2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga

Abdi Jaya Prawira by Abdi Jaya Prawira
April 10, 2025
in Esai
Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga

Foto ilustrasi: melukis bersama Wayan Sani dan anak-anak dalam acara Tamasya Tak Biasa di Taman Budaya Bali | Foto: tatkala.co

SATUA (cerita) Bali punya satu nama yang pernah terbang tanpa sayap. Ia terbang bersama seni di antara jalur tak kasat mata penghubung bumi dan langit. Namanya dalam satua adalah I Sangging Lobangkara. Seorang pemahat, sekaligus pelukis yang digandrungi. Dalam satua, dia membingkai batas antara keindahan dan keabadian, antara kelana estetik dan pendakian spiritualnya sendiri.

Satua I Sangging Lobangkara cukup familiar. Cerita ini dijadikan salah satu materi dalam materi pelajaran bahasa Bali di sekolah-sekolah, juga tersedia versi ceritanya di beberapa situs internet. Kajian ilmiahnya pun pernah dikerjakan IGA Darma Putra (2017), “Satua I Sangging Lobangkara dalam Tradisi Nyastra Bali”. Selain itu, bentuk prestisius satua ini berada dalam rupa lontar koleksi Gedong Kirtya Singaraja. Naskah lontar ini umurnya lebih tua tiga kali umur saya.

Menurut cerita, I Sangging Lobangkara bukan pelukis biasa. Ia juga bukan sekadar perajin terampil. Ia seorang seniman yang mendapat berbagai permintaan oleh raja, dalam satua ini tepatnya Raja Klungkung. Permintaan ini seolah tantangan. Bukan tantangan untuk membuktikan siapa dia, tetapi mungkin karena kerajaan tidak tahu lagi cara membayar imajinasi yang terlalu besar untuk memuaskan hausnya kerinduan estetis berbalut ekspektasi karya kualitas tinggi.

Awalnya biasa saja. Sebuah permintaan membuat keraton, plus patung dalam waktu sebulan. Tidak ada peristiwa heroik, tidak ada drama, keraton pun selesai. Hanya keterampilannya yang bekerja seperti silap mata. Raja lalu memintanya melukis permaisuri. Dan Sangging pun berhasil. Ia lalu disuruh menggambar seisi hutan. Harimau yang tak mungkin diminta berpose pun menjadi jinak di hadapan Sangging. Sapuan kuasnya lalu menyelesaikan semua. Tidak ada yang luput dari sana, mungkin daun kering yang menempel di kuku kijang juga akan ikut terlukis bila satua ini disampaikan dengan sedikit lebih detail.

Berikutnya samudra. Dengan tubuh dalam kotak kaca, I Sangging menembus dunia bawah laut. Ia menggambar bukan dari imajinasi, tetapi dari pengamatan langsung dari dasar laut. Jauh sebelum kita mengenal diving atau kapal selamsebagai cara memanjakan mata untuk menonton biota dasar laut, I Sangging sudah melakukannya. Ia berekreasi, sambil berkreasi. Laut tak jadi kuburan untuknya, laut jadi museum hidup yang menunggu diabadikannya.

Terakhir dia disuruh ke langit. Ia tak diberi burung, tak juga diberi sayap. Ia diberi goangan. Benda ini adalah penghasil bunyi dalam layangan. Namun, bisa jadi ini adalah sebuah kerangka layang-layang raksasa. Sangging pun diterbangkan dengan tali, selayaknya anak kecil yang percaya sepenuhnya pada angin. Ia mengudara, sampai talinya putus. Dan uniknya, dia tak jatuh. Ia melayang, jauh sampai surga dan yang jelas ia tidak dikisahkan mati. Sesampai di surga, ia tak ingin kembali ke dunia. Apa yang perlu dicari lagi di bumi, setelah langit sudah bisa ia lukis dari dalamnya?

Perbandingan Versi

Cerita ini dikenal juga secara lisan di Jawa. Bedanya, kisah ini berakhir tragis. Salah satu versinya menuturkan sang seniman, yang bernama Sungging Prabangkara dituduh berbuat serong karena menggambar istri raja terlalu sempurna, bahkan sampai pada rincian yang hanya sang raja sendiri yang mengetahuinya. Ia dianggap berbahaya. Misi yang diberikan padanya pun adalah bentuk eksekusi. Rute pembinasaan disamarkan sebagai sebuah titah kerajaan.

Tali layangan dalam versi cerita ini konon sengaja diputus. Ia bukan terbang ke surga, tapi sengaja dihempaskan. Ada pula yang menyebutnya mendarat di Negeri Cina. Mungkinkah ini karena seni dianggap terlalu berbahaya oleh penguasa, karena imajinasi yang tidak dikendalikan bisa menyingkap apa yang sesungguhnya ingin disembunyikan?

Oleh sebab itu, Bali punya versi cerita yang lebih lembut dan kalem. Sangging Bali bukan korban kecemburuan raja, melainkan seniman yang perlahan ditarik menjauh dari dunia fana. Tugasnya terlalu besar dan filosofis. Tiap tugasnya seolah adalah undangan untuk naik level spiritual. Setelah berhasil mewujudkan rumah, dia berhasil mewujudkan lukisan istri raja. Berikutnya ia pergi menembus belantara hutan, lalu menyelami dalamnya samudra tiada bertepi hingga berakhir melanglang langit dan tiba di surga. Ia bukan dibinasakan, tetapi dilepas. Ia tidak mati, hanya berpindah. Dan dia tidak jatuh, hanya menolak untuk turun.

Sangging dan Laku Spiritual

Satua I Sangging Lobangkara bisa dibaca sebagai narasi tentang seni sebagai jalan spiritual. Ia menyentuh filosofi: bahwa yang paling puncak dari kerja kreatif adalah puncak estetis itu sendiri. Ketika seni sudah tidak lagi mengabdi pada penguasa, ketika seni tidak lagi puas dinikmati, maka ia menjadi perjalanan menuju Yang Tak Terlukiskan.

Layangan yang membawanya ke langit menjadi metafora paling jernih tentang ini. Layang-layang yang semula hanya permainan tradisional, menjelma sebagai sarana komunikasi vertikal, lalu menjadi kendaraan seniman yang tak bisa lagi dikurung pagar istana. Baru-baru ini kita pun melihat seniman yang terlalu jujur dan presisi lalu dianggap berbahaya. Tetapi, ketika dunia cukup bijak untuk tidak menghukumnya, maka ia akan terbang sendiri, perlahan menjauh dari keramaian.

Mungkin kita semua adalah Sangging yang terhalang oleh sensor, oleh algoritma, oleh undangan lomba yang harus menghasilkan karya romantisme belaka. Tak boleh menyinggung realita yang pahit. Tetapi kita tetap menggambar, kadang gambar kita tak dilihat, kadang dihapus, mungkin saja juga disangka meniru.

Namun jika kita terus menggambar, terus merekam hutan, laut dan langit dalam bahasa kita sendiri, mungkinkah suatu saat goangan itu datang juga? Dan jika talinya putus, semogalah kita akan melayang bukan karena kalah, tetapi karena sudah selesai dengan dunia yang tidak paham lukisan kita.

Siapa tahu? Ternyata surga bukan tempat dengan gerbang emas, tetapi ruang sunyi yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang tahu cara menggambar angin. Mereka yang rampung memahami dirinya sendiri, dan alam makro di sekitarnya. [T]

Penulis: Abdi Jaya Prawira
Editor: Adnyana Ole

SEKSUALITAS BALI: Dari Penyatuan Raga Menuju Aksara
DI BALIK TOPENG DALEM SIDDHAKARYA
SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh
Tags: baliceritalontarsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [10]: Cemburu pada Khodam Perempuan

Next Post

Kilas Balik Teruna Teruni Denpasar 2025: “Kle Nok, Konsisten Kali Meriahnya”

Abdi Jaya Prawira

Abdi Jaya Prawira

Pande Putu Abdi Jaya Prawira, tinggal di Tulikup, Gianyar. Alumnus Sastra Jawa Kuno Udayana.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kilas Balik Teruna Teruni Denpasar 2025: “Kle Nok, Konsisten Kali Meriahnya”

Kilas Balik Teruna Teruni Denpasar 2025: “Kle Nok, Konsisten Kali Meriahnya”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co