2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lontar, Generasi Muda, dan BBB 2025

IGP Weda Adi Wangsa by IGP Weda Adi Wangsa
February 20, 2025
in Esai
Lontar, Generasi Muda, dan BBB 2025

Lontar koleksi Grya Prabhu, Denkayu. Foto: Dok. Pribadi

BBB yang saya maksud adalah Bulan Bahasa Bali. Setiap tahun, tepat dari awal hingga akhir bulan Februari dilaksanakan acara tersebut. Acara yang dilaksanakan dari tingkat desa adat, kabupaten hingga provinsi itu, diharapkan dapat memupuk bahasa Bali di tengah era modernisasi saat ini. Namun, apakah ‘pemupukannya’ sudah tepat? Atau sekadar tuai saja?

Menyambung dari pertanyaan tersebut, banyak lomba yang dilaksanakan. Di tingkat desa adat, diwajibkan untuk melaksanakan beberapa lomba. Seperti ngwacen lontar, masatua bali, sambrama wacana, pidarta, nyurat aksara bali, dan beberapa lomba tambahan sesuai dengan kreativitas masing-masing desa adat. Dari sekian banyak lomba yang dilaksanakan saya mencoba untuk menyoroti satu cabang lomba, yakni ngwacen lontar.

Ngwacen lontar merupakan perlombaan membaca lontar yang tentu menggunakan aksara bali. Perlombaan ini biasanya diikuti oleh peserta yang masuk dalam kategori remaja atau daa teruna/i yang berumur kisaran 13-25 tahun. Namun tahun 2025 kategori untuk perlombaan tersebut diubah menjadi kategori SMA/K. Teknis perlombaan ini akan dimulai dari tingkat desa adat. Di tingkat desa adat mereka akan bersaing dengan peserta perwakilan masing-masing banjar adat. Setelah berlomba, siapa pun yang mendapatkan juara 1 di desa adat akan berangkat mewakili desa adatnya berlomba di tingkat kabupaten.

Di tingkat kabupaten mereka akan bersaing dengan seluruh duta desa adat, di kabupaten yang bersangkutan. Setelah mendapatkan juara 1 di kabupaten, peserta yang bersangkutan akan kembali berlomba di tingkat provinsi. Perjuangan panjang mereka akan berakhir di tingkat provinsi sebagai duta dari masing-masing kabupaten/kota di Bali. Selain teknis lomba hal yang penting menjadi sorotan adalah materi yang akan dibaca oleh peserta.

Lontar sebagai media uji dari semua peserta memiliki beragam jenis. Di tingkat desa adat mereka mendapatkan materi satua Bali. Tentunya materi ini cukup untuk pemula, karena satua Bali menggunakan bahasa Bali yang dominan dapat dipahami oleh peserta. Namun di tingkat kabupaten mereka biasanya akan mendapatkan materi yang lebih sulit. Seperti lomba ngwacen lontar di Kabupaten Badung. Para peserta yang berjumlah lebih dari 15 orang tersebut diuji dengan lontar berjenis Tutur.

Tutur merupakan salah satu klasifikasi lontar yang didalamnya membahas mengenai beragam aspek kehidupan. Dalam menarasikan isinya, tutur  lebih cenderung menggunakan bahasa Kawi-Bali, atau bahasa Jawa Kuno. Sehingga dengan kriteria peserta yang masih SMA cukup menyulitkan mereka saat membaca. Hal tersebut dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman mereka mengenai bahasa kawi-bali.

Hal serupa tidak hanya terjadi di tingkat kabupaten, bahkan saat saya menjadi pembina di desa adat, beberapa peserta sangat minim yang mengetahui aksara Bali. Padahal, aksara Bali adalah modal utama membaca lontar. Sehingga walaupun diberikan lontar satua Bali mereka tetap ditempuh kesulitan. Setelah ditelaah perlahan ternyata mereka masih sulit menulis bahkan membaca aksara Bali. Hal ini disebabkan karena mereka jarang menggunakan bahkan memelajari aksara Bali. Mereka akan membaca apabila guru mereka di sekolah memberikan materi mengenai aksara. Namun  itupun hanya bertahan beberapa pertemuan di kelas. Setelahnya mereka akan melupakan aksara Bali.

Pemikiran generasi muda mengenai pentingnya memelajari aksara Bali harus di pupuk sejak dini. Di Bali, pulau yang dilandasi dengan nilai religius dari agama hindu, mempergunakan aksara Bali, hampir pada setiap aspek kehidupan. Umpana tatkala suatu bangunan selesai digarap, maka salah satu piranti uparengga yang digunakan dalam upacara melaspas adalah ulap-ulap.

Ulap-ulap dibuat menggunakan secarik kain dan ditulis aksara modre sesuai dengan fungsi dan kebutuhannya. Selain itu, tatkala ajal telah tiba masyarakat Hindu Bali akan mempergunakan kain putih sepanjang kurang lebih 1-2 meter yang disebut dengan kajang. Kajang pun dituliskan aksara Bali berjenis Modre. Dua hal tersebut hanya contoh kecil dari manfaat dan fungsi aksara Bali di masyarakat Hindu Bali.

Namun, bagi generasi muda aksara Bali memiliki manfaat yang tidak kalah pentingnya. Saat menyemai pengetahuan dari SD hingga SMA/K jika masih berada di Bali, maka mereka akan tetap bertemu dengan aksara Bali, termasuk bahasa dan sastranya. Tentu jika memiliki pengetahuan menulis dan membaca aksara Bali yang cukup akan memermudah mereka dalam mengikuti materi yang diberikan. Selain itu hidup di lingkungan keluarga, membuatnya mau tidak mau harus membantu adik atau saudara sepupu disaat mendapatkan tugas mengenai aksara Bali. Jika kita tidak tau sama sekali mengenai aksara Bali, wajarkah?

Bulan Bahasa Bali yang dilaksanakan sebulan penuh merupakan suatu langkah yang amat baik dari Pemerintah Provinsi Bali. Mereka mengajak kita sebagai generasi dan krama Bali untuk menoleh kebelakang, bahwasannya setiap pengetahuan yang dititipkan oleh para leluhur sangat baik digunakan sebagai penuntun kehidupan.

Ungkapan ateken sastra sangat baik untuk digaungkan. Selain ngwacen lontar satua-satua bali seperti Cupak Grantang, Ketimun Mas, Sigir Jlema Tuah Asibak dan satua bali lainnya menyimpan kasanah moral yang baik bagi anak-anak, sehingga lomba masatua Bali diikuti oleh krama PKK.

Kemampuan berbahasa Bali yang baik perlu dijaga dan terus dipelajari, sehingga lomba sambrama wacana diperuntukkan bagi mereka para lelaki yang akan pertama kali menjadi pemimpin di lingkungan keluarga. Kemampuan menulis aksara Bali dengan baik sesuai dengan uger-uger pasang aksara Bali pun amat penting. Maka lomba nyurat lontar, dan nyurat aksara Bali di kertas diperuntukkan bagi siswa SMP dan SD. Selain lomba yang bersifat tradisional, jenis lomba inovasi pengembangan bahasa, aksara, dan sastra Bali setiap tahun selalu bervariasi dilaksanakan.

Namun, apakah cukup hanya sebulan untuk menghargai ibu dalam bentuk bahasa? Kasih seorang ibu kepada anaknya sepanjang hanyat, sama seperti kesetiaan pertiwi kepada alam semesta beserta isinya. kesetiaan ibu dalam bentuk bahasa pun begitu mulia kepada para penuturnya. Ia memberikan identias yang dikenal dan memiliki kekhasan pada setiap bahasa ibu yang ada. Sudah selayaknya bahasa Bali sebagai bahasa ibu masyarakat Pulau Bali terus dihargai. Setidaknya ia digunakan di lingkungan keluarga.

Pembelajaran mengenai aksara Bali sebagai simbol dari bunyi bahasa Bali pun selayaknya terus dipelajari. Bukan sebulan, dua bulan atau pada hari kamis saja, tetapi dua belas bulan. Agar bulan Bahasa Bali tidak hanya sekedar menjadi formalitas belaka. Aliran yang berhulu di Februari semoga terus mengalir ke bulan seterusnya. Yang kita inginkan adalah rutinitas bukan sekedar formalitas. [T]

Penulis: IGP Weda Adi Wangsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Anak Muda yang Semangat dan Percaya Diri dalam Lomba Ngwacén Lontar Bulan Bahasa Bali
Bercermin Pada Sastra: Membaca Pesan Kakawin Nitisastra dan Sang Hyang Kamahayanikan
Ada Lontar “Tamba” Hingga “Panulak Leak” — Konservasi Lontar di Kedisan dan Suter Kintamani
Konservasi Lontar I Nengah Werden di Jembrana: 10 Ikat Lontar Rusak dari 24 Cakep Lontar yang Ada
Ida Padanda Wayahan dari Griya Jumpung Kerambitan Setia Merawat Lontar Meski Secara Sederhana
Lontar Tutur Aji Mas Ganda Purantaka Petak  tentang Tujuan Hidup Kemoksan, Ditemukan di Griya Sakti Nyalian-Klungkung
Meisya Ariasthi Juara Nyurat Aksara — Inilah Para Juara Bulan Bahasa Bali di Buleleng …
Tags: aksara baliBulan Bahasa Balilontar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Like Father, Not Like Son

Next Post

“Nini Kija Jani”, Teater Jineng SMAN 1 Tabanan Buktikan Diri Jadi Lumbung Kreativitas Sastra

IGP Weda Adi Wangsa

IGP Weda Adi Wangsa

I Gusti Putu Weda Adi Wangsa, mahasiswa Prodi Jawa Kuno, FIB Unud. Akun Instagram: igstngrweda_

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
“Nini Kija Jani”, Teater Jineng SMAN 1 Tabanan Buktikan Diri Jadi Lumbung Kreativitas Sastra

“Nini Kija Jani”, Teater Jineng SMAN 1 Tabanan Buktikan Diri Jadi Lumbung Kreativitas Sastra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co