26 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SEKSUALITAS BALI: Dari Penyatuan Raga Menuju Aksara

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
April 6, 2025
in Esai
SEKSUALITAS BALI: Dari Penyatuan Raga Menuju Aksara

Gambaran Dampati Lelangon, Koleksi Unit Lontar Unud, foto: Guna

MESKI menjadi kebutuhan biologis yang pasti akan dilakoni setiap orang dalam jenjang berumah tangga, seksualitas kini terkesan tabu untuk dipelajari. Tak pernah ada pendidikan pranikah untuk mengetahui pilihan waktu yang tepat, termasuk pula bagaimana cara melakukannya untuk kelak bisa melahirkan keturunan yang unggul dari segi fisik, mental, dan spiritual. Seksualitas seolah praktik yang bisa dilakukan secara intuitif, tanpa perlu berpegang pada satu titian ajaran, dan tanpa perlu keterampilan. Hal ini menjadi ironi di tengah berlimpahnya diskursus tentang seksualitas dalam warisan literasi Bali. Padahal, teks etika Bali yang kanonis seperti Sārasamuccaya dan Pameda Smara termasuk Geguritan Sucita menyebutkan hari-hari khusus yang sebaiknya dihindari untuk melakukan hubungan seksual. Yang tidak kalah pentingnya juga adalah pustaka berjudul Tutur Catur Yuga yang mengulas aspek teknis dari hubungan seksual dengan aroma tantris.

Pustaka Sārasamuccaya menyebutkan satu brata berjudul Amr̥tasnataka yang mesti dipatuhi oleh seorang brahmana ketika melakukan sanggama. Secara lebih khusus, pustaka tersebut menyatakan bahwa pada hari-hari tertentu seperti bulan mati (amāwāsya), sehari sebelum bulan purnama dan bulan mati (purwani), tepat pada saat purnama (purnama), dan delapan hari setelah bulan mati serta purnama (astamikala) seorang brahmana tidak boleh mendekati perempuan. Tidak mendekati perempuan dalam konteks ini dapat pula dimaknai sebagai jeda aktivitas untuk melakukan hubungan seksual.

Penjelasan pustaka Sārasamuccaya tentang pelaksanaan brata amṛtasnātaka inilah yang menjadi hulu gagasan pemilihan hari dalam melakukan hubungan suami-istri seperti yang tertuang dalam teks Pameda Smara. Artinya, dalam menyusun suatu panduan waktu bersanggama, pengarang pustaka Pameda Smara menjadikan Sārasamuccaya sebagai referensi. Mustahil karya gubahan Bhagawan Wararuci dari Astadasaparwa itu dijadikan pegangan dalam menyusun suatu sistem pengetahuan tentang seksualitas jika tidak ada kebenaran yang universal di dalamnya. Pustaka Pameda Smara juga ikut mewacanakan hari yang tidak baik melakukan sanggama yaitu saat purnama, tilem, dan purwani. Pustaka Pameda Smara menyebutkan bahwa seseorang yang melakukan sanggama pada hari-hari tersebut akan terkena malapetaka dari Sang Hyang Surya dan Candra atas kelancangannya. Lebih lanjut, pustaka ini juga memuat penjelasan tambahan bahwa pada saat hari kelahiran (paweton), Anggara Kliwon, Budha Kliwon, Saniscara Kliwon, dan semua hari suci adalah waktu yang tidak baik dalam bersanggama.

Apabila dicermati lebih teliti, pustaka Pameda Smara[i]ternyata tidak lagi menyatakan secara spesifik bahwa hari-hari tersebut adalah waktu larangan bersanggama bagi pendeta, tetapi masyarakat pada umumnya. Hal senada juga diwacanakan Geguritan Sucita. Karya sastra yang ditulis oleh Ida Ketut Jelantik dari Gria Tegeha, Banjar, Singaraja itu selengkapnya menyatakan sebagai berikut. Yadin ring kurĕnan gĕlah, sumingkin nyandang apikin, da ngamuk kadroponan, masanggama masih pilih, purnama tilĕm kĕlidin, tanggal panglong ping kutus, prĕwani masih tan wĕnang, sedĕk camah minakadi, da matĕmu, ngawe santana gĕring ila. (Geguritan Sucita, Pupuh Sinom, bait 24) Terjemahannya ‘dengan istri sendiri sekalipun, seharusnya semakin diperhatikan, jangan sembarangan dan tergesa-gesa, bersenggama juga perlu dipilih waktunya, purnama dan bulan mati hindari, delapan hari setelah bulan mati atau purnama, purwani juga tidak boleh, apalagi ketika menstruasi, jangan berhubungan, bisa menyebabkan keturunan terkena penyakit ila’.

Sekali lagi, geguritan di atas tidak menekankan waktu-waktu bersanggama tersebut secara khusus untuk pendeta, tetapi setiap pasangan yang sudah berumah tangga. Dengan nada yang agak satir, Geguritan Sucita Subudi menekankan pentingnya memilih hari baik dalam melakukan hubungan seksual, meskipun dilakukan dengan istri sendiri. Dari ungkapan itu kita juga dapat menduga bahwa tidak sedikit pasangan suami istri yang menerobos hari-hari larangan tersebut. Hari-hari yang dimaksud adalah purnama, bulan mati, hari ke delapan setelah bulan mati atau purnama, purwani, dan ketika sang istri sedang haid (menstruasi). Konsekuensi melakukan hubungan seksual pada hari-hari tersebut adalah lahirnya keturunan yang berpotensi tertimpa penyakit ila.

Geguritan Sucita Subudi juga menyebutkan sumber pustaka yang harus dipelajari agar seseorang katam dalam berhubungan seksual, yaitu Cumbana Sasana. Teks itu menyatakan sebagai berikut: lontar cumbana sasana, pĕpĕsang nto ngawacenin, apang sĕkĕn apang tatas, ring tingkahing ngalap rabi, mangda tan pati purugin, reh agung halane pangguh, kewĕh malih mangawitang, ngumbah pĕlihe jumunin, ñĕsĕl pangguh, mĕlah yatnain matingkah (Geguritan Sucita, Pupuh Sinom, bait 25). Lontar Cumbana Sasana, sering-seringlah itu dibaca, agar benar-benar paham, tentang tata cara berhubungan dengan istri, tidak sembarangan melanggar, karena besar sekali bahaya yang akan didapatkan, dan sulit mengembalikan lagi, termasuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan, sehingga penyesalan yang didapat, dengan demikian lebih baik hati-hati ketika berperilaku’.

Pustaka berjudul Cumbana Sasana yang disebut dalam Geguritan Sucita di atas tidak saja menepis anggapan seksualitas sebagai hal yang tabu, tetapi sekaligus memberikan rekomendasi agar pustaka itu dijadikan mata pelajaran hidup yang mesti dikuasai seseorang. Ajaran Cumbana Sasana atau Acumbana Krama juga pernah diperdebatkan oleh I Gusti Dauh Bale Agung dan Dang Hyang Nirārtha di Mas ketika ia diutus oleh Dalem Waturenggong untuk mengundang pendeta tersebut ke Gelgel. Acumbana Sasana atau Acumbana Krama merupakan ilmu bercinta yang diadaptasi dari ajaran Smara Tantra. Ajaran Smara Tantra sendiri adalah pengetahuan dasar tentang penciptaan dan peleburan. Dalam penciptaan, Smara Tantra mempertemukan Purusa dan Pradhana. Sebaliknya dalam peleburan, kedua elemen tersebut dipisahkan. [ii]

Tutur Catur Yuga

Pandangan bahwa aktivitas sanggama sebagai laku yang berdimensi spiritual  juga disangga oleh penjelasan Tutur Catur Yuga.[iii] Pustaka yang menceritakan kisah pertempuran antara Raja Bhanoraja dengan Rakatabyuha itu memuat petuah panjang seorang pendeta yang bernama Purbhasomi. Karena memuat ajaran pendeta tersebutlah karya berbentuk tutur ini juga diberi judul Tutur Bhagawan Purbhasomi. Melalui penjelasan Bhagawan Purbhasomi pula kita tahu bahwa seorang pendeta yang hendak melakukan sanggama diikat oleh tata krama (sasana).

Pertama-tama sebelum bersanggama, seorang pendeta disarankan untuk membersihkan diri dengan mantra berikut ini: Ong gumi suddha sarira suddha, bayu suddha kadi Sang Hyang Candra tan kalamukan megha, mangkana ening sarira jati, tan patalutuh, tĕlas ikang sarwwa lĕtuh. Ketika keinginan melakukan hubungan suami-istri itu telah tumbuh, ia mesti berkonsentrasi pada Hyang Smara dan Ratih. Setelah itu, pendeta laki-laki memegang dan meremas payudara istrinya. Susu yang di sebelah kanan bernama I Resta, sedangkan sebelah kiri bernama I Bakul. Gerakan tersebut lalu diikuti dengan mencium pipi sang istri yang bernama I Sundari Putih dan hidung yang bernama I Mas. Pada saat mencium, dalam batinnya ia menciptakan visualisasi Ongkara Sumungsang (terbalik) dengan Ongkara Ngadeg (tegak). Setiap melakukan ciuman, pada saat yang bersamaan juga mengundang I Sundari Putih. Ucapan yang dilantunkan di dalam hati ketika mengundang I Sundari Putih adalah Nyai Mas Sundari Putih, menek wangsya hati ring tempat. Usai mengundang Ni Sundari Putih, sang pendeta menyimpan tenaganya sebentar, sembari membuka pintu yang ada di wilayah Pemenang (vagina) disertai dengan desahan. Setelah itu barulah sanggama dilakukan. Karena merasa nyeri di wilayah vagina, biasanya roman wajah sang istri berseri. Pada saat itu, ada cairan berwarna kekuningan mengalir di vaginanya yang bernama Kuta Jaring Wesi. Adegan memeluk dan memangku juga mesti dilakukan oleh pendeta laki-laki selama proses sanggama. Pasca melakukan berbagai adegan tersebut dan tenaga pasangan masing-masing telah habis, Sang Pendeta merapalkan mantra berikut ini: Tirtha, tirtha kamandalu, sepi-sepi, alah maharum kena ya. Di adegan penutup, sang lelaki mencium keringat telapak tangan istrinya.[iv]

Pustaka Catur Yuga memberikan jaminan bahwa keringat sang istri akan beraroma wangi ketika berhasil dengan tepat melakukan hubungan sanggama sesuai petunjuk pustaka itu. Jika keringatnya wangi, sang pendeta laki-laki dapat mengusapkannya ke seluruh tubuh.[v] Aroma keringat yang wangi itu secara tidak langsung menjadi penanda suksesnya aktivitas hubungan suami istri yang dilakukan dengan landasan cinta kasih dan spiritual. Kelak, jika hubungan suami istri itu melahirkan seorang anak maka anak itu akan lahir dengan kualitas tubuh yang jarang tertimpa sakit, segala penjahat takut, pandai dalam segala bidang ilmu, berperilaku suci, perwira, dan berkuasa.

Spirit Tantra

Dikaitkan dengan konteks ajaran Tantra yang berpengaruh kuat di Bali, kita dapat memaknai lebih dalam aktivitas seksual dalam pustaka Catur Yuga di atas.

Langkah pertama yang dilakukan ketika melakukan hubungan seksual adalah membersihkan diri menggunakan mantra yang pada intinya bertujuan agar ruang yang ada di luar diri (gumi suddha), tubuh (sarira suddha), dan tenaga (bayu) seseorang menjadi bersih serta bebas dari segala kotoran. Kenapa harus membersihkan tiga hal tersebut menggunakan mantra? Jelas karena lapisan tubuh yang disasar bukan hanya pada tingkatan fisik, tetapi batin. Untuk membersihkan batin manusia dari kekotoran laten, mantra adalah sarana yang bisa digunakan. Mantra merupakan salah satu alat untuk menyeberangkan pikiran menuju kesucian karena pikiran manusia senantiasa bergejolak seperti riak air samudra. Oleh sebab itu, kekuatan mantra jika diucapkan dengan benar akan menyebabkan pikiran terkonsentrasi, semakin terpusat, semakin terarah sesuai dengan tujuan orang yang melantunkannya. Lapisan tubuh batiniah yang telah suci seperti cahaya bulan tak bermendung inilah yang nantinya akan digunakan sebagai brahma pura ‘Kuil Tuhan’. Hati yang suci dan hening itu pula dijadikan altar untuk memuja Hyang Smara dan Ratih sebagai dewata pemegang otoritas penciptaan. Beliau berdua adalah ayah ibu dari seluruh kehidupan.

Selanjutnya, bagian-bagian tubuh yang dijadikan sebagai generator rangsangan seperti pipi, hidung, dan payudara tidak dianggap seperti benda fisik-mati belaka, tetapi diberi nama spesifik untuk melegitimasi daya hidupnya. Pipi bernama Ni Sundari Putih ‘tanah putih’, hidung bernama I Mas ‘emas’, payudara kiri bernama I Resta ‘hresta: kesenangan’, dan payudara kanan bernama I Bakul ‘wakul’. Pemberian nama yang berkonotasi positif seperti ‘tanah putih’ untuk warna pipi, ‘emas’ untuk warna hidung, ‘kesenangan’ dan ‘wakul’ untuk kesuburan payudara tersebut juga bertujuan memuliakan bagian-bagian tubuh pada saat proses berhubungan seksual dilakukan.

Pada saat mencium, konsentrasi diarahkan penuh untuk visualisasi Ongkara Ngadeg dan Ongkara Sungsang. Penggunaan visualisasi ini jelas menjadikan tubuh sebagai simbol mistis (mystic symbol). Tubuh manusia, baik laki-laki maupun perempuan dibayangkan seperti Ongkara dengan penjelasan sebagai berikut. Rambut yang seperti helai garis tipis dengan posisi ke atas sama dengan Nada. Kepala yang bentuknya bulat adalah Windhu. Bahu kiri dan kanan yang dilekukkan ke atas menyerupai bulan sabit sama dengan Ardha Candra. Selanjutnya, organ di bawah dagu, mulai dari dada hingga kaki merupakan Okara yang bentuknya serupa dengan angka tiga dalam aksara Bali. Okara ini pada umumnya disebut Wiswa yang berarti lingkaran jagat atau bumi.[vi] Ketika ciuman dilakukan bahkan diteruskan dengan adegan sanggama, kedua pasangan yang melakukan sanggama sudah memvisualkan diri berwujud Ongkara. Barangkali, pada saat inilah pembagian menjadi Ongkara Ngadeg dan Ongkara Sungsang dilakukan. Ongkara Ngadeg adalah figur perempuan yang berada di posisi bawah, sedangkan Ongkara Sungsang adalah figur laki-laki yang berposisi di atas. Pertemuan kedua pasangan yang sudah memvisualisasikan diri sebagai Ongkara ini mengharapkan didapatkannya amerta ‘air suci kehidupan yang abadi’ dalam aktivitas sanggama.

Bersandar pada penjelasan di atas, hubungan seksual yang semula hanya aktivitas fisik berubah menjadi sangat sublim karena dalam batin seorang pendeta telah manunggal dua perwujudan aksara, yaitu Ongkara Sungsang dan Ongkara Ngadeg. Pasca melakukan sanggama dengan teknik inilah seorang pendeta mengharapkan amertha atau air suci kehidupan yang abadi. Cara menuntunnya adalah dengan rapalan mantra Tirtha, tirtha kamandalu, sepi-sepi, alah maharum kena ya. Mungkin, salah satu ciri bahwa amerta telah didapatkan melalui proses sanggama adalah keluarnya aroma harum dari keringat pasangan setelah melakukan sanggama. Oleh sebab itu, pustaka Catur Yuga menyarankan agar mencium keringat telapak tangan istrinya. Untuk apakah amerta itu?

Salah satu jawaban di balik usaha mencari amerta melalui sanggama adalah untuk dijadikan “minuman” bagi Atma.[vii] Itulah capaian tertinggi dalam aktivitas seksual. Yang mereguk kenikmatan dari aktivitas itu tidak hanya badan dengan segenap piranti indrawinya, tetapi juga lapisan terdalam manusia yaitu sang Jiwa. Sampai di sini, kita melihat pergerakan aktivitas seksual melangkah dari pendakian raga menuju aksara. [T]

Paris, 5 April 2025


[i]    Oka Manobhawa, IB. tt. “Pameda Smara Jalaran Ngulati Kaluhuraning Budhi” (Paper dibawakan dalam Seminar Bulan Bahasa Bali tahun 2019).

[ii]   Dharma Palguna, IBM. 2015. Shastra Wangsa Kamus Istilah Wangsa Bali Pustaka Pusaka Manusia. Mataram: Sadampatyaksara. Hlm. 67.

[iii]   Putra Pudartha, IB, dkk. 2008. Alih Aksara dan Terjemahan Catur Yuga. Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Hlm. 100.

[iv]   Putra Pudartha, IB, dkk. 2008. Alih Aksara dan Terjemahan Catur Yuga. Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Hlm. Hlm. 100-102)

[v]  Putra Pudartha, IB, dkk. 2008. Alih Aksara dan Terjemahan Catur Yuga. Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Hlm. 102.

[vi] Dharma Palguna, IBM. 2018. Manusia Tattwa. Mataram: Sadampatyaksara. Hlm. 71-72

[vii] Dharma Palguna, IBM. 2018. Manusia Tattwa. Mataram: Sadampatyaksara. Hlm. 20

Penulis: Putu Eka Guna Yasa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
DI BALIK TOPENG DALEM SIDDHAKARYA
SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh
TRI KARANA SWARŪPA : Temuan Ida Wayan Oka Granoka untuk Menjawab Tantangan Zaman
Tags: aksarasastra bali klasikSeksualitas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

5 Tradisi Umat Muslim di Bali: Selain Unik, juga Menghangatkan Tali Persaudaraan

Next Post

Oratorium Panji Sakti, Ragam Nusantara dan “Shortcut” — Catatan Malam Apresiasi Seni HUT Kota Singaraja

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Oratorium Panji Sakti, Ragam Nusantara dan “Shortcut” — Catatan Malam Apresiasi Seni HUT Kota Singaraja

Oratorium Panji Sakti, Ragam Nusantara dan “Shortcut” -- Catatan Malam Apresiasi Seni HUT Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co