1 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam

Chusmeru by Chusmeru
February 20, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

MENGAJAR kelas Psikologi Komunikasi bagi Wisnawan Wijaya sangat mengasyikkan. Selain materi kuliah yang memang kekinian dengan kasus-kasus yang terjadi, mahasiswa peserta mata kuliah ini juga sangat aktif di kelas.

Mahasiswa biasa memanggil Wisnawan Wijaya dengan sebutan Mas Wis. Entah siapa yang memulai, panggilan Mas Wis hingga kini masih terus diberikan oleh mahasiswa. Mas Wis tidak pernah menolak panggilan itu. Bahkan dengan senang hati ia menerima panggilan itu. Di tengah usianya yang sudah menginjak 47 tahun, panggilan Mas membuatnya masih merasa muda.

Bukan tanpa alasan mahasiswa memanggil Mas Wis. Wajah Wisnawan Wijaya memang kekanak-kanakan. Mas Wis juga dilahirkan dari keluarga besar Jawa Tengah. Orang tuanya dari Kutoarjo, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Wajar jika ia mendapat sebutan Mas.

Mas Wis begitu dekat dengan mahasiswa. Itu karena dalam proses belajar mengajar Mas Wis tidak terlalu kaku. Ia memperlakukan mahasiswa seperti teman atau adik sendiri. Tak heran jika setiap mata kuliah Mas Wis selalu banyak diminati mahasiswa. Seperti mata kuliah Psikologi Komunikasi ini, pesertanya hingga 120 orang. Oleh karenanya mata kuliah ini dibagi menjadi tiga kelas: A, B, dan C.

Semester ini merupakan yang terpadat jadwal kuliah Mas Wis. Waktu kuliahnya pun kemudian menjadi hingga malam hari. Kuliah Psikologi Komunikasi kelas A ini mendapat jadwal kuliah agak malam, pukul 19.30 hingga 21.00. Nyaris setiap perkuliahan ini Mas Wis sampai di rumah larut malam. Apalagi bila Mas Wis membuat kuis dalam kuliah atau diskusi kelompok, perkuliahan bisa selesai lebih malam.

Mata kuliah Psikologi Komunikasi bagi mahasiswa dianggap mengasyikkan. Pokok bahasan mata kuliah ini banyak bersentuhan dengan isu-isu kekinian, seperti sikap, perilaku, maupun motivasi seseorang dalam melakukan tindakan. Mas Wis selalu mengaitkan materi kuliah dengan kasus-kasus yang terjadi saat ini, semisal sikap dan perilaku orang dalam menggunakan media sosial. Atau juga motivasi mahasiswa dikaitkan dengan relasi cinta. Tak heran jika mahasiswa selalu interaktif dalam perkuliahan.

***

Ruang kuliah untuk Psikologi Komunikasi kelas A berada di ruang 11 yang tidak terlalu luas, namun sangat nyaman. Ruangan yang sejuk ber-AC dengan kursi yang masih baru, membuat mahasiswa betah berada di kelas. Ruang ini sering diperebutkan oleh dosen-dosen, sehingga Mas Wis kebagian jadwal kuliah malam. Tak masalah baginya. Kuliah malam justru lebih asyik ketimbang siang hari yang sering membuat mahasiswa mengantuk.

Malam ini Mas Wis menjelaskan materi tentang faktor emosional seseorang yang berkaitan dengan rasa takut. Menurutnya, rasa takut dapat dipicu oleh hal-hal yang tidak diketahui dan tidak bisa dipastikan. Rasa takut juga dapat disebabkan mendengar dan melihat sesuatu atau mendapat informasi yang menakutkan.

Reaksi terhadap rasa takut bermacam-macam. Biasanya denyut jantung menjadi lebih cepat. Wajah menjadi pucat dan tubuh merasakan keringat dingin. Semua itu adalah reaksi psikologis yang disebabkan oleh perasaan takut.

“Coba Tio, sebutkan contoh yang memicu rasa takut,” perintah Mas Wis kepada Septio, mahasiswa yang duduk di barisan tengah.

“Melihat hantu Mas…,” jawab Tio membuat mahasiswa lain tertawa.

“Wahh… horor kamu Tio…,” komentar Mas Wis.

Jawaban Tio mungkin saja spontan. Namun kuliah di malam hari dengan menyebut hantu tentu sesuatu yang menyeramkan. Apalagi kampus tempat Mas Wis mengajar selama ini dikenal sebagai sarang hantu.

Mas Wis mengakhiri perkuliahan pukul 21.30, setengah jam lebih lama dari jadwal kuliah. Bukan lantaran jawaban Tio yang membuat kuliah dihentikan. Hari memang sudah mendekati tengah malam. Sementara besok pagi ia harus mengajar mata kuliah yang lain.

Mas Wis menuju tempat parkir mobil. Malam sudah menunjukkan pukul 22.00. Hanya ada beberapa mobil yang parkir di area kampus. Mahasiswa juga ada yang membawa mobil, tapi tidak lebih dari tiga orang. Sehingga area parkir seperti tampak lengang.

Saat hendak membuka pintu mobilnya, tiba-tiba Mas Wis dikejutkan dengan mobil dekanat yang parkir tidak jauh dari mobilnya. Mobil dekanat yang berpelat merah itu tampak bergoyang-goyang. Mas Wis tak habis pikir, mengapa mobil dekanat itu bergoyang. Pikirannya jadi agak curiga. Apalagi belum lama ini beredar viral video mesum mobil bergoyang di Gorontalo.

Tapi siapa yang berani berbuat mesum di dalam mobil dekanat? Begitu pikir Mas Wis. Mahasiswa tentu saja mustahil. Mobil itu pasti terkunci. Mahasiswa tak mungkin bisa masuk ke dalam mobil. Lagi pula mahasiswa mana yang berani kurang ajar di dalam mobil pimpinan fakultas.

“Apakah Pak Rudi, sopir pimpinan?”

Ah, tak mungkin. Mas Wis membantah sendiri pendapatnya. Mana mungkin sopir mobil dinas fakultas berani melakukan perbuatan tak senonoh malam hari di kampus.

Mas Wis memberanikan diri mendekati mobil dekanat yang masih bergoyang itu. Ia mengintip dari balik kaca, siapa yang ada di dalam mobil. Di kegelapan malam agak sulit baginya melihat secara jelas mobil yang berkaca gelap itu. Matanya berusaha lebih mendekat ke kaca mobil. Di bagian depan mobil dia tidak melihat siapa pun.

Betapa terkejutnya Mas Wis ketika matanya tertuju ke tempat duduk di bagian tengah mobil. Seorang perempuan berambut sebahu sedang duduk sambil menggoyangkan kakinya. Pakaiannya serba hitam. Wajah perempuan itu pucat. Matanya sembab memerah dengan tatapan kosong. Mas Wis meyakinkan diri dengan penglihatannya. Ia menggosok-gosok matanya. Kini tatapan perempuan itu malah mengarah kepada Mas Wis.

Seketika Mas Wis ketakutan. Detak jantungnya bertambah cepat. Keringat dingin mengucur dari kening dan lehernya. Apa yang tadi sempat dibahas dalam perkuliahan tentang ketakutan dan kecemasan kini ia rasakan. Ini bukan perempuan biasa, pikir Mas Wis.

Dia memutuskan untuk mundur, menjauh dari mobil. Ia tak mau berurusan dengan hantu perempuan yang menyeramkan di dalam mobil dekanat.

Secepatnya Mas Wis menghidupkan mesin mobilnya. Ia segera tancap gas pulang ke rumah. Berkali-kali ia menengok kaca spion di atas kepalanya, memastikan hantu perempuan yang ada di dalam mobil dekanat tidak mengikutinya. Bulu kuduknya masih berdiri dan rasa takutnya belum sirna ketika istrinya membukakan pintu rumah. Ia langsung minum air putih untuk menghilangkan rasa takutnya.

***

Ternyata bukan hanya Mas Wis yang menyaksikan mobil bergoyang tengah malam di kampus. Widya Novianti, dosen Komunikasi Pembangunan yang biasa dipanggil Novi, juga pernah mengalami hal serupa. Kejadiannya juga saat malam hari, setelah Novi selesai mengajar di program magister. Hal itu ia sampaikan ketika mendengar cerita Mas Wis saat mengobrol di ruang dosen.

Sangat jelas dalam penglihatan Novi, kala itu mobil dekanat yang diparkir di halaman kampus bergoyang-goyang. Awalnya Novi menduga mobil bergoyang karena ada gempa bumi. Namun ia keliru, karena hanya mobil dekanat itu yang bergoyang; sedangkan mobilnya dan mobil mahasiswa tidak ada yang bergoyang.

Sungguh mengerikan. Ketika Novi mendekati mobil dekanat itu, sosok perempuan berbaju hitam sedang menggoyangkan kakinya seraya meronta-ronta di dalam mobil. Lebih menyeramkan lagi, saat Novi mencoba melihat dari balik kaca jendela mobil, perempuan itu justru melotot kepadanya. Seolah penuh amarah, perempuan itu seperti hendak mencengkeram Novi.

Saat itu Novi sudah memastikan bahwa perempuan dalam mobil itu adalah hantu. Secepatnya ia berlari menuju mobilnya. Ia tak mau dicengkeram hantu perempuan itu. Tangan Novi gemetaran ketika hendak membuka pintu mobilnya. Novi hendak menjerit memanggil petugas jaga malam di kampus. Namun mulutnya terasa terkunci. Beruntung ia bisa mengendarai mobilnya sampai ke rumah dengan selamat.

Atas kejadian beruntun itu Mas Wis dan Novi melaporkan kepada Dekan Fakultas. Tentu saja Dekan terkejut mendengar cerita mereka berdua. Dekan segera memanggil Pak Rudi, sopir mobil dekanat. Pak Rudi pun kaget. Sebab ia pun pernah melihat sosok hantu perempuan di dalam mobil yang ia kemudikan dari kaca spion yang ada di atas kepalanya.

“Kok mobil dinas ada hantunya Pak Rudi?”, tanya Dekan.

Pak Rudi berpikir sejenak, lantas menjawab.

“Mungkin itu arwah perempuan yang pernah ditabrak mobil kita hingga meninggal oleh Pak Jayadi, sopir sebelum saya. Mungkin arwahnya masih belum sempurna,” jawab pak Rudi.

Tahun lalu mobil dekanat memang pernah menabrak seorang perempuan di luar kota saat ada perjalanan dinas. Waktu itu yang menyetir Pak Jayadi. Korban tewas di tempat. Pak Jayadi sudah diproses hukum akibat kelalaian yang menimbulkan hilangnya nyawa orang lain, dan harus mendekam di penjara.

“Terus bagaimana ini urusannya Pak Rudi?”, tanya Dekan ikut ketakutan juga.

“Nanti saya minta tolong Pak Sariman, dukun Ebeg di desa saya. Dia sering diminta orang untuk memindahkan hantu,” kata pak Rudi.

Malam harinya, Pak Sariman datang ke kampus. Pak Sariman adalah dukun atau dalang kesenian Ebeg atau Kuda Lumping. Ia biasa berurusan dengan makhluk gaib yang masuk ke dalam tubuh para pemain Ebeg. Pak Sariman pula yang kemudian harus mengeluarkan kembali makhluk gaib dari para pemain Ebeg.

Dekan, beberapa dosen, dan pegawai ikut hadir di tempat parkir mobil fakultas. Mas Wis dan Novi juga penasaran ikut hadir. Tepat pukul sepuluh malam, mobil dinas dekanat kembali bergoyang. Suasana mencekam sangat terasa di pelataran kampus. Hawa dingin terasa menyentuh kulit mereka.

Perlahan Pak Sariman mendekati mobil pelat merah yang biasa digunakan dekanat itu. Tampak ia membaca mantra, kemudian membuka pintu mobil. Mobil masih tampak bergoyang ketika Pak Sariman masuk ke dalam mobil. Semua yang ikut hadir menyaksikan larut dalam suasana menakutkan. Mereka terdiam, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sekitar lima belas menit Pak Sariman berada di dalam mobil. Sayup terdengar suara seorang perempuan menangis. Namun tidak semua orang mendengarnya. Hanya Mas Wis dan Novi saja yang mendengar suara tangisan itu. Tentu saja membuat mereka merinding. Sementara Dekan, pegawai, dan dosen lain tak mendengar suara apa pun.

Pak Sariman keluar dari mobil sambil menggendong perempuan. Usia Pak Sariman yang tidak lagi muda tampak seperti memikul beban berat. Mas Wis dan Novi melihat dengan jelas perempuan itu menangis dalam gendongan Pak Sariman. Orang-orang yang berada di pelataran kampus hanya merasakan hawa dingin tanpa mampu melihat perempuan yang digendong Pak Sariman.

“Dia masih ingin berada di mobil ini. Mobil yang telah merenggut nyawanya. Tapi tadi sudah saya bujuk untuk pindah. Nanti saya pindahkan ke pohon mahoni di ujung sana,” kata Pak Sariman sambil menunjuk pohon mahoni besar yang tumbuh di pojok halaman kampus.

Dengan tertatih-tatih Pak Sariman menggendong hantu perempuan di dalam mobil dekanat itu menuju pohon mahoni. Mas Wis dan Novi hanya bisa terpaku diam sambil memperhatikan setiap langkah Pak Sariman. Hantu perempuan itu sepertinya pasrah. Ia tak lagi menangis pilu. Saat pak Sariman menurunkan perempuan itu di dekat pohon, mendadak hilang dari pandangan Mas Wis dan Novi.

Kini hantu perempuan itu telah berada di tempat baru, di pohon mahoni kampus. Mas Wis dan Novi berharap tidak lagi melihat mobil bergoyang di tengah malam. Mereka juga berharap arwah perempuan itu tenang di alam sana. Sehingga mereka tidak lagi dibayangi ketakutan saat melewati pohon mahoni di kampus.

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen
Kampusku Sarang Hantu [7]: Suara Printer dan Keran Air Mengucur
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita bersambungcerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anak Muda yang Semangat dan Percaya Diri dalam Lomba Ngwacén Lontar Bulan Bahasa Bali

Next Post

Like Father, Not Like Son

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Ajian Jaran Goyang

by Chusmeru
August 20, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails
Next Post
Like Father, Not Like Son

Like Father, Not Like Son

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co