2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Warabhoga”: Refleksi Makanan Bergizi untuk Pelajar-Pertapa dalam Sastra Kawi

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
January 6, 2025
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

MENAPAK tahun baru 2025, pemerintah Republik Indonesia merealisasikan program makan bergizi gratis untuk para pelajar. Meskipun menuai pro-kontra, program ini memiliki niat yang baik. Beberapa di antaranya adalah meningkatkan asupan gizi anak sekolah, mengurangi angka putus sekolah, meningkatkan partisipasi siswa, meningkatkan motivasi belajar anak, dan yang lainnya. Tujuan jangka panjangnya yaitu membentuk generasi emas 2045.   

Di tengah akses informasi yang menganga lebar saat ini, tentu sistem pengetahuan untuk memilih dan memilah makanan bergizi bisa diakses dengan cepat dari semua tempat. Akan tetapi, tidakkah tradisi sastra Kawi sebagai lumbung pengetahuan masa lalu menyisakan jejak-jejak kearifannya untuk kita gunakan sebagai referensi saat ini?

Jika pertanyaan itu kita ajukan dengan sungguh-sungguh maka khazanah literasi sastra Kawi menyatakan bahwa perbaikan kualitas gizi, termasuk di dalamnya fisik dan rohani bisa disangga dengan suatu sikap hidup yang disebut dengan brata. Kata brata tidak hanya berarti berpantang, tetapi juga sikap hidup yang konsisten untuk memilih sesuatu yang dibutuhkan untuk kesehatan tubuh, perkembangan kualitas mental, dan juga pertumbuhan spiritual.

Sumber Sastra

Pustaka Brata yang keberadaannya cukup melimpah seperti Aji Brata, Tattwa Brata,  Bebratayan Wong Beling, Suptaprana, Lebur Gangsa, dan lainnya memberikan petunjuk penting tidak saja berkaitan dengan pemilihan jenis makanan yang bergizi, tetapi juga aspek kehigienisan dan tata etika makan yang bertujuan agar segala sesuatu yang dikonsumsi ngamertanin atau memberi daya kehidupan. Bukan sebaliknya ngawisyanin atau membawa penyakit. 

Foto Panel Candi Borobudur: Masyarakat Memastikan Ketersediaan Pangan | Sumber: common.wiki

Pustaka Aji Brata menyatakan jenis brata yang penting diterapkan sebelum makan dengan istilah istilah asuci laksana. Brata ini dilakukan dengan cara tidak makan apabila belum mencuci wajah, dan meminyaki rambut [bratā aśuci lakşańā, nga, tan pamangan yan durung ararawup, alĕlĕnga]. Pesan yang tersirat dalam pustaka tersebut jelas menekankan pentingnya usaha menjaga kebersihan atau kehigienisan sebelum makan. Imbauan yang sama ternyata juga diwacanakandalam Geguritan Lodha dengan ungkapan eda ngamah satonden manjus, masih ulahang pisan, bratayang pilihin i camah campur, yadin mainĕm-inĕman, nda nginĕm ne mamunyahin ‘jangan makan sebelum mandi, juga usahakan sekali, hindari dan cermati makanan yang kotor, termasuk pula meminum-minuman, jangan minum yang memabukkan’.

Kehigienisan yang ditekankan dua pustaka di atas dilengkapi dengan uraian etika makan yang ngamertanin dalam lontar Suptaprana. Pustaka tersebut menyatakan bahwa apabila seseorang ingin mendapatkan amerta “manfaat” dan bukan wisya “penyakit” maka mereka disarankan menghadap ke arah timur dengan bersila ketika makan. Setelah selesai makan, orang tersebut juga tidak diperkenankan langsung mencuci tangan di wadah makanan yang digunakan karena hal itu sama dengan mengusir Sang Hyang Amerta. Tangan pun tidak boleh langsung dibersihkan, melainkan mesti dioleskan dulu ke telapak kaki sebagai usaha untuk angunci merta ‘mengunci amretha’. Setelah itu, barulah tangan bisa dicuci. Informasi terakhir dapat kita pertimbangkan hanya dengan membatinkannya saja di dalam diri.

Selain uraian tentang etika makan, pustaka Suptaprana juga menyatakan sejumlah hal yang tidak boleh dilakukan ketika makan. Pertama, tidak boleh aboret yang artinya makan sambil berjalan. Kedua, tidak boleh anugtih yang artinyamakan sambil melentangkan kaki dan melilitkannya. Ketiga, tidak boleh angloklok yang artinya makan sambil jongkok. Keempat, tidak boleh nglaler yang artinya makan sambil berdiri. Kelima, tidak boleh ngamah yang artinya makan sambil tidur. Sekali lagi, semua pantangan tersebut dilakukan agar makanan yang masuk ke tubuh kita dapat memberi daya hidup alias ngamertanin. 

Lantas jenis makanan apakah yang mesti dipilih untuk menjaga gizi untuk kesehatan jiwa dan raga?Kakawin Ramayana menguraikan sejumlah makanan sehat yang dijadikan rahasia kekebalan tubuh para pelajar-pertapa dalam episode perjalanan Rama dan Sita kembali ke Negeri Ayodya, pasca perang di Alengka. Dengan mengendarai kereta Puspaka, Rama yang pulang menuju kerajaannya menceritakan asrama Resi Bharadwaja dan aktivitas yang dilakukan para pertapa di sana.

Di asrama Resi Bharadwaja tersebut, para pendeta memakan jenis makanan terpilih yang disebut warabhoga. Untuk keteguhan iman, mereka memakan ikan godem tanpa garam (pabhukti ng ulam got, tan pagarĕm pamagĕr nirang ambĕk). Umbi biaung juga dimanfaatkan untuk melatih mental seseorang agar ingat terhadap hutang budi pengetahuan (wungli wales malĕseng guṇa donya). Ketumbar yang bijinya kecil-kecil digunakan untuk menenangkan pikiran (lampĕs apes puharanya kaśantan). Buah kem dapat menghapus nafsu dan noda (rukĕm asĕwo raga mala rinūgnya). Sedangkan jamunya menyebabkan sempurnanya ilmu pengetahuan (lwah amuharālwāmbĕk ing aji malwā). Ubi talas dapat menghilangkan nafsu birahi (talĕsatĕlasanāng sĕnehasangga). Sementara makanan terbaik bagi para wiku adalah pisang panggang (tulusa wiku ng mamangan hilus mamungkus). Di sisi lain, kacang kekara dapat menjaga sensitivitas hati agar bisa iba kepada orang lain (kara-kara karūṇa karakṣa denya). 

Refleksi

Dari uraian di atas, kita dapat mengidentifikasi bahwa para pertapa mengkonsumsi jenis makanan yang variatif untuk peningkatan kualitas tubuh, termasuk jiwa atau rohaninya. Jika dilihat dari kandungan nutrisinya, para pertapa tersebut mendapatkan protein nabati dari kacang kara, sedangkan protein hewani diperoleh dari ikan godem. Serat, antioksidan, dan karbohidrat didapatkan dari pisang dan berbagai jenis umbi yang dikonsumsinya. Di sisi lain, mereka juga meminum jamu buah kem yang banyak mengandung vitamin C, menangkal radikal bebas, dan menyehatkan pencernaan.

Itulah berbagai jenis makanan yang menopang aktivitas belajar para pertapa sekaligus pertapa yang terefleksi dari Kakawin Rāmāyaṇa. Tentu mereka yang belajar berbagai pengetahuan seperti ajining hening, aji sangkhya, aji kumara, Paśupata, Guna Hasti, dan yang lainnya memerlukan fondasi kesehatan tubuh yang prima. Pustaka-pustaka lain menyebutkan dharmārthakāmamokṣaṇam śarīram sadhanam ‘tubuh yang sehat adalah sarana untuk melakukan kebenaran, mencari materi, meraih kenikmatan, dan mencapai pembebasan akhir’.

Kita yang saat ini sudah agak berjarak dengan kehidupan para pertapa tentu bertanya, dari manakah mereka mendapatkan berbagai makanan tersebut? Di samping dari persembahan raja dan masyarakat, para pertapa itu dapat dipastikan menanam sendiri berbagai kebutuhan hidupnya. Dalam Babad Dalem misalnya disebutkan bahwa seorang wiku bergelar Ida Padanda Sakti Manuabha memiliki kemampuan bertani yang baik, meski di usia beliau yang masih belia (nguni Ida Manuabha, duk I Gusti Pande rinĕjĕk olih I Dewa Bĕkung, ida sampun bisa mananggala). Dengan menghasilkan berbagai kebutuhan hidup terutama pangan bergizi secara mandiri, para pertapa ini bisa fokus mempelajari pengetahuan dan menyuarakan kebenaran.

Sampai di titik ini, gagasan besar makan bergizi gratis untuk menstimulus motivasi belajar siswa sesungguhnya juga berhulu pada kemampuan bangsa dalam mencapai kedaulatan pangan. Kita tentu tidak berharap program makan bergizi gratis ini kemudian mengimpor berbagai bahan makanan tersebut dari luar negeri, tanpa memberdayakan para petani dari tanah dan natah sendiri. Terlebih, dalam prosesnya, para mafia bekerja untuk menjadikan program ini semata sebagai lahan korupsi.

Di sisi lain, selama ini kita yang terkenal sebagai bangsa agraris terbiasa menempatkan para petani hanya sebagai penonton atas kesejahteraan dan kemajuan zaman. Kecurigaan ini bukan tanpa alasan, sebab di beberapa tempat rencana pemerintah untuk membuat food estate sebagai pilar penyangga ketahanan pangan hanya sebagai kedok untuk membuka lahan. Di sana, tanaman yang semula direncakan singkong berubah menjadi jagung dan lama-kelamaan bukan tidak mungkin ditanami beton. [T]

BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA

Dhyāna Paramitha: Laku Asih pada Semesta dalam Jinārthi Prakrĕti
“Kandapat” dan Alasan Memuja Leluhur: Catatan dari Geguritan Japatuan
Perlindungan Sastra untuk Kekerasan Terhadap Anak:  Catatan dari Pustaka Adiparwa

Dari Ujung Lidah sampai Ujung Pangrupak: Membaca Saraswati sebagai Momentum Literasi

Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira

Tags: kolomKolom WirangrongmakanPendidikanPutu Eka Guna Yasasastrasastra bali klasikSastra Kawisekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Gong Pembelajaran Mulai Ditabuh

Next Post

Lazer Sidetapa Juarai Kejuaraan U-20, Bukti Regenerasi dan Dominasi di Turnamen Lokal Desa

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Lazer Sidetapa Juarai Kejuaraan U-20, Bukti Regenerasi dan Dominasi di Turnamen Lokal Desa

Lazer Sidetapa Juarai Kejuaraan U-20, Bukti Regenerasi dan Dominasi di Turnamen Lokal Desa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co