2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam

Chusmeru by Chusmeru
February 20, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

MENGAJAR kelas Psikologi Komunikasi bagi Wisnawan Wijaya sangat mengasyikkan. Selain materi kuliah yang memang kekinian dengan kasus-kasus yang terjadi, mahasiswa peserta mata kuliah ini juga sangat aktif di kelas.

Mahasiswa biasa memanggil Wisnawan Wijaya dengan sebutan Mas Wis. Entah siapa yang memulai, panggilan Mas Wis hingga kini masih terus diberikan oleh mahasiswa. Mas Wis tidak pernah menolak panggilan itu. Bahkan dengan senang hati ia menerima panggilan itu. Di tengah usianya yang sudah menginjak 47 tahun, panggilan Mas membuatnya masih merasa muda.

Bukan tanpa alasan mahasiswa memanggil Mas Wis. Wajah Wisnawan Wijaya memang kekanak-kanakan. Mas Wis juga dilahirkan dari keluarga besar Jawa Tengah. Orang tuanya dari Kutoarjo, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Wajar jika ia mendapat sebutan Mas.

Mas Wis begitu dekat dengan mahasiswa. Itu karena dalam proses belajar mengajar Mas Wis tidak terlalu kaku. Ia memperlakukan mahasiswa seperti teman atau adik sendiri. Tak heran jika setiap mata kuliah Mas Wis selalu banyak diminati mahasiswa. Seperti mata kuliah Psikologi Komunikasi ini, pesertanya hingga 120 orang. Oleh karenanya mata kuliah ini dibagi menjadi tiga kelas: A, B, dan C.

Semester ini merupakan yang terpadat jadwal kuliah Mas Wis. Waktu kuliahnya pun kemudian menjadi hingga malam hari. Kuliah Psikologi Komunikasi kelas A ini mendapat jadwal kuliah agak malam, pukul 19.30 hingga 21.00. Nyaris setiap perkuliahan ini Mas Wis sampai di rumah larut malam. Apalagi bila Mas Wis membuat kuis dalam kuliah atau diskusi kelompok, perkuliahan bisa selesai lebih malam.

Mata kuliah Psikologi Komunikasi bagi mahasiswa dianggap mengasyikkan. Pokok bahasan mata kuliah ini banyak bersentuhan dengan isu-isu kekinian, seperti sikap, perilaku, maupun motivasi seseorang dalam melakukan tindakan. Mas Wis selalu mengaitkan materi kuliah dengan kasus-kasus yang terjadi saat ini, semisal sikap dan perilaku orang dalam menggunakan media sosial. Atau juga motivasi mahasiswa dikaitkan dengan relasi cinta. Tak heran jika mahasiswa selalu interaktif dalam perkuliahan.

***

Ruang kuliah untuk Psikologi Komunikasi kelas A berada di ruang 11 yang tidak terlalu luas, namun sangat nyaman. Ruangan yang sejuk ber-AC dengan kursi yang masih baru, membuat mahasiswa betah berada di kelas. Ruang ini sering diperebutkan oleh dosen-dosen, sehingga Mas Wis kebagian jadwal kuliah malam. Tak masalah baginya. Kuliah malam justru lebih asyik ketimbang siang hari yang sering membuat mahasiswa mengantuk.

Malam ini Mas Wis menjelaskan materi tentang faktor emosional seseorang yang berkaitan dengan rasa takut. Menurutnya, rasa takut dapat dipicu oleh hal-hal yang tidak diketahui dan tidak bisa dipastikan. Rasa takut juga dapat disebabkan mendengar dan melihat sesuatu atau mendapat informasi yang menakutkan.

Reaksi terhadap rasa takut bermacam-macam. Biasanya denyut jantung menjadi lebih cepat. Wajah menjadi pucat dan tubuh merasakan keringat dingin. Semua itu adalah reaksi psikologis yang disebabkan oleh perasaan takut.

“Coba Tio, sebutkan contoh yang memicu rasa takut,” perintah Mas Wis kepada Septio, mahasiswa yang duduk di barisan tengah.

“Melihat hantu Mas…,” jawab Tio membuat mahasiswa lain tertawa.

“Wahh… horor kamu Tio…,” komentar Mas Wis.

Jawaban Tio mungkin saja spontan. Namun kuliah di malam hari dengan menyebut hantu tentu sesuatu yang menyeramkan. Apalagi kampus tempat Mas Wis mengajar selama ini dikenal sebagai sarang hantu.

Mas Wis mengakhiri perkuliahan pukul 21.30, setengah jam lebih lama dari jadwal kuliah. Bukan lantaran jawaban Tio yang membuat kuliah dihentikan. Hari memang sudah mendekati tengah malam. Sementara besok pagi ia harus mengajar mata kuliah yang lain.

Mas Wis menuju tempat parkir mobil. Malam sudah menunjukkan pukul 22.00. Hanya ada beberapa mobil yang parkir di area kampus. Mahasiswa juga ada yang membawa mobil, tapi tidak lebih dari tiga orang. Sehingga area parkir seperti tampak lengang.

Saat hendak membuka pintu mobilnya, tiba-tiba Mas Wis dikejutkan dengan mobil dekanat yang parkir tidak jauh dari mobilnya. Mobil dekanat yang berpelat merah itu tampak bergoyang-goyang. Mas Wis tak habis pikir, mengapa mobil dekanat itu bergoyang. Pikirannya jadi agak curiga. Apalagi belum lama ini beredar viral video mesum mobil bergoyang di Gorontalo.

Tapi siapa yang berani berbuat mesum di dalam mobil dekanat? Begitu pikir Mas Wis. Mahasiswa tentu saja mustahil. Mobil itu pasti terkunci. Mahasiswa tak mungkin bisa masuk ke dalam mobil. Lagi pula mahasiswa mana yang berani kurang ajar di dalam mobil pimpinan fakultas.

“Apakah Pak Rudi, sopir pimpinan?”

Ah, tak mungkin. Mas Wis membantah sendiri pendapatnya. Mana mungkin sopir mobil dinas fakultas berani melakukan perbuatan tak senonoh malam hari di kampus.

Mas Wis memberanikan diri mendekati mobil dekanat yang masih bergoyang itu. Ia mengintip dari balik kaca, siapa yang ada di dalam mobil. Di kegelapan malam agak sulit baginya melihat secara jelas mobil yang berkaca gelap itu. Matanya berusaha lebih mendekat ke kaca mobil. Di bagian depan mobil dia tidak melihat siapa pun.

Betapa terkejutnya Mas Wis ketika matanya tertuju ke tempat duduk di bagian tengah mobil. Seorang perempuan berambut sebahu sedang duduk sambil menggoyangkan kakinya. Pakaiannya serba hitam. Wajah perempuan itu pucat. Matanya sembab memerah dengan tatapan kosong. Mas Wis meyakinkan diri dengan penglihatannya. Ia menggosok-gosok matanya. Kini tatapan perempuan itu malah mengarah kepada Mas Wis.

Seketika Mas Wis ketakutan. Detak jantungnya bertambah cepat. Keringat dingin mengucur dari kening dan lehernya. Apa yang tadi sempat dibahas dalam perkuliahan tentang ketakutan dan kecemasan kini ia rasakan. Ini bukan perempuan biasa, pikir Mas Wis.

Dia memutuskan untuk mundur, menjauh dari mobil. Ia tak mau berurusan dengan hantu perempuan yang menyeramkan di dalam mobil dekanat.

Secepatnya Mas Wis menghidupkan mesin mobilnya. Ia segera tancap gas pulang ke rumah. Berkali-kali ia menengok kaca spion di atas kepalanya, memastikan hantu perempuan yang ada di dalam mobil dekanat tidak mengikutinya. Bulu kuduknya masih berdiri dan rasa takutnya belum sirna ketika istrinya membukakan pintu rumah. Ia langsung minum air putih untuk menghilangkan rasa takutnya.

***

Ternyata bukan hanya Mas Wis yang menyaksikan mobil bergoyang tengah malam di kampus. Widya Novianti, dosen Komunikasi Pembangunan yang biasa dipanggil Novi, juga pernah mengalami hal serupa. Kejadiannya juga saat malam hari, setelah Novi selesai mengajar di program magister. Hal itu ia sampaikan ketika mendengar cerita Mas Wis saat mengobrol di ruang dosen.

Sangat jelas dalam penglihatan Novi, kala itu mobil dekanat yang diparkir di halaman kampus bergoyang-goyang. Awalnya Novi menduga mobil bergoyang karena ada gempa bumi. Namun ia keliru, karena hanya mobil dekanat itu yang bergoyang; sedangkan mobilnya dan mobil mahasiswa tidak ada yang bergoyang.

Sungguh mengerikan. Ketika Novi mendekati mobil dekanat itu, sosok perempuan berbaju hitam sedang menggoyangkan kakinya seraya meronta-ronta di dalam mobil. Lebih menyeramkan lagi, saat Novi mencoba melihat dari balik kaca jendela mobil, perempuan itu justru melotot kepadanya. Seolah penuh amarah, perempuan itu seperti hendak mencengkeram Novi.

Saat itu Novi sudah memastikan bahwa perempuan dalam mobil itu adalah hantu. Secepatnya ia berlari menuju mobilnya. Ia tak mau dicengkeram hantu perempuan itu. Tangan Novi gemetaran ketika hendak membuka pintu mobilnya. Novi hendak menjerit memanggil petugas jaga malam di kampus. Namun mulutnya terasa terkunci. Beruntung ia bisa mengendarai mobilnya sampai ke rumah dengan selamat.

Atas kejadian beruntun itu Mas Wis dan Novi melaporkan kepada Dekan Fakultas. Tentu saja Dekan terkejut mendengar cerita mereka berdua. Dekan segera memanggil Pak Rudi, sopir mobil dekanat. Pak Rudi pun kaget. Sebab ia pun pernah melihat sosok hantu perempuan di dalam mobil yang ia kemudikan dari kaca spion yang ada di atas kepalanya.

“Kok mobil dinas ada hantunya Pak Rudi?”, tanya Dekan.

Pak Rudi berpikir sejenak, lantas menjawab.

“Mungkin itu arwah perempuan yang pernah ditabrak mobil kita hingga meninggal oleh Pak Jayadi, sopir sebelum saya. Mungkin arwahnya masih belum sempurna,” jawab pak Rudi.

Tahun lalu mobil dekanat memang pernah menabrak seorang perempuan di luar kota saat ada perjalanan dinas. Waktu itu yang menyetir Pak Jayadi. Korban tewas di tempat. Pak Jayadi sudah diproses hukum akibat kelalaian yang menimbulkan hilangnya nyawa orang lain, dan harus mendekam di penjara.

“Terus bagaimana ini urusannya Pak Rudi?”, tanya Dekan ikut ketakutan juga.

“Nanti saya minta tolong Pak Sariman, dukun Ebeg di desa saya. Dia sering diminta orang untuk memindahkan hantu,” kata pak Rudi.

Malam harinya, Pak Sariman datang ke kampus. Pak Sariman adalah dukun atau dalang kesenian Ebeg atau Kuda Lumping. Ia biasa berurusan dengan makhluk gaib yang masuk ke dalam tubuh para pemain Ebeg. Pak Sariman pula yang kemudian harus mengeluarkan kembali makhluk gaib dari para pemain Ebeg.

Dekan, beberapa dosen, dan pegawai ikut hadir di tempat parkir mobil fakultas. Mas Wis dan Novi juga penasaran ikut hadir. Tepat pukul sepuluh malam, mobil dinas dekanat kembali bergoyang. Suasana mencekam sangat terasa di pelataran kampus. Hawa dingin terasa menyentuh kulit mereka.

Perlahan Pak Sariman mendekati mobil pelat merah yang biasa digunakan dekanat itu. Tampak ia membaca mantra, kemudian membuka pintu mobil. Mobil masih tampak bergoyang ketika Pak Sariman masuk ke dalam mobil. Semua yang ikut hadir menyaksikan larut dalam suasana menakutkan. Mereka terdiam, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sekitar lima belas menit Pak Sariman berada di dalam mobil. Sayup terdengar suara seorang perempuan menangis. Namun tidak semua orang mendengarnya. Hanya Mas Wis dan Novi saja yang mendengar suara tangisan itu. Tentu saja membuat mereka merinding. Sementara Dekan, pegawai, dan dosen lain tak mendengar suara apa pun.

Pak Sariman keluar dari mobil sambil menggendong perempuan. Usia Pak Sariman yang tidak lagi muda tampak seperti memikul beban berat. Mas Wis dan Novi melihat dengan jelas perempuan itu menangis dalam gendongan Pak Sariman. Orang-orang yang berada di pelataran kampus hanya merasakan hawa dingin tanpa mampu melihat perempuan yang digendong Pak Sariman.

“Dia masih ingin berada di mobil ini. Mobil yang telah merenggut nyawanya. Tapi tadi sudah saya bujuk untuk pindah. Nanti saya pindahkan ke pohon mahoni di ujung sana,” kata Pak Sariman sambil menunjuk pohon mahoni besar yang tumbuh di pojok halaman kampus.

Dengan tertatih-tatih Pak Sariman menggendong hantu perempuan di dalam mobil dekanat itu menuju pohon mahoni. Mas Wis dan Novi hanya bisa terpaku diam sambil memperhatikan setiap langkah Pak Sariman. Hantu perempuan itu sepertinya pasrah. Ia tak lagi menangis pilu. Saat pak Sariman menurunkan perempuan itu di dekat pohon, mendadak hilang dari pandangan Mas Wis dan Novi.

Kini hantu perempuan itu telah berada di tempat baru, di pohon mahoni kampus. Mas Wis dan Novi berharap tidak lagi melihat mobil bergoyang di tengah malam. Mereka juga berharap arwah perempuan itu tenang di alam sana. Sehingga mereka tidak lagi dibayangi ketakutan saat melewati pohon mahoni di kampus.

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen
Kampusku Sarang Hantu [7]: Suara Printer dan Keran Air Mengucur
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita bersambungcerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anak Muda yang Semangat dan Percaya Diri dalam Lomba Ngwacén Lontar Bulan Bahasa Bali

Next Post

Like Father, Not Like Son

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Kemping yang Mencekam

by Chusmeru
October 15, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails
Next Post
Like Father, Not Like Son

Like Father, Not Like Son

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co