2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jagra Siwaratri di Candi Prambanan dan Aku Bayangkan Candi itu Bagai Istana Para Dewa

Made Manipuspaka by Made Manipuspaka
February 2, 2025
in Tualang
Jagra Siwaratri di Candi Prambanan dan Aku Bayangkan Candi itu Bagai Istana Para Dewa

Candi Prambanan saat Hari Siwaratri

KETIKA ada teman yang mengajak untuk melakukan renungan suci Siwaratri di Candi Prambanan, pada perayaan hari suci ITU pada Senin 27 Januari 2025, aku langsung menganggukKan kepala dan bilang ya.

Aku sesungguhnya tidak mengetahui bagaimana kebiasaan umat Hindu di Tanah Jawa, tepatnya di YoGyakarta dalam merayakan hari turunnya Siwa itu.

Sebagai orang baru—yang kebetulan menjadi mahasiswa semester 2 Jurusan Musik, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta—aku berusaha mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang ada di Kota Pelajar dan Kota Budaya itu. Tentunya yang baik-baik dan tetap ada kaitannya dengan pembelajaran. Sebab, aku ingin fokus pada cita-cita dan tidak mau mengecewakan orang tua.

Aku berangkat dari kost, sengaja mengendarai motor sendiri, sehingga dapat mengenal Kota Gudeg ini dengan lebih leluasa. Aku berangkat bersama teman yang menempuh perjalanan sekitar 1 jam. Dalam perjalanan itu, sesekali aku bertanya, nama jalan dan kawasan yang dilewati. Tanpa terasa, kami sudah sampai di kawasan Candi Prambanan yang sungguh megah itu.

Maklum, ini kali pertama kunjungan aku ke Candi Prambanan, candi bercorak agama Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 Masehi itu. Ini pengalaman Siwaratri di Candi Prambanan sebagai angkatan kedua. Mungkin, karena aku pertama kali ke Prambanan saat malam hari semuanya beda, indah dan mempesona.

Candi Prambanan di Hari Siwaratri | Foto: Manipuspaka

Beberapa lampu sorot mengarah ke candi yang sangat terang dan dengan warna yang tajam, sehingga membuat candi semakin megah. Entah karena sering menonton film, aku merasakan suasana Candi Prambanan malam itu seperti di istana para Dewa. Entah itu ilusi atau khayalan yang selalu ada dalam pikiranku. Nemun, aku tak mau terlena, sehingga langsung melakukan persembahyang bersama tepat pukul 18.00 WIB.

Antusias umat melakukan persembahnyangan sangat tinggi. Panitia mengatakan, pada perayaan Siwaratri umat yang melakukan persembahyangan pertama itu diikuti lebih dari 3000 peserta. Jumlah itu, lebih banyak dari perayaan Siwaratri sebelumnya hanya diikuti 500 peserta. Umat yang melakukan persembahyangan begitu khusuk. Aku, bersama temanku pun bersembahyang dengan serius dan khusuk pula.

Usai sembahyang, panitia mengarahkan peserta persembahyangan menuju ke tenda yang ada di lapangan. Sayangnya, aku lupa menanyakan nama acara itu. Namun, yang pasti semua umat diberikan snack berupa kacang, pisang, jagung dan minuman teh. Acara itu mirip sebuah ajang sosialisasi, salaing mengenal satu sama lainnya. Sebab, umat yang menikmati camilan itu sambil berkenalan, lalu bercerita lebih akrab sambil menunggu acara Malam Sastra Siwaratri.

Malam Sastra Siwaratri itu menghadirkan banyak narasumber, namun aku tidak hapal semuanya. Aku diinformasikan teman akan ada Wakil Menteri Pariwisata Luh Puspa, dan Sugi Lanus yang diberitahu oleh ibuku lewat WA.

Acara kemudian dimulai dengan penampilan tari penyambutan khas Jawa. Meski biasa tampil di atas panggung, tetapi aku tidak mengetahui nama tari itu.

Panitia juga sudah menyebutkan, tetapi aku tidak mendengar secara jelas saking banyak orang. Tari penyambutan itu dibawakan oleh dua penari wanita yang melakukan gerak yang pelan, lembut dan halus dengan gerak yang penuh penjiwaan. Meski lama tak menari, jujur, aku terpesona dengan penampilan tari itu. 

Candi Prambanan di Hari Siwaratri | Foto: Manipuspaka

Selanjutnya sambutan dari Ibu Wakil Menteri Pariwisata Luh Puspa yang mendukung kegiatan keagamaan di Candi Prambanan ini. Lalu, berlanjut dengan sambutan Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi yang mengangkat topik tidak jauh dari keberadaan Candi Prambanan dan Siwaratri.

Narasumber yang merupakan teman pamanku, juga teman orang tuaku, sehingga aku pun merasa dekat dengannya. Saat itu, Sugi Lanus mengatakan, Candi Prambanan itu memiliki empat arah, sehingga saat melakukan persembahyangan bisa menghadap kemana saja. Paparan itu, sekaligus menjawab pertanyaan peserta yang menanyakan sebaiknya melakukan sembhayang menghadap arah mana.

Salah satu peserta kemudian menanyakan, Candi Prambanan ini adalah kawasan suci, namun juga sebagai pusat pariwisata. Kalau ada yang berkunjung, tetapi mereka sedang mengalami menstruasi, namun ia akan tetap akan membayar tiket masuk, apakah itu boleh atau tidak?

Sugi Lanus menjawab boleh saja, tetapi setiap pagi dan setiap buka Candi harus melakukan pembersihan setiap pagi. Pintu masuk untuk orang yang bersembahyang dan wisatawan dibedakan.

Walau peserta sesi diskusi ini mulai berkurang, karena kursi-kursi mulai ada yang kosong, namun suasana diskusi tetap hangat dengan berbagai pertanyaan. Seseorang kemudian bertanya, seandainya ada umat Hindu yang ingin melalukan persembahyangan apakah dikenakan tiket atau gratis. GM Prambanan dan Ratu Boko, Ratno Timur, mengatakan, boleh tetapi mungkin tidak dikenakan tiket pada saat hari-hari raya saja, bukan setiap hari.

Suasana diskusi tetap menarik, namun beberapa orang, ada yang tidur di samping tenda. Mereka tidur beralaskan karpet. Di sampingnya, ada pula yang ngobrol, entah apa yang dibicarakannya. Aku pun merasa ‘nguyuk’ pula, namun beridsaha mengikuti acara sampai akhir.

Candi Prambanan di Hari Siwaratri | Foto: Manipuspaka

Diskusi berlangsung sampai pukul 00.00 WIB. Setelah itu, seluruh peserta melakukan sembahyang dilanjutkan dengan pembacaan 1008 nama Siwa bersama seluruh peserta. Pada saat itu, mulai banyak peserta yang tidak kuat melakukan jagra (bergadang), sehingga ada yang keluar dari area Candi Siwagrha.

Pembacaan nama Siwa berlangsung selama 1 jam 15 menit. Selanjutnya, diisi dengan acara bercerita tentang Lubdaka oleh Sugi Lanus. Pada saat itu, peserta yang kuat bertahan tak sampai 100 orang.

Acara bercerita itu berlangsung hingga pukul 05.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan kembali, yaitu persembahyangan Hari Raya Tilem sampai pukul 06.00 WIB. Aku berusaha mengikuti semua acara. Usai acara, aku pulang dengan kondisi ngantuk pula. [T]

Penulis: Made Manipuspaka
Editor: Budarsana

Yang Tercecer dari Borobudur dan Prambanan
Dari Legenda ke Fakta, Menyibak Sejarah dan Pesona Candi Prambanan
Jalani Tawur Agung di Candi Prambanan (Lagi)
Prambanan Tidak Hanya Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso
Tags: Candi PrambananHari SiwaratriHindu JawaSiwaratriYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bulan Bahasa Bali Menuju Bali Harmoni

Next Post

Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Goa Gong 

Made Manipuspaka

Made Manipuspaka

Mahasiswa jurusan musik, ISI Yogyakarta

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Goa Gong 

Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Goa Gong 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co