24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni Anak Usia Dini: Terikat dengan Kebebasan

Komang Astiari by Komang Astiari
December 3, 2019
in Esai
Seni Anak Usia Dini: Terikat dengan Kebebasan

Lukisan Gde Cahaya Bhaskara Ananda Cita

Tulisan ini tidak bisa dianggap serius karena dibuat oleh seorang emak-emak yang tengah menunggui kedua anaknya latihan karate. Yang satu usia 9 tahun. Satunya lagi usia 7 tahun. Emak-emak ini lebih memilih untuk memasak ide yang muncul di hape. Duduk mojok nampak bagai autis. Emak-emak itu bercerita seperti ini:

Suatu ketika, sepulang sekolah, anak saya yang nomor dua, menggambar di selembar kertas dan menunjukkannya kepada saya. Katanya itu gambar ayam, dan benar saja gambarnya sangat mirip ayam, kepala, jambul, dua kaki dan sayap. Ada satu mata karena gambarnya menghadap ke samping. Awalnya saya kagum sekaligus bertanya-tanya, bagaimana dia bisa menggambar ayam dengan detail. Di rumah kami tidak punya ayam. Saya pun tak pernah mendikte nya untuk menggambar bentuk. Usut kali usut, ternyata ibu gurunya di sekolah yang mengajarinya. Di hari-hari berikutnya, dia menunjukkan gambar satu keranjang yang berisi buah strawberi, semangka, apel dan jeruk. Dan tentu saja, atas arahan gurunya di sekolah.

Bagi saya ini hal unik sekaligus membuat galau. Menggambar selalu berhubungan dengan imajinasi. Imajinasi adalah hal yang luas dan bebas serta sangat liar dan dinamis. Imajinasi yang tinggi membuat seorang anak menjadi kreatif menghasilkan satu hal dari perspektif berbeda. Jika ibu guru mengarahkan anak menggambar secara spontan tentu dia akan kehilangan satu proses dalam kegiatan seninya dan itu mematikan satu usaha dan eksperimennya. DI hari berikutnya anak saya minta dibuatkan gambar bayi dan kakaknya yang sedang membacakan adiknya buku. Saya menolak dan meyakinkan bahwa dia bisa membayangkannya sendiri serta menggambarkannya. Saya meyakinkan bahwa dia punya imajinasi yang bisa dipakai untuk membuat dan menciptakan apapun. Dia mulai membayangkan dan melukiskannya. Sejak saat itu dia lebih banyak melakukan kegiatan menggambarnya sendiri meskipun kadangkala dia masih rewel minta dibuatkan ini itu.

Orang tua pada umumnya seringkali mengambil sikap ngotot bahwa seorang anak yang menikmati melukis atau menggambar kelak akan menjadi seniman. Beberapa orang tua menganggap bahwa anak-anak (usia dini) harus diarahkan untuk memenangkan perlombaan, karena disamping sebagai bentuk pengakuan atas kemampuan anaknya, memenangkan perlombaan juga menjadi kebanggaan. Anak-anak yang masih berusia dini, sebut saja Taman kanak-kanak, mereka memiliki keinginan sangat besar untuk bereksperimen. Otak mereka didominasi oleh otak kanan. Lebih banyak dipenuhi oleh khayalan, fantasi, imajinasi. Maka tak heran jika banyak orang tua mendapati anaknya melamun dan berbicara atau bermain sendiri dan menciptakan tokohnya sendiri. Anak-anak dan imajinasi adalah dua hal yang melekat dan tak terpisahkan.

Kemampuan menggambar yang ada pada setiap anak usia dini berbeda-beda. Ketika orang dewasa menganggap sebuah lukisan karya anak adalah suatu hasil akhir yang patut dibanggakan baik dari sisi bentuk,  komposisi , warna dan ide, namun tak demikian bagi anak. Mereka cenderung mencoba dan mencoba terus hingga mendapatkan bentuk yang disebut hasil akhir atau hasil karya oleh orang dewasa. Bagi anak, eksperimen bentuk berulang dan terus menerus adalah hal  yang menyenangkan. Ketika satu bentuk dianggap menggoda, maka bentuk itu akan dibuat lagi pada eksperimen berikutnya hingga dia menemukan bentuk yang diinginkan. Secara singkat, melakukan kegiatan seni melukis adalah proses yang harus dilalui dan sangat dinikmati oleh anak-anak usia dini khususnya dibawah 7 tahun.

Kesalahkaprahan para guru usia dini yang mengajarkan anak didiknya menggambar sesuai dengan runutan atau tuntunan sang guru merupakan hal yang patut diperhatikan. Beberapa fase dialami oleh anak ketika dia menggambar seperti membuat garis lurus vertikal, horizontal, garis melengkung, zig-zag, kotak, lingkaran. Semua dilakukan dengan spontan oleh anak-anak. Sekali lagi, mereka bereksperimen. Anggap saja di  hari pertama dia membuat lingkaran. Di hari berikutnya dia membuat lingkaran lagi namun kali ini dengan lingkaran-lingkaran kecil lainnya. Di hari berikutnya, dia membuat garis yang membagi lingkaran itu atau membuat garis di luar lingkaran. Lalu dia mulai membuat matahari. Anak-anak membayangkan dua bola mata dan satu mulut tersenyum lalu membuatnya di dalam lingkaran matahari. Proses ini menyenangkan terutama anak-anak yang memiliki kecerdasan visual lebih besar daripada kecerdasan-kecerdasan lainnya. Namun semua anak memilki imajinasi, dan ketertarikan memang tidak bisa dipaksakan. Beberapa anak lebih menikmati membuat cerita atas gambar yang dia buat dan mampu menceritakan kembali kisah yang dia dengar. Ini berkaitan dengan kecerdasan linguistik.

Terkait dengan lomba mewarnai untuk anak usia dini, memanglah tidak salah. Semua kembali lagi kepada opini masing-masing. Namun melihat kompleksitas otak anak usia dini dan kemampuan visual serta kenikmatan bereksperimennya, masihkah kita sebagai orang dewasa tega memenjarakan proses itu untuk menjadi produk yang ‘notabene’ dibanggakan oleh orangtua sebagai prestasi? Saya rasa bicara masalah kreativitas sebagai sesuatu yang sangat autentik, murni, yang bersifat kebaruan dan tanpa meniru, semua terletak pada anak-anak. Kreativitas adalah hal yang kelak diperlukan hingga dewasa terutama dalam menghadapi permasalahan hidup, mencari solusi alternatif. Bukankah hidup bagaikan permainan catur? Strategi

Strategi cerdas hasil imajinasi dan kreativitas dibutuhkan untuk mengatasi tantangan hidup. Apalagi kita,orang dewasa sudah paham, hidup kadang suka bercanda kan? Sayangnya kreativitas ( untuk melawan lelucon hidup  yang menyedihkan) menjadi hal nomor kesekian dan seringkali diabaikan oleh orangtua.

Bicara tentang imajinasi di atas, lomba melukis yang mencari pemenang 1, 2, dan 3, semua menuntut keteraturan, keserasian, keharmonisan serta komposisi, keteraturan dari juri. Ini mematikan spontanitas anak, eksperimen untuk sebuah hal yang disebut produk dan kebanggaan oleh orang tua. Tentu akan sangat bijaksana jika perlombaan yang dirancang untuk anak-anak usia dini dikaji ulang. Misal menjadi lomba melukis/ mewarnai/ membuat sketsa dengan “tema bebas” lalu anak-anak diberikan kesempatan untuk menjelaskan apa yang dia gambar. Anak-anak mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi apa  yang menjadi pemikiran uniknya. Bukankah itu kebanggaan sesungguhnya?

Dengan membahas lomba alternatif untuk anak usia dini, maka tulisan ini ditutup dengan segala kerendahan hati. Bagaimanapun dia hanyalah seorang emak-emak yang merasakan kegalauan. Sebetulnya ada keinginan melihat anaknya juara melukis. Membayangkan bangganya nama anaknya dipanggil. Tapi ya sudahlah. Si emak memilih untuk membiarkan saja imajinasi liar si anak tumbuh sesuai fasenya. Dengan ‘speed’ yang normal. Tugasnya hanya mengantar. Mengawasi. Biarkanlah mereka kelak bersahabat dengan hidup. [T]

 –(Catatan tidak penting tapi dibikin penting: Emak yang dimaksud dalam tulisan ini adalah penulis sendiri)

Tags: anak-anakSeni Rupa
Share185TweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Inspiratif Tentang Guru (Guru Saya)

Next Post

Manusia Tattwa – [Membaca Kelindan Pikiran IBM Dharma Palguna]

Komang Astiari

Komang Astiari

Lahir 28-02-1984. Lulusan Sastra Inggris Universitas Warmadewa Denpasar. Ibu dua anak ini punya ketertarikan besar pada bidang seni, terutama melukis dan menulis. Beberapa lukisannya menjadi ilustrasi di tatkala.co

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Manusia Tattwa - [Membaca Kelindan Pikiran IBM Dharma Palguna]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co