23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Warabhoga”: Refleksi Makanan Bergizi untuk Pelajar-Pertapa dalam Sastra Kawi

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
January 6, 2025
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

MENAPAK tahun baru 2025, pemerintah Republik Indonesia merealisasikan program makan bergizi gratis untuk para pelajar. Meskipun menuai pro-kontra, program ini memiliki niat yang baik. Beberapa di antaranya adalah meningkatkan asupan gizi anak sekolah, mengurangi angka putus sekolah, meningkatkan partisipasi siswa, meningkatkan motivasi belajar anak, dan yang lainnya. Tujuan jangka panjangnya yaitu membentuk generasi emas 2045.   

Di tengah akses informasi yang menganga lebar saat ini, tentu sistem pengetahuan untuk memilih dan memilah makanan bergizi bisa diakses dengan cepat dari semua tempat. Akan tetapi, tidakkah tradisi sastra Kawi sebagai lumbung pengetahuan masa lalu menyisakan jejak-jejak kearifannya untuk kita gunakan sebagai referensi saat ini?

Jika pertanyaan itu kita ajukan dengan sungguh-sungguh maka khazanah literasi sastra Kawi menyatakan bahwa perbaikan kualitas gizi, termasuk di dalamnya fisik dan rohani bisa disangga dengan suatu sikap hidup yang disebut dengan brata. Kata brata tidak hanya berarti berpantang, tetapi juga sikap hidup yang konsisten untuk memilih sesuatu yang dibutuhkan untuk kesehatan tubuh, perkembangan kualitas mental, dan juga pertumbuhan spiritual.

Sumber Sastra

Pustaka Brata yang keberadaannya cukup melimpah seperti Aji Brata, Tattwa Brata,  Bebratayan Wong Beling, Suptaprana, Lebur Gangsa, dan lainnya memberikan petunjuk penting tidak saja berkaitan dengan pemilihan jenis makanan yang bergizi, tetapi juga aspek kehigienisan dan tata etika makan yang bertujuan agar segala sesuatu yang dikonsumsi ngamertanin atau memberi daya kehidupan. Bukan sebaliknya ngawisyanin atau membawa penyakit. 

Foto Panel Candi Borobudur: Masyarakat Memastikan Ketersediaan Pangan | Sumber: common.wiki

Pustaka Aji Brata menyatakan jenis brata yang penting diterapkan sebelum makan dengan istilah istilah asuci laksana. Brata ini dilakukan dengan cara tidak makan apabila belum mencuci wajah, dan meminyaki rambut [bratā aśuci lakşańā, nga, tan pamangan yan durung ararawup, alĕlĕnga]. Pesan yang tersirat dalam pustaka tersebut jelas menekankan pentingnya usaha menjaga kebersihan atau kehigienisan sebelum makan. Imbauan yang sama ternyata juga diwacanakandalam Geguritan Lodha dengan ungkapan eda ngamah satonden manjus, masih ulahang pisan, bratayang pilihin i camah campur, yadin mainĕm-inĕman, nda nginĕm ne mamunyahin ‘jangan makan sebelum mandi, juga usahakan sekali, hindari dan cermati makanan yang kotor, termasuk pula meminum-minuman, jangan minum yang memabukkan’.

Kehigienisan yang ditekankan dua pustaka di atas dilengkapi dengan uraian etika makan yang ngamertanin dalam lontar Suptaprana. Pustaka tersebut menyatakan bahwa apabila seseorang ingin mendapatkan amerta “manfaat” dan bukan wisya “penyakit” maka mereka disarankan menghadap ke arah timur dengan bersila ketika makan. Setelah selesai makan, orang tersebut juga tidak diperkenankan langsung mencuci tangan di wadah makanan yang digunakan karena hal itu sama dengan mengusir Sang Hyang Amerta. Tangan pun tidak boleh langsung dibersihkan, melainkan mesti dioleskan dulu ke telapak kaki sebagai usaha untuk angunci merta ‘mengunci amretha’. Setelah itu, barulah tangan bisa dicuci. Informasi terakhir dapat kita pertimbangkan hanya dengan membatinkannya saja di dalam diri.

Selain uraian tentang etika makan, pustaka Suptaprana juga menyatakan sejumlah hal yang tidak boleh dilakukan ketika makan. Pertama, tidak boleh aboret yang artinya makan sambil berjalan. Kedua, tidak boleh anugtih yang artinyamakan sambil melentangkan kaki dan melilitkannya. Ketiga, tidak boleh angloklok yang artinya makan sambil jongkok. Keempat, tidak boleh nglaler yang artinya makan sambil berdiri. Kelima, tidak boleh ngamah yang artinya makan sambil tidur. Sekali lagi, semua pantangan tersebut dilakukan agar makanan yang masuk ke tubuh kita dapat memberi daya hidup alias ngamertanin. 

Lantas jenis makanan apakah yang mesti dipilih untuk menjaga gizi untuk kesehatan jiwa dan raga?Kakawin Ramayana menguraikan sejumlah makanan sehat yang dijadikan rahasia kekebalan tubuh para pelajar-pertapa dalam episode perjalanan Rama dan Sita kembali ke Negeri Ayodya, pasca perang di Alengka. Dengan mengendarai kereta Puspaka, Rama yang pulang menuju kerajaannya menceritakan asrama Resi Bharadwaja dan aktivitas yang dilakukan para pertapa di sana.

Di asrama Resi Bharadwaja tersebut, para pendeta memakan jenis makanan terpilih yang disebut warabhoga. Untuk keteguhan iman, mereka memakan ikan godem tanpa garam (pabhukti ng ulam got, tan pagarĕm pamagĕr nirang ambĕk). Umbi biaung juga dimanfaatkan untuk melatih mental seseorang agar ingat terhadap hutang budi pengetahuan (wungli wales malĕseng guṇa donya). Ketumbar yang bijinya kecil-kecil digunakan untuk menenangkan pikiran (lampĕs apes puharanya kaśantan). Buah kem dapat menghapus nafsu dan noda (rukĕm asĕwo raga mala rinūgnya). Sedangkan jamunya menyebabkan sempurnanya ilmu pengetahuan (lwah amuharālwāmbĕk ing aji malwā). Ubi talas dapat menghilangkan nafsu birahi (talĕsatĕlasanāng sĕnehasangga). Sementara makanan terbaik bagi para wiku adalah pisang panggang (tulusa wiku ng mamangan hilus mamungkus). Di sisi lain, kacang kekara dapat menjaga sensitivitas hati agar bisa iba kepada orang lain (kara-kara karūṇa karakṣa denya). 

Refleksi

Dari uraian di atas, kita dapat mengidentifikasi bahwa para pertapa mengkonsumsi jenis makanan yang variatif untuk peningkatan kualitas tubuh, termasuk jiwa atau rohaninya. Jika dilihat dari kandungan nutrisinya, para pertapa tersebut mendapatkan protein nabati dari kacang kara, sedangkan protein hewani diperoleh dari ikan godem. Serat, antioksidan, dan karbohidrat didapatkan dari pisang dan berbagai jenis umbi yang dikonsumsinya. Di sisi lain, mereka juga meminum jamu buah kem yang banyak mengandung vitamin C, menangkal radikal bebas, dan menyehatkan pencernaan.

Itulah berbagai jenis makanan yang menopang aktivitas belajar para pertapa sekaligus pertapa yang terefleksi dari Kakawin Rāmāyaṇa. Tentu mereka yang belajar berbagai pengetahuan seperti ajining hening, aji sangkhya, aji kumara, Paśupata, Guna Hasti, dan yang lainnya memerlukan fondasi kesehatan tubuh yang prima. Pustaka-pustaka lain menyebutkan dharmārthakāmamokṣaṇam śarīram sadhanam ‘tubuh yang sehat adalah sarana untuk melakukan kebenaran, mencari materi, meraih kenikmatan, dan mencapai pembebasan akhir’.

Kita yang saat ini sudah agak berjarak dengan kehidupan para pertapa tentu bertanya, dari manakah mereka mendapatkan berbagai makanan tersebut? Di samping dari persembahan raja dan masyarakat, para pertapa itu dapat dipastikan menanam sendiri berbagai kebutuhan hidupnya. Dalam Babad Dalem misalnya disebutkan bahwa seorang wiku bergelar Ida Padanda Sakti Manuabha memiliki kemampuan bertani yang baik, meski di usia beliau yang masih belia (nguni Ida Manuabha, duk I Gusti Pande rinĕjĕk olih I Dewa Bĕkung, ida sampun bisa mananggala). Dengan menghasilkan berbagai kebutuhan hidup terutama pangan bergizi secara mandiri, para pertapa ini bisa fokus mempelajari pengetahuan dan menyuarakan kebenaran.

Sampai di titik ini, gagasan besar makan bergizi gratis untuk menstimulus motivasi belajar siswa sesungguhnya juga berhulu pada kemampuan bangsa dalam mencapai kedaulatan pangan. Kita tentu tidak berharap program makan bergizi gratis ini kemudian mengimpor berbagai bahan makanan tersebut dari luar negeri, tanpa memberdayakan para petani dari tanah dan natah sendiri. Terlebih, dalam prosesnya, para mafia bekerja untuk menjadikan program ini semata sebagai lahan korupsi.

Di sisi lain, selama ini kita yang terkenal sebagai bangsa agraris terbiasa menempatkan para petani hanya sebagai penonton atas kesejahteraan dan kemajuan zaman. Kecurigaan ini bukan tanpa alasan, sebab di beberapa tempat rencana pemerintah untuk membuat food estate sebagai pilar penyangga ketahanan pangan hanya sebagai kedok untuk membuka lahan. Di sana, tanaman yang semula direncakan singkong berubah menjadi jagung dan lama-kelamaan bukan tidak mungkin ditanami beton. [T]

BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA

Dhyāna Paramitha: Laku Asih pada Semesta dalam Jinārthi Prakrĕti
“Kandapat” dan Alasan Memuja Leluhur: Catatan dari Geguritan Japatuan
Perlindungan Sastra untuk Kekerasan Terhadap Anak:  Catatan dari Pustaka Adiparwa

Dari Ujung Lidah sampai Ujung Pangrupak: Membaca Saraswati sebagai Momentum Literasi

Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira

Tags: kolomKolom WirangrongmakanPendidikanPutu Eka Guna Yasasastrasastra bali klasikSastra Kawisekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Gong Pembelajaran Mulai Ditabuh

Next Post

Lazer Sidetapa Juarai Kejuaraan U-20, Bukti Regenerasi dan Dominasi di Turnamen Lokal Desa

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Lazer Sidetapa Juarai Kejuaraan U-20, Bukti Regenerasi dan Dominasi di Turnamen Lokal Desa

Lazer Sidetapa Juarai Kejuaraan U-20, Bukti Regenerasi dan Dominasi di Turnamen Lokal Desa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co