12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [10]: Cemburu pada Khodam Perempuan

Chusmeru by Chusmeru
April 10, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

JAUH merantau dari kota asalnya Trenggalek, Jawa Timur, ke kota Purwokerto, Jawa Tengah, tentu sudah dipertimbangkan Ginanjar. Apalagi Ginanjar menjalani profesi sebagai dosen perguruan tinggi di kota sejuk ini. Ia anggap menjadi dosen adalah suratan takdirnya.

Menjadi dosen sudah pasti perlu jiwa pengabdian yang tinggi. Gaji dosen yang ia terima cukup jika hanya untuk menghidupi istri dan kedua anaknya. Namun jika ingin hidup yang lebih mewah, tentu saja tak mampu ia lakukan.

Meski demikian, Ginanjar menolak dengan halus tawaran ayahnya untuk melanjutkan usaha perkebunan tembakau di daerahnya. Menjadi pengusaha tembakau memang menjanjikan cuan yang lumayan. Ginanjar tetap memutuskan menjadi dosen, dengan alasan ingin mengabdi untuk masa depan bangsa.

Usaha perkebunan tembakau penuh risiko paceklik ketika terserang hama maupun krisis ekonomi. Sedangkan menjadi dosen memiliki jaminan masa depan, gaji tetap setiap bulan, dan tentu saja uang pensiun kelak yang berlaku seumur hidup.

Jiwa pengabdian Ginanjar memang sudah tampak sejak ia kecil hingga menginjak remaja. Orang tuanya sebagai pengusaha tembakau tidak membuat Ginanjar hidup dalam kemewahan. Ia memilih hidup sederhana sebagaimana teman-teman sebaya di daerahnya.

Ketimbang hidup berfoya-foya, Ginanjar memilih ikut kelompok kesenian jaranan di kampungnya. Kesenian seperti kuda lumping yang sering dipertunjukkan pada acara-acara adat di desanya. Melalui kesenian jaranan, ia ingin melestarikan budaya leluhur serta menghibur masyarakat.

Masa itu, Ginanjar dikenal sebagai pemain jaranan yang banyak penggemarnya. Maklum saja, gerakan menari Ginanjar sangat lincah dan memukau penonton. Itu semua karena ia memiliki khodam atau indang perempuan yang cantik.

Khodam atau indang adalah sejenis makhluk halus yang akan merasuk ke dalam tubuh pemain jaranan ketika dalam kondisi mendem atau kerasukan. Pada saat kerasukan, pemain jaranan akan menari dengan gerakan sesuai khodam masing-masing.

Khodam perempuan Ginanjar bernama Klinthingsari. Parasnya cantik dan senyumnya manis. Khodam itu diperoleh Ginanjar di seputaran makam Ki Ageng Menak Sopal di Trenggalek dengan tirakat tertentu. Ginanjar dapat memanggil Klinthingsari kapan pun dan di mana pun dengan ritual atau bacaan tertentu.

Seperti saat bermain jaranan misalnya, Klinthingsari akan dipanggil masuk ke dalam tubuh Ginanjar, sehingga menambah daya pikat penonton ketika dia menari.

***

Memiliki wajah yang tampan dan tubuh atletis membuat Ginanjar banyak disukai oleh mahasiswi maupun dosen-dosen perempuan. Apalagi Ginanjar memiliki sedikit lesung pipi yang membuatnya manis saat tersenyum. Entah karena khodam perempuan yang ia miliki atau lantaran ketampanannya, yang pasti Ginanjar banyak digemari orang.

Bahkan ada teman dosen Ginanjar yang menjulukinya Dilan 69. Entah apa yang dimaksud dengan angka 69 itu. Yang pasti, julukan itu diberikan karena penampilan Ginanjar yang selalu trendi, gaul, dan selalu berbusana kekinian, layaknya aktor yang memerankan film remaja Dilan.

Ia kerap memakai baju dengan dibalut jaket jeans. Kadang ia juga menggunakan sepeda motor kuno yang dimodifikasi seperti dalam film Dilan.

Gaya penampilan Ginanjar tentu saja membuat istrinya, Gayatri seringkali merasa cemburu. Istrinya takut Ginajar akan berpaling ke lain hati. Apalagi mahasiswi di kampus tempat Ginanjar mengajar cantik-cantik. Tidak sedikit mahasiswi yang datang ke rumah hanya untuk menanyakan tugas kuliah. Tentu saja ini membuat Gayatri cemberut dan cemburu berat. Oleh karena itu istrinya meminta Ginanjar untuk tidak menerima mahasiswi bimbingan ke rumah.

Seperti pagi ini, Ginanjar sedang melakukan bimbingan skripsi di ruangannya di kampus. Kali ini Indi Fahira, mahasiswi asal Bekasi berada di hadapan Ginanjar untuk bimbingan. Pesona dan sorot mata Ginanjar acapkali membuat mahasiswi berlama-lama untuk bimbingan. Meski demikian, tak pernah terjadi kasus pelecehan seksual terhadap mahasiswi. Ginanjar termasuk lelaki yang setia pada istrinya serta menjaga moralitasnya.

Di saat sedang dalam proses bimbingan, tiba-tiba Indi Fahira melihat sosok perempuan muncul berdiri di samping Ginanjar. Sudah pasti ia kaget. Apalagi perempuan itu memandanginya sambil tersenyum.

“Ada apa?” tanya Ginanjar ketika melihat Indi Fahira tampak Kaget.

“Ada perempuan di samping Bapak,” jawab Indi sambil menunjukkan roman muka takut.

Ginanjar hanya tersenyum. Tidak mengiyakan, tetapi juga tidak membantah jawaban Indi Fahira. Hal ini membuat Indi Fahira penasaran sekaligus ketakutan. Perempuan itu masih muda, cantik, berwajah khas Jawa dengan busana kebaya rancongan berwarna merah muda. Pakaian tradisional Jawa Timur dengan nuansa daerah Madura.

Indi Fahira tidak berani menatap perempuan itu. Ia juga tak hendak bertanya kepada Ginanjar. Pasti bukan manusia biasa, pikir Indi. Ia lebih memilih fokus pada bimbingan skripsinya. Dan ketika terdengar suara azan duhur dari mushala kampus, perempuan itu secara misterius menghilang. Indi Fahira merinding. Ingin secepatnya ia akhiri konsultasi di ruang Ginanjar.

***

Cerita sosok perempuan gaib di samping Ginanjar saat bimbingan skripsi bukan hanya dialami Indi Fahira. Teman-teman kuliah yang lain juga pernah melihatnya. Rachel, Aina, Murti, dan teman kuliah laki-laki seperti Alvin, dan Bayu juga pernah menyaksikannya. Semua mengatakan perempuan itu cantik dan berkebaya merah muda.

Dari mulut ke mulut tersebar tentang sosok perempuan yang sering mendampingi Ginanjar. Bayu mengatakan bahwa perempuan itu adalah khodam Ginanjar yang hanya muncul pada hari-hari tertentu saja. Bayu tahu persis itu, karena ia memiliki kemampuan melihat makhluk halus.

Menurut Bayu, sosok khodam perempuan Ginanjar hanya akan muncul pada setiap hari Rabu Manis dalam kalender Jawa. Hari itu adalah hari kebahagiaan bagi para indhang atau khodam, sehingga mereka menampakkan diri. Agar dapat muncul ke alam kenyataan manusia, maka sang pemilik khodam harus melakukan ritual tertentu.

Ginanjar biasanya memang melakukan ritual khusus pada hari Rabu Manis. Ia selalu menggunakan baju hitam lengan panjang. Selain itu, ia juga menjalani puasa ngasrep, yaitu berpuasa makanan yang mengandung rasa manis, asin, dan pedas. Karenanya pada hari itu Ginanjar hanya makan yang hambar tak berasa. Ritual itu bertujuan agar Ginanjar selalu menawan di mata orang lain.

Selain ritual, Ginanjar juga memiliki beberapa pantangan makanan. Ginanjar tidak boleh makan buah kolang-kaling, pisang emas, dan sayur labu siam. Jika melanggar pantangan itu, maka khodam perempuan yang ia miliki akan pergi meninggalkannya. Kolang-kaling, pisang emas, dan labu siam termasuk buah dan sayur yang dibenci oleh khodam.

Tidak selamanya khodam perempuan Ginanjar tampak tersenyum. Adakalanya juga kelihatan menyeramkan. Hal itu pernah dialami Murtiwati saat bimbingan proposal di ruang kerja Ginanjar. Hari itu memang Rabu Manis, dan tak sengaja Murtiwati memakai baju dan kerudung hitam.

Saat proses bimbingan berjalan, tiba-tiba muncul perempuan cantik di samping Ginanjar. Wajahnya tak ramah, seolah marah. Matanya melotot ke arah Murtiwati sepanjang proses bimbingan. Tentu saja membuatnya takut, berdebar, dan gemetaran.

“Kenapa kamu seperti ketakutan?” tanya Ginanjar melihat Murtiwati yang gelisah.

“Anu, Pak… itu ada perempuan di samping Bapak.. melotot!” jawab Murtiwati terbata-bata. Bukannya menenangkan, Ginanjar malah tersenyum.

“Kamu pakai baju dan kerudung hitam sih..”, kata Ginanjar masih dengan senyumnya.

Beruntung azan duhur berkumandang di mushala kampus. Perempuan khodam Ginanjar itu lenyap dari pandangan Murtiwati. Dari kejadian itu, Murtiwati dan mahasiswa lain menjadi tahu. Jika bimbingan dengan Ginanjar pada hari Rabu Manis jangan menggunakan pakaian serba hitam, karena dianggap ikut-ikutan Ginanjar yang memakai baju hitam. Hal itu akan membuat cemburu khodam perempuan Ginanjar. Dan sebagian besar mahasiswa lantas menghindari bimbingan skripsinya pada setiap hari Rabu Manis.

***

Kehadiran Klinthingsari, khodam perempuan Ginanjar, bukan hanya saat di kampus. Ketika di rumah, khodam itu juga kerap menampakkan diri, khususnya pada hari Selasa Kliwon atau menjelang Rabu Manis. Pada malam itu Ginanjar memang melakukan ritual mengundang khodamnya. Ginanjar seolah sedang berbicara dengan seseorang di dalam kamar khusus di rumahnya. Bahkan, sesekali seperti terdengar canda tawa Ginanjar dengan sosok perempuan.

Gayatri, istri Ginanjar, bukannya tinggal diam. Ia sangat cemburu pada Ginanjar yang memiliki khodam perempuan cantik. Beberapa kali ia menyaksikan penampakan perempuan itu di kamar kerja Ginanjar. Parasnya cantik. Saat terpergok olehnya, perempuan itu bukannya menghilang, tetapi malah tersenyum kepadanya. Rasa takut, seram, dan cemburu selalu timbul.

Namun bukan hanya paras cantik khodam milik suaminya yang membuat Gayatri cemburu. Istrinya acapkali diabaikan jika ingin dimanja. Rasa dongkol itu membuat Gayatri punya gagasan agar khodam suaminya dibuang saja. Tetapi Ginanjar selalu menolak dengan alasan ingin merawat warisan budaya leluhur.

Puncaknya, Gayatri betul-betul geram saat membuka pintu kamar Ginanjar pada Selasa Kliwon malam hari. Selasa Kliwon bagi masyarakat Jawa dianggap sebagai hari pengasihan; hari di mana orang-orang yang memiliki khodam melakukan ritual agar muncul aura wajah yang menimbulkan rasa kasih sayang dari orang lain.

Waktu itu Gayatri hendak meminta tolong Ginanjar memasang lampu dapur yang mati. Betapa terkejut Gayatri ketika melihat Ginanjar sedang menari bersama Klinthingsari, kodham perempuannya. Mereka menari layaknya sedang di pentas jaranan. Gayatri langsung berteriak dan meminta khodam itu pergi dari rumahnya.

Setelah kejadian itu Gayatri mengundang seorang kyai datang ke rumah untuk melakukan rukiyah kepada suaminya. Rukiyah dianggap sebagai upaya supranatural dengan pendekatan agama untuk mengusir makhluk gaib yang ada dalam diri seseorang.

Ginanjar tak berkutik. Istrinya memaksanya untuk dirukiyah. Ia pasrah saja, daripada bertengkar di hadapan  kyai. Ia menurut saja saat tangan dan wajahnya dicorat-coret tulisan dengan spidol oleh  kyai itu. Tulisan itu mirip seperti rajah, yang dipercaya memiliki energi transendental. Ginanjar juga mengikuti bacaan doa yang disampaikan sang kyai.

Bersamaan dengan selesainya bacaan doa itu, semburat asap merah muda keluar dari atas kepala Ginanjar. Asap itu menari-nari layaknya penari Jaranan. Kemudian terdengar suara perempuan tertawa. Sejenak asap pun menghilang.

Klinthingsari telah keluar dari tubuh Ginanjar. Khodam perempuan cantik itu telah kembali ke alamnya. Ginanjar tak lagi punya khodam. Tapi pesonanya sebagai dosen muda yang ganteng tak memudar. Mahasiswi masih menobatkannya sebagai Dilan 69. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin
Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen
Kampusku Sarang Hantu [7]: Suara Printer dan Keran Air Mengucur
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Tamasya Tak Biasa”, Mengenang Kepergian Cok Sawitri dengan Pentas Seni Tak Biasa

Next Post

Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails
Next Post
Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga

Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co