12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Culture Shock” Mahasiswa Bali di Yogyakarta: Makanan Murah yang Bisa Bikin Boros dan Lain-lain

Kadek Prayuda Sathyananta by Kadek Prayuda Sathyananta
February 5, 2025
in Tualang
“Culture Shock” Mahasiswa Bali di Yogyakarta: Makanan Murah yang Bisa Bikin Boros dan Lain-lain

Salah satu sudut Kota Yogyakarta | Foto: Prayuda

YOGYAKARTA bisa disebut sebagai kota terkenal, sama terkenalnya dengan Jakarta sebagai ibukota negara. Hal yang pertama kali terlintas di pikiran kita jika menyebut Yogyakarta adalah suatu kota yang sarat dengan budaya dan tradisi serta tentu saja menjadi destinasi wisata yang sulit untuk dilupakan.

Namun, bagi para pendatang, tinggal di Yogyakarta akan memberikan sedikit kejutan budaya yang tidak terduga atau yang kita kenal dengan istilah “culture shock”.

Beberapa hal yang sudah dianggap biasa oleh warga lokal justru akan menjadi pengalaman baru yang membingungkan atau bahkan membuat mereka yang baru menetap di kota ini tersenyum tipis. Mulai dari biaya hidup yang lebih murah hingga kentalnya suasana akademik akan kita bahas satu persatu. Let’s see!

Biaya hidup lebih murah

Salah satu hal yang paling mengagetkan bagi pendatang adalah murahnya biaya hidup di Yogya. Makanan enak bisa didapat dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan di kota besar lainnya.

Saya pun merasakan kenikmatan ini, salah satunya adalah nasi Padang yang di beberapa tempat cuma dibanderol dengan harga 10 ribu dengan lauk yang sudah cukup lengkap. Makanan ini jika dibeli di kampung halaman saya di Bali, belum tentu akan mendapatkan menu yang lengkap dengan harga tersebut.

Namun, justru karena hal itulah, banyak pendatang yang tanpa sadar menghabiskan uang lebih banyak, karena merasa harga-harga begitu terjangkau. Bagi para mahasiswa dan pekerja rantauan harus hati-hati nih karena kita pasti berpikir bisa hidup hemat, tetapi akhirnya malah sering makan di luar dan menikmati berbagai hiburan karena harga yang murah.

Tidak ada suara bising klakson saat lampu merah

Di Yogya, salah satu hal yang cukup mencolok bagi saya adalah jarangnya suara klakson saat berada di lampu merah. Berbeda dengan kota-kota lainnya seperti Jakarta atau Denpasar tepat tinggal saya, di mana suara klakson menjadi bagian dari ritme lalu lintas sehari-hari, namun di Yogya pengendara cenderung lebih sabar dan jarang terburu-buru.

Foto bersama saat orientasi mahasiswa baru program Pasca Sarjana UGM | Foto: Dokumentasi Pribadi.

Sepertinya orang Yogya sudah sadar sepenuhnya jika berada di jalan harus selalu siap dengan resikonya, seperti macet. Hal ini sejalan dengan budaya setempat yang menjunjung tinggi kesopanan dan ketenangan.

Mengklakson secara berlebihan bisa dianggap kurang sopan atau bahkan mengganggu ketertiban. Kalau kata orang lokal, di Yogya punya prinsip “Nek kowe ra sabaran, mabur o wae” yang kurang lebih artinya “kalau kamu gak sabaran, mending terbang saja”.

Alih-alih membunyikan klakson, banyak pengendara di Yogya lebih memilih untuk menunggu dengan tenang hingga lampu hijau menyala, meskipun ada kendaraan yang lambat merespons. Sepertinya orang Yogya sudah sadar sepenuhnya jika berada di jalan harus selalu siap dengan resikonya, seperti macet.

Apakah kalian juga merasa heran dengan kebiasaan ini saat pertama kali datang ke Yogya?

Norma sosial dan adat istiadat

Orang Yogya sangat menjunjung tinggi etika dan kesopanan. Nada bicara yang terlalu keras, sikap yang terlalu blak-blakan, atau terbiasa menyela pembicaraan bisa dianggap kurang sopan. Selain itu, budaya sungkan juga sangat kuat.

Jalan-jalan keliling Kota Yogya sambil swafoto di kaca spion | Foto: Dokumentasi Pribadi

Banyak orang yang enggan menolak permintaan atau memberi jawaban langsung demi menjaga perasaan orang lain. Contohnya saat saya berada di bus dalam perjalanan dari Denpasar menuju Yogya misalnya, kebetulan seseorang di sebelah saya adalah orang Yogya asli yang di mana saat saya menawarkan kudapan, mereka cenderung menolak terlebih dahulu sebagai bentuk kesopanan, sebelum akhirnya menerimanya. Hal ini bisa membingungkan bagi pendatang yang tidak terbiasa dengan kebiasaan ini.

Selain itu, Yogya masih sangat kental dengan nilai-nilai budaya dan tradisi. Mulai dari berbagai upacara adat, seni pertunjukan seperti wayang dan tari, hingga ritual-ritual khas seperti Sekaten, Labuhan Merapi, dan Malam 1 Suro yang semuanya masih dilestarikan dengan baik.

Jam malam dengan suasana yang lebih sepi

Tidak seperti kota besar yang tetap ramai hingga larut malam, Yogya cenderung lebih sepi setelah pukul 10 malam. Banyak warung makan dan toko yang sudah tutup, kecuali beberapa tempat tertentu seperti angkringan atau kafe mahasiswa. Ini menjadi kejutan bagi saya yang selama di Bali terbiasa dengan kehidupan pada malam hari.

Suasana malam di salah satu sudut Kota Yogya | Foto: Dokumentasi Pribadi

Namun, bagi yang menikmati suasana tenang, hal ini bisa menjadi kelebihan tersendiri. Kota yang lebih sepi di malam hari membuat Yogya terasa lebih nyaman untuk beristirahat tanpa hiruk-pikuk yang berlebihan. Namun, suasana malam yang lebih sepi sering dimanfaatkan oleh anak-anak remaja yang sedang mencari jati dirinya.

Tentu saja kita semua pernah mendengar fenomena klitih yang umumnya terjadi di malam hari hingga dini hari di berbagai jalanan Yogya, terutama di ruas jalan yang sepi. Para pelaku sering kali masih berstatus pelajar atau remaja, menyerang korban secara acak, baik untuk menunjukkan eksistensi, dendam antar kelompok, maupun sekadar iseng.

Suasana malam dari salah satu sudut jalan Kota Yogya | Foto: Dokumentasi Pribadi

Meskipun klitih menjadi salah satu sisi gelap Yogya, kota ini tetap memiliki banyak hal positif. Kesadaran dan kewaspadaan adalah kunci utama agar tetap bisa menikmati suasana Yogya dengan aman dan nyaman.

Sepeda motor sangat banyak dalam berbagai plat

Yogya adalah kota dengan populasi sepeda motor yang sangat tinggi. Jalanan sering dipenuhi oleh motor yang bergerak lincah, bahkan di gang-gang kecil. Bagi yang terbiasa dengan transportasi umum yang luas seperti di kota besar, harus siap menyesuaikan diri dengan dominasi kendaraan roda dua ini.

Selain itu, lalu lintas di Yogya kadang bisa terasa semrawut, terutama di sekitar kawasan kampus atau destinasi wisata. Banyak pengendara motor yang tidak ragu untuk menyelinap di antara kendaraan lain, membuat lalu lintas menjadi cukup menantang bagi yang belum terbiasa.

Suasana salah satu lampu merah di Kota Yogya | Foto: Dokumentasi Pribadi

Saking banyaknya populasi sepeda motor, sering kali saya jumpai plat-plat motor dari berbagai daerah di Indonesia, dari Indonesia barat hingga ke timur, serta dari utara hingga ke selatan pasti dijumpai di kota ini.

Suasana akademik yang kental

Sebagai kota pelajar, Yogya memiliki atmosfer yang sangat berbeda dibandingkan kota lain. Banyaknya kampus-kampus besar di Yogya membuat mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di sini, menciptakan suasana yang unik antara modernitas dan tradisional.

Ibarat kata, Yogya adalah Indonesia dalam versi mini. Kehidupan sehari-hari sering kali dipenuhi dengan diskusi intelektual di warung kopi, seminar budaya, hingga kegiatan seni yang menarik. Banyak komunitas yang aktif di berbagai bidang, mulai dari seni, musik, sastra, hingga teknologi.

Berbagai arsip yang tersimpan di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY | Foto: Dokumentasi Pribadi

Kehidupan akademik yang dinamis ini membuat Yogya tidak hanya menjadi tempat belajar formal, tetapi juga tempat berkembangnya ide-ide kreatif.

Sebagai penutup, meskipun menghadapi culture shock bisa terasa menantang, pada akhirnya banyak orang akan jatuh cinta dengan Yogyakarta. Kota ini bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga pengalaman hidup yang kaya akan nilai, tradisi, dan keramahan.

Bagi yang bisa beradaptasi, Yogya bukan sekadar tempat singgah, melainkan rumah kedua yang penuh kehangatan. [T]

Penulis: Kadek Prayuda Sathyananta
Editor: Adnyana Ole

Jagra Siwaratri di Candi Prambanan dan Aku Bayangkan Candi itu Bagai Istana Para Dewa
Heha Sky View, Taman Langitnya Yogyakarta
LONTAR BALI DI MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA
Tags: mahasiswaYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kenali Dulu “Satua” Bali, Lalu Gambarlah Tokoh-tokoh Ceritanya   |   Dari Lomba Ngambar Bulan Bahasa Bali VII

Next Post

“Kiri” Ayah

Kadek Prayuda Sathyananta

Kadek Prayuda Sathyananta

Lulusan Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Udayana tahun 2022. Saat ini sedang menempuh studi Pascasarjana di Program Studi Magister Ilmu Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

“Kiri” Ayah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co