5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
March 9, 2025
in Esai
SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh

Ogoh-ogoh | Gambar diolah dari berbagai sumber di internet

Sumber Sastra

Ogoh-ogoh yang kini menghiasi setiap sudut balai banjar di Bali lahir dari rahim rangkaian pelaksanaan hari suci Nyepi. Secara lebih khusus, ogoh-ogoh diarak sehari sebelum Nyepi melalui prosesi yang dikenal luas dengan sebutan Pangrupukan. Sebelum sampai pada pusaran hal yang mungkin luput dari perhatian, mari kita tengok dulu sejumlah sumber sastra tentang Pangrupukan. Dengan sandaran sastra, kita bisa melihat genetika ide dari kreativitas ini, termasuk pula perkembangannya kini.

Pustaka Aji Swamandala memaparkan bahwa pada saat Tilem Kasanga, kawanan Kala dan Kali mendatangi desa untuk mencari mangsa (apan Sang Kala Kali wus minder mangulati bhuktinira, mara ring desa-desa kabeh). Oleh sebab itu, baik di perempatan desa maupun di rumah, warga masyarakat menghaturkan sesajen berupa pacaruan. Setelah upacara pacaruan dihaturkan, barulah Pangrupukan dilaksanakan. Menariknya, pustaka Aji Swamandala menyatakan Pangrupukan dengan istilah Caru Asasapen yang berarti ‘caru yang digelar sebelum Nyepi’. Ketika caru dipersembahkan, pada saat yang bersamaan diiringi pula oleh gambelan, kentongan bulus, dan sorak sorai yang ramai (maduluran tangguran, mambulus, mwang surangkang ramya).

Senada dengan Aji Swamandala, pustaka Sundarigama sebagai salah satu sumber literasi upacara yang paling sistematis di Bali bahkan memberikan penjelasan yang lebih rinci. Pustaka ini menyatakan bahwa pada malam tergelap di fase peralihan bulan ke-9(sekitar Maret) menuju ke-10 (sekitar April) upacara Bhūṭa Yadnya mesti digelar di pusat desa. Tingkatannya bisa dipilih mulai dari yang terkecil, yaitu caru panca sata, panca sanak, ataupun tawur pada tingkatan yang lebih besar. Di pekarangan rumah dipersembahkan sesajen berupa nasi sembilan tanding dengan ayam brumbun, serta tetabuhan tuak dan arak yang diletakkan di depan pintu rumah. Sesajen itu ditujukan kepada Sang Bhuta Raja dan Kala Raja. Tidak ketinggalan, para pasukan Bhuta Kala juga diberikan sesaji berupa nasi 108 tanding yang dilengkapi dengan jeroan mentah, serta satu segehan agung.

Setelah selesai melakukan upacara tawur, barulah Pangrupukan dilakukan. Tujuan Pangrupukan yang utama menurut pustaka Sundarigama adalah mengembalikan para Bhuta Kala ke tempat asalnya (umantukaken ikang sarwa bhuta kala kabeh) dan mengusir wabah, baik sasab maupun mrana (angunduraken sasab mrana) sehingga tidak mengganggu stabilitas desa. Sarana yang digunakan adalah obor-obor, kokorok, dan api yang dinyalakan dengan daun kelapa kering serta disembur dengan rempah masui. Pada saat Pangrupukan, para pendeta memanjatkan berbagai jenis mantra penolak dan pelindung agung. Usai menggelar ritual di perempatan desa, upacara selanjutnya dilakukan di dalam rumah. Baik laki-laki maupun perempuan diharapkan menyucikan diri dengan cara menatab sarana upacara yang maknanya sering tidak kita ketahui: yaitu sayut pamyakala [pengusir Kala], lara malaradan [peluruh lara], dan prayascita [penyuci pikiran].

Secara lebih khusus lagi, pustaka Siwa Tattwa Purana menjelaskan persembahan pada Tilem Kasanga yang berupa tawur ditujukan kepada Sang Hyang Kala Gumi (Tĕka wĕnang wong ing madhya ginawe tawur mwang Nyepi sadinten. Den hana pranging satha ya lalapĕn Sang Kala Bhumi). Sarana persembahannya adalah tetesan darah ayam sabungan yang dilaksanakan warga desa. Hal inilah yang menyebabkan banyak sabung ayam kecil yang kerap dilakukan sebelum pelaksanaan tawur. Meski sudah sangat berkurang karena ada aturan yang melarang judi sabung ayam, di beberapa desa tradisi ini masih hidup hingga saat ini.

Menyimak penjelasan pustaka di atas yang menggambarkan suasana heroik serupa pertempuran pada Aji Swamandala dan Sundarigama, kita menjadi tergoda untuk menafsirkan lebih jauh arti kata Pangrupukan. Apakah mungkin kata iniberasal dari paruput dalam bahasa Bali yang berarti ‘bertarung di dalam tempat terkurung’? Maksudnya, ketika hendak mengembalikan Bhuta Kala ke tempatnya, terjadi proses adu kekuatan sehingga mereka menjauh dari desa. Dugaan ini dapat diperkuat dengan istilah lain, yaitu Nogtog yang bermakna ‘mengetuk pintu dengan keras’ di tempat-tempat para Bhuta Kala potensial untuk tinggal. Demikian pula, satu istilah lagi yang sering digunakan untuk Pangrupukan, yaitu Ngrebeg yang berarti ‘menggrebek’ kawanan Bhuta Kala sehingga kembali ke tempat asalnya.

Ogoh-Ogoh

Berdasarkan tiga sumber sastra yang menjelaskan pelaksanaan Pangrupukan pada hari suci Tilem Kasanga di atas, keterangan yang secara langsung mewajibkan adanya ogoh-ogoh pada saat Pangrupukan atau Caru Sasepen tidak ditemukan. Dalam Aji Swamandala hanya disebutkan ketika caru digelar mesti diiringi gambelan, kentongan bulus, dan sorak-sorai yang ramai. Dalam konteks pangramya inilah ogoh-ogoh dihadirkan. Ogoh-ogoh yang dibuat dengan kreativitas tinggi dapat dipastikan akan menjadi magnitud bagi orang-orang untuk bersama-sama berkeliling desa.

Istilah ogoh-ogoh sendiri sesungguhnya relatif baru. Dalam bahasa Bali, kata yang dekat dengan istilah ogoh-ogoh adalah ogah yang bermakna goyang. Kata ogah-ogah berarti bergoyang-goyang. Untuk menunjukkan bahwa ada gerakan sosok bertubuh besar yang bergoyang-goyang, maka muncullah kata ogoh-ogoh. Bunyi o yang mendominasi kata tersebut memiliki konfigurasi makna sesuatu yang besar, sama seperti kata kecrot, kebrot, grobog, dan yang lainnya.

Lagu ogoh-ogoh di youtube | Foto: tangkap layar youtube

Kata ogoh-ogoh kemungkinan besar makin populer ketika Okid Kress dan Yan Bero menciptakan dan menyanyikan lagu yang berjudul Ogoh-Ogoh pada tahun 1990-an. Konteks pemakaian kata ogoh-ogoh dalam lagu ini sesungguhnya tepat. Sebab, Okid Kress dan Yan Bero menyebutkan ogah-ogah ogoh-ogoh Kala Kali lumampah yang bermakna ‘bergoyang-goyang terus, [ketika] Kala dan Kali berjalan’.

Melacak lebih jauh ke era kolonial, setidaknya dari karya Miguell Covarubias, pelaksanaan Pangrupukan di Bali tahun 1930-an belum memakai ogoh-ogoh. Covarubias dalam buku monumentalnya Island of Bali itu hanya menyatakan bahwa upacara tawur yang dilaksanakan di Denpasar sempat diramaikan dengan sabung ayam. Pemerintah Belanda saat itu memberikan izin kepada masyarakat untuk melakukan sabung ayam karena diyakini berhubungan erat dengan ritus tawur kasanga. Sesudah sabung ayam dan tawur kasanga, masyarakat meledakkan petasan di segala arah dan menyuarakan semua kentongan dengan riuh rendah. Para penduduk juga berlarian dalam kelompok-kelompok dengan wajah dan tubuh yang digambari, membawa obor, memukul gendang, gong, kaleng, atau apa pun yang dapat menghasilkan bunyi. Masyarakat kala itu meneriakkan kata magedi-magedi ‘pergi-pergi yang dilakukan hingga larut malam.

Ogoh-Ogoh Paksi Ireng, Karya Marmar Herayukti | Foto: Now Bali.co.id

Seluruh penjelasan etnografis Covarubias di atas sangat relevan dengan penjelasan Aji Swamandala, Sundarigama, dan Siwa Purana Tattwa. Dari penjelasan penting tersebut, kreativitas pembuatan ogoh-ogoh tampaknya belum terjadi pada zaman kolonial. Demikian pula pada masa sebelumnya ketika masyarakat Bali masih berada di zaman kerajaan. Meskipun tradisi serupa sudah ada, misalnya pembuatan kaki patuk dan nini patuk (dadong sempret) pada saat ritus upacara pangabenan. Banyak pihak yang menduga bahwa kreativitas kolektif untuk membuat ogoh-ogoh pada saat Pangrupukan terjadi sekitar tahun 1980-an dan berlanjut hingga sekarang. Bahkan, pembuatan ogoh-ogoh menjadi lebih bergairah, daripada pelaksanaan hari suci Nyepi yang dilakukan setelahnya.

Ramya, Somya, dan Śunya

Ogoh-ogoh memang sebentuk kreativitas budaya yang anyar. Apabila kita mengacu pada pustaka Aji Swamandala, ogoh-ogoh yang diarak keliling desa pada saat Pangrupukan merupakan bagian dari pangramya ‘peramai’ (surangkang ramya). Sama seperti gambelan dan kulkul bulus yang kini bertransformasi menjadi berbagai bentuk seni pertunjukan seperti balaganjur, masyarakat Bali juga menyisipkan satu seni rupa sebagai simbol Bhuta Kala pada saat tawur dilakukan, yaitu ogoh-ogoh.

Lantas, kenapa ogoh-ogoh identik dengan wujud yang menakutkan? Penjelasan ini bisa kita temukan dalam pustaka Adiparwa, khususnya dalam fragmen Jaratkaru. Sang Jaratkaru adalah pendeta yang memiliki wajah menakutkan karena bertugas untuk menghancurkan kekuatan jahat. Teks itu menyatakan sebagai berikut: tekaning katakutnyāśarira, yogya katakutana, apan makasbhāwa kṣaya. Dalam konteks yang lebih luas, para dewata dalam ajaran Hindu (Siwa) juga memiliki bentuk krura [menakutkan] ketika hendak menghancurkan kejahatan. Parwati, shakti Shiwa memiliki wujud Durga Mahesasura Mardini ketika mengalahkan raksasa bengis berkepala kerbau. Krisna sebagai perwujudan Wisnu pun memiliki wujud Krisna Murti ketika hendak menghukum Kurawa atas berbagai kejahatan yang dilakukannya dalam Mahabarata.

Sampai di sini, kiranya tentang wujud ogoh-ogoh yang menyeramkan ditopang oleh sumber sastra. Dengan itu, kehadiran ogoh-ogoh sesungguhnya menjadi bagian utuh dari Pangrupukan yaitu dalam proses mengembalikan [mengusir] para Bhuta Kala ke asalnya masing-masing pasca mendapatkan sesajen berupa tawur. Dalam bahasa yang lebih sederhana, usai mendapatkan sesajen di jantung desa, para Bhuta Kala yang berwatak destruktifdiharapkan bisa menjadi somya ‘damai’ serta tidak tinggal dan mengganggu stabilitas desa. Pada saat yang bersamaan, ogoh-ogoh juga diharapkan dapat menjadi sebentuk kekuatan yang lebih besar untuk mengusir wabah dan musibah berupa sasab dan mrana yang bisa saja menimpa desa dalam siklus waktu tahunan terutama sasih ka-6 (Desember) sampai ke-9 (Maret).

Proses transformasi dari ramya ‘ramai’ ke somya ‘damai’ pada saat Pangrupukan mesti bergerak selangkah lagi untuk sampai pada puncaknya yaitu mencapai sunya ‘keheningan tertinggi’ pada saat hari suci Nyepi dilakukan. Catur Brata Panyepian yang terdiri atas empat janji diri seperti tidak menyalakan api (mati geni), tidak memenuhi objek indrawi (mati lelanguan), tidak bepergian (mati lelungan), dan menghentikan aktivitas (mati karya) itulah yang dijadikan sarana untuk mencapai keheningan secara penuh. Dengan melakukan berbagai jenis brata, kita diharapkan dapat suntuk dalam samadhi sebagai bagian dari ajaran yoga. Tujuan akhir dari yoga adalah bersatu dengan beliau yang bertubuh Kesunyian Tertinggi, yaitu Parama Shiwa.

Sampai saat ini, di balik euforia ogoh-ogoh yang ramya ‘ramai’ kita sering melupakan dimensi somya ‘damai’ dan shunya ‘sunyi’ sebagai capaian dari pendakian rohani yang lebih tinggi ketika hari suci Nyepi. Ternyata, budaya kita yang terlalu kolektif menyebabkan Nyepi menjadi tidak mudah. Untuk memasuki ruang diri pada saat Nyepi, orang Bali perlu bantuan Pacalang untuk lalu lalang. Meski di dalam rumah mungkin tak ada satupun brata yang dijalankan.

Tak hanya pada saat Nyepi, bagian yang penting untuk kita jadikan bahan renungan adalah pelaksanaan Pangrupukan. Kalau dari informasi Miguell Covarubias kita tahu bahwa sejak era tahun 1930-an Pangrupukan dapat diiringi dengan gambelan sederhana berupa kulkul bulus dan alat lain untuk menghasilkan bunyi, anggota sekaa truna kini tak perlu khawatir apabila tidak memiliki gambelan balaganjur. Tak ada gambelan, kulkul masih bisa digunakan. Tak ada kulkul, kata “magedi-magedi” masih bisa dihasilkan sendiri. Suara-suara itu melengkapi mantra pangraksa yang diucapkan oleh para pendeta.

 

Anak-Anak Menggambar dan Mewarnai Diri dengan Wajah Menakutkan, dalam Ritus Ngrebeg di Tegalalang | Foto: Kompas.com

Di samping itu, jika dari penjelasan Covarubias kita menyadari bahwa pembuatan ogoh-ogoh sesungguhnya bagian dari alih kreativitas orang-orang yang semula memoles dan menggambar wajah sendiri [serupa dengan ritus Ngrebeg di Desa Tegalalang] lalu berkembang menjadi pembuatan kreativitas seni berupa ogoh-ogoh, anggota sekaa truna tidak perlu memaksakan diri untuk menghabiskan dana yang besar agar bisa bersaing dengan banjar lain yang memang memiliki sumber dana yang tinggi. Salah satu kriteria penting dari maraknya lomba ogoh-ogoh yang perlu dipertimbangkan adalah persoalan dana yang dihabiskan. Seharusnya, semakin sedikit uang yang dikeluarkan, pada saat yang bersamaan ada kreativitas yang dimekarkan. Bukankah penekun kawisesan di Bali sudah lama menyadari, bahwa bukan sarana ‘bahan’ yang penting, tapi jnyana ‘kualitas pemikiran’ original dari penciptanya?

Terakhir, jika kita sadar bahwa ogoh-ogoh dan pacaruan secara esensi adalah bagian dari persembahan kepada beliau yang memiliki ‘kekuatan destruktif semesta’ bergelar Sang Kala Gumi, seharusnya tak ada lagi bahan ogoh-ogoh yang dapat menyebabkan kerusakan bumi seperti sampah plastik, botol bekas minuman, bahan sterofom, dan lainnya. Demikian pula pada saat mengaraknya keliling desa. Melalui Pangrupukan dan Nyepi mari kita jeda sebentar, agar bumi yang terus kita eksploitasi berkesempatan mendetoksifikasi ‘memulihkan’ diri. [T]

Paris, 5 Maret 2025

Penulis: Putu Eka Guna Yasa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
YONINÉ GENTOSIN: Mengubah Kualitas Kelahiran Perspektif Ida Padanda Made Sidemen
TRI KARANA SWARŪPA : Temuan Ida Wayan Oka Granoka untuk Menjawab Tantangan Zaman
“Warabhoga”: Refleksi Makanan Bergizi untuk Pelajar-Pertapa dalam Sastra Kawi
Tags: baliHari Raya NyepihinduHindu Baliogoh-ogohtradisi nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kawalu, Bulan Puasanya Suku Baduy

Next Post

Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co