2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Culture Shock” Mahasiswa Bali di Yogyakarta: Makanan Murah yang Bisa Bikin Boros dan Lain-lain

Kadek Prayuda Sathyananta by Kadek Prayuda Sathyananta
February 5, 2025
in Tualang
“Culture Shock” Mahasiswa Bali di Yogyakarta: Makanan Murah yang Bisa Bikin Boros dan Lain-lain

Salah satu sudut Kota Yogyakarta | Foto: Prayuda

YOGYAKARTA bisa disebut sebagai kota terkenal, sama terkenalnya dengan Jakarta sebagai ibukota negara. Hal yang pertama kali terlintas di pikiran kita jika menyebut Yogyakarta adalah suatu kota yang sarat dengan budaya dan tradisi serta tentu saja menjadi destinasi wisata yang sulit untuk dilupakan.

Namun, bagi para pendatang, tinggal di Yogyakarta akan memberikan sedikit kejutan budaya yang tidak terduga atau yang kita kenal dengan istilah “culture shock”.

Beberapa hal yang sudah dianggap biasa oleh warga lokal justru akan menjadi pengalaman baru yang membingungkan atau bahkan membuat mereka yang baru menetap di kota ini tersenyum tipis. Mulai dari biaya hidup yang lebih murah hingga kentalnya suasana akademik akan kita bahas satu persatu. Let’s see!

Biaya hidup lebih murah

Salah satu hal yang paling mengagetkan bagi pendatang adalah murahnya biaya hidup di Yogya. Makanan enak bisa didapat dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan di kota besar lainnya.

Saya pun merasakan kenikmatan ini, salah satunya adalah nasi Padang yang di beberapa tempat cuma dibanderol dengan harga 10 ribu dengan lauk yang sudah cukup lengkap. Makanan ini jika dibeli di kampung halaman saya di Bali, belum tentu akan mendapatkan menu yang lengkap dengan harga tersebut.

Namun, justru karena hal itulah, banyak pendatang yang tanpa sadar menghabiskan uang lebih banyak, karena merasa harga-harga begitu terjangkau. Bagi para mahasiswa dan pekerja rantauan harus hati-hati nih karena kita pasti berpikir bisa hidup hemat, tetapi akhirnya malah sering makan di luar dan menikmati berbagai hiburan karena harga yang murah.

Tidak ada suara bising klakson saat lampu merah

Di Yogya, salah satu hal yang cukup mencolok bagi saya adalah jarangnya suara klakson saat berada di lampu merah. Berbeda dengan kota-kota lainnya seperti Jakarta atau Denpasar tepat tinggal saya, di mana suara klakson menjadi bagian dari ritme lalu lintas sehari-hari, namun di Yogya pengendara cenderung lebih sabar dan jarang terburu-buru.

Foto bersama saat orientasi mahasiswa baru program Pasca Sarjana UGM | Foto: Dokumentasi Pribadi.

Sepertinya orang Yogya sudah sadar sepenuhnya jika berada di jalan harus selalu siap dengan resikonya, seperti macet. Hal ini sejalan dengan budaya setempat yang menjunjung tinggi kesopanan dan ketenangan.

Mengklakson secara berlebihan bisa dianggap kurang sopan atau bahkan mengganggu ketertiban. Kalau kata orang lokal, di Yogya punya prinsip “Nek kowe ra sabaran, mabur o wae” yang kurang lebih artinya “kalau kamu gak sabaran, mending terbang saja”.

Alih-alih membunyikan klakson, banyak pengendara di Yogya lebih memilih untuk menunggu dengan tenang hingga lampu hijau menyala, meskipun ada kendaraan yang lambat merespons. Sepertinya orang Yogya sudah sadar sepenuhnya jika berada di jalan harus selalu siap dengan resikonya, seperti macet.

Apakah kalian juga merasa heran dengan kebiasaan ini saat pertama kali datang ke Yogya?

Norma sosial dan adat istiadat

Orang Yogya sangat menjunjung tinggi etika dan kesopanan. Nada bicara yang terlalu keras, sikap yang terlalu blak-blakan, atau terbiasa menyela pembicaraan bisa dianggap kurang sopan. Selain itu, budaya sungkan juga sangat kuat.

Jalan-jalan keliling Kota Yogya sambil swafoto di kaca spion | Foto: Dokumentasi Pribadi

Banyak orang yang enggan menolak permintaan atau memberi jawaban langsung demi menjaga perasaan orang lain. Contohnya saat saya berada di bus dalam perjalanan dari Denpasar menuju Yogya misalnya, kebetulan seseorang di sebelah saya adalah orang Yogya asli yang di mana saat saya menawarkan kudapan, mereka cenderung menolak terlebih dahulu sebagai bentuk kesopanan, sebelum akhirnya menerimanya. Hal ini bisa membingungkan bagi pendatang yang tidak terbiasa dengan kebiasaan ini.

Selain itu, Yogya masih sangat kental dengan nilai-nilai budaya dan tradisi. Mulai dari berbagai upacara adat, seni pertunjukan seperti wayang dan tari, hingga ritual-ritual khas seperti Sekaten, Labuhan Merapi, dan Malam 1 Suro yang semuanya masih dilestarikan dengan baik.

Jam malam dengan suasana yang lebih sepi

Tidak seperti kota besar yang tetap ramai hingga larut malam, Yogya cenderung lebih sepi setelah pukul 10 malam. Banyak warung makan dan toko yang sudah tutup, kecuali beberapa tempat tertentu seperti angkringan atau kafe mahasiswa. Ini menjadi kejutan bagi saya yang selama di Bali terbiasa dengan kehidupan pada malam hari.

Suasana malam di salah satu sudut Kota Yogya | Foto: Dokumentasi Pribadi

Namun, bagi yang menikmati suasana tenang, hal ini bisa menjadi kelebihan tersendiri. Kota yang lebih sepi di malam hari membuat Yogya terasa lebih nyaman untuk beristirahat tanpa hiruk-pikuk yang berlebihan. Namun, suasana malam yang lebih sepi sering dimanfaatkan oleh anak-anak remaja yang sedang mencari jati dirinya.

Tentu saja kita semua pernah mendengar fenomena klitih yang umumnya terjadi di malam hari hingga dini hari di berbagai jalanan Yogya, terutama di ruas jalan yang sepi. Para pelaku sering kali masih berstatus pelajar atau remaja, menyerang korban secara acak, baik untuk menunjukkan eksistensi, dendam antar kelompok, maupun sekadar iseng.

Suasana malam dari salah satu sudut jalan Kota Yogya | Foto: Dokumentasi Pribadi

Meskipun klitih menjadi salah satu sisi gelap Yogya, kota ini tetap memiliki banyak hal positif. Kesadaran dan kewaspadaan adalah kunci utama agar tetap bisa menikmati suasana Yogya dengan aman dan nyaman.

Sepeda motor sangat banyak dalam berbagai plat

Yogya adalah kota dengan populasi sepeda motor yang sangat tinggi. Jalanan sering dipenuhi oleh motor yang bergerak lincah, bahkan di gang-gang kecil. Bagi yang terbiasa dengan transportasi umum yang luas seperti di kota besar, harus siap menyesuaikan diri dengan dominasi kendaraan roda dua ini.

Selain itu, lalu lintas di Yogya kadang bisa terasa semrawut, terutama di sekitar kawasan kampus atau destinasi wisata. Banyak pengendara motor yang tidak ragu untuk menyelinap di antara kendaraan lain, membuat lalu lintas menjadi cukup menantang bagi yang belum terbiasa.

Suasana salah satu lampu merah di Kota Yogya | Foto: Dokumentasi Pribadi

Saking banyaknya populasi sepeda motor, sering kali saya jumpai plat-plat motor dari berbagai daerah di Indonesia, dari Indonesia barat hingga ke timur, serta dari utara hingga ke selatan pasti dijumpai di kota ini.

Suasana akademik yang kental

Sebagai kota pelajar, Yogya memiliki atmosfer yang sangat berbeda dibandingkan kota lain. Banyaknya kampus-kampus besar di Yogya membuat mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di sini, menciptakan suasana yang unik antara modernitas dan tradisional.

Ibarat kata, Yogya adalah Indonesia dalam versi mini. Kehidupan sehari-hari sering kali dipenuhi dengan diskusi intelektual di warung kopi, seminar budaya, hingga kegiatan seni yang menarik. Banyak komunitas yang aktif di berbagai bidang, mulai dari seni, musik, sastra, hingga teknologi.

Berbagai arsip yang tersimpan di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY | Foto: Dokumentasi Pribadi

Kehidupan akademik yang dinamis ini membuat Yogya tidak hanya menjadi tempat belajar formal, tetapi juga tempat berkembangnya ide-ide kreatif.

Sebagai penutup, meskipun menghadapi culture shock bisa terasa menantang, pada akhirnya banyak orang akan jatuh cinta dengan Yogyakarta. Kota ini bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga pengalaman hidup yang kaya akan nilai, tradisi, dan keramahan.

Bagi yang bisa beradaptasi, Yogya bukan sekadar tempat singgah, melainkan rumah kedua yang penuh kehangatan. [T]

Penulis: Kadek Prayuda Sathyananta
Editor: Adnyana Ole

Jagra Siwaratri di Candi Prambanan dan Aku Bayangkan Candi itu Bagai Istana Para Dewa
Heha Sky View, Taman Langitnya Yogyakarta
LONTAR BALI DI MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA
Tags: mahasiswaYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kenali Dulu “Satua” Bali, Lalu Gambarlah Tokoh-tokoh Ceritanya   |   Dari Lomba Ngambar Bulan Bahasa Bali VII

Next Post

“Kiri” Ayah

Kadek Prayuda Sathyananta

Kadek Prayuda Sathyananta

Lulusan Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Udayana tahun 2022. Saat ini sedang menempuh studi Pascasarjana di Program Studi Magister Ilmu Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

“Kiri” Ayah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co