24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Inspiratif Tentang Guru (Guru Saya)

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
December 3, 2019
in Esai
Cerita Inspiratif Tentang Guru (Guru Saya)

Bersama guru SMP saya dan guru pengajar Bahasa Indonesia saat SMA

Hari-hari terakhir ini laman media sosial kita disibukkan oleh sosok guru. Terkait perayaan Hari Guru yang katanya terinspirasi kelahiran Ki Hajar Dewantara dan juga kehadiran sosok muda dan berbahaya di kursi tertinggi Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan, yang secara langsung maupun tak langsung mempengaruhi kehidupan dan keseharian sosok guru dalam lima tahun mendatang dengan kebijakan kebijakan yang beliau ambil.

Saya tak akan masuk kepada klise, bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, bahkan tanpa balas jasa (menurut seorang teman) karena hal itu seperti mengurai benang kusut yang tak tahu mesti darimana kita memulainya.

Ijinkan saya untuk bercerita tentang guru guru saya, yang telah mengantarkan saya sampai pada titik ini. Guru sebagai  seorang manusia  yang tak lepas dari cacat, dan tak luput dari kelalaian.

Begitu banyak guru dari saya SD sampai kuliah sarjana dulu yang mewarnai kehidupan saya, dan tak adil rasanya kalau saya mesti menempatkan mereka dalam sebuah pemeringkatan. Saya hanya ingin menceritakan sebagian darinya tanpa mengurangi hormat dan cinta saya kepada yang lainnya.

Sosok pertama yang ada di benak saat mendengar kata guru, pasti guru SD saya. Guru yang pertama saya kenal dan paling lama mengajar saya. Hampir 5 tahun beliau menjadi wali kelas saya.

Saya merasakan cinta yang tulus layaknya seorang bapak kalau berada di dekatnya (bahkan sampai hari ini). Beliau menyemai cinta saya pada bacaan. Saat ada buku baru koleksi perpustakaan, maka saya lah yang paling dulu diberikan kesempatan untuk membcanya, bahkan diijinkan untuk membawa pulang.

Satu yang tak mampu saya lupakan dan bahkan saya warisi sampai saat ini adalah kekaguman beliau pada negara Inggris, sebagai negeri penguasa lautan dan tak terkalahkan dalam perang. “ Siapa berani melawan Inggris di lautan, pasti kalah, apalagi kalau cuma negara kecil seperti Argentina”, begitu cerita beliau pada suatu kesempatan . Kebetulan waktu itu sedang hangat hangatnya berita tentang perang Malvianas antara Inggris dan Argentina di ujung selatan benua Amerika itu.

 Dari apa yang saya baca di kemudian hari memang demikian adanya, Napoleon dan Hitler tak mampu menaklukkan bangsa Inggris. Saya pun sampai saat ini adalah penggemar berat tim nasional Inggris untuk urusan Sepakbola. Bukan karena permainannya yang indah, lebih kepada semangat pantang menyerah yang memang mereka warisi dari pendahulunya dahulu.

Guru saya yang lain, adalah sosok guru yang ideal menurut saya. Kebetulan dia mengampu tiga bidang studi yang sepertinya memang lebih menitik beratkan kemampuan otak kanan. Yaitu bidang studi olah raga, kesenian dan ketrampilan. Beliau mengajarkan kami membuat puisi, naskah drama dan terus memainkannya di depan kelas. Dibidang ketrampilan beliau menyuruh kami belajar mengulat ketupat, membuat stempel dari umbi keladi, membuat gambar mozaik dari daun pisang yang kering.

Dan yang paling membekas bagi saya adalah saat disuruh memanfaatkan ketela pohon dari awal sampai akhir dan bisa dimakan. Minggu pertama beliau menyuruh kami membawa ketela dari rumah, lalu di sekolah ketela itu kami kupas dan potong kecil kecil (cacah ) lalu dibawa pulang dan disuruh menjemur setiap hari sampai kering. Lalu beberapa hari kemudian ketela yang telah kering itu dibawa lagi ke sekolah untuk kemudian ditumbuk halus menjadi serbuk halus menyerupai tepung.

Dan langkah terakhir tiga hari kemudian kami lanjut memasak penganan yang berbahan dasar tepung ketela tadi. Jadi hari itu kami membuat jajanan kolak onde onde yang nikamt dan manis dari ketela pohon mentah yang kami bawa beberapa minggu sebelumnya. Benar benar sebuah proses yang lengkap dalam menambah nilai sebuah bahan makanan.  Saya meragukan apakah guru guru anak saya sekarang bisa menyamai atau justru melebihi kreativitas yang orisinil dari guru saya tersebut.

Guru berikutnya adalah sosok yang semakin mematrikan kecintaan saya pada keindahan kata kata dan bahasa Indonesia. Guru bahasa saya di SMA selalu hadir dengan ide ide  baru bagi saya tentang Bahasa Indonesia. Pada satu kesempatan dia bertanya kepada kami setelah menuliskan sebuah kalimat di papan tulis.” I shall return”,diucapkan oleh tokoh ini saat dipaksa meninggalkan Philipina. Siapakah orang ini?, tanya beliau.

Saya yang kebetulan sudah suka membaca menjawab dengan yakin. Benigno Aquino, suami Cory aquino yang diusir oleh pemerintah Marcos. Bukan, jawab beliau singkat, and tak ada yang lain menjawab. Ini adalah kata kata panglima perang Amerika di Pasifik, Douglas McArthur saat pasukannya terusir dari Philipina di awal tahun 40-an. Dan dia membuktikan ucapannya berapa tahun berselang, saat Jepang menyerah tanpa syarat dalam perang dunia ke2.

Dialah pimpinan tertinggi pasukan Amerika yang melucuti tentara Jepang yang tersisa dan memimpin perode peralihan di Jepang pasca perang dengan bijaksana dan menghormati Kaisar Hirohito sebagai pihak yang kalah perang.

Pada kesempatan yang lain, guru saya ini menuliskan sebait puisi di papan tulis dan kita para murid diminta untuk menafsirkan puisi tersebut. Saya masih ingat jelas bunyinya :

                Sepasang bambu muda

                Rembulan tersenyum diantaranya

“Coba siapa diantara kalian yang bisa menafsirkan bait puisi ini?”, tantang beliau dengan suaranya yang berwibawa. Empat sampai lima anak coba memberi tafsiran, dari yang pendek sampai yang lumayan berbusa. Tapi tak satupun yang seseuai dengan harapan beliau.

Untuk memenuhi rasa penasaran kami, beliau menjawab singkat. ”Menurut Bapak, bait puisi itu meyiratkan kearifan”.

Benar benar berkesan cara beliau mengenalkan puisi untuk kami, dan sampai detik ini kejadian itulah salah satu pengungkit saya mencintai sastra Indonesia.

Guru- guru di awal orde lama, menurut bapak saya diambil begitu saja dari mereka yang telah tamat SD waktu itu. Kebetulan bapak yang tamatan SD (SR)  juga ditawari. Dan karena merasa kehidupan seorang guru tak menjanjikan secara ekonomi, beliau melepasnya dan lebih memilih untuk berdagang ke gunung.

Sementara seingat saya sendiri, teman teman yang dari kelas pavorit di Singaraja waktu SMA, jarang bahkan tak ada yg memilih sekolah keguruan. Mereka beramai- ramai mencari sekolah ke pulau Jawa, meskipun harus di perguruan tinggi swasta sekalipun.

Bisa ditarik kesimpulan ringan, mereka yang memilih profesi guru barangkali bukanlah orang orang terbaik dari suatu generasi. Tanpa mengurangi rasa hormat pada guru-guru saya, kualitas pendidikan seperti apa yang bisa diharapkan dari mereka yang memilih pendidikan keguruan sebagai cadangan terakhir saat tak diterima di fakultas lain misalnya. Tanpa menafikan bahwa mereka  yang bukan orang orang terbaik sekalipun, sudah mampu menjadi seorang guru yang pantas saya kenang seumur hidup saya, seperti ketiga guru saya diatas tadi. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kualitas pendidikan kita nantinya saat yang terbaik dari satu generasi tertarik untuk menjadi guru. Saya dengar ini sudah dipraktekkan di Finlandia, saat guru di tingkat paling dasar pun bergelar magister, dan dengan gaji yang sangat layak , sehingga hanya yang terbaik bisa menjadi guru.

Dan terlihat akhir akhir ini, apalagi setelah adanya remunerasi  guru. Kecenderungan anak-anak muda kita ( mudah mudahan yang terbaik ikut juga ) untuk menjadi guru terlihat meningkat signifikan,. Tinggal kita tunggu dengan optimis, kapan tiba waktunya buat  mereka  menempati kursi kursi ruang guru yang kosong ditinggalkan oleh generasi pendahulunya yang akan pensiun. Saat itulah kita bisa berharap lebih banyak tentang masa depan pendidikan di negeri ini.

Satu yang cukup aneh, dengan profesi saya saat ini pastilah banyak dosen-dosen yang berperan  besar sampai saya bergelar dokter. Tapi tak satupun yang bisa saya ingat dengan baik, kecuali memang dosen yang suka membanyol dalam memberi kuliah. Mungkin ini terkait dengan minat dan ketertarikan pada mata kuliah yang diampu dosen tersebut, dan saya merasa memang ketertarikan saya pada bahasa melebihi  medis sampai saat ini.

Profesi dosen dianggap jauh lebih terhormat dari guru, setidaknya untuk saat ini, dan khusus di Indonesia barangkali. Ini mungkin terkait jenjang karier yang lebih jelas dan tak terbatas dibanding guru misalnya. Dan yang kedua kemungkinan untuk melanjutkan ke luar negeri sesuai disiplin ilmu yang dipelajari, Tapi dalam hal peran sertanya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa secara umum, para guru saya rasa tak perlu berkecil hati untuk itu. Buktinya saya sendiri merasa lebih terungkit minat belajar dan bisa mengingat guru guru saya dibanding dosen dosen saya.

Akhirnya seperti biasa, ini murni opini pribadi penulis dari kacamata yang dialami dan dirasakannya sendiri. Siapa tahu bapak Nadiem Makariem membaca tulisan ini dan beliau mempunyai sudut pandang yang lain setelah membacanya. Dan pada saatnya beliau siap kalau ada yang bertanya  dengan menyitir syair sebuah lagu :

Mau dibawa kemana pendidikan (guru-guru) kita … [T]

Tags: guruHari GuruPendidikan
Share108TweetSendShareSend
Previous Post

Biar Telat Asal Ideal – [Catatan Wisuda Gita Wiastra, Suami Tercinta]

Next Post

Seni Anak Usia Dini: Terikat dengan Kebebasan

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Seni Anak Usia Dini: Terikat dengan Kebebasan

Seni Anak Usia Dini: Terikat dengan Kebebasan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co