1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [10]: Cemburu pada Khodam Perempuan

Chusmeru by Chusmeru
April 10, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

JAUH merantau dari kota asalnya Trenggalek, Jawa Timur, ke kota Purwokerto, Jawa Tengah, tentu sudah dipertimbangkan Ginanjar. Apalagi Ginanjar menjalani profesi sebagai dosen perguruan tinggi di kota sejuk ini. Ia anggap menjadi dosen adalah suratan takdirnya.

Menjadi dosen sudah pasti perlu jiwa pengabdian yang tinggi. Gaji dosen yang ia terima cukup jika hanya untuk menghidupi istri dan kedua anaknya. Namun jika ingin hidup yang lebih mewah, tentu saja tak mampu ia lakukan.

Meski demikian, Ginanjar menolak dengan halus tawaran ayahnya untuk melanjutkan usaha perkebunan tembakau di daerahnya. Menjadi pengusaha tembakau memang menjanjikan cuan yang lumayan. Ginanjar tetap memutuskan menjadi dosen, dengan alasan ingin mengabdi untuk masa depan bangsa.

Usaha perkebunan tembakau penuh risiko paceklik ketika terserang hama maupun krisis ekonomi. Sedangkan menjadi dosen memiliki jaminan masa depan, gaji tetap setiap bulan, dan tentu saja uang pensiun kelak yang berlaku seumur hidup.

Jiwa pengabdian Ginanjar memang sudah tampak sejak ia kecil hingga menginjak remaja. Orang tuanya sebagai pengusaha tembakau tidak membuat Ginanjar hidup dalam kemewahan. Ia memilih hidup sederhana sebagaimana teman-teman sebaya di daerahnya.

Ketimbang hidup berfoya-foya, Ginanjar memilih ikut kelompok kesenian jaranan di kampungnya. Kesenian seperti kuda lumping yang sering dipertunjukkan pada acara-acara adat di desanya. Melalui kesenian jaranan, ia ingin melestarikan budaya leluhur serta menghibur masyarakat.

Masa itu, Ginanjar dikenal sebagai pemain jaranan yang banyak penggemarnya. Maklum saja, gerakan menari Ginanjar sangat lincah dan memukau penonton. Itu semua karena ia memiliki khodam atau indang perempuan yang cantik.

Khodam atau indang adalah sejenis makhluk halus yang akan merasuk ke dalam tubuh pemain jaranan ketika dalam kondisi mendem atau kerasukan. Pada saat kerasukan, pemain jaranan akan menari dengan gerakan sesuai khodam masing-masing.

Khodam perempuan Ginanjar bernama Klinthingsari. Parasnya cantik dan senyumnya manis. Khodam itu diperoleh Ginanjar di seputaran makam Ki Ageng Menak Sopal di Trenggalek dengan tirakat tertentu. Ginanjar dapat memanggil Klinthingsari kapan pun dan di mana pun dengan ritual atau bacaan tertentu.

Seperti saat bermain jaranan misalnya, Klinthingsari akan dipanggil masuk ke dalam tubuh Ginanjar, sehingga menambah daya pikat penonton ketika dia menari.

***

Memiliki wajah yang tampan dan tubuh atletis membuat Ginanjar banyak disukai oleh mahasiswi maupun dosen-dosen perempuan. Apalagi Ginanjar memiliki sedikit lesung pipi yang membuatnya manis saat tersenyum. Entah karena khodam perempuan yang ia miliki atau lantaran ketampanannya, yang pasti Ginanjar banyak digemari orang.

Bahkan ada teman dosen Ginanjar yang menjulukinya Dilan 69. Entah apa yang dimaksud dengan angka 69 itu. Yang pasti, julukan itu diberikan karena penampilan Ginanjar yang selalu trendi, gaul, dan selalu berbusana kekinian, layaknya aktor yang memerankan film remaja Dilan.

Ia kerap memakai baju dengan dibalut jaket jeans. Kadang ia juga menggunakan sepeda motor kuno yang dimodifikasi seperti dalam film Dilan.

Gaya penampilan Ginanjar tentu saja membuat istrinya, Gayatri seringkali merasa cemburu. Istrinya takut Ginajar akan berpaling ke lain hati. Apalagi mahasiswi di kampus tempat Ginanjar mengajar cantik-cantik. Tidak sedikit mahasiswi yang datang ke rumah hanya untuk menanyakan tugas kuliah. Tentu saja ini membuat Gayatri cemberut dan cemburu berat. Oleh karena itu istrinya meminta Ginanjar untuk tidak menerima mahasiswi bimbingan ke rumah.

Seperti pagi ini, Ginanjar sedang melakukan bimbingan skripsi di ruangannya di kampus. Kali ini Indi Fahira, mahasiswi asal Bekasi berada di hadapan Ginanjar untuk bimbingan. Pesona dan sorot mata Ginanjar acapkali membuat mahasiswi berlama-lama untuk bimbingan. Meski demikian, tak pernah terjadi kasus pelecehan seksual terhadap mahasiswi. Ginanjar termasuk lelaki yang setia pada istrinya serta menjaga moralitasnya.

Di saat sedang dalam proses bimbingan, tiba-tiba Indi Fahira melihat sosok perempuan muncul berdiri di samping Ginanjar. Sudah pasti ia kaget. Apalagi perempuan itu memandanginya sambil tersenyum.

“Ada apa?” tanya Ginanjar ketika melihat Indi Fahira tampak Kaget.

“Ada perempuan di samping Bapak,” jawab Indi sambil menunjukkan roman muka takut.

Ginanjar hanya tersenyum. Tidak mengiyakan, tetapi juga tidak membantah jawaban Indi Fahira. Hal ini membuat Indi Fahira penasaran sekaligus ketakutan. Perempuan itu masih muda, cantik, berwajah khas Jawa dengan busana kebaya rancongan berwarna merah muda. Pakaian tradisional Jawa Timur dengan nuansa daerah Madura.

Indi Fahira tidak berani menatap perempuan itu. Ia juga tak hendak bertanya kepada Ginanjar. Pasti bukan manusia biasa, pikir Indi. Ia lebih memilih fokus pada bimbingan skripsinya. Dan ketika terdengar suara azan duhur dari mushala kampus, perempuan itu secara misterius menghilang. Indi Fahira merinding. Ingin secepatnya ia akhiri konsultasi di ruang Ginanjar.

***

Cerita sosok perempuan gaib di samping Ginanjar saat bimbingan skripsi bukan hanya dialami Indi Fahira. Teman-teman kuliah yang lain juga pernah melihatnya. Rachel, Aina, Murti, dan teman kuliah laki-laki seperti Alvin, dan Bayu juga pernah menyaksikannya. Semua mengatakan perempuan itu cantik dan berkebaya merah muda.

Dari mulut ke mulut tersebar tentang sosok perempuan yang sering mendampingi Ginanjar. Bayu mengatakan bahwa perempuan itu adalah khodam Ginanjar yang hanya muncul pada hari-hari tertentu saja. Bayu tahu persis itu, karena ia memiliki kemampuan melihat makhluk halus.

Menurut Bayu, sosok khodam perempuan Ginanjar hanya akan muncul pada setiap hari Rabu Manis dalam kalender Jawa. Hari itu adalah hari kebahagiaan bagi para indhang atau khodam, sehingga mereka menampakkan diri. Agar dapat muncul ke alam kenyataan manusia, maka sang pemilik khodam harus melakukan ritual tertentu.

Ginanjar biasanya memang melakukan ritual khusus pada hari Rabu Manis. Ia selalu menggunakan baju hitam lengan panjang. Selain itu, ia juga menjalani puasa ngasrep, yaitu berpuasa makanan yang mengandung rasa manis, asin, dan pedas. Karenanya pada hari itu Ginanjar hanya makan yang hambar tak berasa. Ritual itu bertujuan agar Ginanjar selalu menawan di mata orang lain.

Selain ritual, Ginanjar juga memiliki beberapa pantangan makanan. Ginanjar tidak boleh makan buah kolang-kaling, pisang emas, dan sayur labu siam. Jika melanggar pantangan itu, maka khodam perempuan yang ia miliki akan pergi meninggalkannya. Kolang-kaling, pisang emas, dan labu siam termasuk buah dan sayur yang dibenci oleh khodam.

Tidak selamanya khodam perempuan Ginanjar tampak tersenyum. Adakalanya juga kelihatan menyeramkan. Hal itu pernah dialami Murtiwati saat bimbingan proposal di ruang kerja Ginanjar. Hari itu memang Rabu Manis, dan tak sengaja Murtiwati memakai baju dan kerudung hitam.

Saat proses bimbingan berjalan, tiba-tiba muncul perempuan cantik di samping Ginanjar. Wajahnya tak ramah, seolah marah. Matanya melotot ke arah Murtiwati sepanjang proses bimbingan. Tentu saja membuatnya takut, berdebar, dan gemetaran.

“Kenapa kamu seperti ketakutan?” tanya Ginanjar melihat Murtiwati yang gelisah.

“Anu, Pak… itu ada perempuan di samping Bapak.. melotot!” jawab Murtiwati terbata-bata. Bukannya menenangkan, Ginanjar malah tersenyum.

“Kamu pakai baju dan kerudung hitam sih..”, kata Ginanjar masih dengan senyumnya.

Beruntung azan duhur berkumandang di mushala kampus. Perempuan khodam Ginanjar itu lenyap dari pandangan Murtiwati. Dari kejadian itu, Murtiwati dan mahasiswa lain menjadi tahu. Jika bimbingan dengan Ginanjar pada hari Rabu Manis jangan menggunakan pakaian serba hitam, karena dianggap ikut-ikutan Ginanjar yang memakai baju hitam. Hal itu akan membuat cemburu khodam perempuan Ginanjar. Dan sebagian besar mahasiswa lantas menghindari bimbingan skripsinya pada setiap hari Rabu Manis.

***

Kehadiran Klinthingsari, khodam perempuan Ginanjar, bukan hanya saat di kampus. Ketika di rumah, khodam itu juga kerap menampakkan diri, khususnya pada hari Selasa Kliwon atau menjelang Rabu Manis. Pada malam itu Ginanjar memang melakukan ritual mengundang khodamnya. Ginanjar seolah sedang berbicara dengan seseorang di dalam kamar khusus di rumahnya. Bahkan, sesekali seperti terdengar canda tawa Ginanjar dengan sosok perempuan.

Gayatri, istri Ginanjar, bukannya tinggal diam. Ia sangat cemburu pada Ginanjar yang memiliki khodam perempuan cantik. Beberapa kali ia menyaksikan penampakan perempuan itu di kamar kerja Ginanjar. Parasnya cantik. Saat terpergok olehnya, perempuan itu bukannya menghilang, tetapi malah tersenyum kepadanya. Rasa takut, seram, dan cemburu selalu timbul.

Namun bukan hanya paras cantik khodam milik suaminya yang membuat Gayatri cemburu. Istrinya acapkali diabaikan jika ingin dimanja. Rasa dongkol itu membuat Gayatri punya gagasan agar khodam suaminya dibuang saja. Tetapi Ginanjar selalu menolak dengan alasan ingin merawat warisan budaya leluhur.

Puncaknya, Gayatri betul-betul geram saat membuka pintu kamar Ginanjar pada Selasa Kliwon malam hari. Selasa Kliwon bagi masyarakat Jawa dianggap sebagai hari pengasihan; hari di mana orang-orang yang memiliki khodam melakukan ritual agar muncul aura wajah yang menimbulkan rasa kasih sayang dari orang lain.

Waktu itu Gayatri hendak meminta tolong Ginanjar memasang lampu dapur yang mati. Betapa terkejut Gayatri ketika melihat Ginanjar sedang menari bersama Klinthingsari, kodham perempuannya. Mereka menari layaknya sedang di pentas jaranan. Gayatri langsung berteriak dan meminta khodam itu pergi dari rumahnya.

Setelah kejadian itu Gayatri mengundang seorang kyai datang ke rumah untuk melakukan rukiyah kepada suaminya. Rukiyah dianggap sebagai upaya supranatural dengan pendekatan agama untuk mengusir makhluk gaib yang ada dalam diri seseorang.

Ginanjar tak berkutik. Istrinya memaksanya untuk dirukiyah. Ia pasrah saja, daripada bertengkar di hadapan  kyai. Ia menurut saja saat tangan dan wajahnya dicorat-coret tulisan dengan spidol oleh  kyai itu. Tulisan itu mirip seperti rajah, yang dipercaya memiliki energi transendental. Ginanjar juga mengikuti bacaan doa yang disampaikan sang kyai.

Bersamaan dengan selesainya bacaan doa itu, semburat asap merah muda keluar dari atas kepala Ginanjar. Asap itu menari-nari layaknya penari Jaranan. Kemudian terdengar suara perempuan tertawa. Sejenak asap pun menghilang.

Klinthingsari telah keluar dari tubuh Ginanjar. Khodam perempuan cantik itu telah kembali ke alamnya. Ginanjar tak lagi punya khodam. Tapi pesonanya sebagai dosen muda yang ganteng tak memudar. Mahasiswi masih menobatkannya sebagai Dilan 69. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin
Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen
Kampusku Sarang Hantu [7]: Suara Printer dan Keran Air Mengucur
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Tamasya Tak Biasa”, Mengenang Kepergian Cok Sawitri dengan Pentas Seni Tak Biasa

Next Post

Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Kemping yang Mencekam

by Chusmeru
October 15, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails
Next Post
Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga

Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co