3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Legenda ke Fakta, Menyibak Sejarah dan Pesona Candi Prambanan

Putu Ayu Aprilia Aryani by Putu Ayu Aprilia Aryani
September 18, 2024
in Tualang
Dari Legenda ke Fakta, Menyibak Sejarah dan Pesona Candi Prambanan

Penulis Berpose dengan Background Candi Prambanan (Dokumentasi Pribadi)

PUKUL sepuluh pagi, matahari sudah terasa menyengat kulit. Tidak pernah disangka, pagi yang cerah itu, akan membawa saya menuju kebahagiaan yang saya tunggu-tunggu selama ini. Hari itu menjadi momen yang tak akan pernah terlupakan bagi saya. Mengapa tidak? Saya akan segera bertemu dengan salah satu peninggalan sejarah kerajaan masa lalu yang memiliki nilai keindahan dan peradaban manusia yang adi luhung.

Apakah kalian pernah mendengar tentang sebuah kisah dibangunnya 1000 candi dalam semalam oleh seorang tuan dan para lelembutnya, demi mendapatkan cinta seorang wanita? Iya, tempat yang akan saya kunjungi kali ini adalah Candi Prambanan.

Sejak kecil, saya begitu senang membaca dan mengetahui sejarah-sejarah peradaban kerajaan kuno dan peninggalannya, seperti Candi Prambanan ini. Pada akhirnya, semua itu membuat saya begitu penasaran dan ingin mengetahuinya langsung. Seperti apakah wujud bangunan indah itu apabila dilihat oleh mata telanjang secara langsung. Dan saya juga ingin mengetahui, sejarah apa yang ada dibalik keindahan banguanan itu.

Kunjungan ke Candi Prambanan ini merupakan kesempatan yang sangat luar biasa bagi saya. Mengikuti sebuah program pengabdian kolaborasi, Dharma Literacy Academy. Selama 3 bulan lamanya mengikuti kegiatan ini, berdiskusi mengenai agama Hindu, kondisi keumatan dan masih banyak lagi. Hingga pada akhirnya berhasil mengikuti puncak kegiatan ini yang dilaksanakan di luar Jawa yakni di Klaten dan Yogyakarta, membuat saya begitu bahagia. Pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Jawa, langsung ke Candi Prambanan? Wahh perjalanan ini pastinya akan begitu luar biasa.

Menuju Prambanan | Foto: Dokumentasi Pribadi

Bus yang saya dan rombongan tumpangi bergerak begitu cepat, menembus teriknya matahari Jogja hari itu. Sebelumnya, saya dan rombongan mengunjungi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Bus segera meluncur menuju tempat selanjutnya yakni Candi Prambanan. Jarak dari keraton menuju candi yakni sekitar 18 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 50 menit hingga 1 jam perjalanan. Kompleks candi ini terletak di kecamatan Prambana Desa Bokoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dan kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Walapun jarak yang ditempuh lumayan jauh, namun saya begitu menikmati perjalanan ini. Menyaksikan ramai dan indahnya Jogja hari itu.

Hingga tak terasa, akhirnya saya dan rombongan pun tiba di Candi Prambanan. Saya begitu terpukau melihat begitu luasnya komplek Candi Prambanan ini. Dari pintu masuk, saya sudah bisa melihat begitu megahnya 3 candi utama yang berjajar dari kejauhan. Rasanya sudah tidak sabar, untuk mengetahui rahasia sejarah apa yang menjadi tonggak berdirinya warisan adi luhung ini. Saya dan rombongan pun mengambil beberapa jepret diri dengan berbagai pose. Sungguh luar biasa indah peninggalan sejarah ini. Dari kejauhan saja sudah nampak betapa kokoh dan gagahnya bangunan itu.

Berpose dengan Background Candi Prambanan | Foto: Dokumentasi Pribadi

Saya dan rombongan pun bergerak masuk ke area komplek candi. Sebelum memasuki area lebih dalam lagi, saya dan rombongan harus mengganti pakaian yakni menggunakan busana adat madya. Karena, selain berkunjung dan mengetahui sejarah berdirinya candi ini, saya dan rombongan juga akan mengikuti persembahyangan rahina Tilem di Candi Prambanan. Kebetulan hari itu adalah hari Tilem, dimana para umat Hindu akan melakukan persembahyangan.

Menuju halaman utama Candi Prambanan | Foto: Mpu Kuturan TV

Setelah berganti busana, saya dan rombongan pun masuk menuju halaman candi. Disana kami bertemu dengan seorang arkeolog muda Candi Prambanan, beliau adalah Kak Nur Khotimah. Rupanya beliaulah yang akan membantu menjelaskan kepada saya dan rombongan, mulai dari sejarah sampai struktur bangunan candi ini. Saya dan rombongan mendengarkan dengan begitu seksama penjelasan dari Kak Nur. Begitu mendengar penjelasan dari Kak Nur mengenai Candi Prambanan, saya pun tercengang.

Kak Nur menjelaskan, sejarah berdirinya Candi Prambanan bukanlah seperti yang diceritakan dalam dongeng-dongeng ataupun penuturan orang tua. Dimana cerita yang menyebar adalah mengenai dibangunnya candi ini dalam semalam oleh Bandung Bondowoso untuk Roro Jonggrang, sebagai bukti cintanya. Namun nyatanya, cerita tersebut hanya sebuah cerita rakyat semata dan tidak merupakan peristiwa sesunggunya. Cerita tersebut diketahui muncul saat jaman kolonial, sebagai bentuk propaganda kolonial terhadap rakyat Indonesia. Kala itu, masyarakat yang dipaksa untuk bekerja membangun infrastruktur oleh pemerintah kolonial. Masyarakat kala itu dibandingkan dengan kemampuan leluhur mereka terdahulu, yaitu membangun candi hanya dalam waktu semalam saja. masyarakat kala itu dengan mudahnya dipropaganda, sehingga bersedia untuk bekerja secara paksa.

Diskusi bersama Kak Nur | Foto: Mpu Kuturan TV

Nama Prambanan berasal dari nama desa tempat candi ini berdiri, diduga merupakan perubahan nama dialek bahasa Jawa dari istilah teologi Hindu Para Brahman yang bermakna “Brahman Agung” yaitu Barhman yang artinya realitas abadi tertinggi dan teragung yang tak dapat digambarkan. Hal ini sering disamakan dengan konsep Tuhan dalam agama Hindu. Pendapat lain menganggap Para Brahman mungkin merujuk kepada masa jaya candi ini yang dahulu dipenuhi oleh para brahmana. Pendapat lain mengajukan anggapan bahwa nama “Prambanan” berasal dari akar kata mban dalam Bahasa Jawa yang bermakna menanggung atau memikul tugas, merujuk kepada para dewa Hindu yang mengemban tugas menata dan menjalankan keselarasan jagat. Candi Prambanan ini juga disebut juga dengan candi Roro Jonggrang.

Ditemani angin sepoi-sepoi dan suara daun yang melambai-lambai, saya dan rombongan begitu menyimak penuturan Kak Nur. Beliau menjelaskan, candi megah ini dibangun pada masa kerajaan kuno. Dalam prasasti Siwagrha, candi ini mulai dibangun pada sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan, dan terus dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu, pada masa kerajaan Medang Mataram. Rakai Pikatan adalah keturunan Dinasti Sanjaya yang memimpin Kerajaan Mataram Kuno/Medang dari tahun 840 M hingga 856 M. Masa pemerintahan Rakai Pikatan juga menandai bersatunya Dinasti Sanjaya (Hindu) dan Dinasti Syailendra (Buddha) dengan pernikahannya dengan Pramodawardhani, putri Raja Samaratungga.

Candi Prambanan menjadi bukti bahwa adanya 2 dinasti yang berbeda kepercayaan yakni dinastit Sanjaya penganut Hindu Siwa dan wangsa Sailendra penganut Buddha Mahayana. Dengan dibangunnya candi ini, menandai bahwa kerajaan Medang beralih fokus dukungan keagamaanya, dari Buddha Mahayana ke pemujaan terhadap Siwa. Nama asli kompleks candi Hindu ini adalah nama dari Bahasa Sansekerta, Siwagrha (Rumah Siwa) atau Siwalaya (Alam Siwa), berdasarkan Prasasti Siwagrha yang bertahun 778 Saka (856 Masehi). Trimurti dimuliakan dalam kompleks candi ini dengan tiga candi utamanya memuliakan Brahma, Siwa, dan Wisnu. Akan tetapi Siwa Mahadewa yang menempati ruang utama di candi Siwa adalah dewa yang paling dimuliakan dalam kompleks candi ini.

Kemegahan salah satu dari 3 candi utama (Candi Brahma) | Foto: Dokumentasi Pribadi

Komplek candi Prambanan terdiri dari 240 candi. 3 Candi Trimurti, yaitu candi Siwa, Wisnu, dan Brahma. Kemudian 3 Candi Wahana yaitu candi Nandi, Garuda, dan Angsa, kemudian 2 Candi Apit, 4 Candi Kelir, 4 Candi Patok dan 224 Candi Perwara. Candi Prambanan ini berfungsi sebagai tempat ibadah dan persembahan kepada para dewa Hindu. Candi Prambanan digunakan untuk upacara keagamaan dan ritual persembahan kepada Trimurti, tiga dewa utama Hindu. Candi Prambanan juga berfungsi sebagai candi agung Kerajaan Mataram. Pada tahun 2006, candi ini juga mengalami restorasi akibat gempa yang melanda Jogja. Candi ini termasuk dalam Situs Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO, status ini diberikan UNESCO pada tahun 1991.

Tidak terasa, diskusi yang begitu alot itu harus segera berakhir. Karena jam telah menunjukkan pukul 3 sore, menandakan persembahyangan Tilem di candi Prambanan akan segera dimulai. Saya, Kak Nur dan rombongan pun mengakhiri obrolan kami sore itu dan segera menuju komplek utama candi yakni di Candi Siwa, untuk melaksanakan persembahyangan bersama umat Hindu lain. Saya dan rombongan mengikuti persembahyangan sore itu dengan khusyuk. Begitu bersyukurnya saya, bisa datang dan melihat secara langsung mega karya indah ini. Mendengarkan sejarah berdirinya, serta melakukan persembahyangan disana, membuat saya begitu bersyukur dan bangga.

Persembahyangan Bersama di Candi Prambanan | Foto: Mpu Kuturan TV

Apabila kalian hendak berwisata ke tempat-tempat bersejarah, disamping menikmati pesona keindahannya tapi juga ingin mempelajari sejarah dan makna dibangunnya tempat itu, maka Candi Prambanan bisa menjadi rekomendasi yang pantang untuk dilewatkan. Harga tiket masuk Candi Prambanan untuk wisatawan domestik untuk dewasa (usia 10 tahun ke atas) sekitar 50 ribu rupiah per orang dan anak-anak yaitu 25 ribu rupiah per anak. Tiket wisatawan domestik ditujukan bagi Warga Negara Indonesia yang dibuktikan dengan KTP. Sedangkan Bagi wisatawan mancanegara tidak perlu menunjukkan KTP. Bagi wisatawan mancanegara dewasa (usia 10 tahun ke atas) dikenakan biaya Rp 400 ribu per orang dan untuk anak-anak sekitar 240 ribu rupiah. Informasi mengenai biaya masuk ini bisa didapatkan dari pos masuk.

Candi ini telah mengalami beberapa kali renovasi dan pemugaran. Di area candi ini juga terdapat fasilitas-fasilitas seperti area parkir yang luas, taman-taman disekitar komplek candi utama yang asri dan indah, toilet, kemudian guide. Dan yang paling menarik dan patut dicoba ketika hendak berkeliling untuk menikmati keindahan candi ini adalah dengan menyewa mobil golf (bagi rombongan). Sementara bagi yang datang sendirian atau berpasangan, bisa menyewa sepeda dengan tarif Rp 10 ribu (single bike) dan Rp 20 ribu (tandem bike). Namun sayangnya, toilet di sekitar komplek candi ini bisa terbilang cukup sedikit. Serta jaraknya yang begitu jauh dari komplek utama candi. Untuk memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan dan membuat nyaman para wisatawan, maka perlu diperbanyak fasilitas toilet di area sekitar candi.

Hingga hari sudah menunjukkan pukul 6 sore, persembahyangan telah usai. Saya dan rombongan bergerak meninggalkan area candi ini. Menuju tempat menginap kami di dekat Malioboro. Sepanjang perjalanan menuju tempat menginap, saya tak henti-hentinya bersyukur. Mengikuti serangakaian kegiatan Dharma Literacy Academy ini, nyatanya membawa saya untuk bisa datang secara langsung, mengetahui dan mempelajari mengenai Candi Prambanan ini. Saya harap, mungkin tidak di kegiatan ini lagi tapi dikegiatan lain, saya bisa diberikan kesempatan untuk mendatangi kembali tempat-tempat bersejarah lainnya. Datang, mengetahui, memahami, dan mempelajari adalah salah satu cara untuk mengenang dan berdamai dengan masa lalu. [T]

Bersejarah, Monumen Jagaraga Jadi Wisata Edukasi yang Menyenangkan
Diapit Tebing Kemerahan, Wisata Air Terjun Tembok Barak Pantang Dilewatkan
Tags: Candi Prambananlegendasejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dua Minggu Pasca IAF 2024: Menimbang Hasil, Tantangan, dan Prospek

Next Post

Mengenal Sonja Rohleder, Sang Animator dari Berlin yang Humanis

Putu Ayu Aprilia Aryani

Putu Ayu Aprilia Aryani

Mahasiswa Ilmu Komunikasi. Pencinta kucing yang percaya bahwa setiap interaksi, baik dengan manusia maupun hewan, memiliki cerita dan makna tersendiri.

Related Posts

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails
Next Post
Mengenal Sonja Rohleder, Sang Animator dari Berlin yang Humanis

Mengenal Sonja Rohleder, Sang Animator dari Berlin yang Humanis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co