16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SEKSUALITAS BALI: Dari Penyatuan Raga Menuju Aksara

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
April 6, 2025
in Esai
SEKSUALITAS BALI: Dari Penyatuan Raga Menuju Aksara

Gambaran Dampati Lelangon, Koleksi Unit Lontar Unud, foto: Guna

MESKI menjadi kebutuhan biologis yang pasti akan dilakoni setiap orang dalam jenjang berumah tangga, seksualitas kini terkesan tabu untuk dipelajari. Tak pernah ada pendidikan pranikah untuk mengetahui pilihan waktu yang tepat, termasuk pula bagaimana cara melakukannya untuk kelak bisa melahirkan keturunan yang unggul dari segi fisik, mental, dan spiritual. Seksualitas seolah praktik yang bisa dilakukan secara intuitif, tanpa perlu berpegang pada satu titian ajaran, dan tanpa perlu keterampilan. Hal ini menjadi ironi di tengah berlimpahnya diskursus tentang seksualitas dalam warisan literasi Bali. Padahal, teks etika Bali yang kanonis seperti Sārasamuccaya dan Pameda Smara termasuk Geguritan Sucita menyebutkan hari-hari khusus yang sebaiknya dihindari untuk melakukan hubungan seksual. Yang tidak kalah pentingnya juga adalah pustaka berjudul Tutur Catur Yuga yang mengulas aspek teknis dari hubungan seksual dengan aroma tantris.

Pustaka Sārasamuccaya menyebutkan satu brata berjudul Amr̥tasnataka yang mesti dipatuhi oleh seorang brahmana ketika melakukan sanggama. Secara lebih khusus, pustaka tersebut menyatakan bahwa pada hari-hari tertentu seperti bulan mati (amāwāsya), sehari sebelum bulan purnama dan bulan mati (purwani), tepat pada saat purnama (purnama), dan delapan hari setelah bulan mati serta purnama (astamikala) seorang brahmana tidak boleh mendekati perempuan. Tidak mendekati perempuan dalam konteks ini dapat pula dimaknai sebagai jeda aktivitas untuk melakukan hubungan seksual.

Penjelasan pustaka Sārasamuccaya tentang pelaksanaan brata amṛtasnātaka inilah yang menjadi hulu gagasan pemilihan hari dalam melakukan hubungan suami-istri seperti yang tertuang dalam teks Pameda Smara. Artinya, dalam menyusun suatu panduan waktu bersanggama, pengarang pustaka Pameda Smara menjadikan Sārasamuccaya sebagai referensi. Mustahil karya gubahan Bhagawan Wararuci dari Astadasaparwa itu dijadikan pegangan dalam menyusun suatu sistem pengetahuan tentang seksualitas jika tidak ada kebenaran yang universal di dalamnya. Pustaka Pameda Smara juga ikut mewacanakan hari yang tidak baik melakukan sanggama yaitu saat purnama, tilem, dan purwani. Pustaka Pameda Smara menyebutkan bahwa seseorang yang melakukan sanggama pada hari-hari tersebut akan terkena malapetaka dari Sang Hyang Surya dan Candra atas kelancangannya. Lebih lanjut, pustaka ini juga memuat penjelasan tambahan bahwa pada saat hari kelahiran (paweton), Anggara Kliwon, Budha Kliwon, Saniscara Kliwon, dan semua hari suci adalah waktu yang tidak baik dalam bersanggama.

Apabila dicermati lebih teliti, pustaka Pameda Smara[i]ternyata tidak lagi menyatakan secara spesifik bahwa hari-hari tersebut adalah waktu larangan bersanggama bagi pendeta, tetapi masyarakat pada umumnya. Hal senada juga diwacanakan Geguritan Sucita. Karya sastra yang ditulis oleh Ida Ketut Jelantik dari Gria Tegeha, Banjar, Singaraja itu selengkapnya menyatakan sebagai berikut. Yadin ring kurĕnan gĕlah, sumingkin nyandang apikin, da ngamuk kadroponan, masanggama masih pilih, purnama tilĕm kĕlidin, tanggal panglong ping kutus, prĕwani masih tan wĕnang, sedĕk camah minakadi, da matĕmu, ngawe santana gĕring ila. (Geguritan Sucita, Pupuh Sinom, bait 24) Terjemahannya ‘dengan istri sendiri sekalipun, seharusnya semakin diperhatikan, jangan sembarangan dan tergesa-gesa, bersenggama juga perlu dipilih waktunya, purnama dan bulan mati hindari, delapan hari setelah bulan mati atau purnama, purwani juga tidak boleh, apalagi ketika menstruasi, jangan berhubungan, bisa menyebabkan keturunan terkena penyakit ila’.

Sekali lagi, geguritan di atas tidak menekankan waktu-waktu bersanggama tersebut secara khusus untuk pendeta, tetapi setiap pasangan yang sudah berumah tangga. Dengan nada yang agak satir, Geguritan Sucita Subudi menekankan pentingnya memilih hari baik dalam melakukan hubungan seksual, meskipun dilakukan dengan istri sendiri. Dari ungkapan itu kita juga dapat menduga bahwa tidak sedikit pasangan suami istri yang menerobos hari-hari larangan tersebut. Hari-hari yang dimaksud adalah purnama, bulan mati, hari ke delapan setelah bulan mati atau purnama, purwani, dan ketika sang istri sedang haid (menstruasi). Konsekuensi melakukan hubungan seksual pada hari-hari tersebut adalah lahirnya keturunan yang berpotensi tertimpa penyakit ila.

Geguritan Sucita Subudi juga menyebutkan sumber pustaka yang harus dipelajari agar seseorang katam dalam berhubungan seksual, yaitu Cumbana Sasana. Teks itu menyatakan sebagai berikut: lontar cumbana sasana, pĕpĕsang nto ngawacenin, apang sĕkĕn apang tatas, ring tingkahing ngalap rabi, mangda tan pati purugin, reh agung halane pangguh, kewĕh malih mangawitang, ngumbah pĕlihe jumunin, ñĕsĕl pangguh, mĕlah yatnain matingkah (Geguritan Sucita, Pupuh Sinom, bait 25). Lontar Cumbana Sasana, sering-seringlah itu dibaca, agar benar-benar paham, tentang tata cara berhubungan dengan istri, tidak sembarangan melanggar, karena besar sekali bahaya yang akan didapatkan, dan sulit mengembalikan lagi, termasuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan, sehingga penyesalan yang didapat, dengan demikian lebih baik hati-hati ketika berperilaku’.

Pustaka berjudul Cumbana Sasana yang disebut dalam Geguritan Sucita di atas tidak saja menepis anggapan seksualitas sebagai hal yang tabu, tetapi sekaligus memberikan rekomendasi agar pustaka itu dijadikan mata pelajaran hidup yang mesti dikuasai seseorang. Ajaran Cumbana Sasana atau Acumbana Krama juga pernah diperdebatkan oleh I Gusti Dauh Bale Agung dan Dang Hyang Nirārtha di Mas ketika ia diutus oleh Dalem Waturenggong untuk mengundang pendeta tersebut ke Gelgel. Acumbana Sasana atau Acumbana Krama merupakan ilmu bercinta yang diadaptasi dari ajaran Smara Tantra. Ajaran Smara Tantra sendiri adalah pengetahuan dasar tentang penciptaan dan peleburan. Dalam penciptaan, Smara Tantra mempertemukan Purusa dan Pradhana. Sebaliknya dalam peleburan, kedua elemen tersebut dipisahkan. [ii]

Tutur Catur Yuga

Pandangan bahwa aktivitas sanggama sebagai laku yang berdimensi spiritual  juga disangga oleh penjelasan Tutur Catur Yuga.[iii] Pustaka yang menceritakan kisah pertempuran antara Raja Bhanoraja dengan Rakatabyuha itu memuat petuah panjang seorang pendeta yang bernama Purbhasomi. Karena memuat ajaran pendeta tersebutlah karya berbentuk tutur ini juga diberi judul Tutur Bhagawan Purbhasomi. Melalui penjelasan Bhagawan Purbhasomi pula kita tahu bahwa seorang pendeta yang hendak melakukan sanggama diikat oleh tata krama (sasana).

Pertama-tama sebelum bersanggama, seorang pendeta disarankan untuk membersihkan diri dengan mantra berikut ini: Ong gumi suddha sarira suddha, bayu suddha kadi Sang Hyang Candra tan kalamukan megha, mangkana ening sarira jati, tan patalutuh, tĕlas ikang sarwwa lĕtuh. Ketika keinginan melakukan hubungan suami-istri itu telah tumbuh, ia mesti berkonsentrasi pada Hyang Smara dan Ratih. Setelah itu, pendeta laki-laki memegang dan meremas payudara istrinya. Susu yang di sebelah kanan bernama I Resta, sedangkan sebelah kiri bernama I Bakul. Gerakan tersebut lalu diikuti dengan mencium pipi sang istri yang bernama I Sundari Putih dan hidung yang bernama I Mas. Pada saat mencium, dalam batinnya ia menciptakan visualisasi Ongkara Sumungsang (terbalik) dengan Ongkara Ngadeg (tegak). Setiap melakukan ciuman, pada saat yang bersamaan juga mengundang I Sundari Putih. Ucapan yang dilantunkan di dalam hati ketika mengundang I Sundari Putih adalah Nyai Mas Sundari Putih, menek wangsya hati ring tempat. Usai mengundang Ni Sundari Putih, sang pendeta menyimpan tenaganya sebentar, sembari membuka pintu yang ada di wilayah Pemenang (vagina) disertai dengan desahan. Setelah itu barulah sanggama dilakukan. Karena merasa nyeri di wilayah vagina, biasanya roman wajah sang istri berseri. Pada saat itu, ada cairan berwarna kekuningan mengalir di vaginanya yang bernama Kuta Jaring Wesi. Adegan memeluk dan memangku juga mesti dilakukan oleh pendeta laki-laki selama proses sanggama. Pasca melakukan berbagai adegan tersebut dan tenaga pasangan masing-masing telah habis, Sang Pendeta merapalkan mantra berikut ini: Tirtha, tirtha kamandalu, sepi-sepi, alah maharum kena ya. Di adegan penutup, sang lelaki mencium keringat telapak tangan istrinya.[iv]

Pustaka Catur Yuga memberikan jaminan bahwa keringat sang istri akan beraroma wangi ketika berhasil dengan tepat melakukan hubungan sanggama sesuai petunjuk pustaka itu. Jika keringatnya wangi, sang pendeta laki-laki dapat mengusapkannya ke seluruh tubuh.[v] Aroma keringat yang wangi itu secara tidak langsung menjadi penanda suksesnya aktivitas hubungan suami istri yang dilakukan dengan landasan cinta kasih dan spiritual. Kelak, jika hubungan suami istri itu melahirkan seorang anak maka anak itu akan lahir dengan kualitas tubuh yang jarang tertimpa sakit, segala penjahat takut, pandai dalam segala bidang ilmu, berperilaku suci, perwira, dan berkuasa.

Spirit Tantra

Dikaitkan dengan konteks ajaran Tantra yang berpengaruh kuat di Bali, kita dapat memaknai lebih dalam aktivitas seksual dalam pustaka Catur Yuga di atas.

Langkah pertama yang dilakukan ketika melakukan hubungan seksual adalah membersihkan diri menggunakan mantra yang pada intinya bertujuan agar ruang yang ada di luar diri (gumi suddha), tubuh (sarira suddha), dan tenaga (bayu) seseorang menjadi bersih serta bebas dari segala kotoran. Kenapa harus membersihkan tiga hal tersebut menggunakan mantra? Jelas karena lapisan tubuh yang disasar bukan hanya pada tingkatan fisik, tetapi batin. Untuk membersihkan batin manusia dari kekotoran laten, mantra adalah sarana yang bisa digunakan. Mantra merupakan salah satu alat untuk menyeberangkan pikiran menuju kesucian karena pikiran manusia senantiasa bergejolak seperti riak air samudra. Oleh sebab itu, kekuatan mantra jika diucapkan dengan benar akan menyebabkan pikiran terkonsentrasi, semakin terpusat, semakin terarah sesuai dengan tujuan orang yang melantunkannya. Lapisan tubuh batiniah yang telah suci seperti cahaya bulan tak bermendung inilah yang nantinya akan digunakan sebagai brahma pura ‘Kuil Tuhan’. Hati yang suci dan hening itu pula dijadikan altar untuk memuja Hyang Smara dan Ratih sebagai dewata pemegang otoritas penciptaan. Beliau berdua adalah ayah ibu dari seluruh kehidupan.

Selanjutnya, bagian-bagian tubuh yang dijadikan sebagai generator rangsangan seperti pipi, hidung, dan payudara tidak dianggap seperti benda fisik-mati belaka, tetapi diberi nama spesifik untuk melegitimasi daya hidupnya. Pipi bernama Ni Sundari Putih ‘tanah putih’, hidung bernama I Mas ‘emas’, payudara kiri bernama I Resta ‘hresta: kesenangan’, dan payudara kanan bernama I Bakul ‘wakul’. Pemberian nama yang berkonotasi positif seperti ‘tanah putih’ untuk warna pipi, ‘emas’ untuk warna hidung, ‘kesenangan’ dan ‘wakul’ untuk kesuburan payudara tersebut juga bertujuan memuliakan bagian-bagian tubuh pada saat proses berhubungan seksual dilakukan.

Pada saat mencium, konsentrasi diarahkan penuh untuk visualisasi Ongkara Ngadeg dan Ongkara Sungsang. Penggunaan visualisasi ini jelas menjadikan tubuh sebagai simbol mistis (mystic symbol). Tubuh manusia, baik laki-laki maupun perempuan dibayangkan seperti Ongkara dengan penjelasan sebagai berikut. Rambut yang seperti helai garis tipis dengan posisi ke atas sama dengan Nada. Kepala yang bentuknya bulat adalah Windhu. Bahu kiri dan kanan yang dilekukkan ke atas menyerupai bulan sabit sama dengan Ardha Candra. Selanjutnya, organ di bawah dagu, mulai dari dada hingga kaki merupakan Okara yang bentuknya serupa dengan angka tiga dalam aksara Bali. Okara ini pada umumnya disebut Wiswa yang berarti lingkaran jagat atau bumi.[vi] Ketika ciuman dilakukan bahkan diteruskan dengan adegan sanggama, kedua pasangan yang melakukan sanggama sudah memvisualkan diri berwujud Ongkara. Barangkali, pada saat inilah pembagian menjadi Ongkara Ngadeg dan Ongkara Sungsang dilakukan. Ongkara Ngadeg adalah figur perempuan yang berada di posisi bawah, sedangkan Ongkara Sungsang adalah figur laki-laki yang berposisi di atas. Pertemuan kedua pasangan yang sudah memvisualisasikan diri sebagai Ongkara ini mengharapkan didapatkannya amerta ‘air suci kehidupan yang abadi’ dalam aktivitas sanggama.

Bersandar pada penjelasan di atas, hubungan seksual yang semula hanya aktivitas fisik berubah menjadi sangat sublim karena dalam batin seorang pendeta telah manunggal dua perwujudan aksara, yaitu Ongkara Sungsang dan Ongkara Ngadeg. Pasca melakukan sanggama dengan teknik inilah seorang pendeta mengharapkan amertha atau air suci kehidupan yang abadi. Cara menuntunnya adalah dengan rapalan mantra Tirtha, tirtha kamandalu, sepi-sepi, alah maharum kena ya. Mungkin, salah satu ciri bahwa amerta telah didapatkan melalui proses sanggama adalah keluarnya aroma harum dari keringat pasangan setelah melakukan sanggama. Oleh sebab itu, pustaka Catur Yuga menyarankan agar mencium keringat telapak tangan istrinya. Untuk apakah amerta itu?

Salah satu jawaban di balik usaha mencari amerta melalui sanggama adalah untuk dijadikan “minuman” bagi Atma.[vii] Itulah capaian tertinggi dalam aktivitas seksual. Yang mereguk kenikmatan dari aktivitas itu tidak hanya badan dengan segenap piranti indrawinya, tetapi juga lapisan terdalam manusia yaitu sang Jiwa. Sampai di sini, kita melihat pergerakan aktivitas seksual melangkah dari pendakian raga menuju aksara. [T]

Paris, 5 April 2025


[i]    Oka Manobhawa, IB. tt. “Pameda Smara Jalaran Ngulati Kaluhuraning Budhi” (Paper dibawakan dalam Seminar Bulan Bahasa Bali tahun 2019).

[ii]   Dharma Palguna, IBM. 2015. Shastra Wangsa Kamus Istilah Wangsa Bali Pustaka Pusaka Manusia. Mataram: Sadampatyaksara. Hlm. 67.

[iii]   Putra Pudartha, IB, dkk. 2008. Alih Aksara dan Terjemahan Catur Yuga. Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Hlm. 100.

[iv]   Putra Pudartha, IB, dkk. 2008. Alih Aksara dan Terjemahan Catur Yuga. Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Hlm. Hlm. 100-102)

[v]  Putra Pudartha, IB, dkk. 2008. Alih Aksara dan Terjemahan Catur Yuga. Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Hlm. 102.

[vi] Dharma Palguna, IBM. 2018. Manusia Tattwa. Mataram: Sadampatyaksara. Hlm. 71-72

[vii] Dharma Palguna, IBM. 2018. Manusia Tattwa. Mataram: Sadampatyaksara. Hlm. 20

Penulis: Putu Eka Guna Yasa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
DI BALIK TOPENG DALEM SIDDHAKARYA
SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh
TRI KARANA SWARŪPA : Temuan Ida Wayan Oka Granoka untuk Menjawab Tantangan Zaman
Tags: aksarasastra bali klasikSeksualitas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

5 Tradisi Umat Muslim di Bali: Selain Unik, juga Menghangatkan Tali Persaudaraan

Next Post

Oratorium Panji Sakti, Ragam Nusantara dan “Shortcut” — Catatan Malam Apresiasi Seni HUT Kota Singaraja

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails
Next Post
Oratorium Panji Sakti, Ragam Nusantara dan “Shortcut” — Catatan Malam Apresiasi Seni HUT Kota Singaraja

Oratorium Panji Sakti, Ragam Nusantara dan “Shortcut” -- Catatan Malam Apresiasi Seni HUT Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co