3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni Anak Usia Dini: Terikat dengan Kebebasan

Komang Astiari by Komang Astiari
December 3, 2019
in Esai
Seni Anak Usia Dini: Terikat dengan Kebebasan

Lukisan Gde Cahaya Bhaskara Ananda Cita

Tulisan ini tidak bisa dianggap serius karena dibuat oleh seorang emak-emak yang tengah menunggui kedua anaknya latihan karate. Yang satu usia 9 tahun. Satunya lagi usia 7 tahun. Emak-emak ini lebih memilih untuk memasak ide yang muncul di hape. Duduk mojok nampak bagai autis. Emak-emak itu bercerita seperti ini:

Suatu ketika, sepulang sekolah, anak saya yang nomor dua, menggambar di selembar kertas dan menunjukkannya kepada saya. Katanya itu gambar ayam, dan benar saja gambarnya sangat mirip ayam, kepala, jambul, dua kaki dan sayap. Ada satu mata karena gambarnya menghadap ke samping. Awalnya saya kagum sekaligus bertanya-tanya, bagaimana dia bisa menggambar ayam dengan detail. Di rumah kami tidak punya ayam. Saya pun tak pernah mendikte nya untuk menggambar bentuk. Usut kali usut, ternyata ibu gurunya di sekolah yang mengajarinya. Di hari-hari berikutnya, dia menunjukkan gambar satu keranjang yang berisi buah strawberi, semangka, apel dan jeruk. Dan tentu saja, atas arahan gurunya di sekolah.

Bagi saya ini hal unik sekaligus membuat galau. Menggambar selalu berhubungan dengan imajinasi. Imajinasi adalah hal yang luas dan bebas serta sangat liar dan dinamis. Imajinasi yang tinggi membuat seorang anak menjadi kreatif menghasilkan satu hal dari perspektif berbeda. Jika ibu guru mengarahkan anak menggambar secara spontan tentu dia akan kehilangan satu proses dalam kegiatan seninya dan itu mematikan satu usaha dan eksperimennya. DI hari berikutnya anak saya minta dibuatkan gambar bayi dan kakaknya yang sedang membacakan adiknya buku. Saya menolak dan meyakinkan bahwa dia bisa membayangkannya sendiri serta menggambarkannya. Saya meyakinkan bahwa dia punya imajinasi yang bisa dipakai untuk membuat dan menciptakan apapun. Dia mulai membayangkan dan melukiskannya. Sejak saat itu dia lebih banyak melakukan kegiatan menggambarnya sendiri meskipun kadangkala dia masih rewel minta dibuatkan ini itu.

Orang tua pada umumnya seringkali mengambil sikap ngotot bahwa seorang anak yang menikmati melukis atau menggambar kelak akan menjadi seniman. Beberapa orang tua menganggap bahwa anak-anak (usia dini) harus diarahkan untuk memenangkan perlombaan, karena disamping sebagai bentuk pengakuan atas kemampuan anaknya, memenangkan perlombaan juga menjadi kebanggaan. Anak-anak yang masih berusia dini, sebut saja Taman kanak-kanak, mereka memiliki keinginan sangat besar untuk bereksperimen. Otak mereka didominasi oleh otak kanan. Lebih banyak dipenuhi oleh khayalan, fantasi, imajinasi. Maka tak heran jika banyak orang tua mendapati anaknya melamun dan berbicara atau bermain sendiri dan menciptakan tokohnya sendiri. Anak-anak dan imajinasi adalah dua hal yang melekat dan tak terpisahkan.

Kemampuan menggambar yang ada pada setiap anak usia dini berbeda-beda. Ketika orang dewasa menganggap sebuah lukisan karya anak adalah suatu hasil akhir yang patut dibanggakan baik dari sisi bentuk,  komposisi , warna dan ide, namun tak demikian bagi anak. Mereka cenderung mencoba dan mencoba terus hingga mendapatkan bentuk yang disebut hasil akhir atau hasil karya oleh orang dewasa. Bagi anak, eksperimen bentuk berulang dan terus menerus adalah hal  yang menyenangkan. Ketika satu bentuk dianggap menggoda, maka bentuk itu akan dibuat lagi pada eksperimen berikutnya hingga dia menemukan bentuk yang diinginkan. Secara singkat, melakukan kegiatan seni melukis adalah proses yang harus dilalui dan sangat dinikmati oleh anak-anak usia dini khususnya dibawah 7 tahun.

Kesalahkaprahan para guru usia dini yang mengajarkan anak didiknya menggambar sesuai dengan runutan atau tuntunan sang guru merupakan hal yang patut diperhatikan. Beberapa fase dialami oleh anak ketika dia menggambar seperti membuat garis lurus vertikal, horizontal, garis melengkung, zig-zag, kotak, lingkaran. Semua dilakukan dengan spontan oleh anak-anak. Sekali lagi, mereka bereksperimen. Anggap saja di  hari pertama dia membuat lingkaran. Di hari berikutnya dia membuat lingkaran lagi namun kali ini dengan lingkaran-lingkaran kecil lainnya. Di hari berikutnya, dia membuat garis yang membagi lingkaran itu atau membuat garis di luar lingkaran. Lalu dia mulai membuat matahari. Anak-anak membayangkan dua bola mata dan satu mulut tersenyum lalu membuatnya di dalam lingkaran matahari. Proses ini menyenangkan terutama anak-anak yang memiliki kecerdasan visual lebih besar daripada kecerdasan-kecerdasan lainnya. Namun semua anak memilki imajinasi, dan ketertarikan memang tidak bisa dipaksakan. Beberapa anak lebih menikmati membuat cerita atas gambar yang dia buat dan mampu menceritakan kembali kisah yang dia dengar. Ini berkaitan dengan kecerdasan linguistik.

Terkait dengan lomba mewarnai untuk anak usia dini, memanglah tidak salah. Semua kembali lagi kepada opini masing-masing. Namun melihat kompleksitas otak anak usia dini dan kemampuan visual serta kenikmatan bereksperimennya, masihkah kita sebagai orang dewasa tega memenjarakan proses itu untuk menjadi produk yang ‘notabene’ dibanggakan oleh orangtua sebagai prestasi? Saya rasa bicara masalah kreativitas sebagai sesuatu yang sangat autentik, murni, yang bersifat kebaruan dan tanpa meniru, semua terletak pada anak-anak. Kreativitas adalah hal yang kelak diperlukan hingga dewasa terutama dalam menghadapi permasalahan hidup, mencari solusi alternatif. Bukankah hidup bagaikan permainan catur? Strategi

Strategi cerdas hasil imajinasi dan kreativitas dibutuhkan untuk mengatasi tantangan hidup. Apalagi kita,orang dewasa sudah paham, hidup kadang suka bercanda kan? Sayangnya kreativitas ( untuk melawan lelucon hidup  yang menyedihkan) menjadi hal nomor kesekian dan seringkali diabaikan oleh orangtua.

Bicara tentang imajinasi di atas, lomba melukis yang mencari pemenang 1, 2, dan 3, semua menuntut keteraturan, keserasian, keharmonisan serta komposisi, keteraturan dari juri. Ini mematikan spontanitas anak, eksperimen untuk sebuah hal yang disebut produk dan kebanggaan oleh orang tua. Tentu akan sangat bijaksana jika perlombaan yang dirancang untuk anak-anak usia dini dikaji ulang. Misal menjadi lomba melukis/ mewarnai/ membuat sketsa dengan “tema bebas” lalu anak-anak diberikan kesempatan untuk menjelaskan apa yang dia gambar. Anak-anak mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi apa  yang menjadi pemikiran uniknya. Bukankah itu kebanggaan sesungguhnya?

Dengan membahas lomba alternatif untuk anak usia dini, maka tulisan ini ditutup dengan segala kerendahan hati. Bagaimanapun dia hanyalah seorang emak-emak yang merasakan kegalauan. Sebetulnya ada keinginan melihat anaknya juara melukis. Membayangkan bangganya nama anaknya dipanggil. Tapi ya sudahlah. Si emak memilih untuk membiarkan saja imajinasi liar si anak tumbuh sesuai fasenya. Dengan ‘speed’ yang normal. Tugasnya hanya mengantar. Mengawasi. Biarkanlah mereka kelak bersahabat dengan hidup. [T]

 –(Catatan tidak penting tapi dibikin penting: Emak yang dimaksud dalam tulisan ini adalah penulis sendiri)

Tags: anak-anakSeni Rupa
Share185TweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Inspiratif Tentang Guru (Guru Saya)

Next Post

Manusia Tattwa – [Membaca Kelindan Pikiran IBM Dharma Palguna]

Komang Astiari

Komang Astiari

Lahir 28-02-1984. Lulusan Sastra Inggris Universitas Warmadewa Denpasar. Ibu dua anak ini punya ketertarikan besar pada bidang seni, terutama melukis dan menulis. Beberapa lukisannya menjadi ilustrasi di tatkala.co

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Manusia Tattwa - [Membaca Kelindan Pikiran IBM Dharma Palguna]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co