26 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
March 9, 2025
in Esai
SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh

Ogoh-ogoh | Gambar diolah dari berbagai sumber di internet

Sumber Sastra

Ogoh-ogoh yang kini menghiasi setiap sudut balai banjar di Bali lahir dari rahim rangkaian pelaksanaan hari suci Nyepi. Secara lebih khusus, ogoh-ogoh diarak sehari sebelum Nyepi melalui prosesi yang dikenal luas dengan sebutan Pangrupukan. Sebelum sampai pada pusaran hal yang mungkin luput dari perhatian, mari kita tengok dulu sejumlah sumber sastra tentang Pangrupukan. Dengan sandaran sastra, kita bisa melihat genetika ide dari kreativitas ini, termasuk pula perkembangannya kini.

Pustaka Aji Swamandala memaparkan bahwa pada saat Tilem Kasanga, kawanan Kala dan Kali mendatangi desa untuk mencari mangsa (apan Sang Kala Kali wus minder mangulati bhuktinira, mara ring desa-desa kabeh). Oleh sebab itu, baik di perempatan desa maupun di rumah, warga masyarakat menghaturkan sesajen berupa pacaruan. Setelah upacara pacaruan dihaturkan, barulah Pangrupukan dilaksanakan. Menariknya, pustaka Aji Swamandala menyatakan Pangrupukan dengan istilah Caru Asasapen yang berarti ‘caru yang digelar sebelum Nyepi’. Ketika caru dipersembahkan, pada saat yang bersamaan diiringi pula oleh gambelan, kentongan bulus, dan sorak sorai yang ramai (maduluran tangguran, mambulus, mwang surangkang ramya).

Senada dengan Aji Swamandala, pustaka Sundarigama sebagai salah satu sumber literasi upacara yang paling sistematis di Bali bahkan memberikan penjelasan yang lebih rinci. Pustaka ini menyatakan bahwa pada malam tergelap di fase peralihan bulan ke-9(sekitar Maret) menuju ke-10 (sekitar April) upacara Bhūṭa Yadnya mesti digelar di pusat desa. Tingkatannya bisa dipilih mulai dari yang terkecil, yaitu caru panca sata, panca sanak, ataupun tawur pada tingkatan yang lebih besar. Di pekarangan rumah dipersembahkan sesajen berupa nasi sembilan tanding dengan ayam brumbun, serta tetabuhan tuak dan arak yang diletakkan di depan pintu rumah. Sesajen itu ditujukan kepada Sang Bhuta Raja dan Kala Raja. Tidak ketinggalan, para pasukan Bhuta Kala juga diberikan sesaji berupa nasi 108 tanding yang dilengkapi dengan jeroan mentah, serta satu segehan agung.

Setelah selesai melakukan upacara tawur, barulah Pangrupukan dilakukan. Tujuan Pangrupukan yang utama menurut pustaka Sundarigama adalah mengembalikan para Bhuta Kala ke tempat asalnya (umantukaken ikang sarwa bhuta kala kabeh) dan mengusir wabah, baik sasab maupun mrana (angunduraken sasab mrana) sehingga tidak mengganggu stabilitas desa. Sarana yang digunakan adalah obor-obor, kokorok, dan api yang dinyalakan dengan daun kelapa kering serta disembur dengan rempah masui. Pada saat Pangrupukan, para pendeta memanjatkan berbagai jenis mantra penolak dan pelindung agung. Usai menggelar ritual di perempatan desa, upacara selanjutnya dilakukan di dalam rumah. Baik laki-laki maupun perempuan diharapkan menyucikan diri dengan cara menatab sarana upacara yang maknanya sering tidak kita ketahui: yaitu sayut pamyakala [pengusir Kala], lara malaradan [peluruh lara], dan prayascita [penyuci pikiran].

Secara lebih khusus lagi, pustaka Siwa Tattwa Purana menjelaskan persembahan pada Tilem Kasanga yang berupa tawur ditujukan kepada Sang Hyang Kala Gumi (Tĕka wĕnang wong ing madhya ginawe tawur mwang Nyepi sadinten. Den hana pranging satha ya lalapĕn Sang Kala Bhumi). Sarana persembahannya adalah tetesan darah ayam sabungan yang dilaksanakan warga desa. Hal inilah yang menyebabkan banyak sabung ayam kecil yang kerap dilakukan sebelum pelaksanaan tawur. Meski sudah sangat berkurang karena ada aturan yang melarang judi sabung ayam, di beberapa desa tradisi ini masih hidup hingga saat ini.

Menyimak penjelasan pustaka di atas yang menggambarkan suasana heroik serupa pertempuran pada Aji Swamandala dan Sundarigama, kita menjadi tergoda untuk menafsirkan lebih jauh arti kata Pangrupukan. Apakah mungkin kata iniberasal dari paruput dalam bahasa Bali yang berarti ‘bertarung di dalam tempat terkurung’? Maksudnya, ketika hendak mengembalikan Bhuta Kala ke tempatnya, terjadi proses adu kekuatan sehingga mereka menjauh dari desa. Dugaan ini dapat diperkuat dengan istilah lain, yaitu Nogtog yang bermakna ‘mengetuk pintu dengan keras’ di tempat-tempat para Bhuta Kala potensial untuk tinggal. Demikian pula, satu istilah lagi yang sering digunakan untuk Pangrupukan, yaitu Ngrebeg yang berarti ‘menggrebek’ kawanan Bhuta Kala sehingga kembali ke tempat asalnya.

Ogoh-Ogoh

Berdasarkan tiga sumber sastra yang menjelaskan pelaksanaan Pangrupukan pada hari suci Tilem Kasanga di atas, keterangan yang secara langsung mewajibkan adanya ogoh-ogoh pada saat Pangrupukan atau Caru Sasepen tidak ditemukan. Dalam Aji Swamandala hanya disebutkan ketika caru digelar mesti diiringi gambelan, kentongan bulus, dan sorak-sorai yang ramai. Dalam konteks pangramya inilah ogoh-ogoh dihadirkan. Ogoh-ogoh yang dibuat dengan kreativitas tinggi dapat dipastikan akan menjadi magnitud bagi orang-orang untuk bersama-sama berkeliling desa.

Istilah ogoh-ogoh sendiri sesungguhnya relatif baru. Dalam bahasa Bali, kata yang dekat dengan istilah ogoh-ogoh adalah ogah yang bermakna goyang. Kata ogah-ogah berarti bergoyang-goyang. Untuk menunjukkan bahwa ada gerakan sosok bertubuh besar yang bergoyang-goyang, maka muncullah kata ogoh-ogoh. Bunyi o yang mendominasi kata tersebut memiliki konfigurasi makna sesuatu yang besar, sama seperti kata kecrot, kebrot, grobog, dan yang lainnya.

Lagu ogoh-ogoh di youtube | Foto: tangkap layar youtube

Kata ogoh-ogoh kemungkinan besar makin populer ketika Okid Kress dan Yan Bero menciptakan dan menyanyikan lagu yang berjudul Ogoh-Ogoh pada tahun 1990-an. Konteks pemakaian kata ogoh-ogoh dalam lagu ini sesungguhnya tepat. Sebab, Okid Kress dan Yan Bero menyebutkan ogah-ogah ogoh-ogoh Kala Kali lumampah yang bermakna ‘bergoyang-goyang terus, [ketika] Kala dan Kali berjalan’.

Melacak lebih jauh ke era kolonial, setidaknya dari karya Miguell Covarubias, pelaksanaan Pangrupukan di Bali tahun 1930-an belum memakai ogoh-ogoh. Covarubias dalam buku monumentalnya Island of Bali itu hanya menyatakan bahwa upacara tawur yang dilaksanakan di Denpasar sempat diramaikan dengan sabung ayam. Pemerintah Belanda saat itu memberikan izin kepada masyarakat untuk melakukan sabung ayam karena diyakini berhubungan erat dengan ritus tawur kasanga. Sesudah sabung ayam dan tawur kasanga, masyarakat meledakkan petasan di segala arah dan menyuarakan semua kentongan dengan riuh rendah. Para penduduk juga berlarian dalam kelompok-kelompok dengan wajah dan tubuh yang digambari, membawa obor, memukul gendang, gong, kaleng, atau apa pun yang dapat menghasilkan bunyi. Masyarakat kala itu meneriakkan kata magedi-magedi ‘pergi-pergi yang dilakukan hingga larut malam.

Ogoh-Ogoh Paksi Ireng, Karya Marmar Herayukti | Foto: Now Bali.co.id

Seluruh penjelasan etnografis Covarubias di atas sangat relevan dengan penjelasan Aji Swamandala, Sundarigama, dan Siwa Purana Tattwa. Dari penjelasan penting tersebut, kreativitas pembuatan ogoh-ogoh tampaknya belum terjadi pada zaman kolonial. Demikian pula pada masa sebelumnya ketika masyarakat Bali masih berada di zaman kerajaan. Meskipun tradisi serupa sudah ada, misalnya pembuatan kaki patuk dan nini patuk (dadong sempret) pada saat ritus upacara pangabenan. Banyak pihak yang menduga bahwa kreativitas kolektif untuk membuat ogoh-ogoh pada saat Pangrupukan terjadi sekitar tahun 1980-an dan berlanjut hingga sekarang. Bahkan, pembuatan ogoh-ogoh menjadi lebih bergairah, daripada pelaksanaan hari suci Nyepi yang dilakukan setelahnya.

Ramya, Somya, dan Śunya

Ogoh-ogoh memang sebentuk kreativitas budaya yang anyar. Apabila kita mengacu pada pustaka Aji Swamandala, ogoh-ogoh yang diarak keliling desa pada saat Pangrupukan merupakan bagian dari pangramya ‘peramai’ (surangkang ramya). Sama seperti gambelan dan kulkul bulus yang kini bertransformasi menjadi berbagai bentuk seni pertunjukan seperti balaganjur, masyarakat Bali juga menyisipkan satu seni rupa sebagai simbol Bhuta Kala pada saat tawur dilakukan, yaitu ogoh-ogoh.

Lantas, kenapa ogoh-ogoh identik dengan wujud yang menakutkan? Penjelasan ini bisa kita temukan dalam pustaka Adiparwa, khususnya dalam fragmen Jaratkaru. Sang Jaratkaru adalah pendeta yang memiliki wajah menakutkan karena bertugas untuk menghancurkan kekuatan jahat. Teks itu menyatakan sebagai berikut: tekaning katakutnyāśarira, yogya katakutana, apan makasbhāwa kṣaya. Dalam konteks yang lebih luas, para dewata dalam ajaran Hindu (Siwa) juga memiliki bentuk krura [menakutkan] ketika hendak menghancurkan kejahatan. Parwati, shakti Shiwa memiliki wujud Durga Mahesasura Mardini ketika mengalahkan raksasa bengis berkepala kerbau. Krisna sebagai perwujudan Wisnu pun memiliki wujud Krisna Murti ketika hendak menghukum Kurawa atas berbagai kejahatan yang dilakukannya dalam Mahabarata.

Sampai di sini, kiranya tentang wujud ogoh-ogoh yang menyeramkan ditopang oleh sumber sastra. Dengan itu, kehadiran ogoh-ogoh sesungguhnya menjadi bagian utuh dari Pangrupukan yaitu dalam proses mengembalikan [mengusir] para Bhuta Kala ke asalnya masing-masing pasca mendapatkan sesajen berupa tawur. Dalam bahasa yang lebih sederhana, usai mendapatkan sesajen di jantung desa, para Bhuta Kala yang berwatak destruktifdiharapkan bisa menjadi somya ‘damai’ serta tidak tinggal dan mengganggu stabilitas desa. Pada saat yang bersamaan, ogoh-ogoh juga diharapkan dapat menjadi sebentuk kekuatan yang lebih besar untuk mengusir wabah dan musibah berupa sasab dan mrana yang bisa saja menimpa desa dalam siklus waktu tahunan terutama sasih ka-6 (Desember) sampai ke-9 (Maret).

Proses transformasi dari ramya ‘ramai’ ke somya ‘damai’ pada saat Pangrupukan mesti bergerak selangkah lagi untuk sampai pada puncaknya yaitu mencapai sunya ‘keheningan tertinggi’ pada saat hari suci Nyepi dilakukan. Catur Brata Panyepian yang terdiri atas empat janji diri seperti tidak menyalakan api (mati geni), tidak memenuhi objek indrawi (mati lelanguan), tidak bepergian (mati lelungan), dan menghentikan aktivitas (mati karya) itulah yang dijadikan sarana untuk mencapai keheningan secara penuh. Dengan melakukan berbagai jenis brata, kita diharapkan dapat suntuk dalam samadhi sebagai bagian dari ajaran yoga. Tujuan akhir dari yoga adalah bersatu dengan beliau yang bertubuh Kesunyian Tertinggi, yaitu Parama Shiwa.

Sampai saat ini, di balik euforia ogoh-ogoh yang ramya ‘ramai’ kita sering melupakan dimensi somya ‘damai’ dan shunya ‘sunyi’ sebagai capaian dari pendakian rohani yang lebih tinggi ketika hari suci Nyepi. Ternyata, budaya kita yang terlalu kolektif menyebabkan Nyepi menjadi tidak mudah. Untuk memasuki ruang diri pada saat Nyepi, orang Bali perlu bantuan Pacalang untuk lalu lalang. Meski di dalam rumah mungkin tak ada satupun brata yang dijalankan.

Tak hanya pada saat Nyepi, bagian yang penting untuk kita jadikan bahan renungan adalah pelaksanaan Pangrupukan. Kalau dari informasi Miguell Covarubias kita tahu bahwa sejak era tahun 1930-an Pangrupukan dapat diiringi dengan gambelan sederhana berupa kulkul bulus dan alat lain untuk menghasilkan bunyi, anggota sekaa truna kini tak perlu khawatir apabila tidak memiliki gambelan balaganjur. Tak ada gambelan, kulkul masih bisa digunakan. Tak ada kulkul, kata “magedi-magedi” masih bisa dihasilkan sendiri. Suara-suara itu melengkapi mantra pangraksa yang diucapkan oleh para pendeta.

 

Anak-Anak Menggambar dan Mewarnai Diri dengan Wajah Menakutkan, dalam Ritus Ngrebeg di Tegalalang | Foto: Kompas.com

Di samping itu, jika dari penjelasan Covarubias kita menyadari bahwa pembuatan ogoh-ogoh sesungguhnya bagian dari alih kreativitas orang-orang yang semula memoles dan menggambar wajah sendiri [serupa dengan ritus Ngrebeg di Desa Tegalalang] lalu berkembang menjadi pembuatan kreativitas seni berupa ogoh-ogoh, anggota sekaa truna tidak perlu memaksakan diri untuk menghabiskan dana yang besar agar bisa bersaing dengan banjar lain yang memang memiliki sumber dana yang tinggi. Salah satu kriteria penting dari maraknya lomba ogoh-ogoh yang perlu dipertimbangkan adalah persoalan dana yang dihabiskan. Seharusnya, semakin sedikit uang yang dikeluarkan, pada saat yang bersamaan ada kreativitas yang dimekarkan. Bukankah penekun kawisesan di Bali sudah lama menyadari, bahwa bukan sarana ‘bahan’ yang penting, tapi jnyana ‘kualitas pemikiran’ original dari penciptanya?

Terakhir, jika kita sadar bahwa ogoh-ogoh dan pacaruan secara esensi adalah bagian dari persembahan kepada beliau yang memiliki ‘kekuatan destruktif semesta’ bergelar Sang Kala Gumi, seharusnya tak ada lagi bahan ogoh-ogoh yang dapat menyebabkan kerusakan bumi seperti sampah plastik, botol bekas minuman, bahan sterofom, dan lainnya. Demikian pula pada saat mengaraknya keliling desa. Melalui Pangrupukan dan Nyepi mari kita jeda sebentar, agar bumi yang terus kita eksploitasi berkesempatan mendetoksifikasi ‘memulihkan’ diri. [T]

Paris, 5 Maret 2025

Penulis: Putu Eka Guna Yasa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
YONINÉ GENTOSIN: Mengubah Kualitas Kelahiran Perspektif Ida Padanda Made Sidemen
TRI KARANA SWARŪPA : Temuan Ida Wayan Oka Granoka untuk Menjawab Tantangan Zaman
“Warabhoga”: Refleksi Makanan Bergizi untuk Pelajar-Pertapa dalam Sastra Kawi
Tags: baliHari Raya NyepihinduHindu Baliogoh-ogohtradisi nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kawalu, Bulan Puasanya Suku Baduy

Next Post

Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co