14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
July 5, 2019
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Pasien terakhir sore itu cukup lama menyita waktu praktek saya. Dia adik teman SMP saya. Kami berbincang lama, tentang kabar si kakak, kesehatan bapak ibunya di rumah dan teman teman sepermainan masa kecil saya yang lain.

Saat pamit, dia menyalami saya, “Selamat berlibur, Pak Dokter, Lebaran kan dapat libur panjang? Pak dokter pulang kampung? Oya, Pak Dokter kampungnya di mana ?”

Saya terhenyak sesaat. Dan saya lupa apa jawaban saya waktu itu. Ingatan saya terlempar ke beberapa puluh tahun yang lalu. Saat saya pulang ke Tabanan mengisi waktu liburan bersama keluarga.  Bersama sepupu  di Tabanan kami bermain ke sawah, sensasi yang memang tak kami temui di gunung. Kami bercengkerama dengan ceria sepanjang pematang.

Saat melewati seorang bapak petani, beliau bertanya dengan nada serius, “ Kenapa lain sekali bicaranya, Gus dari Buleleng, ya?”

Tabanan, Buleleng, dari manakah asal saya yang sebenarnya?

Teringat tulisan Seno Gumiro Ajidarma dalam sebuah cerpennya. “Darimanakah asalnya kenangan? terbuat dari bahan apakah dia?”

Kenangan masa lalu saya terserak di banyak tempat. Kedua orang tua dari Desa Pandak Gede, Tabanan, yang sejak masa kakek dan nenek saya dulu sudah mulai merantau ke gunung di pelosok Buleleng ini. Saya sendiri lahir dan dibesarkan di Dapdap putih. Menghabiskan masa kanak kanak dan remaja di desa ini, menikmati masa masa sekolah di sini.

Dan saat sudah mulai membina sebuah keluarga, karena istri yang orang Jembrana dan bekerja di kantor Pemda Jembrana, ‘terpaksa’ memilih berdomisili di kota Negara atau dengan slengean bisa disebut kota Negaroa.

Jadi, kalau ada yang bertanya, Pak Dokter aslinya orang apa? Mungkin dengan sedikit sigug, saya akan jawab tegas. “Saya orang Bali, susah nyari orang seperti saya, orang tua Tabanan, lahir besar di Buleleng, keluarga tinggal di Jembrana.“  Terserah bagaimana reaksi yang bertanya.

Untuk perpindahan masyarakat ke tempat yang lain, kita mengenal beberapa istilah. Migrasi untuk yang pindah negara, transmigrasi untuk yang berbeda pulau, dan urbanisasi untuk yang pindah dari desa ke kota. Jadi untuk keluarga saya yang pindahnya dari satu desa ke desa lain berbeda kabupaten tapi masih satu pulau, barangkali belum ada istilah khusus yang diberikan.

Khusus untuk perantau dari daerah saya, dari Pandak, ada satu adagium khas yang sepertinya sampai sekarang masih terngiang sayup-sayup di ingatan masyarakat Bali sebagian. “Dasar orang Pandak, Cine Bali”

Saya sendiri entah mengapa, merasakan situasi kami sepertinya gambaran yang lebih sederhana dari saudara-saudara kita etnis Tionghoa tersebut. Biasanya tetua kami akan memilih lokasi di pusat keramaian, mencari nafkah di bidang perdagangan. Dan yang membedakan adalah warna kulit kami, keyakinan masih sama dengan orang Bali kebanyakan, dan ada nama ketut kadek di depan nama kami.

Dan karena merasa senasib itu, tak salah sampai saat ini saya tetap menjalin kontak dengan sahabat sahabat Tionghoa saya  sejak SMA di Singaraja dulu. Dan kalau  sesuatu yang kejam terjadi pada mereka, seperti pada saat peristiwa 98 itu. Saya merasakan kepedihan yang mendalam sebagai sesama anak bangsa, dengan takdir yang berbeda tipis di antara kami.

Keluarga saya sendiri mendiami sebuah kompleks pasar baru yang dibangun saat mulai berdirinya rezim orde baru. Sepetak lahan datar yang dibuatkan beberapa loss yang menyambung jadi satu di atas punggung bukit di daerah atas Busungbiu.

Tanpa menafikan kenangan yang lain dalam babakan kehidupan saya yang hampir mencapai setengah abad ini. Saya mengingat saat  kanak-kanak saya di sini sebagai kenangan terindah yang tak terlupakan seumur hidup saya. Saya sekolah di sebuah SD Inpres yang baru dibangun, kami berjalan sejauh 4 kilometer pulang pergi setiap hari selama 6 tahun.

Dan saya ingat kami anak-anak kompleks pasar pasti jadi yang pertama sampai di sekolah. Saya begitu menikmati masa masa SD tersebut. Saat jam sekolah pendek, atau di hari libur saya dan teman teman akan pergi ke sebuah tibuan untuk berenang sampai sore, bahkan tanpa makan siang selepas sekolah.

Kebetulan saya dan saudara-saudara mendapat nilai bagus dan ranking yang baik di sekolah. Jadi setiap malam rumah kami pasti penuh dengan teman teman sebaya, yang’katanya’ belajar bersama di rumah kami. Tapi waktu lebih banyak kami habiskan dengan bercanda, layaknya anak anak semuran kami. Dan saya tak bisa lupa, hampir tak pernah tidur sendiri saat saat itu. Minimal ada empat sampai enam kawan sebaya yang menginap di tempat kami. Bahkan ada satu teman yang bertahun tahun tak pernah tidur di rumahnya sendiri, karena nginepin saya.

Dan karena saya pecinta olahraga yang cukup fanatik, bahkan sampai saat ini. Kenangan terindah saya ada di lapangan hijau (coklat di tempat saya karena tak ada rumputnya, bahkan becek di musim penghujan). Setiap sore, terutama saat masa liburan dimana teman-teman yang sekolah di kota pasti pulang kampung. Pasti ada pertandingan seru di lapangan sebelah SMA TP 45 yang legendaris itu.

“Ayo kompleks pasar lawan banjar kledok ! “ begitu seruan terdengar di sore yang dingin itu. Bahkan dalam entitas terkecil pun, emosi lokalitas tak terhindarkan. “Ayooo”, jawab yang lain tanpa gentar.

Dan sore itu, di ketinggian 700 meter diatas permukaan laut, di lapangan yang tak berumput, kami seperti tak kenal lelah mengejar si kulit bundar, sampai tetes keringat terakhir demi membela nama kompleks pasar, tempat tinggal kami. Semangatnya bisa saya rasakan sampai detik ini, sebuah fanatisme tak berujung, yang tak rela tempat kelahiran ternistakan.

Benar benar kenangan yang sulit terlupakan, bagi saya pasti. Juga bagi teman-teman yang terlibat dalam permainan itu. Sering ada celetukan di media sosial. “Kapan kita main di lapangan Parikesit lagi? “ Yang sayangnya sekarang sudah berubah menjadi tempat parkir kendaraan siswa SMP.

Tapi tetap ada setitik retak, dalam sebuah bangunan yang seindah apapupun. Ada yang terasa hilang atau kurang dalam kenangan tersebut. Lokasi perantauan yang tanggung (tempat asal saya bisa ditempuh dalam waktu yang kurang lebih sama dengan ke kota kabupaten) membuat keluarga kami tak bisa berbaur seutuhnya dengan tempat dan masyarakat tempat kami merantau.

Dalam konteks kegiatan adat, kami menjalaninya setengah hati, dalam artian kami masuk menjadi warga desa adat di gunung, tetapi status kami d tempat asal juga tak lepas seluruhnya. Ada istilah ngampel untuk perantau seperti kami. Itu secara status, secara praktek pun, kami cukup berbeda dengan perantau-perantau dari daerah lain di Bali.

Untuk diketahui, desa saya temasuk daerah baru, sebuah hutan yang dibuka penjajah Belanda di awal abad ke 20 ini. Masyarakatnya berasal dari berbagai daerah di Bali. Bahkan ada banjar tetangga yang penduduknya berasal dari seluruh kabupaten di Bali. Mereka karena jumlahnya banyak kepala keluarga, dan tempat asalnya lebih jauh dibandingkan kami. Memutuskan bergabung secara utuh dengan masyarakat disana, baik secara kedinasan maupun adat.

Jadi masa kecil sampai remaja kami, tak diisi dengan kegiatan metulungan saat ada tetangga nelubulanin, nikah ataupun sekedar melaspas rumah atau tempat suci. Karena kami sendiri melaksanakan semua kegiatan itu di tempat asal. Jadi sesuai hukum timbal balik (selisihan dalam bahasa Bali), kurang begitu banyak kami terlibat dalam kegiatan adat di tempat rantauan kami tersebut. Walaupun secara nyata saya sendiri kelahiran disana.     

Akhirnya mungkin kita perlu mendengar kembali ucapan bijak presiden John F Kennedy, presiden Amerika yang termasyur itu : ” Jangan tanya apa yang diberikan negara kepadamu, tapi tanyalah apa yg bisa kau berikan kepada negaramu?” Dalam konteks ini saya menemukan pembelaan untuk situasi yang saya alami.

Terlepas dari saya yang cuma lahir disini, tapi berasal dari tempat lain. Saya ingin memberikan sesuatu yang berguna, berperan serta untuk kemajuan desa tempat saya lahir dan dibesarkan, tempat teman teman masa kecil saya, tempat keluarga kami mendapatkan rejeki selama tiga generasi. Dan dengan  saya berpraktek disini, saya merasa sedikit bisa membayar hutang kami tersebut.

Bahkan biasanya saya tak keberatan kalau diminta memeriksa pasien yang tak bisa datang ke tempat praktek, di rumahnya sendiri  Tapi itupun sebenarnya masih bisa diperdebatkan, karena saya juga menarik jasa dari mereka untuk pelayanan saya. Sehingga saya punya satu impian yang saya pendam dari dulu, dan saya rasa  mampu untuk mewujudkannnya. Meningkatkan kegemaran membaca generasi penerus kita, di zaman digital ini. Terutama anak anak dan remaja di desa saya dan sekitarnya.

Dan obsesi saya itu saya coba rintis dengan program Buleleng  Berbagi Buku, yang mungkin nanti akan  saya bahas dalam tulisan menyendiri.

Setelah merenung cukup lama, mengenang kembali dan terutama setelah menulis cerita ini. Kalau nanti siapapun yang bertanya : ”Bapak kampungnya di mana”? Maka jawaban saya sudah pasti, seperti sebuah status saya di akun FB yang disukai lebih dari seratus orang. Dengan bangga akan saya jawab: “Saya dari Dapdap Putih “. [T]

Tags: bulelengBusungbiudokterjembranaLiterasipenduduktabanan
Share184TweetSendShareSend
Previous Post

“Territorium, A Visual Concert Performance” di Bentara Budaya Bali

Next Post

Penghargaan 11 Seniman – Besar Pengabdiannya, Besar Perhatian Pemerintah, Kecil Hadiahnya…

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Penghargaan 11 Seniman – Besar Pengabdiannya, Besar Perhatian Pemerintah, Kecil Hadiahnya…

Penghargaan 11 Seniman – Besar Pengabdiannya, Besar Perhatian Pemerintah, Kecil Hadiahnya…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co