3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Tattwa – [Membaca Kelindan Pikiran IBM Dharma Palguna]

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
December 3, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Empat puluh delapan judul tulisan tentang Manusia yang terangkum di dalam buku ini membicarakan perihal Manusia dari luar sampai dalam. Dari luar sampai dalam mengindikasikan tulisan dalam buku ini adalah hasil “petualangan” penulisnya sebagai musafir, dari asal hingga tujuan. Luar adalah asal, dalam adalah tujuan. Dalam konteks tattwa, asal dan tujuan itu sama saja. Yang namanya asal dan tujuan sama-sama ada di dalam, itulah pusat.

Tentu bukan kebetulan jika Manusia menjadi pusat pembicaraan dalam seri tulisan ini. Pandangan bahwa manusia adalah pusat, bisa ditemukan dalam teks-teks kuna. Sebagai pusat, maka arah ada di dalamnya. Maksudnya, arah akan diketahui jika benar-benar paham bahwa Manusia adalah pusat arah. Sebab manusia adalah pusat, maka segala sesuatu mengada darinya dan meniada kepadanya. Dengan bertumpu pada manusia, maka kanan dan kiri bisa diketahui. Begitupula arah timur, selatan, barat, utara dan seterusnya. Tidak lupa juga atas bawah. Tentang arah, ada Manusia Arah yang menyebutkan,

[…] Ada banyak arah di dalam tubuh, pilihlah jalan mana yang harus dipilih terlebih dahulu, melalui arah mana atma akan “dikeluarkan” dari dalam gua pusat jantung […] [Manusia Arah]

Sekali lagi, arah itu ada di dalam Manusia. Pusatnya adalah jantung! Jantung diibaratkan seperti gua, di dalamnya atma berada. Itu artinya pada jantunglah pusat hidup manusia, atau wilayah purusha dalam badan. Karenanya tanpa jantung, manusia tidak bisa hidup. Tentu saja pernyataan Manusia sebagai pusat ini belumlah selesai. Sekarang kita lihat apa yang dikatakan Manusia Otak.

[Di tengah langit ada sebuah danau yang tersembunyi tempatnya. Di pertengahan danau yang suci itu menyembul sekuntum bunga padma. Kelopak padma itu berwarna putih. Shiwa ada di pusat padma itu. Air danau itu adalah air kehidupan yang mengalir melalui tujuh sungai turun ke bumi […] [Manusia Otak].

Ada beberapa kata kunci yang bisa dilihat dalam petikan Manusia Otak di atas. Kata kunci itu adalah langit, danau, bunga Padma, putih, air kehidupan, tujuh sungai dan bumi. Selanjutnya dalam Manusia Otak, dijelaskan apa yang dimaksud sebagai langit. Langit tidak lain adalah rongga yang ada di dalam kepala. Sedangkan danau adalah otak yang ada di dalam rongga itu. Sekuntum bunga Padma dikatakan berada di dalam otak itu sebagai stana dari Shiwa yang berada di dalam sari Padma berwarna kuning. Tujuh sungai adalah tujuh lubang di kepala. Bumi tidak dijelaskan, tapi jika merunut pada penjelasan tentang tujuh sungai, maka yang disebut bumi adalah objek. Objek itu ada di luar dan di dalam tubuh manusia. Menurut tattwanya, di bumi inilah letak sarwa tattwa. Menurut penjelasan penulisnya, cerita selanjutnya dari Manusia Otak bisa dilihat pada Manusia Langit, Manusia Danau dan Manusia Padma. Ketiganya merepresentasikan otak manusia. Setelah dicari, cerita tentang Manusia Langit ternyata bisa ditemukan, sedangkan Manusia Danau dan Padma tidak. Kemana dua cerita itu?

Membaca kumpulan tulisan tentang manusia ini, memang seperti membaca sebuah teka-teki yang saling bersilang. Jawaban atas teka-teki itu tidak mungkin berada jauh, pastilah disitu-situ juga. Atau, justru malah teka-teki itu adalah jawabannya. Agar tidak penasaran ada baiknya kita baca bagian dari Manusia Otak yang menyatakan hal ini.

[…] Dinamakan Manusia Langit karena di tengah-tengah kepalanya ada langit, yaitu langit bhuwana alit. Di atas kepalanya juga ada langit, yaitu langit bhuwana agung. Langit dua bhuwana agung alit itu dihubungkan oleh sebuah gerbang bernama Shiwa Dwara – Manusia Langit juga disebut Manusia Danau, karena dari lahir sampai mati manusia tidak pernah tidak menjunjung sebuah danau di kepalanya – Manusia Danau juga dinamakan Manusia Padma, karena ada bunga Padma di tengah danau yang ada dalam rongga kepalanya […] [Manusia Otak].

Manusia Otak, Langit, Danau dan Padma penjelasannya menjadi satu di dalam Manusia Otak. Otak juga pusat, karena jika otak dihilangkan, manusia tidak bisa hidup. Manusia Arah dan Manusia Otak sedang membicarakan tentang pusat yang ada di tubuh bagian bawah yakni jantung, dan pusat pada tubuh bagian atas yakni kepala. Manusia Otak juga ada hubungannya dengan Manusia Ongkara dan Manusia Pranawa. Ongkara yang ada di alam otak, disebut Ongkara Wiku Petak. Tentang hal ini, kita bicarakan nanti. Sekarang kita lihat dulu penjelasan tentang Manusia Langit.

[…] Langit adalah jalan menuju Diri. Menurut ajarannya, pusat langit dalam diri adalah asal dari Ingat dan Lupa […] [Manusia Langit].

Langit yang dimaksudkan pada dua kalimat di atas, adalah langit dalam diri. Dimanakah itu? Menurut keterangan penulisnya yang didasarkan pada pustaka Jawa dan Bali kuno, langit dalam diri itu ada di otak dan hati. Otak adalah langit, sebab letaknya di kepala, dan di dalam kepala ada rongga yang diistilahkan sebagai langit. Hati juga adalah langit, sebab di dalam hati juga ada rongga hati yang disebut “langit tak bertepi”. Kedua langit itulah yang menurut ajarannya menjadi pusat dan asal dari Ingat juga Lupa. Maksudnya, otak itulah sumber ingat dan sumber lupa. Di sana ingatan muncul, maka di sana pula ia menghilang.

Di langit otak, konon ada lubang. Lubang dalam bahasa Bali disebut song. Song langit istilah yang digunakan untuk menyebutkan lubang di langit otak. Tentang lubang ini, ada satu bagian tentang Manusia Lubang, begini;

[…] Bungkus sendirilah kado untuk pikiran yang menunggu di gedong putih bernama otak. Ada suara samar-samar dari masa silam, yang tidak bisa didengar oleh telinga tapi dimengerti dengan jelas oleh pikiran. Suara itu berbicara tentang bolong: “Tutuplah lubang yang terbuka, dan bukalah lubang yang tertutup!” […][Manusia Bolong].

Jadi ada dua jenis lubang menurut kutipan di atas. Ada lubang yang terbuka, dan ada lubang yang tertutup. Lubang yang selalu terbuka di dalam tubuh adalah lubang pori-pori. Lubang yang tertutup itu ada di ubun-ubun, titik tengah dahi, ujung hidung, pusar, ujung jempol kaki, dan di pusaran rambut. Di dalam penjelasannya, ada satu lagi jenis lubang. Itulah lubang yang bisa dibuka dengan bayu, sabda dan idep. Lubang itu adalah sembilan jenis lubang yang dipilah menjadi tujuh lubang di kepala, dan dua lubang pada tubuh bagian bawah.

Di akhir kutipan di atas, dianjurkan untuk menutup lubang yang terbuka dan membuka lubang yang tertutup. Jika lubang yang terbuka adalah pori-pori, maka tutuplah pori-pori itu. Jika sembilan lubang lainnya terbuka dan tertutup, maka tutup pulalah lubang itu. Lubang tertutup itulah yang mesti dibuka. Lalu bagaimana cara membukanya? Di atas juga telah disebutkan, bahwa sabda, bayu dan idep itulah kuncinya. Ada lagi lubang yang terdapat di jantung, yang menjadi tempat menyatukan dan memisahkan Bapa Langit dan Ibu Bumi. Bapa Langit adalah sari pikiran, Ibu Bumi adalah tubuh. Jadi memisahkan dan mempertemukan antara pikiran serta tubuh, dilakukan di lubang jantung. Memisahkan pikiran dengan tubuh, bertujuan untuk melepaskan atma dari kurungan badan. Tentang pelepasan ini, dianalogikan seperti tamasya di dalam tubuh. Perjalanannya dari luar ke dalam diri. Sekali lagi, dari lapisan luar, Ke Diri.

[…] Yang dimaksud dengan “diri” adalah atma. Perjalanan ke diri adalah perjalanan menuju atma. Perjalanan ini jauh dan sulit. Dikatakan jauh karena bukan jarak geografis yang ditempuh, melainkan menempuh lapisan-lapisan maya yang menutupi atma. Dikatakan sulit karena perjalanan ini ditempuh seorang diri. Selain itu, orang yang melakukan perjalanan ini tidak akan mengetahui sebenarnya dirinya sudah sampai dimana. Bahkan ketika sudah sampai di tujuan pun, ia tetap tidak menyadari bahwa dirinya sudah tiba. Dalam kitab Dharma Sunya disebutkan, “tan wruh yan prapta” [tidak menyadari kalau sudah sampai] […] [Manusia Ke Diri].

Agak panjang kutipan di atas memang. Itu kutipan diambil untuk menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan diri, adalah atma. Inilah perjalanan jauh dan sulit menuju atma. Artinya, atma itulah tujuan. Untuk sampai pada atma, ada lapisan-lapisan maya yang harus dilewati. Lapisan itu adalah lapisan makanan serta minuman, lapisan nafas, lapisan pikiran, lapisan buddhi, dan lapisan kebahagiaan. Semua lapisan itulah yang disebut sebagai maya.

Melewati seluruh lapisan itu, bukannya perkara mudah. Di atas juga sudah disebutkan, perjalanan ke atma adalah perjalanan yang sulit karena ditempuh seorang diri. Sekali lagi, seorang diri! Karena jauh, diperlukan ketahanan, karena sulit diperlukan kesungguhan. Ketahanan dan kesungguhan yang didasarkan pada keyakinan. Lalu apa ciri-cirinya sudah sampai pada atma? Atma itu tanpa rupa, maka sulit mengetahui ciri-ciri menemukannya. Atau mungkin saja, atma bukannya ditemukan, tapi justru dialah yang menemukan.

Membaca Manusia Tattwa, pembaca akan dihadapkan pada kenyataan bahwa Manusia seperti buku tebal yang tidak pernah selesai dibaca. Meski ada yang menganggapnya selesai, pembacaan harus diulang. Sebab yang namanya membaca, selalu dipengaruhi oleh situasi, kondisi, serta pengetahuan pembaca. Itulah sebabnya, tiap kali tubuh dibaca, ia selalu menyajikan hal yang menyegarkan. Pola semacam itulah yang dihadirkan oleh Ratu Aji IBM Dharma Palguna. Manusia berulang kali dibaca dengan rujukan teks-teks kuna. Hasil bacaan itu, selalu saja mengejutkan.

Membaca Manusia Tattwa, pembaca mesti membawa bekal peta. Peta itu adalah tentang shastra. Shastra mengajarkan bahwa apa yang dikatakan tidak sama dengan yang dimaksudkan. Ketahui apa yang dikatakan, pahami apa yang dimaksudkan. Maka bagi orang-orang yang ingin memahami shastra, menyelamlah ke dalam samudera maksud dan kembali menepi. Selamat kepada Ratu Aji IBM Dharma Palguna yang tidak saya ketahui kini berada dimana. Mungkin tidak sedang di alam keberadaan, atau pun ketiadaan. Ratu Aji pernah berkata “hutang pada shastra harus dibayar karya”. Kali ini saya jawab “segala usaha pembayaran hutang, melahirkan hutang lainnya yang tidak bisa dibayar lunas”.

Sampai disini catatan ini saya cukupkan, dan saya tetap pada pendirian, bahwa Manusia Tattwa, adalah peta yang mesti dibawa, dibaca, dan dipahami oleh siapa saja yang ingin memasuki lebih dalam sebuah dunia kecil namun dalam bernama tubuh. Salam [T]

Tags: filsafatkemanusiaansastra
Share91TweetSendShareSend
Previous Post

Seni Anak Usia Dini: Terikat dengan Kebebasan

Next Post

Viralkan Kebaikan, Berbagi Dulu Sebelum Rejeki Memburu

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Viralkan Kebaikan, Berbagi Dulu Sebelum Rejeki Memburu

Viralkan Kebaikan, Berbagi Dulu Sebelum Rejeki Memburu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co