26 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [10]: Cemburu pada Khodam Perempuan

Chusmeru by Chusmeru
April 10, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

JAUH merantau dari kota asalnya Trenggalek, Jawa Timur, ke kota Purwokerto, Jawa Tengah, tentu sudah dipertimbangkan Ginanjar. Apalagi Ginanjar menjalani profesi sebagai dosen perguruan tinggi di kota sejuk ini. Ia anggap menjadi dosen adalah suratan takdirnya.

Menjadi dosen sudah pasti perlu jiwa pengabdian yang tinggi. Gaji dosen yang ia terima cukup jika hanya untuk menghidupi istri dan kedua anaknya. Namun jika ingin hidup yang lebih mewah, tentu saja tak mampu ia lakukan.

Meski demikian, Ginanjar menolak dengan halus tawaran ayahnya untuk melanjutkan usaha perkebunan tembakau di daerahnya. Menjadi pengusaha tembakau memang menjanjikan cuan yang lumayan. Ginanjar tetap memutuskan menjadi dosen, dengan alasan ingin mengabdi untuk masa depan bangsa.

Usaha perkebunan tembakau penuh risiko paceklik ketika terserang hama maupun krisis ekonomi. Sedangkan menjadi dosen memiliki jaminan masa depan, gaji tetap setiap bulan, dan tentu saja uang pensiun kelak yang berlaku seumur hidup.

Jiwa pengabdian Ginanjar memang sudah tampak sejak ia kecil hingga menginjak remaja. Orang tuanya sebagai pengusaha tembakau tidak membuat Ginanjar hidup dalam kemewahan. Ia memilih hidup sederhana sebagaimana teman-teman sebaya di daerahnya.

Ketimbang hidup berfoya-foya, Ginanjar memilih ikut kelompok kesenian jaranan di kampungnya. Kesenian seperti kuda lumping yang sering dipertunjukkan pada acara-acara adat di desanya. Melalui kesenian jaranan, ia ingin melestarikan budaya leluhur serta menghibur masyarakat.

Masa itu, Ginanjar dikenal sebagai pemain jaranan yang banyak penggemarnya. Maklum saja, gerakan menari Ginanjar sangat lincah dan memukau penonton. Itu semua karena ia memiliki khodam atau indang perempuan yang cantik.

Khodam atau indang adalah sejenis makhluk halus yang akan merasuk ke dalam tubuh pemain jaranan ketika dalam kondisi mendem atau kerasukan. Pada saat kerasukan, pemain jaranan akan menari dengan gerakan sesuai khodam masing-masing.

Khodam perempuan Ginanjar bernama Klinthingsari. Parasnya cantik dan senyumnya manis. Khodam itu diperoleh Ginanjar di seputaran makam Ki Ageng Menak Sopal di Trenggalek dengan tirakat tertentu. Ginanjar dapat memanggil Klinthingsari kapan pun dan di mana pun dengan ritual atau bacaan tertentu.

Seperti saat bermain jaranan misalnya, Klinthingsari akan dipanggil masuk ke dalam tubuh Ginanjar, sehingga menambah daya pikat penonton ketika dia menari.

***

Memiliki wajah yang tampan dan tubuh atletis membuat Ginanjar banyak disukai oleh mahasiswi maupun dosen-dosen perempuan. Apalagi Ginanjar memiliki sedikit lesung pipi yang membuatnya manis saat tersenyum. Entah karena khodam perempuan yang ia miliki atau lantaran ketampanannya, yang pasti Ginanjar banyak digemari orang.

Bahkan ada teman dosen Ginanjar yang menjulukinya Dilan 69. Entah apa yang dimaksud dengan angka 69 itu. Yang pasti, julukan itu diberikan karena penampilan Ginanjar yang selalu trendi, gaul, dan selalu berbusana kekinian, layaknya aktor yang memerankan film remaja Dilan.

Ia kerap memakai baju dengan dibalut jaket jeans. Kadang ia juga menggunakan sepeda motor kuno yang dimodifikasi seperti dalam film Dilan.

Gaya penampilan Ginanjar tentu saja membuat istrinya, Gayatri seringkali merasa cemburu. Istrinya takut Ginajar akan berpaling ke lain hati. Apalagi mahasiswi di kampus tempat Ginanjar mengajar cantik-cantik. Tidak sedikit mahasiswi yang datang ke rumah hanya untuk menanyakan tugas kuliah. Tentu saja ini membuat Gayatri cemberut dan cemburu berat. Oleh karena itu istrinya meminta Ginanjar untuk tidak menerima mahasiswi bimbingan ke rumah.

Seperti pagi ini, Ginanjar sedang melakukan bimbingan skripsi di ruangannya di kampus. Kali ini Indi Fahira, mahasiswi asal Bekasi berada di hadapan Ginanjar untuk bimbingan. Pesona dan sorot mata Ginanjar acapkali membuat mahasiswi berlama-lama untuk bimbingan. Meski demikian, tak pernah terjadi kasus pelecehan seksual terhadap mahasiswi. Ginanjar termasuk lelaki yang setia pada istrinya serta menjaga moralitasnya.

Di saat sedang dalam proses bimbingan, tiba-tiba Indi Fahira melihat sosok perempuan muncul berdiri di samping Ginanjar. Sudah pasti ia kaget. Apalagi perempuan itu memandanginya sambil tersenyum.

“Ada apa?” tanya Ginanjar ketika melihat Indi Fahira tampak Kaget.

“Ada perempuan di samping Bapak,” jawab Indi sambil menunjukkan roman muka takut.

Ginanjar hanya tersenyum. Tidak mengiyakan, tetapi juga tidak membantah jawaban Indi Fahira. Hal ini membuat Indi Fahira penasaran sekaligus ketakutan. Perempuan itu masih muda, cantik, berwajah khas Jawa dengan busana kebaya rancongan berwarna merah muda. Pakaian tradisional Jawa Timur dengan nuansa daerah Madura.

Indi Fahira tidak berani menatap perempuan itu. Ia juga tak hendak bertanya kepada Ginanjar. Pasti bukan manusia biasa, pikir Indi. Ia lebih memilih fokus pada bimbingan skripsinya. Dan ketika terdengar suara azan duhur dari mushala kampus, perempuan itu secara misterius menghilang. Indi Fahira merinding. Ingin secepatnya ia akhiri konsultasi di ruang Ginanjar.

***

Cerita sosok perempuan gaib di samping Ginanjar saat bimbingan skripsi bukan hanya dialami Indi Fahira. Teman-teman kuliah yang lain juga pernah melihatnya. Rachel, Aina, Murti, dan teman kuliah laki-laki seperti Alvin, dan Bayu juga pernah menyaksikannya. Semua mengatakan perempuan itu cantik dan berkebaya merah muda.

Dari mulut ke mulut tersebar tentang sosok perempuan yang sering mendampingi Ginanjar. Bayu mengatakan bahwa perempuan itu adalah khodam Ginanjar yang hanya muncul pada hari-hari tertentu saja. Bayu tahu persis itu, karena ia memiliki kemampuan melihat makhluk halus.

Menurut Bayu, sosok khodam perempuan Ginanjar hanya akan muncul pada setiap hari Rabu Manis dalam kalender Jawa. Hari itu adalah hari kebahagiaan bagi para indhang atau khodam, sehingga mereka menampakkan diri. Agar dapat muncul ke alam kenyataan manusia, maka sang pemilik khodam harus melakukan ritual tertentu.

Ginanjar biasanya memang melakukan ritual khusus pada hari Rabu Manis. Ia selalu menggunakan baju hitam lengan panjang. Selain itu, ia juga menjalani puasa ngasrep, yaitu berpuasa makanan yang mengandung rasa manis, asin, dan pedas. Karenanya pada hari itu Ginanjar hanya makan yang hambar tak berasa. Ritual itu bertujuan agar Ginanjar selalu menawan di mata orang lain.

Selain ritual, Ginanjar juga memiliki beberapa pantangan makanan. Ginanjar tidak boleh makan buah kolang-kaling, pisang emas, dan sayur labu siam. Jika melanggar pantangan itu, maka khodam perempuan yang ia miliki akan pergi meninggalkannya. Kolang-kaling, pisang emas, dan labu siam termasuk buah dan sayur yang dibenci oleh khodam.

Tidak selamanya khodam perempuan Ginanjar tampak tersenyum. Adakalanya juga kelihatan menyeramkan. Hal itu pernah dialami Murtiwati saat bimbingan proposal di ruang kerja Ginanjar. Hari itu memang Rabu Manis, dan tak sengaja Murtiwati memakai baju dan kerudung hitam.

Saat proses bimbingan berjalan, tiba-tiba muncul perempuan cantik di samping Ginanjar. Wajahnya tak ramah, seolah marah. Matanya melotot ke arah Murtiwati sepanjang proses bimbingan. Tentu saja membuatnya takut, berdebar, dan gemetaran.

“Kenapa kamu seperti ketakutan?” tanya Ginanjar melihat Murtiwati yang gelisah.

“Anu, Pak… itu ada perempuan di samping Bapak.. melotot!” jawab Murtiwati terbata-bata. Bukannya menenangkan, Ginanjar malah tersenyum.

“Kamu pakai baju dan kerudung hitam sih..”, kata Ginanjar masih dengan senyumnya.

Beruntung azan duhur berkumandang di mushala kampus. Perempuan khodam Ginanjar itu lenyap dari pandangan Murtiwati. Dari kejadian itu, Murtiwati dan mahasiswa lain menjadi tahu. Jika bimbingan dengan Ginanjar pada hari Rabu Manis jangan menggunakan pakaian serba hitam, karena dianggap ikut-ikutan Ginanjar yang memakai baju hitam. Hal itu akan membuat cemburu khodam perempuan Ginanjar. Dan sebagian besar mahasiswa lantas menghindari bimbingan skripsinya pada setiap hari Rabu Manis.

***

Kehadiran Klinthingsari, khodam perempuan Ginanjar, bukan hanya saat di kampus. Ketika di rumah, khodam itu juga kerap menampakkan diri, khususnya pada hari Selasa Kliwon atau menjelang Rabu Manis. Pada malam itu Ginanjar memang melakukan ritual mengundang khodamnya. Ginanjar seolah sedang berbicara dengan seseorang di dalam kamar khusus di rumahnya. Bahkan, sesekali seperti terdengar canda tawa Ginanjar dengan sosok perempuan.

Gayatri, istri Ginanjar, bukannya tinggal diam. Ia sangat cemburu pada Ginanjar yang memiliki khodam perempuan cantik. Beberapa kali ia menyaksikan penampakan perempuan itu di kamar kerja Ginanjar. Parasnya cantik. Saat terpergok olehnya, perempuan itu bukannya menghilang, tetapi malah tersenyum kepadanya. Rasa takut, seram, dan cemburu selalu timbul.

Namun bukan hanya paras cantik khodam milik suaminya yang membuat Gayatri cemburu. Istrinya acapkali diabaikan jika ingin dimanja. Rasa dongkol itu membuat Gayatri punya gagasan agar khodam suaminya dibuang saja. Tetapi Ginanjar selalu menolak dengan alasan ingin merawat warisan budaya leluhur.

Puncaknya, Gayatri betul-betul geram saat membuka pintu kamar Ginanjar pada Selasa Kliwon malam hari. Selasa Kliwon bagi masyarakat Jawa dianggap sebagai hari pengasihan; hari di mana orang-orang yang memiliki khodam melakukan ritual agar muncul aura wajah yang menimbulkan rasa kasih sayang dari orang lain.

Waktu itu Gayatri hendak meminta tolong Ginanjar memasang lampu dapur yang mati. Betapa terkejut Gayatri ketika melihat Ginanjar sedang menari bersama Klinthingsari, kodham perempuannya. Mereka menari layaknya sedang di pentas jaranan. Gayatri langsung berteriak dan meminta khodam itu pergi dari rumahnya.

Setelah kejadian itu Gayatri mengundang seorang kyai datang ke rumah untuk melakukan rukiyah kepada suaminya. Rukiyah dianggap sebagai upaya supranatural dengan pendekatan agama untuk mengusir makhluk gaib yang ada dalam diri seseorang.

Ginanjar tak berkutik. Istrinya memaksanya untuk dirukiyah. Ia pasrah saja, daripada bertengkar di hadapan  kyai. Ia menurut saja saat tangan dan wajahnya dicorat-coret tulisan dengan spidol oleh  kyai itu. Tulisan itu mirip seperti rajah, yang dipercaya memiliki energi transendental. Ginanjar juga mengikuti bacaan doa yang disampaikan sang kyai.

Bersamaan dengan selesainya bacaan doa itu, semburat asap merah muda keluar dari atas kepala Ginanjar. Asap itu menari-nari layaknya penari Jaranan. Kemudian terdengar suara perempuan tertawa. Sejenak asap pun menghilang.

Klinthingsari telah keluar dari tubuh Ginanjar. Khodam perempuan cantik itu telah kembali ke alamnya. Ginanjar tak lagi punya khodam. Tapi pesonanya sebagai dosen muda yang ganteng tak memudar. Mahasiswi masih menobatkannya sebagai Dilan 69. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin
Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen
Kampusku Sarang Hantu [7]: Suara Printer dan Keran Air Mengucur
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Tamasya Tak Biasa”, Mengenang Kepergian Cok Sawitri dengan Pentas Seni Tak Biasa

Next Post

Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Tanda Merah di Paha

by Chusmeru
April 16, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

TERLAHIR dengan paras yang cantik sangat disyukuri Paramita Laksmi. Tubuhnya yang ramping dengan rambut hitam lebat membuat penampilannya selalu memikat...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails
Next Post
Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga

Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co