3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
March 9, 2025
in Esai
SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh

Ogoh-ogoh | Gambar diolah dari berbagai sumber di internet

Sumber Sastra

Ogoh-ogoh yang kini menghiasi setiap sudut balai banjar di Bali lahir dari rahim rangkaian pelaksanaan hari suci Nyepi. Secara lebih khusus, ogoh-ogoh diarak sehari sebelum Nyepi melalui prosesi yang dikenal luas dengan sebutan Pangrupukan. Sebelum sampai pada pusaran hal yang mungkin luput dari perhatian, mari kita tengok dulu sejumlah sumber sastra tentang Pangrupukan. Dengan sandaran sastra, kita bisa melihat genetika ide dari kreativitas ini, termasuk pula perkembangannya kini.

Pustaka Aji Swamandala memaparkan bahwa pada saat Tilem Kasanga, kawanan Kala dan Kali mendatangi desa untuk mencari mangsa (apan Sang Kala Kali wus minder mangulati bhuktinira, mara ring desa-desa kabeh). Oleh sebab itu, baik di perempatan desa maupun di rumah, warga masyarakat menghaturkan sesajen berupa pacaruan. Setelah upacara pacaruan dihaturkan, barulah Pangrupukan dilaksanakan. Menariknya, pustaka Aji Swamandala menyatakan Pangrupukan dengan istilah Caru Asasapen yang berarti ‘caru yang digelar sebelum Nyepi’. Ketika caru dipersembahkan, pada saat yang bersamaan diiringi pula oleh gambelan, kentongan bulus, dan sorak sorai yang ramai (maduluran tangguran, mambulus, mwang surangkang ramya).

Senada dengan Aji Swamandala, pustaka Sundarigama sebagai salah satu sumber literasi upacara yang paling sistematis di Bali bahkan memberikan penjelasan yang lebih rinci. Pustaka ini menyatakan bahwa pada malam tergelap di fase peralihan bulan ke-9(sekitar Maret) menuju ke-10 (sekitar April) upacara Bhūṭa Yadnya mesti digelar di pusat desa. Tingkatannya bisa dipilih mulai dari yang terkecil, yaitu caru panca sata, panca sanak, ataupun tawur pada tingkatan yang lebih besar. Di pekarangan rumah dipersembahkan sesajen berupa nasi sembilan tanding dengan ayam brumbun, serta tetabuhan tuak dan arak yang diletakkan di depan pintu rumah. Sesajen itu ditujukan kepada Sang Bhuta Raja dan Kala Raja. Tidak ketinggalan, para pasukan Bhuta Kala juga diberikan sesaji berupa nasi 108 tanding yang dilengkapi dengan jeroan mentah, serta satu segehan agung.

Setelah selesai melakukan upacara tawur, barulah Pangrupukan dilakukan. Tujuan Pangrupukan yang utama menurut pustaka Sundarigama adalah mengembalikan para Bhuta Kala ke tempat asalnya (umantukaken ikang sarwa bhuta kala kabeh) dan mengusir wabah, baik sasab maupun mrana (angunduraken sasab mrana) sehingga tidak mengganggu stabilitas desa. Sarana yang digunakan adalah obor-obor, kokorok, dan api yang dinyalakan dengan daun kelapa kering serta disembur dengan rempah masui. Pada saat Pangrupukan, para pendeta memanjatkan berbagai jenis mantra penolak dan pelindung agung. Usai menggelar ritual di perempatan desa, upacara selanjutnya dilakukan di dalam rumah. Baik laki-laki maupun perempuan diharapkan menyucikan diri dengan cara menatab sarana upacara yang maknanya sering tidak kita ketahui: yaitu sayut pamyakala [pengusir Kala], lara malaradan [peluruh lara], dan prayascita [penyuci pikiran].

Secara lebih khusus lagi, pustaka Siwa Tattwa Purana menjelaskan persembahan pada Tilem Kasanga yang berupa tawur ditujukan kepada Sang Hyang Kala Gumi (Tĕka wĕnang wong ing madhya ginawe tawur mwang Nyepi sadinten. Den hana pranging satha ya lalapĕn Sang Kala Bhumi). Sarana persembahannya adalah tetesan darah ayam sabungan yang dilaksanakan warga desa. Hal inilah yang menyebabkan banyak sabung ayam kecil yang kerap dilakukan sebelum pelaksanaan tawur. Meski sudah sangat berkurang karena ada aturan yang melarang judi sabung ayam, di beberapa desa tradisi ini masih hidup hingga saat ini.

Menyimak penjelasan pustaka di atas yang menggambarkan suasana heroik serupa pertempuran pada Aji Swamandala dan Sundarigama, kita menjadi tergoda untuk menafsirkan lebih jauh arti kata Pangrupukan. Apakah mungkin kata iniberasal dari paruput dalam bahasa Bali yang berarti ‘bertarung di dalam tempat terkurung’? Maksudnya, ketika hendak mengembalikan Bhuta Kala ke tempatnya, terjadi proses adu kekuatan sehingga mereka menjauh dari desa. Dugaan ini dapat diperkuat dengan istilah lain, yaitu Nogtog yang bermakna ‘mengetuk pintu dengan keras’ di tempat-tempat para Bhuta Kala potensial untuk tinggal. Demikian pula, satu istilah lagi yang sering digunakan untuk Pangrupukan, yaitu Ngrebeg yang berarti ‘menggrebek’ kawanan Bhuta Kala sehingga kembali ke tempat asalnya.

Ogoh-Ogoh

Berdasarkan tiga sumber sastra yang menjelaskan pelaksanaan Pangrupukan pada hari suci Tilem Kasanga di atas, keterangan yang secara langsung mewajibkan adanya ogoh-ogoh pada saat Pangrupukan atau Caru Sasepen tidak ditemukan. Dalam Aji Swamandala hanya disebutkan ketika caru digelar mesti diiringi gambelan, kentongan bulus, dan sorak-sorai yang ramai. Dalam konteks pangramya inilah ogoh-ogoh dihadirkan. Ogoh-ogoh yang dibuat dengan kreativitas tinggi dapat dipastikan akan menjadi magnitud bagi orang-orang untuk bersama-sama berkeliling desa.

Istilah ogoh-ogoh sendiri sesungguhnya relatif baru. Dalam bahasa Bali, kata yang dekat dengan istilah ogoh-ogoh adalah ogah yang bermakna goyang. Kata ogah-ogah berarti bergoyang-goyang. Untuk menunjukkan bahwa ada gerakan sosok bertubuh besar yang bergoyang-goyang, maka muncullah kata ogoh-ogoh. Bunyi o yang mendominasi kata tersebut memiliki konfigurasi makna sesuatu yang besar, sama seperti kata kecrot, kebrot, grobog, dan yang lainnya.

Lagu ogoh-ogoh di youtube | Foto: tangkap layar youtube

Kata ogoh-ogoh kemungkinan besar makin populer ketika Okid Kress dan Yan Bero menciptakan dan menyanyikan lagu yang berjudul Ogoh-Ogoh pada tahun 1990-an. Konteks pemakaian kata ogoh-ogoh dalam lagu ini sesungguhnya tepat. Sebab, Okid Kress dan Yan Bero menyebutkan ogah-ogah ogoh-ogoh Kala Kali lumampah yang bermakna ‘bergoyang-goyang terus, [ketika] Kala dan Kali berjalan’.

Melacak lebih jauh ke era kolonial, setidaknya dari karya Miguell Covarubias, pelaksanaan Pangrupukan di Bali tahun 1930-an belum memakai ogoh-ogoh. Covarubias dalam buku monumentalnya Island of Bali itu hanya menyatakan bahwa upacara tawur yang dilaksanakan di Denpasar sempat diramaikan dengan sabung ayam. Pemerintah Belanda saat itu memberikan izin kepada masyarakat untuk melakukan sabung ayam karena diyakini berhubungan erat dengan ritus tawur kasanga. Sesudah sabung ayam dan tawur kasanga, masyarakat meledakkan petasan di segala arah dan menyuarakan semua kentongan dengan riuh rendah. Para penduduk juga berlarian dalam kelompok-kelompok dengan wajah dan tubuh yang digambari, membawa obor, memukul gendang, gong, kaleng, atau apa pun yang dapat menghasilkan bunyi. Masyarakat kala itu meneriakkan kata magedi-magedi ‘pergi-pergi yang dilakukan hingga larut malam.

Ogoh-Ogoh Paksi Ireng, Karya Marmar Herayukti | Foto: Now Bali.co.id

Seluruh penjelasan etnografis Covarubias di atas sangat relevan dengan penjelasan Aji Swamandala, Sundarigama, dan Siwa Purana Tattwa. Dari penjelasan penting tersebut, kreativitas pembuatan ogoh-ogoh tampaknya belum terjadi pada zaman kolonial. Demikian pula pada masa sebelumnya ketika masyarakat Bali masih berada di zaman kerajaan. Meskipun tradisi serupa sudah ada, misalnya pembuatan kaki patuk dan nini patuk (dadong sempret) pada saat ritus upacara pangabenan. Banyak pihak yang menduga bahwa kreativitas kolektif untuk membuat ogoh-ogoh pada saat Pangrupukan terjadi sekitar tahun 1980-an dan berlanjut hingga sekarang. Bahkan, pembuatan ogoh-ogoh menjadi lebih bergairah, daripada pelaksanaan hari suci Nyepi yang dilakukan setelahnya.

Ramya, Somya, dan Śunya

Ogoh-ogoh memang sebentuk kreativitas budaya yang anyar. Apabila kita mengacu pada pustaka Aji Swamandala, ogoh-ogoh yang diarak keliling desa pada saat Pangrupukan merupakan bagian dari pangramya ‘peramai’ (surangkang ramya). Sama seperti gambelan dan kulkul bulus yang kini bertransformasi menjadi berbagai bentuk seni pertunjukan seperti balaganjur, masyarakat Bali juga menyisipkan satu seni rupa sebagai simbol Bhuta Kala pada saat tawur dilakukan, yaitu ogoh-ogoh.

Lantas, kenapa ogoh-ogoh identik dengan wujud yang menakutkan? Penjelasan ini bisa kita temukan dalam pustaka Adiparwa, khususnya dalam fragmen Jaratkaru. Sang Jaratkaru adalah pendeta yang memiliki wajah menakutkan karena bertugas untuk menghancurkan kekuatan jahat. Teks itu menyatakan sebagai berikut: tekaning katakutnyāśarira, yogya katakutana, apan makasbhāwa kṣaya. Dalam konteks yang lebih luas, para dewata dalam ajaran Hindu (Siwa) juga memiliki bentuk krura [menakutkan] ketika hendak menghancurkan kejahatan. Parwati, shakti Shiwa memiliki wujud Durga Mahesasura Mardini ketika mengalahkan raksasa bengis berkepala kerbau. Krisna sebagai perwujudan Wisnu pun memiliki wujud Krisna Murti ketika hendak menghukum Kurawa atas berbagai kejahatan yang dilakukannya dalam Mahabarata.

Sampai di sini, kiranya tentang wujud ogoh-ogoh yang menyeramkan ditopang oleh sumber sastra. Dengan itu, kehadiran ogoh-ogoh sesungguhnya menjadi bagian utuh dari Pangrupukan yaitu dalam proses mengembalikan [mengusir] para Bhuta Kala ke asalnya masing-masing pasca mendapatkan sesajen berupa tawur. Dalam bahasa yang lebih sederhana, usai mendapatkan sesajen di jantung desa, para Bhuta Kala yang berwatak destruktifdiharapkan bisa menjadi somya ‘damai’ serta tidak tinggal dan mengganggu stabilitas desa. Pada saat yang bersamaan, ogoh-ogoh juga diharapkan dapat menjadi sebentuk kekuatan yang lebih besar untuk mengusir wabah dan musibah berupa sasab dan mrana yang bisa saja menimpa desa dalam siklus waktu tahunan terutama sasih ka-6 (Desember) sampai ke-9 (Maret).

Proses transformasi dari ramya ‘ramai’ ke somya ‘damai’ pada saat Pangrupukan mesti bergerak selangkah lagi untuk sampai pada puncaknya yaitu mencapai sunya ‘keheningan tertinggi’ pada saat hari suci Nyepi dilakukan. Catur Brata Panyepian yang terdiri atas empat janji diri seperti tidak menyalakan api (mati geni), tidak memenuhi objek indrawi (mati lelanguan), tidak bepergian (mati lelungan), dan menghentikan aktivitas (mati karya) itulah yang dijadikan sarana untuk mencapai keheningan secara penuh. Dengan melakukan berbagai jenis brata, kita diharapkan dapat suntuk dalam samadhi sebagai bagian dari ajaran yoga. Tujuan akhir dari yoga adalah bersatu dengan beliau yang bertubuh Kesunyian Tertinggi, yaitu Parama Shiwa.

Sampai saat ini, di balik euforia ogoh-ogoh yang ramya ‘ramai’ kita sering melupakan dimensi somya ‘damai’ dan shunya ‘sunyi’ sebagai capaian dari pendakian rohani yang lebih tinggi ketika hari suci Nyepi. Ternyata, budaya kita yang terlalu kolektif menyebabkan Nyepi menjadi tidak mudah. Untuk memasuki ruang diri pada saat Nyepi, orang Bali perlu bantuan Pacalang untuk lalu lalang. Meski di dalam rumah mungkin tak ada satupun brata yang dijalankan.

Tak hanya pada saat Nyepi, bagian yang penting untuk kita jadikan bahan renungan adalah pelaksanaan Pangrupukan. Kalau dari informasi Miguell Covarubias kita tahu bahwa sejak era tahun 1930-an Pangrupukan dapat diiringi dengan gambelan sederhana berupa kulkul bulus dan alat lain untuk menghasilkan bunyi, anggota sekaa truna kini tak perlu khawatir apabila tidak memiliki gambelan balaganjur. Tak ada gambelan, kulkul masih bisa digunakan. Tak ada kulkul, kata “magedi-magedi” masih bisa dihasilkan sendiri. Suara-suara itu melengkapi mantra pangraksa yang diucapkan oleh para pendeta.

 

Anak-Anak Menggambar dan Mewarnai Diri dengan Wajah Menakutkan, dalam Ritus Ngrebeg di Tegalalang | Foto: Kompas.com

Di samping itu, jika dari penjelasan Covarubias kita menyadari bahwa pembuatan ogoh-ogoh sesungguhnya bagian dari alih kreativitas orang-orang yang semula memoles dan menggambar wajah sendiri [serupa dengan ritus Ngrebeg di Desa Tegalalang] lalu berkembang menjadi pembuatan kreativitas seni berupa ogoh-ogoh, anggota sekaa truna tidak perlu memaksakan diri untuk menghabiskan dana yang besar agar bisa bersaing dengan banjar lain yang memang memiliki sumber dana yang tinggi. Salah satu kriteria penting dari maraknya lomba ogoh-ogoh yang perlu dipertimbangkan adalah persoalan dana yang dihabiskan. Seharusnya, semakin sedikit uang yang dikeluarkan, pada saat yang bersamaan ada kreativitas yang dimekarkan. Bukankah penekun kawisesan di Bali sudah lama menyadari, bahwa bukan sarana ‘bahan’ yang penting, tapi jnyana ‘kualitas pemikiran’ original dari penciptanya?

Terakhir, jika kita sadar bahwa ogoh-ogoh dan pacaruan secara esensi adalah bagian dari persembahan kepada beliau yang memiliki ‘kekuatan destruktif semesta’ bergelar Sang Kala Gumi, seharusnya tak ada lagi bahan ogoh-ogoh yang dapat menyebabkan kerusakan bumi seperti sampah plastik, botol bekas minuman, bahan sterofom, dan lainnya. Demikian pula pada saat mengaraknya keliling desa. Melalui Pangrupukan dan Nyepi mari kita jeda sebentar, agar bumi yang terus kita eksploitasi berkesempatan mendetoksifikasi ‘memulihkan’ diri. [T]

Paris, 5 Maret 2025

Penulis: Putu Eka Guna Yasa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
YONINÉ GENTOSIN: Mengubah Kualitas Kelahiran Perspektif Ida Padanda Made Sidemen
TRI KARANA SWARŪPA : Temuan Ida Wayan Oka Granoka untuk Menjawab Tantangan Zaman
“Warabhoga”: Refleksi Makanan Bergizi untuk Pelajar-Pertapa dalam Sastra Kawi
Tags: baliHari Raya NyepihinduHindu Baliogoh-ogohtradisi nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kawalu, Bulan Puasanya Suku Baduy

Next Post

Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co