3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Warabhoga”: Refleksi Makanan Bergizi untuk Pelajar-Pertapa dalam Sastra Kawi

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
January 6, 2025
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

MENAPAK tahun baru 2025, pemerintah Republik Indonesia merealisasikan program makan bergizi gratis untuk para pelajar. Meskipun menuai pro-kontra, program ini memiliki niat yang baik. Beberapa di antaranya adalah meningkatkan asupan gizi anak sekolah, mengurangi angka putus sekolah, meningkatkan partisipasi siswa, meningkatkan motivasi belajar anak, dan yang lainnya. Tujuan jangka panjangnya yaitu membentuk generasi emas 2045.   

Di tengah akses informasi yang menganga lebar saat ini, tentu sistem pengetahuan untuk memilih dan memilah makanan bergizi bisa diakses dengan cepat dari semua tempat. Akan tetapi, tidakkah tradisi sastra Kawi sebagai lumbung pengetahuan masa lalu menyisakan jejak-jejak kearifannya untuk kita gunakan sebagai referensi saat ini?

Jika pertanyaan itu kita ajukan dengan sungguh-sungguh maka khazanah literasi sastra Kawi menyatakan bahwa perbaikan kualitas gizi, termasuk di dalamnya fisik dan rohani bisa disangga dengan suatu sikap hidup yang disebut dengan brata. Kata brata tidak hanya berarti berpantang, tetapi juga sikap hidup yang konsisten untuk memilih sesuatu yang dibutuhkan untuk kesehatan tubuh, perkembangan kualitas mental, dan juga pertumbuhan spiritual.

Sumber Sastra

Pustaka Brata yang keberadaannya cukup melimpah seperti Aji Brata, Tattwa Brata,  Bebratayan Wong Beling, Suptaprana, Lebur Gangsa, dan lainnya memberikan petunjuk penting tidak saja berkaitan dengan pemilihan jenis makanan yang bergizi, tetapi juga aspek kehigienisan dan tata etika makan yang bertujuan agar segala sesuatu yang dikonsumsi ngamertanin atau memberi daya kehidupan. Bukan sebaliknya ngawisyanin atau membawa penyakit. 

Foto Panel Candi Borobudur: Masyarakat Memastikan Ketersediaan Pangan | Sumber: common.wiki

Pustaka Aji Brata menyatakan jenis brata yang penting diterapkan sebelum makan dengan istilah istilah asuci laksana. Brata ini dilakukan dengan cara tidak makan apabila belum mencuci wajah, dan meminyaki rambut [bratā aśuci lakşańā, nga, tan pamangan yan durung ararawup, alĕlĕnga]. Pesan yang tersirat dalam pustaka tersebut jelas menekankan pentingnya usaha menjaga kebersihan atau kehigienisan sebelum makan. Imbauan yang sama ternyata juga diwacanakandalam Geguritan Lodha dengan ungkapan eda ngamah satonden manjus, masih ulahang pisan, bratayang pilihin i camah campur, yadin mainĕm-inĕman, nda nginĕm ne mamunyahin ‘jangan makan sebelum mandi, juga usahakan sekali, hindari dan cermati makanan yang kotor, termasuk pula meminum-minuman, jangan minum yang memabukkan’.

Kehigienisan yang ditekankan dua pustaka di atas dilengkapi dengan uraian etika makan yang ngamertanin dalam lontar Suptaprana. Pustaka tersebut menyatakan bahwa apabila seseorang ingin mendapatkan amerta “manfaat” dan bukan wisya “penyakit” maka mereka disarankan menghadap ke arah timur dengan bersila ketika makan. Setelah selesai makan, orang tersebut juga tidak diperkenankan langsung mencuci tangan di wadah makanan yang digunakan karena hal itu sama dengan mengusir Sang Hyang Amerta. Tangan pun tidak boleh langsung dibersihkan, melainkan mesti dioleskan dulu ke telapak kaki sebagai usaha untuk angunci merta ‘mengunci amretha’. Setelah itu, barulah tangan bisa dicuci. Informasi terakhir dapat kita pertimbangkan hanya dengan membatinkannya saja di dalam diri.

Selain uraian tentang etika makan, pustaka Suptaprana juga menyatakan sejumlah hal yang tidak boleh dilakukan ketika makan. Pertama, tidak boleh aboret yang artinya makan sambil berjalan. Kedua, tidak boleh anugtih yang artinyamakan sambil melentangkan kaki dan melilitkannya. Ketiga, tidak boleh angloklok yang artinya makan sambil jongkok. Keempat, tidak boleh nglaler yang artinya makan sambil berdiri. Kelima, tidak boleh ngamah yang artinya makan sambil tidur. Sekali lagi, semua pantangan tersebut dilakukan agar makanan yang masuk ke tubuh kita dapat memberi daya hidup alias ngamertanin. 

Lantas jenis makanan apakah yang mesti dipilih untuk menjaga gizi untuk kesehatan jiwa dan raga?Kakawin Ramayana menguraikan sejumlah makanan sehat yang dijadikan rahasia kekebalan tubuh para pelajar-pertapa dalam episode perjalanan Rama dan Sita kembali ke Negeri Ayodya, pasca perang di Alengka. Dengan mengendarai kereta Puspaka, Rama yang pulang menuju kerajaannya menceritakan asrama Resi Bharadwaja dan aktivitas yang dilakukan para pertapa di sana.

Di asrama Resi Bharadwaja tersebut, para pendeta memakan jenis makanan terpilih yang disebut warabhoga. Untuk keteguhan iman, mereka memakan ikan godem tanpa garam (pabhukti ng ulam got, tan pagarĕm pamagĕr nirang ambĕk). Umbi biaung juga dimanfaatkan untuk melatih mental seseorang agar ingat terhadap hutang budi pengetahuan (wungli wales malĕseng guṇa donya). Ketumbar yang bijinya kecil-kecil digunakan untuk menenangkan pikiran (lampĕs apes puharanya kaśantan). Buah kem dapat menghapus nafsu dan noda (rukĕm asĕwo raga mala rinūgnya). Sedangkan jamunya menyebabkan sempurnanya ilmu pengetahuan (lwah amuharālwāmbĕk ing aji malwā). Ubi talas dapat menghilangkan nafsu birahi (talĕsatĕlasanāng sĕnehasangga). Sementara makanan terbaik bagi para wiku adalah pisang panggang (tulusa wiku ng mamangan hilus mamungkus). Di sisi lain, kacang kekara dapat menjaga sensitivitas hati agar bisa iba kepada orang lain (kara-kara karūṇa karakṣa denya). 

Refleksi

Dari uraian di atas, kita dapat mengidentifikasi bahwa para pertapa mengkonsumsi jenis makanan yang variatif untuk peningkatan kualitas tubuh, termasuk jiwa atau rohaninya. Jika dilihat dari kandungan nutrisinya, para pertapa tersebut mendapatkan protein nabati dari kacang kara, sedangkan protein hewani diperoleh dari ikan godem. Serat, antioksidan, dan karbohidrat didapatkan dari pisang dan berbagai jenis umbi yang dikonsumsinya. Di sisi lain, mereka juga meminum jamu buah kem yang banyak mengandung vitamin C, menangkal radikal bebas, dan menyehatkan pencernaan.

Itulah berbagai jenis makanan yang menopang aktivitas belajar para pertapa sekaligus pertapa yang terefleksi dari Kakawin Rāmāyaṇa. Tentu mereka yang belajar berbagai pengetahuan seperti ajining hening, aji sangkhya, aji kumara, Paśupata, Guna Hasti, dan yang lainnya memerlukan fondasi kesehatan tubuh yang prima. Pustaka-pustaka lain menyebutkan dharmārthakāmamokṣaṇam śarīram sadhanam ‘tubuh yang sehat adalah sarana untuk melakukan kebenaran, mencari materi, meraih kenikmatan, dan mencapai pembebasan akhir’.

Kita yang saat ini sudah agak berjarak dengan kehidupan para pertapa tentu bertanya, dari manakah mereka mendapatkan berbagai makanan tersebut? Di samping dari persembahan raja dan masyarakat, para pertapa itu dapat dipastikan menanam sendiri berbagai kebutuhan hidupnya. Dalam Babad Dalem misalnya disebutkan bahwa seorang wiku bergelar Ida Padanda Sakti Manuabha memiliki kemampuan bertani yang baik, meski di usia beliau yang masih belia (nguni Ida Manuabha, duk I Gusti Pande rinĕjĕk olih I Dewa Bĕkung, ida sampun bisa mananggala). Dengan menghasilkan berbagai kebutuhan hidup terutama pangan bergizi secara mandiri, para pertapa ini bisa fokus mempelajari pengetahuan dan menyuarakan kebenaran.

Sampai di titik ini, gagasan besar makan bergizi gratis untuk menstimulus motivasi belajar siswa sesungguhnya juga berhulu pada kemampuan bangsa dalam mencapai kedaulatan pangan. Kita tentu tidak berharap program makan bergizi gratis ini kemudian mengimpor berbagai bahan makanan tersebut dari luar negeri, tanpa memberdayakan para petani dari tanah dan natah sendiri. Terlebih, dalam prosesnya, para mafia bekerja untuk menjadikan program ini semata sebagai lahan korupsi.

Di sisi lain, selama ini kita yang terkenal sebagai bangsa agraris terbiasa menempatkan para petani hanya sebagai penonton atas kesejahteraan dan kemajuan zaman. Kecurigaan ini bukan tanpa alasan, sebab di beberapa tempat rencana pemerintah untuk membuat food estate sebagai pilar penyangga ketahanan pangan hanya sebagai kedok untuk membuka lahan. Di sana, tanaman yang semula direncakan singkong berubah menjadi jagung dan lama-kelamaan bukan tidak mungkin ditanami beton. [T]

BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA

Dhyāna Paramitha: Laku Asih pada Semesta dalam Jinārthi Prakrĕti
“Kandapat” dan Alasan Memuja Leluhur: Catatan dari Geguritan Japatuan
Perlindungan Sastra untuk Kekerasan Terhadap Anak:  Catatan dari Pustaka Adiparwa

Dari Ujung Lidah sampai Ujung Pangrupak: Membaca Saraswati sebagai Momentum Literasi

Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira

Tags: kolomKolom WirangrongmakanPendidikanPutu Eka Guna Yasasastrasastra bali klasikSastra Kawisekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Gong Pembelajaran Mulai Ditabuh

Next Post

Lazer Sidetapa Juarai Kejuaraan U-20, Bukti Regenerasi dan Dominasi di Turnamen Lokal Desa

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Lazer Sidetapa Juarai Kejuaraan U-20, Bukti Regenerasi dan Dominasi di Turnamen Lokal Desa

Lazer Sidetapa Juarai Kejuaraan U-20, Bukti Regenerasi dan Dominasi di Turnamen Lokal Desa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co