2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Like Father, Not Like Son

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
February 20, 2025
in Esai
Like Father, Not Like Son

Penulis dan sang anak | Foto: Dok. pribadi

“Ayah, kakak mau sekolah SMA di sini, di kota ini, di sekolah yang sama dengan ayah dulu!“ Begitu tiba-tiba sulung saya mengajukan permintaan kepada saya, bapaknya.

Hari itu kami baru saja usai menikmati acara Car Free Day di seputaran Taman Kota Singaraja. Saat seruas jalan utama ditutup saat minggu pagi, dan segenap masyarakat tumpah ruah di sana dengan segala aktivitasnya. Entah karena suasana kota yang memikat hatinya, atau cerita-cerita saya saat mempromosikan SMA saya dulu.

Setiap ada kesempatan waktu dia bingung akan sekolah di mana dia selepas SMP nanti. Untuk diketahui, saat ini kami berdiam di kota lain, menyesuaikan dengan tempat kerja ayah bundanya, sebuah kota lebih kecil yang berjarak 2,5 jam perjalanan dari Singaraja.

Sulung saya sosok yang disiplin, paling tidak di antara semua saudaranya yang lain. Tanpa perlu menunggu perintah dia akan belajar saat waktunya tiba. Dan hanya akan main HP saat tugas sekolah maupun tugas dari bundanya sudah selesai dikerjakan.

Saat semester awal SMP dia mendapat peringkat terbaik di sekolahnya. Yang sayangnya tak dapat dia pertahankan di tahun-tahun berikutnya. Padahal yang saya amati tak ada yang banyak berubah dari cara belajarnya, tetap disiplin tanpa godaan berlebih dari lingkungan terutama dari gadget.

Saat itulah saya sempat menantangnya, “Kakak, ayah merasa kurang sregg dengan iklim kompetisi di sekolahmu hari ini. Kalau kau ingin tantangan yang sebenarnya maukah kau nanti sekolah SMA di tempat ayah dulu SMANSA Singaraja?”

Lalu saya lanjutkan lagi, “Sekolah yang bercorak egaliter, sekolah yang hanya melihat kemampuan siswanya tak memandang kau anak petani ataupun seorang putra bupati!“

Begitu saya berbusa membanggakan almamater saya. Mungkin ucapan ini yang ditangkap oleh jiwanya, jiwa muda yang ingin tantangan, keras tapi penuh sportifitas seperti yang pernah dirasakan ayahnya berpuluh tahun yang telah lewat.

Ya, begitulah manusia, dia lebih banyak mengingat hal-hal baik dari sebuah situasi dan cenderung ingin melupakan hal buruknya. Masa sekolah saya dulu di Singaraja juga begitu, banyak hal indah untuk dikenang tapi tak sedikit situasi buruk yang ingin saya kubur dalam di sanubari.

Cerita kurang baik ini sudah pernah saya tulis dan kirimkan beberapa ke media online di kota kita dan sampai dimuat biar sempat dibaca oleh khalayak yang luas. Salah satunya berjudul Gegar Budaya Si Anak Udik.  Tulisan itu menceritakan kisah kami si anak kampung yang berasal dari desa nun jauh dari kota.

Kami merasa tak bisa cepat beradaptasi dengan suasana baru, lingkungan baru yang jauh berbeda dengan keseharian kami di kampong. Saya sendiri di awal masa sekolah dihantui perasaan homesick yang parah. Hampir setiap ada kesempatan saya pulang kampung ke pelukan orang tua.

Tingkat kehadiran saya di kelas juga memprihatinkan, hampir 18 kali saya absen tanpa alasan, begitu termuat di rapport semesteran saya. Satu hal yang saya bahas di tulisan itu adalah kondisi terkini hari ini, dari kami alumni SMANSA Singaraja yang kebetulan berasal dari kampung yang sama dengan saya dan usianya juga sebaya dengan saya.

Secara umum mereka yang bisa melanjutkan kuliah selepas SMA menikmati kehidupan yang sukses dan bisa meningkatkan taraf hidup mereka. Tapi pada mereka yang mentok tak melanjutkan pendidikan, mungkin nasibnya tak seberuntung kita.

Seorang teman, adik kelas pas SMA dulu saat ini pulang kampung menjadi petani dan tetap melajang. Satu yang lain sekarang menjadi pasien rutin saya, dengan kesehatan fisik dan mental yang kurang begitu baik.

Penulis bersama anak dan istri di SMAN 1 Singaraja | Foto: Dok. pribadi

Mungkin cerita-cerita begini yang terlewat dari radar kita saat mengadakan reuni besar dulu. Mereka yang tak seberuntung kita, tak mampu lanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi karena kendala ekonomi padahal secara akademis cukup mumpuni. Mereka yang berasal dari pedalaman, yang tiba-tiba mengalami gegar budaya saat pertama tinggal di kota. Hal ini mau tak mau, suka tak suka akan mempengaruhi perkembangan psikologis nantinya, di sisa hidup mereka, betapapun kecilnya.

Barangkali ada baiknya, sebelum kita memilih sekolah kita mempertimbangkan hal-hal begini juga. Selain potensi akademis, kita juga perlu pertimbangkan kondisi perkembangan kejiwaan anak, tingkat kemandirian mereka. Dan yang tak kalah pentingnya juga kondisi ekonomi orang tuanya.

Sayang sekali anak-anak SMANSA yang berotak cerdas dan tak mampu melanjutkan ke bangku kuliah, kenapa tak dari awal mereka memilih sekolah vokasional misalnya. Dan hal hal begini jadi tanggung jawab siapa sebenarnya, orang tua, gurunya di sekolah? Lalu dimana peran pemerintah?

Mungkin terlalu melebar cerita saya. Singkatnya, sulung saya akhirnya sekolah di SMANSA Singaraja, menapaktilasi jejak bapaknya dengan memakai jalur nilai rapport SMP. Dan karena ini adalah permintaannya sendiri, jadi saya anggap saya sudah mempertimbangkan masak-masak untuk mengijinkannya sekolah di sini, dengan konsekuensi tinggal sendiri jauh dari kami kedua orang tuanya.

Setelah berjalan hampir 6 bulan, rasanya semua kekhawatiran saya tak terbukti. Enam bulan dilalui dengan baik, termasuk betah dia tinggal di sini. Dia tak mau sering ditengok orangtua ke sana, dan dalam sebulan tak mesti dapat pulang ke rumah  di Negara, tempat kami tinggal.

Sangat jauh berbeda dengan situasi yang dihadapi bapaknya  seperti tertulis di awal cerita ini.  Dan kalau ada teman-teman yang baca tulisan ini dan kebetulan bertemu dia di almamater kita, mungkin tak menyangka bahwa dia adalah anak saya.

Begitu masuk tahun ajaran baru, dia terpilih menjadi ketua kelas, sesuatu yang tak mungkin berani dilakukan bapaknya dulu. Beberapa saat kemudian dia mewakili kelasnya acara fashion show dalam rangka ulang tahun sekolah. Lalu terpilih lagi jadi ketua regu saat kemah akhir pekan sekolah di Desa Menyali. Beberapa hal yang rasanya mimpi untuk bisa saya lakukan saat SMA dulu.

Dan  terakhir yang membuat saya tak merasa cukup punya nasehat lagi untuknya adalah cerita istri beberapa hari yang lalu.

“Bunda, Kak Abi kemaren nembak teman cewek, tapi sayangnya ditolak!” Begitu curhatnya pada sang ibu.

Ya Tuhan, anak saya sudah jauh lebih progressif dibanding saya saat seusia dengannya. Bapaknya jangankan nembak cewek, ngomong sama teman wanita sudah gemetaran. Akhirnya memang begitu, like father, not like son. Kita kadang terlalu under-estimated pada anak-anak kita. Padahal kita belum tentu mampu lakukan apa yang mereka kerjakan saat seumuran mereka. Mudah-mudahan para sahabat banyak yang bernasib baik seperti saya. Tabikkk. [T]

Penulis: dr. Ketut Suantara
Editor: Adnyana Ole

Nasehat Seorang Kutu Buku Kepada Anak Lelakinya (Yang juga Mencintai Buku)
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa
Cerita Inspiratif Tentang Guru (Guru Saya)
Tags: anak-anakPendidikanSMAN 1 Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam

Next Post

Lontar, Generasi Muda, dan BBB 2025

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Lontar, Generasi Muda, dan BBB 2025

Lontar, Generasi Muda, dan BBB 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co