13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Like Father, Not Like Son

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
February 20, 2025
in Esai
Like Father, Not Like Son

Penulis dan sang anak | Foto: Dok. pribadi

“Ayah, kakak mau sekolah SMA di sini, di kota ini, di sekolah yang sama dengan ayah dulu!“ Begitu tiba-tiba sulung saya mengajukan permintaan kepada saya, bapaknya.

Hari itu kami baru saja usai menikmati acara Car Free Day di seputaran Taman Kota Singaraja. Saat seruas jalan utama ditutup saat minggu pagi, dan segenap masyarakat tumpah ruah di sana dengan segala aktivitasnya. Entah karena suasana kota yang memikat hatinya, atau cerita-cerita saya saat mempromosikan SMA saya dulu.

Setiap ada kesempatan waktu dia bingung akan sekolah di mana dia selepas SMP nanti. Untuk diketahui, saat ini kami berdiam di kota lain, menyesuaikan dengan tempat kerja ayah bundanya, sebuah kota lebih kecil yang berjarak 2,5 jam perjalanan dari Singaraja.

Sulung saya sosok yang disiplin, paling tidak di antara semua saudaranya yang lain. Tanpa perlu menunggu perintah dia akan belajar saat waktunya tiba. Dan hanya akan main HP saat tugas sekolah maupun tugas dari bundanya sudah selesai dikerjakan.

Saat semester awal SMP dia mendapat peringkat terbaik di sekolahnya. Yang sayangnya tak dapat dia pertahankan di tahun-tahun berikutnya. Padahal yang saya amati tak ada yang banyak berubah dari cara belajarnya, tetap disiplin tanpa godaan berlebih dari lingkungan terutama dari gadget.

Saat itulah saya sempat menantangnya, “Kakak, ayah merasa kurang sregg dengan iklim kompetisi di sekolahmu hari ini. Kalau kau ingin tantangan yang sebenarnya maukah kau nanti sekolah SMA di tempat ayah dulu SMANSA Singaraja?”

Lalu saya lanjutkan lagi, “Sekolah yang bercorak egaliter, sekolah yang hanya melihat kemampuan siswanya tak memandang kau anak petani ataupun seorang putra bupati!“

Begitu saya berbusa membanggakan almamater saya. Mungkin ucapan ini yang ditangkap oleh jiwanya, jiwa muda yang ingin tantangan, keras tapi penuh sportifitas seperti yang pernah dirasakan ayahnya berpuluh tahun yang telah lewat.

Ya, begitulah manusia, dia lebih banyak mengingat hal-hal baik dari sebuah situasi dan cenderung ingin melupakan hal buruknya. Masa sekolah saya dulu di Singaraja juga begitu, banyak hal indah untuk dikenang tapi tak sedikit situasi buruk yang ingin saya kubur dalam di sanubari.

Cerita kurang baik ini sudah pernah saya tulis dan kirimkan beberapa ke media online di kota kita dan sampai dimuat biar sempat dibaca oleh khalayak yang luas. Salah satunya berjudul Gegar Budaya Si Anak Udik.  Tulisan itu menceritakan kisah kami si anak kampung yang berasal dari desa nun jauh dari kota.

Kami merasa tak bisa cepat beradaptasi dengan suasana baru, lingkungan baru yang jauh berbeda dengan keseharian kami di kampong. Saya sendiri di awal masa sekolah dihantui perasaan homesick yang parah. Hampir setiap ada kesempatan saya pulang kampung ke pelukan orang tua.

Tingkat kehadiran saya di kelas juga memprihatinkan, hampir 18 kali saya absen tanpa alasan, begitu termuat di rapport semesteran saya. Satu hal yang saya bahas di tulisan itu adalah kondisi terkini hari ini, dari kami alumni SMANSA Singaraja yang kebetulan berasal dari kampung yang sama dengan saya dan usianya juga sebaya dengan saya.

Secara umum mereka yang bisa melanjutkan kuliah selepas SMA menikmati kehidupan yang sukses dan bisa meningkatkan taraf hidup mereka. Tapi pada mereka yang mentok tak melanjutkan pendidikan, mungkin nasibnya tak seberuntung kita.

Seorang teman, adik kelas pas SMA dulu saat ini pulang kampung menjadi petani dan tetap melajang. Satu yang lain sekarang menjadi pasien rutin saya, dengan kesehatan fisik dan mental yang kurang begitu baik.

Penulis bersama anak dan istri di SMAN 1 Singaraja | Foto: Dok. pribadi

Mungkin cerita-cerita begini yang terlewat dari radar kita saat mengadakan reuni besar dulu. Mereka yang tak seberuntung kita, tak mampu lanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi karena kendala ekonomi padahal secara akademis cukup mumpuni. Mereka yang berasal dari pedalaman, yang tiba-tiba mengalami gegar budaya saat pertama tinggal di kota. Hal ini mau tak mau, suka tak suka akan mempengaruhi perkembangan psikologis nantinya, di sisa hidup mereka, betapapun kecilnya.

Barangkali ada baiknya, sebelum kita memilih sekolah kita mempertimbangkan hal-hal begini juga. Selain potensi akademis, kita juga perlu pertimbangkan kondisi perkembangan kejiwaan anak, tingkat kemandirian mereka. Dan yang tak kalah pentingnya juga kondisi ekonomi orang tuanya.

Sayang sekali anak-anak SMANSA yang berotak cerdas dan tak mampu melanjutkan ke bangku kuliah, kenapa tak dari awal mereka memilih sekolah vokasional misalnya. Dan hal hal begini jadi tanggung jawab siapa sebenarnya, orang tua, gurunya di sekolah? Lalu dimana peran pemerintah?

Mungkin terlalu melebar cerita saya. Singkatnya, sulung saya akhirnya sekolah di SMANSA Singaraja, menapaktilasi jejak bapaknya dengan memakai jalur nilai rapport SMP. Dan karena ini adalah permintaannya sendiri, jadi saya anggap saya sudah mempertimbangkan masak-masak untuk mengijinkannya sekolah di sini, dengan konsekuensi tinggal sendiri jauh dari kami kedua orang tuanya.

Setelah berjalan hampir 6 bulan, rasanya semua kekhawatiran saya tak terbukti. Enam bulan dilalui dengan baik, termasuk betah dia tinggal di sini. Dia tak mau sering ditengok orangtua ke sana, dan dalam sebulan tak mesti dapat pulang ke rumah  di Negara, tempat kami tinggal.

Sangat jauh berbeda dengan situasi yang dihadapi bapaknya  seperti tertulis di awal cerita ini.  Dan kalau ada teman-teman yang baca tulisan ini dan kebetulan bertemu dia di almamater kita, mungkin tak menyangka bahwa dia adalah anak saya.

Begitu masuk tahun ajaran baru, dia terpilih menjadi ketua kelas, sesuatu yang tak mungkin berani dilakukan bapaknya dulu. Beberapa saat kemudian dia mewakili kelasnya acara fashion show dalam rangka ulang tahun sekolah. Lalu terpilih lagi jadi ketua regu saat kemah akhir pekan sekolah di Desa Menyali. Beberapa hal yang rasanya mimpi untuk bisa saya lakukan saat SMA dulu.

Dan  terakhir yang membuat saya tak merasa cukup punya nasehat lagi untuknya adalah cerita istri beberapa hari yang lalu.

“Bunda, Kak Abi kemaren nembak teman cewek, tapi sayangnya ditolak!” Begitu curhatnya pada sang ibu.

Ya Tuhan, anak saya sudah jauh lebih progressif dibanding saya saat seusia dengannya. Bapaknya jangankan nembak cewek, ngomong sama teman wanita sudah gemetaran. Akhirnya memang begitu, like father, not like son. Kita kadang terlalu under-estimated pada anak-anak kita. Padahal kita belum tentu mampu lakukan apa yang mereka kerjakan saat seumuran mereka. Mudah-mudahan para sahabat banyak yang bernasib baik seperti saya. Tabikkk. [T]

Penulis: dr. Ketut Suantara
Editor: Adnyana Ole

Nasehat Seorang Kutu Buku Kepada Anak Lelakinya (Yang juga Mencintai Buku)
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa
Cerita Inspiratif Tentang Guru (Guru Saya)
Tags: anak-anakPendidikanSMAN 1 Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam

Next Post

Lontar, Generasi Muda, dan BBB 2025

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Lontar, Generasi Muda, dan BBB 2025

Lontar, Generasi Muda, dan BBB 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co