2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga

Abdi Jaya Prawira by Abdi Jaya Prawira
April 10, 2025
in Esai
Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga

Foto ilustrasi: melukis bersama Wayan Sani dan anak-anak dalam acara Tamasya Tak Biasa di Taman Budaya Bali | Foto: tatkala.co

SATUA (cerita) Bali punya satu nama yang pernah terbang tanpa sayap. Ia terbang bersama seni di antara jalur tak kasat mata penghubung bumi dan langit. Namanya dalam satua adalah I Sangging Lobangkara. Seorang pemahat, sekaligus pelukis yang digandrungi. Dalam satua, dia membingkai batas antara keindahan dan keabadian, antara kelana estetik dan pendakian spiritualnya sendiri.

Satua I Sangging Lobangkara cukup familiar. Cerita ini dijadikan salah satu materi dalam materi pelajaran bahasa Bali di sekolah-sekolah, juga tersedia versi ceritanya di beberapa situs internet. Kajian ilmiahnya pun pernah dikerjakan IGA Darma Putra (2017), “Satua I Sangging Lobangkara dalam Tradisi Nyastra Bali”. Selain itu, bentuk prestisius satua ini berada dalam rupa lontar koleksi Gedong Kirtya Singaraja. Naskah lontar ini umurnya lebih tua tiga kali umur saya.

Menurut cerita, I Sangging Lobangkara bukan pelukis biasa. Ia juga bukan sekadar perajin terampil. Ia seorang seniman yang mendapat berbagai permintaan oleh raja, dalam satua ini tepatnya Raja Klungkung. Permintaan ini seolah tantangan. Bukan tantangan untuk membuktikan siapa dia, tetapi mungkin karena kerajaan tidak tahu lagi cara membayar imajinasi yang terlalu besar untuk memuaskan hausnya kerinduan estetis berbalut ekspektasi karya kualitas tinggi.

Awalnya biasa saja. Sebuah permintaan membuat keraton, plus patung dalam waktu sebulan. Tidak ada peristiwa heroik, tidak ada drama, keraton pun selesai. Hanya keterampilannya yang bekerja seperti silap mata. Raja lalu memintanya melukis permaisuri. Dan Sangging pun berhasil. Ia lalu disuruh menggambar seisi hutan. Harimau yang tak mungkin diminta berpose pun menjadi jinak di hadapan Sangging. Sapuan kuasnya lalu menyelesaikan semua. Tidak ada yang luput dari sana, mungkin daun kering yang menempel di kuku kijang juga akan ikut terlukis bila satua ini disampaikan dengan sedikit lebih detail.

Berikutnya samudra. Dengan tubuh dalam kotak kaca, I Sangging menembus dunia bawah laut. Ia menggambar bukan dari imajinasi, tetapi dari pengamatan langsung dari dasar laut. Jauh sebelum kita mengenal diving atau kapal selamsebagai cara memanjakan mata untuk menonton biota dasar laut, I Sangging sudah melakukannya. Ia berekreasi, sambil berkreasi. Laut tak jadi kuburan untuknya, laut jadi museum hidup yang menunggu diabadikannya.

Terakhir dia disuruh ke langit. Ia tak diberi burung, tak juga diberi sayap. Ia diberi goangan. Benda ini adalah penghasil bunyi dalam layangan. Namun, bisa jadi ini adalah sebuah kerangka layang-layang raksasa. Sangging pun diterbangkan dengan tali, selayaknya anak kecil yang percaya sepenuhnya pada angin. Ia mengudara, sampai talinya putus. Dan uniknya, dia tak jatuh. Ia melayang, jauh sampai surga dan yang jelas ia tidak dikisahkan mati. Sesampai di surga, ia tak ingin kembali ke dunia. Apa yang perlu dicari lagi di bumi, setelah langit sudah bisa ia lukis dari dalamnya?

Perbandingan Versi

Cerita ini dikenal juga secara lisan di Jawa. Bedanya, kisah ini berakhir tragis. Salah satu versinya menuturkan sang seniman, yang bernama Sungging Prabangkara dituduh berbuat serong karena menggambar istri raja terlalu sempurna, bahkan sampai pada rincian yang hanya sang raja sendiri yang mengetahuinya. Ia dianggap berbahaya. Misi yang diberikan padanya pun adalah bentuk eksekusi. Rute pembinasaan disamarkan sebagai sebuah titah kerajaan.

Tali layangan dalam versi cerita ini konon sengaja diputus. Ia bukan terbang ke surga, tapi sengaja dihempaskan. Ada pula yang menyebutnya mendarat di Negeri Cina. Mungkinkah ini karena seni dianggap terlalu berbahaya oleh penguasa, karena imajinasi yang tidak dikendalikan bisa menyingkap apa yang sesungguhnya ingin disembunyikan?

Oleh sebab itu, Bali punya versi cerita yang lebih lembut dan kalem. Sangging Bali bukan korban kecemburuan raja, melainkan seniman yang perlahan ditarik menjauh dari dunia fana. Tugasnya terlalu besar dan filosofis. Tiap tugasnya seolah adalah undangan untuk naik level spiritual. Setelah berhasil mewujudkan rumah, dia berhasil mewujudkan lukisan istri raja. Berikutnya ia pergi menembus belantara hutan, lalu menyelami dalamnya samudra tiada bertepi hingga berakhir melanglang langit dan tiba di surga. Ia bukan dibinasakan, tetapi dilepas. Ia tidak mati, hanya berpindah. Dan dia tidak jatuh, hanya menolak untuk turun.

Sangging dan Laku Spiritual

Satua I Sangging Lobangkara bisa dibaca sebagai narasi tentang seni sebagai jalan spiritual. Ia menyentuh filosofi: bahwa yang paling puncak dari kerja kreatif adalah puncak estetis itu sendiri. Ketika seni sudah tidak lagi mengabdi pada penguasa, ketika seni tidak lagi puas dinikmati, maka ia menjadi perjalanan menuju Yang Tak Terlukiskan.

Layangan yang membawanya ke langit menjadi metafora paling jernih tentang ini. Layang-layang yang semula hanya permainan tradisional, menjelma sebagai sarana komunikasi vertikal, lalu menjadi kendaraan seniman yang tak bisa lagi dikurung pagar istana. Baru-baru ini kita pun melihat seniman yang terlalu jujur dan presisi lalu dianggap berbahaya. Tetapi, ketika dunia cukup bijak untuk tidak menghukumnya, maka ia akan terbang sendiri, perlahan menjauh dari keramaian.

Mungkin kita semua adalah Sangging yang terhalang oleh sensor, oleh algoritma, oleh undangan lomba yang harus menghasilkan karya romantisme belaka. Tak boleh menyinggung realita yang pahit. Tetapi kita tetap menggambar, kadang gambar kita tak dilihat, kadang dihapus, mungkin saja juga disangka meniru.

Namun jika kita terus menggambar, terus merekam hutan, laut dan langit dalam bahasa kita sendiri, mungkinkah suatu saat goangan itu datang juga? Dan jika talinya putus, semogalah kita akan melayang bukan karena kalah, tetapi karena sudah selesai dengan dunia yang tidak paham lukisan kita.

Siapa tahu? Ternyata surga bukan tempat dengan gerbang emas, tetapi ruang sunyi yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang tahu cara menggambar angin. Mereka yang rampung memahami dirinya sendiri, dan alam makro di sekitarnya. [T]

Penulis: Abdi Jaya Prawira
Editor: Adnyana Ole

SEKSUALITAS BALI: Dari Penyatuan Raga Menuju Aksara
DI BALIK TOPENG DALEM SIDDHAKARYA
SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh
Tags: baliceritalontarsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [10]: Cemburu pada Khodam Perempuan

Next Post

Kilas Balik Teruna Teruni Denpasar 2025: “Kle Nok, Konsisten Kali Meriahnya”

Abdi Jaya Prawira

Abdi Jaya Prawira

Pande Putu Abdi Jaya Prawira, tinggal di Tulikup, Gianyar. Alumnus Sastra Jawa Kuno Udayana.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Kilas Balik Teruna Teruni Denpasar 2025: “Kle Nok, Konsisten Kali Meriahnya”

Kilas Balik Teruna Teruni Denpasar 2025: “Kle Nok, Konsisten Kali Meriahnya”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co