulu sebagai bentuk kesopanan, sebelum akhirnya menerimanya. Hal ini bisa membingungkan bagi pendatang yang tidak terbiasa dengan kebiasaan ini.

Selain itu, Yogya masih sangat kental dengan nilai-nilai budaya dan tradisi. Mulai dari berbagai upacara adat, seni pertunjukan seperti wayang dan tari, hingga ritual-ritual khas seperti Sekaten, Labuhan Merapi, dan Malam 1 Suro yang semuanya masih dilestarikan dengan baik.

Jam malam dengan suasana yang lebih sepi

Tidak seperti kota besar yang tetap ramai hingga larut malam, Yogya cenderung lebih sepi setelah pukul 10 malam. Banyak warung makan dan toko yang sudah tutup, kecuali beberapa tempat tertentu seperti angkringan atau kafe mahasiswa. Ini menjadi kejutan bagi saya yang selama di Bali terbiasa dengan kehidupan pada malam hari.

Suasana malam di salah satu sudut Kota Yogya | Foto: Dokumentasi Pribadi

Namun, bagi yang menikmati suasana tenang, hal ini bisa menjadi kelebihan tersendiri. Kota yang lebih sepi di malam hari membuat Yogya terasa lebih nyaman untuk beristirahat tanpa hiruk-pikuk yang berlebihan. Namun, suasana malam yang lebih sepi sering dimanfaatkan oleh anak-anak remaja yang sedang mencari jati dirinya.

Tentu saja kita semua pernah mendengar fenomena klitih yang umumnya terjadi di malam hari hingga dini hari di berbagai jalanan Yogya, terutama di ruas jalan yang sepi. Para pelaku sering kali masih berstatus pelajar atau remaja, menyerang korban secara acak, baik untuk menunjukkan eksistensi, dendam antar kelompok, maupun sekadar iseng.

Suasana malam dari salah satu sudut jalan Kota Yogya | Foto: Dokumentasi Pribadi

Meskipun klitih menjadi salah satu sisi gelap Yogya, kota ini tetap memiliki banyak hal positif. Kesadaran dan kewaspadaan adalah kunci utama agar tetap bisa menikmati suasana Yogya dengan aman dan nyaman.

Sepeda motor sangat banyak dalam berbagai plat

Yogya adalah kota dengan populasi sepeda motor yang sangat tinggi. Jalanan sering dipenuhi oleh motor yang bergerak lincah, bahkan di gang-gang kecil. Bagi yang terbiasa dengan transportasi umum yang luas seperti di kota besar, harus siap menyesuaikan diri dengan dominasi kendaraan roda dua ini.

Selain itu, lalu lintas di Yogya kadang bisa terasa semrawut, terutama di sekitar kawasan kampus atau destinasi wisata. Banyak pengendara motor yang tidak ragu untuk menyelinap di antara kendaraan lain, membuat lalu lintas menjadi cukup menantang bagi yang belum terbiasa.

Suasana salah satu lampu merah di Kota Yogya | Foto: Dokumentasi Pribadi

Saking banyaknya populasi sepeda motor, sering kali saya jumpai plat-plat motor dari berbagai daerah di Indonesia, dari Indonesia barat hingga ke timur, serta dari utara hingga ke selatan pasti dijumpai di kota ini.

Suasana akademik yang kental

Sebagai kota pelajar, Yogya memiliki atmosfer yang sangat berbeda dibandingkan kota lain. Banyaknya kampus-kampus besar di Yogya membuat mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di sini, menciptakan suasana yang unik antara modernitas dan tradisional.

Ibarat kata, Yogya adalah Indonesia dalam versi mini. Kehidupan sehari-hari sering kali dipenuhi dengan diskusi intelektual di warung kopi, seminar budaya, hingga kegiatan seni yang menarik. Banyak komunitas yang aktif di berbagai bidang, mulai dari seni, musik, sastra, hingga teknologi.

Berbagai arsip yang tersimpan di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY | Foto: Dokumentasi Pribadi

Kehidupan akademik yang dinamis ini membuat Yogya tidak hanya menjadi tempat belajar formal, tetapi juga tempat berkembangnya ide-ide kreatif.

Sebagai penutup, meskipun menghadapi culture shock bisa terasa menantang, pada akhirnya banyak orang akan jatuh cinta dengan Yogyakarta. Kota ini bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga pengalaman hidup yang kaya akan nilai, tradisi, dan keramahan.

Bagi yang bisa beradaptasi, Yogya bukan sekadar tempat singgah, melainkan rumah kedua yang penuh kehangatan. [T]

Penulis: Kadek Prayuda Sathyananta
Editor: Adnyana Ole

Jagra Siwaratri di Candi Prambanan dan Aku Bayangkan Candi itu Bagai Istana Para Dewa
Heha Sky View, Taman Langitnya Yogyakarta
LONTAR BALI DI MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA
Tags: mahasiswaYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kenali Dulu “Satua” Bali, Lalu Gambarlah Tokoh-tokoh Ceritanya   |   Dari Lomba Ngambar Bulan Bahasa Bali VII

Next Post

“Kiri” Ayah

Kadek Prayuda Sathyananta

Kadek Prayuda Sathyananta

Lulusan Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Udayana tahun 2022. Saat ini sedang menempuh studi Pascasarjana di Program Studi Magister Ilmu Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

“Kiri” Ayah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co